Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Dinasti Bani Abbasyah : Khalifah Al-Amin (193-198 H/809-813 M)

Biografi Muhammad Al-Amin

Muhammad Al-Amin, dengan nama asli Muhammad (Al-Amin) bin Harun (Ar-Rasyid) bin Muhammad (Al-Mahdi) bin Abdullah (Al-Manshur) bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, dilahirkan pada tanggal 14 April Tahun 787 Masehi atau bertepatan pada Tahun 171 H, di Baghdad, Irak.

Ia lahir selepas ayahnya, Harun Ar-Rasyid sudah dilantik sebagai khalifah dan 6 bulan setelah kelahiran Al-Ma'mun, berarti Al-Amin anak bungsu sekaligus adik seayah Al-Ma'mun. Sedangkan, ibunya bernama Zubaidah binti Ja'far bin Abu Ja'far Al-Manshur, saudara sepupu Ar-Rasyid sendiri. 

Biasanya, dipanggil Abu Abdullah bin Ar-Rasyid. Sebutan Muhammad Al-Amin mengingatkan kepada kita tentang gelar yang disanding Nabi Muhammad SAW. Tampaknya, kedua orang tuanya (Harun Ar-Rasyid dan Zubaidah) ingin anaknya bisa meneladani akhlak Rasulullah SAW. walau kenyataannya berbanding terbalik.

Imam Suyuthi meriwayatkan, Khalifah Al-Amin digambarkan sebagai sosok berwajah tampan, berkulit terang, postur tubuh yang tinggi perkasa, punya kekuatan fisik dan keberanian yang luar biasa. Bahkan, dia pernah membunuh seekor singa dengan tangan kosong. Tutur katanya juga sangat fasih, penuh pesona, punya adab sopan santun dan sifat-sifat utama. 

Sayangnya, dia tidak pandai dalam masalah tata negara, suka berfoya-foya dan boros, berkepribadian lemah. Tidak heran, sebenarnya dia dianggap tidak cocok menjabat khalifah. Lihat saja ! Setelah 2 hari pelantikan, Khalifah Al-Amin segera memerintahkan anak buahnya untuk membangun lapangan sepak bola dekat Istana Al-Manshur. 

Parahnya, Khalifah Al-Amin terkena skandal Homoseksual (penyuka sesama jenis) atau biasanya disebut liwath, Kelihatannya, dia tidak suka dengan perempuan sekalipun para budaknya. 

Ibnu Jarir menceritakan, suatu ketika Khalifah Al-Amin pernah membeli dua orang Kasim (pelayan istana yang sudah dikebiri). Dia memperlakukan mereka berdua dengan istimewa dan sering mengajak ketemuan di tempat-tempat yang sepi.   

Perbuatan keji ini ternyata bocor sampai ke telinga Ibunda Zubaidah. Dia murka sekali, istri Harun Ar-Rasyid ini segera mengirimkan para pelayan wanita yang cantik, molek, dan langsing, tetapi didandani berpakaian seperti laki-laki. 

Setelah itu, mereka dikirim ke Istana, dan diminta untuk melayani Khalifah supaya dia terkecoh dan berpaling dari kedua kasim kesayangannya itu. 

Sifat Khalifah yang satu ini mengingatkan juga pada salah satu khalifah Bani Umayyah, Walid II bin Yazid yang pernah dijuluki Fir'aun Umat Islam. Konon, dia sangat dibenci oleh kalangan Umat Islam, termasuk Bani Umayyah akibat sikap homoseksual yang mencoreng nama baik keluarga besar istana saat itu.  

Baca Juga : Khalifah Walid bin Yazid (Bani Umayyah) - Sosok Fir'aun Umat Islam

Selain itu, Fadhl bin Rabi', wazir Al-Amin yang dianggap sebagai biang kerok atas pertumpahan darah sesama Umat Islam (Perang Saudara) akibat rakus dan haus kekuasaan. Dia sengaja melontarkan hasutan, provokasi, dan menjilat Al-Amin supaya sudi mencopot posisi putra mahkota dari kedua saudaranya, dan diserahkan pada anaknya, Musa demi mempertahankan jabatannya (sebagai wazir).

Sepertinya, Khalifah Harun Ar-Rasyid sudah mempertimbangkan apa yang akan terjadi ke depannya. Jauh-jauh hari sebelum dia wafat, dia sempat menuliskan surat wasiat yang dibacakan secara umum di hadapan para pejabat istana, yang berisi :   

“Semua yang muda akan menjadi tua, semua yang datang ke dunia akan mati. Kuberikan pada kalian 3 arahan : Pegang erat bai'at kalian; Setialah kepada Para Imam-mu (para khalifah), dan pereratlah persatuan di antara kalian; Rawatlah Muhammad dan Abdullah (Al-Amin dan Al-Makmun); jika salah satu di antara mereka berkhianat (memberontak) pada yang lain, lawan pemberontakannya dan cap dia sebagai pengkhianat yang keji.”

Naik Tahta Menjadi Khalifah

Semenjak Harun Ar-Rasyid wafat, seluruh Daulah Abbasiyah gempar dengan berita ini. Seperti yang pernah diceritakan sebelumnya, bahwa Harun Ar-Rasyid sengaja menyembunyikan penyakitnya dari siapapun (termasuk keluarganya sendiri). 

Baca Juga : Dinasti Abbasiyah - Khalifah Harun Ar-Rasyid (Islamic Golden Age)

Singkat cerita, diceritakan oleh Muhammad bin Sabah At-Tabari bahwa ayahnya, Sabah diberitahu oleh Harun Ar-Rasyid atas penyakit yang dideritanya. Harun Ar-Rasyid bercerita, ketiga putranya lagaknya ingin mempercepat masa ajalnya demi menduduki kursi khalifah.   

Imam Suyuthi meriwayatkan, adanya dugaan kematian Khalifah Harun Ar-Rasyid disebabkan oleh kegiatan malpraktek oleh tabib gadungan, Jibril bin Bakhtaisyu, yang bertugas sebagai mata-mata Al-Amin.  

Ketika Harun Ar-Rasyid wafat, Al-Ma'mun tidak bisa menjenguknya karena menggantikan posisi ayahnya untuk memimpin pasukan menghadapi pemberontakan Khurasan. Untuk prosesi pemakaman, diserahkan pada putra Harun lainnya, Shalih bin Harun Ar-Rasyid yang bertindak juga sebagai imam sholat jenazah. 

Setelah pemakaman usai, para panglima perang berbondong-bondong berjabat tangan kepada Shalih bin Harun, tanda bai'at mereka pada Khalifah Al-Amin. Usai pembai'atan, Shalih segera mengemasi sisa-sisa barang peninggalan ayahnya di tenda, semua dibungkus rapi dan dikirimkan ke Baghdad.  

Ia juga menyampaikan ucapan selamat dan pernyataan bai'at pada Khalifah Al-Amin. Sedangkan, Al-Ma'mun segera mengadakan rapat darurat bersama para panglima pendukungnya, dan diakhiri, semua bersepakat untuk menyatakan bai'atnya pada Al-Amin. 

Setelah 12 hari perjalanan, Raja', pelayan Al-Amin sudah tiba di Baghdad sambil membawa surat kematian Harun Ar-Rasyid dan seluruh perangkat pelantikan Khalifah (selendang, pedang, stempel negara), lalu diserahkan pada Al-Amin. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 14 Jumadil Akhir 193 H atau 4 April 809 Masehi. 

Di saat menerimanya, perasaan Al-Amin bercampur-aduk. Kemudian, dia menyebarkan berita ini kepada sanak keluarganya, di antaranya ibunda, Zubaidah yang sedang berada di Raqqah, Palestina. Dia diminta oleh Al-Amin untuk datang menghadiri upacara pelantikannya. Tentu saja, undangan ini segera dipenuhi oleh Zubaidah, ia membawa seluruh hartanya dan bergegas menuju ke Baghdad.  

Akhirnya, Muhammad Al-Amin bin Harun Ar-Rasyid resmi dilantik sebagai khalifah Bani Abbas yang ke-6 pada Hari Jum'at, 16 Jumadil Akhir 193 H atau tanggal 6 April 809 Masehi. Usai dilantik, dia segera mengumpulkan seluruh rakyat Baghdad dan penghuni istana untuk mendirikan Sholat Jum'at di Masjid Agung Baghdad. 

Setelah sholat, dia naik mimbar dan berpidato tentang kabar kematian ayahnya, Harun Ar-Rasyid, sekaligus berita pelantikan dirinya sebagai khalifah penggantinya sesuai isi wasiat ayahnya. 

Ia berjanji di hadapan rakyatnya, bahwa dia akan meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran mereka, senantiasa menjaga harapan mereka, memberikan perlindungan kepada para aparatur negara, khususnya para prajurit Baghdad, yang gajinya akan dibayar sampai 2 tahun ke depan.  

Usai Al-Amin berpidato, para pembesar istana, aparatur negara, dan tokoh masyarakat berbondong-bondong menyalami dan menyatakan bai'atnya pada Khalifah Al-Amin. 

Tak beberapa lama kemudian, Khalifah Al-Amin memberi tugas pada Sulaiman bin Abu Ja'far (dari pihak keluarga ayahnya) untuk mengumpulkan bai'at atas pelantikan dirinya dari seluruh rakyat Daulah Abbasiyah. 

Sehari setelahnya, Gubernur Khurasan, Al-Ma'mun mengucapkan selamat pada adiknya, Al-Amin atas diangkatnya sebagai Khalifah. Dia juga mengirimkan banyak hadiah, seperti aneka perabotan, binatang buas, sampai persenjataan. 

Khalifah Al-Amin membalas pesan kakaknya, yang berisi akan menjaga komitmennya terhadap isi perjanjian ayahnya yang sudah dibuat dan digantung di dinding Kakbah.  

Demikian halnya, Qasim Al-Mu'taman juga menyampaikan ucapan selamat pada Khalifah Al-Amin. Sebagai balasannya, dia memperpanjang masa jabatannya adiknya, Al-Qasim sebagai Gubernur Suriah sampai Perbatasan Mesir. Intinya, proses peralihan jabatan khalifah berjalan dengan lancar, khidmat, dan bebas hambatan.  


Beberapa Kebijakan dan Peristiwa Yang Terjadi di Masa Pemerintahan Khalifah Al-Amin

Khalifah Muhammad Al-Amin resmi diangkat sebagai khalifah ketika berusia 24 tahun. Jika, Harun Ar-Rasyid ditemani oleh wazir profesional, Yahya bin Khalid Al-Barmaki, maka Khalifah Al-Amin didampingi oleh Fadhl bin Rabi', wazir yang sangat ambisius, penjilat, provokator dan haus akan jabatan. 

Orang inilah yang akan bertanggung jawab atas terjadinya perang saudara antara kedua putra Harun Ar-Rasyid (Al-Amin vs Al-Ma'mun). Motif Fadhl bin Rabi' melakukan ini karena tidak ingin jabatannya bergeser ketika Al-Ma'mun naik tahta khalifah. 

Tampaknya, dia berkaca pada kehidupan politik Keluarga Barmaki. Ketika, Yahya bin Khalid menjadi Wazir Harun Ar-Rasyid, dia bisa mengangkat anak dan kerabat keluarganya menduduki jabatan penting seantero Daulah Abbasiyah sesuai keinginannya. Ketika dia sedang pensiun, pastinya jabatan wazir diteruskan oleh anaknya, Ja'far bin Yahya Al-Barmaki

Haus akan jabatan dan kekuasaan membutakan mata hatinya. Jauh-jauh hari, dia sebelum Al-Amin diangkat menjadi khalifah, sudah punya rencana busuk bagaimana caranya untuk menjatuhkan Al-Ma'mun dari posisi putra mahkota demi kelanggengan kekuasaannya. 

Akibat hasutan dan provokasi Fadhl inilah, Khalifah Harun Ar-Rasyid juga tega menjatuhkan keluarga Barmaki sampai ke dasar tanah. Sepertinya, aksi busuknya ini akan berlanjut dengan mengobarkan api kebencian dan adu domba di antara kedua putra Harun Ar-Rasyid ini. 

Hingga akhirnya, menimbulkan perang saudara berkepanjangan. Para Sejarawan Muslim menyebutnya, sebagai Peristiwa Fitnah Keempat di Tubuh Umat Islam. Sebagai berikut, berbagai pemberontakan dan huru-hara yang terjadi di Masa Pemerintahan Khalifah Al-Amin, di antaranya ialah :


1. Serangan Kekaisaran Romawi 

Pasca kewafatan Harun Ar-Rasyid, Kaisar Nicephorus I menganggap momen ini sebagai peluang emas untuk merebut kembali wilayahnya yang sudah dijajah oleh Daulah Abbasiyah. Dia segera membatalkan surat perjanjiannya dan melakukan ekspansi ke daerah perbatasan Suriah dan Irak bagian utara. 

Akhirnya, Khalifah Al-Amin mengirimkan bala tentara Abbasiyah besar-besaran demi menghentikan serangan itu. Membutuhkan waktu yang cukup lama, akhirnya pasukan Romawi dapat dipatahkan dan berakhir, Sang Kaisar tewas terbunuh di medan perang. 


2. Pergolakan Kota Homs di Suriah

Beberapa bulan kemudian setelah pelantikan, Khalifah Al-Amin mendapat laporan meletusnya pergolakan besar di Kota Homs akibat ulah para pemberontak. Dianggap tidak becus, dia segera memecat Ishak bin Sulaiman dan menggantikannya oleh Abdullah bin Said Al-Harsy. Situasi Kota Homs berakhir kembali pulih di bawah pemerintahan wali gubernur yang baru. 


3. Munculnya Khalifah Baru (Bani Umayyah) di Damaskus

Pada Tahun 195 H, salah seorang tokoh Bani Umayyah yang paling berpengaruh di Damaskus, yang bernama Ali bin Abdullah bin Khalid bin Yazid bin Muawiyah bin Abi Sufyan, menyatakan dirinya sebagai Khalifah dari keluarga Bani Umayyah.

Orang-orang sekitar menyebutnya, As-Sufyani, sebab berasal dari keturunan Abu Sufyan. Tokoh yang satu ini terkenal bukan hanya karena nasabnya dari keluarga Bani Umayyah, melainkan juga dengan keluarga Bani Hasyim dan Rasulullah SAW. Oleh karena itu, dia sering membanggakan dirinya sebab kemuliaan nasabnya dengan berkata :

"Saya adalah putra dua tokoh yang pernah bertentangan di Shiffin." Yang dia maksud, adalah Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah bin Abi Sufyan. 

Namun, periode pemerintahannya tidak bertahan lama, akhirnya Kota Damaskus jatuh ke tangan pasukan Abbasiyah yang dipimpin oleh Panglima Ibnu Baihas, sedangkan tokoh As-Sufyani tiba-tiba menghilang secara misterius. 


Terjadinya Fitnah Keempat Dalam Tubuh Umat Islam

Fitnah di sini bisa diartikan sebagai ujian, musibah, atau bencana yang menimpa Umat Islam, berupa Perang Saudara. Sebelumnya, Dunia Islam pernah diguncangkan oleh 3 Peristiwa Fitnah Besar sepeninggal Rasulullah SAW. 

Fitnah Pertama, terjadi pada Masa Pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan dengan terjadinya pemberontakan di Madinah akibat Surat Fitnah yang ditulis oleh Marwan bin Hakam, sekretaris Khalifah. 

Pemberontakan Umat Islam membuat rumah Khalifah dikepung, dan mengakibatkan sahabat nabi ini tewas terbunuh ketika berpuasa sambil membaca Al-Qur'an. Peristiwa ini berlanjut ke peperangan Khalifah Ali bin Abi Thalib menghadapi pasukan Aisyah, Zubair, dan Thalhah (Perang Jamal). 

Setelah itu, mereka menghadapi pasukan Mu'awiyah bin Abu Sufyan Radhiyallahu 'Anhu (Perang Siffin). Kemudian, diakhiri dengan kesepakatan damai oleh Hasan bin Ali dan Mu'awiyah bin Abi Sufyan (Perjanjian Madain).  

Baca Juga :

Fintah Kedua, diakibatkan naiknya tahta Khalifah Yazid bin Mu'awiyah yang dianggap melanggar perjanjian Madain dan tidak menaati sistem Syuro' Umat Islam (Musyawarah). 

Puncaknya, meletusnya pertempuran yang tidak seimbang antara Pasukan Umayyah dan Pengikut Husein bin Ali di Karbala (Tragedi Karbala), dan diakhiri dengan tewas Husein bin Ali (Cucu Rasulullah) dengan kondisi kepalanya dipenggal. Lalu, diikuti dengan Peristiwa Harrah di Madinah dan Pertempuran Ibnu Zubair di Mekkah. 

Baca Juga : Khalifah Yazid bin Mu'awiyah - Tragedi Berdarah di Karbala

Selanjutnya, Fitnah Ketiga terjadi karena dipicu Perang Saudara di antara Khalifah Walid II bin Yazid dan Yazid II bin Walid. Yazid berdalih, dia tidak tahan atas kezhaliman yang menimpa pada keluarga besar putra-putra Abdul Malik, hanya karena dianggap membahayakan kekuasaannya.  

Setelah, Yazid II naik tahta dan wafat (usianya tidak begitu lama), lalu diteruskan oleh Ibrahim bin Walid yang masa pemerintahannya hanya seumur jagung (kurang lebih 70 hari). Akhirnya, posisinya direbut oleh Marwan bin Muhammad dan diangkat menjadi khalifah terakhir Bani Umayyah. 

Baca Juga :

Selanjutnya, Perang Saudara antara Al-Amin dan Al-Ma'mun sering disebut-sebut sebagai Fitnah Keempat dalam Tubuh Umat Islam. Pertumpahan darah sesama muslim berlangsung dari Tahun 811 Masehi sampai Tahun 813 Masehi, dan sebagai berikut alur proses terjadinya, di antara lain :


1. Pengingkaran Khalifah Al-Amin atas Putra Mahkota Al-Ma'mun dan Qasim 

Menurut Imam Thabari, konflik perang kedua putra Harun Ar-Rasyid bermula dari hasutan dan provokasi Fadhl bin Rabi, yang tidak lain Wazir Khalifah Al-Amin sendiri. Dia sangat khawatir, posisinya akan bergeser jika Al-Ma'mun naik tahta. 

Jika dipikir-pikir, seandainya Fadhl ingin memberontak Al-Ma'mun dengan mengandalkan kekuasaan dan kekuatan tentara Baghdad, tentu saja tidak mampu menandingi mereka. Sebab, di belakang Al-Ma'mun, terdapat bekas para panglima Harun Ar-Rasyid dan para prajurit Khurasan yang berpihak kepadanya.

Dengan adanya dukungan militer yang semakin kuat, membuat Fadhl semakin dongkol dan berusaha mati-matian menyingkirkan Al-Ma'mun dari posisi putra mahkota. 

Tidak henti-hentinya, dia menghembuskan provokasi, jilatan, dan hasutan ke telinga Al-Amin tanpa memperdulikan dampak yang akan terjadi, sekalipun akan menumpahkan darah ratusan ribu jiwa sesama muslim hanya demi kekuasaan. 

Mulanya, Khalifah Al-Amin sendiri tidak ada niatan untuk menggeser urutan putra mahkota yang sudah ditetapkan oleh ayahnya, Harun Ar-Rasyid. Namun, Fadhl bin Rabi' bersama teman-temannya (notabene pendukung Al-Amin) membisikan nada provokasi kepada Khalifah Al-Amin, dengan berkata : 

“Apa yang kamu tunggu dalam masalah saudara-saudaramu, Abdullah dan Al-Qasim ? Sumpah kesetiaan (bai'at) adalah untukmu terlebih dahulu, sebelum mereka berdua. Mereka hanya dibawa ke sana setelah kamu, satu demi satu.”


2. Pencopotan Putra Mahkota Qasim Al-Mu'taman

Setahun kemudian (Tahun 194 H), Khalifah Al-Amin mulai terguncang dan berubah pikiran. Mendadak, dia membuat surat keputusan yang berisi pencopotan Al-Qasim dari posisi putra mahkota, sekaligus jabatan Gubenur Suriah, kemudian diperintah untuk tinggal di Istana Baghdad tanpa kekuasaan apapun. 

Tentu saja, keputusan ini menyalahi isi wasiat Harun Ar-Rasyid. Sebab, hanya Al-Ma'mun yang punya kewenangan untuk menentukan apakah Al-Qasim layak sebagai penerus khalifah atau tidak. Akhirnya, hal ini mulai berbuntut panjang. 

Al-Ma'mun tidak terima terhadap keputusan ini, sebab Al-Amin dianggap melangkahi kewenangannya. Hanya dia yang berhak mencopotnya, sebab dia posisinya setelah Al-Ma'mun. Imam Suyuthi menambahkan, ketika berita ini telah sampai ke telinga Al-Ma'mun, dia segera mengeluarkan kebijakan untuk menghapus nama Al-Amin dari tanda perangko pos. 

Sedangkan, Khalifah Al-Amin memerintahkan khatib sholat Jum'at untuk berhenti menyebut nama Al-Ma'mun dan Al-Qasim dalam doanya, dan digantikan dengan nama putranya, Musa bin Muhammad Al-Amin, dengan harapan bisa menjadi penerus khalifah. 

Semenjak itu, ketegangan kubu Al-Amin dan Al-Ma'mun mulai memanas. Kelihatannya, kedua belah pihak ini berusaha saling mengintai dan beradu kekuatannya masing-masing. Al-Ma'mun tengah bersiap-siap merencanakan sesuatu setelah mencium aroma pengkhianatan dari saudaranya ini. 


3. Mata-Mata dari Baghdad 

Perlahan-lahan, kecurigaan Al-Ma'mun terbukti benar. Tiba-tiba, dia didatangi para utusan Al-Amin untuk menyampaikan surat yang berisi permintaan khusus Khalifah Al-Amin untuk rela menyerahkan posisi putra mahkota pertama kepada putranya, Musa. Sedangkan, bagi Al-Ma'mun akan menduduki posisi putra mahkota yang kedua. 

Dia juga memberitahu, bahwa Musa sudah mendapat gelar yang baru, An-Nathiq bil Haq (yang artinya suara kebenaran). Al-Ma'mun dengan tegas, menolaknya mentah-mentah terhadap kebijakan yang tidak jujur ini. 

Menariknya, ada seorang utusan yang bernama Abbas bin Musa bin Isa bin Musa, cucu dari mantan putra mahkota yang pernah didepak oleh Khalifah Al-Manshur dan Al-Mahdi. Dia paham, perasaan Al-Ma'mun atas situasi yang akan dihadapinya. 

Dia tidak ingin kisah pahit kakeknya akan terulang kembali pada diri Al-Ma'mun. Oleh karena itu, dia diam-diam berpihak (menyatakan kesetiaannya) pada Al-Ma'mun, dan menjulukinya 'Al-Imam.' Abbas berjanji, akan membantu upaya Al-Ma'mun menghadapi langkah-langkah Khalifah Al-Amin dengan berbagai cara. 

Tanpa sepengetahuan siapapun, Abbas ditugaskan untuk rutin melaporkan berita perkembangan apa yang sedang terjadi di istana, dan diminta memberikan arahan/masukan atas apa yang akan dihadapinya. Semenjak itu, Abbas bin Musa dipercaya sebagai mata-mata Al-Ma'mun. 

Para utusan segera kembali pulang ke Baghdad dan melaporkan penolakan Al-Ma'mun atas pergeseran putra mahkota ini. Mereka juga memberitahu, bahwa status Al-Ma'mun naik di tengah masyarakat Khurasan sebagai 'Al-Imam' (artinya Pemimpin Kaum Muslimin) yang berarti posisinya hampir sejajar dengan Khalifah.  


4. Pencopotan Putra Mahkota Al-Ma'mun dan Pengingkaran Surat Wasiat Harun Ar-Rasyid 

Setelah mendengar laporan ini, Khalifah Al-Amin sangat murka dan mengeluarkan Surat Keputusan Terbaru, yang berisi pencopotan Al-Ma'mun dari posisi putra mahkota. Selain itu, dia menyuruh anak buahnya untuk mencopot surat wasiat ayahnya dari dinding Kakbah dan dibawakan ke Baghdad.

Setelah diterima, dia langsung merobek-robek kertas piagam itu. Sebelum itu, para pembesar istana berusaha menghentikannya. Orang-orang bijak segera menasehatinya, salah satunya Khuzaimah bin Hazim yang berkata pada Al-Amin :

“Wahai Amirul Mukminin, seseorang yang berbohong padamu tidak akan pernah benar-benar memberimu nasehat secara jujur. Sebaliknya, seseorang yang menunjukkan kebenaran kepadamu tidak akan mungkin menipumu. 

Jangan mudah mencopot orang-orang penting, sebab bisa saja mereka akan balik mencopotmu. Jangan pula menggiring mereka untuk ingkar janji, sehingga mereka akan mengingkari bai'at yang pernah mereka berikan kepadamu. Pasalnya, orang-orang yang ingkar janji akan dihinakan dan orang-orang yang mengingkari kesepakatan akan dilecehkan.”

Sayangnya, nasehat orang-orang bijak itu diabaikan oleh Khalifah Al-Amin. Di saat yang sama, dia justru berusaha mendekati orang-orang terkemuka Abbasiyah, untuk menggalang dukungan politik. Dia rela menggelontorkan uang dari kas negara yang terbilang sangat banyak untuk menjamin kesetiaan mereka pada Khalifah Al-Amin.  

Dirasa modal politiknya sudah cukup, akhirnya Khalifah Al-Amin nekad menetapkan putranya, Musa An-Natiq bil Haq, sebagai putra mahkota penerusnya, padahal ketika itu dia masih bayi dan sedang menyusui ibunya.


5. Penobatan Putra Mahkota Musa An-Natiq bil Haq

Setelah penobatan putra mahkota, Khalifah Al-Amin segera menunjuk Ali bin Isa bin Mahan sebagai mentor putranya. Hal ini sengaja dilakukan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh kakek dan ayahnya, Al-Mahdi dan Harun Ar-Rasyid kepada keluarga Barmaki. 

Jabatan mentor bisa dibilang sangat strategis, karena hampir sejajar dengan Gubernur Wilayah, Panglima Tinggi, ataupun jabatan tertinggi lainnya di dunia pemerintahan. Biasanya, orang yang sudah ditunjuk sebagai mentor, otomatis akan menjadi Wazir (setingkat perdana menteri), jika putra mahkotanya sudah naik tahta. 

Setelah itu, Ali bin Isa juga ditunjuk menjadi Gubernur atas wilayah Hamadhan, Qum, Nahawand, dan Isfahan (sekarang di Iran), yang notabenenya sebagian besar daerah itu masuk ke wilayah kekuasaan teritorial Al-Ma'mun selaku Gubernur Khurasan. 

Dia juga ditugaskan untuk menarik pajak sebanyak 200.000 dirham dari daerah-daerah tersebut, sebab sebelumnya, sepanjang Tahun 194 H, Gubernur Al-Ma'mun tidak pernah menyetor pajaknya ke Baghdad. Al-Ma'mun sengaja melakukan itu karena bentuk kekecewaannya kepada Khalifah Al-Amin yang telah mencopot Al-Qasim dari kursi putra mahkota. 

Sedangkan, Khalifah Al-Amin berencana untuk menyerahkan 50.000 dirham (dari total pajak) kepada putranya, Musa sebagai haknya. 


6. Perang Saudara I : Kubu Ali bin Isa (Al-Amin) dan Kubu Thahir bin Husein (Al-Ma'mun)

Di Masa Harun Ar-Rasyid, sebenarnya Ali bin Isa bin Mahan pernah menduduki jabatan Gubernur di Khurasan. Namun, keputusan ini sempat ditentang dan dinilai kontroversial oleh Yahya bin Khalid, sebab orang-orang Khurasan banyak yang tidak suka kepadanya karena dianggap terlalu kejam dan suka korupsi uang negara. 

Anehnya, Harun Ar-Rasyid tetap bersikukuh pendiriannya. Dia menganggap, Ali bin Isa adalah orang yang tepat untuk mereduksi (meredam) peluang pemberontakan. Sedangkan, Yahya bin Khalid justru dituduh terlalu ikut campur hanya demi mementingkan keluarganya sendiri. 

Alhasil, puncak kekhawatiran Wazir Yahya telah terbukti. Di penghujung usianya, Harun Ar-Rasyid tengah disibukkan menghadapi pemberontakan Rafi' bin Laith yang meletus di Khurasan. Peristiwa ini bisa jadi landasan bukti kebencian Rakyat Khurasan pada gaya kepemimpinan Gubernur Ali bin Isa. 

Sayangnya, Khalifah Al-Amin dipandang tidak cakap dalam memilih pemimpin dan tidak belajar dari kesalahan politik sebelumnya, apalagi dari apa yang pernah diputuskan ayahnya. Tidak heran, Imam Suyuthi menganggapnya bodoh dalam masalah tata negara dan tidak layak menjadi khalifah.

Track record Ali bin Isa sangatlah buruk, sehingga bisa menimbulkan instabilitas politik di Khurasan semakin meningkat. Selama dia memimpin, Ali tidak berhasil menekan pengaruh Al-Ma'mun yang berkuasa di Khurasan. 

Anehnya, Khalifah Al-Amin malah membekali Ali bin Isa dan para tentaranya dengan uang yang sangat banyak, persenjataan kualitas terbaik, dan dipakaikan seragam besi yang tiada duanya kala itu. Menurut Imam Thabari, Ali bin Isa bin Mahan keluar bersama 40.000 tentara personelnya dari Baghdad sambil membawa rantai perak yang sudah dipersiapkan untuk membelenggu Al-Ma'mun.   

Sebelum berangkat, Ali bin Isa terlebih dahulu meminta restu pada Ibunda Zubaidah. Dia berpesan, supaya jika Ali berhasil menaklukkan Khurasan, jangan sampai Al-Ma'mun diperlakukan secara tidak hormat. Ali segera menuruti permintaan itu. 

Setelah itu, dia dan para pasukannya segera bergegas menuju Nahrawan. Usai persiapan perang dirasa sudah matang, mereka bergerak menuju Markas Al-Ma'mun dengan kekuatan penuh. Sebelumnya, Ali bin Isa membagi pasukannya menjadi beberapa kontingen, kemudian ditugaskan untuk menaklukkan wilayah yang pernah disebut dan ditarik pajaknya sesuai perintah Al-Amin.    

Sedangkan, Ali bin Isa bin Mahan bersama pasukan inti hendak bermukim dulu di Kota Hamadan. Keesokan harinya, mereka akan melanjutkan perjalanannya kembali menuju Kota Rayy. Merasa terdesak, Al-Ma'mun tidak ada pilihan lain selain harus melawan pasukan Ali bin Isa. 

Berbeda dengan pasukan Al-Amin,  pasukan Al-Ma'mun yang dipimpin oleh Panglima Thahir bin Husein tidak diberi perlengkapan pakaian khusus, persenjataan seadanya, sedangkan jumlah personelnya kurang dari 4.000 orang, ada yang mengatakan sekitar mencapai 3.800 orang. 

Setibanya di Kota Rayy, kedua pasukan ini saling bertemu. Mulanya, Panglima Thahir tercengang akan kegagahan dan kemewahan yang dipakai oleh para pasukan Ali bin Isa. Untuk lebih meyakinkan, Thahir bin Husein segera mengutus 3 orang untuk memastikan pasukan siapa yang ada di hadapannya.

Ketika ditanya oleh ketiga utusan Thahir, dari pasukan mana mereka berasal. Salah satu prajurit menjawab, bahwa mereka semua pasukan Ali bin Isa. Setelah itu, ketiga utusan tiba-tiba ditangkap, diikat, dan dicambuk oleh anak buah Ali bin Isa. Kejadian ini langsung dilaporkan ke Thahir bin Husein. 

Tidak terima akan hal ini, Thahir sangat murka dan segera mengobarkan api semangat perang untuk membalas perlakuan mereka. Anehnya, Imam Thabari menceritakan bahwa sebenarnya Thahir bin Husein tidak tahu dan tidak mengenal sama sekali Ali bin Isa, dia hanya sekedar tahu bahwa Ali adalah musuh mereka. 

Dengan jumlah pasukan yang tidak sebanding, kedua pasukan ini segera bertemu dan saling adu mulut di antara mereka. Di saat bersamaan, Thahir bin Husein dan beberapa anak buah berusaha menargetkan kira-kira siapa yang dianggap komandan pasukan, terutama Ali bin Isa sendiri. 

Setelah menemukan target, kedua pasukan akhirnya saling berperang dan pertempuran berlangsung sangat sengit. Tiba-tiba, salah seorang tentara Baghdad meneriakkan bahwa Panglima Ali bin Isa telah tewas. Mendengar teriakan ini, pasukan Baghdad menyatakan menyerah dan mengaku kalah. 

Thahir bin Husein lantas mencari-cari jasad yang dikatakan Ali bin Isa bin Mahan, kemudian didekati dan dipenggal kepalanya. Setelah itu, kepala Ali bin Isa diserahkan ke hadapan Al-Ma'mun dan diarak-arak keliling kota seluruh penjuru Khurasan.

Orang-orang Khurasan yang pernah dizhalimi oleh Ali bin Isa, langsung mengenali identitas kepala tersebut dan memuji kekuatan pasukan Al-Ma'mun yang berhasil mengalahkan mereka. Mereka segera berbondong-bondong menemui Al-Ma'mun dan menyatakan bai'atnya sebagai Khalifah. 

Orang-orang Khurasan bersedia membantu Al-Ma'mun untuk mendelegitimasi posisi Khalifah Al-Amin yang tengah berkuasa di Baghdad. 

Di sisi lain, Khalifah Al-Amin tengah asyik memancing bersama temannya. Ketika dia mendengar berita kekalahan pasukan Ali bin Isa, Al-Amin mengumpati utusan pembawa berita itu, dia beranggapan bahwa hari itu sangat sial baginya.  


7. Perang Saudara II : Kubu Abdul Rahman bin Jabalah Al-Abnawi (Al-Amin) dan Kubu Thahir bin Husein (Al-Ma'mun)

Kabar Ali bin Isa tewas tersebar di mana-mana, masyarakat Baghdad saat itu dilanda ketakutan. Mereka khawatir, jikalau pasukan Khurasan akan menggempur habis-habisan Kota Baghdad beserta isinya. Sedangkan, Khalifah Al-Amin tampaknya menyesal dengan apa yang dia perbuat. 

Mirisnya, para pembesar istana di sekeliling Al-Amin terlanjur dibutakan ambisi dan rakus luar biasa akan harta dan jabatan. Mereka tiada henti-hentinya menghembuskan provokasi dan adu domba ke Al-Amin, agar terus menggempur pasukan Al-Ma'mun sampai titik darah penghabisan. 

Akhirnya, Khalifah Al-Amin menunjuk Abdur Rahman bin Jabalah Al-Abnawi, panglima terbaik Abbasiyah untuk memimpin pasukan Baghdad menghadapi pasukan Thahir bin Husein. Panglima Abdu Rahman sengaja memmbawa 20.000 personel pasukan khusus dari kelompok Abna, sebab menurutnya, mereka punya keahlian khusus dalam berkuda, sangat agresif di medan tempur, dan berkecepatan tinggi dalam bermanuver.

Sama seperti pasukan sebelumnya, Khalifah Al-Amin membekali mereka dengan uang yang sangat besar, kuda-kuda terbaik, dan persenjataan yang lengkap. Setelah itu, pasukan Abdur Rahman bergerak dengan kecepatan yang luar biasa menuju Khurasan, kota pertama yang dituju adalah Kota Hamadan, yang letaknya tidak jauh dari Rayy.

Awalnya, Panglima Abdur Rahman mengira, bahwa pasukan Thahir bin Husein akan menguasai Hamadan demi memperluas pengaruhnya. Setibanya di Hamadan, mereka bersiaga meningkatkan penjagaan dan kewaspadaan di sana.   

Demi persiapan menghadapi pasukan Al-Ma'mun, anak buahnya langsung diperintah oleh Panglima Abdur Rahman untuk memblokade seluruh jalan masuk, membangun parit pertahanan, dan cepat-cepat memperbaiki tembok kota.

Di samping itu, Thahir bin Husein sebenarnya tidak berminat untuk memperluas wilayahnya. Tetapi karena pasukan Al-Amin sudah tiba di Hamadan, pasukan Thahir bin Husein segera bergegas menanggapi seruan perang dari pasukan itu.

Peperangan pun terjadi dan berlangsung sengit, akhirnya dimenangkan oleh pasukan Thahir bin Husein. Sedangkan, pasukan Abdur Rahman mundur dan bertahan di Kota Hamadan. Panglima Thahir segera mengintruksikan anak buahnya, untuk mengepung Kota Hamadan dari segala sisi.  

Situasi pengepungan ini kelihatannya menjadikan pasukan Abdur Rahman kehilangan asa duluan. Tidak butuh waktu lama, pasukan Thahir berhasil menembus benteng kota tersebut, menaklukkan Hamadan, sampai menewaskan Panglima Abdur Rahman. Semenjak kematian Abdur Rahman, basis kekuatan pasukan Al-Amin mulai semakin melemah.  


8. Perangai Buruk Ala Khalifah Al-Amin 

Di tengah berkecamuknya perang saudara, Khalifah Al-Amin punya perangai yang buruk, yaitu suka berfoya-foya, menghambur-hamburkan uang negara (boros), dan terlena dengan kegiatan-kegiatan yang tidak ada guna. Sifat kepemimpinannya dipandang sangat buruk, apalagi skandal homoseksual yang membuat malu seisi penghuni istana. 

Akibatnya, pengaruh Al-Ma'mun melonjak drastis. Penduduk Mekkah, Madinah, dan Irak menyatakan dukungannya pada Al-Ma'mun. Beberapa kerusakan yang menggerogoti tubuh pemerintahan Khalifah Al-Amin di antara lain ialah :

  • Situasi Baghdad semakin mencekam dan keindahannya musnah tidak berbekas
  • Kas negara terkuras habis (bangkrut)
  • Tatanan sosial masyarakat semakin terpuruk
  • Kejahatan merajalela di mana-mana
  • Kekuatan militer hancur berantakan
  • Kerusakan segala sektor akibat perang berkepanjangan
  • Pejabat-pejabat pemerintahan diisi oleh orang-orang tidak piawai dan buruk 


9. Pengabdian Abdul Malik bin Shalih pada Khalifah Al-Amin

Di tengah suasana kemelut seperti ini, Abdul Malik bin Shaleh dinyatakan bebas dari penjara setelah menyatakan kesetiaannya pada Khalifah Al-Amin. Dia berjanji, akan membantu untuk mengukuhkan posisi Al-Amin sebagai khalifah dari serangan pasukan Khurasan. 

Sebelumnya, dia pernah diangkat sebagai mentor Al-Qasim, mantan putra mahkota ketiga, sekaligus sebagai Gubernur Suriah dan Mesir, sebab usia Al-Qasim kala itu terbilang masih muda. Beberapa tahun kemudian, dia dituduh melakukan makar kepada Harun Ar-Rasyid, lalu dijebloskan ke penjara sampai Harun Ar-Rasyid wafat. 

Setelah dibebaskan, Abdul Malik bin Shaleh segera mendatangi Al-Amin dan membujuknya, supaya diizinkan mendatangkan pasukan dari Suriah untuk menggempur pasukan Khurasan (Al-Ma'mun), dengan berkata : 

“Orang-orang Baghdad sejak awal tidak bisa diandalkan untuk menghadapi pasukan Khurasan. Hanya pasukan Suriah yang mampu menghadapi mereka.”

Pesan itu diiyakan oleh Khalifah Al-Amin. Di hari yang sama, dia dilantik sebagai Gubernur Suriah. Bertepatan pada Tahun 196 H, Gubernur Abdul Malik segera berangkat ke Suriah dengan didampingi oleh pasukan Abna, yang di antara mereka terdapat Husein bin Ali bin Isa bin Mahan. 

Sesampainya di sana, Gubernur Abdul Malik mengintruksikan untuk membangun kekuatan pasukan, dan membujuk orang-orang Suriah, khususnya dari kelompok Zawaqil agar mau bergabung. Setelah seluruh pasukan berhasil dihimpun, tiba-tiba muncul masalah baru. 

Pasukan Suriah yang dihimpun Abdul Malik terdiri dari kelompok Zawaqil dan Abna. Berawal dari salah seorang tentara Abna' yang menemukan pencuri kudanya dari suku Zawaqil, terjadilah perkelahian kecil yang merembet menjadi konflik besar. Akhirnya, pertempuran dua kubu ini berhasil dimenangkan oleh Kelompok Abna'.

Situasi semakin parah, ketika Abdul Malik jatuh sakit dan meninggal dunia akibat penyakitnya. Akhirnya, mereka bersepakat untuk mengangkat Husein bin Ali sebagai pemimpin pasukan, kemudian mereka berangkat menuju Baghdad.


10. Pengkhianatan Husein bin Ali kepada Khalifah Al-Amin

Belum sesampainya di sana, Husein bin Ali mendadak berubah pikiran. Tampaknya, dia timbul keinginan untuk menjatuhkan Khalifah Al-Amin, dan di saat inilah adalah momentum yang tepat. Akhirnya, pasukan Suriah bersepakat mengubah tujuan mereka, menjadi menaklukkan Kota Baghdad. 

Di Tahun yang sama, pasukan Suriah sudah sampai di depan gerbang Kota Baghdad. Awalnya, Al-Amin mengira, bahwa pasukan kiriman inilah yang dijanjikan oleh Abdul Malik. Ketika utusan istana datang menemuinya dan diminta menghadap, Husein bin Ali menolaknya mentah-mentah dengan nada ejekan. Dia berkata pada utusan Al-Amin : 

”Demi Tuhan, saya bukan penyanyi, teman malam, atau pelawak. Saya belum mengambil-alih provinsi apapun untuknya, saya juga belum mengumpulkan uang untuknya. Mengapa dia menginginkan saya pada jam ini ? Pergi ! Saat pagi, aku akan datang lebih awal kepadanya, insya Allah.”

Keesokan paginya, pasukan Husein bin Ali memasuki Kota Baghdad dan mengepung lingkaran benteng istana dari berbagai sisi. Dia memerintahkan anak buahnya untuk menutup semua pintu gerbang, terutama Gerbang Khurasan.

Pasukan Al-Amin sempat melakukan perlawanan, tetapi akhirnya berhasil dipatahkan. Husein bin Ali segera melanggeng masuk ke istana, menangkap Khalifah Al-Amin beserta keluarganya, dan menjebloskan mereka semua ke penjara, termasuk ibunda Zubaidah, istri Harun Ar-Rasyid. 

Setelah itu, Husein bin Ali mendeklarasikan pencopotan Al-Amin dari kursi khilafah, dan menyatakan bai'at pada Al-Ma'mun.  


11. Pemberontakan Rakyat Baghdad Melawan Pasukan Husein bin Ali

Di Baghdad, masyarakat tidak terima begitu mengetahui Al-Amin disandera. Mereka memberontak dan menyerang tentara siapa saja yang dianggap anak buah Husein bin Ali. Pasukan Husein bin Ali yang kewalahan menghadapi amukan massa, akhirnya kocar-kacir. 

Mereka berbalik meringkus Husein bin Ali dan membebaskan keluarga Al-Amin dari penjara. Rakyat Baghdad mengembalikan tahtanya pada Al-Amin, sedangkan Husein bin Ali bin Isa bin Mahan diborgol dengan rantai dan dibawa ke hadapan Khalifah. 

Tetapi, Khalifah Al-Amin malah memaafkan Panglima Husein, sekaligus berpesan supaya mau menebus kesalahannya dengan memerangi pasukan Al-Ma'mun. Husein menyanggupi syarat itu, kemudian rakyat Baghdad melepaskannya dan kembali menghormatinya. 

Mereka segera mengiringi kepergian pasukan Husein bin Ali menuju Gerbang Kota. Ketika kerumunan massa semakin menyusut, Husein bin Ali mendadak berlari dan menyatakan akan tetap memberontak Al-Amin. 

Mendengar laporan ini, Khalifah Al-Amin segera mengirim pasukan untuk menangkapnya. Padahal, Husein bin Ali hanya bisa menempuh sejauh 3 mil dari Gerbang Kota. Dia segera ditangkap dan dipenggal kepalanya oleh anak buah Al-Amin, lalu diserahkan ke Khalifah.

Setelah itu, situasi keamanan Baghdad pulih kembali. Namun, di hari yang sama, Fadhl bin Rabi' - wazir Khalifah Al-Amin, biang keladi segala pemberontakan ini - menghilang secara misterius. Tidak ada satu penghuni istana pun tahu tentang keberadaannya. Khalifah Al-Amin merasa cemas bercampur curiga, mungkin saja dia akan berkhianat kepadanya. 


12. Sebagian Besar Gubernur Abbasiyah Tunduk pada Al-Ma'mun

Di tempat lain, ekspedisi militer pasukan Thahir bin Husein mulai mendekati wilayah Irak. Sekarang ini, mereka sedang berada di Kota Ahwaz (sekarang di Iran), dan sudah mengumpulkan bai'at hampir seluruh wilayah Hijaz dan Persia. 

Sebelumnya, Khalifah Al-Amin sempat mengirimkan pasukan kesekian kalinya untuk memerangi pasukan Thahir bin Husein, namun lagi-lagi mereka kalah. Seluruh pasukan Al-Amin dihabisi, di antaranya Gubernur Ahwaz bernama Muhammad bin Yazid Al-Muhallabi juga tewas dibunuh. 

Setelah kabar kematian Muhammad bin Yazid menyebar-luas, para penguasa lokal di kota sekitarnya gempar dan satu-persatu tunduk kepada Al-Ma'mun. Dari Ahwaz, Panglima Thahir juga mengultimatum beberapa gubernur di Irak. Mereka satu-persatu menyatakan keberpihakannya pada Al-Ma'mun dan bersepakat mendelegitimasi Al-Amin.    

Situasi semakin terdesak, Khalifah Al-Amin memperingatkan Thahir bin Husein melalui surat, yang berisi :
“Wahai Tahir, tidak ada seorangpun yang membantu hak-hak kami, kecuali menerima balasan kami berupa pedang ! Karena itu, hendaknya engkau berpikir ulang atau tinggalkan perkara ini segera !”
Sepertinya, Khalifah Al-Amin ingin memperingatkan nasib yang dialami Abu Muslim Al-Khurrasani, keluarga Barmaki, dan lain-lain berakhir tragis. Padahal, mereka semua adalah orang yang paling berjasa menegakkan Daulah Abbasiyah, tetapi ujung-ujungnya dihabisi atau dijatuhkan secara tidak hormat. 

Namun, Panglima Thahir tidak menggubris isi pesan tersebut. Di Tahun 197 H, pasukan Thahir bin Husein sudah menembus wilayah Irak. Khalifah Al-Amin nyaris sendirian, tidak ada orang pun yang mendukungnya. Hampir seluruh Gubernur Abbasiyah dan tokoh Bani Abbas sudah tunduk, memihak dan membai'at Al-Ma'mun sebagai khalifah. 

Tokoh Bani Abbas yang paling menonjol adalah adiknya sendiri, Qasim Al-Mu'taman. Dia mantan putra mahkota ketiga, yang pernah dicopot oleh Al-Amin dari posisinya dan kini, dia berbalik mendukung ke kakak sulungnya itu, Al-Ma'mun. Hal itu diterima lapang dada oleh Al-Amin. 

13. Pengepungan Kota Baghdad oleh Pasukan Thahir bin Husein

Ketika di depan bundaran tembok Kota Baghdad, Panglima Thahir memilih untuk tidak dulu menyerang. Mereka bersiap-siap membangun mesin-mesin pelontar (manjaniq dan arradah), sekaligus menundukkan kota-kota sekitar Baghdad yang masih setia pada pemerintahan Al-Amin.

Panglima Thahir mengintruksikan anak buahnya, untuk membakar rumah-rumah penduduk yang masih membangkang (tidak mau tunduk pada Al-Ma'mun), mengunci akses keluar-masuk, baik melalui jalur darat maupun air. Semuanya diberlakukan tanpa pandang bulu, termasuk rakyat sipil dan pedagang.  

Sedangkan, Operasi Pengepungan Baghdad terjadi selama 1 tahun 8 bulan. Selain Panglima Thahir bin Husein, Panglima Harsamah bin Ayun juga diutus untuk membantu mereka dengan mengepung Kota Baghdad dari arah Gerbang Kufah. Sedangkan, pasukan Thahir sendiri bertugas mengepung dari arah Gerbang Khurasan. 

Setelah mesin-mesin pelontar sudah rampung, penyerangan Kota Baghdad segera dimulai. Imam Thabari menceritakan, bahwa serangan-serangan pasukan Al-Ma'mun dilakukan secara brutal dan sadis, sampai menelan ribuan korban jiwa. Keindahan Baghdad seketika lenyap tidak berbekas.

Lagaknya, strategi Thahir bin Husein berjalan mulus. Khalifah Al-Amin dicekam rasa ketakutan luar biasa begitu mengetahui serangan membabi-buta dari pasukan Al-Ma'mun. Di saat yang sama, Al-Amin rela membayar menggunakan sisa hartanya bagi siapa saja yang membela dirinya.  

Ternyata, masih banyak juga para prajurit Baghdad yang sudi membela Al-Amin. Mendengar penyerangan Kota Baghdad sedang terjadi, Al-Ma'mun memerintahkan para panglima setianya untuk tidak membunuh Khalifah Muhammad Al-Amin. 

Sebab, Al-Ma'mun ingin mendengarkan alasan langsung dari saudaranya sendiri, Al-Amin. Oleh karena itu, pengepungan Kota Baghdad membutuhkan waktu yang sangat lama, tetapi perlahan-lahan pertahanan mereka mulai runtuh sebab persediaan makanan juga semakin menipis. 

Sedangkan, Para Panglima Khurasan sebenarnya sedang menunggu kata menyerah dari Khalifah Al-Amin. Kenyataan justru sebaliknya, satu per satu pasukan Baghdad keluar dari kota dan menyerang pasukan Khurasan, namun semua itu berhasil dipatahkan. 

Di penghujung Tahun 197 H, setiap khutbah Jum'at tidak menyebut lagi nama Al-Amin. Begitu juga pada Ibadah Haji, seluruh Daulah Islam serempak menyebutkan Al-Ma'mun sebagai khalifah. Sampai memasuki awal Tahun 198 H, seluruh pasukan istana sudah habis tak tersisa. 

Akhirnya, pasukan Thahir bin Husein melenggang masuk menuju istana dengan perang terhunus, sedangkan pasukan Harsamah bin Ayun juga ikut memasuki kota itu dari arah sebaliknya. Sempat terjadi perbedaan pendapat antara kedua panglima tersebut, perlakuan apa yang pantas kepada Al-Amin nanti.

Harsamah lebih setuju untuk memperlakukan Al-Amin dengan baik sesuai permintaan Al-Ma'mun, sedangkan Thahir lebih memilih untuk menjebloskannya ke penjara karena kesalahan yang diperbuat sudah terlanjur amat besar. 


14. Detik-Detik Kejatuhan dan Kewafatan Khalifah Al-Amin

Akhirnya, Panglima Harsamah membujuknya terlebih dahulu supaya Al-Amin menyatakan menyerah dan minta dispensasi kepada Panglima Thahir. Sayangnya, Khalifah Al-Amin menolaknya mentah-mentah. Dia malah berusaha melarikan diri dari istana bersama keluarganya, menggunakan perahu.

Ketika percobaan kabur itu diketahui oleh Panglima Thahir, Al-Amin langsung melompat dari perahu dan mencoba berenang, namun dia berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Sedangkan, Panglima Harsamah tidak bisa berbuat apa-apa. 

Demikianlah, 4 Tahun Masa Pemerintahan Khalifah Al-Amin dipenuhi pemberontakan, gaya hidup boros, dan sisanya dihabiskan dengan perang saudara selama 2 tahun lebih. Suatu malam di penghujung Bulan Shafar, ada beberapa orang yang tidak dikenal memasuki penjara Al-Amin. Mereka memukuli, menyiksa badannya yang tidak berdaya sampai kepalanya dipenggal. 

Esoknya, Panglima Thahir mengemasi kepalanya itu ke dalam kain bingkisan, lalu diserahkannya ke Al-Ma'mun, lengkap dengan atribut khilafahnya (pedang, selendang, dan segel khalifah). Imam Suyuthi menuturkan, Al-Ma'mun sangat terpukul atas tragedi mengenaskan itu.

Bagaimanapun, dia ingin adiknya itu hidup dan hal itu pernah disampaikan pesannya kepada jajaran panglimanya. Seketika itu, kebencian Al-Ma'mun timbul kepada Panglima Thahir, dia mulai mengabaikan dan tidak mau lagi menanggapi orang yang paling berjasa mengantarkannya ke kursi khilafah tersebut.    

15. Masalah Baru Yang Dihadapi Thahir bin Husein

Kabar kematian Khalifah Al-Amin tersebar luas ke penjuru Baghdad, tiba-tiba Panglima Thahir bin Husein didatangi anak buahnya dan menuntut upahnya wajib dibayar secepatnya mungkin. Jika tidak, mereka akan melakukan kekacauan di kota. 

Sayangnya, keadaan Baitul Mal ketika itu sedang kosong, sehingga Thahir tidak sanggup memenuhi permintaan mereka. Para prajurit Khurasan kemudian mengamuk dan melakukan kerusuhan di mana-mana, sampai membakar Gerbang Kota.

Panglima Thahir bin Husein melarikan diri dari konflik tersebut, dia segera menemui banyak orang dari kota-kota sekitar Baghdad yang bisa meminjaminya. Beberapa dari mereka bersedia membantu Thahir untuk melunasi gaji tentara mereka selama 4 bulan. 

Dia pun kembali ke Baghdad, lalu Thahir melunasi gaji seluruh prajurit Khurasan. Di saat yang bersamaan, kerusuhan yang terjadi berangsur-angsur reda. Pasca peristiwa itu, pelantikan Khalifah berlangsung secara sah dan mutlak jatuh ke tangan Abdullah Al-Ma'mun bin Harun Ar-Rasyid. 

Kewafatan Khalifah Al-Amin

Khalifah Muhammad Al-Amin memerintah Daulah Abbasiyah selama 4 tahun 8 bulan. Di penghujung akhir Bulan Shafar 198 H, Dia tewas terbunuh di penjara oleh orang tak dikenal ketika berusia 28 tahun. 

Tragisnya, Masa Pemerintahan Khalifah Bani Abbas yang satu ini diwarnai oleh berbagai pemberontakan, gaya hidup boros dan foya-foya, perilaku menyimpang dan tidak bermoral, dan diakhiri perang saudara berkepanjangan sampai mengorbankan ratusan ribu jiwa Umat Islam hanya demi kekuasaan.   

Ada riwayat lain menceritakan soal kematian Khalifah Al-Amin, setelah masa pengepungan Kota Baghdad berlangsung setahun lebih, lambat-laun pertahanan dalam kota runtuh sebab kurangnya persediaan makanan dan air (karena dihambat kanal sungai dan jalur perdagangannya). 

Pasukan Thahir bin Husein segera menembus benteng pertahanan Baghdad dan berhasil memasuki lingkungan istana. Saat itu, Khalifah Al-Amin sempat bertahan di Istana Qashrul Manshur (dibangun oleh Al-Manshur), yang terletak di pusat kota. 

Istana khalifah itu, akhirnya bisa ditaklukkan dan Al-Amin tewas di tangan prajurit saudaranya sendiri. Kemudian, kepala Al-Amin langsung dipenggal, digantung dan ditancapkan beberapa waktu di Gerbang Kota Anbar. Sedangkan, tubuhnya diseret dengan tali, lalu kepalanya diserahkan kepada Al-Ma'mun. 

Perang Saudara didalangi kedua putra Harun Ar-Rasyid ini dinyatakan selesai, dan akhirnya tahta khilafah mutlak jatuh ke tangan Al-Ma'mun sebagai Khalifah Bani Abbas yang ketujuh. Sebenarnya, peralihan kekuasaan ini sudah sesuai dengan isi wasiat ayahnya, tetapi cara yang dicapai bukanlah seperti yang diinginkan ayahnya, Harun Ar-Rasyid.  

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.