Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Dinasti Bani Abbasiyah : Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur (136-158 H/754-775 M)

Biografi Abu Ja'far Al-Manshur

Abu Ja'far Al-Manshur dengan nama asli Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas dilahirkan di Kampung Al-Humaymah, Yordania pada Tahun 95 H atau bertepatan dengan Tahun 714 Masehi. Ibunya bernama Salamah Al-Barbariyah, seorang mantan budak dari suku Barbar yang dinikahi oleh ayahnya.

Dia terkenal sebagai orang terpandang dari Keluarga Bani Abbasiyah, penuh kharisma, gagah berani, tekad yang kuat, pendapatnya yang cemerlang, kemampuan orasinya yang ulung, namun di sisi lain kekejaman yang diperbuatnya juga luar biasa. 

Di samping itu, ia juga dikenal sebagai orang terkesan kaku (karena sangat anti hal-hal yang berbau sendau-gurau/candaan) dan punya kebiasaan memperhitung harta sampai terkecil sekalipun. Sampai-sampai, dia mendapat gelar Abu Ad-Dawaniq (jamak dari Daniq, nama mata uang zaman itu). 

Alkisah, sebelum menjadi Khalifah diriwayatkan dari Ibnu Asakir dalam sanadnya mengatakan, Abu Ja'far Al-Manshur awalnya seorang penuntut ilmu yang giat. Ketika dia memasuki sebuah rumah, tiba-tiba dia ditangkap oleh penjaga rumah, sambil berkata : "Timbanglah 2 dirham !" 

Al-Manshur berkata, "Lepaskanlah saya karena saya adalah keturunan paman Rasulullah."

"Timbang 2 dirham !" kata orang itu lagi.

"Biarkan saya, karena saya adalah seorang yang pandai membaca kitab Allah !" kata Al-Manshur.

"Timbang 2 dirham !" lanjut penjaga rumah.

“Biarkan saya, karena saya adalah seorang yang alim mengenai fikih dan ilmu waris !" sambung Al-Manshur.

"Timbanglah 2 dirham !" kata orang tadi lebih lanjut.

Tatkala dia merasa putus asa dengan perintah orang tadi, akhirnya dia menimbang 2 dirham. Lalu dia kembali, dan sejak itulah dia bersemangat untuk mengumpulkan uang dengan tamak, sehingga dia diberi gelar Abu Dawaniq


Naik Tahta Sebagai Khalifah

Menurut Imam Thabari dalam riwayatnya, sebelum Al-Manshur diangkat sebagai khalifah sempat terjadi perseteruan pribadi antara dirinya dengan Panglima Abu Muslim Al-Khurasani di Masa Pemerintahan Abul Abbas As-Saffah. 

Kala itu, Abu Muslim menjadi orang yang terkenal dan paling berpengaruh di Khurasan atas jasa besarnya, begitu pula ia banyak dicintai oleh kebanyakan orang di sana.  Sedemikian cintanya, mereka lebih mengenal Abu Muslim dibandingkan khalifah Abbasiyah yang baru. 

Suatu kesempatan, Al-Manshur mengunjungi daerah Khurasan sebagai putra mahkota. Ia berniat ingin memastikan kesetiaan Abu Muslim terhadap Bani Abbas sekian kalinya mengingat untuk mengukuhkan tonggak dinasti keluarganya. Responnya cukup memuaskan, ia dengan senang hati menyatakan kesetiannya kepada Abbasiyah, begitu pula dengan Assaffah.

Namun, Al-Manshur kala itu saat proses kunjungan, ia justru diperlakukan selayaknya kolega, bukan dianggap putra mahkota yang harus dihormati. Hal ini tentunya membuatnya tersinggung luar biasa. Sekembalinya ke Istana, ia meminta kepada saudaranya, Abul Abbas Asaffah untuk menghabisi langsung dengan tangannya sendiri akibat kelancangan tersebut. 

Tapi, Khalifah Abul Abbas segera mencegatnya atas dalih besarnya jasa Abu Muslim untuk tegaknya khilafah Bani Abbasiyah, di sisi lain ia juga punya pengaruh luas biasa di tengah masyarakat. Lama-kelamaan, keluarga Bani Abbas mulai menaruh curiga terhadap popularitas Abu Muslim. 

Pada Tahun 136 H, Al-Manshur ditunjuk sebagai Amirul Hajj (pemimpin rombongan haji) untuk musim haji tahun itu. Suatu ketika, Abu Muslim bersama 8.000 pasukannya mendatangi Abul Abbas dan minta izin untuk diperbolehkan memimpin haji. Sayangnya, permintaan itu sudah kedahuluan oleh Al-Manshur, saudaranya sendiri. 

Lantas saja, hal itu membuat Abu Muslim sangat kecewa karena baginya, musim haji adalah momentum yang sangat tepat untuk menguatkan pengaruh dan popularitasnya di tengah Umat Islam, apalagi kedudukan Amirul Hajj waktu itu merupakan kedudukan yang terhormat dan strategis.  

 Di penghujung Dzulhijjah 136 H, berita kewafatan Abul Abbas As-Saffah datang dari Anbar. Sesuai peraturan istana, Al-Manshur yang mulanya sebagai putra mahkota diangkat sebagai khalifah selanjutnya yang sah oleh keluarga Abbasiyah.  

Mendengar kabar itu, Abu Muslim merasa sakit hati sekali. Sesuai isi wasiatnya, semua orang diminta bai'at kepadanya, termasuk Abu Muslim dan dengan setengah hati, ia memberikan bai'atnya kepada Khalifah Al-Manshur.

Sikap Abu Muslim membuat Khalifah Al-Manshur semakin tidak yakin akan kesetiaannya kepada Daulah Abbasiyah. Semenjak itu, hubungan mereka berdua sebagai orang terpenting dalam pemerintahan Abbasiyah semakin renggang dan memanas ibarat api dalam sekam.  


Kebijakan Pemerintahan Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur

Setelah Abul Abbas Assaffah wafat, Abu Ja'far Al-Manshur diangkat menjadi Khalifah. Dia dipandang sebagai pendidik yang sebenarnya bagi Daulah Abbasiyah, karena telah membuat dan merealisasikan tata negara Daulahnya. 

Kala itu, Masa Pemerintahan Al-Manshur bisa disebut sebagai ajang konsolidasi kekuasaan yang penuh perjuangan sampai tidak boleh ada sedikitpun berani yang mengganggunya. Tentu saja, stabilitas negaranya dominan dipengaruhi oleh visi politik dan pendekatan pragmatis Khalifah Al-Manshur itu sendiri. 

Selain itu, ilmu pengetahuan mulai berkembang pesat pada masa itu, hingga Khalifah berikutnya, bahkan hingga Daulah Bani Abbas mencapai kejayaannya. 

Pada masa itu, pengaruh Persia sangat terasa, karena beberapa Khalifah Bani Abbas mentransfer beberapa kebudayaan Persia, seperti adat-istiadat istana dan peraturan negara yang digunakan para Kisra Persia. Di dalam istana pun, orang Persia sangat berpengaruh, sementara orang Arab makin lama makin tersingkir.


a. Beberapa Problem yang Dihadapi Al-Manshur

Pada awal pemerintahannya, Khalifah Al-Manshur menghadapi berbagai macam kesulitan, di antaranya pengkhianatan pamannya sendiri Abdullah bin Ali, ingkarnya Abu Muslim al-Khurasani, dan pemberontakan kelompok Alawiyyin. 

Namun, semua dapat diatasi dengan ketabahan dan keteguhan hatinya. Sifat-sifat ini yang membuat Khalifah sukses dalam segala usahanya. Walau begitu, ada beberapa sikap politik Al-Manshur yang cukup kontroversial bagi Umat Islam, seperti penyiksaan beberapa ulama besar.  


1) Pengkhianatan Panglima Abdullah bin Ali

Abdullah bin Ali mengatakan bahwa Assaffah berjanji, akan memberikan tahta khilafah kepadanya setelah wafat, jika ia dapat memusnahkan seluruh kekuatan Marwan bin Muhammad dan para pengikutnya. Pengakuan ini didengar oleh sebagian orang, lalu mereka membaiatnya. 

Oleh karena itu, Abdullah tidak mau berbai'at kepada al-Manshur. Mengingat rivalnya (lawan) yang sama-sama tidak disukai, Khalifah Al-Manshur memerintahkan Panglima Abu Muslim Al-Khurasani ke Syam. Dengan kecerdikannya, kedua panglima saling bertempur dan berhasil dimenangkan oleh Abu Muslim.  

Di antara tentara Abdullah bin Ali di Syam terdapat 17.000 orang tentara yang dikhawatirkan mereka akan menggabungkan diri dengan barisan Abu Muslim Al-Khurasani, maka mereka dibinasakan oleh Abdullah bin Ali sendiri dengan tipu muslihatnya. 

Dengan demikian, Abdullah telah melemahkan kekuatannya dengan tangannya sendiri. Maka, Abu Muslim tidak terlalu sulit untuk mengalahkannya. Abdullah bin Ali ditangkap, lalu dipenjarakan sampai meninggal. Ada riwayat lain yang mengatakan, dia kabur dari medan perang dan berlindung ke kota lain, akhirnya ia tewas terbunuh oleh orang tak dikenal pada usia 52 tahun. 


2) Pengingkaran Panglima Abu Muslim Al-Khurasani

Khalifah Al-Manshur benci dan marah kepada Abu Muslim Al Khurasani, karena ia merasa besar dan takabbur sehingga ia merasa tidak perlu lagi mentaati perintah Khalifah. Ia juga terlalu mudah untuk menumpahkan darah, sangat tanpa sebab yang jelas. 

la juga mengingkari dan tidak mengakui Khalifah Al-Manshur. Dengan kata lain, kebesaran pribadi Abu Muslim dirasa membahayakan kedudukan Al-Manshur. Maka, selalu dicari peluang yang baik untuk membinasakannya. 

Akhirnya, Al-Manshur memiliki kesempatan untuk memanggil Abu Muslim ke Istana. Dengan tipu muslihatnya, Abu Muslim dapat dibunuhnya saat berusia 37 tahun dan mayatnya segera dibuang ke Sungai Tigris. Setelah itu, Al-Manshur merasa tidak ada lagi yang mengancam kedaulatannya.


3) Pemberontakan Golongan 'Alawiyyin

Keluarga Abbasiyah beruntung dapat merebut kursi khilafah dari keluarga Umayyah. Sementara kaum Alawiyyin merasa bahwa mereka lebih berhak menduduki singgasana khilafah daripada yang lain. Oleh sebab itu, mereka menyatakan permusuhan atas keluarga Bani Abbas. 

Apalagi ketika hendak menghancurkan kekuatan Bani Umayyah, mereka lebih mengutamakan menggunakan tangan dan kekuatan Bani Hasyim daripada Bani Abbas. Namun, setelah berhasil, mereka meninggalkan Bani Hasyim tanpa memperhitungkan jasa yang sudah mereka perbuat bak habis manis sepah dibuang.

Pada Tahun 145 H di Hijaz, muncul Muhammad bin Abdillah Al-Alawy. Dia dikukuhkan menjadi Khalifah, lantas mengirimkan saudaranya, Ibrahim, ke Basrah untuk menyiarkan kekhilafahannya, agar supaya penduduk kota itu turut berbai'at kepadanya.

Muhammad bin Abdullah Al-Alawy dibunuh oleh Khalifah Al-Manshur pada tahun itu juga. Setelah itu. Ibrahim bangkit dan mengangkat dirinya menjadi Khalifah di Irak dan Persia. Malang, dia senasib juga dengan Muhammad, mati dibunuh setahun kemudian.


4) Berbuat Zhalim kepada Para Ulama dan Ahli Fiqh

Menurut sejarah, Khalifah Al-Manshur sangat kontroversial. Bagaimana tidak ? Sikapnya berbanding terbalik dengan As-Saffah yang sangat keras dengan musuh-musuhnya, sedangkan dia sendiri cenderung keras terhadap koleganya sendiri. 

Selain itu, ia juga dikenal sangat cinta akan ilmu pengetahuan dan suka dikelilingi oleh para alim ulama. Namun, ada kejadian yang membuatnya tidak disukai oleh Umat Islam yaitu suka menganiaya para ulama yang tidak sejalan dengannya.

Suatu hari, setelah usai membangun Kota Baghdad, Khalifah Al-Manshur tengah mengundang para alim ulama, termasuk Abu Hanifah. Kala itu, ia menawari Imam Hanafi (pendiri madzhab fiqh) untuk bersedia menjabat sebagai Hakim Tinggi (Qadhi Qudha).

Tapi, ia menolak keras. Lantas, Khalifah Al-Manshur mengancam balik tetapi Abu Hanifah tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Hal itu membuatnya semakin murka apalagi ia mendapat laporan kalau ia mendukung pemberontakan Alawiyin, Muhammad bin Abdullah di Hijaz. 

Atas perintahnya, Imam Hanafi dijatuhi hukuman penjara seumur hidup sampai dia meninggal. Ada riwayat lain yang menyebutkan, Imam Hanafi wafat karena diracun.  

Kekejamannya tidak sampai di situ saja, suatu ketika Khalifah Al-Manshur meminta Kitab Al-Muwattha' dijadikan kitab pedoman dasar bernegara, inilah indikasi pemimpin yang peduli akan ilmu pengetahuan. 

Sayangnya, Imam Malik menolak permintaan tersebut. Ia berdalih, seiring berkembangnya ajaran Islam ke luar Arab akan semakin banyak perbedaan pendapat oleh imam mereka masing-masing, dan tentunya bisa jadi berbeda pendapat dengan isi karyanya tersebut.

Intinya, Imam Maliki tidak ingin pandangannya dijewantahkan sebagai satu pusat pemikiran yang tidak boleh diganggu gugat, sehingga menggilas pendapat-pendapat lainnya yang notabene berbeda. Padahal, perbedaan pendapat itu adalah bagian dari Rahmat Allah Ta'ala dan tidak bisa dielakkan. 

Menurut Imam Suyuthi, suatu ketika Imam Maliki mengeluarkan fatwa hukumnya boleh bagi siapa saja yang memberontak pemerintah mengingat saking banyaknya kekejaman yang dilakukan Al-Manshur. Gubernur Madinah segera menangkapnya dan menjatuhkan hukuman cambuk akibat fatwanya itu.

Tidak sampai di situ saja,  kekejaman Khalifah juga menimpa kedua ulama besar di antaranya, yaitu Sufyan Ats-Tsauri (Ahli Fiqh) dan Abbas bin Katsir (Perawi Hadist). Atas perintahnya, pejabat Mekkah setempat sempat memenjarakan keduanya dan akan dieksekusi mati ketika Al-Manshur menunaikan ibadah Haji. 

Allah Ta'ala akhirnya tidak memberikan kesempatan baginya, Khalifah A-Manshur langsung jatuh sakit di tengah perjalanan dan menemui ajalnya. Sebelumnya, banyak sekali orang khawatir akan nasib kedua ulama mereka jika eksekusi benar-benar terjadi, ujar Imam Suyuthi dalam Kitab Tarikh Khulafa'.  


5) Memadamkan Pemberontakan Separatisme dari Khurasan

Diriwayatkan dari Kitab Tarikh Khulafa' karangan Imam Suyuthi, pada Tahun 150 H, tentara-tentara Khurasan menyatakan memisahkan diri dari kekhilafahan Bani Abbasiyyah di bawah pimpinan Ustadzsis. Dia berhasil mengusai sebagian besar wilayah Khurasan. Huru-hara terjadi, kejahatan merebak. Peristiwa ini membuat Khalifah Al-Manshur berang. 

Jumlah tentara dari orang-orang Khurasan sekitar 300.000 penunggang kuda dan pejalan kaki. Saat itu, diutuslah Panglima Ajtsam Al-Marwazi untuk memadamkan pemberontakan ini, namun Ajtsam terbunuh dan para tentaranya dibantai. 

Lalu, diutuslah Panglima Hazim bin Khuzaimah untuk memadamkan pemberontakan orang-orang Khurasan tersebut dengan bala tentara yang lebih besar. Kedua pasukan tentara itu pun bertemu. Peristiwa itu sangat terkenal dalam sejarah sebagai peristiwa yang memilukan. 

Sebab dalam peperangan ini dari kedua belah pihak terbunuh sebanyak 70.000 orang, sedangkan dari pihak Ustadzsis mengalami kekalahan. Akhirnya, dia melarikan diri ke bukit-bukit. 

Pada tahun setelah itu, Hazim memerintahkan agar semua tawanan dipancung kepalanya. Jumlah mereka adalah 14.000 orang. Kemudian, dia mengepung Ustadzsis selama beberapa waktu. Ustadzsis terpaksa menyerahkan diri dan tentara Al-Manshur mengikatnya, lalu mereka melepaskan tentara Khurasan yang berjumlah 30.000 orang.


b. Siasat Luar Negeri Al-Manshur

1) Terhadap Imperium Byzantium

Orang-orang Byzantium senantiasa mengintai kelemahan Daulah Abbasiyah, dan melancarkan serangan ke negeri-negeri Islam yang berbatasan dengan negeri mereka. Byzantium mengerahkan tentaranya, menyerang Syam di Zaman Khalifah Al-Manshur pada Tahun 138 H.

Penyerangan ini dapat ditangkis oleh Laskar Abbasiyah, dan diakhiri dengan perjanjian gencatan senjata selama 7 tahun. Setelah memadamkan pemberontakan kaum Alawiyyin, Al-Manshur memulai penyerangan ke Byzantium.

Gencarnya serangan tersebut memaksa Kaisar Byzantium berdamai, dan berjanji membayar upeti tahunan kepada Khalifah Abbasiyah.


2) Terhadap Negeri Andalus

Negeri Andalus telah melepaskan diri dari Daulah Abbasiyah sejak berdirinya Daulah Bani Umayyah tahun 138 H/757 M di sana, dengan Gubernur Abdurrahman Al-Dakhil bin Mu'awiyah bin Hisyam bin Abdul Malik. Gubernur ini melarikan diri ketika dilakukan sapu bersih atas keluarga Bani Umayyah. Al-Manshur tidak mampu menaklukkan negeri itu karena jarak yang jauh dari khilafah Bani Abbas. 

Kecuali itu, banyak terjadi huru-hara dan pemberontakan di dalam negeri. Al-Manshur mencoba menaklukkan Andalus melalui diplomasi persahabatannya dengan Pepyn Raja Frank (Perancis), dengan bertukar duta dan bingkisan. Sementara itu, Raja dihasut agar selalu memerangi Abdurrahman.


3) Terhadap Afrika

Bangsa Barbar di Afrika Utara merasa tidak senang dipimpin oleh orang Arab karena mereka berlaku aniaya. Para gubernur berlaku seperti penjajah bukan seperti sesama saudara, meski mereka telah memeluk Islam. 

Ketika Daulah Bani Umayyah melemah, mereka memberontak dan mendirikan beberapa wilayah merdeka. Akan tetapi, tidak lama kemudian, terjadi perselisihan di antara para gubernur Barbar. 

Peluang ini digunakan oleh Al-Manshur untuk menaklukkan kembali daerah itu pada Tahun 144 H, sehingga kota itu secara sempurna dikuasai oleh laskar Abbasiyah pada tahun 155 H.


c. Pembangunan yang Dilakukan oleh Al-Manshur

1) Mendirikan Kota Baghdad dan Kota-Kota Lain,

Khalifah Al-Manshur mendirikan kota Hasyimiyatul Kufah untuk ibukota negaranya. Kemudian, dibangun pula Kota Baghdad, yang sangat strategis, tidak terlalu jauh dari laut, dan terletak di antara sungai Tigris dan Euphrat. Kota ini dijadikan sebagai markas besar tentaranya. Selain itu, juga dibangun beberapa kota satelit lainnya seperti Karakh dan Al-Rushafah di pinggir timur sungai Tigris.


2) Pemindahan Ibukota Baru dari Kufah Menuju Baghdad

Pada Masa Pemerintahan Al-Manshur, dialah orang pertama kali yang memindahkan ibukota negara dari Hasyimiyatul Anbar (dekat Kota Kufah) menuju Baghdad, dekat bekas Ibukota Persia, Ctesiphon pada Tahun 762 Masehi.

Mulanya Ibukota ini dinamai Madinatus Salam (Kota Kedamaian) lalu diganti dengan nama Kota Baghdad yang artinya Kota Anugerah dari Tuhan. Di dalamnya, terdapat 3 istana megah bagi khalifah Abbasiyah, yaitu Istana Emas (Al-Qashr Al-Dzahab) , Istana Ukhaidir, dan Istana Qasruzzabad. 

Pemindahan Ibukota ini sengaja dilakukan, supaya bisa melakukan konsolidasi dan penertiban dalam pemerintahannya, di antaranya mendirikan lembaga eksekutif dan yudikatif, serta menampung birokrasi yang berkembang. 


3) Menggerakkan Tradisi Mengarang dan Menerjemah (Berkembangnya Budaya Ilmu Pengetahuan)

Al-Manshur menggiatkan para pujangga untuk mengarang dan menterjemahkan buku-buku dari bahasa Persia, Yunani, dan Hidu ke dalam bahasa Arab. Dia sendiri gemar akan ilmu kedokteran, falak, dan matematika. 

Gerakan penerjemahan karya-karya asing ke dalam bahasa Arab sangat gencar sekali. Jauh berbeda kebanyakan para ulama pada masa Bani Umayyah yang hanya menyebarkan ilmu secara verbal, sedangkan di masanya ini para ulama mendapat dukungan untuk bisa menyebarkan ilmunya semakin luas melalui penulisan kitab.

Maka, perlahan-lahan Kota Baghdad hidup, dan menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban. Di zamannya, lahirlah beberapa orang pujangga, pengarang, penerjemah terkenal, di antaranya Muhammad Ibnu Muqaffa', penerjemah Kitab Kalilah dan Daminah.

Selain itu, melekatnya Daulah Abbasiyah dengan budaya Persia mendorong terjadinya Gerakan Shu'ubiya, yaitu gerakan (ilmu pengetahuan) sastra Persia yang ingin membuktikan bahwa entitas Persia lebih tinggi dibandingkan budaya Arab. 

Hal ini berdampak terjadinya akulturasi dialog Arab-Persia pada Abad ke-8 Masehi dan semakin banyaknya orang Non-Arab yang masuk Islam. Menurut sejarah, gelombang orang-orang Mu'allaf di akhir masa Al-Manshur mencapai 2 kali lipat dibanding sebelumnya. 


4) Menegakkan Tata Laksana Pemerintahan yang Baik (Good Governance)

Khalifah Al-Manshur sangat hemat dan cermat dalam menjaga peraturan, terkenal rajin dan berhati-hati dalam pengaturan istananya, senantiasa ingat dan waspada dalam segala pekerjaan. Sebagai bukti, dia bertitah :

"Pintu istanaku hendaklah senantiasa dilalui oleh empat orang. Mereka itu adalah tiang khilafah. Manakala berkurang seorang saja, khilafah tidak akan tegak, laksana kursi yang tidak tegak kecuali dengan empat kaki, yaitu: 1. Hakim yang adil: 2.Kepala Intelejen yang mengawasi sepak terjang para pejabat: 3-Kepala perpajakan yang adil lagi tidak aniaya, 4-Jawatan Pos yang senantiasa membawa berita yang benar kepadaku tentang perbuatan para pembesar Khilafah."

Al-Manshur mempergunakan Kepala Jawatan Pos dengan sebaik-baiknya, untuk mengawasi segala perihal khilafah. Dengan demikian, dapat diketahui segala tindakan para gubernurnya, hukum yang diputuskan oleh para hakimnya, dan uang yang masuk ke dalam Baitul Mal, dan lain sebagainya.

Kepala Jawatan Pos selalu melaporkan harga pasaran segala macam barang, makanan, dan barang kebutuhan lainnya. Oleh karena itu, hubungannya dengan para gubernur sangat dekat. Kalau harga barang-barang naik jauh melebihi harga biasa, Al-Manshur memerintahkan untuk menurunkan harga seperti semula. 

Jika ada pegawai berlaku lalai atau kurang hati-hati, akan dihukum, bahkan dipecat dari jabatannya. Sehingga berkat perhatian Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur, pondasi ekonomi dan kas negara dapat terkendali sangat baik. 

Khalifah Al-Manshur juga terkenal hemat mengeluarkan perbelanjaan dan pemberian, sehingga ketika wafat, perbendaharaan negara melimpah berkisar 810.000.000 dirham dan dapat dibelanjakan untuk 10 tahun berikutnya. Walaupun demikian, dia memiliki kekurangan, di antaranya gampang menumpahkan darah dan berlaku curang atas beberapa orang yang dijamin keamanan jiwanya.

Dalam sistem pemerintahan, dia-lah juga pertama kali mengangkat wazir (perdana menteri) sebagai kepala koordinator bagi seluruh kementerian yang ada, sekaligus membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara yang berwenang selain mengurusi angkatan bersenjata. 


Kewafatan Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur

Di penghujung 158 H, Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur tengah berkunjung ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji sekaligus akan mengeksekusi mati kedua ulama termasyhur di sana. Namun belum sesampainya di sana, ia jatuh sakit lalu meninggal dunia pada tanggal 7 Dzulhijjah 158 H atau 8 Oktober 775 M saat berusia 63 tahun.

Ia dimakamkan entah berantah sepanjang jalan dengan dibuatkan 100 kuburan fiktif. Hal itu sengaja dilakukan karena munculnya kekhawatiran terjadinya ajang balas dendam bekas keluarga Bani Umayyah, sebab sebelumnya dia pernah membongkar seluruh isi kuburan khalifah Bani Umayyah dan menghancurkan peninggalan-peninggalan apa saja yang tersisa.

Sebelum dia wafat, Isa bin Musa (keponakan Al-Manshur), sebenarnya dialah yang berhak menduduki khilafah setelah Al-Manshur sesuai isi wasiat As-Saffah, karena dianggap berjasa melumpuhkan pemberontakan Syiah yang dikepalai Muhammad An-Nafs Az-Zakiyyah, dan ia juga turut memerangi kedua kolega lawan pamannya (Abdullah bin Ali dan Abu Muslim Al-Khurrasani).

Sayangnya, balasan yang diterima adalah pencopotan dirinya dari Putra Mahkota lewat jalur suksesi, kemudian diserahkan kepada anaknya Khalifah Al-Manshur sendiri, Al-Mahdi. Semenjak itulah, kekuasaan Khalifah diteruskan turun-temurun dari garis keturunannya (nasab).