Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Dinasti Bani Umayyah : Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-101 H/717-720 M)

Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-101 H/717-720 M)

Biografi Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz lahir di Madinah (ada riwayat lain yang mengatakan di Desa Hulwan, Mesir) pada tanggal 2 November Tahun 682 Masehi atau bertepatan pada tanggal 26 Shafar 63 H di Masa Pemerintahan Khalifah Yazid I bin Mu'awiyah. Ia mendapat julukan dengan dipanggil Abu Hafsh. Sampai sekarang, nama Abdul Aziz selalu harum dan terpandang seperti Khalifah Umar bin Khattab terhadap keadilan dan keshalehannya. 

Ia dilahirkan dari keturunan ayahnya yang bernama Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam, sedangkan ibunya bernama Laila binti Ashim bin Umar bin Khattab, seorang khalifah sekaligus sahabat nabi yang paling mulia, begitu keras terhadap kebatilan/kemungkaran namun lembut terhadap kebaikan. 

Ia disebut sebagai khalifah Bani Umayyah yang mewarisi sifat-sifat buyutnya, Umar bin Khattab seperti bersikap zuhud, wara', adil, dan menguasai ilmu agama. Karena kepribadian yang mulia inilah, tidak heran  banyak orang menjulukinya sebagai Khulafa'ur Rasyidin yang kelima. Riwayat kehidupannya banyak dikisahkan mulut ke mulut antara Umat Islam. 

Saat Khalifah Marwan bin Hakam naik tahta, ia menunjuk anaknya, Abdul Aziz sebagai Wali Gubernur Mesir dan keluarganya menetap di situ beberapa tahun lamanya. 

Umar bin Abdul Aziz saat itu sedang menghabiskan masa kecilnya di Kota Helwan, Mesir. Beranjak dewasa, dia juga mendapat kesempatan pendidikan di Kota Madinah untuk memperdalam ilmu agama dan memperbanyak relasi dengan orang-orang shaleh, para ulama, dan perawi hadits.    

Beberapa puluh tahun kemudian, Khalifah Abdul Malik berkeinginan untuk menyerahkan posisi tahtanya pada anaknya, Walid bin Abdul Malik bukan kepada adik kandungnya sendiri, Abdul Aziz bin Marwan. Tentu saja, dia menentang keputusan tersebut tetapi perselisihan besar ini dapat dihindarkan lantaran Abdul Aziz telah wafat terlebih dahulu.

Akhirnya, rencananya dapat berjalan dengan mulus dengan menobatkan Walid bin Abdul Malik sebagai putra mahkota pertama, sedangkan Sulaiman bin Abdul Malik diangkat sebagai wakil penerusnya. Selain itu, ia juga turut mengundang keponakannya, Umar bin Abdul Aziz ke Istana Damaskus dan menikahkan dia dengan putrinya sendiri, Fatimah. 

Selepas kepergian Abdul Malik, sesuai aturan istana diserahkan kepada putranya, Al-Walid I sebagai khalifah selanjutnya. Ia mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai Gubernur Madinah karena dipercaya dapat meredam kebencian dan konflik sentimen anti-Umayyah di sana. 

Sebelumnya, Penduduk Madinah selalu menolak dan memprotes model kepemimpinan Bani Umayyah yang begitu keras dan suka memaksakan, apalagi bekas traumatis yang mendalam masih belum hilang akibat terjadinya Peristiwa Al-Harrah di Masa Pemerintahan Yazid bin Mu'awiyah. Beberapa saat kemudian, Khalifah Walid memberikan kewenangan yang lebih luas kepada Umar bin Abdul Aziz untuk mengurusi pemerintahan wilayah Makkah dan Thaif. 

Selama Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai Gubernur Madinah, ada beberapa sepak terjang kebijakan beliau yang patut diacungi jempol dan sangat disukai oleh Umat Islam di saat itu seperti memberikan dukungan kepada para ulama dan ahli fiqih, melakukan renovasi dan perluasan Masjid Nabawi, dan ia kerap kali memimpin rombongan Haji penduduk Madinah setiap tahunnya.

Beberapa bulan kemudian, aduan-aduan resmi yang datang dari Madinah berangsur-angsur berkurang dan sudah diselelsaikan di tangan Gubernur Umar. Segala kebijakan yang dikenal adil, shaleh, dan longgar ini menjadikan Umar bin Abdul Aziz masyhur di kalangan Umat Islam. 

Suatu saat, ada beberapa orang Syi'ah yang kabur dari Irak dan meminta suaka perlindungan di Madinah akibat penindasan dan kezhaliman yang dilakukan oleh Gubernur Al-Hajjaj bin Yusuf. Setelah mendapat pengaduan tersebut, dia segera menuruti permintaannya dan melaporkan kesalahan Gubernur Irak ini kepada Khalifah Walid bin Abdul Malik.

Sayangnya, surat pengaduan itu bocor dan diketahui oleh Al-Hajjaj, dia segera mengirimkan surat tanggapan kepada Khalifah Walid bin Abdul Malik supaya tidak segan-segan memecat Umar bin Abdul Aziz lantaran dipandang lemah dan tidak tegas karena melindungi orang-orang Syi'ah yang dianggapnya sebagai penentang pemerintahan Bani Umayyah, dan dikhawatirkan akan menjadi berbalik boomerang melemahkan pengaruh Dinasti Bani Umayyah itu sendiri.  

Menurut Al-Walid I, dia merasa punya hutang budi kepada Gubernur Al-Hajjaj ini, dia-lah sosok orang utama yang berhasil menguatkan pengaruh Dinasti Bani Umayyah saat terjadi kegoncangan dalam menghadapi pelbagai pemberontakan di segala lini wilayah semenjak dari masa ayahnya, Khalifah Abdul Malik bin Marwan dan pernah memberikan dukungan kepada dirinya sebagai Khalifah. 

Setelah dipecat dari jabatannya, Umar bin Abdul Aziz pergi ke Damaskus dan tinggal di Istana bersama Khalifah Walid bin Abdul Malik. Suatu hari, Khalifah Walid bin Abdul Malik bertekad keras untuk mencopot adiknya, Sulaiman bin Abdul Malik dari kedudukan Putra Mahkota, namun Umar bin Abdul Aziz menolak keputusan tersebut. 

Sikap Umar bin Abdul Aziz ini membuatnya geram dan langsung dijebloskan di penjara yang sempit sampai waktunya dibebaskan oleh Sulaiman bin Abdul Malik setelah dia berhasil menjabat sebagai Khalifah. Ada sejarah yang menyebutkan, dia juga melaksanakan sholat jenazah kepada Walid bin Abdul Malik saat wafat pada Tahun 715 Masehi. 

Selepas Sulaiman bin Abdul Malik naik tahta, dia segera melucuti lawan-lawan politiknya satu per satu dari jabatan mereka. Dia juga langsung membebaskan Umar bin Abdul Aziz dari dekaman penjara karena berpihak kepadanya dan diangkat sebagai penasehat utama Khalifah. 

Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik benar-benar sangat menaruh hormat kepadanya, banyak sekali kebijakan-kebijakan beliau yang baik karena usulan Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz Ditunjuk Sebagai Khalifah

Sebelum kewafatan Sulaiman bin Abdul Malik, ia sempat bermusyawarah kepada penasehat istana sekaligus ulama tabi'in yang bernama Raja' bin Haywah tentang sosok pengganti khalifah. Ia menyetujui kedudukan khalifah jatuh ke sosok yang tepat di tangan Umar bin Abdul Aziz, dan menetapkan Yazid bin Abdul Malik sebagai putra mahkota. 

Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik menyerahkan urusan sepenuhnya ini kepada Raja' bin Haywah, ia segera menuliskan surat wasiatnya dan akan diumumkan selepas dirinya wafat. 

Saat Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik wafat dan surat wasiatnya akan dibacakan di hadapan khalayak umum, Raja' mewajibkan terlebih dahulu terhadap keluarga Bani Umayyah untuk bersumpah setia tentang apapun isi dari suratnya ini. Barang siapa yang menentang isi surat ini akan dijatuhi hukuman dipenggal kepalanya. Mereka langsung menyetujui pesan tersebut.

Saat Raja' mengumumkan tampuk kekhalifahan selanjutnya jatuh kepada Umar bin Abdul Aziz, keluarga Bani Umayyah tampak geram tanda merasa tak terima, namun saat diumumkan putra mahkota dan khalifah selanjutnya akan jatuh kepada Yazid bin Abdul Malik, semua wajah keluarga Bani Umayyah kembali lega. 

Saat wasiat dibacakan khalifah telah jatuh kepadanya, Umar bin Abdul Aziz sontak kaget dan menangis karena beban amanat yang diemban olehnya. Dia meminta kepada Hisyam bin Abdul Malik untuk membai'atnya terlebih dahulu, kemudian diikuti oleh anggota keluarga Bani Umayyah yang lain. Ia ditetapkan sebagai Khalifah selanjutnya tanpa ada pertentangan sedikitpun. 


Jasa dan Kebijakan Khalifah Umar bin Abdul Aziz 

Khalifah Umar bin Abdul Aziz dinobatkan pada Hari Jum'at sesudah menunaikan ibadah sholat Jum'at. Setelah itu, ia bersama pasukannya bergegas ke Damaskus, Umar bin Abdul Aziz mengingat kejadian Walid bin Abdul Malik berambisi sekali untuk menyerahkan tahta khalifah kepada anaknya, Abdul Aziz bin Al-Walid I. 

Ia berencana menyerahkan kedudukannya secara sukarela kepada Abdul Aziz, namun dia menolak dengan berdalih bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang tepat dan sangat diharapkan untuk menjadi khalifah. Mendengar jawaban itu, ia semakin yakin dan mantap bahwa dirinya harus mengemban jabatan khalifah ini. 

Di Masa Pemerintahannya, kebijakannya menuai banyak prestasi Umar bin Abdul Aziz selama menjabat sebagai khalifah. Banyak sumbangsih yang diberikan kepada Umat Islam dan ternyata masih bisa dirasakan sampai sekarang. 


Bidang Administrasi Negara 

Khalifah Umar bin Abdul Aziz segera melakukan kebijakan perombakan ulang pada provinsi-provinsi Daulah Islamiyah, dengan melakukan pemekaran wilayah yang dibentuknya dan memecat pejabat yang bermasalah, misalnya Gubernur Irak, Yazid bin Muhallab karena tidak memberikan hasil setoran rampasan perang penaklukan Thabaristan ke Baitul Mal. 

Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga menunjuk orang-orang kepercayaannya untuk menjabat beberapa provinsi baru, di antara lain ialah.

  • Andalusia (Spanyol) dipimpin oleh As-Samh bin Malik Al-Khaulani
  • Afrika Utara (Ifriqiyah) dipimpin oleh Ismail bin Abdullah bin Abu Al-Muhajir
  • Kufah dipimpin oleh Abdul Hamid bin Abdurrahman (sanak famili keluarga Umar bin Khattab)  
  • Sindh dipimpin oleh Amr bin Muslim Al-Bahili
  • Mesopotamia dipimpin oleh Umar bin Hubairah
  • Basrah dipimpin oleh Adi bin Arthah Al-Fazari
  • Khurasan dipimpin oleh Al-Jarrah bin Abdullah

Kebanyakan pejabat-pejabat baru yang ditunjuk oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz ini dipandang karena handal dan kecakapan tanpa melihat kubu lawan politiknya maupun kawan, yang terpenting mereka juga harus bersikap netralitas terhadap persaingan kubu Qais dan Yamani. Dia juga mengirimkan para pengawas untuk menyelidiki kinerja para gubernur dengan cermat. 


Bidang Militer

Di Masa Pemerintahannya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengeluarkan kebijakan untuk menarik pasukan Islam dari pengepungan Konstantinopel. Dia berniat, tidak ingin terjadinya pertumpahan darah namun dia tetap membiarkan peperangan terjadi di wilayah perbatasan Romawi sebagai langkah jihad fi sabilillah dan mempertahankan Daulah Negara. 

Pada Tahun 717 Masehi, dia juga pernah memerintahkan untuk menumpas habis orang-orang Turki yang melakukan kerusakan besar di daerah Azerbaijan, namun di sisi lain Khalifah Umar bin Abdul Aziz cenderung lebih memilih diplomasi jalan damai terhadap pergerakan kelompok Syi'ah, Khawarij, dan Alawiyyin. 


Bidang Hukum 

Selanjutnya, salah satu bukti keadilan Khalifah Umar bin Abdul Aziz ialah menyemaratakan hadiah dan hibah kepada Umat Islam tanpa memandang bulu sanak keluarga maupun jabatan. Ia juga mengeluarkan kebijakan hukuman mati tidak boleh dijatuhkan sebelum mendapat persetujuan khalifah.

Selain itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga menghentikan ujaran kebencian (celaan, cacian dan makian) terhadap Keluarga Ali bin Abi Thalib tiap kali ada orang yang berkhutbah di atas mimbar dan menggantinya dengan isi Surah An-Nahl ayat 90, yang berbunyi :

۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Artinya : "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kaum kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."

Dia juga memutuskan untuk menarik kembali tanah-tanah Fadak milik keluarga Rasulullah SAW.  yang dirampas oleh Bani Umayyah dan diserahkan lagi kepada Keluarga Bani Hasyim (Ahlul Bait) yang memerlukan.

Kebijakan itu juga diberlakukan ke tanah-tanah yang lain yang direbut secara zhalim oleh keluarga besarnya sendiri, dan hal ini menjadikan Keluarga Besar Bani Umayyah merasa gerah karena kepentingannya terganggu. 

Di Masa Pemerintahannya, banyak sekali aturan-aturan pembaruan yang dikeluarkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang tidak pernah ditiru oleh khalifah-khalifah sebelumnya dan berdasarkan sesuai yang diajarkan tuntunan Islam, di antara lain adalah :

  1. Larangan jual-beli dan konsumsi minuman keras
  2. Larangan hal-hal yang berbau porno alias ketelanjangan publik
  3. Penghapusan area pemandian umum yang bercampur antara laki-laki dan perempuan
  4. Memberikan keringanan zakat dengan adil
  5. Larangan para pejabat pemerintahan untuk berbisnis
  6. Menganggap ilegal atau pelanggaran hukum bagi siapa saja yang tidak menggaji para pekerja
  7. Tanah kosong, penggembalaan, dan cagar alam milik keluarga para pejabat dibagikan secara merata kepada rakyat yang fakir miskin dan sisanya digunakan untuk pembudidayaan. 
  8. Memberikan aturan kewajiban para pejabat untuk mau mendengarkan dan menerima keluhan masyarakat, dan barang siapa pejabat yang memperlakukan dengan tidak adil sebagaimana mestinya, maka dia harus melaporkan dan akan diberikan hadiah sebanyak 100-300 dirham kepada para pelapor. 


Bidang Kebijakan Umum dan Pembangunan

Selama dirinya menjabat, Umar bin Abdul Aziz gemar sekali bergaul dan dikelilingi oleh orang-orang cendekiawan dan ulama besar. Ia juga memfokuskan dirinya untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan kesejahteraan umum seperti pemberian tunjangan kepada guru, dan bantuan sosial kepada anak yatim dan orang miskin.  

Ia juga giat mengerjakan pembangunan infrastruktur seperti kanal banjir, saluran irigasi, jalan-jalan, pondok-pondok penginapan bagi para musafir dan pedagang, rumah sakit dan klinik kesehatan.


Bidang Ekonomi dan Perpajakan

Semenjak ekspansi ke negara lain diberhentikan, muncullah kekhawatiran akan berkurang drastis penerimaan jizyah atau pajak Baitul Mal. Apalagi diperparah adanya kebijakan tidak adil, yaitu membebankan orang-orang Muslim dan Muallaf Non-Arab untuk tetap membayar pajak sebagaimana saat mereka belum masuk Islam. 

Peraturan inilah yang dihapus oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz, dia menghapus beban pajak terhadap Umat Islam menyeluruh, baik orang Arab dan Non-Arab. Namun,  orang-orang Muallaf di masa pemerintahannya dikenakan cukai tanah dan tanah milik mereka dijadikan sebagai tanah desa. 

Setelah perubahan itu, gelombang para Muallaf semakin membludak tinggi, lantaran banyaknya jumlah pemeluk Islam Non-Arab terutama dari Mesir dan Persia. Di zaman inilah, Agama Islam mulai diterima dengan baik oleh sebagian besar masyarakat di bawah Panji Daulah Islam.

Namun di sisi lain, para pejabat setempat mengeluhkan semakin berkurangnya jumlah pendapatan pajak (jizyah) saking banyaknya orang yang masuk Islam, namun Khalifah Umar bin Abdul Aziz menegaskan kalau dirinya ingin mengajak orang lain berbondong-bondong masuk Islam, bukan sekedar menjadi tukang penagih pajak. 


Bidang Dakwah atau Syi'ar Islam

Selanjutnya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz segera mengeluarkan kebijakan kodifikasi hadits lantaran maraknya hadits-hadits palsu dan muncul kekhawatiran akan kehilangan beberapa hadits, sehingga menimbulkan perselisihan atau perpecahan antar Umat Islam dan orang-orang juga dikhawatirkan akan cenderung lebih percaya pada omongan pimpinan kelompoknya dibandingkan Sabda Rasulullah SAW. itu sendiri dengan segala keotentikannya.

 

Bidang Diplomatik Luar Negeri 

Demi mengikuti Jejak Nabi sebelumnya dalam Syi'ar Islam, Khalifah Umar bin Abdul Aziz lebih suka mengerahkan konsentrasinya terhadap penyiaran Islam dengan mengirim surat ajakan Islam melalui para utusan ke negara-negara lain seperti Tibet, Tiongkok, dan India, hal itu juga berlaku pada raja-raja Turki dan Amir Barbar di Afrika. 

Terkait soal ajakannya, Sang Khalifah memberikan jaminan kemerdekaan mereka tidak akan diganggu sama sekali dan tidak dikenakan pajak sama sekali. 

Cara strategi inilah yang membuat beberapa pemimpin negeri asing mulai tertarik masuk Islam dengan bukti beberapa raja Hindu yang sukarela memeluk Islam, mulai mengadopsi nama-nama mereka menggunakan Bahasa Arab dan minta dikirimkan kembali muballigh-muballigh ke daerah mereka untuk mengajarkan tentang ajaran Islam.    


Kerajaan Sriwijaya dan Dinasti Bani Umayyah

Ada Fakta Menarik ! Sejarah pernah mencatat, bahwa Kerajaan Sriwijaya yang berpusat ibukota Palembang juga pernah menjalin hubungan diplomatik dengan saling bertukar hadiah sebagai tanda jalinan persahabatan semenjak Masa Pemerintahan Mu'awiyah bin Abi Sufyan

Menurut HA. Datuk Rajo Mangkuto, Khalifah Walid bin Abdul Malik pernah mengirimkan armada laut Islam menuju Pulau Sumatera. Bahkan di Masa Keemasan Sriwijaya sudah terdapat yang namanya perkampungan Islam di sana. 

Selanjutnya di Masa Pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ia menerima hadiah pemberian Raja Sriwijaya, Sri Indrawarman dan memberikan balasan hadiah kepada utusannya tersebut dengan budak wanita berkulit hitam. Selain itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga menerima sepucuk surat yang berbunyi :

Surat Raja Sriwijaya Kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Khalifah Umar bin Abdul Aziz : Gaya Hidup dan Suasana Pemerintahan

Selama menjabat, Khalifah Umar bin Abdul Aziz sudah terkenal akan keadilannya, penyayang antar sesama, bersikap qona'ah, bijaksana, dan senantiasa zuhud dari kenikmatan duniawi. Imam Tirmidzi meriwayatkan, Umar bin Khattab pernah berkata :

"Akan ada keturunanku seorang anak yang di wajahnya ada bekas luka. Dia akan memenuhi dunia dengan keadilan." (HR. At-Tirmidzi dalam Kitab Tarikh-nya)

Maka benarlah apa yang dikatakan ayahnya, Umar bin Abdul Aziz dapat memimpin Daulah Islamiyah dengan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana dunia (sebelumnya) diliputi dengan kezhaliman.

Saking sederhana dan kezuhudannya, ia pernah menolak menunggangi seekor kuda yang dikhususkan untuk seorang khalifah, ia juga pernah memerintahkan untuk menyerahkan semua perhiasan mutiara milik istrinya agar dikembalikan kepada Baitul Mal.

Selain itu, tiap kali dia berangkat sholat ke Masjid dia selalu mengenakan pakaian biasa yang dipenuhi banyak tambalan, bahkan dia juga tidak malu memperbaikinya sendiri pintu kamar mandi yang telah rusak di rumahnya. 

Namun di sisi lain, banyak sekali keluarga Bani Umayyah yang sangat tidak suka dengannya, kerap kali Khalifah Umar bin Abdul Aziz melakukan terobosan reformasi kebijakan secara besar-besaran dan tidak pandang bulu termasuk keluarga besarnya sendiri. 

Namun selama dirinya memimpin, Umat Islam merasakan kedamaian yang luar biasa sampai-sampai segerombolan domba dan serigala bisa hidup damai berdampingan tanpa ada keinginan saling memangsa.  

Begitu juga dengan angka kemiskinan, ada juga sejarah yang mengatakan bahwa orang-orang miskin sudah tidak ditemukan lagi saking adilnya, itupun jika terdapat orang miskin tidak lain ialah Keluarga Umar bin Abdul Aziz itu sendiri.     


Kewafatan Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Seiring berjalannya waktu, Keluarga Bani Umayyah mengaku geram dan sudah tidak tahan lagi terhadap kebijakan-kebijakan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang kerap kali merugikan dan mengganggu kepentingan mereka.

Akhirnya, salah seorang Keluarga Bani Umayyah menyogok pelayan Umar bin Abdul Aziz untuk meracuni minumannya dengan iming-iming uang sebanyak 1.000 dinar emas. 

Setelah sadar mengetahui perbuatan budaknya itu, ia segera memerintahkan untuk mengembalikan uang sogokan tersebut ke Baitul Mal, sedangkan pelayannya dinyatakan merdeka dan disuruh pergi melarikan diri ke tempat asing dikhawatirkan sewaktu-waktu bisa ditangkap oleh tentara Umayyah.    

Beberapa saat kemudian, dia jatuh sakit dan meninggal dunia di Dir Sim'an, Homsh pada tanggal 5 Februari 720 Masehi bertepatan dengan tanggal 20 Rajab 101 Hijriyah. Ia telah wafat saat berusia 38 tahun dan sudah memerintah hampir selama 2 tahun 5 bulan lamanya. Hingga kini, namanya tetap semerbak harum di kalangan Umat Islam karena sifat-sifat mulianya sebagai Khalifah.

Sepeninggal Umar bin Abdul Aziz, ia tidak mewasiatkan pangkat khalifah kepada puteranya, namun diserahkan kembali kepada Yazid bin Abdul Malik sesuai dengan isi surat wasiat Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik dahulu.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.