Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Dinasti Bani Abbasiyah : Khalifah Abul Abbas As-Saffah (132-136 H/749-754 M)

Dinasti Bani Abbasiyah : Khalifah Abul Abbas As-Saffah (132-136 H/749-754 M)

Biografi Abul Abbas As-Saffah 

Abul Abbas As-Saffah dengan nama asli Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim, dilahirkan pada Bulan Rajab Tahun 104 H atau bertepatan di Tahun 721 Masehi, sebagian ahli sejarawan mengatakan pada Tahun 108 H di Al-Hamimah, daerah dekat Al-Balqa', Syam. Sedangkan, ibunya bernama Raithah Al-Haritsiyyah.

Ia memiliki ciri-ciri mempunyai perawakan tubuh yang tinggi, berkulit putih, berwajah tampan, sopan, dan berwibawa. Selain dia juga dikenal sebagai orang yang sangat pemurah sekali, sebagaimana Imam Ahmad meriwayatkan di dalam Musnadnya dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW. bersabda, yang artinya :

"Akan muncul penguasa dari kalangan keluargaku pada suatu zaman yang carut marut dan penuh dengan fitnah. Dia disebut As-Saffah. Dia suka memberi harta dengan jumlah yang banyak."

Ubaidillah Al-'Aysyi berkata, ayah saya berkata, saya mendengar para orang tua berkata ; "Tatkala khilafah berada di tangan Bani Abbas, saat itu tidak ada seorang penduduk bumi yang lebih banyak bacaan Al-Qur'annya dan banyak ibadahnya daripada mereka."

Namun, riwayat lain juga pernah menyebutkan bahwa ia tidak pernah ada rasa belas kasihan sedikit pun kepada Keluarga Bani Umayyah, hingga tidak segan-segan membunuh siapapun yang tidak bersalah atau bahkan tidak tahu-menahu soal politik sama sekali. Oleh sebab itulah, dia mendapat Gelar As-Saffah yang artinya Sang Penumpah Darah.  

Semua itu telah dilakukan akibat tidak terima atas kekejaman dan kezhaliman keluarga Bani Umayyah terhadap Umat Islam, apalagi terutama perlakuan kepada keluarga Rasulullah SAW. itu yang di mana termasuk Bani Hasyim sendiri.

Ia dikatakan bagian dari keturunan Bani Abbasiyah sekaligus perwakilan keluarga Bani Hasyim untuk mewujudkan cita-cita pengganti khalifah di muka bumi ini, sekaligus menumbangkan Dinasti Bani Umayyah yang suka berbuat sewenang-wenang selama mereka berkuasa.

Di Masa Pemerintahan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, Gerakan Abbasiyah pertama kali terbentuk dan menghimpun kekuatan sebanyak mungkin dengan secara sembunyi-sembunyi. Di saat itulah, sosok Abul Abbas As-Saffah, cikal bakal khalifah Bani Abbas pertama telah lahir ke dunia dan mulai digembleng untuk menumbangkan kekuasaan Bani Umayyah sejak dini.

Di Masa Mudanya, ia telah mendalami seluk-beluk dakwah bersama para ulama, terutama dari ayah kandungnya sendiri, Muhammad bin Ali. Ia juga mendapat pengajaran syi'ar dari kakaknya, Ibrahim Al-Imam untuk menegakkan Daulah Abbasiyah, namun sayangnya dia ketahuan, berhasil ditangkap dan dieksekusi mati oleh Khalifah Marwan bin Muhammad. 

Kemudian, perjuangan syi'ar khilafah diteruskan oleh dirinya bersama saudara tirinya, Abu Ja'far Al-Manshur yang kelak akan menjadi Khalifah kedua Dinasti Bani Abbasiyah.   


Revolusi Bani Abbasiyah 

Memasuki usia 20 tahun-an, dia sudah beranjak dewasa dan ikut andil menyusun gerakan pemberontakan sampai matang. Di sisi lain, ia melihat banyak peluang yang bisa diambil mengingat khilafah Bani Umayyah selanjutnya mengalami kemunduran, ditambah lagi Umat Islam sudah sangat muak sekaligus benci atas kelakuan pemimpin mereka itu. 

Baca Juga :

Pada Tahun 125 H di Masa Pemerintahan Khalifah Marwan bin Muhammad, meletuslah api pemberontakan secara bersamaan di mana-mana yang menjadikan kekacauan politik di tubuh Daulah Islam, di antara lain ialah :

  • Pemberontakan Golongan Syi'ah yang dikepalai Abdullah bin Mu'awiyah (masih keturunan dari Ja'far bin Abi Thalib)
  • Golongan Khawarij
  • Beberapa gerakan separatisme (upaya memisahkan diri dari Daulah Umayyah) akibat ketidak-puasan antar pusat dan daerah
  • Kemudian diperparah kembali, dengan adanya penyerangan tentara Romawi untuk menguasai kembali daerah Asia Kecil dan Syam bagian utara atas perintah Kaisar Constantine V.   

Memanfaatkan situasi ini, membuat Khalifah Marwan terkecoh dengan adanya Revolusi Abbasiyah. Saat dirasa sudah siap, laskar pasukan Abbasiyah segera menguasai kediaman Gubernur Khurasan Bani Umayyah, Nashru bin Saiyar, kemudian selanjutnya mereka menuju ke Irak dan Kota Kufah sebagai sasaran selanjutnya untuk dikuasai. 


Naik Tahta Sebagai Khalifah 

Setelah berhasil, ia dibai'at sebagai Khalifah pertama dari Keluarga Bani Abbasiyah bertepatan pada tanggal 13 Rabi'ul Awwal 132 H atau 30 Oktober 749 M, saat berusia 27 tahun. Pasca Bai'at Abul Abbas sampai ke telinga Marwan bin Muhammad, akhirnya pasukan Bani Umayyah segera bergegas memerangi pasukan Abbasiyah di tepian Sungai Zab (anak sungai Tigris), daerah dekat Mosul.  

Setelah melewati pertempuran sengit, akhirnya pasukan Bani Umayyah mampu dipatahkan dan Khalifah Marwan bin Muhammad melarikan diri ke Mosul, namun sayangnya karena terlanjur tidak disukai oleh penduduk di sana (antipati terhadap Bani Umayyah) sampai mereka sepakat merobohkan jembatan yang sudah dilaluinya. 

Akhirnya, ia mau tidak mau memutar haluan ke Harran, kemudian ke Istana Damaskus, sampai yang terakhir menuju ke Mesir. Bertepatan pada tanggal 5 Agustus 750 M atau 27 Dzulhijjah 132 H, Marwan bin Muhammad akhirnya terbunuh oleh salah satu panglima Abbasiyah, Shalih bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthallib di Al-Fayum (Mesir).

Tidak lama kemudian, Khalifah Abul Abbas Assaffah pindah ke Hirah, kemudian ke Anbar, kota yang kemudian dijadikan ibukota khilafah dengan nama Hasyimiyatul Anbar, sebagai pengingat terhadap kakek Bani Abbas, yaitu Hasyim.

Pada awalnya, keluarga Abbasiyah hendak menjadikan Damaskus menjadi ibukota khilafahnya, namun batal. Karena, masih banyak pengikut keluarga Bani Umayyah di sana; berada jauh dari Persia, pusat kekuasaan mereka; dan terlalu dekat dengan batas Imperium Romawi Timur yang mungkin membahayakan kedaulatan yang masih sangat muda itu. Maka dipilihlah kota Anbar sebagai ibukota Daulah Abbasiyah.


Kebijakan Pemerintahan Khalifah Abul Abbas As-Saffah 

Assaffah berupaya mengokohkan sendi-sendi khilafahnya pada masa awal pemerintahannya dengan pedang. Hal itu diketahui dari pidato pertamanya saat dibaiat di Kufah. Isinya menyatakan keutamaan keluarga Muhammad SAW dan kejelekan Bani Umayyah, yang telah merampas pangkat Khalifah dari keluarga Abbas. 

Dia mencela tentara Syam, dan memuji penduduk Kuah karena kejujurannya membantu keluarga Bani Abbas menegakkan Daulahnya. 


#1. Pidato Pertama Sambutan Tegaknya Daulah Bani Abbasiyah

Setelah dilantik sebagai Khalifah di Kufah, dia segera memimpin Sholat Jum'at dan membawakan khutbahnya yang berisi :

"Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Islam sebagai pilihan bagi diri-Nya. Dia agungkan dan muliakan serta telah memilihkannya bagi kita. Dia kuatkan kita dengannya dan menjadikan kita sebagai pemeluknya. Allah telah menjadikan kita sebagai gua, benteng dan penyangga serta tiangnya.'

Lalu dia menyebutkan tentang keluarga-keluarga mereka. 

Hingga akhirnya dia berkata, "Saat Allah telah memanggil Nabi-Nya, para sahabatnya memegang kendali khilafah. Namun setelah itu Bani Harb dan Bani Marwan menunggangi kekuasaan dengan cara kejam dan zhalim. Allah membiarkan kekuasaan itu berada di tangan mereka beberapa saat hingga akhirnya mereka membuat Allah murka. 

Lalu Allah membalas tindakan jahat mereka dengan perantara tangan-tangan kita. Allah kembalikan hak kita agar lewat tangan kitalah Dia selamatkan orang-orang yang dipinggirkan dan dilemahkan di muka bumi. Allah telah menutup khilafah ini dengan kita sebagaimana ketika Dia membukanya. Dan tak ada taufik yang datang kepada kami sebagai Ahli Bait kecuali dari Allah.

Wahai penduduk Kufah, kalian adalah tempat berlabuh kecintaan kami, dan rumah idaman kasih sayang kami. Maka janganlah kalian melakukan hal-hal yang bertentangan dengan itu, dan janganlah kalian tergoda oleh tindakan para pembangkang. 

Sebab kalian adalah orang yang paling berbahagia dengan adanya kami di tengah kalian. Kalian adalah orang yang paling mulia di mata kami. Dan kami telah memberi jaminan pembagian harta seratus persen.

Maka siap-siaplah kalian. Sebab Sayalah adalah As-Saffah Al-Mubih (penumpah darah yang membolehkan) dan Ats-Tsair Al-Mubir (pembalas dendam yang menepati tekadnya)."

Demikianlah, dia menegaskan kepada musuh-musuhnya, terutama keluarga Bani Umayyah. Barangsiapa berani menentang dan menghalangi Daulahnya akan berhadapan dengan ujung pedang Assaffah. Itulah sebabnya dia bergelar "Assaffah" (sang penumpah darah).


#2. Pembantaian Berdarah Terhadap Seluruh Keluarga Bani Umayyah dan Para Pejabat Pemerintahannya

Sebagian masa pemerintahan Abul Abbas Assaffah digunakan untuk memerangi panglima-panglima Arab yang setia kepada Bani Umayyah. Bahkan, seluruh keluarga Bani Umayyah dimusnahkan. Ke mana pun mereka pergi ia kejar, dan ia bunuh, karena ia tidak puas hanya dengan menghina keturunan keluarga itu yang masih hidup dan merampas harta bendanya.

Abdullah bin Ali, paman Assaffah dan Gubernurnya di Syam, mengadakan pembantaian umum menghabiskan para Gubernur Bani Umayyah. Sebagian besar mereka dipanggil untuk menghadiri suatu jamuan, dan di tempat itu mereka dibunuh.


#3. Pembunuhan Terhadap Orang-Orang Yang Dicurigai Pengkhianat

Assaffah juga membunuh orang-orang yang menjadi penolong berdirinya Daulah Abbasiyah, seperti Abu Salmah Al-Khilaly, tangan kanannya sendiri. Padahal, Abu Salmah adalah orang yang sangat besar jasanya, sehingga ia diberi gelar oleh keluarga Bani Abbas dengan sebutan "Wazir keluarga Muhammad." Dia dicurigai akan memindahkan khilafah kepada keluarga Alawiyyin (keturunan Ali bin Abi Thalib).

Dia juga bermaksud membunuh Abu Muslim Al-Khurasani, karena takut panglima ini akan membahayakan daulahnya. Hal itu mengingat pengaruhnya yang semakin lama semakin besar.

Akan tetapi, sebelum keinginan itu terwujud, Assaffah keburu dijemput ajal. Pembunuhan atas Abu Muslim Al-Khurasani kemudian dilakukan oleh Khalifah berikutnya. 


Kewafatan Khalifah Abul Abbas As-Saffah 

Abul Abbas Assaffah wafat pada tanggal 17 Dzulhijjah Tahun 136 H atau bertepatan pada tanggal 9 Juni 754 M, setelah memerintah selama 4 tahun 9 bulan. Menurut Imam Suyuthi, dia meninggal dunia karena ditimpa penyakit cacar pada awal Bulan Dzulhijjah dan dimakamkan di Istana Anbar.

Sebelum wafat, ia sempat mengangkat saudaranya, Abu Ja'far Al-Manshur sebagai khalifah pengganti dirinya. 

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.