Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Aspek dan Unsur Pokok Dinul Islam (Terlengkap) : Iman, Islam, dan Ihsan

Aspek dan Unsur Pokok Dinul Islam (Terlengkap) : Iman, Islam, dan Ihsan

Ajaran Dinul Islam, secara garis besar meliputi 4 aspek pokok di antara lain ialah :

  • Aqidah, yaitu aspek yang berisi tentang keyakinan dan keimanan kepada perkara-perkara yang ada dan dijelaskan dalam rukun iman. Aqidah juga merupakan dasar atau fondasi ajaran Islam yang sifatnya pasti, kebenarannya mutlak, terperinci dan monoteistis. Inti dari ajaran aqidah yaitu Meng-Esakan Tuhan (Tauhid), atau disebut juga ajaran Islam yang tauhidi.
  • Ibadah, yaitu aturan-aturan tentang tata cara hubungan manusia dengan Allah SWT., atau segala cara dan ucapan pengabdian yang bersifat ritual yang telah diperintahkan dan diatur cara-cara pelaksanaannya dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi, seperti shalat, puasa, haji dan lain-lain.
  • Akhlak, yaitu aturan tentang perilaku lahir dan batin, yang dapat membedakan antara perilaku yang terpuji dan tercela, antara yang salah dan yang benar, antara yang patut dan yang tidak patut (sopan), dan antara yang baik dan yang buruk.
  • Mu'amalah, yaitu aturan tentang hubungan manusia dengan manusia lainnya, dalam rangka memenuhi kepentingan atau kebutuhan hidupnya, baik yang primer maupun yang sekunder.

Selain pembagian Aspek-Aspek Dinul Islam sebagaimana tersebut di atas, pembahasan tentang Dinul Islam juga meliputi 3 unsur pokok yang sangat mendasar, yang harus ada pada setiap insan muslim, yaitu, Iman, Islam dan Ihsan.

Secara keilmuan, iman dapat juga dikatakan aqidah, Islam dikatakan sebagai syariatnya, dan ihsan sebagai akhlaknya. Meskipun mempunyai pengertian yang berbeda-beda, ketiganya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Dari Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tersebut di atas, dan penjelasan yang disampaikan oleh para ulama', maka dapat disimpulkan bahwa ;

  • Iman : Membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan merealisasikan dengan segenap anggota badan, akan adanya Allah SWT. dengan segala kesempurnaan-Nya, Para Malaikat, Kitab-Kitab Allah, Para Nabi dan Rasul, Hari Akhir serta Qadla dan Qadar.
  • Islam : Taat, tunduk dan menyerahkan diri atas segala ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. dan dibangun atas kalimat syahadatain (2 kalimat syahadat), shalat, zakat, puasa dan haji.
  • Ihsan : Berakhlak dan berbuat shaleh, sehingga dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan bermu'amalah dengan sesama makhluk, dilakukan dengan segala keikhlasan, seakan-akan Allah melihat dan menyertainya, meskipun dirinya tidak dapat melihat-Nya. 

Iman dan Islam, merupakan harga mati yang harus dimiliki oleh seorang muslim, sedangkan ihsan merupakan tuntunan yang menyangkut tentang etika yang mengatur tingkah laku manusia. Aturan tersebut, berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungannya.

Khusus lingkup pembahasan ihsan, terdiri atas aturan-aturan mengenai :

1. Hubungan Manusia dengan Allah (Hablum Minallah)

Hubungan ini disebut hubungan pengabdian atau ibadah, yaitu hubungan antara Sang Khalik (Pencipta) dan makhluk (yang diciptakannya). Ibadah yang dilakukan oleh makhluk, bukan merupakan kehendak Khalik-nya, akan tetapi suatu kebutuhan bagi makhluk itu sendiri.

Karena, Sang Khalik yaitu Allah SWT. tidak membutuhkan pengabdian makhluk-Nya atau dari siapapun dan dari manapun.

Ibadah, dimaksudkan untuk mengembalikan manusia kepada kodrat asal penciptaannya, yaitu fitrah atau kesuciannya, dan agar kehidupannya diridlai oleh Allah, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Sebagaimana Firman Allah sebagai berikut :

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Artinya : "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus." (QS. Al-Bayyinah : 5)

Ibadah bagi manusia, merupakan kunci dari hubungan makhluk dengan Khalik-nya. Dengan beribadah, makhluk akan menerima pahala dan kenikmatan bathiniyah, walaupun sebab anugerah tersebut, bukan semata-mata karena ibadah yang dijalankan karena kewajiban, akan tetapi lebih karena kasih sayang kepada Allah SWT.

Jadi, ibadah harus dipahami bukan sekedar sebagai kewajiban, akan tetapi kebutuhan seorang makhluk, sehingga kerugianlah yang akan diterima bagi mereka yang tidak melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

 

2. Hubungan Manusia dengan Manusia (Hablum Minannas)

Hubungan ini disebut juga sebagai ajaran sosial kemasyarakatan. Dalam hal ini, Islam mempunyai konsep yang mendasar tentang kekeluargaan, kemasyarakatan, kenegaraan, perekonomian dan lain-lain. Konsep hubungan manusia dengan manusia tersebut, selanjutnya menjadi dasar pengembangan aturan kemasyarakatan, kenegaraan dan lainnya.

Dalam Al-Qur'an, konsep kemasyarakatan ini berdasarkan pada satu nilai yaitu saling tolong-menolong antar sesama manusia, menolong dalam kebaikan dan mengabaikan untuk hal-hal yang dilarang oleh agama.

Sebagaimana Firman Allah SWT. dalam Al-Qur'an Surat Al Maidah ayat 2 sebagai berikut :

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ

Artinya : "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran."

Dalam konteks sosial, hubungan manusia dengan manusia yang lain mempunyai konsekuensi terjadinya konflik, pertengkaran, berbeda pendapat bahkan untuk memperoleh ambisinya, manusia sering menggunakan dan menghalalkan berbagai macam cara sekalipun hal itu yang bathil.

Demikian sebaliknya, konsekuensi yang bernilai positif yaitu, saling menolong, tumbuhnya kasih dan sayang, kebahagiaan, kesejahteraan, dan tercapainya hidup selamat dunia dan akhirat.

Hal tersebut disebabkan, manusia diciptakan oleh Allah terdiri atas berbagai suku dan bangsa, laki-laki dan perempuan, dengan berbagai keberagaman budaya yang dimilikinya.

Justru dengan beragamnya manusia, maka antara satu dan sama lainnya saling membutuhkan dan mendorong manusia untuk saling memerlukan dan saling menghormati.

Keberagaman fisik dan psikis manusia, jasmani dan rohaninya, warna kulit dan bahasanya, di hadapan Allah adalah sama, tidak ada perlakuan lebih oleh Allah terhadap orang yang kaya atau miskin, orang yang berkulit hitam atau putih, orang yang cantik atau jelek, orang yang kuat atau lemah.

Perbedaan yang dinilai dan dilihat Allah adalah, tingkat ketaqwaan seseorang. Orang yang paling mulia di Sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa, sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 13, yaitu :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal."

Jadi, hubungan antara manusia dengan manusia, walaupun penciptaannya berbeda, dianjurkan untuk saling tolong-menolong, sebagai aspek penting dalam membangun hubungan kemasyarakatan, dan orang yang mulia di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara mereka.

 

3. Hubungan Manusia dengan Makhluk Lainnya atau Lingkungannya

Dalam hubungannya dengan alam sekitar, manusia telah dikaruniai akal pikiran, karunia yang tidak diberikan kepada makhluk lain. Dengan akal, Allah memberikan perintah sekaligus wewenang sebagai Khalifah di bumi, untuk mengelola dan memanfaatkan alam ini sebaik-baiknya, sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Luqman ayat 20 sebagai berikut :

أَلَمْ تَرَوْا۟ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ

Artinya : "Tidakkah kamu perhatikan, sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)-mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin."

Manusia mempunyai tugas sebagai khalifah di bumi ini, yaitu memakmurkan, memanfaatkan dan mengelola alam ini dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi dalam melaksanakan tugas mulia ini, manusia harus mengetahui batas-batas dalam menjaga keseimbangan alam sekitar, manusia dilarang merusak dan mengekploitasi alam untuk kepentingannya sendiri.

Perbuatan merusak tersebut, seperti pembakaran hutan, penebangan hutan secara liar (illegal logging), membuang sampah sembarangan, corat coret pada fasilitas umum, dan sebagainya, akan mengakibatkan tanah longsor, banjir dan keseimbangan alam terganggu, pemandangan yang tidak nyaman serta keindahan lingkungan berkurang.

Hal ini telah disinggung Allah dalam Firman-Nya, sebagai berikut :

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya : "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Q.S. Ar-Rum : 41)

Untuk itu, kita sebagai pemegang amanah untuk mengelola dan memanfaatkan alam ini, harus semaksimal mungkin memperhatikan gejala alam dan mempelajarinya, sehingga pengelolaan lingkungan memberikan nilai tambah bagi kehidupan manusia. Dengan demikian, semua yang dikaruniakan

Allah kepada manusia tidak sia-sia, karena tidak ada satupun ciptaan Allah yang tidak mengandung faedah. Sebagaimana doa yang sering kita sampaikan kepada Allah, yang disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai berikut :

ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau. Maka, peliharalah kami dari siksa neraka." (Q.S. Ali Imran : 191)

Demikian dalamnya ajaran Islam dalam menyikapi makhluk lain, sehingga kita harus menunjukkan sikap yang baik dalam memperlakukan makhluk ciptaan Allah lainnya dengan kasih sayang dan cinta, sesungguhnya dengan mencintai makhluk lain, maka kita telah mencintai diri sendiri.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.