Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Dinasti Bani Umayyah : Khalifah Mu'awiyah bin Abi Sufyan (40-60 H/660-680 M)

Dinasti Bani Umayyah : Khalifah Mu'awiyah bin Abi Sufyan  (40-60 H/660-680 M)

Biografi Mu'awiyah bin Abi Sufyan

Mu'awiyah bin Abi Sufyan dilahirkan pada Tahun 602 Masehi dengan nama lengkapnya yaitu Mu'awiyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab dan dia berasal dari kalangan Bani Umayyah melalui garis ayahnya yang bernama Abu Sufyan bin Harb, yang sangat getol membenci dakwah Islam dan ibunya yang bernama Hindun bin 'Utbah, yang dulunya pernah mendalangi pembunuhan Hamzah, paman kesayangan Rasulullah SAW. sewaktu Perang Badar sampai dia memakan mentah-mentah hatinya.

Ia mendapat julukan yang bernama Abu Abdurrahman dan Al-Quraisyi Al-Umawi Al-Makki. Menurut Umar bin Khattab, ia sangat suka makan makanan-makanan yang enak dan bertingkah laku seperti raja. Di sisi lain, Mu'awiyah mempunyai ciri-ciri berkulit putih, perawakan tubuh tinggi, wajah tampan, penuh wibawa, suka bergaya hidup mewah, cinta akan kebersihan.

Ia telah menyatakan dirinya masuk Islam di saat Fathu Mekkah, bersama kedua orang tuanya. Namun menurut riwayat sejarah lain, ia sebenarnya terlebih dahulu masuk Islam sebelum kedua orang tuanya secara sembunyi-sembunyi di saat Umrah Qadha'.

Selepas dia masuk Islam, Rasulullah SAW. sangat menyukai sifat-sifat Mu'awiyah terlebih lagi dia berasal dari keluarga berpengaruh dan terpandang, seperti sabar, cerdik, toleransi (tidak fanatik dalam agama), pandai mengendalikan diri, dan suka memberi maaf.

Tidak heran, ia pernah ditunjuk sebagai penulis wahyu Al-Qur'an di Masa Baginda Nabi masih hidup, sekaligus pernah ditugasi membacakan Surat Kaisar Romawi di hadapannya. Pengalamannya dalam urusan pemerintahan dan dunia percaturan politik menjadikan dirinya merasa paling beruntung, meskipun masih banyak orang yang lebih pantas daripada dirinya.

Selain itu, ia selalu bersikap santun dan sabar menerima celaan dalam menghadapi lawannya, sehingga ia berhasil mematahkan perlawanan Kelompok Khawarij dan Syi'ah, serta dapat meredam kebencian Umat Islam terhadap dirinya. 

Dalam paham keagamaan, ia punya wawasan pengetahuan yang luas dan tidak fanatis dalam berpikir. Tentunya, hal itu terbukti dengan kebijakan pengangkatan Menteri Keuangan dari orang Nasrani yang bernama Manshur bin Sarjun, memperbaiki gereja-gereja runtuh di Irak akibat bencana gempa bumi, bahkan Ahluzimmah dari kalangan kaum Yahudi dan Nasrani sangat merasakan nuansa keadilan dan ketidakfanatikannya dalam beragama.


Cara Pengangkatan Khalifah

Saat dia berhasil menduduki kursi empuk Khilafah bukan disebabkan hasil permusyawaratan Umat Islam, namun melainkan dia menggunakan siasat politik yang licik, tipu daya yang licin, dan mata pandangnya yang tajam.

Selepas Mu'awiyah naik tahta, prosedur pemilihan Khalifah menurut hasil musyawarah terbanyak yang biasa digunakan oleh Khulafa'ur Rasyidin sudah tidak terpakai lagi dan digantikan menjadi sistem kerajaan yang diwarisi secara turun-temurun.

Khalifah Mu'awiyah bin Abi Sufyan condong dipengaruhi oleh sistem peraturan negara dan budaya peninggalan Kekaisaran Romawi di Negeri Syam. Ia segera menerapkan keputusan-keputusan yang tidak pernah ditiru oleh Khalifah-Khalifah sebelumnya, yaitu membangun istana kerajaan yang megah dan mengadakan barisan pengawal yang siap berjaga siang dan malam.

Bahkan, dirinya disiapkan tempat istimewa di dalam masjid sebagai tempat shalat yang sudah dijaga oleh para pengawalnya dengan pedang terhunus, karena ia khawatir apa yang terjadi pada Ali bin Abi Thalib akan terjadi pula pada dirinya (mengingat dirinya pernah ditikam oleh Kaum Khawarij yang hampir menewaskannya waktu itu).

 

Penaklukan-Penaklukan di Zaman Khalifah Mu'awiyah bin Abi Sufyan

Pada mulanya, penaklukan beberapa wilayah dilakukan karena alasan pembebasan dari tekanan jajahan Kekaisaran Byzantium ataupun Persia atas permintaan rakyat itu sendiri, tetapi semenjak Mu'awiyah bin Abi Sufyan diangkat sebagai khalifah, ia merubah haluan kebijakannya itu menjadi ambisi nafsu politik dengan memperluas wilayah kekuasaannya demi tegaknya Syi'ar Islam, di antaranya ialah. 


a. Penaklukan ke Arah Timur

Pada masa itu, Khalifah Mu'awiyah bin Abi Sufyan berambisi untuk meperluas wilayah-wilayah Islam hingga ke arah timur, hingga menuju Negeri Sind (daerah Sungai Indus di Pakistan). Penaklukan wilayah itu ditugaskan pada kedua panglima yang bernama Abdullah bin Sawwar Al-Abdi menguasai Negeri Qaiqan, sedangkan Mahlab bin Abu Suhufrah menguasai daerah Bannah dan Lahore.

Sedangkan, Gubernur Khurasan yang bernama Sa'id bin Utsman bin Affan, diperintahkan menyeberangi Sungai Sihon untuk menaklukkan Samarkand dan Sughda (Sogdiana), hingga akhirnya kedua negeri itu tunduk di bawah kekuasaannya.


b. Perang Melawan Byzantium (Serangan ke Konstantinopel)

Pada tahun 48 H/669 M, Khalifah Mu'awiyah berambisi menguasai Konstantinopel yang terkenal akan daerah strategisnya dan jalur perdagangannya. Ia mengintruksikan untuk persiapan berperang dengan segala kelengkapan angkatan perangnya, baik darat maupun laut.

Menurut Mu'awiyah, Kekaisaran Byzantium ibarat hama pengganggu yang sewaktu-waktu bisa merebut bekas wilayah jajahannya kembali, khususnya daerah Syam dan Afrika Utara. Untuk menargetkan pekerjaan berat ini bisa berhasil, ia memerintahkan angkatan perangnya untuk memerangi orang-orang Romawi secara terus-menerus tanpa henti, baik di musim dingin maupun di musim panas.

Kemudian, ia menugaskan Panglima Sufyan bin 'Auf memimpin angkatan darat, sedangkan Laksamana Fadhalah Al-Anshary memegang angkatan laut, sekaligus mengangkat putranya sendiri, Yazid bin Mu'awiyah sebagai panglima besar bagi kedua angkatan perang besar tersebut. 

Sebelumnya, angkatan perang Khalifah Mu'awiyah berhasil menaklukkan beberapa pertempuran di Armenia dan beberapa pulau Asia Kecil, terutama Pulau Cyprus dan Rhodus di Laut Tengah serta beberapa pulau lainnya di Archipel juga dapat direbut.

Selanjutnya, laskar Islam bersepakat melakukan penyerangan ke Konstantinopel terjadi 2 kali. Yang pertama, tentara Islam menyerbu daerah-daerah Romawi Timur, kemudian mengepung Konstantinopel. Sayangnya, mereka gagal menaklukkannya karena benteng-bentengnya terlalu kuat ditembus hingga terpaksa harus kembali ke Syam dengan tangan hampa. 

Pada serangan pertama kali ke Konstantinopel, laskar Islam telah kehilangan banyak kapal besar dan sebagian besar bala tentaranya. Di antaranya juga, terdapat salah seorang sahabat Nabi syahid terbunuh yaitu Abu Ayyub Al-Anshari yang pernah memberikan tumpangan kepada Nabi Muhammad SAW. ketika tiba di Yatsrib.

Sebagai tanda kehormatan, beberapa waktu kemudian didirikanlah sebuah masjid megah di tengah-tengah Kota Konstantinopel setelah berhasil ditaklukkan dengan nama Masjid Ayyub Al-Anshari. 

Kedua, tepat pada tahun 58 H/679 M, Khalifah Mu'awiyah kembali mengerahkan bala tentaranya, mengepung Ibukota Kerajaan Byzantium selama dua tahun. Saat pengepungan hampir berhasil, sayangnya pengepungan itu harus ditarik kembali karena Khalifah Mu'awiyah sendiri sudah wafat terlebih dahulu.


c. Penaklukan Afrika Utara

Setelah situasi politik dalam negeri dapat terkendali, Khalifah Mu'awiyah kembali mengerahkan para pasukannya dalam rangka perluasan wilayah, salah satunya adalah penaklukan wilayah-wilayah Afrika Utara (661-680 M). Hal ini didasari atas kenyataan politik bahwa penjajah bangsa Romawi terus-menerus melakukan perlawanan di wilayah tersebut, sehingga Gubernur Mesir, Amr bin 'Ash merasa terganggu kinerjanya oleh keberadaan mereka.

Akhirnya, Khalifah Mu'awiyah bin Abi Sufyan segera memberikan wewenang besar agar dapat mengatasi persoalan besar tersebut. Lantas, Amr bin 'Ash segera menugaskan Panglima Uqbah bin Nafi' untuk menyingkirkan jejak-jejak Bangsa Romawi yang ada di seluruh daratan Afrika Utara.

Panglima laskar Islam tersebut berhasil mengalahkan mereka, dan menguasai kota Qairuwan hingga ke selatan Tunisia pada Tahun 50 H/670 M sekaligus dijadikan benteng pertahanan, pusat pemerintahan propinsi, dan pangkalan militer untuk wilayah Afrika Utara. Kekuatan militer dan pertahanan yang cukup memadai ini membuat pasukan Romawi perlahan-lahan terusir hingga ke sebuah pulau kecil di Afrika Utara yang bernama Septah atau Ceuta.

Meskipun telah terusir, Bangsa Romawi berhasil mempengaruhi Bangsa Barbar melakukan perlawanan terhadap Bangsa Arab Muslim. Mengetahui siasat licik itu, Uqbah bin Nafi' segera cekatan melakukan serangan balik, namun usahanya tidak sampai berhasil karena Khalfiah Mu'awiyah terlanjur menggantikannya dengan Panglima Abdul Muhajir. Di bawah kepemimpinannya, laskar Islam berhasil menaklukkan Suku Barbar dan mengajak mereka kembali masuk Islam.


d. Pengangkatan Yazid Sebagai Putera Mahkota

Pada tahun 56 H/676 M, Khalifah Mu'awiyah bin Abi Sufyan mengambil keputusan yang sangat kontroversial, yaitu mengangkat Yazid bin Mu'awiyah sebagai putra mahkota, yang akan langsung menggantikannya setelah dia wafat. Dengan demikian, dia telah mengubah Undang-Undang Pemilihan Khalifah, dan mengingkari perjanjiannya yang disepakati dengan Hasan bin Ali yang pada awalnya akan menyerahkan pemilihannya itu terhadap Majlis Syuro' Umat Islam, namun digantikan dengan menggunakan garis keturunan.

Menurutnya, langkahnya itu untuk menghindari fitnah dan persengketaan sebagaimana yang pernah terjadi pada masa khalifah-khalifah sebelumnya. Namun, siasatnya itu tetap saja menimbulkan huru-hara dan pemberontakan di mana-mana setelah ia meninggal.


Kewafatan Khalifah Mu'awiyah bin Abi Sufyan

Saat tentara Islam hampir saja berhasil menaklukkan Ibukota Byzantium akibat pengepungan berkepanjangan itu, Mu'awiyah bin Abi Sufyan harus berpulang ke Hadirat Allah dan dinyatakan meninggal dunia di Ibukota Damaskus, Syria pada tanggal 22 Rajab 60 H atau bertepatan pada 26 April 680 Masehi di usia hampir menginjak 78 tahun.

Dia sudah memerintah dalam masa pemerintahannya selama hampir 20 tahun lamanya semenjak kesepakatan Perjanjian Madain, dan merupakan sahabat Nabi yang dikenal sebagai pendiri Dinasti Bani Umayyah atas Daulah Islamiyah.  

Ia dimakamkan di Kompleks Pemakaman Bab Ash-Shagir di Damaskus, Suriah. Hingga kini, kompleks pemakaman itu masih dapat ditemukan dan terawat dengan baik walaupun keberadaannya sempat terancam hancur karena situasi perang di sana.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.