Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

5++ Faktor Keruntuhan Dinasti Bani Abbasiyah

5++ Faktor Keruntuhan Dinasti Bani Abbasiyah

Diantara sebab runtuhnya Daulah Bani Abbasiyah selain lemahnya para khalifah dan kemewahan yang mewarnai kehidupan khalifah beserta kerabatnya, antara lain:


1. Mengutamakan Bangsa Persia atas Bangsa Arab

Keluarga Abbasiyah biasanya memberikan pangkat dan jabatan negeri yang penting dan tinggi, baik rakyat sipil maupun militer, kepada Bangsa Persia. Mereka sebagian besar diangkat menjadi wazir, panglima tentara, wali (gubernur), hakim dan lain-lain. Oleh karena itu, Bangsa Arab membenci khalifah-khalifah tersebut dan menjauhkan diri daripadanya.


2. Permusuhan/Pengkhianatan terhadap Golongan Alawiyin

Permusuhan atas Golongan Alawiyin yang di mana mereka terdapat banyak pendukungnya, menabah deretan amarah dan kebencian di dalam hati mereka. Hal itu disebabkan, karena sebelumnya pernah diiming-imingi akan menyerahkan tampuk kekuasaan kepada keluarga keturunan Ali bin Abi Thalib (yang notabenenya terdapat tali darah keturunan Rasulullah SAW.) apabila berhasil sama-sama menjatuhkan Daulah Bani Umayyah.

Namun sayangnya, siasat itu hanya sekedar tipu daya dan muslihat saja, yang mengakibatkan boomerang kerugian bagi mereka sendiri. Akhirnya, timbul berbagai pemberontakan dan huru-hara yang terjadi hampir di seluruh pelosok negeri Islam.


3. Terpengaruh Perselisihan Paham Agama

Beberapa orang khalifah Abbasiyah seperti Al-Makmun, Al-Mu'tashim dan Al-Watsiq, sangat terpengaruh oleh bid'ah, perselisihan madzhab dan aliran filsafat. Hal ini menimbulkan benih perpecahan menjadi beberapa partai dan golongan. Hal ini yang menjauhkan kaum ulama dari mereka.


4. Rapuhnya Sistem Bernegara

Disebabkan terpilih khalifah yang tidak piawai dan lemah dalam kepemimpinan, bahkan diiringi kebijakan yang begitu kontroversial seperti pengangkatan 2 putra mahkota yang tentunya mengikuti kesalahan Keluarga Bani Umayyah. Tentunya, menimbulkan deretan permasalahan yang panjang dan persengkataan yang tidak ada habis-habisnya dalam lingkungan internal keluarga Bani Abbasiyah.


5. Bencana Bangsa Turki

Keluarga Bani Abbas tidak sadar, bahwa mereka sudah dipermainkan dan diperalat dalam lingkaran api fitnah dan pengkhianatan oleh Bangsa Turki yang di mana mereka selalu bercita-cita berusaha merebut kekuasaan Khalifah dan tentunya, hal ini bermula pada Masa Pemerintahan Khalifah Al-Mu'tashim Billah.

Muslihat Bangsa Turki bisa terbilag sangat berbahaya sekali, karena beberapa khalifah pernah jatuh menjadi korban mereka atas hasutan fitnah mereka. Sehingga, Khalifah kala itu menjadi alat permainan oleh para panglima yang berasal dari Turki dan menimbulkan kekacauan yang terjadi di mana-mana.

Di sisi lain, perselisihan antara masyarakat dengan tentara begitu sering terjadi, dan justru menggoyahkan sendi-sendiri pemerintahan Khalifah itu sendiri. Bahkan, situasi ini dijadikan sebagai peluang empuk bagi para penguasa wilayah untuk memisahkan diri dari hubungan Pusat dan mendirikan kerajaan sendiri-sendiri (Imarat) dalam lingkup Daulat itu sendiri.   


6. Nasib Kota Baghdad atas Serangan Tentara Mongol

Pada situasi khalifah yang sedang tergoncang, menjadikan Kota Baghdad tidak bisa menghalau serangan laskar tentara Mongol yang dipimpin oleh Panglima Holako. Ibu Kota Bani Abbasiyah yang megah dan menjadi pusat pengetahuan Islam itu harus menelan pil pahit, yakni menyerah setelah dikepung selama 50 hari.

Sewaktu penyerangan, Khalifah Al-Mu'tashim beserta keluarga besarnya dibunuh dengan liciknya oleh salah satu laskar Holako. Akhirnya, mereka berhasil memasuki Baghdad dan membumihanguskan segala isinya dengan membabi buta dan sangat kejamnya.

Sebagian besar penduduk ibu kota dipenggal layaknya hewan sembelihan, seluruh harta istana dan rumah penduduk dirampas tanpa ampun, menghancurkan segala bangunan yang ditemuinya termasuk masjid, madrasah, dan gedung-gedung besar indah nan permai, bahkan merobek sekaligus membuang kitab-kitab ilmu pengetahuan yang tidak ternilai harganya tersebut ke Sungai Tigris sampai-sampai menghitamkan airnya itu akibat luntur tintanya.

Tragedi yang menyeramkan dan menyedihkan tersebut menurut ahli sejarah terjadi selama 40 hari lamanya. Puing-puing bangunan Kota Baghdad sudah tidak membekas sama sekali melainkan, tumpukan bekas reruntuhan dan sisa hangus kebakaran.

Khalifah yang pernah memerintah Daulat Abbasiyah sejak berdirinya pada tanggal 13 Rabi'ul Awwal 132 H (30 Oktober 749) sampai jatuhnya Baghdad pada tanggal 20 Muharram 656 H (27 Januari 1258 M) sebanyak 37 Khalifah.

Sebenarnya, ada sisa 15 orang Khalifah Abbasiyah yang masih berkuasa di Mesir, tetapi hanya menjadi simbolik belaka. Mereka diakui oleh beberapa raja Mameluk di Mesir, namun tidak memiliki kekuasaan sama sekali.


Faktor-Faktor Utama

  • Pengkhianatan Bani Abbasiyah terhadap Golongan 'Alawiyyin yang sudah berjasa banyak membantu perjuangannya dalam menggulingkan Daulah Bani Umayyah
  • Mengutamakan Bangsa Persia dibandingkan daripada Bangsa Arab sendiri.
  • Pengangkatan 2 Putera Mahkota, sehingga menimbulkan perebutan kekuasaan.
  • Aliran pemikiran sesat yang tidak dikontrol, sehingga menimbulkan perselisihan paham keagamaan yang mengancam persatuan dan kesatuan Islam.
  • Siasat licik orang-orang Turki yang mendominasi dalam jabatan penting dan strategis, terutama bidang militer dan pemerintahan, sehingga timbul fitnah dan hasutan antara Keluarga Abbasiyah akibat ulah mereka.
  • Rapuhnya Kepemimpinan dan Sistem Bernegara
  • Serangan Tentara Mongolia di bawah pimpinan Jenderal Hulako


Hikmah Pelajaran Keruntuhan Kekhilafahan Bani Abbasiyah

Dari beberapa kejadian yang berujung keruntuhan Dinasti Bani Abbasiyah, ada beberapa hikmah pelajaran yang bisa dipetik, di antara lain ialah : 

  • Dalam menjalankan pemerintahan, pemimpin tidak boleh berbuat semena-mena, dan justru harus memberikan suri teladan yang baik kepada rakyatnya.
  • Jasa seseorang harus dihargai sekecil apapun itu.
  • Apabila ajaran Islam diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, niscaya akan mendapat manfaat bagi umat manusia, terutama berkembangnya ilmu pengetahuan baru.
  • Ajaran Islam bila diamalkan dengan baik dan benar, niscaya peradaban Dunia Islam akan menjadi lebih maju dibandingkan Dunia Barat itu sendiri.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.