Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Dinasti Bani Umayyah : Khalifah Marwan bin Muhammad (126-132 H/744-750 M)

Khalifah Marwan bin Muhammad (126-132 H/744-750 M)

Biografi Marwan bin Muhammad 

Marwan bin Muhammad dilahirkan pada Tahun 688 Masehi atau 70 H. Ia salah satu cucu Khalifah Marwan bin Hakam, sedangkan ibunya adalah mantan budak Ibrahim bin Ushtar yang dimerdekakan berkat dikawini oleh ayahnya, Muhammad bin Marwan. 

Dilansir dari Kitab Tarikh Khulafa', Marwan bin Muhammad mendapat 2 gelar, pertama yaitu Al-Ja'di sebagai bentuk penghormatan pada guru yang mengajari tata krama, Al-Ja'ad bin Dirham, kemudian kedua ialah Al-Himar yang artinya keledai. 

Sebutan itu disematkan kepadanya karena kesabarannya menghadapi segala pemberontakan namun sayangnya dia dicap juga sebagai pahlawan perkasa yang malang. Marwan bin Muhammad sangat bersabar dan hati-hati dalam ambil tindakan menyikapi tindak-tanduk musuhnya. 

Saking sabarnya, dia lebih sabar ketimbang seekor keledai di tengah peperangan. Sebelumnya, dia dikenal sebagai pemberani, ahli pacuan kuda, pejalan kaki yang kuat, licik, serampangan, panglima perang yang tangguh dan ternama seantero negeri.

Saat Khalifah Walid bin Yazid menjabat, Marwan bin Muhammad dikatakan punya kesetiaan luar biasa dan akrab dengannya meski perangai Walid II dikenal sangat dibenci dan meresahkan Umat Islam. 

Tatkala tahu Walid II dibunuh, Marwan merasa tak terima dan ingin melakukan pemberontakan atas motif balas dendam kepada Khalifah Yazid bin Walid.

Meski akhirnya, niatnya batal dan dibujuk sebagai gantinya diberi tambahan kekuasaan yang luas tetapi dendam kesumatnya masih terpendam. Kala itu, Marwan bin Muhammad masih menjabat sebagai Gubernur Mesopotamia (Armenia).

Selepas Yazid wafat dan digantikan Ibrahim bin Walid, ia bergegas melakukan pemberontakan terhadap Khalifah Ibrahim bin Walid. Marwan bin Muhammad juga tidak mengakui kepemimpinannya.

Khalifah Ibrahim, setelah mengetahui pasukannya dapat dikalahkan, ia sempat melarikan diri dan jabatan khalifah mengalami vakum sementara (kekosongan)

Awalnya, dia berangkat menuju Damaskus berniat menuntut balas kematian orang yang dikasihinya, Khalifah Walid bin Yazid dan menyerahkan jabatan khalifah itu kepada keponakannya, Hakam bin Walid II sebagaimana amanatnya dahulu.

Tatkala kursi khalifah mengalami kekosongan, hal pertama yang dilakukan oleh Marwan bin Muhammad saat memasuki Istana Damaskus adalah mencari kedua anaknya Khalifah Walid bin Yazid yang dipenjara, Hakam dan Utsman

Namun saat mengetahui bahwa kedua keponakan kesayangannya itu telah dibunuh oleh Khalifah Yazid bin Walid. Ia segera memerintahkan untuk mengurusi jenazahnya dan dikuburkan dengan layak. 

Imam Thabari meriwayatkan, Abu Muhammad As-Sufyani dengan nama asli Ziyad bin Abdullah bin Yazid bin Mu'awiyah I (orang paling berpengaruh di keluarga Bani Umayyah) langsung mendatangi Marwan. Ia langsung menunduk dan jabat-tangannya tanda bai'at sebagai khalifah selanjutnya. 

Marwan bin Muhammad sempat kaget, bingung, rasa bercampur aduk menjadi satu ketika melihat kelakuan Abu Muhammad. Dia sempat mengaku tujuannya datang ke Istana Damaskus hanya demi orang yang dicintainya, Khalifah Walid II beserta anak-anaknya.

Dia menjelaskan, bahwa Hakam bin Walid II sebelum dieksekusi, pernah menuliskan surat wasiat terakhir saat dipenjara, yang berisi Marwan bin Muhammad adalah sosok tepat menggantikan dirinya sebagai khalifah. 

Dengan perasaan terguncang, Marwan bin Muhammad akhirnya bersedia diangkat sebagai Khalifah pada Tahun 126 H/744 Masehi.

 

Kebijakan-Kebijakan Khalifah Marwan bin Muhammad 

Saat menjabat Khalifah, Marwan bin Muhammad mengeluarkan perintah pertama kalinya untuk membongkar kuburan Khalifah Yazid bin Walid, mayatnya disalib , lalu digantung di depan gerbang kota. Kebijakan pertama kali ini nampaknya mengerikan dan terkesan horror bagi masyarakat seantero negeri. 

Aksi itu sengaja dilakukan olehnya sebagai motif balas dendam atas kematian Khalifah Walid bin Yazid yang dulunya dipenggal dan diarak-arak ke tengah kota. Selama dirinya berkuasa, kondisi pemerintahannya tidak stabil dan maraknya terjadi pergejolakan di mana-mana. 

Pertama, Khalifah Marwan bin Muhammad fokus memadamkan pemberontakan kaum Khawarij yang dipimpin kala itu oleh Dahhak bin Qays dan Syaiban Abdul Aziz. Kejadian ini meletus di daerah Mosul, Irak dan akhirnya berhasil diselesaikan.

Tak beberapa lama kemudian, meletuslah pemberontakan Kaum Syi'ah yang dipimpin oleh Abdullah bin Mu'awiyah, keturunan dari Ja'far bin Abi Thalib namun berhasil dipatahkan. Ketidakpuasan antar pusat-daerah mulai memuncak dan sejumlah wilayah kelihatan ingin memisahkan diri dari Daulah Bani Umayyah. 

Ditambah lagi, kebijakan pemerintah Bani Umayyah yang selama ini tidak adil terhadap Bangsa Non Arab dan para mawali (orang mu'allaf), dan non Islam menyulutkan api kemarahan menjadi-jadi. 

Salah satu keluarga Bani Umayyah, Panglima Sulaiman bin Hisyam juga ikut-ikutan memberontak melawan pemerintahan Khalifah Marwan bin Muhammad, hanya saja pasukannya dapat ditumpas sedangkan Sulaiman bin Hisyam berhasil melarikan diri ke India, kemudian wafat di sana. 

Selang beberapa bulan kemudian, Kaisar Romawi, Constantine V juga memanfaatkan kekacauan politik dalam negeri Daulah Umayyah untuk merebut kembali bekas wilayah jajahannya. Pasukan Bani Umayyah lantas mundur dari serangan tersebut dan pasukan lawan dapat menguasai lagi Asia Kecil dan perbatasan daerah Syam bagian utara.

Melihat suasana yang begitu kemelut ini, Khalifah Marwan bin Muhammad sempat memindahkan roda pemerintahannya dari Ibukota Damaskus ke Harran, Mesopotamia mengingat dikelilingi oleh para pendukungnya di sana. 


Revolusi Bani Abbasiyah 

Pemberontakan demi pemberontakan terus terjadi, namun hal paling membahayakan yang sempat terkecoh olehnya yaitu Revolusi Bani Abbasiyah, yang berpusat di daerah Khurasan. Tidak disangka, pergerakan terselubung ini adalah lonceng kematian bagi keutuhan Daulah Bani Umayyah. 

Suatu hari, Khalifah Marwan bin Muhammad dapat menangkap surat Ibrahim Al-Imam (kepala Gerakan Abbasiyah) yang ditujukan kepada Abu Salmah, seorang Muballigh (pendukung Abbasiyah) di Irak. Atas dasar buktinya itu, Ibrahim ditangkap dan dieksekusi mati. 

Sebelum dia wafat, dia sempat berwasiat kepada para pendukungnya untuk tetap berpegang teguh cita-cita Bani Abbasiyah sekuat tenaga dan jangan pernah sekali-kali melupakan kezhaliman yang dibuat Bani Umayyah terhadap Keluarga Rasulullah SAW. dan Bani Hasyim. 

Pesan wasiat itulah yang menancap dada masing-masing para pengikutnya, dan selanjutnya pemimpin pergerakan Bani Abbas dipegang oleh Abul Abbas As-Saffah sendiri. Mengingat Khalifah Marwan sibuk memadamkan berbagai pemberontakan, kesempatan ini benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menyusun rencana strategi.    

Kemudian, laskar tentara Bani Abbas segera memerangi Gubernur Khurasan Bani Umayyah, Nashru bin Saiyar dan dapat dikalahkan. 

Selanjutnya, ia bergegas menuju ke Irak dan menaklukkan Kota Kufah sebagai target berikutnya. Pasca berhasil, Abul Abbas menyatakan dirinya sebagai khalifah dan memerintahkan untuk menumpas pasukan Khalifah Marwan bin Muhammad.

Dalam pertempuran tersebut, para pasukan Bani Umayyah menghadapi pasukan gabungan Abbasiyah, Syi'ah, dan orang-orang Persia yang berada di tepian Sungai Zab (anak sungai Tigris). 

Pasukan musuh saat itu dipimpin oleh Abdullah bin Ali (Paman Abul Abbas) sedangkan pasukan Umayyah dipimpin langsung oleh Khalifah Marwan sendiri, namun sayangnya pasukan Umayyah dapat takluk dikalahkan.


Detik-Detik Kematian Khalifah Marwan bin Muhammad

Khalifah Marwan bin Muhammad segera melarikan diri ke Mosul, Harran, Syam, dan tempat terakhir ialah Mesir. Di sana, dia berhasil ditangkap oleh Panglima Abbasiyah, Shalih bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthallib.

Kepala khalifah yang malang itu dipenggal dan diserahkan langsung ke Abul Abbas As-Shaffah saat berada di Kufah. 

Marwan bin Muhammad tewas dibunuh pada Bulan Dzulhijjah Tahun 133 H atau bertepatan tanggal 6 Agustus 750 Masehi saat menginjak usia 62 Tahun. Habislah sudah, masa kekuasaan Bani Umayyah yang sudah berlangsung hampir lebih 90 tahun lamanya.

Konon, Keluarga Bani Umayyah disapubersih alias dibantai habis-habisan oleh pasukan Abbasiyah sampai nyaris tidak ada yang tersisa apapun di Damaskus. 


Dinasti Bani Umayyah Jilid II di Andalusia (Spanyol)

Satu-satunya orang yang berhasil selamat dari pembantaian berdarah sangat mengerikan itu, yaitu Abdurrahman Ad-Dakhil bin Mu'awiyah bin Hisyam bin Abdul Malik yang dapat melarikan diri ke Andalusia, kemudian menggulingkan Gubernur Yusuf Al-Fihri saat itu dan mendeklarasikan dirinya sebagai Amir Bani Umayyah pada Tahun 756 Masehi. 

Akhirnya, Abdurrahman Ad-Dakhil dapat menyelamatkan Kekhalifahan Bani Umayyah tahap kedua di Andalusia dan mampu menyulap daerah kekuasaannya (Kota Cordoba) setara menyaingi ibukota negara maju lainnya seperti Baghdad dan Konstantinopel. 

Kebijakan-kebijakan itu sebenarnya berkat terinspirasi jasa kakeknya, Khalifah Hisyam bin Abdul Malik yang berhasil memajukan kesejahteraan rakyatnya di berbagai bidang seperti ilmu pengetahuan, agama, kesastraan, pertahanan militer dan ekonomi perdagangan yang maju pesat kala itu.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.