Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Dinasti Bani Umayyah : Khalifah Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H/724-743 M)

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H/724-743 M)

Biografi Hisyam bin Abdul Malik

Hisyam bin Abdul Malik lahir pada Tahun 55 H atau bertepatan dengan Tahun 688 Masehi. Ia berasal dari tali ayahnya yang bernama Khalifah Abdul Malik bin Marwan, sedangkan ibunya bernama Fatimah binti Hisyam yang berasal dari kalangan Bani Makhzum. 

Sayangnya, kedua orang tuanya itu bercerai. Khalifah Abdul Malik pada awalnya ingin menamainya, Manshur tetapi ibunya ingin memberikan nama Hisyam sebagaimana nama kakeknya tersebut dan Abdul Malik pun memperbolehkannya. 

Menurut Kitab Tarikh Khulafa', Imam Suyuthi mengisahkan suatu hari Khalifah Abdul Malik bin Marwan pernah bermimpi kencing di mihrab sebanyak 4 kali. Ketika dia bertanya pada penakwil mimpi, Sa'id bin Al-Musayyib, ia menjawab bahwa keempat putranya kelak akan diangkat sebagai khalifah. Dan, ternyata takwil mimpi itu pun benar. 

Sebelumnya, ia tidak pernah memangku jabatan penting di lingkup pemerintahan namun dia sangat berambisi menjadi seorang khalifah. 

Saat saudaranya, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik jatuh sakit, penasehatnya diamanatkan menyampaikan pengumuman bahwa khalifah selanjutnya resmi jatuh di tangan Umar bin Abdul Aziz dan diikuti pengangkatan putra mahkota kepada Yazid bin Abdul Malik. 

Awalnya, ia sempat menentang keputusan tersebut namun karena mendapat ancaman Raja' bin Haywah dengan sanksi akan dipenggal kepalanya bagi siapa saja yang menentang keputusan tersebut, akhirnya dia menunduk. 

Khalifah Umar bin Abdul Aziz lantas saja mendekatinya dan minta pertama kali memberikan sumpah (bai'at) kepadanya, Hisyam bin Abdul Malik pun menyetujuinya dengan hati lapang kemudian diikuti oleh anggota keluarga yang lain. 

Hisyam bin Abdul Malik sempat tertunduk lemas setelah mendengar kenyataan pahit itu, ia mau tidak mau harus menunggu sekitar 6-7 tahun lagi untuk mendapat kesempatan terpilih sebagai khalifah. Walau akhirnya, ia dapat berkuasa saat berusia 35 tahun.  

Sebelum diangkat sebagai khalifah, salah saudaranya, Maslamah bin Abdul Malik pernah dipecat dari jabatan Gubernur Irak karena ketahuan mendukung diam-diam kepada adiknya, Hisyam bin Abdul Malik sebagai penerus khalifah selanjutnya. 

Khalifah Yazid bin Abdul Malik tampaknya ingin melakukan hal yang sama seperti ayahnya, menyerahkan tampuk khilafah kepada anak kandungnya sendiri namun kenyataannya, Walid bin Yazid masih belum cukup umur dan pastinya belum siap memangku jabatan khalifah. 

Akhirnya, Khalifah Yazid bin Abdul Malik memutuskan untuk menobatkan adiknya, Hisyam bin Abdul Malik sebagai putra mahkota sedangkan Walid bin Yazid menjadi wakil putra mahkota. Pada Tahun 724 Masehi, ia mangkat dan Hisyam bin Abdul Malik sah dinobatkan sebagai khalifah Bani Umayyah yang ke-10.

Jasa dan Kebijakan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik dikenal sebagai negarawan yang handal sama seperti ayahnya. Bagaimana tidak ? Selama memimpin, ia selalu bersikap bijaksana, berbudi luhur, mulia dan perkasa. 

Sejarawan pernah menyebutkan, ada 3 negarawan terpandai sepanjang Daulah Bani Umayyah yaitu Mu'awiyah bin Abi Sufyan, Abdul Malik bin Marwan, dan Hisyam bin Abdul Malik 

Ada banyak sekali kemajuan-kemajuan yang dirasakan Umat Islam selama pemerintahan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, di antara lainnya ialah :


Bidang Agama dan Pembangunan

Di Masa Pemerintahannya, Khalifah Hisyam bin Abdul Malik dikenal sangat mencintai seni dan fokus terhadap perkembangan pendidikan, dan kemakmuran rakyatnya. Dia-lah yang mendirikan pusat kerajinan sutera, pabrik-pabrik senjata, dan pabrik pembuatan pakaian tentara. 

Selain itu, Khalifah Hisyam juga memprakarsai pembangunan banyak sekolah dan penerjemahan karya-karya besar di bidang sastra dan ilmiah ke dalam bahasa Arab. 

Dia juga berusaha mengembalikan syariat-syariat Islam yang baik sebagaimana yang pernah dilakukan Umar bin Abdul Aziz kepada seluruh rakyatnya, begitu juga berlaku kepada Keluarga Bani Umayyah. Selain itu, Khalifah Hisyam juga senang mendapat nasehat dan masukan dari para ulama.

Soal infrastruktur, ia juga mencetus pembangunan Bendungan Air di Qasrin dan memerintahkan untuk penggalian beberapa sungai, terutama di tempat-tempat sepanjang jalanan menuju Madinah. 

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik dikenal gemar memelihara kuda pacuan dan dialah orang pertama kali mengadakan tempat pacuan kuda.  


Bidang Politik Pemerintahan

Di bidang politik, ada langkah kebijakan Khalifah Hisyam yang tidak begitu disukai oleh Umat Islam yaitu tindakan nepotisme. Diceritakan, ia pernah mengangkat seorang Gubernur Madinah yang bernama Ibrahim bin Hisyam, bukan karena kecakapannya melainkan karena dia bagian keluarga ibunya.

Ia juga ditunjuk sebagai Amirul Hajj (pemimpin rombongan Haji) padahal dia sendiri tidak paham bahkan tidak tahu apa-apa cara memimpin haji dengan baik. 

Pada Tahun 728 Masehi, dia pernah membuat kehebohan yang sangat memalukan dalam agenda ibadah haji. Pada tanggal 11 Dzulhijjah, Ibrahim naik mimbar dan memberikan khutbah tentang kebanggaan dirinya di hadapan rombongan.

Sadar isu dirinya dicap bodoh oleh sebagian besar orang-orang Madinah, Ibrahim bin Hisyam malah ngotot membuktikan diri bahwa dialah orang yang paling pintar soal ilmu agama. Celakanya, ia malah mengutip sebuah Surah Al-Muddatsir ayat 11 yang mengira itu pujian bagi nasab dan kakek buyutnya, Walid bin Mughirah.

Diduga karena tidak paham dan salah tafsir, tidak heran Ibrahim bin Hisyam sembarangan mengutip satu ayat tanpa tahu keseluruhan dan Asbabun Nuzul-nya, apalagi dia merasa tidak tahu malu mempertontonkan kebodohannya. 

Seandainya jika dia tahu, justru isi kandungan ayat Al-Qur'an yang dikutipnya itu adalah boomerang bagi keluarganya sendiri karena maknanya menyasar terhadap ancaman Allah Ta'ala (berupa Neraka Saqar) kepada Walid bin Mughirah, salah satu orang kafir Quraisy yang paling keras menentang ajaran Islam. 

Tidak kuat melihat kebodohannya itu, salah seorang jamaah menantangnya untuk mau menjelaskan tentang kewajiban ibadah berkurban. Ibrahim bin Hisyam sontak kaget dan tidak menyangka ada orang yang berani menjawab tantangannya, kemudian dia pun langsung terdiam tidak tahu-menahu. 


Bidang Militer

Imam Suyuthi meriwayatkan, Hisyam bin Abdul Malik adalah sosok pemimpin yang tidak suka akan pertumpahan darah. Tetapi, dia harus berusaha sekuat tenaga mungkin untuk menstabilkan kondisi negara agar kembali semula. Ada beberapa pertempuran yang sedang dihadapi di masa pemerintahannya di antara lain ialah. 


Pemberontakan di Kufah, Khurasan, Ifriqiyah (Afrika Utara), dan India

Salah seorang Ahlul Bait yang menganut aliran Syiah, Zaid bin Ali Zainul Abidin mempelopori pemberontakan di Kufah dengan jumlah pengikutnya sebanyak 15 ribu orang. Pada Tahun 122 H, pemberontakan itu berhasil dipadamkan oleh Amir Kufah dan Zaid tewas terbunuh di medan pertempuran. Kepalanya dipenggal dan diserahkan ke hadapan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik.

Ada yang mengatakan, dia kalah pertempuran karena dikhianati oleh penduduk Kufah itu sendiri. Zaid bin Ali Zainal Abidin awalnya mengira mereka akan rela hati ikut bertempur bersamanya sampai titik darah penghabisan, tapi kenyataannya berbanding terbalik. Peristiwa ini juga pernah dialami oleh kakek buyutnya, Ali bin Abi Thalib.

Setelah kalah di medan pertempuran, para pengikutnya lari tunggang-langgang dan salah satu putranya yang bernama Yahya bin Zaid dapat melarikan diri ke daerah Khurasan, kemudian menggalang dukungan banyak orang di sana untuk melawan pemerintahan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Sayangnya, nasibnya juga tidak jauh dengan ayahnya juga alias mati terbunuh di medan pertempuran.

Selain itu, meletus juga pemberontakan besar yang dilakukan oleh orang-orang Barbar namun berhasil ditumpas dengan menelan ratusan ribu korban jiwa yang tewas di tempat, sekaligus mengakhiri pemberontakan selamanya di sana.  

Di sisi lain, pengaruh Bani Abbasiyah perlahan-lahan semakin meluas dan bertambah. Markas yang mereka bangun berpusat di Khurasan dan Irak, namun revolusi yang mereka gadang-gadang direncanakan masih belum cukup kuat untuk melawan pemerintahan Dinasti Bani Umayyah. 


Perluasan Wilayah (Futuhat)

1. Ke Asia Tengah (Kaukasus)

Di kota Ardabil, terjadi sebuah Pertempuran Marj Ardabil antara pasukan Bani Umayyah dengan Bangsa Khazar atas motif balas dendam akan kekalahan sebelumnya yang dimenangkan oleh orang-orang Islam tersebut. Mereka terus berperang selama 3 hari, namun dimenangkan oleh Bangsa Khazar yang dapat menewaskan Panglima Al-Jarrah bin Abdullah. 

Setelah berhasil menduduki Ardabil, Bangsa Khazar berambisi melanjutkan penyerbuan ke Mosul namun berhasil dipukul mundur oleh bala tentara Sa'id bin Amr Al-Harasy.


2. Ke Semenanjung Eropa (Perancis)

Di Andalusia, Utsman bin Naisa, seorang pemimpin Catalonia berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Bani Umayyah namun pemberontakan itu berhasil ditaklukkan oleh Gubernur Abdurrahman. 

Kemudian, dia mengerahkan pasukan Bani Umayyah bergerak menuju Kota Bordeaux (salah satu kota Perancis) dan berhasil ditundukkan.

Selanjutnya, dia semakin percaya diri untuk melakukan penyerbuan ke kota Tours, sayangnya mereka mengalami kekalahan telak karena terlena dengan harta rampasan dan pengaruh musim dingin di sana, yang kemudian menjadi kesempatan empuk bagi pasukan Karl Martel memporak-porandakan barisan lawan sampai Gubernur Abdurrahman sendiri juga ikut tewas terbunuh. 


3. Ke Semenanjung India (Sindh)

Pada Tahun 723 Masehi, Junaid bin Abdurrahman selaku Gubernur Sind (India) berambisi menguasai Lembah Kangra. Pasukan Bani Umayyah sebelumnya pernah dikerahkan untuk menyerang ke arah utara tepatnya daerah Punjab, namun berhasil dipukul mundur oleh pasukan Raja Kashmir.

Mereka kemudian berputar balik menyerang ke arah selatan, dan akhirnya pasukan Bani Umayyah berhasil menguasai daerah Kutch, Okha, Dahnaj, Saurashtra, dan Bharuch. Hampir seluruh daerah Gujarat, sebagian besar Rajashtan, dan sebagian lagi dari Madhya Pradesh masuk ke wilayah Khilafah.

Mirisnya, hal itu tidak berlangsung lama. Beberapa kerajaan India sepakat bersekutu menghadapi penaklukan Bani Umayyah dan akhirnya mereka dapat memukul mundur, itupun Dinasti Bani Umayyah sudah mulai menghentikan ekspedisi ke luar Sindh. 


4. Penyerangan Terhadap Kekaisaran Romawi

Pada Tahun 725-726 Masehi, pasukan Islam di bawah pimpinan Panglima Maslamah bin Abdul Malik berhasil menaklukkan wilayah Caesarea Mazaca. Beberapa tahun kemudian, pasukan Islam dapat mengambil alih benteng Cilicia, wilayah Kharsianon dan Ankara. 

Peperangan antara Bangsa Romawi dan Arab dari dulu memang tiada henti-hentinya, menyebabkan anggaran Baitul Mal terlalu boros, menghabiskan banyak sumber daya militer, buang-buang tenaga dan peluang terjadinya kekacauan dalam negeri.

Akibatnya, penyerangan Bani Umayyah terhadap Kekaisaran Romawi mulai berhenti sepenuhnya semenjak Tahun 740 Masehi. 


Kewafatan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik telah memimpin hampir selama 20 tahun lamanya. Ia menjadi salah satu khalifah yang paling lama masa pemerintahannya setelah Mu'awiyah bin Abu Sufyan dan Abdul Malik bin Marwan. Ia meninggal dunia pada tanggal 6 Februari 743 Masehi atau bertepatan pada Tahun 125 H.

Konon, ia wafat karena ditimpa penyakit difteri yang belum pernah ditemukan obatnya saat itu. Selanjutnya, sesuai dengan isi wasiat khalifah sebelumnya, Yazid bin Abdul Malik, tampuk kekhalifahan jatuh kepada putranya, Walid bin Yazid yang dikenal sebagai orang fasik dan menyimpang jauh dari nilai-nilai Islam.  

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.