Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Penyebab Bangsa Mongolia Tidak Menyerang Mekkah, Madinah dan Palestina

Penyebab Bangsa Mongolia Tidak Menyerang Mekkah, Madinah dan Palestina

Penyebab Bangsa Mongolia Tidak Menyerbu atau Gagal Menguasai Mekah, Madinah dan Palestina – Bangsa Mongol atau biasa disebut dengan Suku Mongol ini, merupakan salah satu suku dari 5 suku besar yang paling berpengaruh di daratan besar China. 

Pada Abad Pertengahan, Bangsa Mongol berubah menjadi Kekaisaran paling kuat dan tidak dapat tertandingi dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan besar lainnya. 

Supaya bisa diakui, Bangsa Mongol berusaha meluaskan wilayahnya dengan melakukan penyerangan dan penghancuran membabi-buta terhadap kerajaaan atau dinasti-dinasti lain, sehingga tidak heran hampir kurang lebih 22 persen wilayah bumi yang membentang dari daratan Eropa sampai China berada di bawah taklukan Kaisar Mongol.

Banyak daerah-daerah yang berhasil ditaklukkan dan menjadi bagian kekuasaannya, di antaranya adalah seluruh dataran Tiongkok, kawasan Irak-Iran, India bagian utara, beberapa daerah belahan Asia Tenggara dan Eropa Timur, serta masih banyak lagi yang lainnya.

Pada Tahun 1253, Hulagu Khan memulai ekspedisi penyerangannya dengan membawa laskar pasukan sebanyak 130.000 tentara, dan dalam kurung waktu hampir 3 tahun, akhirnya pasukan Hulagu Khan ini berhasil menyerbu dan menduduki seluruh bagian daerah Afghanistan, kemudian dijadikan sebagai daerah jajahannya. 

Tentu saja, hal ini adalah awal mula Bangsa Mongolia berambisi melebarkan sayap-sayapnya untuk invasi ke negara-negara lain.


Detik-Detik Keruntuhan Dinasti Bani Abbasiyah dan Penyerangan Bangsa Mongol ke Baghdad

Pada Tahun 1257, Hulagu Khan mengerahkan kembali para pasukan Mongol sebanyak 150.000 tentara untuk memusnahkan Kota Baghdad, yang merupakan pusat kota ekonomi dan perdagangan terbesar di belahan Jazirah Arab.

Mereka yakin, jika berhasil membumihanguskan dan menaklukkan Kota Baghdad, pasukan Mongol akan memperoleh keuntungan yang sangat besar dari harta para penduduk Baghdad mengingat sebagai kota Metropolitan.

Walaupun mereka sempat tumpang-tindih dan berjatuhan, tetapi dengan semangat tentara Mongolia ini akhirnya pasukan Hulagu Khan berada di Gerbang Pintu Masuk Kota Baghdad yang merupakan Ibukota Kerajaan di daerah tersebut. 

Kala itu, Khalifah Al-Mu'tashim menyerahkan diri dan segera ingin berdamai dengan pihak Mongol, namun sayangnya kesempatan itu terlambat. 

Sebab sebelumnya pihak pasukan Mongol pernah memberikan penawaran khusus yang menguntungkan kedua belah pihak tetapi khalifah menolak, terlebih lagi mereka juga tidak kenal ampun memberikan kesempatan kedua terhadap musuhnya.

Akhirnya, pengepungan berlangsung terjadi hingga Bulan Februari 1258 sehingga menyebabkan Kota Baghdad menyatakan menyerah, hingga akhirnya lonceng kematian Dinasti Bani Abbasiyah pun berbunyi. 

Seluruh penduduk isi kota pun tewas dipenggal tanpa ampun oleh pasukan Mongol di hadapan langsung Khalifah yang malang itu sendiri, begitu juga termasuk seluruh keluarga kerajaannya. 

Konon, pasukan Mongol telah membumihanguskan Kota Baghdad selama 1 minggu tanpa menyisakan rumah, istana megah, tempat ibadah, atau perpustakaan yang berdiri sedikitpun. Semua hancur lebur telah rata dengan tanah. 

Orang-orang di sana bak hewan ternak yang mati disembelih dan bergeletakan di jalan-jalan, tidak luput juga dengan kalangan wanita, anak kecil, dan orang tua renta yang ikut terkena imbasnya.    


Faktor Bangsa Mongolia Tidak Menyerang Mekkah, Madinah, dan Palestina

Yang mengherankannya, Kenapa daerah Mekkah, Madinah, dan Palestina tidak ikut diserang atau berhasil ditaklukkan sebagai wilayah jajahan Bangsa Mongol ? Ternyata, hal ini bukanlah menjadi suatu kebetulan.

Ada beberapa alasan yang sangat jelas dan berdasar, mengenai sebab Mengapa Bangsa Mongol yang terkenal dengan anarki dan kekejamannya itu tidak tertarik atau gagal menguasai ketiga kota suci tersebut. 

Buat kalian yang penasaran, silahkan simak informasi selengkapnya terkait Dunia Sejarah Islam sebagai berikut ini. 


1. Jarak Terlalu Jauh

Faktor pertama, disebabkan jarak tempuh yang terlalu jauh dari daerah-daerah bekas jajahan Mongol yang berpusat di Levant, Mediterania. Jarak tempuh antara Kota Mekkah dan Madinah yang berada di Semenanjung Arab menuju Levant sejauh 600.000-700.000 KM.

Selain itu, rute perjalanan yang sangat berlika-liku dan berbahaya, kemudian medan wilayah yang sangat kering dan bergurun dianggap pasukan Mongol akan lebih merugikan, karena bisa menyebabkan dehidrasi hebat bagi anak buahnya, sehingga mereka memutuskan untuk tidak melakukan penyerangan ke sana.  



2. Wilayah Jazirah Arab, Dipandang sebagai Bukan Daerah yang Penting dan Tidak Menguntungkan

Teruntuk daerah Mekkah dan Madinah, sebenarnya merupakan daerah terpencil (backwater), sekaligus tingkat pendapatan (revenue) dan populasi penduduk yang sangat rendah menjadikan indikator perekonomian kedua daerah tersebut juga ikut rendah.

Beda halnya dengan daerah Palestina, karena disebabkan oleh bagian dari Negeri Syam dan dekat dengan pusat perekonomian ibukota Dinasti Al-Ayyubiyah (Kota Damaskus) kala itu, mulai dipandang sebagai sasaran empuk penyerangan pasukan Mongol, namun hal itu berlangsung sebentar karena direbut kembali oleh Dinasti Mamluk yang dibantu oleh laskar pasukan Salib.

Kembali mengenai Jazirah Arab, pasukan Mongol tidak tertarik menaklukkan daerah Jazirah Arab karena dianggap tidak memberikan keuntungan apa-apa dari segi ekonomi dan hanya membuang-buang tenaga saja.   

Pada Abad Pertengahan, Bangsa Mongolia sebenarnya hanya menargetkan kota-kota besar yang telah menjadi pusat peradaban yang maju dan pusat aktivitas perekonomian besar. 

Sebab bila menaklukan pusat-pusat kota besar, maka akan memberikan manfaat dan keuntungan yang berlebih kepada pasukan Mongol ini, yang dimana salah satu targetnya adalah Kota Baghdad seperti yang diceritakan sebelumnya.

Potensial Kota Baghdad tentu sangat jauh berbeda dibandingkan dengan Kota Mekkah, Madinah, dan Palestina tersebut, yang artinya tidak ada keuntungannya jika menjajah suatu wilayah yang tidak dapat memberi keuntungan banyak bagi Bangsa Mongol. 


3. Pasukan Mongol Kalah dalam Pertempuran 'Ain Jalut

Dalam pertempuran ini, pada awalnya Bangsa Mongol hanya ingin menyerang Bumi Palestina pasca berhasil meruntuhkan Dinasti Al-Ayyubiyah yang berada di Damaskus, namun di sisi lain pasukan Mongol tidak tertarik memasukkan Palestina ke daftar daerah jajahannya.

Setelah berhasil dikuasai, tersiar sebuah kabar Khan Agung mereka telah meninggal dunia dan terjadi pergantian kaisar selanjutnya (Kurultay). Lantas saja, Hulagu Khan meninggalkan mereka, namun dia sempat menitipkan pesan kepada para pasukannya agar tetap meneruskan invasi ke daerah Mesir.

Sultan Mamluk, Qutuz tidaklah seperti Khalifah Al-Mu'tashim (Dinasti Bani Abbasiyah), dia sudah lebih lama mengamati serangkaian invasi Bangsa Mongol terhadap Kota Baghdad (Ibukota Bani Abbas), Damaskus (Ibukota Al-Ayyubiyah), dan daerah bekas Persia (Iran).

Tanpa ada rasa gentar sedikitpun, kala Sultan Qutuz mendapat surat seruan untuk menyerah dari Hulagu Khan, dia segera memancung utusannya tersebut dan bersedia menyatakan perang. Kemudian, Sultan Qutuz segera mengumpulkan persiapan bala tentaranya dan juga berusaha menjalin kerjasama dengan pasukan Salib dengan negosiasi yang sangat panjang.

Hingga akhirnya, mereka mampu bersedia mengakomodasi kebutuhan perang pasukan Islam untuk menahan serangan Bangsa Mongol itu. Pada Tahun 1260, pasukan Mamluk dan Mongol bertemu di 'Ain Jalut (mata air bekas pertempuran Raksasa Jalut dan Nabi Daud) dan langsung melakukan pertempuran di sana. 

Alhasil, Pasukan Mamluk berhasil mengalahkan pasukan Mongol, yang sebelumnya pernah membabat habis berbagai macam kerajaan. Menurut sejarawan, serangan Mongol dapat dipatahkan karena menggunakan Taktik Feigned Retreat (pura-pura kabur), sebagaimana yang pernah diterapkan dalam Perang Uhud jika kalian tahu ceritanya. 

Mendengar kekalahan itu, Panglima Khulagu Khan sangatlah marah dan berencana mengirimkan pasukan ke sekian kalinya menuju Palestina sekaligus berambisi menguasai Dinasti Mamluk di Mesir. 

Tetapi ketika Kubilai Khan dinobatkan sebagai Kaisar Agung Mongolia, kondisi internal politik dalam negeri menjadi berguncang dan semakin memburuk karena dipicu peperangan saudara selama 10 tahun lamanya atas motif perebutan kekuasaan, sehingga lambat-laun Imperium Mongol akhirnya runtuh dan terpecah-belah menjadi 4 bagian yang di antara lain ialah :

  • Dinasti Yuan, yang dipimpin oleh Kubilai Khan beserta anak-anaknya yang meliputi wilayah China, Mongolia, dan Korea.
  • Dinasti Il-Khanat yang dipimpin oleh adiknya, Hulagu Khan beserta anak-anaknya yang mencakup wilayah bekas Persia.
  • Dinasti Chagatai yang dipimpin oleh pamannya, Chagadi beserta anak keturunannya yang meliputi wilayah Asia Tengah.
  • Dinasti Golden Horde yang dipimpin oleh sepupunya, Batu Khan dan anak keturunannya yang meliputi wilayah Rusia, Kazakhstan, dan Ukraina.


4. Perlindungan dari Dinasti Bani Mamluk dan Dinasti Bangsa Lain

Perang Saudara yang berlangsung selama 10 tahun mendesak Kaisar Kubilai Khan untuk mengambil tindakan besar, yaitu memecahkan wilayah kekuasaannya menjadi 4 bagian. Hal itu juga bermaksud untuk menghindari gerakan pemberontakan yang didalangi oleh anggota keluarganya sendiri. 

Salah satu keluarga Kerajaan Mongol, Panglima Hulagu Khan dinobatkan sebagai Penguasa di daerah bekas Persia dengan bernama Dinasti II-Khanat. Semenjak itu, Hulagu Khan berambisi lagi untuk merebut Palestina dan menguasai Dinasti Mamluk.

Pada Tahun 1262, pasukan Hulagu Khan sudah mempersiapkan laskar pasukannya untuk menguasai Palestina, tetapi rencana itu batal karena harus berbelok menghadapi pasukan Berke Khan di daerah perbatasan utara wilayahnya (Dinasti Golden Horde, bekas pecahan Kekaisaran Mongolia bagian Rusia).  

Dilanjutkan lagi oleh Abaqa Khan (putra Hulagu Khan) pada Tahun 1270-an, juga ikut berambisi menguasai Palestina dengan menjalin kerjasama Pasukan Salib, sayangnya rencananya itu gagal lagi karena harus pulang ke Persia untuk menghadapi penyerangan Dinasti Chagatai (bekas pecahan Kekaisaran Mongolia bagian Asia Tengah).

Ghazan Khan (cucu Abaqa Khan), juga ikut mencoba untuk menguasai Dinasti Mamluk dengan mengirimkan laskar pasukan sebanyak 30.000 tentara, tetapi berhasil dipatahkan di daerah Marj As-Saffar pada Tahun 1303, lebih tepatnya daerah bagian selatan Kota Damaskus. 

Dia juga berusaha membujuk para penguasa Mekkah dan Madinah untuk takluk di bawah jajahannya dengan jalan diplomatis, namun akhirnya gagal karena kas negara mengalami defisit hebat akibat kalah pertempuran melawan Dinasti Mamluk di Marj As-Saffar.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.