Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Dinasti Bani Abbasiyah : Khalifah Al-Mahdi (158-169 H/775-785 M)

Dinasti Bani Abbasiyah : Khalifah Al-Mahdi (158-169 H/775-785 M)

Biografi Muhammad Al-Mahdi

Muhammad Al-Mahdi, khalifah ketiga Bani Abbasiyah dengan nama asli Muhammad bin Abdullah (Al-Manshur) bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, dilahirkan di Idzaj pada Tahun 129 H, tapi ada riwayat lain yang mengatakan pada Tahun 126 H. Sedangkan, ibunya bernama Ummu Musa (Arwa) binti Al-Manshur Al-Himyariyah yang berasal dari Yaman.

Ia biasanya dipanggil Abu Abdullah, dan mempunyai gelar 'Al-Mahdi' yang artinya pemimpin yang baik, pemandu, penuntun, penebus. Menurut Imam Suyuthi dalam kitabnya, ia dikenal sebagai orang yang mempunyai sifat pemurah dan terpuji, bentuk tubuhnya indah, menyenangi rakyatnya, dan memiliki akidah yang baik. 

Saat berusia 6 tahun, Bani Abbasiyah sudah memegang tampuk kekhilafahan. Ayahnya, Al-Manshur diangkat sebagai khalifah saat dirinya masih berusia 10 tahun. Di usia 15 tahun, dia dipercaya memimpin pasukan untuk memadamkan pemberontakan Abdul Jabbar bin Abdurrahman, Gubernur Khurasan.

Setelah berhasil memadamkannya, pasukan mereka giliran menaklukkan daerah Tabaristan dan sekitarnya atas perintah ayahnya. Pada Tahun 144 H, ia diangkat sebagai Gubernur Tabaristan dan sekitarnya, dan di tahun yang sama, dia menikahi saudara sepupu, Rithah binti Abul Abbas Ash-Shaffah.

Selama di sana, ia mempelajari ajaran Islam dengan akhlak yang baik, bergaul dan berguru dengan para ulama, dan karakternya sangat baik.

Pada Tahun 147 H, ia diangkat resmi sebagai Putra Mahkota dengan menggeser kedudukan Isa bin Musa, ia diiming-imingi akan naik jadi khalifah setelah Al-Mahdi nanti. Kemudian, Al-Mahdi tinggal bersama istrinya di Ravy sampai Tahun 151 H.  

Suatu hari, dia meminta Khalifah Al-Manshur, ayahnya untuk dibuatkan baginya dan para pasukannya, Kota Ar-Rushafah, yang berada di sisi timur Kota Baghdad dan diangkat sebagai Amirul Hajj pada Tahun 153 H. Pada Tahun 155 H, ia juga minta dibangunkan Kota Ar-Rafiqah dengan meniru gaya arsitektur Kota Baghdad. 

Di penghujung Dzulhijjah, Khalifah Al-Manshur wafat. Pembai'atan Al-Mahdi sebagai Khalifah segera digelar di Baghdad, usai mendapat kabar kewafatan ayahnya dari utusan rombongan Haji yang menyertai Al-Manshur. Mereka melantik Al-Mahdi dengan disodorkan tongkat Rasulullah SAW., gaun diwariskan para khalifah dan stempel khalifah. Penduduk Baghdad juga ikut setuju membai'atnya.  


Legitimasi Politik Al-Mahdi antara Syiah vs Abbasiyah

Alkisah, inilah asal mula Khalifah ketiga Abbasiyah ini bergelar Al-Mahdi dengan nama aslinya Muhammad bin Abdullah (Al-Manshur) Al-Abbas. Suatu hari, ada riwayat hadits yang menyebutkan   

"Al-Mahdi, namanya akan menyerupai namaku (Muhammad). Dan, nama ayahnya sama pula dengan nama ayahku (Abdullah)." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Di samping itu, hadits diriwayatkan Ibnu 'Ady dari Utsman dengan sanad yang marfu' (dinisbatkan langsung ke Nabi SAW.), Rasulullah SAW. bersabda :

"Al-Mahdi adalah keturunan Al-Abbas, pamanku." (Diriwayatkan sendirian oleh Muhammad bin Al-Walid, mantan budak Hasyim yang terkenal sebagai pemalsu hadits)  

Untuk riwayat hadits pertama sebagaimana disebutkan di atas, yang bersumber dari Abu Dawud dan Tirmidzi dianggap shahih oleh Imam Suyuthi, sedangkan riwayat hadist kedua dinyatakan bermasalah karena salah seorang perawi, Muhammad bin Al-Walid terkenal dirinya sebagai pemalsu hadits. 

Tetapi, kedua hadist itu tetap saja dikombinasikan dan dipergunakan sebagai alat memperkuat legitimasi politik Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur atas kelanggengan Dinasti Bani Abbasiyah. 

Dalam kisah khalifah sebelumnya, masih ada rebutan klaim atas nama Keluarga Nabi Muhammad SAW., sebenarnya yang berhak menjadi pemimpin (khalifah) apakah dari keluarga Abbas, sang paman Nabi atau dari keluarga Ali bin Abi Thalib dan Fatimah (Alawiyyin) ? 

Untuk pendapat pertama dipegang erat oleh keluarga Abbasiyah, sedangkan dijadikan dalih oleh golongan Syi'ah dan Alawiyyin. Itupun, pemimpin pewaris sah dari keturunan Nabi SAW. dari jalur Ali dan Fatimah terbagi lagi, apakah dari keturunan Hasan atau Husain ?

Nah, kebetulan ada tokoh yang menyambung 2 garis keturunan cucu Rasulullah SAW. tersebut, yaitu  Muhammad An-Nafs Az-Zakiyah dari Golongan Syi'ah Zaidiyah, yang bernasab sama yang diklaim dalam hadits di atas (Muhammad bin Abdullah). 

Dia mengklaim dirinya adalah sosok Imam Mahdi, yang dipercaya sebagai ratu adil yang pantas menduduki kursi khilafah. Namun, pernyataan itu ternyata ikut ditentang juga oleh kelompok Syi'ah Imamiyah. 

Singkat cerita, klaim itu juga ditolak mentah-mentah dari keluarga Abbasiyah. Mereka bersepakat melegitimasi Al-Mahdi dengan liciknya melalui 3 cara, yaitu : 

  • Pertama, menggaungkan hadits palsu yang kedua (seperti di atas) atas klaim Imam Mahdi dari garis keturunan Abbas, Paman Nabi. 
  • Kedua, Khalifah Al-Manshur memerintahkan pasukannya untuk membunuh Muhammad An-Nafs Az-Zakiyah di Madinah. 
  • Terakhir, mengetahui nama asli Abu Ja'far Al-Manshur adalah Abdullah sedangkan nama anaknya, Muhammad, lantas ia melabeli anaknya dengan gelar Al-Mahdi, supaya seolah-olah keluarga Abbas mengatakan, "Kami pun juga punya Al-Mahdi," demi konsolidasi dukungan politik untuk mempertahankan kekuasaannya. 

Satu lagi, sebenarnya ada pernyataan Hadits dari Abu Dawud (Hadist No. 3739) yang mengatakan bahwa menjelang kedatangan Imam Mahdi akan ada seorang laki-laki yang bernama Manshur yang akan memperkokoh keluarga Muhammad, sebagaimana Rasulullah memperkokoh Bangsa Quraisy dan wajib atas setiap orang beriman untuk mengikuti seruannya (taat kepadanya).

Menurut Al-Hafidz Al-Mundziri, perawi hadits terkemuka menyebutkan perihal hadits di atas bersanad dha'if atau lemah, dan kemungkinan digunakan sebagai alat legitimasi mempertahankan kekuasaan Dinasti Abbasiyah saat itu.   



Naik Tahta Sebagai Khalifah

Sesuai wasiat As-Saffah, seharusnya kursi khilafah diserahkan kepada Isa bin Musa setelah Al-Manshur. Sebelumnya, ia sangat berjasa sekali bagi keutuhan Dinasti Abbasiyah. Ia sosok pendukung Al-Manshur yang sangat setia, bahkan dia juga yang berjasa menumpas pemberontakan Alawiyyin (tokoh yang mengaku dirinya Imam Mahdi), Abdullah bin Ali (paman Al-Manshur), dan Panglima Abu Muslim Al-Khurasani. 

Setelah pondasi kekuasaan Al-Manshur sudah kokoh dan menguat, sayangnya ia malah mendepak keponakannya sendiri, Isa bin Musa dari posisi Putra Mahkota dan digantikan dengan putranya, Al-Mahdi. 

Menariknya, Khalifah Al-Manshur berhasil meyakinkan keponakannya itu, dia akan menjadi penerus khalifah setelah Al-Mahdi dan akhirnya proses pergantian Putra Mahkota berjalan dengan tenang tanpa ada gejolak yang muncul. 

Sepeninggal Al-Manshur wafat, tiba-tiba Isa bin Musa beserta para pengikutnya bangkit menginginkan kursi khilafah. Kala itu, mereka juga ikut mengiringi rombongan Khalifah Al-Manshur melakukan perjalanan Haji ke Mekkah. 

Untungnya, beberapa tokoh penting dan petinggi Abbasiyah yang juga ikut perjalanan haji langsung melapor ke Musa Al-Hadi (putra Al-Mahdi). Melalui putranya inilah, mereka resmi membai'at Al-Mahdi sebagai khalifah selanjutnya.

Terkecuali Isa bin Musa yang masih belum menyatakan bai'atnya, kemudian dia dikepung oleh para laskar Abbasiyah dan ditodong senjata. Ali bin Isa bin Mahan, salah satu pejabat tertinggi dalam rombongan itu mendatangi, menghunuskan pedangnya, sambil berkata :

"Demi Allah, bersumpah setialah, atau aku akan memenggal kepalamu !” 

Merasa terpojok, Isa bin Musa akhirnya harus memendam rasa kecewanya dan terpaksa membai'at kepada Khalifah Al-Mahdi melalui putranya. 

Sedangkan di Baghdad, ketika Al-Mahdi sudah menerima kabar kematian ayahnya, dia merasa sangat terpukul, setelah itu dia naik ke mimbar dan berpidato di depan orang banyak sambil berkata :

”Sesungguhnya, Amirul Mukminin (Al-Manshur) adalah seorang hamba yang diminta lalu memenuhi permintaan itu dan seorang yang diperintah lalu menaati perintah itu.”

Sambil mengucapkan kalimat tersebut, kedua matanya berkaca-kaca. Kemudian dia melanjutkan,

"Rasulullah juga pernah menangis saat dia perpisah dengan orang-orang yang dicintainya. Kini saya telah berpisah dengan sosok agung, dan kini saya dibebani beban yang sangat berat. Hanya di depan Allah saya mengharapkan pahala untuk Amirul Mukminin, dan hanya kepada-Nya saya memohon pertolongan untuk memimpin kaum muslimin."

“Wahai Manusia, taatlah kalian kepada kami saat sendiri dan saat bersama-sama. Niscaya kalian akan selamat dan mendapat balasan yang baik. Rendahkanlah ‘sayap’ ketaatan kalian untuk orang yang menegakkan keadilan, mengangkat beban dari kalian, serta menyebarkan kedamaian di antara kalian sebagaimana dikehendaki Allah. Demi Allah, aku akan menghabiskan umur antara menjatuhkan hukuman dan melakukan kebaikan kepada kalian.” 


Kebijakan Pemerintahan Khalifah Al-Mahdi

Menurut Imam Suyuthi, Khalifah Al-Mahdi dilantik sebagai khalifah di awal Bulan Dzulhijjah 158 H saat berusia 32 atau 35 tahun, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Gubernur Tabaristan. 

Ia memerintah kurang lebih selama 10 tahun, yang dipandang sebagai masa peralihan antara zaman penuh kekerasan ke zaman keramahan. Luasnya ilmu pengetahuan dan peradaban menjadi perhiasan pada masanya, dan para Khalifah sesudahnya. Ia juga khalifah pertama kali yang pindah dan bertempat tinggal di istana barunya, Istana 'Isabadz pada Tahun 166 H.


a. Pembangunan Yang Dilakukan oleh Al-Mahdi

Khalifah Al-Mahdi memulai masa pemerintahannya dengan melakukan berbagai macam perbaikan dan pembangunan, berkat harta peninggalan (kas negara) yang amat banyak sejak Zaman Abu Ja'far Al-Manshur, di antara usahanya antara lain ialah :


1) Mendirikan Jalan dan Fasilitas Sepanjang Jalan ke Mekkah

Pada Tahun 160 H, sepulangnya dari tanah suci, Khalifah Al-Mahdi mulai membangun infrastruktur sepanjang jalan menuju Mekkah, berupa pos pemberhentian (semacam rest area) di beberapa titik yang di dalamnya terdapat kastil, tangki air, sumur, kolam atau waduk, dan menara api semacam mercusuar di malam hari. 

Ia juga mengangkat wali yang bertugas untuk menjaga, memperbaiki, dan mengembangkan fasilitas ini. Proyek pembangunan ini memakan waktu hampir selama 11 tahun, dan rampung pada Tahun 171 H. Lalu, disempurnakan lagi oleh istri Khalifah Harun Ar-Rasyid, Siti Zubaidah.

Oleh sebab itulah, jalur haji yang membentang dari Kufah menuju Tanah Suci Makkah dinamai dengan Darb Zubaidah (Jalur Zubaidah) hingga sekarang. 


2) Memperluas Masjidil Haram

Di tahun yang sama pula (160 H), Khalifah Al-Mahdi tengah melaksanakan ibadah haji, tiba-tiba ia mendapat keluhan dari para penjaga Kakbah. Mereka mengaku, merasa sangat khawatir saking banyaknya kiswah (kain penutup Kakbah) yang menempel pada bagian dinding dan atap Kakbah, yang menjadikan pemandangan terkesan tidak elok, apalagi lama-kelamaan dapat merusak bangunan itu sendiri.   

Menyaksikan keadaan itu, Khalifah Al-Mahdi langsung memerintahkan untuk membersihkan Kakbah dari kain-kain kiswah yang mengganggu itu, kemudian mereka memasangi sehelai kain kiswah yang menutupi seluruh bangunan Kakbah. Demi kenyamanan para jama'ah haji, dia juga memerintahkan mereka untuk menaburi minyak wangi di seluruh kawasan Masjidil Haram. 

Setahun kemudian (161 H), Khalifah Al-Mahdi langsung gencar merenovasi Masjidil Haram secara besar-besaran, dan menambah beberapa bangunan infrastruktur di Kota Mekkah. Pada Tahun 167 H, dia memerintah untuk melakukan perluasan Masjidil Haram demi memperlebar ruangan seiring bertambahnya jama'ah Haji. 

Selain itu, dia juga mengeluarkan titah yang sama untuk merenovasi beberapa masjid lainnya, seperti di Kota Bashrah dan Baghdad. Dalam Kitab Tarikh Khulafa' menyebutkan, dia-lah orang pertama yang memerintahkan para gubernur di berbagai wilayah untuk memendekkan semua mimbar masjid seukuran dengan mimbar Rasulullah SAW. 


3) Membangun Jawatan Pos Berunta dan Berkuda dari Irak menuju Makkah, Madinah, dan Yaman

Al-Mahdi, khalifah pertama yang pertama kali membangun jaringan pos dari Irak menuju Hijaz, di antara kota-kota meliputinya seperti Mekkah, Madinah, Hadramaut, sampai ke Yaman, baik menggunakan kendaraan unta, keledai, dan kuda. Dengan adanya jalur ini, sirkulasi komunikasi, antar jasa dan barang setiap wilayah Abbasiyah semakin cepat. 


4) Memberikan Santunan Sosial bagi Orang-Orang yang Tidak Mampu Bekerja Lagi

Saat kas negara jatuh di tangan Al-Mahdi, dia mengembalikan hak-hak orang lain yang telah dirampas, mengeluarkan sebagian besar tabungannya kepada orang-orang yang berhak, dan berlaku baik kepada sanak famili dan mantan budaknya. 

Ia juga kerap memberikan santunan sosial kepada orang-orang yang tidak mampu lagi bekerja, dengan tujuan agar tidak mengemis. Saking dermawannya, dia hampir mendekati sifat boros, beda halnya dengan sikap ayahnya yang suka perhitungan soal harta.   


5) Penemuan Kertas dan Produksi secara besar-besaran

Khalifah Al-Mahdi, sangat menaruh perhatiannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut beberapa ahli sejarah, kemajuan ilmu pengetahuan sangatlah pesat semenjak adanya penemuan kertas, yang sebelumnya mereka hanya mengandalkan Papyrus, kertas kuno asal Mesir. 

Eamon Gearon, seorang peneliti bahasa-kultur Arab mengatakan, teknologi pembuatan kertas pertama kali ditemukan dalam Dunia Islam pada Tahun 133 H atau 751 Masehi di Masa Pemerintahan Abul Abbas As-Saffah. 

Setelah pertempuran 5 hari di Talas, daerah perbatasan Kaisar China dan Abbasiyah, yang kini menjadi bagian wilayah Kirgistan, kemenangan jatuh di tangan Abbasiyah yang telah memakan banyak korban di antara kedua belah pihak dan mereka berhasil menawan ribuan tentara China, yang di antara mereka ada 2 orang ahli dalam pembuatan kertas.    

Diperkuat lagi, pertama kali berdirinya pabrik pembuatan kertas di Dunia Islam, berada di Samarkand, Uzbekistan, yang berjarak sejauh 300 Mil dari Kota Talas, bekas pertempuran tentara Abbasiyah dan China. Kertas mulai diproduksi besar-besaran di Baghdad dimulai pada Tahun 793 Masehi, di Kairo pada Tahun 900 Masehi, sedangkan di Maroko pada Tahun 1100 Masehi. 

Di Masa Al-Mahdi, teknologi pembuatan kertas sudah mencapai tahap inovasi yang lebih baik daripada sebelumnya, sebelumnya bahan kertas biasanya mengandalkan kulit pohon murbei, namun karena keterbatasan (tidak ditemukan pohon murbei di Arab), maka para ilmuwan Islam memutar otak dengan mengganti bahannya pakai serat pohon linen dan kapas.

Semenjak inilah, komoditas kertas merupakan penunjang infrastruktur utama yang mewujudkan Zaman Keemasan Islam. Dengan adanya ini, kebijakan Al-Mahdi bisa digalakkan lebih banyak lagi untuk menulis, menerjemahkan, dan menyebarkan ilmu pengetahuan ke segala penjuru wilayah Islam.  


6) Membebaskan Tahanan dan Narapidana Politik

Al-Manshur terkesan berdarah dingin dan gampang sekali menumpahkan darah siapapun termasuk koleganya. Berbeda dengan ayahnya, Al-Mahdi suka memaafkan dan tidak suka pertumpahan darah.

Di Tahun Pertama, Khalifah Al-Mahdi segera membebaskan seluruh tawanan dan narapidana politik yang pernah dijebloskan Al-Manshur, kebanyakan di antara mereka golongan Syi'ah dan Alawiyin. Kebijakan amnesti khalifah ini tidak berlaku bagi orang yang terbukti membunuh secara bathil, korupsi, atau pernah bermasalah dengan orang lain di luar urusan politik. 

Sebelumnya di Masa Al-Manshur, kebijakan khalifah dikenal kejam dan bengis sekali, terutama kepada Kaum Alawiyin. Semenjak meletusnya pemberontakan Muhammad dan Ibrahim sebagaimana yang diceritakan di atas, dia mengaku merasa kerepotan sekali, sebab pengaruh Al-Mahdi sudah menjalar kemana-mana. 

Sampai-sampai, dia memerintahkan untuk menghabisi hampir seluruh keturunan Ali bin Abi Thalib, baik dengan cara dibunuh atau ditahan. Sama hal para pendukungnya, mereka mendapat siksaan yang kejam seperti yang dialami oleh Imam Maliki (terkena hukum cambuk) dan Imam Hanafi (tewas diracun atau dipenjara seumur hidup).

Setelah itu, kekuatan pendukung keturunan Ali bin Abi Thalib menurun drastis, tidak ada satu pun yang berani menentang kekuasaan Al-Manshur, sehingga Abbasiyah bisa leluasa berkembang dan mempertahankan legitimasinya. 

Di Masa Pemerintahan Al-Mahdi, para simpatisan Kaum Alawiyin mulai dibebaskan, di antara mereka ada Ya'qub bin Dawud dan Hasan bin Ibrahim, sanak famili dalang pemberontakan tersebut. Setelah dibebaskan, mereka berdua nampak menjalin hubungan dekat dengan Khalifah dan lama-kelamaan, mereka berdua dipercayakan menduduki suatu jabatan dalam pemerintahan.  

Seiring berjalannya waktu, hubungan mereka berdua sangat berdampak pada situasi politik secara signifikan. Pada mulanya, simpatisan Kaum Alawiyin bergerak sebagai oposisi perlahan-lahan melunak dan merapat ke barisan pemerintah.

Akhirnya, legitimasi kekuasaan Abbasiyah semakin lebih kokoh dan kuat di Masa Pemerintahan Al-Mahdi tanpa perlu pertumpahan darah sedikit pun. Khalifah berharap, tetap menjaga hubungan kedua belah pihak ini selama mungkin supaya terus lestari tanpa ada rasa kebencian satu sama lain.  



b. Penumpasan Orang-Orang Zindik (Atheis dan Aliran Sesat)

Khalifah Al-Mahdi tidak selalu bersikap lemah lembut kepada siapa saja, melainkan kerap kali berlaku keras kepada orang-orang Zindik (Atheis dan Penganut Aliran Sesat). Kebanyakan di antara mereka gemar menghalalkan sesuatu yang haram, serta merusak tatanan kesopanan dan budi pekerti. 

Mengatasi hal ini, Khalifah Al-Mahdi mendirikan jabatan istimewa yang dinamai 'Shahibul Zanadiqah', yang bertugas membasmi para pengikut Zindiq beserta seluruh ajarannya. Upaya ini juga diteruskan oleh putra sulungnya, Khalifah Musa Al-Hadi.


Aliran Sekte Sesat Al-Muqanna

Sekian banyaknya aliran sesat yang bermunculan di Masa Al-Mahdi, ada sebuah aliran sesat yang terkenal di kalangan Umat Islam kala itu, yaitu aliran kelompok Hakim Al-Muqanna, yang bermarkas di Kota Merv, Khurasan. Ia dikenal lelaki bertopeng emas. Konon, wajahnya rusak karena suatu penyakit, sampai dia harus menutupinya dengan topeng emas.

Diceritakan, dia pernah menjadi pendukung Abu Muslim Al-Khurasani. Entah bagaimana kisahnya sampai dia mendirikan aliran sesat, tiba-tiba dia mengaku dirinya Tuhan pada Tahun 159 H. Dia percaya, Tuhan menciptakan Adam dan masuk ke raganya, lalu masuk ke Nabi Nuh, kemudian ke tubuh Abu Muslim Al-Khurasani, lalu ke raga dirinya. 

Dalam waktu singkat, dia mendapat banyak pengikut, terutama dari Kota Merv, Khurasan. Mereka pun percaya dan juga menyembahnya layaknya Tuhan. Tidak sampai di situ saja, aliran sesatnya ini ternyata diterima di Bukhara dan sekitarnya. 

Merasa diri mereka sudah kuat, para pengikut Al-Muqanna mulai memaksa dan membantai orang-orang Islam lainnya yang tidak sepaham dengan mereka. Berita itu akhirnya sampai ke telinga Al-Mahdi, dia segera memerintahkan untuk menghentikan pemberontakan itu, sayangnya upaya itu gagal dan ajarannya sudah menyebar ke berbagai daerah. 

Akhirnya, laskar Abbasiyah segera mengatur strategi dan membagi pasukannya menjadi beberapa divisi. Perlahan-lahan, mereka berhasil menaklukkan satu persatu wilayah yang dikuasai Al-Muqanna selang 4 bulan lamanya. 

Selanjutnya, mereka mengejar Hakim Al-Muqanna beserta 20.000 para pengikutnya yang tersisa, sampai akhirnya, mereka semua terkepung di dalam sebuah benteng bernama Bassam. Kala itu, panglima pasukan Abbasiyah sedang kebingungan, dia berpikir alangkah baiknya Al-Muqanna saja yang dihukum dan di saat bersamaan, ribuan pengikut Al-Muqanna memohon pengampunan (amnesti) kepada Khalifah Al-Mahdi. 

Diputuskan, mereka yang ingin mendapat amnesti dimohon segera keluar dan menyatakan menyerah. Akhirnya, kebanyakan dari mereka keluar dari benteng, hingga tersisa sekitar 2.000 orang pengikut termasuk Hakim Al-Muqanna. 

Dengan situasi terjepit itu, tiba-tiba Hakim Al-Muqanna langsung menyalakan api besar di dalam benteng, dan meminta kepada seluruh para pengikut setianya yang masih tersisa untuk ikut melompat masuk ke dalam kobaran api itu. 

Lalu, mereka pun terjun masuk bersamaan, termasuk Hakim Al-Muqanna dan keluarganya. Di luar dugaan, laskar Abbasiyah berupaya menyelamatkan siapa saja yang masih bisa diselamatkan, namun semuanya terlambat. Usai api padam, para tentara segera mencari sisa jasad Al-Muqanna, kemudian diserahkan ke hadapan Khalifah Al-Mahdi.  


c. Penaklukan Wilayah 

- Hubungan Erat Maharaja Perancis dan Dinasti Abbasiyah 

Di Masa Al-Mahdi, kekuasaan Islam semakin disegani oleh kerajaan-kerajaan lain termasuk Byzantium Romawi. Perselisihan tiada henti antara Daulah Umayyah di Andalusia dan Bani Abbas, dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Maharaja Karel De Grote (Perancis) bersahabat dengan para khalifah Abbasiyah. 


- Ekspedisi Menuju Hindustan (India)

Pada Tahun 160 H, Khalifah Al-Mahdi mengirimkan laskar pasukan yang dipimpin oleh Panglima Abdul Malik bin Shahab Masmai. Setibanya di tepi pantai, ia berada di daerah Arbad atau Barbad. Di sana, mereka bertempur dengan pasukan setempat, dan kemenangan jatuh di tangan Islam.

Laskar Abbasiyah berhasil menaklukkan sebagian tanah Hindustan, menjarah harta benda yang ditemui, membakar kuil-kuil, dan menghancurkan patung-patung Buddha. Peperangan hebat itu diakhiri dengan gencatan senjata kedua belah pihak selama 3 tahun. 

Tak lama kemudian, mereka ditimpa wabah penyakit yang telah menewaskan kurang lebih 1000 nyawa tentaranya. Keadaan ini membuat Panglima Abdul Malik tidak melanjutkan ekspedisinya kembali dan memilih pulang ke Baghdad.

Di tengah perjalanan, kapal-kapal besar Angkatan Abbasiyah diserang Badai Teluk Persia. Sebagian besar kapalnya hancur tenggelam, banyak tentaranya mati terkubur di laut, dan hanya sedikit pasukan yang kembali dengan selamat.  


- Ekspedisi Menuju Asia Kecil 

Pada Tahun 162 H, pasukan Romawi menyerang perbatasan daerah Abbasiyah di Asia Kecil. Mereka berhasil menguasai beberapa kota di wilayah tersebut. Mengetahui hal itu, pada Tahun 163 H, Khalifah Al-Mahdi mendeklarasikan jihad melawan Byzantium Romawi.  

Khalifah mengumpulkan laskar tentara dari berbagai penjuru, dan Al-Mahdi sendiri yang memimpin pasukan itu. Untuk roda pemerintahan, diwakilkan kepada anaknya, Musa Al-Hadi, sedangkan Khalifah Al-Mahdi ditemani oleh anak keduanya, Harun Ar-Rasyid. 

Banyak tokoh militer dan prajurit terbaik yang diikutsertakan dalam pertempuran ini, di antaranya Isa bin Musa (mantan Putra Mahkota) dan Hasan bin Qataba (Jenderal Perang Khurasan di masa Revolusi Abbasiyah).

Peperangan ini menjadi ajang panggung bagi Harun Ar-Rasyid untuk menunjukkan kehebatannya di tengah para jenderal terbaik dan di hadapan ayahnya. Dia diserahi untuk memimpin laskar pasukan Abbasiyah. Akhirnya, mereka berhasil merebut kembali kota-kota yang barusan dikuasai Romawi, tetapi tidak melanjutkan lebih jauh lagi.  

Menyaksikan kabar baik itu, Khalifah Al-Mahdi sangat bangga atas keberhasilan ini dan menobatkan Harun Ar-Rasyid sebagai Gubernur Azarbaijan, Armenia dan sekitarnya. 


- Kesepakatan Damai Byzantium Romawi dan Abbasiyah

Pada Tahun 163 H, Khalifah Al-Mahdi mengirimkan laskar pasukan yang dikomandai Harun Ar-Rasyid, dibantu oleh Panglima Khalid Al-Barmaky. Kekuatan tentara Abbasiyah saat itu tergolong sangat kuat, sampai menumbangkan apa saja yang menghalanginya. Mereka juga berhasil menaklukkan Benteng Smala, benteng terkuat yang dimiliki Byzantium Romawi. 

Pada Tahun 165 H, Khalifah Al-Mahdi mengadakan serangan ke Romawi lagi. Laskar pasukan yang dipimpin Harun Ar-Rasyid, merangsek maju menuju tepi Selat Bosporus. 

Setelah berhasil menembus pertahanan Konstantinopel, pasukan Abbasiyah memaksa Ratu Irene (Barat : Augusta) mantan Istri Kaisar Leo, sebagai pemangku jabatan Kaisar sementara, mewakili putranya Constantyne VI yang masih kecil, dengan membayar upeti tiap tahun sebesar 90.000 dinar dan memperbolehkan akses seluas-luasnya bagi Umat Islam untuk berdagang di wilayah kekuasaannya.   

Ratu Irene menyetujui syarat perundingan damai itu, dia juga mengaku sangat kagum atas kehebatan Harun Ar-Rasyid sebagai prajurit yang gagah berani menundukkan Kekaisaran Romawi. Dari hasil penaklukan ini, laskar Abbasiyah berhasil membawa 20.000 ekor sapi dan kambing, bahan-bahan tekstil, sampai segala jenis persenjataan. 

Keberhasilan Harun inilah yang menjadikan dirinya bintang baru di mata Umat Islam. Namanya mulai dikenal luas dan harum di kalangan masyarakat dan pejabat. Kegembiraan Khalifah Al-Mahdi tidak bisa dibendung atas menyaksikan kemenangan yang gemilang ini.

Sesampainya mereka di Baghdad, Khalifah Al-Mahdi segera menobatkan Harun, putra keduanya menjadi Putra Mahkota setelah kakaknya, Musa Al-Hadi. Di saat itulah, Harun juga diberi julukan dari ayahnya, dengan gelar "Ar-Rasyid." 


- Memadamkan Pemberontakan di Tabaristan

Di Tahun 167 H, terdapat 2 penguasa Tabaristan, yang bernama Wandahurmuz dan Sharvin. Mereka berdua bersepakat untuk melancarkan pemberontakan pada Dinasti Abbasiyah. Khalifah Al-Mahdi segera turun tangan dan memerintahkan putra mahkotanya, Musa Al-Hadi untuk menghentikannya.

Menurut Imam Thabari, selama Masa Pemerintahannya, pertama kalinya ekspedisi militer ini diatur langsung oleh Khalifah Al-Mahdi. Pasukan yang dipimpin oleh Musa Al-Hadi dipersenjatai lengkap dan berjumlah sangat besar. Khalifah juga menunjuk langsung orang-orang terbaik untuk membantu anaknya. 

Dalam waktu singkat, pasukan Musa Al-Hadi berhasil memadamkan api pemberontakan itu dan menghukum semua para pemberontak. 


Drama Politik Pencopotan Isa bin Musa dari Putra Mahkota

Pada Tahun 159 H, Khalifah Al-Mahdi berniat menyingkirkan Isa bin Musa kesekian kalinya dari kedudukan putra mahkota. Seperti diceritakan sebelumnya, ia berkali-kali digulingkan dan naik kembali sebagai putra mahkota, karena berdasarkan wasiat As-Saffah, digeser oleh Al-Manshur, dan digantikan oleh Al-Mahdi. 

Selepas Khalifah Al-Manshur wafat, Isa bin Musa beserta para pendukungnya berusaha merebut kursi khilafah. Namun, cita-cita itu kandas karena dihalangi beberapa petinggi Abbasiyah, dan diserahkan kepada Al-Mahdi melalui perantara putranya, Musa Al-Hadi di tengah perjalanan Haji. 

Menghindari terjadinya pertumpahan darah, dia dijanjikan oleh mereka akan kedudukan putra mahkota setelah Al-Mahdi wafat. Setahun kemudian, berita penggeseran putra mahkota Isa bin Musa menyebar ke mana-mana. 

Berawal dari desas-desus, tiba-tiba datanglah surat dari Khalifah Al-Mahdi yang mengundangnya datang ke Istana. Mengetahui maksud tujuan ini, Isa bin Musa diam tak bergeming. Dia lebih baik tak menggubris isi undangan tersebut. Kedua kalinya, undangan itu datang lagi tapi dia tetap merespon dingin. 

Sekian kalinya, Abbas bin Muhammad, tokoh terkemuka Bani Abbas sekaligus paman Al-Mahdi datang menemui Isa bin Musa, sambil membawa perintah untuk membujuknya bersedia datang ke Istana. Isa bin Musa bersikeras menolak, tapi kali ini ia membalas surat khalifah itu atas sebab ketidakhadirannya karena alasan tertentu. 

Mengetahui hal itu, Al-Mahdi tampak geram dan segera memerintahkan Muhammad bin Farrukh Abu Hurairah, komandan pasukan, untuk membawa paksa Isa bin Musa ke hadapannya. Tidak tanggung-tanggung, komandan pasukan mengerahkan ribuan laskarnya bersenjata lengkap, seakan-akan ingin berperang. 

Sesampainya di sana, mereka membunyikan genderang, sebagai tanda ancaman akan menyerang. Isa bin Musa sangat ketakutan, apalagi para pengawalnya tidak bisa berbuat apa-apa. Muhammad bin Farukh mendobrak pintu rumahnya, dan memerintahkan Isa bin Musa untuk menghadap ke Khalifah. 

Tapi, ia tetap saja beralasan kalau dirinya sakit. Alasan itu tidak diindahkan oleh Muhammad bin Farukh, lalu dia membawa paksa Isa bin Musa ke Baghdad. 

Setibanya di Istana pada awal Tahun 160 H, Isa bin Musa mulai diterima baik-baik oleh Khalifah Al-Mahdi. Sanak famili dan para pejabat istana masih memperlakukan dirinya selayaknya Putra Mahkota. Akhirnya, dia menetap di istana selama beberapa hari, dan bisa leluasa keluar-masuk bertemu Khalifah.

Suatu hari, Isa bin Musa diundang menghadiri sebuah acara yang diikuti oleh beberapa kelompok atau partai pendukung Abbasiyah. Tiba-tiba, para ketua partai menyerang dan mencaci-maki seenaknya kepada Isa bin Musa. Khalifah Al-Mahdi yang sedang menyaksikan hal itu, sebenarnya dia tidak setuju atas perlakuan mereka, tetapi dia ambil sikap diam saja dan membiarkan kondisi itu terus terjadi.

Melihat Al-Mahdi diam saja, menjadikan partai-partai pendukung Abbasiyah itu terus melancarkan serangan caci-maki dan hujatan ke Isa bin Musa. Kondisi itu sengaja dibiarkan selama beberapa hari. Sampai akhirnya, beberapa tokoh senior Abbasiyah menasehati supaya mereka membawa permasalahan ini ke hadapan Khalifah. 

Sejak itulah, diadakan sebuah majelis atau pertemuan. Saat di majelis, mereka masih saja melancarkan ujaran kebencian dan permusuhan pada Isa bin Musa. Mereka terang-terangan, tidak mengakui dia sebagai putra mahkota. 

Melihat kesempatan ini, Khalifah Al-Mahdi harus memberikan jalan tengah. Ia mengusulkan, supaya kedua anaknya, Musa Al-Hadi diangkat sebagai putra mahkota. Mereka sontak langsung disetujui, terkecuali Isa bin Musa yang masih keberatan dan baru sadar terjebak dalam permainan politik. Isa sudah tidak bisa berkutik apa-apa lagi. 

Khalifah langsung meminta pendapat Isa bin Musa tentang usulan ini, lagi-lagi dia merasa terpojok. Tidak ada pilihan lain, ia memberi tahu bahwa ada banyak pengikut yang sudah mengangkat sumpah setia padanya. Dia minta supaya khalifah memberi solusi atas kekecewaan yang dialaminya ini.

Khalifah Al-Mahdi, segera memerintahkan untuk mengundang beberapa ulama dan ahli hukum dalam memutuskan perkara ini. Beberapa lama kemudian, semua hadirin majlis bersepakat untuk menebus sumpah Isa bin Musa seharga 10.000.000 dirham, serta lahan pemukiman di wilayah Zab dan Kaskar. 

Akhirnya, proses pencopotan Putra Mahkota Isa bin Musa berlangsung sukarela, tertib, dan damai. Beberapa hari kemudian, Khalifah Al-Mahdi mengadakan acara khusus untuk serah terima posisi putra mahkota kepada anaknya, Musa Al-Hadi. Ia mengundang tokoh-tokoh termuka seperti pejabat istana dan jenderal perang untuk menyaksikan momentum ini, sebab menyangkut legitimasi kepemimpinan sesudah dirinya. 

Setelah berkumpul, para hadirin mendengarkan pengunduran Isa bin Musa, lalu dilanjutkan dengan penobatan Musa Al-Hadi sebagai putra mahkota. Acara ini berlangsung secara aklamasi dan berbai'at kepada Musa Al-Hadi. 


Kewafatan Khalifah Al-Mahdi

Pada tanggal 22 Muharram 169 H atau 4 Agustus 785 Masehi, Khalifah Al-Mahdi wafat saat berusia 43 tahun. Dia berwasiat, mewariskan kedudukan Khilafah kepada 2 orang putranya, Musa Al-Hadi dan Harun Al-Rasyid. Gelar Khalifah itu, pertama, jatuh ke tangan Musa Al-Hadi, baru kemudian kepada Harun Ar-Rasyid.

Imam Suyuthi meriwayatkan, konon penyebab kematiannya disebabkan karena mengejar hewan buruan sambil berkuda. Lantas, hewan buruan tersebut masuk ke reruntuhan bangunan, lalu khalifah turun untuk mencarinya. Tiba-tiba, kuda yang berada di belakang menyeruduk punggungnya sampai dia meninggal seketika. 

Ada pendapat lain, kalau dia meninggal akibat diracun oleh budak perempuannya. Selanjutnya, Imam Thabari menyebutkan, dia telah memerintah selama 10 tahun, jenazahnya disholatkan dan dimakamkan oleh putra keduanya, Harun Ar-Rasyid.