Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Dinasti Bani Umayyah : Khalifah Yazid bin Walid dan Ibrahim bin Walid (126 H/744 M)

Khalifah Yazid bin Walid dan Ibrahim bin Walid (126 H/744 M)

Biografi Khalifah Yazid bin Walid

Yazid bin Walid dilahirkan di Damaskus pada Tahun 701 Masehi, ia berasal dari golongan ayahnya yang bernama Walid bin Abdul Malik bin Marwan bin Hakam, sedangkan ibunya berasal dari golongan darah biru alias ningrat yaitu Syah Farand binti Fairuz bin Yazdajird.

Sejarah meriwayatkan, bahwa ibunya Fairuz terdapat tali campuran antara darah Kisra Persia, Raja Turki, dan Kaisar Romawi. Oleh karena itu, Yazid bin Walid dengan bangga dirinya menyenandung sebuah syair yang berbunyi :

"Aku anak Kaisar Persia, sedang ayahku adalah Marwan. Kaisar adalah kakekku, kakekku yang lain adalah Khaqan."

Menurut Tsa'labi, Khalifah Yazid bin Walid ialah satu-satunya orang punya 2 garis keturunan yang mulia dan terhormat, yaitu dari garis kerajaan dan khalifah.


Yazid bin Walid Naik Tahta Sebagai Khalifah

Selepas Khalifah Walid bin Yazid dibunuh di hadapannya, ia langsung berpidato di tengah massa untuk menyatakan dirinya sebagai khalifah selanjutnya. Pertama kali ia menduduki kursi khilafah, Khalifah Yazid bin Walid segera mengurangi gaji para tentara sewajarnya, hal itu juga berlaku pada bantuan sosial kepada orang-orang yang membutuhkan. 

Karena kebijakan inilah, ia mendapat gelar An-Naqish yang artinya orang yang mengurangi. Dilansir dari Kitab Tarikh Khulafa', Khalifah Yazid bin Walid ternyata menganut aliran Qadariyah yang meyakini bahwa takdir sepenuhnya ada di tangan manusia, bukan di tangan Allah. 

Khalifah Yazid juga-lah orang pertama yang membawa senjata saat Hari Raya untuk melindungi keselamatan dirinya. 

Ia juga pernah berpesan kepada Keluarga Besarnya, Bani Umayyah supaya menjauhi nyanyian-nyanyian karena segala bentuknya itu bisa menjurus ke hal-hal yang nista seperti hilangnya rasa malu, tergodanya hawa nafsu, dan menghancurkan kepribadian. 

Belajar dari kesalahan saudara sepupunya dulu, Walid bin Yazid, ia berani mengatakan kegiatan menyanyi sama halnya dengan minum khamr, sama-sama bisa mendorong perbuatan zina. 

Di awal masa pemerintahannya, kondisi politik dalam negeri diwarnai berbagai kekacauan yang kemelut. Salah satunya, Sulaiman bin Yazid, dia saudaranya Khalifah Walid bin Yazid pernah dipenjara oleh kakaknya sendiri karena dianggap sebagai ancaman kedudukannya.

Hanya saja, Khalifah Yazid bin Walid berhasil membujuknya dan meluluhkan hatinya supaya mau mem-bai'at dirinya sebagai khalifah. Selanjutnya kejadian yang sama terjadi di Homs, beberapa para pendukung khalifah sebelumnya tidak terima dan berusaha merebut kekuasaannya tersebut namun berhasil dipadamkan dan mau menerimanya sebagai khalifah. 

Banyak sekali pergejolakan di mana-mana, salah satunya yang paling berbahaya adalah rencana kudeta yang didalangi oleh Marwan bin Muhammad, Gubernur Mesopotamia (meliputi daerah Armenia dan Kaukasus, Asia Tengah) tetapi akhirnya kudeta itu bisa diselesaikan dengan berjanji akan diberi tambahan daerah Azerbaijan dan Mosul sebagai daerah kekuasaannya. 

Konflik berdarah terus-menerus terjadi di Irak, Khurasan, dan Yamamah walau selanjutnya bisa diredam. Berbagai konflik kerusuhan di mana-mana membuat pukulan batin bagi Khalifah Yazid bin Walid. 

Dengan demikian, ia wafat pada tanggal 7 Dzulhijjah Tahun 126 H dikarenakan kondisi fisiknya yang lumpuh. Di sisi lain, ada yang mengatakan dia terkena wabah penyakit tha'un (pes). Ia berkuasa hanya selama 6 bulan kurang lamanya dan meninggal dunia saat berusia 43 tahun.


Peralihan Kekuasaan ke Ibrahim bin Walid

Selanjutnya, kekhalifahan diserahkan kepada saudaranya, Ibrahim bin Walid. Imam Suyuthi meriwayatkan, sebenarnya Khalifah Yazid bin Walid tidak berniat menyerahkan tahtanya kepada adiknya itu. 

Kemudian, dia tiba-tiba pingsan dalam waktu yang sangat lama (koma). Lalu, Qathn segera menuliskan surat wasiat mengatasnamakan Khalifah Yazid bin Walid supaya diserahkan ke Ibrahim sebagai khalifah selanjutnya. Sayangnya, masa kepemimpinannya hanya bertahan selama 70 hari saja

Saat dirinya pertama kali menjabat Khalifah, suasana internal kerajaan sedang tidak menentu. Sebagian besar keluarga Bani Umayyah tidak setuju terhadap pengangkatan itu, salah satu orang yang paling berpengaruh dan berambisi untuk merebut kursi khalifah adalah Marwan bin Muhammad

Marwan bin Muhammad adalah orang yang paling keras menentang dan menolak Khalifah Ibrahim bin Walid. Ia tidak segan-segan memimpin bala tentaranya sebanyak 80.000 pasukan menuju Istana Damaskus. Pemberontakan ini adalah peristiwa terbesar yang pernah dialami oleh Khalifah Ibrahim.

Dia lantas menemui kakak sepupunya, Sulaiman bin Hisyam dan mengangkatnya sebagai panglima perang untuk menghadapi pasukan Marwan bin Muhammad. Panglima Sulaiman segera mengumpulkan bala tentaranya dari segala penjuru seperti Mesir, Irak dan Hijaz dengan total jumlah sebesar 120.000 orang. 

Suasana Syam kala itu sangat tegang, Perang Saudara sudah tidak bisa terelakkan lagi dan kemenangan tersebut jatuh di pihak Marwan bin Muhammad. 

Gubernur Marwan bin Muhammad sebenarnya bukan hanya terkenal sebagai pejabat politik ternama, melainkan dia juga berpengalaman sebagai panglima perang yang tangguh untuk menyelesaikan segala pertempuran.

Hal itu berbanding terbalik dengan Panglima Sulaiman yang dibesarkan di lingkungan istana. Menyaksikan kekalahan tersebut, Panglima Sulaiman segera kembali ke istana dan melaporkan kekalahan pasukannya. 

Saat itu, Khalifah Ibrahim bin Walid hanya bisa berpasrah saja. Awalnya, ia sempat melarikan diri dikhawatirkan bisa dibunuh sebagaimana yang pernah terjadi pada diri Khalifah Walid bin Yazid. 

Tidak beberapa lama kemudian, Ibrahim kembali ke istana diiringi para anggota keluarganya, dengan sukarela ia menyerahkan jabatan khalifahnya kepada Marwan bin Muhammad. Begitu pula dengan Marwan bin Muhammad, ia memberikan jaminan keamanan pada Ibrahim bersama ahli keluarganya. 

Pencopotan Ibrahim bin Walid dari jabatan khalifah terjadi pada Hari Senin, 14 Shafar 129 H. Akhirnya, Daulah Islam berada di bawah kekuasaan Khalifah Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah.

Setelah peristiwa ini, konon Ibrahim bin Walid masih hidup sampai Tahun 132 Hijriyah. Kemudian, ia mati terbunuh bersama keluarga Bani Umayyah lainnya oleh Abul Abbas As-Saffah akibat meletusnya Revolusi Bani Abbasiyah.        

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.