Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Mengenal Maqam Ibrahim : Informasi Terlengkap, Keutamaan, dan Bukti Nyata

Menurut bahasa, Al-Maqam artinya tempat kaki berpijak, dan Maqam Ibrahim dapat diartikan ialah batu tanjakan yang diberikan oleh anaknya, Ismail Alaihissalam kepada sang ayah, Nabi Ibrahim agar dapat membantunya dalam pembangunan Kakbah. Ajaibnya atas izin Allah, setiap kali Nabi Ibrahim mengangkat batu ke pondasi Kakbah dan bangunan tersebut semakin tinggi, batu tempat pijakan kaki Nabi Ibrahim juga ikut naik.

 

Keutamaan Maqam Ibrahim

Di antara keutamaan Maqam Ibrahim ialah ; 

Pertama, bisa dijadikannya sebagai tempat shalat. Ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan Maqam Ibrahim sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 125 yang artinya :

"Dan, jadikanlah sebagian maqam Ibrahim (sebagai) tempat shalat."

Hal ini juga sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir Radhiyallahu ‘Anhu mengenai sifat haji Nabi Muhammad SAW. yang berisi :

"Ketika sampai di Kakbah bersama Rasulullah SAW., beliau langsung mencium rukun Hajar Aswad, kemudian berlari-lari kecil 3 putaran, dan (selebihnya) yang 4 putaran dengan jalan biasa. Lalu, beliau ke Maqam Ibrahim dan membaca, ("Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat.”), dan menjadikannya berada di antara dirinya dan Kakbah.”

Kedua, merupakan sebagian batu dari surga, sebagaimana Rasulullah SAW. bersabda, bahwa Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim ialah batu-batuan dari surga, seandainya Allah tidak melenyapkan cahaya keduanya, niscaya ia akan menerangi timur dan barat seluruhnya.

Sementara dalam Riwayat Hadits dari Al-Baihaqi, disebutkan seandainya bukan karena dosa dan kesalahan anak-cucu Adam, maka keduanya mampu menerangi timur dan barat.

Ketiga, tempat dikabulkannya do'a (tempat paling mustajab berdoa). Menurut Hasan Al-Bashri dan ulama-ulama lainnya, do'a di belakang Maqam Ibrahim akan dikabulkan.

 

Bukti-bukti yang Nyata

Maqam Ibrahim memiliki beberapa bukti-bukti nyata sebagai mukjizat Nabi Ibrahim yang didapat dari Allah Ta’ala yang kekal hingga kini sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 96-97 yang artinya :

"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Baginya, terdapat tanda-tanda yang nyata, (salah satunya) Maqam Ibrahim.”

(1)    Jejak telapak (asli/langsung) kaki Nabi Ibrahim Alaihissalam. Paman Abu Thalib pernah berkata, "Jejak telapak kaki Ibrahim itu ialah jejak kaki tanpa alas." Kemudian, hal itu juga diketahui bahwa ternyata telapak kaki Nabi Muhammad SAW. mirip dengan telapak kaki kakek buyutnya, Ibrahim Alaihissalam.

Sebagaimana, dikisahkan oleh Sahabat Jahm bin Hudzaifah Al-Qursyi yang menyaksikan proses pembangunan Kakbah oleh Quraisy dan Ibnu Zubair, ia berkata ;

"Sungguh, aku tidak pernah melihat sesuatu yang mirip seperti miripnya telapak kaki Nabi SAW. dengan telapak kaki Ibrahim yang kami lihat di Maqam."

Sementara Imam Bukhari juga meriwayatkan, bahwa Nabi SAW. pernah bersabda, "Aku ini menyerupai anak Ibrahim." Sejarawan Tháhir Al-Kurdi (wafat 1400 H) menyimpulkan bahwa jejak telapak kaki di Maqam tersebut masing-masing memiliki kedalaman 10 cm dan 9 cm, dengan panjang 22 cm dan lebar 11 cm.

Namun sayangnya, tidak nampak bekas jari-jari kaki saat ini disebabkan karena Maqam dulunya terbuka, sehingga hilang akibat terlalu seringnya disentuh banyak orang. Ini menunjukkan bahwa tinggi badan Nabi Ibrahim Alaihissalam kira-kira sama tingginya dengan kebanyakan orang zaman ini.

(2)    Keajaiban naiknya Maqam Ibrahim setiap kali bertambah tingginya bangunan. Menurut Sejarawan Al-Kurdi, bahwa Maqam Ibrahim itu tingginya hanya mencapai 20 cm, namun atas mukjizat dan kekuasaan Allah, ia dapat naik-turun sesuai dengan kebutuhannya saat menggapai tinggi-rendahnya pembangunan Ka'bah.

(3)    Keabadiannya sepanjang Sejarah Nabi-Nabi. Walaupun, Maqam Ibrahim berkali-kali terjadi usaha pencurian serta dampak bencana cuaca dan badai di dalam Masjidil Haram selama ribuan tahun, namun tetap terpelihara dengan baik sampai sekarang.

Hal ini tentunya diyakini sebagai mukjizat sekaligus jaminan Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya. Apalagi, bila mengingat kondisi Maqam Ibrahim itu dahulunya diletakkan begitu saja terbuka tanpa ada penutup dan pengaman dari kerangka besi seperti sekarang.  

Diriwayatkan oleh Al-Fakihi, bahwa pernah ada seseorang yang di Mekah disebut dengan Jarij (entah seorang Yahudi atau Nasrani) pada suatu malam Maqam Ibrahim hilang, kemudian setelah dicari ternyata ada padanya, di mana ia ingin membawanya ke Raja Romawi. Lalu diambilnya kembali Maqam Ibrahim itu darinya, kemudian leher (pelaku)-nya dipenggal.

Ketika bencana Banjir Ummi Nahsyal datang melanda pada Masa Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, beliau segera pergi ke Maqam Ibrahim ketika airnya sudah mulai surut, dan mendapatinya berada di dataran rendah Mekkah, kemudian dia segera mengambil dan meletakannya di tempat semula.

Dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang menimpa Maqam Ibrahim sepanjang masa, hanya saja Allah senantiasa menjaganya hingga kini.

(4)    Terjaga dari penyembahan orang-orang musyrik. Orang-orang Arab Zaman Jahiliyyah menyembah batu-batuan, tetapi tidak ada seorang pun yang diketahui pernah menyembah Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim, disebabkan karena penghormatan mereka kepada kedua batu tersebut.

Hal ini merupakan kesucian dari Allah Ta’ala, karena Islam menghormati Hajar Aswad dengan cara mencium atau menyalaminya, sementara kepada Maqam Ibrahim dengan cara bersembahyang di arah belakangnya. Sehingga tidak dapat dikatakan, bahwa Islam membiarkan penghormatan kepada sebagian berhala-berhala, karena yang demikian merupakan jenis ibadah (penyembahan) sekaligus syirik.

 

Tentang Maqam Ibrahim

Sejarawan Syaikh Thahir Al-Kurdi (wafat 1400 H) telah melakukan penelitian mengenai seluk-beluk Maqam Ibrahim secara mendetail pada tanggal 27 Sya’ban 1367 H, yang secara ringkas akan disebutkan sebagai berikut.

Maqam Ibrahim terletak di atas batu pualam marmer seukuran Maqam, dan keduanya terletak di atas pondasi dari marmer dengan ukuran lebih besar, yaitu 1 meter pada sisi-sisinya dengan ketinggian 36 cm.

Warna batu Maqam Ibrahim antara kekuning-kuningan dan kemerah-merahan, tetapi lebih dekat ke warna putih dan bentuknya seperti kubus. Bagian bawah Maqam lebih lebar daripada bagian atasnya dan jejak kaki Nabi Ibrahim Alaihissalam dengan kedalaman setengahnya dari batu Maqam tersebut.

Berikut ini keterangan lain, mengenai Maqam Ibrahim.

Tinggi Batu Maqam

Panjang Tiga Bagiannya Dari Atas

Panjang Bagian Keempat

Luas Atas

Luas Bawah

Kedalaman Salah Satu Jejak Kaki

Kedalaman Jejak Kaki Lain

20 cm

36 cm

38 cm

146 cm

150 cm

10 cm

9 cm


Kotak Maqam Ibrahim

Maqam Ibrahim selalu mendapat perhatian para pemimpin Umat Islam dari waktu ke waktu. Dahulu, Maqam ini diletakkan dalam sebuah bangunan lemari perak yang di atasnya dibuat peti dengan ukuran 18 m². Namun, bangunan ini dirasa mempersulit orang-orang yang thawaf, sehingga Rabithah Alam Islami (Organisasi Persatuan Dunia Islam) mengusulkan untuk menghilangkan saja bangunan tersebut.

Sebagai penggantinya, dibuatlah penutup dari kaca yang diletakkan di atas Maqam Ibrahim. Hal tersebut dilaksanakan setelah adanya kesepakatan dengan Pihak Kerajaan Turki Utsmani pada tanggal 18 Rajab 1387 H atau bertepatan dengan tahun 1867 M yang di mana Maqam Ibrahim tersebut diletakkan di dalam kaca kristal yang diliputi besi di atas batu marmer seluas 2,34 m².

Berikut ini keterangan rinci tentang Kotak Maqam yang baru.

Diameter

Atap

Tinggi

Tinggi Dasar

Tinggi Kotak Keseluruhan

Berat Tembaga

Berat Total Kotak

Luas Dasar

80 cm

20 cm

1 m

75 cm

3 m

600 kg

1700 kg

2,4 m2


Kemudian, Raja Fahd bin Abdul Aziz memerintahkan untuk memperbarui kotak tersebut, yaitu dengan mengganti rangka tembaga baru, sementara bagian dalamnya dilapisi dengan emas dan luarnya dilapisi dengan kaca bening setebal 10 mm yang tahan panas dan anti pecah.

Sehingga, Maqam Ibrahim itu dapat dilihat dengan jelas dari luar dan pembaharuan maqam ini juga meliputi penggantian bagian penyangga (pondasi) dari batu granit hitam menjadi marmer putih dengan sedikit dilapisi granit agak kebiru-biruan untuk menandai bagian paling bawah. Ternyata, pembaruan Maqam Ibrahim ini selesai pada tanggal 21 Syawal 1418 H dengan memakan biaya kurang lebih 2 Juta Riyal.

 

Mengusap atau Mencium Maqam Ibrahim

Dalam Sunnah Nabi SAW. hanya diajarkan bahwa mengusap dan mencium itu berlaku khusus untuk Hajar Aswad dan Rukun Yamani saja. Sementara untuk Maqam Ibrahim, keutamaan dan kemuliaannya ialah dengan menjadikannya sebagai tempat shalat.

Oleh karena itu, kebiasaan mengusap dan mencium Maqam bukan merupakan bagian dari Sunnah Nabi SAW.

Suatu ketika, Abdullah bin Zubair melihat sekerumunan orang-orang yang sedang mengusap Maqam, beliau berkata : "Wahai orang-orang, kalian tidak diperintahkan untuk mengusapnya, tetapi diperintahkan untuk shalat padaпуа.”

Sedangkan Atha' sendiri sangat membenci kotak Maqam Ibrahim orang yang mengusap apalagi menciumnya.

Begitu pula yang diriwayatkan dari Qatadah bahwa, "Sesungguhnya orang-orang itu hanya diperintahkan untuk melaksanakan shalat padanya, dan tidak diperintahkan untuk mengusapnya.”

Hal ini perlu diterangkan, bahwa kebencian para ulama salaf terdahulu kepada orang-orang yang mengusap Maqam Ibrahim di saat kondisi maqam itu masih terbuka dan tidak ada penutup sama sekali. Intinya, bila kondisi Maqam Ibrahim saat ini sudah diletakkan ke dalam kotak kaca tertutup, tentunya orang-orang berhaji sudah tidak menyukai akan mengusap atau menciumnya lagi.

Berikut ini jarak antara Kotak Maqam Ibrahim dengan sudut-sudut Kakbah.

Dengan Hajar Aswad

Dengan Rukun Syam

Dengan Talang Air

Dengan Air Zam-Zam

14,5 m

14 m

13,25 m

12,05 m


Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.