Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Dinasti Bani Umayyah : Khalifah Walid bin Abdul Malik (86-96 H/705-715 M)

Khalifah Al-Walid I bin Abdul Malik (86-96 H/705-715 M)

Biografi Walid bin Abdul Malik

Walid bin Abdul Malik dilahirkan pada 673 Masehi, tepatnya di Masa Pemerintahan Khalifah Mu'awiyah bin Abi Sufyan. Ia merupakan putra tertua dari ayahnya, Khalifah Abdul Malik bin Hakam dan ibunya yang bernama Walladah binti Al-Abbas. Saat ayahnya menduduki Khalifah, ia sebenarnya ingin memberikan penerus tahta kepada anak sulungnya, tetapi Abdul Aziz menentang keputusan tersebut. 

Namun, pertikaian itu dapat dihindarkan karena Abdul Aziz telah wafat terlebih dahulu, sedangkan Walid bin Abdul Malik akhirnya bisa naik tahta dengan mulus untuk melanjutkan masa pemerintahan ayahnya itu. 


Jasa dan Kebijakan Khalifah Walid bin Abdul Malik 

Di Zaman Kekhilafahan Walid bin Abdul Malik, banyak sekali kemajuan yang dirasakan Umat Islam ditambah lagi perluasan Daulah Islamiyah yang begitu luas sampai merambah Benua Eropa pertama kalinya menurut sepanjang sejarah Islam.  


Pembangunan Infrastruktur dan Fasilitas Sarana Prasarana 

Melanjutkan kebijakan ayahnya, ia terus fokus membangun infrastruktur fisik, arsitektur masjid, dan perluasan wilayah. Para ahli sejarah menyebutkan, bahwa Masa Pemerintahan Khalifah Al-Walid I adalah Zaman Keemasan dan Kemegahan Dinasti Bani Umayyah, sebab peradaban dan kebudayaan Islam kala itu mulai berkembang pesat dan begitu banyaknya bangunan megah yang menunjang sarana prasarana agama dan pendidikan. 

Khalifah Al-Walid I dikenal juga sebagai pemimpin yang penyantun kepada para fakir-miskin, suka memperhatikan keadaan rakyatnya, berusaha meringankan penderitaan rakyatnya yang bernasib melarat. Hal itu bisa dibuktikan dengan usahanya mendirikan banyak rumah sakit khusus para penderita kusta dan cacat mental, tempat-tempat penginapan yang lengkap dengan para penjaganya, tersedianya penunjuk jalan, dan penghibur hati bagi orang-orang yang buta. 

Selain itu, dia juga mencetus pendirian Masjid Raya Umayyah di Damaskus, revitalisasi dan memperluas Masjid Nabawi, membangun Jami Al-'Aqsha di bagian kompleks Baitul Maqdis, dan jasanya yang sangat diakui saat itu ialah membangun jalan-jalan dan sumur-sumur di jalur Hijaz.    

 

Perluasan Wilayah (Futuhat)

Di Masa Pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik, kebanyakan gubernur-gubernur yang ditunjuknya handal, cakap, dan berkompeten dengan tujuan membuat situasi politik dalam negeri bisa kondusif dan terkendali. Dengan itu, ia bisa fokus melakukan perluasan wilayah dengan mudah dan banyak catatan sejarah yang menuturkan bahwa masa pemerintahannya adalah periode kekhilafahan paling kuat yang pernah ada.   


1. Ke Daerah Timur (Hindustan dan Perbatasan Tiongkok)

Untuk ekspedisi menuju timur, pasukan Islam Bani Umayyah yang dipimpin oleh Panglima Qutaibah bin Muslim membawa mereka untuk menyeberangi Sungai Jihon dan Sihon, kemudian menaklukkan Negeri Bukhara dan Samarkand, Kedua negeri itu terletak di Asia Tengah dan mayoritas penduduknya adalah orang-orang Turki, dan kemenangan ini bisa diartikan bahwa Daulah Islamiyyah telah meluas sampai ke perbatasan Tiongkok. 


2. Ke Daerah Barat (Afrika Utara Bagian Barat)

Selanjutnya, menuju Maghribil Aqhsa (daerah bagian barat yang jauh) yang meliputi sebagian besar daerah Libya, Aljazair dan Maroko. Pada masa sebelumnya, daerah ini sudah ditaklukkan oleh Umat Islam namun Bangsa Barbar seringkali memberikan perlawanan dan di masa inilah, dia ingin mengukuhkan kedudukan wilayahnya yang ada di sana. 

Kala itu, mereka sering menaruh dendam kepada para amir-amir Arab, karena kerap kali diperlakukan seperti rakyat jajahan, dan di samping itu mereka juga sering dibantu para laskar Romawi untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Amir Bani Umayyah. 

Untuk menghentikan perlawanan yang bergejolak tersebut, Khalifah Walid I bin Abdul Malik segera menunjuk Musa bin Nushair menjadi Wali Gubernur Afrika Utara. Di bawah pemerintahannya, Gubernur Mesir yang cakap tersebut berhasil melakukan perluasan wilayah hingga menjangkau seluruh dataran Afrika Utara bagian barat dan selanjutnya akan dilanjutkan ke daerah tepian Laut Atlantik (selain Kota Kueta). 


3. Ke Andalusia (Benua Eropa)

Sebenarnya, dari awal Daulah Islamiyah mengincar penaklukkan Andalusia (Spanyol). Selepas Tahun 710 atas meninggalnya Witiza, Raja Gothia Barat, kala itu singgasananya diduduki oleh Panglima Roderick. Seluruh keluarga Witiza terutama putra-putranya bersekutu dengan Graf Yulian untuk merebut kembali singgasana ayahnya mereka.

Akhirnya, Graf datang menemui Wali Gubernur Mesir, Musa bin Nushair untuk meminta bala bantuan. Permintaan itu disambut baik dan disetujui oleh Musa itu sendiri, saat telah disampaikan beritanya itu kepada Khalifah Walid I bin Abdul Malik, ia berpesan untuk berhati-hati terhadap permohonan itu karena bisa jadi saja tipuan belaka. 

Gubernur Musa segera mengirimkan 500 orang pasukan Islam di bawah Panglima Thariq bin Ziyad untuk menguasai beberapa pelabuhan di Spanyol Selatan. Ternyata, pasukan Thariq mendapat bala bantuan besar dari Graf, sehingga berhasil memperoleh kemenangan yang gemilang. 

Mengetahui hal itu, ia bertambah yakin dengan mengirimkan laskar pasukan sebanyak 7.000 orang yang kebanyakan berasal dari orang Barbar dipimpin oleh Panglima Thariq bin Ziyad, yang kala itu sedang menduduki Gubernur Tangier untuk menaklukkan Andalusia. 

Tepat pada Tahun 92 H/711 Masehi, Thariq bin Ziyad segera menyeberangi lautan menuju Andalusia (Spanyol) dengan dibekali kapal-kapal pemberian Graf Yulian. Sesampainya tiba di daratan Eropa, mereka berkumpul terlebih dahulu dan menyiapkan diri di lereng sebuah Gunung, yang sekarang dinamai dengan Jabal Thariq (Gibraltar), begitu juga dengan nama selatnya. 


Kemudian, laskar Islam segera menyerbu dan menduduki Provinsi Selatan Gothia Barat di Semenanjung Iberia, sehingga mereka dapat menguasai benteng-benteng kuat. Selanjutnya bergerak maju ke daerah Toledo, Ibukota Kerajaan Gothia. Tiba-tiba, Raja Roderik segera mendatangkan 100.000 tentara untuk menghadang para pasukan Islam tersebut, setelah Panglima Thariq tahu akan jumlah musuh yang sangat banyak dan tidak seimbang. 

Dia segera meminta bantuan tambahan laskar tentara kepada Gubernur Musa, dan dia menurutinya dengan kiriman sebanyak 5.000 tentara. Maka, total jumlah laskar Islam sebanyak 12.000 orang yang siap menyerang mereka, dan terjadilah Perang Xerez.   


Pidato Thariq bin Ziyad Saat Penaklukan Andalusia (Spanyol)

Saat perang berlangsung, para laskar Islam merasa gentar lantaran banyaknya musuh, namun Pidato atau Khutbah Panglima Thariq bin Ziyad langsung membakar semangat mereka untuk menguasai Andalusia (Spanyol) yang sangat terkenal sepanjang sejarah dan berbunyi : 

“ Ke manakah kalian dapat melarikan diri sementara musuh berada di depan dan lautan berada di belakang kalian ? Demi Allah ! Tak ada keselamatan bagi kalian, kecuali dalam keberanian dan keteguhan hati kalian. Pertimbangkanlah situasi kalian : kalian berdiri di atas pulau ini bagaikan begitu banyak anak-anak yatim terlontar ke dunia; kalian akan segera bertemu dengan musuh yang kuat mengepung kalian dari segala penjuru bagaikan gelombang kemarahan samudera yang bergejolak, dan mengirimkan prajurit-prajurit yang tak terhitung banyaknya pada kalian, bala tentara baju besi dan dilengkapi dengan segala senjata yang pernah ada.

Apa yang dapat kalian gunakan untuk melawan mereka?

Kalian tak memiliki senjata lain kecuali pedang, tak punya perlengkapan lain kecuali yang telah kalian rampas dari musuh kalian. Oleh karena itu, kalian harus menyerang mereka dengan segera atau jika tidak, maka hasrat kalian untuk menyerah akan tumbuh, angin kemenangan takkan lagi berhembus di pihak kalian, dan barangkali rasa gentar yang bersembunyi di hati musuh-musuh kalian akan berganti menjadi keberanian yang sukar dikekang !

Buanglah segala ketakutan dari hati kalian, percayalah kemenangan akan menjadi milik kita dan percayalah bahwa raja kafir itu tak akan mampu bertahan menghadapi serangkan kita. Ia telah datang untuk menjadikan kita tuan dari kota-kota dan kastil-kastil yang dikuasainya, serta menyerahkan pada kita harta karunnya yang tak terhitung banyaknya. Dan, jika kalian menangkap peluang yang kini tersedia, maka itu bisa menjadi cara bagi kalian untuk memiliki semua itu, di samping akan menyelamatkan diri kalian dari kematian yang tak terelakkan.

Janganlah berpikir bahwa aku membebankan tugas kepada kalian sementara aku sendiri akan lari menghindar, atau aku menutup-nutupi bahaya yang ada dalam mengemban ekspedisi ini. TIDAK ! Kalian memang akan menghadapi datangnya masalah besar, tetapi juga kalian mengetahui bahwa kalian hanya akan menderita sebentar saja. Di akhir pertempuran ini, kalian akan memunguti panenan kebahagiaan dan kesenangan yang melimpah-limpah. Dan, jangan bayangkan bahwa sementara aku berkata ini pada kalian, aku berniat untuk tidak melakukannya, sebab hasratku dalam pertempuran ini jauh melebihi hasrat kalian. Apa yang akan aku lakukan melebihi apa yang akan kalian lakukan. Kalian pastilah telah mendengar keunggulan yang melimpah ruah dari pulau ini, kalian pastilah telah mendengar bagaimana para perawan Yunani, sama rupawannya dengan bidadari, leher mereka berkilau dengan mutiara dan permata tak terbilang banyaknya, tubuh mereka mengenakan tunik terbuat dari sutera-sutera mahal bertabur emas, mereka menunggu kedatangan kalian. Mereka bersandar di atas dipan-dipan empuk di dalam istana-istana mewah para bangsawan dan pangeran bermahkota.

Kalian mengetahui benar bahwa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik telah memilih kalian seperti begitu banyak pahlawan lain dari kalangan para pemberani. Kalian tahu bahwa bangsawan-bangsawan besar tanah ini memiliki hasrat besar untuk menjadikan kalian anak mereka dan mengikat kalian dengan pernikahan, hanya jika kalian menyambut peperangan sebagaimana layaknya orang-orang berani dan pejuang sejati, serta menjadi ksatria yang berani. Kalian mengetahui bahwa rahmat Allah menantikan kalian jika kalian bersiap untuk menegakkan kalimat-Nya dan memproklamirkan agama-Nya di tanah ini.

Dan yang terakhir, tentu saja barang rampasan akan menjadi milik kalian dan Kaum Muslim lainnya. Ingatlah baik-baik bahwa Allah Yang Maha Perkasa akan memilih sesuai janji ini yang terbaik di tengah kalian dan menganugerahinya pahala, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Dan, ketahuilah aku akan berbuat demikian juga. Aku akan menjadi orang pertama yang akan memberi contoh pada kalian dan melakukan apa yang aku anjurkan pada kalian. Sebab inilah tujuanku, saat pertemuan dua pasukan ini, untuk menyerang raja Kristen yang lalim itu, Roderic, dan membunuhnya dengan tanganku sendiri ! Insya Allah.

Saat kalian melihatku berkelahi mati-matian melawannya, seranglah musuh bersamaku. Jika aku membunuhnya, kemenangan menjadi milik kita. Jika aku terbunuh sebelum mendekatinya, jangan kalian bersusah payah karena aku, tetaplah bertempur seolah aku masih hidup dan berada di tengah kalian, dan ikuti tujuanku, sebab saat mereka melihat rajanya jatuh, pastilah kaum kafir ini akan kocar-kacir. Akan tetapi, jika aku terbunuh setelah menewaskan raja mereka itu, tunjuklah seseorang di antara kalian yang di dalam dirinya terdapat perpaduan antara keberanian dan pengalaman, serta mampu memimpin kalian dalam situasi genting ini, dan menindaklanjuti keberhasilan kita.

Jika kalian melaksanakan intruksi-intruksiku, niscaya kita akan menang !”

Kemudian, dengan teriakan sekencang-kencangnya, "Perang atau Mati !" Pidato itu langsung meresap seluruh sanubari para tentara tersebut. Selain itu, Panglima Thariq juga membakar seluruh kapal-kapalnya karena khawatir ada beberapa tentara yang pengecut yang akan kabur. 

Putera Witiza membantu Thariq, Graf Yulian juga berusaha membelotkan beberapa tentara Roderik supaya mereka dapat terpecah-belah. Hingga akhirnya, Pasukan Thariq bin Ziyad memperoleh kemenangan yang sangat gemilang, dan berhasil menduduki daerah penting Kordova, Granada, Malaga, lalu maju ke Toledo dan berhasil membunuh Raja Roderik yang zalim itu.

Dengan penaklukan ini, Pemerintahan Islam segera mengadakan perombakan dan perbaikan secara menyeluruh dan besar-besaran, baik dari sistem kenegaraan, strata sosial, ilmu pengetahuan dan segala segi kehidupan bermasyarakat.


Kewafatan Khalifah Walid bin Abdul Malik

Khalifah Walid bin Abdul Malik memerintah selama 9 tahun 7 bulan, ia akhirnya wafat pada usia 42 tahun 6 bulan dan dimakamkan di Pemakaman Babus Shagir, Damaskus. Sebelumnya, sempat pernah terjadi perselisihan antara putra mahkota yang jatuh kepada adiknya sendiri, Sulaiman bin Abdul Malik atau anaknya, Abdul Aziz bin Al-Walid I sebagaimana perlakuan yang pernah diambil sebelumnya oleh ayahnya, Abdul Malik bin Marwan

Tentu saja, Sulaiman bin Abdul Malik tidak terima soal ini dan berusaha mengulur-ulur waktu saat penobatan pergantian Putra Mahkota berlangsung hingga ajalnya tiba. Selepas kakaknya mangkat, Sulaiman bin Abdul Malik resmi dilantik oleh para pemuka keluarga besar Bani Umayyah untuk menduduki tampuk kekhalifahan selanjutnya. 

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.