Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Dinasti Bani Abbasiyah : Khalifah Harun Ar-Rasyid (170-193 H/786-809 M)

Dinasti Bani Abbasiyah : Khalifah Harun Ar-Rasyid (170-193 H/786-809 M)

Biografi Harun Ar-Rasyid

Harun Ar-Rasyid, dengan nama asli Harun bin Muhammad (Al-Mahdi) bin Abdullah (Al-Manshur) bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Ia dilahirkan pada Tahun 148 H atau bertepatan Tahun 764 Masehi di daerah Ray, Iran, ketika ayahnya masih menjabat sebagai Gubernur Khurasan saat itu. 

Dilahirkan dari ibu yang sama, yang bernama Khaizuran, mantan budak Barbar yang dikenal cerdas dan dicintai oleh Al-Mahdi. Berarti, Musa Al-Hadi dan Harun Ar-Rasyid sama-sama saudara kandung. Dia memiliki ciri-ciri berkulit putih, postur tubuh yang tinggi, wajah rupawan, suka murah senyum, tutur kata yang fasih, pemberani, kuat dan berpengetahuan luas.

Sebagai khalifah, dia dikenal sangat mencintai perkembangan ilmu pengetahuan dan kerap dikelilingi oleh para alim ulama, fuqaha, ilmuwan, dan sebagainya. Ia juga dikenal sebagai ahli ibadah, senantiasa mengagungkan perintah dan larangan Allah Ta'ala, tidak suka perdebatan agama, apalagi segala hal yang sudah jelas nash-nya dalam agama.

Gelar Ar-Rasyid disematkan dalam namanya, dikarenakan kehebatan dirinya ketika pasukan Abbasiyah berhasil menundukkan Romawi, memasuki istana Kaisar dan mengadakan kesepakatan dengan Ratu Irene untuk menyetor pajak (upeti) pada Daulah Bani Abbas setiap tahunnya.

Bersamaan di waktu yang sama, Harun Ar-Rasyid diangkat sebagai putra mahkota kedua yang kelak akan menggantikan posisi Musa Al-Hadi menjadi khalifah. Hal ini menambah api kecemburuan di dalam dada Musa sendiri. 

Pada awalnya, dia dijuluki Abu Musa, namun orang-orang kerap memanggilnya Abu Ja'far. Sebab, mereka meyakini bahwa Harun-lah yang akan mewujudkan Zaman Keemasan Islam (Golden Age), dan kelak akan berkuasa lama sama halnya yang dialami oleh kakeknya dulu, Abu Ja'far Al-Manshur.  


Naik Tahta Sebagai Khalifah

Menjelang usianya 22 tahun, Harun Ar-Rasyid dinobatkan sebagai khalifah ke-5 Bani Abbasiyah, yang menggantikan posisi Musa Al-Hadi. Sebagaimana diceritakan sebelumnya (Baca Juga : Dinasti Bani Abbas - Khalifah Musa Al-Hadi), dia bertekad untuk menyingkirkan Harun Ar-Rasyid dengan segala cara, jika perlu Musa perlu membunuhnya. 

Tetapi niat busuk itu dicium oleh ibunya sendiri, Khairuzan. Dengan perantara Yahya bin Khalid, Harun diperintahkan untuk pergi ke tempat terpencil sampai situasi istana kembali aman. Sedangkan, ibunya, Khairuzan sedang merencanakan upaya pembunuhan pada anaknya akibat kelancangan dan kedurhakaannya. 

Saat waktu yang tepat, Musa Al-Hadi yang tengah tidak berdaya karena jatuh sakit. Atas perintah ibunya, budak-budak wanita kepercayaannya ditunjuk untuk mengurusi Musa Al-Hadi dan diperintah untuk mencekik lehernya dengan kain selendang. 

Seketika, Musa Al-Hadi tewas terbunuh di tangan para budak itu. Setelah mendapat laporan bahwa misinya telah berhasil, Khairuzan memerintahkan Yahya bin Khalid untuk mengemban tugas peralihan posisi khalifah ke tangan Harun Ar-Rasyid. 

Setelah itu, beberapa prajurit juga diperintah oleh Khairuzan untuk menjemput Harun Ar-Rasyid secepatnya dari tempat persembunyiannya. Tepat di malam kematian Musa Al-Hadi, di saat itulah Wazir Yahya bin Khalid mengumumkan di hadapan para pembesar istana atas pelantikan Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Setibanya di istana, langkah pertama Harun Ar-Rasyid sebagai khalifah ialah memantapkan legitimasi kekuasaannya. Pertama-tama, dia harus menundukkan lawan politiknya, salah satunya, Ja'far bin Musa Al-Hadi yang masih muda waktu itu.

Sebelumnya, dia sempat dinobatkan sebagai putra mahkota setelah Ar-Rasyid oleh ayahnya. Namun kali ini, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Atas perintah Khalifah Harun Ar-Rasyid, Panglima Huzaymah bin Khazim At-Tamimi diiringi 5.000 personel tentaranya mendatangi kediaman Ja'far. 

Di hadapannya, ia diancam untuk memilih berbai'at pada Harun Ar-Rasyid atau akan dipenggal kepalanya. Tidak ada pilihan lain, ia terpaksa untuk membai'at pamannya sendiri, Harun Ar-Rasyid sebagai khalifah.    


Teladan Kehidupan Khalifah Harun Ar-Rasyid

Dalam kehidupannya sehari-hari, kebiasaan Khalifah Harun Ar-Rasyid selalu banyak diceritakan dan diteladani oleh Umat Islam. Di antaranya, suka mendirikan shalat 100 raka'at setiap hari kecuali jika ada 'udzur, gemar bersedekah sebanyak 1.000 dirham setiap hari, sering beribadah haji setiap tahun bersama rombongan para alim ulama, pejabat istana beserta keluarga mereka. 

Di Tanah Suci, Harun Ar-Rasyid kerapkali mendengarkan dan menampung banyak saran, kritikan, masukan dan laporan aduan dari rakyatnya langsung usai dirinya menunaikan ibadah haji. Kedekatan inilah yang membuat hubungan antara rakyat dan khalifah semakin dekat, sehingga banyak orang yang sangat mencintainya.

Dalam Kitab Tarikh Khulafa', dari Manshur bin Ammar menceritakan :

“Aku tidak pernah sekalipun melihat orang yang lebih mudah menitikkan air mata saat berdzikir melebihi 3 orang ini, yaitu : Al-Fudhail bin Iyad, (Harun) Ar-Rasyid, dan yang lain (dia lupa namanya).” 

Ia juga dikenal sebagai sosok pemimpin yang sangat mencintai para ulama dan ilmuwan. Saking cintanya, Harun sangat memuliakan ajaran Islam. 

Menurut pandangan Harun, barang siapa yang berani sedikitpun yang mendustakan Hadits Nabi (sekalipun sekedar membantah, berargumen atau menolaknya), maka ia akan dicap termasuk orang Zindiq dan perkara ini bukanlah hal yang sepele baginya.

Diceritakan Al-Qadhi Al-Fadhil dalam suratnya, tiada satupun Raja yang tidak kenal lelah menuntut ilmu selain Harun Ar-Rasyid. Dia selalu membawa kedua anaknya, Al-Amin dan Al-Ma'mun, untuk mengikuti dan mendengar kajian Kitab Al-Muwattha' dari Imam Maliki.  

Dalam Kitab Tarikh Khulafa', Abu Mu'awiyah Adh-Dharir pernah berkata :

"Tidak pernah satu kalipun saya menyebutkan nama Rasulullah di hadapan Harun Ar-Rasyid, kecuali dia akan selalu mengatakan, "Semoga Allah melimpahkan shalawat atas junjunganku."


Jasa dan Kebijakan Pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid

Dirasa legitimasi kedudukannya sudah menguat, Khalifah Harun Ar-Rasyid mulai bekerja dan berkonsentrasi untuk merombak dan memperbaiki segala bidang, seperti pembangunan infrastruktur, sistem birokrasi dan administrasi pemerintahan, hingga pertahanan militer.  

Selain itu, Khalifah Harun Ar-Rasyid di tahun pertamanya berusaha sekuat tenaga untuk mengamankan keutuhan negara Daulah Abbasiyah dari segala bentuk rongrongan separatisme, pemberontakan, dan serbuan dari bangsa lain. 

Untuk selengkapnya, langkah-langkah bijaksana yang diambil Khalifah Harun Ar-Rasyid bisa disimak sebagai berikut. 


1. Pembangunan Infrastruktur dan Ilmu Pengetahuan

Di bidang ini, Khalifah Harun Ar-Rasyid berhasil mewujudkan kemajuan Daulah Islam menandingi Kota Konstantinopel dan bangsa-bangsa lainnya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan sangatlah maju, banyak para ulama, pujangga, ilmuwan berbondong-bondong menuju ke Baghdad untuk mengemban ilmu.

Apalagi kecintaan Khalifah terhadap ilmu, sehingga kerap dikelilingi oleh para alim ulama, fuqaha', pujangga terbaik dan ternama di istana. Diceritakan, dia juga sering menyempatkan diri untuk berkunjung ke Baitul Hikmah, sebab hobinya membaca buku. 

Beberapa usaha dan kebijakan Harun Ar-Rasyid yang berkontribusi di bidang pembangunan dan infrastuktur, di antara lain ialah :     

  1. Mendirikan bangunan-bangunan megah di Kota Baghdad
  2. Memfokuskan pembangunan peribadatan, sarana pendidikan, kesehatan, dan perdagangan di berbagai daerah. 
  3. Menjadikan Baitul Hikmah, sebagai lembaga penerjemah, perguruan tinggi, perpustakaan raksasa, dan penelitian para ilmuwan. 
  4. Mengadakan Majelis Muzakarah, yaitu lembaga pengkajian masalah-masalah agama yang biasanya diadakan di rumah, masjid, dan istana.
  5. Membangun Gedung Penelitian Perbintangan atau Ilmu Astronomi (Meteorologisch Observatorium)
  6. Menggali mata air yang dialirkan bagi perjalanan para musafir yang menuju ke Mekkah, yang akan dinamai Mata Air Zubaidah 

Langkah-langkah ini menuai banyak pujian dan patut diacungi jempol oleh para sejarawan. Tidak heran, kepemimpinan Harun Ar-Rasyid termasuk pemimpin dunia terbaik sepanjang sejarah yang pernah ada.

Bahkan, kemajuan Daulah Abbasiyah saat itu bukanlah apa-apa dibandingkan Kekaisaran Romawi yang saat itu sedang mengalami kemunduran, apalagi Daulah Abbasiyah telah menjadi tolak ukur bangsa-bangsa sepanjang zaman kala itu. 

Beberapa karya fenomenal lahir sepanjang masa pemerintahan ini dan tetap harum hingga kini, di antaranya adalah Hikayat Seribu Satu Malam (Alfun Layla wa-Layla), atau orang Barat suka menyebutnya 'Arabian Nights.'   

Dari sana pula, sebagian kisahnya pernah diangkat sebagai film dan kartun animasi dari Produksi Film Animasi Ternama, Disney seperti Aladdin dan Lampu Wasiat, Simbad Sang Pelaut, Alibaba dan 40 Pencuri, dan cerita lucu yang paling terkenal, Kisah Abu Nawas. 

Istana Khalifah Harun Ar-Rasyid waktu itu disebutkan sebagai istana paling ramai dan tidak pernah ada istana khilafah seramai itu sebelumnya, sebab selalu didatangi dan dipenuhi oleh kalangan para alim ulama', ahli fiqh, pujangga ternama, seniman, dan sebagainya. 


2. Restrukturisasi Birokrasi dan Manajemen Pemerintahan

Langkah selanjutnya, Khalifah Harun Ar-Rasyid melakukan perbaikan dan restrukturisasi pemerintahan secara besar-besaran, di antaranya adalah :

  • Mengatur ulang perbatasan negara dan daerah teritorialnya masing-masing
  • Membentuk provinsi-provinsi baru
  • Menyusun ulang pos-pos birokrasi dari jajaran tingkat pusat sampai daerah
  • Merotasi beberapa pejabat daerah dalam pemerintahan, agar bisa berlaku adil dan merangkul semua pihak, terutama Bani Hasyim. 

Baru kali ini, Daulah Abbasiyah benar-benar berdiri sebagai negara penuh, bila dibandingkan sebelumnya. Kebijakan Rotasi Jabatan yang diambil Harun Ar-Rasyid mulai terlaksana dan tidak pandang bulu bagi siapa saja orang-orang terdekatnya, di antaranya seperti. 

  1. Ja'far bin Yahya bin Khalid, dicopot dari Gubernur Khurasan dan digantikan oleh Isa bin Ja'far (adik ipar dari istrinya, Siti Zubaidah)
  2. Mengangkat Ja'far bin Yahya sebagai kepala keamanan (kepolisian)
  3. Fadhl bin Yahya, dicopot dari Gubernur Tabaristan dan Rayy dan digantikan oleh Abdullah bin Kazim. 
  4. Fadhl, yang merangkap suatu jabatan di daerah Rayy langsung dicopot, dan digantikan oleh Muhammad bin Yahya Al-Haris.

Kebijakan ini bisa dikatakan cukup berani dilakukan, sebab dia berusaha merangkul semua pihak demi persatuan kekuatan politik dalam Daulah Islam, tidak berlaku hanya bagi orang-orang Persia saja apalagi kalangan keluarga Barmaki.


3. Memperbaiki Hubungan dengan Kaum Alawiyyin

Meneladani sikap ayahnya, Khalifah Harun Ar-Rasyid berusaha memperbaiki hubungan dengan keluarga Alawiyyin, dengan bersikap lembut kepada mereka dan melepaskan tahanan politik dari keluarga mereka di Baghdad. 

Akan tetapi, beberapa dari mereka tetap bersikukuh pendiriannya, yakni merasa paling berhak yang menduduki singgasana khalifah. Doktrin politik itulah yang membuat mereka selalu mencari kesempatan untuk merebut khilafah dari tangan keluarga Abbasiyah.


4. Menghadapi Pemberontakan Yahya Bin Abdullah

Yahya bin Abdullah, salah seorang keluarga Alawiyyin yang menjadi dalang pemberontakan di Dailamy, daerah pedalaman di sebelah barat Pegunungan Elburz (Iran sekarang). Nama lengkapnya ialah Yahya bin Abdullah bin Hasan bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. 

Dia adalah adik Idris bin Abdullah, pendiri Daulah Bani Idris di Maroko. Singkat cerita, keluarga Alawiyyin sempat mengalami pengusiran dan pembantaian besar-besaran di Mekkah dan Madinah di Masa Al-Hadi. Hal itu juga dialami oleh mereka berdua. 

Akhirnya, mereka berdua berpisah melarikan diri dari kampung halamannya. Yang satu, Idris bin Abdullah menuju ke Barat (Maroko), sedangkan Yahya bin Abdullah menuju ke Timur (Dailamy). 

Jika kakaknya berhasil mendirikan kerajaan baru di Maroko, maka Yahya tengah menggalang dukungan dari penduduk setempat untuk melakukan pemberontakan pada Tahun 176 H. Peristiwa ini membuat batin Harun Ar-Rasyid sangat tertekan, sampai-sampai tidak sudi minum nabidh (arak kurma) selama beberapa hari. 

Akhirnya, Fadhl bin Yahya ditugaskan untuk memadamkan pemberontakan tersebut sambil membawa jumlah tentara 50.000 personel dari berbagai daerah. Sayangnya, sebelum tiba di lokasi, musim salju sedang turun duluan dan suhu udara menjadi sangat minim, sehingga tidak memungkinkan untuk berperang.

Tidak mau buang-buang tenaga, Fadhl berusaha tidak kehabisan akal. Ia mengirim surat melalui utusan yang berisi permintaan pada Yahya bin Abdullah untuk menyerahkan diri dan mengakui kedaulatan Harun Ar-Rasyid. 

Ia mengimingi-imingi, dengan tawaran hadiah yang luar biasa berupa harta dan tanah pemukiman yang layak, jika dia tunduk pada Dinasti Abbasiyah. 

Yahya setuju dengan perjanjian itu dengan satu syarat, dia mendapat jaminan keamanan langsung yang ditulis oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid, dan yang terpenting harus disaksikan oleh para hakim dan pejabat Bani Hasyim di istana. 

Fadhl menuruti kemauannya. Tidak lama kemudian, surat pemintaan Yahya dikabulkan oleh Ar-Rasyid. Khalifah mengaku sangat gembira atas munculnya titik terang itu. Surat jaminan keamanan itu, lalu diserahkan ke Yahya di Dailamy, kemudian dijemput oleh pasukan Fadhl bin Yahya dengan perlakuan yang baik.     

Setibanya di istana, Yahya disambut Ar-Rasyid dengan segala hormat dan takzim. Yahya bin Abdullah segera dipenuhi segala permintaannya, sedangkan Fadhl bin Yahya mendapat promosi jabatan atas kesuksesannya menghentikan pemberontakan tanpa pertumpahan darah. 

Semenjak itu, Yahya bin Abdullah bisa hidup damai di Baghdad di bawah perlindungan Fadhl bin Yahya. Namun hal itu tidak berlangsung lama, Harun Ar-Rasyid atas desakan beberapa pejabat istana yang masih menganggap pengaruh Yahya bin Abdullah masih kuat di tengah masyarakat, ia diputuskan menjadi tahanan rumah, dengan ketetapan jaminan keamanan atas dirinya. 


5. Memadamkan Pemberontakan di Suriah, Mesir, dan Khurasan

- Perang Sipil antara Kelompok Mudhar dan Yaman di Suriah

Tahun 176 H sepertinya menjadi tahun huru-hara dan segala pemberontakan di Masa Pemerintahan Harun Ar-Rasyid. Dalam waktu dekat, tiba-tiba terjadi kerusuhan (bentrokan) kecil antara kelompok Mudhar dan Yaman di Suriah. 

Kedua belah pihak saling berseteru, sehingga menjadikan daerah Suriah kacau-balau dan tidak kondusif. Dianggap tidak becus menyelesaikan masalah ini, Khalifah Harun Ar-Rasyid memutuskan untuk mencopot dan menggantikannya dengan Ibrahim bin Shaleh, dengan harapan masalah ini bisa diselesaikan.

Kenyataannya, Ibrahim malah berpihak terhadap kelompok Yaman. Sehingga, dari berawal konflik kecil-kecilan malah berubah semakin besar, disebabkan keberpihakan Gubernur Suriah atas kelompok Yaman. Akhirnya, suasana kota Damaskus semakin mencekam.

Sedangkan, kantor gubernurnya dikuasai oleh kelompok Mudhar dan mengusir Ibrahim bin Shaleh. Akhirnya, Harun Ar-Rasyid menyerahkan urusannya ini pada kedua putra Yahya bin Khalid, Ja'far dan Fadhl. 

Dalam waktu singkat, pasukan Ja'far dapat menguasai Kota Damaskus dan menyelesaikan segala permasalahan yang ada di kota tersebut. Setelah itu, pasukan Abbasiyah kembali dan melaporkan keberhasilan mereka pada Harun Ar-Rasyid.  


- Pemberontakan Attaf bin Sufyan di Mosul 

Setahun kemudian di Tahun 177 H, Attaf bin Sufyan bersama para pengikutnya melancarkan pemberontakan dan berhasil menduduki Kota Mosul. Mereka menjebloskan gubernur setempat ke penjara dan berbuat zhalim dengan menaikkan pajak dua kali lipat kepada rakyatnya dengan cara intimidasi. 

Akhirnya, Harun Ar-Rasyid turun tangan langsung bersama para pasukannya menuju Mosul. Setelah mengetahui akan kedatangan Khalifah,  Attaf merasa ketakutan, lalu kabur ke Armenia untuk menyelamatkan diri.


- Pemberontakan Orang Barbar di Mesir

Di Tahun 178 H, orang-orang Barbar melancarkan pemberontakan dan mereka berhasil menguasai daerah Mesir sepenuhnya. Kejadian itu tidak dibiarkan berlangsung lama, Harun Ar-Rasyid memerintahkan Harsyimah bin Ayun, Gubernur Palestina untuk merebut kembali Mesir ke pangkuan Abbasiyah. 

Akhirnya, misi ini berhasil dan Harsyimah diberikan kekuasaan luas dengan merangkap jadi Gubernur Mesir sekaligus. Sayangnya, ia menjabat hanya sebulan saja, lalu disingkirkan oleh Abdul Malik bin Shaleh.


- Pemberontakan Kaum Khawarij di Khurasan

Di Tahun 178 H, Kaum Khawarij melakukan gerakan pemberontakan di Khurasan. Dampak peristiwa ini sampai menyebar ke mana-mana, sampai menimbulkan kerusuhan skala besar. Namun dalam waktu singkat, pasukan Abbasiyah segera datang dan mengendalikan situasi di sana, lalu menjatuhkan hukuman mati bagi para pemberontak. 


Secara garis besar, Khalifah Harun Ar-Rasyid berusaha mengukuhkan wilayah kekuasaannya dalam kurun 10 tahun pertama pemerintahannya. Tahun demi tahun, kerap kali terjadi pemberontakan di mana-mana seperti Suriah, Mesir, Mosul, hingga Khurasan. 

Namun, keberhasilan Harun dalam memadamkan pemberontakan patut diacungi jempol, sebab dalam dirinya terdapat kelebihan langka yang tidak pernah dimiliki oleh khalifah siapapun sebelumnya maupun sesudahnya, di antara lain ketajaman strategis bagaikan jenderal, ketelitian dalam ambil keputusan/kebijakan bagaikan seorang manajer, dan kecerdikan berpikir bagaikan politikus.  


6. Menghadapi Khalifah Idris I Bin Abdullah (Daulah Bani Idris)

Idris bin Abdullah, kakak Yahya bin Abdullah sekaligus salah seorang keluarga 'Alawiyyyin telah berhasil menggulingkan amir setempat dan mendirikan kerajaan baru Daulah Bani Idrisiyyah di Maroko. 

Singkat cerita, kerajaan Syi'ah (aliran Zaidiyah) pertama kali di dunia ini telah berdiri dari Tahun 172 H/788 Masehi sampai Tahun 311 H atau 923 Masehi, lalu akan diruntuhkan oleh Kekhalifahan Cordoba (Umayyah II).  

Mendengar berdirinya kerajaan baru ini, Khalifah Harun Ar-Rasyid tidak tinggal diam. Ia segera mengutus mata-mata atau intel yang licin berpolitik, yang bernama Sulaiman bin Jarir. Misi yang ditugaskannya ialah membunuh Idris I, dengan harapan kerajaan baru ini akan runtuh. 

Setibanya di Maroko, ia berpura-pura mengabdi pada Sultan Idris I dan menggembor-gemborkan kebenciannya pada Abbasiyah. Akhirnya, siasat ini berhasil dan Sulaiman diangkat sebagai pembesar istana. 

Di saat yang tepat, ia berhasil memasukkan racun ke dalam makanan Idris I, dan ia tewas di tempat. Sulaiman berhasil kabur dari Maroko, namun sayangnya misinya gagal meruntuhkan Dinasti Bani Idrisiyyah. Sebab, ternyata para pembesar istana sudah menyiapkan pengganti dan mengangkat khalifah yang baru, Idris II

Sedangkan, Khalifah Harun Ar-Rasyid tengah disibukkan memadamkan api pemberontakan dari berbagai daerah.   


7. Mendirikan Daulah Bani Aghlab di Afrika Utara (Ifriqiyyah)

Setelah mendapat laporan Sulaiman yang gagal meruntuhkan Daulah Idris, Khalifah Harun Ar-Rasyid merasa bahwa daerah Ifriqiyyah (Afrika Utara) harus mendapatkan otonomi khusus di bawah kekuasaan Bani Abbas, supaya bisa menghalau serangan Bani Idris yang kerap mengganggu wilayah barat. 

Pada Tahun 184 H, Ibrahim bin Aghlab ditunjuk sebagai Gubernur yang bertanggung jawab atas seluruh daratan Afrika Utara. Ia memutuskan untuk menempati Kairowan (di Tunisia) sebagai ibukota pemerintahannya, dan dinamai dengan Abbasiyah sebagai bukti kesetiaan Ibrahim pada Daulah Abbasiyah.  

Suatu saat nanti, keturunan Ibrahim bin Aghlab akan mewarisi kekuasaan ini secara turun-temurun, dari Tahun 184 H/800 Masehi sampai Tahun 293 H/909 Masehi. Sampai akhirnya, dinasti keluarga ini akan runtuh dan digantikan oleh Bani Fathimiyyah

Selama di bawah naungan Daulah Bani Aghlabiyyah, Kota Kairowan berkembang sebagai pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan, yang dapat menandingi kejayaan Maroko. 

Kelak suatu saat nanti, akan ada yang bernama Fatimah Al-Fihri, putri saudagar kaya yang akan mendirikan universitas pertama kali di dunia, Universitas Kairowan. Di titik inilah, momentum peradaban Islam dan Dunia sedang dimulai.  


8. Menjalin Hubungan Diplomatik dengan Kaisar-Kaisar Tiongkok

Demi menjaga keamanan daerah perbatasannya, Khalifah Harun Ar-Rasyid berupaya menjalankan diplomasi persahabatan dengan Kaisar-Kaisar Tiongkok yang berbatasan dengan wilayah Timur, dengan cara saling bertukar hadiah.


9. Tragedi Berdarah di Armenia

Pada Tahun 183 H, Bangsa Khazar melakukan penyerangan ke Armenia, yang menjadi bagian Daulah Abbasiyah. Menurut Imam Suyuthi, peristiwa ini menimbulkan luka yang amat mendalam bagi Umat Islam, begitu juga Khalifah Harun Ar-Rasyid, karena hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya.  

Menurut ahli sejarah, ada dua versi yang menjadi penyebabnya. Yang pertama, suatu ketika Putri Khazar beserta para pengawal dan rombongannya berjalan-jalan. Secara tidak sengaja, mereka memasuki wilayah Abbasiyah dan tiba-tiba Putri menghilang entah kemana.

Beberapa prajurit yang ikut mengawal sang putri, segera melapor kejadian ini ke Raja Khazar. Mereka menuduh, bahwa Putri Khazar telah mati terbunuh oleh orang-orang Islam Armenia. Sang Raja naik pitam, ia memerintahkan untuk bersiap-siap melakukan serangan brutal dan besar-besaran ke Armenia sebagai bentuk balas dendam.

Versi kedua, Imam Thabari meriwayatkan peristiwa ini disebabkan oleh tindakan Said bin Salam, Gubernur Armenia yang akan mengeksekusi mati Al-Munajjim As-Sulami, penguasa lokal tepi Laut Kaspia. Putra Munajjim yang tidak terima akan hal itu segera mengadu ke Raja Khazar untuk meminta bantuan agar membalaskan dendamnya kepada Said bin Salam.

Permintaan itu dikabulkan oleh Raja, dan akhirnya mereka melakukan penyerangan ke Armenia. Ketika itu, Said berhasil menyelamatkan diri sedangkan tentara Khazar melakukan pembantaian dan pemerkosaan beramai-ramai secara keji dan kejam kepada penduduk Armenia.   

Menurut Imam Thabari, peristiwa ini terjadi selama 70 hari dan menewaskan 100.000 orang lebih dari Kaum Muslimin. Mengetahui kejadian itu, Yazid bin Mizyad, Gubernur Khurasan segera diperintahkan oleh Ar-Rasyid untuk memulihkan situasi di Armenia.

Setelah mengetahui kedatangan laskar Abbasiyah, pasukan Khazar segera melarikan diri dari Armenia, dan selepas itu, Yazid beserta para tentaranya memulihkan dan mengevakuasi semua korban sampai situasi Armenia kembali normal. 


10. Menghadapi Kekaisaran Byzantium

- Pertempuran Heraclia 

Pada Tahun 187 H, Khalifah Harun Ar-Rasyid menerima kabar dari Kaisar Romawi baru, Nicephorus I (yang berkuasa 802-811 Masehi), tentang pembatalan sepihak perjanjian damai antara Daulah Abbasiyah dengan penguasa Romawi sebelumnya, Ratu Augusta (Barat : Irine). Isi surat itu berbunyi : 

“Dari Nicephorus Kaisar Bizantium kepada Harun Raja Arab. Sesungguhnya, sang ratu yang berkuasa sebelum aku telah mendudukanmu layaknya benteng (dalam permainan catur), dan dirinya sendiri layaknya bidak. Dia memberikan harta kekayaannya kepadamu dikarenakan kelemahan dan kebodohan perempuan. 

Sekarang, setelah kamu selesai membaca surat ini secara seksama, segera kembalikan semua uang sudah dia kirimkan, dan tebuslah semua itu secepat mungkin. Kalau tidak, maka pedanglah yang akan berbicara di antara kita !”

Khalifah Harun Ar-Rasyid begitu marah usai membaca isi surat tersebut. Tidak ada seorang pun yang berani memandang wajahnya, perlahan-lahan orang-orang sekitarnya menyingkir karena takut kena pelampiasan amarah Sang Raja. 

Kemudian, Harun Ar-Rasyid mengambil tinta dan menulis sepucuk surat balasan, yang berisi sebagai berikut : 

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Harun Al-Rasyid, pemimpin kaum Muslimin kepada Nicephorus, anjing Romawi. 

Wahai anak dari perempuan kafir, aku telah membaca suratmu dengan jelas. Adapun jawabannya, akan kau saksikan sendiri, bukan kau dengar. Salam !”

Pada hari itu juga, Khalifah Harun Ar-Rasyid segera menyiapkan bala tentaranya menuju Byzantium dan tidak sabar ingin menghukum Kaisar Romawi yang congkak itu. Beberapa hari kemudian, akhirnya Harun beserta bala tentaranya tiba di Anatolia Barat Daya, lebih tepatnya di depan gerbang Benteng Heraclia, wilayah perbatasan Abbasiyah dan Romawi. 

Tanpa ampun, Khalifah Harun Ar-Rasyid dan para pasukannya merangsek masuk ke wilayah itu. Dalam waktu singkat, kota itu berhasil dikuasai. Menurut Imam Suyuthi, perang ini adalah peperangan paling terkenal, sekaligus penaklukan gemilang sepanjang sejarah Dunia Islam.  

Menyaksikan kota perbatasannya hancur dalam satu serangan, membuat Kaisar Nicephorus I gemetar. Dia mengirim surat lagi untuk memohon ampun (berdamai) dan akan menyetor upeti tahunan pada Abbasiyah seperti biasanya. Khalifah Harun pun menyetujui itu dan kembali ke Baghdad. 


- Pertempuran Konstantinopel

Di tengah perjalanan, tersiar kabar bahwa Kaisar Nicephorus I mengkhianati janjinya. Para pengawal yang tahu watak Harun Ar-Rasyid, menjadi bingung cara untuk memberitahu hal ini. Akhirnya, mereka bersepakat membuat syair-syair dengan pesan tersirat di hadapan Khalifah. 

Lagaknya, Khalifah Harun Ar-Rasyid paham dengan apa yang dipesankan pengawalnya. Biar lebih yakin, dia bertanya lagi tentang kebenaran pengkhianatan Romawi itu, dan para pengawal mengangguk pelan tanda mengiyakan.

Merasa terpukul atas kejadian itu, Khalifah Harun bergegas kembali ke Byzantium. Ketika di Raqqah, kebetulan Musim Dingin datang. Sepertinya, Kaisar Romawi paham tentang perubahan musim ini dan mengira pasukan Abbasiyah tidak akan datang kala kondisi cuaca sangat buruk seperti ini. 

Harun tahu akal bulus ini. Di luar dugaan, kali ini Khalifah berambisi untuk menembus jantung Byzantium dan tidak akan berhenti sampai dia menginjak kakinya sendiri ke istana Konstantinopel. Atas perjuangan tak kenal lelah ini, akhirnya Khalifah Harun Ar-Rasyid berhasil masuk ke serambi istana Kekaisaran Romawi. 

Dengan kondisi malu, Kaisar Nicephorus I langsung duduk bersimpuh di hadapan Harun Ar-Rasyid dan memohon ampun sekali lagi. Pengampunan itu diterima oleh Harun Ar-Rasyid, dan merampas pajak tahunan saat itu juga, kemudian mengambil alih sebagian besar wilayah Romawi sebagai wilayah kekuasaannya. 

Menurut Imam Suyuthi, Khalifah Harun Ar-Rasyid di kala itu segera membebaskan para tawanan kaum Muslimin di seluruh wilayah kekuasaan Romawi sampai tidak tersisa sedikit pun.        


- Pertempuran Romawi Tahun 188 H

Pada Tahun 188 H, Kaisar Romawi, Nicephorus I kembali berkhianat. Kali ini, Khalifah Harun Ar-Rasyid tidak terjun langsung toh kekuasaan Byzantium semakin menyusut. Dia mengutus panglima perang terbaiknya, Ibrahim bin Jibril untuk menghadapi serangan Byzantium.

Pasukan Kaisar Nicephorus I tengah bersiap-siap menghadapi pasukan Muslimin itu, tetapi di tengah perjalanan, Kaisar Romawi berbalik mundur demi menghindari pertempuran sengit ini. Sayangnya, kesempatan itu terlambat dan terlanjur dicegat oleh pasukan Abbasiyah. 

Pasukan Romawi mengalami kekalahan telak, namun Kaisar Nicephorus I berhasil melarikan diri dengan kondisi 3 sabetan pedang di tubuhnya. Imam Thabari meriwayatkan, dalam pertempuran itu telah menelan 40.700 korban jiwa dari pihak Romawi dan kurang lebih 4.000 hewan buas berhasil ditangkap oleh laskar Muslimin. 


- Pertempuran Romawi Tahun 190 H

Di Tahun 190 H, pasukan Romawi berulah lagi. Mereka berani mengganggu perbatasan Abbasiyah yang dihuni Kaum Muslimin. Tampak geram, Khalifah Harun memutuskan untuk memimpin ekspedisi ini kesekian kalinya dan berniat membumihanguskan Byzantium sampai tidak ada yang tersisa.

Ia juga menunjuk putra mahkota keduanya, Abdullah Al-Makmun untuk mewakili semua urusan pemerintahan. Seluruh Gubernur Abbasiyah diminta untuk mematuhi segala perintah Al-Makmun layaknya seorang khalifah.

Sebelum berangkat, Harun juga sempat menyerahkan cincin resmi Khalifah kepada Al-Makmun, ketika dirinya menjabat sebagai Gubernur Raqqah, Palestina. Sesampai di Heraclia, pasukan Harun A-r-Rasyid berhasil menaklukkan kota itu.

Dari sana, ia membentuk beberapa kontingen dari para pasukannya dan menunjuk jenderal-jenderal terbaik untuk menyebar ke seluruh wilayah yang dikuasai Byzantium. Menurut Imam Thabari, laskar Abbasiyah kala itu berjumlah sekitar 135.000 tentara. Sejumlah kontingen yang dibentuknya berhasil membawa berita kemenangan, di antara lain :

  • Penaklukan Benteng Sisilia, yang dipimpin oleh Syurahbil bin Maan bin Zindah.
  • Penaklukan Malqunia (Macedonia), yang dipimpin oleh Yazid bin Makhland.
  • Penaklukan Pulau Cyprus, dipimpin oleh Hamid bin Mayuf. Mereka berhasil membumihanguskan wilayah itu dan memperbudak kurang lebih 16.000 orang. 

Kaisar Nicephorus yang mengetahui wilayah kekuasaannya sedang digempur habis-habisan segala penjuru, akhirnya dia menyatakan kalah dan menyerahkan upeti sekitar 50.000 dinar melalui 2 bangsawan terkemuka, termasuk uang tebusan kepalanya dan juga kepala putra-putranya.

Lain kesempatan, Kaisar Nicephorus I menulis surat yang isinya permohonan pada Harun Ar-Rasyid memilih budak perempuan asal Heraclia, agar dijadikan istri bagi putra Nicephorus I. Isi suratnya sebagai berikut :  

“Kepada Harun, hamba Tuhan, pemimpin kaum beriman, dari Nicephorus penguasa Byzantium, Salam !

Wahai Raja, aku memiliki sebuah permohonan padamu, yang (permohonan) itu tidak akan mengakibatkan kerusakan apapun baik pada imanmu ataupun pada kesejahteraanmu di dunia karena demikian sepele dan tidak signifikannya (permohonanku ini). 

Sudi kiranya dikau mengaruniai putraku seorang budak perempuan, seorang gadis Heraclea yang bisa dinikahi oleh putraku.  Jika anda menilai perlu untuk memenuhi kebutuhanku ini, maka aku akan sangat berterima kasih sekali. Salam sejahtera bagimu, dan rahmat serta berkah Tuhan (untukmu).”

Isi surat itu tidak lain bermakna sebuah penyerahan total Kaisar Romawi pada Khalifah Harun Ar-Rasyid, bahkan dia sudi merendahkan kekuasaannya dengan menikahkan putranya dengan budak Harun Ar-Rasyid, yang kelak suatu saat nanti akan mewarisi tahta kerajaannya. 

Khalifah Harun Ar-Rasyid mengabulkan permohonannya dan memerintahkan anak buahnya untuk mencari orang yang dimaksud. Setelah ditemukan, Harun Ar-Rasyid menyuruh untuk mendandani dan memperlakukan budak perempuan itu sebaik mungkin layaknya seorang pengantin yang akan menikah. 

Kemudian, budak perempuan itu dikirimkan ke istana dengan iring-iringan. Setelah itu, proses negosiasi antar kedua belah pihak diberlangsungkan. Kaisar Nicephorus I diminta untuk berhenti mengganggu Kaum Muslimin di wilayahnya dengan alasan apapun. 

Sedangkan, Khalifah Harun Ar-Rasyid berjanji akan menghentikan eksepedisinya dan mematok wilayahnya hanya sebatas Heraclia. Ia juga diminta untuk dibangunkan benteng perbatasan di Kota Heraclia sebagai tanda batas kedua negara tersebut. 

Selain itu, Kaisar Nicephorus I juga berjanji akan menyetor upeti sebanyak 300.000 dinar pada Abbasiyah setiap tahunnya.    


11. Hubungan Diplomatik dengan Maharaja Karel de Grote (Perancis)

Khalifah Harun Al-Rasyid dapat menjalin hubungan erat dengan Maharaja Perancis, Karel de Grote (Charlemagne), yang kemudian melahirkan perjanjian, yakni Karel berkonsentrasi menghadapi Bani Umayyah, sementara Harun Al-Rasyid menumpas penjarahan Byzantium Romawi.

Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Maharaja Karel saling bertukar hadiah dan bingkisan. Di antara hadiah Ar-Rasyid kepada Karel berupa "Jam Air" yang ajaib dan halus buatannya. 

Orang Eropa menyangka, itu benda sihir. Ar-Rasyid juga memberi Karel "Anak Kunci Gereja Raya" di Baitul Maqdis. Merasa memegang kunci, orang Perancis mengklaim bahwa mereka berhak melindungi tempat-tempat suci di Palestina, dan kaum Nasrani yang berziarah ke situ.


12. Pemberontakan Abdul Malik bin Shaleh di Suriah

Suatu ketika, Abdul Malik bin Shaleh, Gubernur Suriah yang telah diangkat sebagai mentor Qasim, berusaha menggalang dukungan masyarakat sekitar agar rela membai'at Qasim sebagai khalifah sesudah Ar-Rasyid. Hal ini dilakukan karena ambisi nafsu Abdul Malik yang ingin cepat-cepat berkuasa terlanjur mendarah daging. 

Berdasar isu yang beredar, Abdul Malik berencana ingin melompati urutan Putra Mahkota, dari yang ketiga menjadi pertama. Usai diumumkan ke khalayak publik, rencana ini segera dilaporkan oleh sekretaris dan putranya sendiri ke Ar-Rasyid. 

Alhasil, Abdul Malik bin Shalih ditangkap dan diseret ke pengadilan. Setelah tuntutan terdakwa dibacakan, Abdul Malik menyangkal semua tuduhan itu dengan tegas. Para saksi tetap memberatkan prosesi pengadilan kasus Abdul Malik, karena dianggap berbahaya untuk masa depan Abbasiyah selanjutnya nanti.  

Sidang masih belum mendapat titik terang, kemudian Harun Ar-Rasyid segera memanggil Yahya bin Khalid, yang sedang mendekam di penjara, lalu dimintai pendapat dan masukannya. Ar-Rasyid berjanji, ia akan dibebaskan jika berhasil memutuskan perkara ini, tetapi tampaknya Yahya tidak tergiur dengan tawaran itu. 

Yahya mengaku tidak mengenal dekat akan sosok Abdul Malik bin Shaleh. Justru, dia mengapresiasi tindakan tegas Abdul Malik, yang menolak tuduhan upaya makar kepada Khalifah. Dia juga menuding Ar-Rasyid, bahwa kemarahan Khalifah berawal dari kekhawatiran dan iri luar biasa atas kebijaksanaan yang dipunyai Abdul Malik. 

Ar-Rasyid sangat murka dengan tanggapan seperti itu. Ia mengancam akan membunuh seluruh anak-anaknya di hadapan Yahya sendiri. Tak lama kemudian, Fadhl dipanggil ke hadapan Ar-Rasyid. Merasa ajalnya mulai dekat, ia sempat berpamitan pada ayahnya, tetapi dia ditarik paksa oleh salah satu prajurit. 

Perlakuan atas anaknya itu tidak diterima oleh Yahya, ia berpesan melalui prajuritnya, bahwa nasib anak-anak Harun Ar-Rasyid kelak akan merasakan kematian yang sama seperti Fadhl. Pesan kutukan itu segera disampaikan langsung kepada Ar-Rasyid.   

Ar-Rasyid mengaku, dirinya merasa ketakutan pasca mendengar ancaman itu. Khalifah segera membatalkan eksekusi mati pada Fadhl bin Yahya, lalu dikembalikan lagi ke penjara bersama ayahnya. Sedangkan, nasib Abdul Malik bin Shalih akhirnya dijatuhi vonis hukuman seumur hidup. Kelak, Abdul Malik akan bebas di Masa Al-Amin dan menjadi pengikut setia hingga akhir hayatnya.     


Penyelewengan Kekuasaan oleh Keluarga Barmak

a. Asal-Usul Keluarga Barmak

Pada Tahun 187 H, merupakan tahun detik-detik kejatuhan Keluarga Barmaki di pemerintahan Harun Ar-Rasyid. Sebelumnya, keluarga Barmak adalah keluarga Bangsawan asal Persia, dipelopori oleh Khalid bin Barmak yang pernah diangkat sebagai wazir (perdana menteri) oleh Abul Abbas As-Saffah dan Al-Manshur. 

Kedekatan Harun Ar-Rasyid dengan keluarga Barmaki bermula sejak lahir, ketika susuan ibunya, Khairuzan masih kering, Harun disusui oleh istri Yahya bin Khalid, Zainab binti Munir. Begitu juga sebaliknya, di saat susuan Khaizuran lancar maka Fadhl bin Yahya disusui olehnya. 

Semenjak itulah, Harun Ar-Rasyid punya kedekatan emosional terhadap keluarga ini. Ia sudah menganggap Yahya bin Khalid beserta istrinya, seperti ayah ibunya sendiri. Begitu juga anak-anaknya, mereka juga dianggap saudara sesusuan dengannya. Ketika putra Ar-Rasyid, Al-Amin lahir, ia juga diserahkan pendidikannya pada Fadhl bin Yahya. 


b. Keluarga Barmak Berkuasa di Segala Lini Pemerintahan

Tidak heran, ketika Harun Ar-Rasyid menjabat Gubernur Khurasan, ia menunjuk Yahya sebagai wazir pribadi sampai diangkatnya sebagai Khalifah. Tidak main-main, saking besarnya kepercayaan Harun Ar-Rasyid ketika hari pertama menjadi khalifah, ia rela menyerahkan cincin khalifah dan wewenang sangat luas dalam pemerintahan kepada Yahya bin Khalid.

Cincin itu berguna sebagai segel resmi istana. Sayangnya, amanah itu ternyata disalahgunakan oleh Yahya bin Khalid dengan berbuat sekehendak hatinya layaknya khalifah demi kepentingan keluarganya.    

Lambat laun, jabatan-jabatan penting diduduki oleh sanak kerabat keluarganya. Sebagian anaknya Yahya bin Khalid ditunjuk menjadi Gubernur wilayah Abbasiyah. Bahkan, kedua putranya, Fadhl dan Ja'far diangkat sebagai mentor bagi kedua putra mahkota Abbasiyah, Al-Amin dan Al-Ma'mun. 

Pasca Yahya pensiun, jabatan wazir digantikan oleh Ja'far bin Yahya. Ketika itu, dia merasa sangat berkuasa. Persoalannya, Khalifah Harun Ar-Rasyid terlalu menyayangi keluarga ini, khususnya Yahya bin Khalid, yang sudah seperti ayah, mentor/guru utama, dan orang kepercayaan yang paling berjasa dalam hidupnya.   


c. Firasat Yahya bin Khalid Menjelang Kejatuhan

Tahun demi tahun, satu persatu skandal mulai terkuak ke permukaan. Diawali dengan Musa bin Yahya, yang dituduh menjadi patron (pelindung) bagi para pelaku kerusuhan di Khurasan. Kala itu, Khalifah Harun Ar-Rasyid memerintahkan Ali bin Isa bin Mahan untuk memadamkan kerusuhan tersebut. 

Keputusan ini mulanya ditolak oleh Yahya bin Khalid, tapi Harun tetap bersikeras. Ketika Ali bin Isa berhasil menjalankan tugasnya, tiba-tiba ia mendapat laporan bahwa masyarakat Khurasan begitu mencintai dan memuja Musa bin Yahya. Sebab inilah, Musa dianggap sebagai dalang kerusuhan di Khurasan. 

Akhirnya, Harun Ar-Rasyid memutuskan untuk memenjarakan Musa bin Yahya. Mendengan hal ini, Yahya bin Khalid dan istrinya segera pergi ke Istana Khalifah dan memohon ampunan atas perlakuan anak bungsunya. 

Namun, Harun memberi syarat, bahwa Yahya wajib menjadi jaminan atas pertanggungjawaban tingkah laku Musa. Dan, syarat itu disanggupi oleh Yahya. Sejak itu, Yahya tampaknya mulai memahami bahwa kedudukannya hanya sebatas pelayan saja, sedangkan Harun tetaplah raja dengan segala kebesarannya yang tidak bisa dilawan. 

Pada Bulan Dzulhijjah 186 H, Yahya bin Khalid beserta keluarganya ikut rombongan Khalifah Harun Ar-Rasyid untuk menunaikan ibadah haji. Beberapa sejarawan mengisahkan, do'a Yahya dipanjatkan di depan Kakbah yang berbunyi :  

“Wahai Tuhan ! Dosaku sangat besar dan banyak; hanya Kau yang bisa menghitung dan mengetahuinya. Oh Tuhan ! Bila Kau hukum aku, maka hukumlah aku di dunia ini, meskipun bila hukuman itu menyangkut hati, pendengaran dan penglihatan, kekayaan dan anak-anak, hingga Kau benar-benar rela kepadaku, dan jangan (Kau jatuhkan) hukuman kepadaku di akhirat kelak." 

Agaknya, Yahya bin Khalid sudah muncul firasat tidak enak terhadap apa yang akan terjadi. Perbuatan-perbuatan busuknya sebentar lagi akan ketahuan dan akan diterima konsekwensinya tidak lama lagi. Sudah belasan tahun pengabdian mereka pada Abbasiyah, membuat mereka sangat terlena atas kenikmatan yang sudah mereka terima.  

Satu persatu skandal mulai terkuak, dari kasus korupsi, suap, kolusi, nepotisme, pengkhianatan, hingga  dosa Ja'far bin Yahya yang tidak bisa terampuni oleh Harun Ar-Rasyid. 


d. Skandal Keluarga Barmak Mulai Terbongkar (Penyalahgunaan Kekuasaan)

Suatu hari, Ja'far bin Yahya, wazir Khalifah Harun Ar-Rasyid jatuh cinta pada Abbasah binti Al-Mahdi, adik perempuan kesayangan Ar-Rasyid. Harun tidak marah akan cinta kedua orang itu, tetapi dia memperingatkan Ja'far agar tidak sekali-kali menyentuh Abbasah sampai pernikahan berlangsung.

Khalifah Harun Ar-Rasyid berjanji akan merestui dan menikahkan mereka berdua di waktu yang tepat. Ternyata, Ja'far melanggar kesepakatan itu. Di sebuah perjamuan, Ja'far menjadikan Abbasah mabuk kepayang, sampai melakukan hubungan badan. Dan, akhirnya Abbasah hamil. 

Karena ketakutan, ia menyembunyikan diri ke tempat terpencil. Ketika bayinya telah lahir, budak perempuannya diminta untuk membawa kabur anak itu ke Mekkah. Ia juga berpesan, untuk merahasiakan skandal ini dari Harun Ar-Rasyid. 

Seiring berjalan waktu, skandal ini terkuak dan diketahui oleh Khalifah Harun A-Rasyid. Pada Musim Haji, ia berusaha menyempatkan diri untkuk menjenguk anak dari hasil hubungan Ja'far-Abbasah. Ketika mendapat laporan dari para pengasuh Mekkah, dan ternyata sama dengan apa yang didengar di Baghdad, ia amat terpukul sekali hampir-hampir dia ingin membunuh bayi yang tak berdosa itu.

Tetapi, niatnya itu segera diurungkan. Harun berusaha bersikap wajar pada Keluarga Barmaki, meskipun tanda-tanda kemarahannya makin tampak hari demi hari. Yahya bin Khalid sendiri yang paling merasakannya.


Namun, ada versi lain yang menyebutkan, bahwa Khalifah Harun Ar-Rasyid berpikir bahwa kekuasaan keluarga Barmaki sudah terlalu tinggi, dan hampir setara dengannya, bahkan mungkin lebih dari itu. 

Suatu ketika, Harun Al-Rasyid meminta uang yang tidak seberapa jumlahnya kepada mereka, tapi tidak diindahkannya. Betapa tidak, semua pihak telah menghadap kepada mereka, sehingga tidak ada lagi yang tinggal pada Rasyid, kecuali dari gelar Khalifah.

Kemegahan Fadhl dan Ja'far yang berlebihan menimbulkan iri hati pada sebagian orang. 

Ditambah lagi, hasutan musuh-musuh Keluarga Barmak kepada Rasyid, dan tuduhan bahwa keluarga itu telah berlaku sekehendak hatinya dalam membelanjakan uang negara (korupsi dan suap). Jelas, hal itu menambah nyala api kemurkaan Khalifah Harun Ar-Rasyid. 

Kemudian, datang lagi peristiwa Yahya bin Abdullah al-Alawi. Setelah surat pengakuan aman atas diri cucu Ali itu dicabut kembali oleh Ar-Rasyid, lalu dikurungnya Yahya di dalam Istana Ja'far Al-Barmaki. Akan tetapi, karena sayang dan hormatnya Ja'far kepada kaum Alawiyyin, Yahya bin Abdullah dilepas.

Tatkala hal ini diketahui oleh Harun Al-Rasyid, dia marah kepada Ja'far. Di waktu lain, Al-Rasyid mendapat laporan bahwa keluarga Barmak telah membantu Abdul Malik bin Salih Al-Abbasi yang hendak menjatuhkan Khalifah dari Harun Al-Rasyid (upaya makar).

Segala peristiwa ini membulatkan hati Khalifah Harun Al-Rasyid untuk membinasakan keluarga Barmak. 

Dia memerintahkan pembunuhan terhadap Ja'far bin Yahya, lalu memenjarakan ayahnya (Yahya bin Khalid), semua keluarganya, serta para rekan sahabatnya. Selanjutnya, semua keluarga Abdul Malik bin Salih ditangkap dan dipenjarakan.



e. Detik-Detik Kejatuhan Keluarga Barmak di Tangan Harun Ar-Rasyid

Lanjut kembali ke versi sebelumnya, pada Musim Haji Tahun 186 H, selepas kepulangan dari tanah suci untuk beribadah haji dan pelantikan putra mahkota ketiga, Qasim Al-Mu'tamin, seluruh keluarga Barmaki tengah diajak ikut dalam rombongan Harun Ar-Rasyid. 

Suatu hari, ketika tiba di Anbar, bekas ibukota Abbasiyah di Masa As-Saffah, Harun meminta untuk berhenti dan beristirahat terlebih dahulu di sana. Malam harinya, Harun Ar-Rasyid sedang merencanakan sesuatu. 

Ia mengundang beberapa prajurit terpercaya datang menghadap, dan diperintahkan pada mereka untuk memenggal kepala Ja'far bin Yahya, dan menjebloskan seluruh keluarga Barmaki ke dalam penjara termasuk Yahya bin Khalid beserta istrinya, anak-anaknya, para budaknya, sanak famili, dan orang-orang yang ikut dalam jaringannya.

Pada malam yang sama, Khalifah Harun Ar-Rasyid mengirim surat, yang berisi perintah kepada seluruh Gubernurnya untuk menangkap setiap anggota keluarga Barmaki di manapun berada, merampas seluruh kekayaannya, dan menangkap orang-orang yang setia kepadanya.

Operasi ini dilaksanakan dengan cepat, cekatan, dan rapi dalam satu malam. Di pagi harinya, kepala Ja'far bin Yahya telah dipenggal dan tergantung di tengah jembatan Kota Baghdad. Tubuhnya dimutilasi menjadi 2 bagian, satu bagian diletakkan di sisi kanan jembatan dan satu bagian yang lain ditaruh di sisi kiri jembatan.

Sedangkan, Yahya bin Khalid, istri beserta anak-anaknya langsung dijebloskan ke penjara tanpa ampun dan pengecualian. Mereka dimasukkan ke dalam penjara tahanan kejahatan tingkat tinggi. Mereka semua diperlakukan sama dengan tahanan-tahanan lainnya.

Demikianlah, kisah kejayaan keluarga Barmaki berakhir dengan kondisi yang mengenaskan. Semua itu diakibatkan terlena dengan kenikmatan duniawi, berbuat sekehendak hati, dan sewenang-wenang dalam dunia pemerintahan. Semuanya dilenyapkan oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid dalam tempo satu malam saja hingga membuatnya jatuh ke dasar tanah.   


Penobatan Ketiga Putra Mahkota 

1. Pelantikan Al-Amin & Al-Makmun sebagai Putra Mahkota

Pada Tahun 175 H, Khalifah Harun Ar-Rasyid mengangkat kedua putranya, Muhammad dan Abdullah sebagai putra mahkota. Muhammad yang bergelar Al-Amin  dilahirkan dari Siti Zubaidah binti Ja'far bin Abu Ja'far Al-Manshur, yang punya tali keturunan Bani Abbas dan Suku Quraisy.

Sedangkan, Abdullah yang bergelar Al-Ma'mun dilahirkan oleh ibunya, bernama Marajil, bekas budak Persia yang dinikahi Harun Ar-Rasyid, kemudian dia meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan. Ia lahir bertepatan di Masa Pelantikan Khalifah Harun Ar-Rasyid, Tahun 170 H.    

Dari segi waktu, sebenarnya Abdullah Al-Makmun anak pertama, sebab Al-Ma'mun lahir 6 bulan lebih dulu dari saudaranya, Al-Amin. Menurut pandangan Harun Ar-Rasyid, kedudukan Al-Amin lebih baik karena bernasab sambung ke tali Bani Abbas dan Suku Quraisy, apalagi dilahirkan dari rahim istrinya tercinta. 

Oleh karena itu, Al-Amin diangkat sebagai Putra Mahkota pertama pada Tahun 175 H, sedangkan Al-Ma'mun sebagai Putra Mahkota kedua pada Tahun 182 H. 

Al-Amin dan Al-Ma'mun diserahkan pendidikannya pada Yahya bin Khalid Al-Barmaki, kemudian ia menyerahkan tugasnya pada kedua anaknya, Fadhl bin Yahya sebagai mentornya Al-Amin sedangkan Ja'far bin Yahya sebagai mentornya Al-Ma'mun. 


2. Asal-Mula Pengangkatan Al-Amin Sebagai Putra Mahkota

Sedangkan, menurut pendapat Imam Thabari, pengangkatan Al-Amin didasari Fadhl bin Yahya ketika itu mendapat hasutan Isa bin Ja'far, saudaranya Siti Zubaidah, untuk mendukung pengangkatan Al-Amin sebagai Putra Mahkota pengganti Ar-Rasyid.

Isa bin Ja'far membujuknya, jika seandainya Al-Amin berhasil menjadi khalifah pengganti Ar-Rasyid, maka kemungkinan Fadhl akan sangat berkuasa (diangkat sebagai Wazir). Mendapat bujukan itu, Fadhl semakin berhasrat demi meraih kekuasaan melalui Al-Amin. Ia juga berjanji pada Isa akan mewujudkan cita-cita tersebut. 

Ketika Fadhl bin Yahya menjabat Gubernur Khurasan, ia mengeluarkan Taktik Politic Money (membagikan uang demi tujuan politik) demi meraih simpati masyarakat sebanyak mungkin. Dirasa waktu yang tepat, Fadhl bin Yahya membai'at Al-Amin sebagai putra mahkota di hadapan publik Khurasan. 

Langkah ini terkesan subversif dan melangkahi kewenangan khalifah, apalagi saat itu Al-Amin masih berusia 5 tahun. Mendengar pidato Fadhl, penduduk Khurasan menyatakan dukungannya pada Al-Amin untuk diangkat sebagai Putra Mahkota. Berita ini tersiar sampai ke telinga Ar-Rasyid, justru langkah politik Fadhl ini malah diterima oleh Khalifah.

Ia menyetujui pengangkatan Al-Amin sebagai putra mahkota dalam waktu dekat. Acara resmi pelantikan putra mahkota ini disebarluaskan ke penjuru negeri, sedangkan orang yang paling gembira menerima kabar ini, sudah pasti adalah Zubaidah binti Ja'far bin Al-Manshur, Ibunda Al-Amin sendiri. 

Imam Suyuthi menceritakan, ketika penobatan Putra Mahkota Al-Amin berlangsung, seorang penyair yang bernama Salm Al-Khasir melantunkan syair pujian. Isi syair itu membuat Zubaidah tertarik sampai dia menjejali mulut penyair itu dengan satu mutiara yang harganya setara 1.000 dinar.   


3. Pelantikan Qasim Al-Mu'tamin sebagai Putra Mahkota

Pada Musim Haji Tahun 186 H, kali ini Khalifah Harun Ar-Rasyid melantik Qasim sebagai Putra Mahkota Ketiga setelah Al-Amin dan Al-Ma'mun. Sebagaimana diketahui, Qasim dilahirkan dari ibunya, Qasif, mantan budak selir. 

Imam Suyuthi meriwayatkan, belum ada yang tahu pasti berapa usia tepatnya Qasim dilantik. Yang jelas, dia masih sangat kecil saat itu. Setelah penobatan, ia mendapat gelar Al-Mu'tamin.  

Menurut Imam Thabari, jika Al-Amin dan Al-Ma'mun dimentori oleh kedua putra Yahya bin Khalid. Maka, Qasim dimentori oleh Abdul Malik bin Shalih, yang ketika itu menjabat sebagai Gubernur Suriah dan Mesir. 

Sebelum dilantik, Khalifah Harun Ar-Rasyid sempat dirayu oleh Abdul Malik untuk mengangkat Qasim sebagai Putra Mahkota yang Ketiga. Setelah Qasim dilantik, ia diserahi tanggung jawab memegang kendali pemerintahan daerah Jazirah Arab dan Armenia. Namun disebabkan usia belia, secara otomatis pengendali sebenarnya adalah mentornya, Abdul Malik bin Shaleh.


4. Perjanjian Harun Ar-Rasyid terhadap Ketiga Putra Mahkota

Untuk menghindari perpecahan konflik setelah kematiannya kelak, Harun Ar-Rasyid menulis sebuah piagam perjanjian untuk menjalin kesepakatan pada ketiga anaknya, yang berisi sebagai berikut :

“Bahwa, Al-Amin bersumpah akan memenuhi hak Al-Ma’mun, demikian juga sebaliknya. Al-Amin akan memerintah terlebih dahulu. Dan selama dia memerintah, Al-Ma’mun akan selalu mematuhi perintahnya. Akan tetapi, Al-Amin tidak diperbolehkan mencopot jabatan Al-Ma’mun yang sudah ditetapkan oleh Harun Al-Rasyid. 

Adapun untuk Al-Mu’tamin, haknya atas tahta sangat bergantung pada Al-Ma’mun. Al-Mu’tamin harus terlebih dahulu menunjukkan kontribusi dan kapabilitas dirinya hingga dianggap layak oleh Al-Ma’mun menggantikan kedudukannya kelak. Bila tidak, maka Al-Ma’mun diperkenankan untuk memilih orang lain menjadi penggantinya.”

Isi perjanjian ini diminta Harun Ar-Rasyid agar diumumkan di hadapan jama'ah Haji dan penduduk Mekkah. Ia berharap supaya mereka dapat menjadi saksi atas adanya piagam perjanjian ini. Setelah orang-orang mengetahui dan setuju dengan isi piagamnya, Harun Ar-Rasyid segera menggantungkan kertas piagam itu di dinding Kakbah.  


5. Pembagian Kekuasaan pada Ketiga Putra Mahkota

Berdasar Kitab Tarikh Khulafa' karangan Imam Suyuthi menceritakan, Khalifah Harun Ar-Rasyid telah membagikan wilayah kekuasaannya kepada ketiga putra mahkotanya itu. Orang-orang bijak sangat menyayangkan tindakan Harun Ar-Rasyid, yang dikhawatirkan akan timbul bencana besar (pergolakan politik) yang berdampak pada rakyatnya. 

Dan benar saja, sepeninggal Harun Ar-Rasyid, keputusannya ini mengundang perebutan kekuasaan di tubuh Bani Abbasiyah, sampai akhirnya mereka saling berperang satu sama lain. Uniknya, ketika Khalifah Harun Ar-Rasyid membagi-bagi kekuasaan pada ketiga putranya, ada seorang putra lain, yang bernama Al-Mu'tashim

Sayangnya, dia tidak diperhitungkan sama sekali oleh ayahnya, Ar-Rasyid, karena kondisinya buta huruf. Tetapi takdir berkata lain, orang-orang kala itu sempat berkomentar :

“Bahwa Harun Al-Rasyid tidak memberikan kekuasaan pada Al-Mu’thasim karena dia seorang anak yang buta huruf. Namun Allah mengaruniakan khalifah kepadanya. Allah menjadikan anak-anak Al-Mu’thasim, bukan anak-anak Harun Al-Rasyid yang lain, sebagai khalifah sepeninggalnya."


Penyebab Kewafatan Khalifah Harun Ar-Rasyid

Pada Tahun 192 H, Khalifah Harun Ar-Rasyid berfokus untuk memadamkan Pemberontakan di Khurasan terakhir kalinya, yang sedang dipimpin oleh Rafi' bin Laith. Sedemikian besarnya, gerakan ini disponsori dari orang-orang Khurasan, Transoxania, dan beberapa suku di Asia Tengah. 

Sebelum berangkat, Khalifah Harun sempat menyerahkan kendali pemerintahan Bumi wilayah Raqqah di Suriah dan sekitarnya kepada Qasim Al-Mu'taman, sedangkan untuk Kota Baghdad dan sekitarnya kepada Muhammad Al-Amin.  

Imam Thabari meriwayatkan, keputusan itu membuat Al-Makmun iri dan dihasut oleh orang bawahannya, dengan berkata :

“Anda tidak tahu apa yang akan terjadi pada Al-Rasyid saat dia sedang dalam perjalanan menuju Khurasan, yang mana itu adalah wilayah kekuasaan anda; Muhammad (Al-Amin) adalah kakak anda (putra mahkota pertama) dan tampaknya dia ingin menggeser anda dari urutan pewaris tahta setelahnya. 

Karena dia adalah seorang putra dari Zubaidah, paman-pamannya dari pihak ibu adalah trah Bani Hasyim, dan Zubaidah dengan segenap harta kekayaannya akan lebih mensupportnya (Al-Amin). Maka mintalah pada Harun Al-Rasyid agar engkau menemaninya dalam ekspedisi kali ini.”

Kemudian, Al-Makmun sempat membujuk ayahnya agar sudi ditemaninya, namun ajakan itu ditolak. Saat kembali, orang bawahannya segera mendesak Al-Makmun dengan berkata :

"Sekarang katakan padanya (Harun Al-Rasyid), Kamu sekarang sakit, dan aku hanya ingin melayanimu. Aku berjanji tidak akan membebanimu dengan cara apapun.” 

Setelah mendengar hal itu, Harun Ar-Rasyid memperbolehkan Al-Makmun untuk ikut menemaninya.

Dari Muhammad bin Sabbah At-Tabari, pernah menceritakan pengalaman dari ayahnya sewaktu mengantarkan Khalifah Harun Ar-Rasyid beserta rombongan ke Khurasan. Harun pernah bercerita dan memberitahukan penyakitnya pada Sabah. 

Sabah diminta untuk merahasiakannya pada siapapun. Saat perut Harun dibuka, kondisinya sedang dibalut kuat dengan kain sutera. Dia berpesan pada Sabah :

“Ini adalah penyakit yang kusembunyikan dari siapapun. Semua anakku menunggu-nunggu kematianku. Masing-masing mereka memiliki intel yang terus mengamatiku, Masrus intelnya Al-Makmun, sedang Jibril bin Bakhtaisyu intelnya Al-Amin, (dan ada satu orang lagi yang disebutnya, tapi aku lupa siapa). 

Masing-masing dari mereka hanya menghitung-hitung helaan napasku dari hari-hari ku. Mereka merasa bahwa tahun-tahun kehidupanku terlalu panjang. Kalau engkau ingin bukti, akan kusuruh mereka mendatangkan kuda tunggangan yang gemuk padaku, tetapi mereka pasti akan mendatangkan kuda yang kurus kering agar penyakitku makin parah.”

Ibnu Sabbah At-Tabari melanjutkan, kemudian Harun segera memerintahkan suruhannya seperti apa yang dikatakannya tadi. Dan, ternyata memang benar. 

Mereka bertiga malah memberikan seekor kuda yang kurus untuk menambah parah sakitnya, lalu Khalifah Harun menatap mata Sabah sejenak. Kemudian, dia langsung menaiki kuda kurus dan mengucapkan selamat tinggal, Harun pun berangkat ke Jurjan. 

Pada Bulan Safar 193 H, Khalifah Harun Ar-Rasyid berencana memimpin pasukan militer menuju Kota Thous (Tarsus), Khurasan. Saat peperangan berlangsung, penyakit Harun Ar-Rasyid kian semakin parah. Jibril bin Bakhtaisyu yang pernah disebut sebagai intel Al-Amin, dituduh melakukan malpraktik ketika sedang merawat Harun Ar-Rasyid. 

Seharusnya, dia melakukan operasi secepatnya dan segera mengamputasi bagian tubuhnya yang sakit saja. Justru, dia malah mengatakan : “Beri saya waktu sampai besok, karena sebenarnya engkau bisa sehat wal 'afiat kembali.” Namun ternyata, Khalifah Harun Ar-Rasyid meninggal dunia pada keesokan harinya.

Disebutkan yang lain, Khalifah Harun Ar-Rasyid pernah bermimpi, dia melihat dirinya menggenggam tanah berwarna merah, dan ternyata di tempat itulah, dia wafat. Akhirnya, Harun Ar-Rasyid pergi menuju Khurasan. 

Setibanya di Kota Thur, ia jatuh sakit dan kali ini semakin parah. Ia menyuruh pembantunya untuk mengambil sewadah tanah dari tempat ini. Ketika dia melihat tanah berwarna merah berada di genggamannya. Harun Ar-Rasyid segera berkata :

“Demi Allah, inilah telapak tangan yang aku lihat. Dan, tanah yang ada di genggamannya.”

Kemudian, dia menangis dan minta untuk dibuatkan kuburannya. Setelah itu, dia minta dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an seutuhnya dan diminta diantar ke makamnya sendiri. Setelah melihat kuburannya, ia berkata, 

“Menuju tempat inilah perjalanan (hidup ini), wahai anak Adam !” 

Mengetahui ajalnya semakin dekat, Harun Ar-Rasyid menangis sejadi-jadinya dan setelah 3 hari kemudian, dia berpulang ke Rahmatullah.

Ash-Shuli mengatakan, selepas meninggal dunia, Khalifah Harun Ar-Rasyid meninggalkan harta warisan berupa uang sebanyak 1.000.000 dinar, perabotan rumah tangga, mutiara, uang kertas, binatang piaraan yang jika ditotalkan jumlahnya perkiraan mencapai 1.250.000 dinar. 


Kewafatan Khalifah Harun Ar-Rasyid 

Selepas memerintah hampir 23 tahun lebih lamanya, Khalifah Harun Ar-Rasyid wafat pada tanggal 3 Jumadil Akhir 193 H atau bertepatan pada tanggal 24 Maret 809 Masehi, di Tarsus (Thur), Iran ketika berusia 45 Tahun. 

Hingga saat ini, kuburannya masih utuh dan berada di Kompleks Pemakaman Imam Reza (salah satu Imam Syi'ah ke-8) di Provinsi Khurasan, Iran. Demikianlah, nama Harun Ar-Rasyid akan selalu harum di tengah-tengah Umat Islam, baik dari kalangan raja-raja maupun rakyat jelata.

Di Masa Pemerintahannya, Daulah Abbasiyah telah menjadi salah satu imperium terbesar di dunia, menandingi Imperium Romawi itu sendiri.

Sebelum wafat, Khalifah Harun Ar-Rasyid sempat mengangkat ketiga putra mahkotanya menjadi gubernur wilayah untuk mengukur seberapa besar kemampuan mereka dalam memerintah. 

Untuk Muhammad Al-Amin, diserahkan memerintah di wilayah barat, untuk Abdullah Al-Ma'mun berada di wilayah Khurasan (Timur), sedangkan Qasim Al-Mu'tamin mengurusi wilayah Armenia dan Jazirah Arab (Hijaz). 

Ia menobatkan Muhammad Al-Amin sebagai putra mahkota pertama, Abdullah Al-Ma'mun sebagai putra mahkota kedua, sedangkan Qasim Al-Mu'tamin sebagai putra mahkota yang terakhir. Sayangnya, sepeninggal ayahnya wafat, bakal terjadi perebutan kekuasaan oleh ketiga anaknya itu yang membuat situasi politik dalam negeri tergoncang. 

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.