Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Dinasti Bani Abbasiyah : Khalifah Musa Al-Hadi (169-170 H/785-786 M)

Dinasti Bani Abbasiyah : Khalifah Musa Al-Hadi (169-170 H/785-786 M)

Biografi Musa Al-Hadi

Musa Al-Hadi, dengan nama asli Musa bin Muhammad (Al-Mahdi) bin Abdullah (Al-Manshur) bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, dilahirkan di daerah Ray, Iran pada Tahun 147 H atau bertepatan Tahun 763 Masehi. Ibunya bernama Khaizuran, mantan budak wanita asal suku Barbar, Afrika Utara yang dinikahi oleh Khalifah Al-Mahdi. 

Menurut Imam Suyuthi, ibunya ini, Khurazan punya pengaruh yang besar sekali di Istana. Ia juga suka ikut campur tangan dalam mengurusi perkara-perkara politik dan kenegaraan, sampai-sampai Khalifah Musa Al-Hadi merasa jengkel dengannya.

Dalam Kitab Tarikh Khulafa' menyebutkan, Khalifah Musa Al-Hadi punya kebiasaan mabuk, bermain-main, menunggangi keledai dengan cekatan, dan tidak piawai menunaikan tugas-tugas khalifah dengan baik. Dikenal sebagai sosok zhalim, dia selalu diiringi oleh para pengawal bersenjata yang mengerikan dan tiang-tiang terpancang. 

Tidak heran, para pejabat bawahannya juga ikut mengikutinya hingga senjata-senjata banyak sekali dijumpai di masa pemerintahannya. Walau seperti itu, dia dikenal sebagai khalifah yang luas pengetahuannya, fasih lidahnya, pandai berorasi, penuh kharismatik, berpengaruh, keberanian, dan berjiwa ksatria. 

Al-Khatib menceritakan, tidak ada seorang pun yang diangkat khalifah seusia dengannya (sebab dia diangkat saat berusia 23 tahun). Sebagai khalifah, dia sekedar menjalankan wasiat perintah dari ayahnya, yakni membasmi orang-orang Zindiq.   

Khalifah Musa Al-Hadi ternyata mengalami sumbing di bibir atasnya. Konon sewaktu kecil, Khalifah Al-Mahdi mengirimkan seorang pelayan untuk menemani dan merawatnya. Setiap kali, pelayan istana melihatnya dalam keadaan mulut terbuka, dia berkata, "Athbiq !" Setelah itu, dia langsung menutup mulutnya. Semenjak itu, orang-orang memanggilnya Musa Athbiq.  


Naik Tahta Sebagai Khalifah 

Pada Tahun 169 H, Khalifah Al-Mahdi merasa dilema, sebab menurutnya Harun Ar-Rasyid lebih layak sebagai penerusnya dibandingkan Musa Al-Hadi. Pendapat ini disampaikan pada para pejabat istana dan pemuka Bani Abbas, alhasil mereka pun setuju. 

Tatkala Musa Al-Hadi berada di Jurjan, dia tengah menyelesaikan suatu urusan di sana pasca pemberontakan Tabaristan. Lalu, utusan istana datang dan mengirimi surat atas perihal keputusan ini (pengunduran diri dari Putra Mahkota dan menyerahkan ke Harun Ar-Rasyid). Musa menolaknya mentah-mentah dan memukuli utusan tersebut. 

Mendengar hal itu, Al-Mahdi ingin menemuinya di Jurjan, namun sayangnya ia tidak sempat karena ajalnya sudah tiba. 

Menurut Imam Thabari, setelah mengurusi pemakaman ayahanda, Harun Ar-Rasyid segera menyampaikan kabar kematian ke saudaranya. Selepas mengetahui kabar ini, Musa Al-Hadi mendeklarasikan dirinya sebagai khalifah di hadapan masyarakat setempat dan bala tentaranya. 

Setelah 20 hari kemudian, ia tiba di Baghdad. Kala itu, Harun Ar-Rasyid sempat memegang kendali pemerintahan sambil menunggu kepulangan Musa Al-Hadi. Proses penobatan khalifah berjalan dengan mulus tanpa ada gejolak. 

Sebelumnya, sempat beredar isu upaya pengalihan kedudukan ke Harun Ar-Rasyid, karena mayoritas pejabat istana mendukungnya. Mereka beranggapan, Musa Al-Hadi sosok yang kurang layak menduduki khilafah sebagaimana sangkaan ayahnya.    

Tetapi, rencana itu dapat dihentikan oleh penasehat Harun Ar-Rasyid, Yahya bin Khalid Al-Barmaki. Ucapannya diiyakan oleh para pemuka Bani Abbas, termasuk di antaranya Al-Rabi, wazir Al-Mahdi. Seketika itu, tiba-tiba Musa Al-Hadi datang beserta bala tentaranya yang besar dan semua jajaran istana bersumpah setia kepadanya tanpa ada rasa keberatan sedikitpun. 

Setelah itu, Khalifah Musa Al-Hadi berinisiatif mengirimkan surat-surat ke berbagai wilayah tentang berita ini sekaligus minta pembai'atan dari mereka semua. Pada saat itu juga, Khalifah Musa Al-Hadi mengangkat Al-Rabi sebagai wazirnya dan diminta untuk membantunya seperti dulu dia membantu ayahnya. 


Kebijakan Pemerintahan Khalifah Musa Al-Hadi

Sebelum jadi khalifah, masa mudanya banyak dihabiskan dalam peperangan di negeri Masyriq (daerah timur). Tidak heran, banyak pengalaman yang didapat dari sana, sehingga mempengaruhi besar atas sikap, pandangan, akhlak, dan budi pekertinya. 

Musa Al-Hadi dinobatkan sebagai khalifah pada tanggal 30 Muharram 169 H. Setelah dilantik khalifah, sebagian besar ia meneruskan kebijakan ayahnya, seperti memberantas orang-orang sesat (Zindiq), menumpas pemberontakan Alawiyyin. Lalu sisanya, kebanyakan waktunya dihabiskan untuk berusaha menjatuhkan posisi Harun Ar-Rasyid dari putra mahkota.


a. Membasmi Orang-Orang Zindiq

Sebagaimana kebijakan Al-Mahdi, Khalifah Musa Al-Hadi bertugas meneruskan kebijakan ayahnya, yaitu meneruskan pembasmian orang-orang Zindiq. Sayangnya, sikap yang ditempuh olehnya sangat jauh dari sikap Al-Mahdi yang dipandang bijak. 

Khalifah Musa Al-Hadi menanggapinya dengan cara brutal. Tidak tanggung-tanggung, orang-orang yang dianggap sesat langsung diburu, dan segera dieksekusi mati tanpa ampun. Bahkan, orang yang didakwa menyimpang dari ajaran agama pun juga kena imbas hukuman mati.  


b. Menghadapi Golongan Alawiyyin

Tidak seperti sebelumnya, sikap Al-Mahdi yang selalu merangkul oposisi kaum Alawiyin dan menjaga keharmonian antar kedua belah pihak. Namun kali ini, sikap itu tidak diteruskan oleh Musa Al-Hadi. Kaum Alawiyin meneruskan pemberontakan dan menganggap diri mereka-lah yang berhak menduduki singgasana khalifah.  

Pemberontakan yang terjadi di Hijaz dipimpin oleh Husein bin Ali bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Di Madinah, gerakan mereka memperoleh kemenangan. Mereka berhasil menduduki kantor gubernur, para tahanan penjara dibubarkan, dan dibai'at langsung dari penduduk Madinah. 

Ia juga mendeklarasikan dirinya sebagai khalifah dan berdirinya Daulah Alawi di Tanah Hijaz. Gubernur setempat tidak bisa membendung mereka, akhirnya para pasukan Husein bergerak menuju ke Mekkah. 

Sebelum tibanya di sana, laskar Alawi bertemu dengan laskar Abbasiyah yang dipimpin Panglima Muhammad bin Sulaiman di Wadi Fakh. Pertempuran hebat pun terjadi, Husein bin Ali dan sanak keluarganya tewas terbunuh dan ditaklukkan pasukan Abbasiyah.

Pertempuran kali ini tidak kalah hebat dengan terjadinya peperangan Karbala. Akhirnya, kepala Husein dipenggal dan dibawa ke hadapan Khalifah dan dimakamkan di sana. Sedangkan, sisa pasukan Husein lari kocar-kacir dan sebagian dari mereka keluar dari Tanah Hijaz. Menurut catatan sejarah, peperangan ini berpengaruh sekali atas perjalanan sejarah Dinasti Bani Abbas.


c. Berdirinya Daulah Bani Idris di Maroko

Usai peperangan Wadi Fakh, pasukan Abbasiyah segera membantai besar-besaran terhadap para pendukung dan keluarga Ali bin Thalib, baik di Mekkah maupun di Madinah. Para tentara tanpa pandang bulu menghancurkan tempat tinggal mereka, merampas tanahnya, sampai membakar kebun-kebun kurma mereka. 

Menyaksikan peristiwa mengerikan itu, sebagian besar keturunan Ali bin Abi Thalib memilih untuk melarikan diri, sedangkan di antara mereka yang berhasil adalah Idris bin Abdullah bin Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. 

Dia adalah adik tiri Muhammad bin Abdullah bin Hasan, yang pernah memimpin pemberontakan di era Al-Manshur. Menurut Imam Thabari, Idris bin Abdullah berhasil kabur dari kejaran pasukan Abbasiyah, dan menuju ke Mesir.

Ketika di sana, ia mendapat bantuan oleh para tokoh setempat. Lalu, ia melarikan diri ke tempat yang lebih jauh lagi ke Maghribil Aqsa, lebih tepatnya ke daerah Maroko. Di sana, ia mendeklarasikan dirinya sebagai Khalifah dan menyatakan Daulah Bani Idrisiyyah yang resmi berdiri pada Tahun 172 H atau 788 Masehi. 

Dinasti Bani Idris, merupakan Kerajaan Islam beraliran Syiah pertama di Dunia sekaligus pemangku khalifah pertama dari golongan Alawiyyin, sedangkan Bani Abbasiyah sendiri berpegang pada ajaran Sunni. 

Sejarah mencatatkan, Khalifah Idris I sukses melepaskan diri dari kekuasaan Abbasiyah, sedangkan putranya, Idris II berhasil menyulap Maroko sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam di belahan Afrika Utara. 


Penyebab Kematian Khalifah Musa Al-Hadi

Seperti diceritakan sebelumnya, kedengkian Musa Al-Hadi sudah terbenam cukup lama kepada adiknya itu semenjak ayahnya berusaha memindahkan posisi putra mahkota ke Harun Ar-Rasyid. Keadaan ini membuat Musa sangat sakit hati. 

Ditambah lagi, sebagian besar pejabat istana, di antaranya termasuk ibu kandungnya sendiri, Khairuzan, juga ikut berpihak pada Harun. Kondisi itu membuat Khalifah Musa Al-Hadi semakin berupaya menjatuhkan Harun Ar-Rasyid, bahkan jika perlu untuk membunuhnya. 

Tetapi, rencana busuk itu berhasil dihentikan oleh bujukan Yahya bin Khalid Al-Barmaki. Dia adalah wazir dan orang kepercayaan Harun Ar-Rasyid, sekaligus tokoh Bani Abbas yang paling dipercaya oleh Al-Mahdi.   

Awalnya, Musa Al-Hadi menaruh curiga terhadapnya, sampai akhirnya Yahya berhasil membujuknya dengan alasan yang tepat dan logis untuk melanjutkan rencana jahatnya itu, dengan perkataan sebagai berikut :

”Putramu (Ja’far bin Musa Al-Hadi) saat ini masih berusia sangat muda. Bila kau meninggal sekarang, kekhalifahannya tidak akan memperoleh legitimasi penuh dari para pendukung kita. Alih-alih, hal tersebut akan melahirkan banyak gejolak politik. Ayahmu, Al-Mahdi sudah menominasikan Harun sebagai khalifah setelahmu. 

Bila kau melantik putramu, sebagai putra mahkota menggantikan Harun, itu lebih aman baginya. Dan apabila ternyata kau berumur panjang, sehingga Ja’far bisa mencapai usia yang ideal untuk menggantikanmu, aku berjanji akan meminta pada Harun agar rela mengundurkan diri dari posisinya sekarang, dan memberikannya pada Ja’far.”

Mendengar pendapat Yahya itu, Khalifah Musa Al-Hadi merasa sangat puas, sehingga ia bisa membuang jauh-jauh rencana busuknya itu. Beberapa lama kemudian, keinginan itu tiba-tiba muncul kembali. Kali ini, rencana itu mendapat dukungan dari para pengikutnya. 

Mereka tidak segan-segan ikut mengganggu, meneror, dan mempersekusi Harun Ar-Rasyid dengan berbagai cara. Mengetahui hal ini, Yahya bin Khalid segera menyarankan untuk Harun agar pergi jauh ke tempat yang lebih aman sampai batas waktu yang tidak ditentukan. 

Akhirnya, Harun memohon izin pada Khalifah Musa Al-Hadi dengan dalih berburu dan permintaan itu dikabulkan olehnya. Ia segera kabur ke Suriah, ke tempat yang tidak diketahui kecuali hanya beberapa orang saja yang sangat dipercaya seperti ibunya, Khairuzan dan Yahya. 

Di sisi lain, Khaizuran, ibu kedua khalifah itu yang mengetahui perlakuan Musa pada adiknya, Harun. Sontak, ia sangat marah sekali. Semenjak itu, hubungan antara ibu-anak itu putus dan tak pernah baik lagi.  

Suatu hari, Khalifah Musa Al-Hadi mengetahui bahwa ibunya suka turut ikut campur dalam urusan kenegaraan. Memang, semenjak masuk ke dunia istana ia dikenal sebagai budak wanita yang sangat cerdas. 

Dikenal sebagai sosok Hafizh Qur'an, haus akan ilmu, rajin mendatangi majlis-majlis ilmu di Perpustakaan Baitul Hikmah, dan juga ikut menghadiri rapat-rapat kenegaraan. Kecerdasan inilah yang membuat Al-Mahdi tertarik, ia juga sempat ditunjuk sebagai penasehat pribadi Khalifah.

Perlahan-lahan, istri pertama Al-Mahdi cemburu akan hal ini, hingga akhirnya Khaizuran dipersunting oleh Khalifah Al-Mahdi dan melahirkan calon-calon khalifah penerusnya seperti Musa Al-Hadi dan Harun Ar-Rasyid. 

Semenjak itulah, dia menjadi orang paling berpengaruh dalam mengambil keputusan di Istana Abbasiyah, sedangkan Musa dipandang sebelah mata oleh para pejabat pemerintahan karena dianggap tidak piawai dalam menjalankan tugasnya.  

Melanjutkan cerita sebelumnya, Musa Al-Hadi segera mendatangi ibunya seraya membentak dan berkata :

“Kalau kulihat ada Amir yang keluar dari pintu rumah ibu, akan ku penggal kepalanya ! Tidak punyakah ibu alat pemintal untuk menyibukkan diri atau Kitabullah yang bisa memberi ibu pengetahuan ? Atau tidakkah ibu disibukkan dengan tasbih-tasbih ?"

Mendengar perkataan kasar putranya, Khaizuran sampai berdiri saking tidak tahan membendung amarahnya. Tidak cukup sampai di situ saja, Khalifah Musa Al-Hadi juga tega mengirimkan makanan yang sudah diberi racun untuk ibunya. 

Khaizuran yang sudah terlanjur curiga atas sikap anaknya, memilih untuk tidak memakan makanan itu. Ia segera memberikan kepada anjingnya tersebut, dan tiba-tiba anjingnya mati keracunan. Setelah menyaksikan kejadian itu, ibunya sudah tidak tahan atas perlakuan anaknya yang sudah melampaui batas. 

Khaizuran muncul keinginan untuk segera membunuhnya. Suatu ketika, Khalifah Musa Al-Hadi ternyata berniat juga untuk membunuh Harun Ar-Rasyid, ia memerintahkan utusan khusus untuk mencari dan membunuhnya. Mendengar hal ini, keinginan ibunya tak kian terbendung lagi. 

Suatu hari, Musa Al-Hadi sedang sakit tidak berdaya. Khairuzan melihat ini sebuah kesempatan untuk membunuhnya. Atas perintahnya, dia mengirimkan beberapa budak perempuan untuk mengurusi Musa Al-Hadi dan di saat yang tepat, para budak itu mencekik leher Al-Hadi dengan selendang.

Musa tidak bisa berkutik apa-apa, dan mati terkulai lemas di tangan budak perempuan itu. Setelah kematiannya, Khaizuran mengirimkan surat kepada Yahya bin Khalid Al-Barmaki, yang berisi :

”Pria itu (Al-Hadi) sudah mati, jadi segeralah bertindak tegas. Jangan sampai gagal. Lakukan dengan tepat dan teliti !”

Mendengar kabar mengejutkan ini, Yahya bin Khalid segera menuju ke istana dan mengamankan proses transisi khalifah ke Harun Ar-Rasyid. Pada malam itu juga, berita kematian Musa Al-Hadi langsung diumumkan ke khalayak umum dan menyiarkan pengangkatan Harun Ar-Rasyid sebagai khalifah selanjutnya. 

Khaizuran, sang ibunda segera memerintahkan beberapa utusan untuk menjemput Harun ke Baghdad. Menariknya, di saat malam yang sama, putra Harun Ar-Rasyid bernama Abdullah Al-Ma'mum telah lahir ke dunia dan kelak akan menggantikan posisi ayahnya sebagai khalifah. Sebagaimana Ash-Shuli pernah mengatakan :

"Tidak ada satu malam pun dalam sejarah umat manusia ketika seorang khalifah mangkat, seorang khalifah baru dinobatkan dan seorang calon khalifah dilahirkan, kecuali malam itu.”


Kewafatan Khalifah Musa Al-Hadi

Pada tanggal 14 Rabi'ul Awwal 170 H atau bertepatan pada tanggal 13 September 786 Masehi, Khalifah Musa Al-Hadi wafat di usia 26 tahun. Ia memerintah hampir selama 1 tahun 3 bulan, kemudian digantikan oleh saudaranya, Harun Ar-Rasyid. 

Untuk penyebab kematiannya, sebagian besar ahli sejarah meyakini karena dibunuh atas perintah ibunya sendiri, sebagaimana diceritakan di atas. 

Namun, ada yang mengatakan, suatu ketika dia sedang mendorong temannya ke tepi jurang yang di bawahnya ada batang-batang bambu yang dipotong runcing. Saat temannya terjatuh dia sempat menarik tangan Musa hingga keduanya ikut terjatuh dan tertusuk bambu, sehingga mereka meninggal bersamaan. 

Sebagian lain juga ada yang mengatakan, penyebab kematiannya adalah radang usus sampai perutnya bernanah.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.