Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Mengenal Air Sumur Zam-Zam : Asal-Muasal, Informasi, dan Keistimewaan

 Mengenal Air Sumur Zam-Zam : Asal-Muasal, Informasi, dan Keistimewaan

Alkisah, Nabi Ibrahim memboyong istri keduanya, Hajar dan Ismail ke Kota Makkah yang pada waktu itu hanya berupa lahan kering dan tandus. Atas perintah Allah Ta’ala, Nabi Ibrahim meninggalkan mereka berdua dengan bekal persediaan air dan kurma.

Setelah beberapa lama kemudian, persediaan bekal mereka berdua mulai habis dan Siti Hajar segera mencari sumber air ke bukit-bukit sekitar. Tatkala, ia melihat bayangan air di Bukit Shafa dan segera menaikinya, namun tidak ada secercah air sedikit pun. Begitu juga ke Bukit Marwa, ia segera berlari ke sana dengan tujuan yang sama, sayangnya hasilnya tetap nihil juga.

Demikianlah, Siti Hajar pergi bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwa sebanyak 7 kali, sehingga tiba di putaran terakhir tiba-tiba muncullah sebuah bunyi menggelegar yang ternyata itu suara kepakan sayap  Malaikat Jibril dan muncullah mata air di dalamnya.

Akhirnya, Siti Hajar berteriak “Zam-Zam” yang artinya berkumpullah, sehingga dia bisa meminum air tersebut dan dapat menyusui bayinya yang masih kecil itu, Ismail Alaihis Salam. Beberapa bulan kemudian, datanglah suatu kabilah dari Yaman yang bernama Suku Jurhum, dan menetap tinggal di sana sampai beranak-pinak.

Tatkala, Kota Mekkah sudah tercemari dengan berbagai penyembahan berhala dan ritual kemusyrikan sampai alih-alih menodai kesucian Kakbah, kemudian mata air Zam-Zam pun ikut mengering dan mulai tenggelam sehingga tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya selama beberapa abad.

Suatu malam, Kakek Rasulullah SAW., Abdul Muththalib sedang bermimpi, dia mendapat ilham suara ghaib yang memerintahkan kepadanya untuk menggali air zam-zam. Singkat cerita, setelah melewati berbagai rintangan dan cemooh dari para penduduk Mekkah yang kian tak percaya kepadanya. Akhirnya, Abdul Muththalib mampu menggali dan berhasil menemukan mata air Zam-Zam yang mengalir dengan derasnya.

Akhirnya, Kakek Rasulullah memperbolehkan kepada siapa saja yang ingin meminum air dari sumur tersebut dan dia dinobatkan sebagai orang yang berhak memberikan minum kepada jamaah haji sebagai tanda kehormatannya yang berhasil menemukan air Zam-Zam tersebut.

Dengan demikian, Abdul Muththalib yang berhak memberikan minum kepada orang lain, terutama jamaah haji, kemudian Abbas bin Abdul Muththalib, dan setelah itu dipegang oleh Sang Nabi itu sendiri pasca Hari Pembebasan Kota Mekkah.

Dahulu kala, air zam-zam biasanya diambil dengan gayung atau timba, namun kemudian dibangunlah teknologi pompa air pada Tahun 1373 H/1953 Masehi yang dapat menyalurkan air dari sumur ke bak penampungan air, dan di antaranya juga ke keran-keran yang ada di sekitar Sumur Zam-Zam.

 

Tentang Sumur Zam-Zam

Jarak Sumur Zam-Zam terletak kira-kira sejauh 11 meter dari Kakbah itu berdiri. Menurut penelitian, dapat membuktikan bahwa mata air sumur zam-zam dapat memompa air dengan kekuatan aliran 11-18,5 liter air per detik.

Sehingganya, hitungan setiap menitnya diperkirakan dapat menghasilkan air sebesar 660 liter atau sama dengan sebesar 39.600 liter per jam. Dari mata air ini, ada sebuah celah menuju Hajar Aswad dengan panjang 75 cm dengan ketinggian 30 cm yang juga menghasilkan air yang sangat banyak.

Selain itu, ada pula sebuah celah yang mengarah ke pengeras suara dengan panjang 70 cm dan tinggi 30 cm, beserta beberapa celah kecil lainnya yang mengarah ke Bukit Shafa dan Marwa.

Berikut ini keterangan mengenai Sumur Zam-Zam.

Celah Sumur di Bawah Tempat Thawaf

Kedalaman Sumur (dari bibir sumur)

Kedalaman Air (dari bibir sumur)

Kedalaman Mata Air

Dari mata air sampai dasar sumur

Diameter berkisar antara

1,56 m

30 m

4 m

13 m

17 m

1,46 m – 2,66 m

Dulu, bagian atas Sumur Zam-Zam terdapat sebuah bangunan seluas 88,8 meter persegi. Di pertengahan Tahun 1381-1388 Hijriyah, bangunan ini ditiadakan dalam rangka perluasan tempat thawaf. Kemudian, tempat minum Air Zam-Zam dipindahkan ke dalam ruangan bawah tanah tepat di bawah tempat thawaf dengan fasilitas 23 anak tangga yang dilengkapi dengan pendingin udara (AC).

Tempat masuknya secara terpisah bagi golongan laki-laki dan perempuan, yang terdapat total jumlahnya sekitar 350 buah keran air untuk minum, yaitu 220 keran berada di ruang laki-laki, dan 130 keran berada di ruang perempuan. Sumur ini juga dapat dilihat dari ruangan laki-laki yang dipagari dengan kaca tebal.

 

Keutamaan dan Keistimewaan Air Zam-Zam

  • Air Zam-Zam berasal dari mata air surga
  • Buah pemberian Allah berkat dikabulkannya do'a Nabi Ibrahim Alaihis Salam
  • Faktor penentu hidup dan perkembangan Mekah
  • Bukti nyata Kekuasaan Allah Ta’ala di Tanah Suci
  • Kenikmatan agung serta membawa manfaat besar pada Masjidil Haram
  • Sebaik-baik jenis air di muka bumi
  • Munculnya melalui perantara Malaikat Jibril Alaihis Salam
  • Berada di tempat paling suci di muka bumi ini
  • Air yang digunakan untuk mencuci hati Rasulullah SAW. lebih dari satu kali
  • Rasulullah SAW. memberkatinya dengan air ludah beliau yang suci
  • Dapat berfungsi sebagai makanan sekaligus obat untuk penyembuh segala macam sakit
  • Dapat menghilangkan pusing kepala
  • Barang siapa melihatnya dapat mempertajam penglihatan dan jika diminum dengan niat untuk kebaikan, maka Allah Ta’ala akan mengabulkannya
  • Keinginan untuk mengetahui seluk-beluknya merupakan tanda keimanan dan terbebas dari sikap nifáq (munafik)
  • Air minum untuk orang-orang yang baik
  • Menjadikan badan kuat
  • Tidak akan habis walaupun airnya selalu diambil
  • Telah ada sejak 5000 tahun yang lalu, sehingga menjadi sumur tertua di muka bumi ini.

 

Adab Minum Air Zam-Zam

Di antara adab minum Air Zam-Zam ialah ;

  • Mengambilnya dengan tangan kanan
  • Menghadap kiblat
  • Sebelum minum membaca Basmalah
  • Boleh minum sambil berdiri atau duduk
  • Bernafas tiga kali, lalu berhenti sejenak jika ingin minum lagi
  • Membaca Hamdalah setelah minum
  • Membaca do'a untuk kebaikan dunia dan akhirat, karena saat itu merupakan waktu-waktu mustajab

 

Kantor Urusan Air Zam-Zam

Pada Tahun 1415 H, dibentuklah kantor atau lembaga di Kota Mekkah yang bertugas mengurusi air zam-zam. Lembaga berwenang ini sudah dilengkapi dengan peralatan untuk menyalurkan air dari sumur ke tangki penampungan air dari beton dengan volume 15.000 meter dan bersambung dengan tangki lain di bagian atas Masjidil Haram guna melayani para pejalan kaki dan musafir.

Selain itu, air zam-zam juga diangkut ke tempat-tempat lain dengan truk-truk tangki, terutama ke Masjid Nabawi di Madinah.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.