Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Dinasti Bani Abbasiyah : Khalifah Al-Ma'mun (198-218 H/813-833 M)

Biografi Abdullah Al-Ma'mun

Abdullah Al-Ma'mun, dengan nama asli Abdullah (Al-Makmun) bin Harun (Ar-Rasyid) bin Muhammad (Al-Mahdi) bin Abdullah (Al-Manshur) bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, dilahirkan pada malam Jum'at di pertengahan Bulan Rabi'ul Awwal Tahun 170 H atau bertepatan pada tanggal 14 September Tahun 786 Masehi di Bagdad, Irak.

Di malam itu, bersamaan dengan malam kematian pamannya, Musa Al-Hadi dan pelantikan ayahnya, Harun Ar-Rasyid sebagai Khalifah. Diriwayatkan dari Ash-Shuli dalam Kitab Tarikh Khulafa' pernah mengatakan : 
"Tidak ada satu malam pun dalam sejarah umat manusia ketika seorang khalifah mangkat, seorang khalifah baru dinobatkan dan seorang calon khalifah dilahirkan, kecuali malam itu.”
Ibunya bernama Murajil, bekas budak yang dikawini Harun Ar-Rasyid, namun dia meninggal dunia dalam keadaan nifas beberapa hari kemudian setelah melahirkan Abdullah Al-Makmun. 

Imam Suyuthi menyebutkan, Khalifah Al-Makmun memiliki banyak keistimewaan daripada khalifah-khalifah yang lain seperti sifat sabar yang tinggi, tekad yang kuat, ilmu yang luas, kecerdikan dan kecerdasan, gagah berani, berwibawa, dan penuh rasa toleransi. 

Abdullah Al-Makmun dikenal sebagai orator ulung laksana singa podium bersuara lantang di atas panggung. Khalifah Harun Ar-Rasyid kala itu juga mengakui kehebatan putra sulungnya sambil berkata :
“Sesungguhnya saya dapatkan dalam diri Al-Makmun ambisi Al-Manshur, ibadah Al-Mahdi, dan harga diri Al-Hadi. Andaikata, saya mau menisbatkannya kepada yang keempat (maksudnya adalah dirinya sendiri) tentu akan saya nisbatkan. 

Saya lebih mendahulukan Muhammad daripada dirinya, sebenarnya saya tau dia suka mengumbar hawa nafsu, boros dan suka berfoya-foya dengan semua harta yang ada di tangannya. Di samping itu, dia juga senang bermain wanita. Andaikata, bukan karena Ummu Ja'far (Zubaidah bin Al-Manshur) dan kecenderungan Bani Hasyim, pastilah saya lebih mendahulukan Abdullah.”

Sejak kecil, Abdullah sudah mempelajari berbagai ilmu, di antaranya ilmu hadits dari ayahnya, beberapa perawi hadits dan ulama terkenal di zaman itu. Sedangkan, Al-Yazidi, seorang guru yang diserahi tanggung jawab untuk mendidik Abdullah Al-Makmun seringkali mengajaknya untuk berkeliling ke penjuru negeri untuk menemui para ulama dan ahli fikih. 

Di bawah didikannya, Abdullah telah menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan kebudayaan, seperti ilmu fiqh, bahasa Arab, sejarah Umat Manusia, dan pemikiran filsafat dari ilmuwan-ilmuwan Yunani Kuno. Tak heran, Imam Suyuthi mengapresiasinya sebagai khalifah dan tokoh Abbasiyah paling istimewa daripada yang lainnya.  


Naik Tahta Sebagai Khalifah

Khalifah Abdullah Al-Makmun resmi dilantik pada Hari Rabu, 25 Muharram Tahun 198 H atau bertepatan pada tanggal 25 September 813 Masehi. Ia resmi menjadi khalifah Bani Abbasiyah ke-7 pada Tahun 198 H, ketika itu dia masih berada di Merv, Khurasan. 

Biasanya, dia dipanggil Abu Ja'far oleh keluarga besar Bani Abbas. Ash-Shuli pernah menuturkan :   

"Orang-orang Abbasiyah sangat senang dengan sebutan Abu Ja'far, karena ini adalah panggilan Al-Manshur. Nama ini memiliki makna besar dalam dada mereka dan menimbulkan optimisme bahwa orang yang menyandang gelar tersebut akan panjang umur sebagaimana Al-Manshur dan Ar-Rasyid."

Setelah dilantik sebagai khalifah, Ibunda Zubaidah yang tengah diliputi kesedihan dan duka yang mendalam atas kematian anaknya, Muhammad Al-Amin, juga sempat mengirimkan surat tanda ucapan selamat melalui utusannya yang berisi :

“Ibu mengucapkan selamat atas pelantikanmu sebagai khalifah yang baru. Ibu telah kehilangan putra kandung, tetapi Ibu lega karena kedudukannya digantikan anak ibu lainnya.” 

Kehalusan budi pekerti Siti Zubaidah ternyata dibalas perbuatan Al-Makmun dengan kebaikan pula. Selama memerintah, Khalifah Al-Makmun ikut merawat dan menghormati ibu tirinya layaknya ibu kandungnya sendiri. Dia juga memprioritaskan nasehat dan masukan Zubaidah sebelum mengambil keputusan. 

Sepanjang hidupnya, Ibunda Zubaidah mengabdikan dirinya untuk mengikuti ajaran Imam Ismailiyah (Muhammad bin Ismail bin Ja'far Ash-Shadiq), salah satu Imam Syiah.

Dia juga memerintahkan untuk dibuatkan gedung besar yang dikelilingi oleh Taman Baghdad sebagai tempat ritualnya, kemudian dia memutuskan keluar dari istana, dan mempekerjakan 10 anak buahnya untuk membantu kegiatan-kegiatan religius bersama Sang Imam. 

Berlanjut tentang Kisah Khalifah Al-Makmun, beberapa saat kemudian setelah menjabat sebagai khalifah, dia memutuskan untuk memindahkan ibukota Abbasiyah yang awalnya di Kota Baghdad menuju Kota Merv di Khurasan. Dari tempat inilah, Puncak Keemasan Islam (Islamic Golden Age) akan segera dimulai kembali meneruskan kejayaan masa ayahnya, Harun Ar-Rasyid. 


Jasa dan Kebijakan Pemerintahan Khalifah Al-Ma'mun

Lebih dua puluh tahun masa pemerintahannya, Khalifah Al-Makmun berhasil mengantarkan peradaban Islam mencapai puncak zaman keemasannya, sebagaimana yang pernah diwujudkan oleh ayahnya, Harun Ar-Rasyid. 

Tradisi intelektual yang dibangun dan berkembang sedemikian rupa, ternyata telah melahirkan penemuan-penemuan penting yang menjadi asas atau tonggak peradaban modern yang bisa dinikmati sampai sekarang.  

Sayangnya, sosok Khalifah Al-Makmun  di samping itu ternyata juga melakukan beberapa tindakan paradoks. Tidak sedikit juga, kebijakan-kebijakan Al-Makmun menyulut kontroversi dan menuai aksi protes dari Umat Islam yang dapat melahirkan permasalahan pelik dalam sejarah kehidupan beragama dan politik Islam. 


1. Melakukan Rekonsiliasi Politik dan Stabilitas Negara Jilid I

Tugas pertama yang dilakukan oleh Khalifah Al-Makmun adalah melakukan rekonsiliasi politik dan menstabilkan situasi negara akibat perang saudara selama hampir lebih 2 tahun. Khalifah segera mengangkat Fadhl bin Sahal sebagai wazirnya, kemudian dia mengangkat beberapa gubernur ke provinsi-provinsi besar Abbasiyah, di antara lain ialah :

  • Seluruh wilayah Irak dan Jazirah Arab, dipimpin oleh Hasan bin Sahl.
  • Khurasan, dipimpin oleh Harsamah bin Ayun.
  • Al-Jazirah yang mencakup wilayah Mosul, Suriah dan sekitarnya, dipimpin oleh Thahir bin Husein.

Pada awal masa pemerintahannya, situasi politik dalam negeri mengalami perubahan besar-besaran. Penyebabnya, Khalifah Al-Makmun menaruh kepercayaan lebih besar kepada orang-orang Persia dibandingkan orang Arab, sebagaimana diketahui ibunya juga berasal dari kalangan Persia dan begitu juga mayoritas para pendukungnya dari golongan Alawiyyin (dari Persia). 

Sikap khalifah ini ternyata menyulut api kecemburuan orang-orang Arab, khususnya keluarga besar Bani Abbas. Situasi politik semakin diperparah dengan tersebarnya desas-desus setibanya Hasan bin Sahl di Baghdad. Masyarakat Baghdad mencurigai, bahwa Khalifah Al-Makmun tengah disandera dan dikendalikan oleh kedua putra Sahl bersaudara ini.   

Mereka beranggapan, Khalifah hanya dijadikan sebagai boneka istana dan roda pemerintahan dipegang sepenuhnya oleh Wazir Fadhl bin Sahl dan kebanyakan orang Persia lainnya. Kecurigaan masyarakat semakin menguat ketika Gubernur Hasan bin Sahl menunjuk Thahir bin Husein sebagai Gubernur Al-Jazirah atas Mosul dan Suriah, bukan oleh Al-Makmun sendiri. 

Tiga Tahun Pertama Masa Pemerintahan Al-Makmun diliputi desas-desus dan huru-hara yang terjadi di mana-mana. Mirisnya, Khalifah Al-Makmun tidak pernah mengetahui situasi buruk ini, karena saking asyiknya menikmati buku-buku ilmu pengetahuan yang dibacanya, sedangkan roda pemerintahan dikendalikan penuh oleh Wazir Fadhl bin Sahl. 

Akibatnya, semua informasi yang diterima Khalifah harus disaring dan mendapat izin dulu dari Wazir Fadhl. Padahal, turbulensi politik kala itu semakin rusak dan banyak disesali oleh para pendukungnya atas keputusan Khalifah yang dinilai gegabah itu. Sedangkan, Fadhl bin Sahl dipandang terlalu ambisius tetapi tidak cakap dalam mengurusi tata negara.  

Desas-desus masyarakat Abbasiyah meledak menjadi kecurigaan yang luar biasa. Mereka berbondong-bondong mendelegitimasi Hasan bin Sahl dari jabatan Gubernur Irak beserta gubernur-gubernur lainnya yang ditunjuk Wazir Fadhl, sehingga para gubernur itu tidak mendapat kepatuhan dari rakyatnya. 


2. Menghadapi Meletusnya Berbagai Api Pemberontakan

Desas-desus yang terlanjur disebar ke mana-mana merubah situasi politik semakin memanas dan memicu aksi pemberontakan sebagai bentuk pertentangan/ketidakpuasan mereka atas kebijakan Khalifah. 

Di sisi lain, golongan oposisi yang selalu berseberangan dengan jalan pemerintah menganggap hal ini sebagai kesempatan untuk menggulingkan kekuasaan Dinasti Abbasiyah, di antara lain pemberontakan-pemberontakan yang telah meletus sebagai berikut.  


- Pemberontakan Kaum Alawiyyin di Kufah, Mekkah, dan Yaman

Situasi semakin tidak menentu mendorong beberapa orang terkemuka dari keluarga Ali bin Abi Thalib untuk menyatakan pemberontakan terhadap Dinasti Abbasiyah. Peristiwa pemberontakan yang didalangi oleh keluarga Alawiyyin ini meletus secara bersamaan di tempat yang berbeda-beda, yaitu :

  • Kota Kufah, yang dipimpin oleh Ibnu Tababa (Muhammad bin Ibrahim), lalu tewas dibunuh oleh Abu Saraya, dan digantikan oleh Ibnu Muhammad bin Zaid.
  • Kota Mekkah, dipimpin oleh Muhammad bin Ja'far Ash-Shaddiq (putra Imam Ja'far, pendiri Madzhab Ja'far atau 12 Imam - aliran Syi'ah).
  • Kota Yaman, dipimpin oleh Ibrahim bin Musa Al-Khazim, yang dijuluki "Al-Jazzar" artinya Tukang Jagal. 

Singkat cerita, Wazir Fadhl bin Sahl menugaskan Panglima Harsamah bin Ayun untuk memadamkan berbagai pemberontakan Kaum Alawiyyin tersebut. Setelah semua berhasil ditumpas, Muhammad bin Ja'far Ash-Shaddiq meminta maaf secara terbuka di hadapan seluruh pasukan Abbasiyah dan penduduk Mekkah atas kekacauan yang sudah terjadi. 

Sedangkan, Panglima Harsamah bin Ayun mendapat mandat baru untuk memimpin wilayah Suriah dan Hijaz. Padahal, sebelumnya dia pernah dijanjikan oleh Wazir Fadhl untuk mendapat kesempatan berbicara langsung kepada Khalifah. 

Namun, kesempatan ini sepertinya tidak direstui oleh Wazir Fadhl. Tampaknya, dia mengetahui bahwa Panglima Harsamah akan membeberkan seluruh situasi politik dalam negeri yang telah terjadi karena ketidakbecusan Wazir Fadhl dalam memerintah. Tentu saja, Panglima Harsamah merasa janggal atas perintah dadakan ini. 

Imam Thabari menceritakan, Panglima Harsamah segera mengatur siasat dengan cara diam-diam mendatangi Istana Khalifah di Merv. Dia memerintahkan beberapa prajurit di sana untuk membunyikan genderang sambutan untuk memberitahu sinyal kedatangan orang penting ke istana. 

Gelagat ini segera diketahui Wazir Fadhl dan bergegas menuju Khalifah, lalu menghasutnya bahwa kedatangan Panglima Harsamah bermaksud untuk melakukan pembangkangan atas tugas-tugas yang diterimanya.  

Tanpa pikir panjang, Khalifah Al-Makmun bergegas mendatanginya dan memarahi habis-habisan sampai Harsamah dibuat bungkam kehabisan kata-kata olehnya. Belum sempat menjelaskan apa yang terjadi, Harsamah segera dijebloskan ke penjara atas tuduhan pembangkangan. Beberapa hari kemudian, Panglima Hebat yang malang itu tewas terbunuh karena sabetan pedang oleh anak buah suruhan Fadhl bin Sahl.   

Mirisnya, Wazir Fadhl bin Sahl justru memberi laporan ke khalifah bahwa penyebab kematian Harsamah bin Ayun dikarenakan sebab alamiah. Khalifah Al-Makmun langsung percaya tanpa sedikit kecurigaan apapun terhadapnya. 


- Pemberontakan di Jazirah Suriah dan Mosul 

Kebijakan-kebijakan Khalifah yang terlalu meng-anak emas-kan orang Persia dibandingkan orang Arab menyulut api kecemburuan di tengah-tengah masyarakat. Nashr bin Shabat, salah satu pimpinan kelompok Suriah dan Mosul (Al-Jazirah) terang-terangan memprotesnya. 

Dia bersama para pendukungnya bersepakat untuk melakukan aksi pemberontakan di mana-mana. Beda dari yang lain, tujuan sebenarnya bukanlah menentang supremasi Dinasti Abbasiyah, melainkan sebagai bentuk aksi protes atas kebijakan yang dibuat Al-Makmun sendiri. 

Permasalahan ini diserahi oleh Panglima Thahir bin Husein -orang berjasa membela Al-Makmun di saat menghadapi pasukan Khalifah Al-Amin- ketika itu menjabat sebagai Gubernur Al-Jazirah (Suriah dan Mosul). Sebenarnya, dia juga sependapat dengan Nashr bin Shabat, mengingat perlakuan tidak adil Al-Makmun yang dialami atas dirinya.  

Panglima Thahir bin Husein mulai kehilangan semangatnya di saat menghadapi pemberontakan ini. Dia berhasil meredam pemberontakan ini dengan pengepungan kecil, tetapi tidak sampai menghancurkannya. 

Semangatnya kian menurun sejak menerima kabar kematian ayahnya, Husein bin Zuraiq tewas terbunuh di Khurasan. Di samping itu, muncul rumor yang beredar bahwa Khalifah Al-Makmun juga ikut terlibat soal kasus ini. 


- Pemberontakan di Baghdad

Di tengah-tengah Kota Baghdad, tersiar sebuah kabar kematian Harsamah bin Ayun -Panglima Terbaik dan Kebanggaan Bani Abbas.- Para pejabat Abbasiyah dan pasukan tentara tidak terima atas hal ini. Mereka bersepakat melakukan pemberontakan serentak ke segala penjuru Baghdad dan Irak. 

Sedangkan, masyarakat Baghdad dibantu pula dengan pasukan tentara menyatakan delegitimasi Gubernur Hasan bin Sahl atas wilayah Irak, kemudian menggantikannya dengan salah satu tokoh Bani Abbas terkemuka sekaligus saudara Harun Ar-Rasyid, yang bernama Mansur bin Al-Mahdi bin Abdullah Al-Manshur.   

Dia merebut kekuasaan Irak dari tangan Gubernur Hasan bin Sahl, dengan satu syarat bahwa dia hanya memerintah sementara dan tetap mengakui keabsahan Al-Makmun sebagai khalifah. Situasi Irak semakin tidak terkendali, otoritas pemerintahan tidak ada sama sekali yang dipatuhi, masyarakat terpecah belah dan berbuat anarki, dan diperparah dengan kejahatan yang merajalela di mana-mana.  


- Pengangkatan Khalifah Ibrahim bin Al-Mahdi oleh Keluarga Abbasiyah

Gesekan Bani Abbas dan Bani Alawiyyin semakin memanas semenjak Qasim Al-Muktaman dicopot dari posisi putra mahkota, dan digantikan oleh Imam Ali Ridha. Masyarakat Baghdad, yang mayoritas di antara mereka para pendukung loyal Bani Abbas tidak terima hal ini. 

Dinilai keputusan Al-Makmun sudah keterlaluan, mereka melakukan pemberontakan di Baghdad dan mengangkat saudara Harun Ar-Rasyid, sekaligus paman Al-Makmun yang bernama Ibrahim bin Al-Mahdi bin Al-Manshur sebagai khalifah dan tidak mengakui kepemimpinan Khalifah Al-Makmun. 

Otoritas pemerintahan Baghdad yang di bawah kendali Gubernur Hasan bin Sahl, tidak diakui dan dipatuhi oleh masyarakat setempat mendorong terjadinya anarki dan kejahatan di mana-mana. Bahkan, para pelaku kriminal bisa terang-terangan melakukan kejahatan (seperti pencurian, perampokan, dan pembunuhan) di siang bolong. 

Tidak tahan atas situasi ini, para kelompok elite Baghdad dan sekitarnya berinisiatif membentuk komite khusus atau badan keamanan yang bertugas menjaga dan melindungi harta-harta mereka. Di masa itu, lembaga keamanan inilah satu-satunya yang diharapkan untuk menegakkan keadilan dan memelihara ketertiban. 

Sedangkan, hukuman bagi para pelaku kriminal dan penjahat adalah dibuang ke padang pasir yang tandus. Sehingga, keberadaan lembaga ini terbukti efektif mengurangi angka kejahatan besar yang sedang terjadi saat itu. 


- Pemberontakan Kaum Khawarij

Melihat situasi politik yang sedang kacau, Kaum Khawarij mengambil kesempatan untuk melancarkan pemberontakan di berbagai kota Irak. Mereka menjadikan bendera warna putih sebagai simbol mereka, namun akhirnya pemberontakan ini berhasil dipadamkan oleh Abu Ishak Al-Muktashim bin Harun Ar-Rasyid dengan bantuan bala tentara budak Turki (Mamluk). 

Sayangnya, pemberontakan ini bukanlah akhir segalanya. Kerusuhan ini ternyata menjalar ke wilayah-wilayah lain seperti Irak bagian selatan, Yaman, dan Hijaz.  Sedangkan, Khalifah Ibrahim bin  Al-Mahdi dan Gubernur Hasan bin Sahl tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengendalikan situasi rumit seperti ini. 


- Menghadapi Serangan Daulah Idrisiyyah (di Maroko) 

Di Tahun 213 H, Khalifah Al-Makmun mengangkat adiknya, Abu Ishaq Al-Muktashim sebagai Gubernur Suriah dan Mesir. Kedua wilayah ini merupakan daerah berbatasan langsung dengan Kekaisaran Byzantium dan Daulah Idrisiyyah.

Sedangkan, Gubernur Abu Ishak sudah kadung percaya dengan budak-budak Turki menggunakan jasa mereka untuk memukul mundur serangan dari kedua negara perbatasan tersebut. Di tahun yang sama, Khalifah Al-Makmun juga mengangkat putranya, Abbas bin Abdullah Al-Makmun sebagai Gubernur Al-Jazirah.  


- Pemberontakan Separatisme Azerbaijan 

Di awal pemerintahan Al-Makmun, Gubernur Azerbaijan era Harun Ar-Rasyid yang bernama Ali bin Sadqah atau biasanya dipanggil Zuraiq, menyatakan lepas dari kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Mereka berhasil menghimpun kekuatan militer sebanyak 40.000 personel tentara dan melakukan pemberontakan.

Di waktu bersamaa, lahirlah sebuah aliran sesat baru (sekte sesat) yang dipimpin oleh Babak Khurmi. Ajaran kepercayaan yang dibawanya ini tidak pernah kenal toleransi terhadap agama apapun. Anehnya, aliran sesatnya ini mendapat dukungan luas dari kebanyakan mantan para penganut agama Zoroaster.

Mereka tidak segan-segan membantai orang-orang Islam, Nasrani, dan Yahudi karena tidak sepaham dengan mereka. Kelompok Babak Khurmi ini ternyata juga beraliansi dengan kelompok separatisme yang dipimpin oleh Zuraiq. 

Aliansi gabungan kedua kelompok ini berhasil mengusir Gubernur Azerbaijan era Al-Makmun kala itu dan menghadang serangan pasukan Abbasiyah berkali-kali. Tidak kehabisan akal, Khalifah Al-Makmun mengirimkan panglima terbaik yang bernama Muhammad bin Humaid At-Thusi tetapi sayangnya, dia juga tewas terbunuh. 

Di samping itu, ternyata aliansi kekuatan para pemberontak itu semakin sempit dan tidak bisa bergerak. Akhirnya, mereka meminta bala bantuan dan beraliansi strategis dengan Kekaisaran Byzantium. Tidak tahan soal ini, Khalifah Al-Makmun memberikan perhatian khusus terhadap skema aliansi musuh yang dibangun oleh kedua belah pihak itu. 

Setelah mengetahui rencana mereka untuk sama-sama bergempur wilayah Abbasiyah dari sebelah utara, Khalifah Al-Makmun memutuskan untuk memimpin sendiri pasukan Abbasiyah menghadapi serangan pasukan Romawi pada Tahun 215 H.    


- Pemberontakan di Mesir 

Di Mesir, Abdul Fihri melancarkan aksi pemberontakan sebagai bentuk protes atas beban pajak yang ditetapkan oleh Gubernur Abu Ishaq Al-Muktashim terlalu tinggi. Kelompok pemberontak ini berhasil menyerang beberapa personel tentara Abbasiyah dan melakukan huru-hara di sana. 

Di Bulan Dzulhijjah Tahun 126 H, Khalifah Al-Makmun dan bala tentaranya tiba di Mesir. Dalam waktu singkat, pasukan Abbasiyah langsung meredam pemberontakan, mengeksekusi mati pemimpin pemberontak tersebut dan situasi Mesir kembali stabil. 

Menariknya, Khalifah Al-Makmun adalah khalifah Abbasiyah yang pertama kali berkunjung di Mesir. Selama di sana, dia sempat mengeksplorasi Piramida bersama tim penelitinya. Hal ini disebabkan dorongan kecintaannya pada ilmu pengetahuan. 

Diceritakan, Khalifah cukup lama tinggal di sana. Beberapa waktu kemudian, datanglah kabar duka dari Baghdad yaitu kewafatan Ibunda Zubaidah, istri Harun Ar-Rasyid sekaligus ibu tiri Al-Makmun. Sedangkan di waktu bersamaan, dia mendapat laporan bahwa Kaisar Romawi telah melanggar isi perjanjian soal tanah perbatasan yang telah menjadi bagian kekuasaan wilayah Abbasiyah.


- Menghadapi Serangan Kekaisaran Byzantium Romawi

Sesampainya di sana, pasukan Abbasiyah yang dipimpin oleh Khalifah Al-Makmun sendiri berhasil menaklukkan Benteng Qurrah dan Majidah, yang menjadi benteng pertahanan utama Romawi. Setelah itu, sisanya dia menyerahkan ekspedisi militer ini kepada Abu Ishak Al-Muktashim dan bala tentaranya (yang berasal dari budak Turki). 

Di dalam ekspedisi ini, tentara-tentara budak Turki ini berhasil menunjukkan kehebatan mereka dan memukul mundur serangan pasukan Romawi. Singkat cerita, pamor mereka semakin naik dan dinilai penting oleh para pejabat Abbasiyah. 

Dari hasil kemenangan yang didapat, pasukan Abbasiyah berhasil memborong literatur-literatur klasik ala Romawi dan Yunani. Sedangkan di sisi lain, kekalahan Romawi atas Abbasiyah ini memantik permusuhan dan kebencian yang amat dalam antara orang Eropa dan Arab. 

Pada Tahun 216 H, Pasukan Romawi menyerang kembali perbatasan wilayah yang diduduki oleh Abbasiyah sebelumnya. Menurut Imam Thabari, sekitar 1.600 orang tewas terbunuh oleh orang-orang Romawi dari kalangan penduduk Tarsus dan Massissah. 

Tidak tinggal diam, Khalifah Al-Makmun segera kembali menuju Romawi. Dia sangat geram, tetapi utusan Kaisar Theophilus datang di Adana. Di sana, dia menyerahkan 500 tawanan muslim sebagai syarat perjanjian perdamaian. 

Setibanya di Konstantinopel, laskar Romawi tidak dapat memberikan perlawanan yang berarti. Perjanjian damai antara Khalifah Al-Makmun dan Kaisar Theophilus segera ditandatangani, lalu wilayah taklukan diambil-alih kembali dan diserahkan urusannya kepada Abu Ishak Al-Muktashim.  

Setelah pemberontakan Mesir berhasil dipadamkan, Khalifah Al-Makmun di Tahun 217 H ketika berada di Mesir mendengar kabar berita Kaisar Theophilus melanggar isi perjanjian tersebut. Singkat cerita, pasukan Abbasiyah yang dipimpin langsung oleh Al-Makmun, sedangkan pasukan Romawi yang dipimpin oleh Kaisar Theophilus bertempur satu sama lain selama 100 hari. 

Mengetahui pasukan Romawi akan kalah, Kaisar Theophilus menyatakan menyerah dan meminta berdamai. Permohonan itu segera dikabulkan oleh Al-Makmun dan kedua belah pihak menandatangani perjanjian damai di Tahun 217 H. 


3. Pembangunan Infrastruktur, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan

Semenjak Khalifah Al-Makmun kembali di Baghdad, banyak sekali gebrakan baru di segala bidang, terutama bidang pembangunan infrastruktur, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Meneladani kebijakan ayahnya, Khalifah Al-Makmun dipandang sebagai pemimpin yang paling sukses memajukan Daulah Islam, di antara karya-karya adalah . 

  • Membangun pabrik kertas dan memproduksinya secara besar-besaran demi kebutuhan pendidikan.
  • Selain lembaga perpustakaan, fungsi Baitul Hikmah dikembangkan sebagai pusat penelitian, observasi, dan inovasi (Observatorium). 
  • Menggelontorkan dana besar untuk beasiswa para pelajar, kebutuhan penelitian, dan mengumpulkan banyak dokumen dari segala penjuru. 
  • Memusatkan perhatian pada bidang penerjemahan literatur, penelitian sains, dan ilmu keagamaan. 
  • Menjadikan Kota Baghdad sebagai Kota Metropolitan dan Pusat Perdagangan Terbesar di Dunia.
  • Memberikan fasilitas, penunjang, perlindungan bagi para ulama dan ilmuwan. 
  • Adanya Gerakan Penerjemahan Karya dari Literatur Yunani, Romawi, Persia, India, dan China.
  • Membangun Rumah Sakit atas inisiasi dari istrinya, Buran binti Hasan bin Sahl.
  • Mendirikan Pusat Studi Keperempuanan untuk memberdayakan kaum perempuan. 
  • Mencanangkan Program Pembangunan khusus Wilayah Perbatasan, dengan dibuatkan Benteng Pertahanan dan Menara Pengawas di setiap kota. 
  • Membentuk Majelis Munadzarah sebagai tempat membahas persoalan dan masalah agama yang pelik (rumit).
  • Menggaji para penerjemah dan pengarang karya (buku) dengan imbalan emas seberat buku yang dibuat. 

Kecemerlangan ide Khalifah Al-Makmun mengangkat wajah Daulah Islam sebagai peradaban paling maju di dunia. Meneruskan masa kejayaan ayahnya, tidak heran sebagian besar para sejarawan banyak memuji kehebatannya sebagai khalifah Islam yang arif bijaksana, cerdas, berbudi luhur, memberikan kebebasan berpikir, dan riset penelitian. Dari sinilah, titik peradaban dunia mulai lahir dan berkembang pesat, lalu dicontek oleh ilmuwan-ilmuwan barat.  


4. Kebijakan-Kebijakan Kontroversi Khalifah Al-Makmun

Di Masa Pemerintahan Khalifah Al-Makmun, di samping dia berhasil mewujudkan kemajuan dan kejayaan besar bagi Umat Islam, terkadang Al-Makmun kerapkali mengeluarkan statement-statement kontroversi. Menurut sejarawan, hal ini disebabkan hobi khalifah yang suka mempelajari ilmu-ilmu filsafat dari Yunani.

Tidak heran, apa yang dia baca sangat mempengaruhi isi pemikirannya. Selain itu, Al-Makmun juga dikatakan begitu akrab dengan keluarga Alawiyin - notabene penganut aliran Syi'ah -. Di antaranya, sebagai berikut. 

  1. Mencopot Putra Mahkota Qasim Al-Muktaman dan digantikan oleh Imam Ali Ridha (Ali Ar-Ridha bin Musa Al-Kazhim) dari Golongan Alawiyyin sekaligus penganut Syiah.  
  2. Memerintahkan seluruh rakyat dan jajaran pejabat pemerintah untuk mengenakan simbol warna hijau sebagai tanda pendukung Ahlul Bait. Namun kebijakan itu segera diurungkan setelah kematian Imam Ali Ar-Ridha. 
  3. Menyatakan Mu'awiyah bin Abi Sufyan adalah orang baik dan manusia pilihan mulia setelah Rasulullah SAW. adalah Ali bin Abi Thalib
  4. Menyatakan Ali bin Abi Thalib lebih utama daripada Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
  5. Menyatakan Al-Qur'an adalah Makhluk dan akan menghukum para ulama yang tidak sepaham dengannya. 

Tidak sedikit, pernyataan-pernyataan di atas ini menuai kecaman dan nyaris menimbulkan fitnah di tengah masyarakat. Mereka berbondong-bondong memprotes pernyataan Khalifah, sehingga sebagian besar masyarakat merasa gusar. Melihat aksi ini, Khalifah Al-Makmun terpaksa menarik semua isi perkataannya tersebut. 


Kedekatan Khalifah Al-Makmun dengan Keluarga Alawiyyin

# Pertemuan Al-Makmun dan Imam Ali Ar-Ridha

Beberapa tahun pertama pemerintahannya, semua urusan negara diserahkan sepenuhnya kepada Wazir Kepercayaannya, Fadhl bin Sahl, sedangkan dirinya Al-Makmun terus berlarut-larut mendalami ilmu pengetahuan dan filsafat. 

Kecintaannya pada ilmu membuat khalifah lebih memuliakan para ilmuwan dan alim ulama', bahkan seringkali mengundang mereka ke istana. Di samping itu, ada seseorang yang membuat Khalifah Al-Makmun akan kehebatan ilmunya, yaitu Ali bin Musa Al-Kazhim. Tokoh terkemuka dan paling dihormati dari keluarga Ali bin Abi Thalib dan pengikut Syi'ah. 


# Pengangkatan Imam Ali Ar-Ridha sebagai Putra Mahkota

Singkat cerita, Khalifah Al-Makmun mulai akrab dengan tokoh penting Alawiyyin ini, dan menjadi sahabat beliau setiap mendalami ilmu. Di Tahun 201 H, Khalifah memutuskan kebijakan yang kontroversial, yaitu mencopot Qasim Al-Muktaman dari posisi putra mahkota, dan digantikan oleh sahabatnya, Ali bin Musa. 

Kemudian, Khalifah memberi gelar kepadanya dengan sebutan 'Ar-Ridha' yang artinya orang yang diridhoi dari keluarga Muhammad SAW. Selain itu, dia menikahkan adik perempuannya kepada Imam Ali Ar-Ridha, mencetak uang dirham dengan namanya, mengganti semua simbol Abbasiyah yang berwarna hitam menjadi hijau sebagai simbol pendukung Ahlul Bait.  

Imam Suyuthi menuturkan, sampai Khalifah sempat berniat mundur dan menyerahkan posisinya kepada Imam Ali Ar-Ridha. Keputusan ini ditentang ramai-ramai oleh keluarga Abbasiyah, mereka menuduh Al-Makmun telah berkhianat dan bersekongkol dengan keluarga Alawiyyin. 

Sesuai isi wasiat Harun Ar-Rasyid, keputusan yang diambil oleh Al-Makmun tidak mencederai dan menyalahi aturan, sebab dia yang menentukan, apakah putra mahkota ini layak atau tidak sebagai penerus khalifah. Jika tidak, Al-Makmun berhak mencopotnya dan menggantikan dengan orang yang lebih baik. 

Keputusan Khalifah Al-Makmun melahirkan segresi antara keluarga Abbasiyah dan Alawiyyin. Para pendukung masing-masing dua kubu tersebut merasa tidak setuju karena mereka tidak ingin jalur kekhalifahan keluar dari nasab Bani Abbas, sedangkan di sisi lain, keputusan Al-Makmun dicurigai oleh para pendukung Ali bin Abi Thalib dengan adanya maksud tertentu secara tersembunyi.  


# Kedok Wazir Fadhl bin Sahl Mulai Terbongkar

Situasi politik dalam negeri semakin genting, Imam Thabari menceritakan, bahwa Imam Ali Ar-Ridha berinisiatif untuk memberi tahu situasi negeri yang sebenarnya kepada Al-Makmun. Dia juga melaporkan, ketidakbecusan Fadhl bin Sahl dalam memilih gubernur dan menjalankan pemerintahannya, makanya dia berusaha menyembunyikan informasi ini dari Al-Makmun. 

Mendengar hal itu, Khalifah Al-Makmun memanggil para panglima pasukan untuk menceritakan apa yang sedang terjadi secara pasti supaya lebih meyakinkan. Awalnya mereka bungkam, namun setelah Khalifah memberikan jaminan keamanan buat mereka, barulah mereka buka mulut dan menyampaikan apa yang sedang terjadi. 

Mereka menceritakan, situasi politik sejak kejatuhan Khalifah Al-Amin, pemberontakan yang terjadi di mana-mana karena isu yang beredar, sampai memenjarakan Harsamah bin Ayun akibat kesalahpahaman Al-Makmun sendiri. Menurut mereka, kematian Panglima Harsamah bin Ayun merupakan kerugian paling besar bagi Dinasti Abbasiyah.  

Khalifah Al-Makmun mengaku, dia tidak tega menghukum Fadhl bin Sahl. Sedangkan, Wazir Fadhl yang mengetahui kedok aslinya sudah dibocorkan, segera menghukum para panglima perang yang membuka mulut ke khalifah. Kejadian ini sudah diadukan ke khalifah, tetapi jawabannya masih tetap sama, dia tidak tega menghukum wazirnya. 


# Pembunuhan Wazir Fadhl bin Sahl dan Putra Mahkota Imam Ali Ar-Ridha

Suatu ketika, Khalifah Al-Makmun membawa para pasukannya menuju ke Baghdad, untuk memadamkan pemberontakan di sana setelah mengetahui pengangkatan Khalifah Ibrahim bin Al-Mahdi. Dia juga mengundang Fadhl bin Sahl dan Imam Ali Ar-Ridha untuk ikut bersamanya. 

Tiba-tiba ketika malam hari di Sarakh, Fadhl bin Sahl diserang oleh sekelompok orang tak dikenal. Khalifah Al-Makmun memerintahkan anak buahnya untuk menangkap mereka, kemudian dijatuhi hukuman penggal kepala. 

Setelah itu, rombongan Al-Makmun melanjutkan perjalanan. Setibanya di Kota Thus yang di mana Harun Ar-Rasyid dimakamkan, ketika mereka sedang beristirahat, Imam Ali sedang memakan buah anggur, tiba-tiba dia menemui ajalnya. Para pendukung Syi'ah percaya, bahwa buah tersebut sudah diracuni. 

Imam Ali Ar-Ridha meninggal dunia di penghujung akhir Bulan Shafar 203 H atau bertepatan pada Bulan September 818 Masehi di Thur (Irak sekarang). Menurut Imam Thabari, Khalifah Al-Makmun mengaku sangat terpukul atas kehilangan sahabatnya itu. Dia memerintahkan untuk memakamkannya di samping kuburan Harun Ar-Rasyid. 


# Pernikahan Putri Al-Ma'mun dan Putra Imam Ali Ridha

Diceritakan dari Imam Thabari, perjalanan Khalifah Al-Makmun melakukan ekspedisi Byzantium di Tahun 215 H, rombongan Khalifah sempat menemui Muhammad bin Ali Ar-Ridha, putra dari sahabat karibnya itu di daerah Takrit, salah kota di tepi Sungai Tigris di sebelah utara Samara. 

Sama seperti ayahnya, Muhammad bin Ali Ridha ini memiliki kemuliaan dan ketinggian ilmu, sehingga Khalifah Al-Makmun menaruh takzim padanya. Dia sering memberikan hadiah yang banyak, dan suatu ketika dia memohon kepadanya supaya sudi dinikahkan dengan putrinya, Ummu Fadhl.

Permintaan itu dipenuhi oleh Muhammad. Setelah acara pernikahan putrinya, Khalifah Al-Makmun beserta rombongan tentaranya melanjutkan perjalanannya ke Byzantium Romawi. Disebutkan, pernikahan Ummu Fadhl dan Muhammad bin Ali Ar-Ridha terjadi pada Bulan Shafar Tahun 215 H.   


Rekonsiliasi Politik dan Stabilitas Negara Jilid II

Setelah kehilangan kedua orang penting di sisi Al-Makmun, Khalifah Al-Makmun berencana melakukan rekonsiliasi kembali dalam sistem pemerintahannya. Singkat cerita, ketika Khalifah sudah tahu kebenaran apa saja yang telah terjadi selama ini, dia memutuskan untuk mengambil kendali penuh dalam urusan pemerintahan. 

Akhirnya, dia memutuskan untuk mengangkatnya adiknya Fadhl, Hasan bin Sahl sebagai wazir penggantinya. Setelah itu, dia menulis surat pengumuman bahwa keputusan pengangkatan Putra Mahkota Imam Ali Ar-Ridha telah dibatalkan.

Sayangnya, sebagian besar para petinggi Abbasiyah tidak menggubris isi surat itu, sebab dikabarkan Khalifah Al-Makmun masih mengenakan pakaian berwarna hijau sebagai simbol dukungan kepada Ahlul Bait.

Mengetahui respon negatif dari para pemuka Abbasiyah dan masyarakat, Khalifah Al-Makmun mengumpulkan para panglima militernya untuk bermusyawarah dalam rapat kenegaraan. Panglima Thahir bin Husein juga turut ikut serta di dalamnya.

Setelah semua berkumpul, Thahir bin Husein berusaha membujuk Khalifah Al-Makmun untuk menanggal pakaian bersimbol hijau-nya dan menggantinya dengan simbol hitam sebagai tanda dukungan Bani Abbas. Tetapi, Khalifah masih tidak menjawab. 

Di tempat berbeda, penduduk Baghdad dan pejabat tinggi Abbasiyah mulai menanggalkan bai'atnya kepada Khalifah Ibrahim bin Al-Mahdi. Mengetahui hal itu, Ibrahim segera melarikan diri ke tempat persembunyiannya. Konon, dia bersembunyi sekitar 8 tahun lamanya. 

Sedangkan, Hasan bin Sahl terserang depresi berat yang membuatnya menjadi gila. Awalnya, dia sempat jatuh sakit keras dan menyerang saraf otaknya, mengingat perlakuan buruk oleh penduduk Baghdad dan pejabat istana yang mengucilkannya. 

Sayangnya, ketika dia sembuh dari penyakitnya, tiba-tiba Hasan mengalami gangguan mental yang sangat parah, sampai-sampai dia harus dipasung di rumah khusus. Kondisi Hasan sudah dilaporkan oleh Panglima ke Khalifah Al-Makmun. 

Intinya, kedua penguasa tertinggi di Baghdad dan Irak (Ibrahim bin Al-Mahdi dan Hasan bin Sahl), kini sudah tidak bisa menjalankan tugas pemerintahan sebagaimana mestinya. Tidak ada pilihan lain buat rakyat Baghdad selain membai'at kembali Khalifah Al-Makmun, walaupun mereka masih keberatan karena sikap politik Khalifah dinilai condong ke keluarga Alawiyyin.  

Setibanya di Baghdad pada Bulan Shafar Tahun 204 H, Khalifah Al-Makmun mengeluarkan sebuah perintah bahwa semua penduduk Baghdad termasuk para pejabat tinggi Abbasiyah wajib mengenakan pakaian hijau, jika ketahuan ada yang melanggar maka harus dirobek di tempat. 

Seketika, seluruh rakyat Baghdad ketakutan. Namun, para pejabat Abbasiyah berusaha membujuk dan mengingatkan sejarah perjuangan leluhurnya dan budaya khalifah-khalifah sebelumnya, bahwa warna hitam adalah tanda kebesaran Bani Abbas, bukanlah bentuk pengkhianatan. 

Khalifah Al-Makmun tersadar, bahwa tidak ada gunanya orang-orang taat kepadanya, sedangkan di dalam hatinya dipenuhi rasa kebencian. Sedangkan, surat-surat panglima militer terus berdatangan yang isinya mendesak pencabutan aturan pakaian simbol hijau.

Di penghujung Shafar Tahun 204 H, Khalifah Al-Makmun bersedia menanggalkan pakaian hijaunya dan mengenakan pakaian berwarna hitam. Sejak hari itu, penduduk Baghdad dan pejabat istana mengenakan kembali pakaian hitam sebagai simbol dukungan Bani Abbas.   

Sekembalinya memerintah di Baghdad, Khalifah Al-Makmun mengeluarkan beberapa kebijakan baru, di antara lain ialah :

  • Menjadikan Kota Baghdad sebagai Ibukota Abbasiyah (sebelumnya adalah Kota Merv di Khurasan)
  • Me-restrukturisasi sistem pemerintahan dari awal
  • Menunjuk orang-orang piawai untuk menempati posisi-posisi strategis
  • Mengangkat Thahir bin Husein sebagai Kepala Kepolisian (di Tahun 204 H), kemudian ditunjuk sebagai Penguasa Khurasan sampai ke ujung Timur Abbasiyah (di Tahun 205 H)
  • Mengangkat Abdullah bin Thahir bin Husein sebagai Gubernur Raqqah (di Suriah sekarang)

Mengetahui putranya ditugaskan sebagai Gubernur, Panglima Thahir bin Husein segera menulis surat-surat khusus yang berisi tentang prinsip-prinsip administrasi, dasar-dasar etika, dan politik. Yang kemudian, surat-surat itu dibukukan, dijadikan sebagai dokumen resmi yang terbaik, disalin dan disebarluaskan ke seluruh Gubernur Abbasiyah.

Sedangkan, ilmuwan-ilmuwan Muslim terkemuka seperti Ibnu Khaldun dan Ibnu Atsir sempat mengutip isi dokumen tersebut, dan menilai bahwa pelajaran isi dokumen tersebut sangat penting untuk dipelajari dan dipahami dalam menguasai dasar etika pemerintahan. 


Berdirinya Daulah Thahiriyah 

Di Tahun 205 H, Khalifah Al-Makmun memberikan pemerintahan otonom khusus kepada Panglima Thahir bin Husein atas wilayah Khurasan sampai ujung timur Abbasiyah, karena jasa besarnya mengalahkan Khalifah Al-Amin dan mengantarkannya ke kursi khilafah, 

Dengan adanya hak ini, pemerintahan Thahir bin Husein bisa diwariskan secara turun-temurun hingga ke anak cucunya. Disebutkan, Dinasti Thahiriyah resmi berdiri dari Tahun 205 H/820 Masehi sampai Tahun 259 H/873 Masehi, dengan ibukota di Kota Merv kemudian berpindah ke Kota Naisabur (Iran sekarang).

Sebagaimana yang pernah diceritakan sebelumnya, Panglima Thahir bin Husein meraup simpati masyarakat Khurasan karena keberhasilan dirinya membunuh Ali bin Isa bin Mahan, mantan Gubernur era Harun Ar-Rasyid yang terkenal bengis dan kejam. Popularitasnya kian melambung setelah dia ditunjuk sebagai Penguasa Kawasan Timur Abbasiyah. 

Suatu hari di Tahun 207 H, para prajurit Khurasan kebingungan ketika penyebutan Al-Makmun hilang selama Khutbah Jum'at. Berita ini segera dilaporkan ke Baghdad, Khalifah begitu marah setelah tahu perkara ini, kemudian dia memerintahkan anak buahnya untuk memantau seberapa jauh pergerakan Thahir bin Husein di Khurasan. 

Di Tahun yang sama, intel Al-Makmun yang bernama Khultum bin Tsabit bin Abi Sa'ad kembali ke Baghdad dan melaporkan bahwa Thahir bin Husein wafat seketika dalam keadaan luka besar di pelipisnya. Dia juga menambahkan, bahwa telah terjadinya pemberontakan di dalam Istana Thahir. 

Sebelum dia wafat, dia sempat mengalami sakit keras yang tidak wajar. Kemungkinan besar, Thahir bin Husein telah diracuni oleh seorang budak yang tidak menyetujui rencana pengkhianatan Thahir bin Husein kepada Abbasiyah.  

Walaupun, Thahir bin Husein diisukan sudah berkhianat, namun Khalifah Al-Makmun juga tidak menaruh kebencian kepada sanak famili mereka. Akhirnya, Al-Makmun menunjuk putranya, Talhah bin Thahir bin Husein sebagai Penguasa Khurasan selanjutnya. Dia telah berkuasa sekitar 6 tahun lamanya, dan wafat pada Tahun 213 H atau 828 Masehi. 

Jabatan itu kemudian diteruskan oleh saudaranya, Abdullah bin Thahir yang saat itu memegang tampuk kekuasaan di Suriah. Dialah satu-satunya penguasa Dinasti Thahiriyah (setingkat gubernur otonomi) yang menjabat paling lama sekitar 35 tahun. 

Saking besar kepercayaan Al-Makmun kepadanya, kekuasaan Abdullah bin Thahir diperluas lagi sampai mencakup Mesir, Suriah, dan Al-Jazirah (Irak Utara). Di Tahun 213 H, wilayah kekuasaan Abdullah sebelumnya (mencakup Mesir, Suriah, Al-Jazirah) ditarik lagi oleh Khalifah. 

Hal itu disebabkan setelah Khalifah Al-Makmun menguji kesetiaan Abdullah, ternyata dia cenderung memihak kepada keluarga Alawiyyin. Akhirnya, diputuskan untuk menyerahkan ketiga wilayah pemerintahan itu kepada adiknya, Abu Ishak Al-Muktashim. 

Sepeninggal Abdullah bin Thahir, kekuasaan Dinasti Thahiriyah diteruskan lagi oleh saudaranya, bernama Muhammad bin Thahir bin Husein yang berkuasa dari Tahun 248 H sampai 259 H, sekaligus penguasa Dinasti Thahir yang terakhir. Akhirnya, Dinasti Thahiriyah resmi runtuh dan digulingkan oleh keluarga Saffari melalui jalur pemberontakan. 


Pernikahan Khalifah Al-Makmun

Di Tahun 210 H, Khalifah Al-Makmun menikahi putri Hasan bin Sahl, yang bernama Khadijah atau biasanya dipanggil dengan nama Buran. Acara pernikahan ini berlangsung pada Bulan Ramadhan Tahun 210 H, atau diperkirakan sekitar penghujung Tahun 825 Masehi. 

Menurut Imam Thabari, acara pernikahan ini memakan biaya yang luar biasa besar dan diselenggarakan di depan rumah Hasan bin Sahl, wazir Khalifah yang pernah terserang penyakit gila. Seluruh petinggi Abbasiyah, termasuk Siti Zubaidah, istri Harun Ar-Rasyid sekaligus ibu kandungnya Al-Amin turut menyaksikan kegembiraan di acara ini dan semua mengenakan pakaian terbaiknya masing-masing.   

Diceritakan, nenek Buran menganugerahi 1000 buah mutiara yang disebarkan ke hadapan kedua pengantin, Al-Makmun dan Buran. Sedangkan, ayah Buran, Hasan bin Sahl memberikan cuti 17 hari kepada beberapa komandan pasukan untuk membantu mengurusi acara pernikahan putrinya tersebut.

Dia juga menuliskan nama-nama komandan pasukan itu yang turut membantu acara pernikahan putrinya, dan di setiap surat tersebut berisi nama-nama tanah yang dibagikan secara gratis kepada mereka sebagai tanda imbalan. Sebagai bentuk tanda syukur, ayah Buran (Hasan bin Sahl) juga ikut menaburkan batu-batu permata di hadapan Khalifah saat malam pengantin. 

 Imam Thabari meriwayatkan, Khalifah Al-Makmun menawarkan permintaan apa saja kepada Buran. Pada awalnya, dia menolak namun setelah didesak oleh anggota keluarga, akhirnya Buran mengajukan dua permintaan, yaitu :

  1. Khalifah Al-Makmun harus mengampuni Ibrahim bin Al-Mahdi yang sempat mengaku dirinya sebagai Khalifah (selama Al-Makmun tinggal di Merv).
  2. Diizinkan menemani Ibunda Zubaidah bin Ja'far Al-Manshur selama menjalankan ibadah haji, mengingat jasa-jasanya begitu besar dalam menghubungkan jalan raya dari Irak ke Mekkah.  

Kedua permintaan itu segera dikabulkan oleh Khalifah Al-Makmun. Akhirnya, Ibrahim bin Al-Mahdi bisa kembali ke Istana Baghdad dengan hati tenang. Sebelumnya, dia hidup dalam tempat persembunyian kurang lebih sekitar 8 tahun lamanya.

Sedangkan, Ibu Zubaidah menyambut baik permintaan menantunya dengan menghadiahi pakaian-pakaian terbaik yang pernah diwariskan dari Dinasti Umayyah.  


Penyebab Kematian Khalifah Al-Ma'mun

Diriwayatkan dari Imam Suyuthi, Al-Masudi menceritakan bahwa Khalifah Al-Makmun beserta rombongannya datang ke daerah Badidun. Setibanya di sana, Khalifah sangat kagum akan keindahan pemandangan, kesejukan udara, airnya yang jernih dengan pepohonan rimbun menghijau.

Suatu saat, dia tiba di suatu tempat dan melihat seekor ikan hidup di mata air yang jernih. Penampakan ikan itu bagaikan batangan perak berkilauan, Khalifah tertarik sekali melihatnya, namun tidak ada seorang pun yang berani mengambilnya, saking dinginnya air tersebut. 

Akhirnya, Khalifah mengadakan sayembara untuk menangkap ikan itu. Seorang pelayan istana menawarkan diri dan menyelam ke dasar mata air itu. Akhirnya, dia berhasil menangkap ikan tersebut, namun sesampainya di darat, ikan itu malah menggeliat keras dan berusaha melompat ke air lagi. 

Ketika menggeliat, ikan itu sempat menampar dada dan pangkal leher Al-Makmun, sehingga pakaian Khalifah basah kuyup. Kemudian, pelayan itu turun kembali dan menangkap lagi ikan tersebut. Setelah berhasil, ikan tersebut digoreng untuk disajikan kepada Khalifah.

Belum selesai ikan itu matang dimasak, tiba-tiba tubuh Khalifah terserang hawa dingin yang luar biasa, sampai-sampai para pelayan buru-buru menyelimutinya. Saking kedinginan, Al-Makmun berteriak-teriak kesakitan, sedangkan para pelayan berinisiatif untuk menyalakan api unggun supaya bisa menghangatkan tubuh Al-Makmun. 

Setelah itu, ikan berwarna perak yang telah matang disajikan kepada Al-Makmun. Sayangnya, Khalifah tidak sempat mencicipinya karena terlanjur pingsan duluan saking menggigilnya. Setelah siuman, Khalifah memerintahkan seorang pelayan untuk mencari tahu makna tempat ini dalam bahasa Arab kepada orang-orang sekitar. 

Orang-orang sekitar menjelaskan makna "Badidun," artinya panjangkanlah kakimu. Kemudian, pelayan itu menanyakan lagi soal desa yang mereka tempati saat ini, lantas mereka menjawab desa itu bernama Riqqah. 

Konon, sejak kelahiran Al-Makmun pernah diramalkan bahwa Al-Makmun akan meninggal dunia di tempat yang bernama Riqqah. Oleh sebab itu, dia berusaha menghindari tempat-tempat yang bernama Riqqah (dengan maksud menghindari kematian).

Begitu mendengar jawaban itu, Khalifah pun paham. Dia mulai dihinggapi rasa putus asa dan hanya bisa berpasrah. Khalifah berdo'a : 

“Wahai Dzat yang Kerajaan-Nya tidak pernah berakhir, ampunilah orang yang kerajaannya telah hilang.”

Imam Suyuthi melanjutkan, penyakit Al-Makmun yang diderita kian parah, dia meminta putranya, Abbas bin Al-Makmun untuk datang menemuinya. 

Awalnya, Khalifah mengira bahwa dia tidak akan bertemu lagi dengan putranya mengingat waktu ajalnya semakin mendekat (sekarat). Tetapi, Abbas ternyata berhasil menemui ayahnya meskipun kondisi Abbas sangat lelah dan basah kuyup dipenuhi keringat. Sayangnya, Surat Keputusan soal wasiat khalifah penerusnya sudah terlanjur disebar ke seluruh penjuru wilayahnya, yang berisi : 

“Dari Abdullah Al-Makmun dan saudaranya, Abu Ishaq, khalifah yang akan menggantikannya sepeninggalnya.”

Disebutkan bahwa surat itu ditulis atas perintah Al-Makmun. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa surat itu ditulis di saat Al-Makmun sedang pingsan dan tidak sadarkan diri. 

Imam Thabari melanjutkan, bahwa ketika Al-Makmun sudah menghembuskan nafas terakhir, putranya Abbas bin Al-Makmun dan saudaranya, Abu Ishaq Muhammad bin Harun Ar-Rasyid, membawanya ke Kota Tarsus dan dimakamkan di rumah milih Khagan, seorang kasim (khadim) Harun Ar-Rasyid. 

Sedangkan, Abu Ishaq Al-Muktashim menjadi imam sholat jenazahnya. Setelah dikuburkan, mereka menugaskan 100 personel prajurit dari golongan Abna (yang bertugas di Khurasan) untuk menjaga makam Khalifah Al-Makmun. 


Kewafatan Khalifah Al-Ma'mun

Khalifah Abdullah Al-Makmun meninggal dunia selepas waktu Dzuhur (ada yang mengatakan setelah sholat Ashar) pada Hari Kamis, 18 Rajab Tahun 218 H atau bertepatan pada tanggal 9 Agustus Tahun 833 Masehi di daerah Badidun, Byzantium Romawi. Kemudian, jenazahnya disemayamkan di Kota Tarsus (Turki sekarang). 

Dia wafat saat berusia 48 tahun, dan telah memerintah Daulah Abbasiyah selama 20 tahun 5 bulan 24 hari. Sebelum Khalifah wafat, dia sempat berwasiat bahwa khalifah penggantinya jatuh ke tangan saudaranya, Abu Ishak Muhammad Al-Muktashim bin Harun Ar-Rasyid.

Imam Thabari meriwayatkan, kurun pemerintahan Khalifah Al-Makmun sebenarnya sudah terhitung semenjak peperangan saudara Al-Amin yang berlangsung terjadi sekitar 2 tahun lamanya. Secara de facto, nama Al-Makmun sudah disebut-sebut sebagai Khalifah Abbasiyah dalam ibadah haji dan khutbah-khutbah sholat Jum'at.