Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Dinasti Bani Umayyah : Khalifah Yazid bin Mu'awiyah dan Mu'awiyah II (60-64 H/680-683 M)

Dinasti Bani Umayyah : Khalifah Yazid bin Mu'awiyah dan Mu'awiyah II (60-64 H/680-683 M)

Yazid bin Mu'awiyah lahir pada Tahun 647 Masehi atau bertepatan pada Tahun 26 H di Damaskus, Suriah. Kala itu, ayahnya masih menjabat sebagai Gubernur Syam di bawah pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan sedangkan ibunya seorang suku Badui Pedesaan yang bernama Maysun binti Bahdal yang berasal dari Kabilah Bani Kalb.

Konon, Maysun waktu itu minta diceraikan oleh Mu'awiyah karena merasa tidak betah tinggal di istana, kemudian ia memboyong Yazid kecil untuk diasuh dan dibesarkan di lingkungan kampung halamannya yang masih bersih, bahasa yang murni, penuh kearifan, tata krama, sopan santun dan kebagusan sastra syairnya. Pada Masa Pemerintahan ayahnya, ia sudah berani ditugaskan beberapa kali untuk memimpin pasukan perang melawan Kekaisaran Byzantium di saat berusia kisaran 20 tahun-an. 

Pada Tahun 676 Masehi, Khalifah Mu'awiyah bin Abi Sufyan menetapkan pengangkatan Putra Mahkotanya kepada Yazid bin Mu'awiyah berdasarkan kesepakatan Majlis Musyawarah Damaskus dan Keluarga Besar Bani Umayyah. Sepeninggal kewafatan ayahnya, ia naik tahta sebagai seorang khalifah kedua dan memerintahkan seluruh Gubernur dan masyarakat setiap wilayahnya masing-masing untuk mengakui (bai'at) dirinya sebagai khalifah.   

Namun saat itu, ada beberapa orang yang berpengaruh di antara Umat Islam di antaranya ialah 'Abdullah bin Zubair, Husain bin Ali bin Abi Thalib, dan 'Abdullah bin Umar. Kala itu, Gubernur Madinah berusaha membujuk mereka bertiga namun hanya satu yang menyetujuinya, yaitu Ibnu Umar itu sendiri. 

Melihat sikap kedua orang itu, dianggapnya sebagai ancaman kekuasaan Bani Umayyah. Atas bujukan Marwan bin Hakam, mereka berdua harus dipaksa supaya mau berbai'at kepada Khalifah Yazid bin Mu'awiyah atau jika perlu harus dijebloskan ke penjara. 

Akhirnya, banyak sekali deretan peristiwa sejarah kelam yang terjadi sepanjang Masa Pemerintahan putra Mu'awiyah bin Abi Sufyan ini, para kalangan sahabat Nabi menilai sebagian besar kebijakannya dipenuhi kezaliman, gemar menuruti hawa nafsu, suka melakukan maksiat, memelihara hewan-hewan yang diharamkan seperti anjing dan kera, serta jauh dari tuntunan Al-Quran dan Hadits.  


Perang Karbala (61 H/681 M)

Pasca Penobatan Khalifah Yazid bin Mu'awiyah, reaksi Umat Islam sangat gempar karena Mu'awiyah bin Abi Sufyan telah mengubah sistem pengangkatan khalifah menjadi sistem kerajaan. Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Zubair, dan Husain bin Ali bin Abi Thalib sangat menentang keras model pemerintahannya karena dianggap telah melanggar Perjanjian Madain. 

Di saat Husain bersama keluarganya tinggal di Mekkah, dia mendapat surat undangan dari Penduduk Irak supaya datang ke Kufah demi mempelopori gerakan perlawanan pemerintahan Khalifah Yazid. 

Husain menerimanya dengan senang hati, tetapi di sisi lain ia telah lupa dan terperdaya atas perlakuan mereka terhadap ayahnya, Ali bin Abi Thalib dan kakaknya, Hasan Radhiyallahu 'Anhu yang terlanjur dikhianatinya.

Pada suatu saat di tengah perjalanan, Husain dan rombongannya mendapat kabar bahwa Muslim bin 'Aqil, pembawa surat balasan ke Irak dibunuh dan desus Penduduk Irak mulai beralih dukungan, namun dia tetap memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. 

Saat tiba di Karbala, ia mendapati pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Panglima 'Ubaidillah bin Ziyad, sedangkan penampakan penduduk Irak yang katanya akan mendukung tidak ada satupun hadir menolongnya.

Akhirnya, terjadilah peristiwa mengenaskan dan tidak seimbang yang terjadi pada tanggal 10 Muharram 61 H, sehingga membuat Husein tewas terbunuh dan dipenggal kepalanya oleh salah satu tentara, Syammar bin Ziljausan untuk diserahkan ke hadapan Khalifah Yazid bin Mu'awiyah. Melihat tragedi itu, Khalifah Yazid menangis sejadi-jadinya karena ia tidak pernah memerintahkan untuk membunuhnya, dengan berkata :

“Aku tidak pernah memerintahkan untuk membunuhnya. Demi Allah, kalau aku berada di tempat itu, aku akan memberikan ampunan padanya,”

Dia teringat wasiat ayahandanya Mu'awiyah, yaitu apabila suatu saat ia dapat mengalahkan Husein bin Ali, ia harus memaafkan dan menghormatinya. Namun demikian, ia juga harus bermurah hati kepada putera-putera Husein RA. beserta keluarganya, dan mengembalikan mereka ke Hijaz, dengan segala penghormatan dan kemuliaan.

Setelah terjadi peristiwa mengerikan itu, seluruh Umat Islam mencap Khalifah Yazid sebagai dalang yang bertanggung jawab atas terbunuhnya salah satu cucu mulia Baginda Rasulullah SAW. itu dan timbullah reaksi Gelombang Anti-Bani Umayyah di berbagai daerah, terutama di Kota Madinah.  


Pemberontakan Hijaz

1. Pertempuran Al-Harrah

Pasca peristiwa Karbala itu, Umat Islam merasa terpukul dan tersayat-sayat hatinya atas terbunuhnya cucu Baginda Rasulullah SAW. tersebut dan muncullah reaksi antipati kepada Keluarga Bani Umayyah di kalangan Umat Islam. 

Sebagian besar penduduk Jazirah Arab segera berbondong-bondong memberikan dukungan kepada Ibnu Zubair sebagai Khalifah Pesaing Bani Umayyah, di antaranya berasal dari Mekkah, Madinah, Mesir, Yaman, Irak, Iran dan sebagian daerah Syam yang menjadi pusat ibukota Negara Bani Umayyah.

Mengetahui reaksi itu, Khalifah Yazid bin Mu'awiyah berusaha mengundang para tokoh terkemuka dari Kota Madinah dan membujuknya dengan pemberian hadiah-hadiah mewah dengan tujuan lunak hatinya. 

Namun, setelah mereka melihat dan mengetahui dengan mata kepalanya sendiri kalau gaya hidup Khalifah Yazid penuh kemewahan, gemar minum khamr, dan suka menggandrungi musik, yang notabenenya jauh sekali dengan nilai-nilai Islam. Mereka lantas menolaknya dengan mentah-mentah dan pergi meninggalkannya.

Setelah para pemuka menyampaikan apa yang dilihatnya tentang kelakuan Khalifah Yazid di istana kepada Penduduk Madinah. Tiba-tiba saja,  mereka naik darah bukan kepalang dan beramai-ramai mengusir keluarga Bani Umayyah dan Wali Gubernur Madinah dari Kota Madinah. 

Khalifah Yazid menganggap itu penghinaan bagi keluarganya dan tidak bisa dibiarkan lagi, dia memerintahkan 12.000 pasukannya untuk menyerang Kota Madinah di bawah pimpinan Muslim bin Uqbah dan berkata :

“Berangkatlah menuju Madinah. Jika mereka melakukan perlawanan, perangi ! Jika kau menang, izinkan tentaramu berbuat sekehendak hati selama 3 hari. Setelah itu berangkatlah ke Makkah dan perangilah Abdullah bin Zubair !”

Tepat pada Tahun 63 H, terjadilah Peristiwa Al-Harrah (terjadi di Lembah Harrah, bagian utara Madinah) yang sangat meninggalkan bekas luka yang mendalam bagi penduduk Madinah. Menurut Imam Suyuthi dalam Kitab Tarikh Khulafa', peristiwa itu layaknya seperti pembantaian yang mengerikan. Ada beberapa sahabat Rasulullah SAW. yang terbunuh, puing-puing bangunan dihancurkan, dan ribuan perempuan di sana diperkosa. 

Perlakuan para tentara Muslim bin Uqbah terhadap penduduk Madinah, disebut sebagai Tradisi Ibahat yang biasanya diwariskan oleh Kekaisaran Romawi. Dalam tradisi ini, dikatakan para pasukan jika berhasil menaklukkan sebuah kota, mereka bisa bebas melakukan apa saja seperti membunuh, merampas, menjarah dan memperkosa dengan batas selama 3 hari. Tindak kekejaman inilah yang membuat Umat Islam semakin marah, pedih dan benci kepada Dinasti Bani Umayyah. 

Setelah berhasil menaklukkan Madinah, pasukan Bani Umayyah segera melanjutkan perjalanannya ke Mekkah untuk menguasai Kota Makkah dan menundukkan Ibnu Zubair. Tetapi, Muslim bin 'Uqbah wafat di tengah perjalanan dan kemudian digantikan oleh Panglima Hasyim bin Numair.


2. Pertempuran Makkah (Hancurnya Kakbah)

Setibanya di Makkah, pasukan Panglima Ibnu Numair bersigap menyerang pasukan tentara Ibnu Zubair sampai-sampai pertempuran tersebut sangat sengit. Selama penyerangan, pasukan Bani Umayyah menggunakan manjanik (pelontar batu api), sehingga banyak sekali bangunan-bangunan Makkah yang terkena bombardir oleh mereka, dinding Kakbah pun juga terkena imbasnya hingga hancur sebagian karena dicurigai sebagai tempat persembunyian Ibnu Zubair, dan Hajar Aswad disebutkan hampir hancur (retak).   

Karena Ibnu Zubair masih tetap tidak menyerah, pasukan Mekkah berhasil mampu bertahan dari pengepungan para tentara Bani Umayyah selama 40 hari, sampai akhirnya kedua belah pihak menyatakan gencatan senjata karena mendapat kabar dari Bumi Syam bahwa Yazid bin Mu'awiyah meninggal mendadak.


Kewafatan Khalifah Yazid bin Mu'awiyah 

Setelah berkuasa hampir 3 tahun 6 bulan lamanya, Khalifah Yazid bin Mu'awiyah meninggal mendadak pada tanggal 11 November 683 Masehi tepat saat berusia 36 tahun. Saat mangkatnya Yazid, Ibnu Zubair segera memanfaatkan momen tersebut untuk mendeklarasikan dirinya terang-terangan di Kota Mekkah sebagai Khalifah Oposisi Bani Umayyah. 

Segala peristiwa itulah yang menjadi bencana besar yang menyayat hati seluruh Umat Islam dan tinta sejarah hitam bagi Masa Pemerintahan Khalifah Yazid bin Mu'awiyah. Banyak para ulama sunni bersepakat saat itu untuk diam, mereka tidak mencela atau mencaci maki Yazid, namun tidak pula mencintainya.

Selanjutnya, sesuai kesepakatan Keluarga Bani Umayyah tampuk Khilafah akan diteruskan kepada anaknya, Mu'awiyah II bin Yazid.  Selama Khalifah Yazid I berkuasa, ia hanya memfokuskan untuk mempertahankan kekuasaannya dan mengukuhkan wilayah perbatasan, tidak seperti ayahnya yang berani melakukan penyerangan ke wilayah Kekaisaran Romawi Timur. 


Pergantian Khalifah Tersingkat, Mu'awiyah bin Yazid (64 H/683 M)

Sebelum meninggal dunia, Khalifah Yazid bin Mu'awiyah sempat berpesan supaya putranya, Mu'awiyah II diangkat sebagai khalifah penggantinya. Sayangnya setelah penobatannya, kesehatan Khalifah tiba-tiba turun dan semakin memburuk. Di sisi lain, dia cenderung memilih menjadi ahli agama dibandingkan memegang jabatan pemerintahan Daulah Islamiyyah yang sangat luas itu.

Akhirnya setelah 40 hari kemudian, ia menyatakan dirinya untuk mundur sukarela dan menyerahkan proses pemilihan selanjutnya kepada Keluarga Besar Bani Umayyah dan beberapa hari kemudian, dia telah meninggal dunia akibat penyakit yang diidapnya (ada beberapa riwayat lain yang berpendapat, dikarenakan terkena wabah penyakit).

Akibat kemundurannya, pengaruh Khalifah Oposisi Ibnu Zubair tidak bisa terbendung lagi apalagi Mu'awiyah bin Yazid itu sendiri pernah mengaku tidak kuat lagi menyaingi popularitas oposannya tersebut dan menyelesaikan rentetan semua masalah yang sudah diwariskan oleh ayahnya itu. 

Pada saat itulah, timbullah kekosongan kursi Khilafah selama beberapa waktu kemudian karena Keluarga Bani Umayyah masih berselisih pendapat tentang siapa sosok pengganti yang tepat untuk diangkat sebagai Khalifah. Demikian kala itu, ada seorang anak bungsu Yazid bin Mu'awiyah yang bernama Khalid bin Yazid namun sayangnya dia masih kecil belia  dan sudah pastinya tidak siap mengemban amanah tugas ini.  

Keributan ini hampir saja membuat Dinasti Bani Umayyah pecah dan runtuh akibat belum terselesaikannya masalah internal. Melihat kegentingan yang terjadi saat itu, akhirnya Marwan bin Hakam tampil untuk siap diangkat sebagai Khalifah selanjutnya. Keluarga Bani Umayyah juga bersepakat memilihnya karena dia dipandang sebagai orang tua yang bijaksana, cakap politik dan berpengalaman sejak dulu. 

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.