Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

10++ Faktor Keruntuhan Dinasti Bani Umayyah

10++ Faktor Keruntuhan Dinasti Bani Umayyah

Setiap kerajaan pasti pernah mengalami era kemunduran, dan hal ini ternyata bisa menimpa pada keluarga Bani Umayyah yang sudah memegang tampuk kekuasaan khilafah setelah sekian hampir 1 abad lamanya. Ada beberapa peristiwa yang mengiringi detik-detik berakhirnya Daulah Bani Umayyah I dan tercatat dalam literatur sejarah dunia, di antaranya ialah.


Pergantian Khalifah Seiring Melemah (Tidak Piawai atau Berkemampuan)

Sepeninggal Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, Daulah Bani Umayyah mulai memasuki masa-masa kemunduran. Hal itu ditandai dengan pengangkatan khalifah kepada Al-Walid bin Yazid, ia dicap sebagai seorang khalifah paling lemah yang pernah ada ditambah lagi dikarenakan wataknya yang buruk seperti kasar, penuh angkara murka, dan sering melanggar hal-hal yang diharamkan dalam agama.

Sehingga, ia sangat dibenci oleh kalangan para pembesar khususnya keluarga besar Bani Umayyah, kemudian ia terbunuh oleh keluarganya sendiri. Setelah itu, jabatan khalifah itu diserahkan kepada putranya, Ibrahim bin Al-Walid I

Namun, kepemimpinan orang itu tidak dapat mengubah apa-apa dan justru mendorong ke jurang kemunduran bagi keluarga kerajaan itu sendiri dan tentunya, peristiwa ini dapat dijadikan kesempatan emas bagi Keluarga Bani Abbas yang berusaha merebut tampuk kekuasaan dari mereka melalui cara menyebarkan pengaruhnya dan mengumpulkan para pendukungnya secara besar-besaran.  


Khalifah Marwan bin Muhammad, Pahlawan Yang Malang

Pada tahun 127 H (745 M), Marwan bin Muhammad menduduki jabatan khalifah yang terakhir dari Keluarga Bani Umayyah. Ia dikenal sebagai kepala negara yang bijaksana dan diangkat sebagai pahlawan yang perkasa, namun sayangnya ia akan mengalami nasib buruk di akhir jabatannya karena tidak dapat mempertahankan Daulah Bani Umayyah dari keruntuhan.

Alhasil, Kaum Khawarij melakukan pemberontakan dan huru-hara di Palestina, Hadramaut, dan Yaman. Namun, Khalifah Marwan berhasil memadamkan pemberontakan tersebut, tetapi dia merasa tidak berdaya menghadapi gerakan pendukung Bani Abbasiyah.

Suatu hari, Khalifah Marwan bin Muhammad berhasil menjerat pembawa surat yang dikirimkan dari Ibrahim Al-Imam (Kepala Gerakan Bani Abbas) kepada Abu Salmah, seorang Muballigh yang menjadi tangan kanan keluarga Abbasiyah di Irak. Atas dasar bukti surat itu, Ibrahim Al-Imam ditangkap, dipenjarakan dan dibunuh. 

Sebelum meninggal, ia menyampaikan wasiat kepada para pengikutnya supaya mereka tetap berusaha sekuat tenaga demi tercapai cita-citanya, dan mereka diharuskan mengangkat saudaranya, Abul Abbas dan kemudian, Ja'far menjadi khalifah. Setelah itu, keluarga besarnya diperintah sesegera mungkin untuk meninggalkan Kuffah. 


Khurasan, Markas Gerakan Pemberontakan Bani Abbasiyah

Akhirnya, keluarga Bani Abbas bersepakat menjadikan Khurasan sebagai pusat gerakan Bani Abbas, dengan alasan letaknya yang begitu jauh dari ibu kota Bani Umayyah yaitu Damaskus, dan sikap penduduk Khurasan yang sangat membenci Bani Umayyah karena kezaliman mereka.

Melihat keadaan itu, Abu Musa Al-Khurrasani memanfaatkan situasi ini untuk meraup dukungan seluas-luasnya dari para penduduk Khurasan dengan segala tipu daya dan siasat licinnya. Ia berhasil memecah belah suku-suku Arab di Khurasan dan dapat menaklukkan wali negeri yang berasal dari Bani Umayyah, Nashru bin Saiyar, sehingga dia berkuasa penuh atas Khurasan.

Kemudian, ia mengirimkan laskar tentaranya ke Irak untuk menundukkan Kota Kufah. Di sana, ia menetapkan Abul Abbas Assafah sebagai Khalifah pertama Bani Abbasiyah tepat pada tanggal 13 Rabi'ul Awwal 132 H atau 30 Oktober 749 M.


Kematian Tragis Khalifah Terakhir Marwan bin Muhammad

Setelah pengangkatan Khalifah Abul Abbas, ia segera memerintahkan pamannya, Abdullah bin Ali untuk memerangi Khalifah Marwan bin Muhammad. Di tepi sungai Za'ad (anak sungai Tigris), laskar Abdullah bertemu dengan laskar Khalifah Marwan yang berjumlah 120.000 orang dan, ternyata berhasil mengalahkan pasukan Khalifah tersebut.

Kala itu, Khalifah Marwan bin Muhammad yang ikut serta dalam peperangan itu terpaksa langsung melarikan diri dengan menyeberangi Sungai Tigris untuk menuju Mosul. Namun, penduduk negeri itu tampaknya tidak suka menerima kedatangan Khalifah Marwan, sehingga mereka merusak jembatan yang dilaluinya.

Akhirnya, ia berputar haluan ke Harran dan terus menuju Damaskus. Namun, ia terus dikejar oleh pasukan Abdullah sampai ke Mesir. Sampai di sana, panglima Abdullah segera menyerahkan tugasnya untuk memburu Khalifah itu kepada saudaranya, Saleh bin Ali. Akhirnya, Saleh bin Ali berhasil menemukan Marwan bin Muhammad di Desa Bushair, Alfayaum (Mesir) dan membunuh khalifah yang malang itu.  

Kejadian yang menyedihkan ini terjadi pada tanggal 27 Dzulhijjah 132 H atau 5 Agustus 750 M. Kepala khalifah yang malang itu dipenggal, disula dan dikirimkan ke Kufah untuk ditunjukkan hadapan Abul Abbas As-Saffah. 

Demikian, seluruh keluarga Bani Umayyah telah dibabat habis terbunuh oleh Keluarga Bani Abbas, tetapi hanya ada satu orang dari keturunan Bani Umayyah yang berhasil selamat dari pembantaian keluarganya tersebut dan melarikan diri ke Andalusia (Spanyol), yaitu Abdurrahman Ad-Dakhil. 

Akhirnya, kekuasaan Daulah Bani Umayyah resmi runtuh dan digantikan oleh Keluarga Bani Abbas dengan mengibarkan bendera hitam sebagai syi'ar lambang persatuan Abbasiyah di atas menara-menara benteng Damaskus.


Faktor Utama Keruntuhan Daulah Bani Umayyah 

Ada banyak faktor-faktor pemicu utama yang menyebabkan kedaulatan Dinasti Bani Umayyah lenyap bak hilang ditelan oleh bumi, di antaranya ialah. 


1. Pengkhianatan atas diri Ali bin Abi Thalib

Sebenarnya, keberhasilan Mu'awiyah bin Abi Sufyan menduduki kursi Khalifah bukan melalui jalan permusyawarahan Umat Islam seluruhnya, melainkan karena ketajaman lidah dan siasat politiknya. Dengan segala tipu daya dan kebijakannya, ia berhasil melewati segala rintangan yang menghadangnya dan menghabisi perlawanan yang dilakukan oleh Kaum Khawarij dan Syi'ah.

Namun sayangnya, di sisi lain ia tercatat telah melakukan kesalahan besar, yaitu ucapannya yang selalu menghina Ali bin Abi Thalib beserta ahlul baitnya dan merendahkan derajatnya pada setiap khutbahnya di hadapan Umat Islam. Sebab inilah yang membuat api kebencian terus berkobar-kobar terutama dari Golongan Syi'ah (pendukung keras keluarga Ali bin Abi Thalib) kepadanya.


2. Penganiayaan Kepada Kedua Cucu Rasulullah SAW.

Kesalahan selanjutnya, ialah pelanggaran janji yang pernah diikrarkan kepada Hasan bin Ali mengenai sistem pengangkatan Khalifah yang harus diserahkan kepada Musyawarah Umat Islam. Namun, janji ini telah dibatalkan dengan kebijakannya mengangkat puteranya sendiri, Yazid sebagai Putera Mahkota. 

Menurut ahli sejarah, meyakini mengenai pembunuhan yang menimpa pada Hasan bin Ali karena diracun itu didalangi oleh perintah Mu'awiyah bin Abi Sufyan melalui istrinya Hasan sendiri yang bernama Ja’dah binti Al-Asy’ats dengan iming-iming uang 100.000 dinar dan akan dinikahi oleh sang putera mahkota, Yazid bin Mu'awiyah.

Khalifah Mu'awiyah bin Abi Sufyan menganggap bahwa Hasan bin Ali sebagai bentuk ancaman yang berbahaya bagi kedudukan Daulah Bani Umayyah selanjutnya, mengingat masih terikat janji yang dibuatnya saat kesepakatan pengangkatan Khalifah dahulu. 

Selanjutnya, kejadian ini juga menyebabkan meletusnya Perang Karbala dengan jumlah pasukan yang tidak seimbang, sehingga membuat terpenggalnya kepala Husein bin Ali atas tragedi itu. Kejadian itu tentunya sangat mengenaskan dan menyakiti hati Umat Islam seluruhnya yang amat begitu mendalam.

Sehingga, banyak orang mulai memihak kepada keluarga keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah (Golongan Alawiyyin) karena tidak terima atas perlakuan zhalim Keluarga Bani Umayyah terhadap anggota keluarga Rasulullah SAW. tersebut (Ahlul Bait).

Peristiwa itu tentunya menyebabkan api pemberontakan dan huru-hara di mana-mana atas pertentangan mereka terhadap Daulah Bani Umayyah seperti pemberontakan Makkah yang dipimpin oleh Abdullah bin Zubair, pemberontakan Irak oleh Mukhtar bin Ubaid, dan perlawanan Golongan Syi'ah yang menjalar ke mana-mana.

Walaupun, pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh bala tentara Bani Umayyah namun gerakan semua ini bagaikan api dalam sekam yang terus menyala sampai kapan pun itu.  

Selain itu, peraturan Khalifah Mu'awiyah bin Abi Sufyan yang menjadikan pangkat khalifah turun-temurun sesuai garis keturunan Keluarga Bani Umayyah, padahal keturunan Nabi SAW. itu sendiri tidak mendapat jatah sedikitpun untuk memperoleh jabatan itu juga ikut menyakiti perasaan orang-orang Persia waktu itu.

Hal ini dikarenakan putra Husain bin Ali, bernama Zainul Abidin yang di mana ibundanya adalah putri Yazdajird Kisra Persia biasanya sangat dimuliakan di seluruh tanah bekas wilayah Persia. Mereka menganggap, bahwa keturunan Rasulullah SAW. yang mengikat dengan tali keluarga Kisra Persia ini merupakan keturunan yang paling mulia. 

Orang-orang Persia, berharap orang-orang yang berasal dari keturunan yang paling mulia inilah yang dapat melanjutkan Daulah Islamiyah dikarenakan gabungan pertalian darah antara Keluarga Baginda Nabi dan Keluarga Bangsawan yang terhormat.

Mereka juga merasa terhina atas perlakuan siasat Keluarga Bani Umayyah yang kerap kali mengutamakan Bangsa Arab dibandingkan Bangsa Non-Arab sendiri. 

Apalagi, beberapa kebijakan yang cenderung keberpihakan dan sangat tidak adil di antara lain, seperti jabatan tertinggi hanya boleh dipegang oleh Orang Arab, orang-orang Islam yang berasal dari Bangsa Non-Arab tetap diwajibkan bayar pajak, tentara Islam yang bukan berasal Bangsa Non-Arab tidak mendapat hak pembagian harta rampasan padahal Agama Islam sangat menjunjung tinggi hak persamaan di antara Umat Islam.


3. Ta'assub Jahihiyah

Bani Umayyah menghidupkan kembali paham kebangsaan di Masa Jahiliyah, yaitu faham kebangsaan yang sempit yang tidak diizinkan oleh ajaran Islam, yaitu pemberian khalifah atas suku tertentu tidak sama dengan yang diberikan kepada suku yang lain. Peristiwa sedemikian itu yang membuka peluang bagi Abu Muslim Al-Khurrasani dalam usahanya menegakkan Daulah Bani Abbasiyah.

Begitu pula kegemaran khalifah-khalifah terakhir Bani Umayyah yang banyak menghabiskan waktunya untuk bermain-main dengan kemewahan yang tidak terbatas, sehingga mereka kurang mengacuhkan urusan kerajaan. Hal ini yang menambah kebencian Umat Islam kepada pemerintahan keluarga besar itu. 

Bahkan, kebanyakan para khalifah atau pejabat tinggi dari kalangan Bani Umayyah lebih condong suka meniru adat-istiadat Istana Byzantium (Kekaisaran Romawi) yang tentunya bisa menimbulkan kerusakan batin.


4. Pengangkatan 2 orang Putera Mahkota

Kebijakan pengangkatan 2 orang putra mahkota juga sangat buruk akibatnya. Tentunya, hal ini menimbulkan perpecahana internal dalam tubuh Keluarga Bani Umayyah itu sendiri karena putra mahkota yang biasanya lebih dahulu naik tahta, akan berusaha menyingkirkan saudaranya sendiri demi meneruskan kekuasaannya kepada putranya sendiri.

Akhirnya, timbullah sifat balas dendam yang terdapat pada diri khalifah kepada siapa saja yang membantu singgasana lawannya. Tindakan ini menjadikan pusat perhatian dan simpati kepada rakyat semakin pudar, sehingga rakyat sebagian besar senantiasa mengelu-elukan kedatangan pemimpin yang berhasil mempersatukan mereka dan dapat membalas dendam kepada Keluarga Besar Bani Umayyah yang terkenal lalim dan tidak adil tersebut.  

Demikian, kondisi seperti ini dimanfaatkan Abu Muslim untuk muncul dan memberikan harapan baru dengan janji perbaikan atas Daulah Islamiyah di bawah kibaran bendera Bani Abbasiyah.


Faktor-Faktor Utama

  • Terjadinya penyelewengan sistem musyawarah Umat Islam (Syuro') menuju sistem Kerajaan (Monarki)
  • Pengkhianatan Perdamaian Daumatul Jandal
  • Penganiayaan Terhadap Keluarga Rasulullah SAW. (Ahlul Bait)
  • Menyalahi Perjanjian Madain (Perjanjian Mu'awiyah bin Abi Sufyan dengan Hasan bin Ali bin Abi Thalib)
  • Pengangkatan Putra Mahkota lebih dari satu
  • Mengutamakan Bangsa Arab dibandingkan Bangsa Non-Arab
  • Pemberontakan Berkepanjangan dari Kelompok Syi'ah, Khawarij, dan Lainnya
  • Hidup Bermegah-Megahan, Kemewahan dan Pemborosan Uang Negara
  • Kelemahan Para Khalifah yang tidak piawai memegang amanah dan bertanggung jawab pada Negara  
  • Ketidakjelasan pergantian Khalifah dari nasab putranya atau saudaranya
  • Adanya Gerakan Bani Abbasiyah yang berusaha menumbangkan Daulah Bani Umayyah


Hikmah Pelajaran Keruntuhan Kekhilafahan Bani Umayyah 

Dari beberapa kejadian yang berujung keruntuhan Dinasti Bani Umayyah, ada beberapa hikmah pelajaran yang bisa dipetik, di antara lain ialah :

  • Untuk mencegah berbagai bentuk perpecahan, semua orang harus berpijak dan berpegang teguh pada semangat persatuan dan kesatuan yang amat mendalam.
  • Ketegasan dalam memerintah sangatlah diperlukan demi kepentingan maslahat Umat, sehingga tidak akan muncul golongan yang merasa dirugikan.
  • Penyerahan jabatan tidak boleh berpatokan karena tali kekeluargaan atau kekerabatan, melainkan pada kemampuan sehingga bisa memegang amanah dan tanggung jawab yang besar dalam mengatur wilayah yang begitu luas.
  • Ketidakdisiplinan dalam pemerintahan membawa kehancuran.
  • Hilangnya rasa persaudaraan dapat mengakibatkan perpecahan.
  • Pemerintahan yang korupsi dan pejabat yang tidak amanah menyebabkan terjadinya krisis kepemimpinan.
  • Disintegrasi dalam negeri dapat mendorong perpecahan dan kehancuran.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.