Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Dinasti Bani Umayyah : Khalifah Yazid bin Abdul Malik (101-105 H/720-724 M)

Khalifah Yazid bin Abdul Malik  (101-105 H/720-724 M)

Biografi Yazid bin Abdul Malik

Yazid bin Abdul Malik dilahirkan pada Tahun 684 Masehi atau bertepatan pada Tahun 65 H dari tali ayahnya yang bernama Khalifah Abdul Malik bin Marwan bin Hakam, sedangkan ibunya yang bernama Atikah binti Yazid bin Mu'awiyah. Ia mendapat julukan dengan nama Abu Khalid.

Sebelum diangkat sebagai Khalifah, Yazid bin Abdul Malik pernah menjabat sebagai Gubernur 'Amman di Jund Dimasyq. Sepeninggal kakak tirinya, Sulaiman bin Abdul Malik, pesan wasiatnya menunjuk Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah selanjutnya sedangkan dirinya terpilih sebagai putra mahkota. 


Yazid bin Abdul Malik : Kehidupan Awal Sebagai Khalifah

Setelah Khalifah Umar bin Abdul Aziz wafat diracun, sesuai isi wasiat Sulaiman bin Abdul Malik bahwa tampuk kekhalifahan jatuh di tangannya. Mulanya, Khalifah Yazid bin Abdul Malik tetap menjaga pembaruan reformasi kebijakan yang dicetuskan oleh Umar bin Abdul Aziz

Namun dikarenakan keluarga besar Bani Umayyah khawatir akan kebijakannya yang sama seperti sebelumnya, mereka mengatur siasat dengan cara mengundang 40 para ulama supaya mau bersaksi bahwa dia tidak akan diminta pertanggungjawaban dan tidak dihukum di Hari Kiamat kelak.

Cara licik ini ternyata ampuh menjadikan hati Khalifah Yazid bin Abdul Malik goyah. Kebijakan Khalifah yang condong mengikuti langkah-langkah Umar bin Abdul Aziz hanya bertahan selama 40 hari. 

Setelah itu, ia mau mempreteli satu per satu kebijakan pendahulunya dan memberikan kembali hak istimewa seperti semula kepada Keluarga Bani Umayyah. 

Khalifah Yazid bin Abdul Malik nampak mengambil jalan yang berbeda dibandingkan Umar bin Abdul Aziz, misalnya mulai memfokuskan pada bidang militer untuk menumpas pemberontakan dalam negeri dan perluasan wilayah. 

Walaupun cara ini bisa memberikan dampak positif bagi pemerintahannya seperti mendapat kemenangan luar biasa dalam peperangan dalam negeri (menumpas pemberontakan) maupun luar negeri (penaklukan wilayah). 

Namun di sisi lain, ternyata masyarakat Islam mulai memupuk rasa kebencian terhadap Bani Umayyah dan pelbagai perlawanan akan terus bertumbuh hingga ke masa selanjutnya.


Kebijakan Khalifah Yazid bin Abdul Malik

Bidang Administrasi Negara

Di awal masa pemerintahannya, Khalifah Yazid bin Abdul Malik mulai mengangkat beberapa gubernur yang baru dan memecat gubernur-gubernur hasil tunjukan Umar bin Abdul Aziz, di antaranya lain ialah :

  • Ifriqiyah dipimpin oleh Yazid bin Abu Muslim
  • Madinah dipimpin oleh Abdurrahman bin Dahhak bin Qais Al-Fihri
  • Andalusia dipimpin oleh Anbasa bin Suhaim Al-Kalbi
  • Irak dipimpin oleh Umar bin Hubairah

Di antara sekian gubernur yang ditunjuk oleh Khalifah, sayangnya kebanyakan di antara mereka suka melakukan kelaliman dan perbuatan nista kepada rakyatnya. 

Misalnya, Gubernur Mesir (Ifriqiyah), Yazid bin Abi Muslim suka berbuat sewenang-wenang dan penuh kekerasan kepada orang-orang Muslim Non-Arab dan Barbar, padahal gubernur sebelumnya, Ismail bin Abdullah berusaha sekali untuk menyatukan Umat Islam Non-Arab. Tidak tahan mendapat tekanan terus-menerus, Yazid dibunuh dan digantikan oleh Muhammad bin Yazid.

Selanjutnya, perlakuan Gubernur Madinah, Abdurrahman bin Dahhak sangat dibenci oleh kalangan penduduk Madinah. Dikatakan, ia pernah bersikap tidak adil kepada Kaum Anshar dan memaksa salah satu cicit Rasulullah SAW., Fatimah binti Husain bin Ali bin Thalib supaya mau menikahinya dengan nada ancaman. 

Mendengar aduan tersebut, Khalifah Yazid bin Malik buru-buru memecat  orang itu dan menjatuhkan denda sebesar 40.000 dinar emas, sekaligus menjatuhkan sanksi siksaan yang setimpal terhadap Abdurrahman bin Dahhak. Beberapa saat kemudian, nasibnya jatuh miskin seketika dan menjadi pengemis jalanan di pinggiran Kota Madinah.

Perlakuan buruk dilakukan oleh Gubernur Andalusia, Anbasa bin Suhaim yang menaikkan pajak yang berlaku pada orang-orang Kristen. Sama halnya dengan Umar bin Hubairah selaku Gubernur Irak yang tampak rasis dan mendiskretkan orang-orang Suku Arab Selatan. 


Bidang Militer

Penaklukan Wilayah (Futuhat)

Di Masa Pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ia dipandang menjauhi urusan kemiliteran dan menghentikan segala penaklukan, sehingga ada anggapan khawatirnya pemasukan Baitul Mal jika tidak ada perluasan wilayah. Namun, hal ini dihidupkan kembali oleh Khalifah Yazid bin Abdul Malik.

Khalifah Yazid bin Abdul Malik merestui Penaklukan Tolouse yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Franka (Perancis) di bawah pimpinan Gubernur As Samh bin Malik (Andalusia, sebelum digantikan), sayangnya mengalami kekalahan telak.

Kemudian, tentara Umayyah harus berhadapan dengan Suku Turki semi-nomaden, Bangsa Khazar. Pada Tahun 721 Masehi, pasukan Khazar memulai penyerangan terlebih dahulu ke Armenia yang saat itu dipimpin oleh Gubernur Mi'laq bin Saffar Al-Bahrani. Gubernur Khurasan mengaku kewalahan dan minta bala bantuan dari Khalifah.

Khalifah Yazid bin Abdul Malik segera menanggapinya dengan mengutus Panglima Al-Jarrah bin Abdullah beserta 25.000 orang pasukan ke Armenia dengan tujuan menguasai daerah Balanjar, Ibu Kota Khazar. Pasukan Islam juga berhasil menaklukkan Kota Wabandar dan beberapa wilayah yang mendekati Samandar.

Saat Bangsa Khazar melakukan serangan balasan, pasukan Al-Jarrah dapat memukul mundur penyerangan tersebut dan mendapat kemenangan besar. Peperangan ini berhasil menguasai Kawasan Iberia Kaukasus dan wilayah-wilayah Suku Alaun ke dalam kekuasaan Khalifah. 


Memadamkan Api Pemberontakan

Pada awalnya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz mampu menempuh diplomasi jalan damai terhadap orang-orang Khawarij. Selepas Umar mangkat, pemberontakan ini mulai terjadi kembali antara Bani Umayyah dengan orang-orang Khawarij namun hal itu berhasil dipadamkan.

Kemudian, mantan Gubernur Irak, Yazid bin Muhallab pernah dipenjara oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz atas dakwaan penggelapan harta rampasan untuk disetor ke Baitul Mal tetapi dia berhasil kabur ke Irak.

Karena pengaruh keluarganya sangat kuat di sana, ia mampu meraup banyak dukungan dari orang-orang untuk memberontak pemerintahan Khalifah Yazid bin Abdul Malik. Tidak tinggal diam, Khalifah langsung mengutus Panglima Maslamah bin Abdul Malik beserta para pasukannya untuk memadamkan pergolakan itu. 

Yazid bin Muhallab pun tewas terbunuh di medan pertempuran, namun Panglima Maslamah tidak puas hanya di situ saja, dia terus memerintahkan laskarnya untuk menghabisi seluruh keluarga Yazid bin Muhallab dan sisa-sisa para pendukungnya itu.  

Kejadian itu cukup memilukan di hati para penduduk Irak, keluarga Muhallab dikenal sebagai sosok yang baik lagi dermawan di mata mereka. 

Tidak heran, pengaruhnya sangat kuat di Irak karena kebaikannya ditambah lagi ayahnya dianggap sebagai seorang pahlawan yang berhasil menaklukkan lembah Hind (India). Peristiwa itu telah terjadi pada Tahun 101 H dan memperparah rasa kebencian terhadap Dinasti Bani Umayyah.

Memanfaatkan kondisi itu, muncullah Gerakan Bawah Tanah Keluarga Bani Abbasiyah untuk menghimpun kekuatan di Khurasan pada Tahun 103 H (722 Masehi), keluarga inilah yang kelak akan meruntuhkan kekuasaan Bani Umayyah dan di masa inilah, khalifah Bani Abbas pertama lahir yang bernama Abul Abbas As-Saffah (Penumpah Darah)

  

Kebijakan Lainnya

Menurut catatan sejarah, Khalifah Yazid bin Abdul Malik mengeluarkan kebijakan Iklonoklasme yang mengganggu atribut keagamaan Umat Nasrani. Konon, hal ini juga dipengaruhi budaya Romawi yang pernah menerapkan aturan serupa.

Isi kebijakan tersebut memerintahkan untuk menghilangkan segala bentuk salib dan ikon-ikon kristen di daerah kekhalifahan. Walaupun menurut ajaran Islam, gambaran makhluk bernyawa (seperti patung dan lukisan makhluk hidup) benar-benar dilarang namun Umat Kristiani harus turut merasakan akibat hukum kebijakan yang dikeluarkan Khalifah tersebut.


Kewafatan Khalifah Yazid bin Abdul Malik 

Berselang 4 tahun 1 bulan lamanya, Khalifah Yazid bin Abdul Malik akhirnya wafat saat berusia 40 tahun pada tanggal 26 Januari 724 Masehi atau bertepatan pada Tahun 105 H. 

Konon, dia meninggal dunia lantaran duka mendalam ditinggal kekasihnya yang telah wafat terlebih dahulu. Sebelum mangkatnya Yazid, ia pernah menunjuk Hisyam bin Abdul Malik sebagai khalifah selanjutnya dan anaknya, Walid bin Yazid menjadi putra mahkotanya. 

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.