Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

5 Miqat Ihram Untuk Pelaksanaan Haji dan Umrah

5 Miqat Ihram Untuk Pelaksanaan Haji dan Umrah

Miqat menurut Bahasa Arab berarti menetapkan waktu atau menentukan batas. Dalam konteks Haji, Miqat merupakan batas waktu dan batas tempat yang sudah dianggap sah (semacam batas suci) untuk berihram dan memulai niat ibadah dalam pelaksanaan ibadah haji dan umrah.

Untuk Miqat terbagi menjadi 2, yaitu Miqat Zamani dan Miqat Makani. Miqat Zamani berarti batas waktu yang diperbolehkan untuk memulai niat atau berihram dalam pelaksanaan Haji dan Umrah. Untuk Ibadah Umrah, berlaku sepanjang masa selama waktu Umrah sempat dilakukan sedangkan untuk Ibadah Haji, berlaku pada bulan-bulan suci tertentu saja yaitu Bulan Syawal, Bulan Dzulqa’dah dan 10 hari pertama pada Bulan Dzulhijjah.

Sedangkan, Miqat Makani adalah batas tempat yang ditentukan bagi orang-orang yang bersegera melaksanakan Ibadah Haji atau Umrah, dengan mengawalinya untuk berihram dan memulai niat orang tersebut dari sana, sebagaimana Hadist Nabi menurut riwayat Shahih Muslim yang berisi :

"Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW. telah menetapkan Dzul Hulaifah sebagai miqat penduduk Madinah, sedangkan untuk penduduk Syam (Syria) di Juhfah, penduduk Najd di Qarn Al-Manazil, penduduk Yaman di Yalamlam. Itulah tempat-tempat miqat bagi mereka dan bagi siapa saja yang melewatinya untuk haji maupun umrah. Sedangkan selain dari itu, maka ihramnya malah dari tempat tinggalnya, hingga penduduk Mekah pun ihramnya ialah dari Mekah itu sendiri."

Dalam Hadits lain yang diriwayatkan oleh Shahih Muslim disebutkan, bahwa miqat penduduk Iraq dari Dzât 'Irq. Berikut tabel perkiraan jarak dari Mekah ke tempat-tempat miqát di bawah ini ialah.

Jarak Jauh Antara Kota Mekkah dan Tempat-Tempat Miqat

Qarn Al-Manazil

Dzat ‘Irq

Yalamlam

Juhfah

Dzul Hulaifah

80 Km

90 Km

130 Km

187 Km

410 Km

 


Dzul Hulaifah

Disebut juga Abyâr 'Ali (Bir Ali), yaitu miqatnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang yang melewati arah dari sana, yang di mana terletak sebelah utara Mekah sejauh 410 Km, dan kurang lebih 10 Km dari Masjid Nabawi di Madinah. Di sana juga, dapat ditemukan sebuah masjid yang dinamakan dengan Masjid Dzul Hulaifah atau Masjid Miqat atau Masjid Syajarah (Masjid Pohon).

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits bahwa Rasulullah SAW. jika hendak pergi ke Mekah (dari Madinah), beliau menyempatkan sholat di Masjid Syajarah. Di Masa Pemerintahan Raja Fahd, Masjid pernah mengalami renovasi, sehingga menghabiskan dana kurang lebih 200 Juta Riyal dengan luas keseluruhan mencapai 90.000 meter persegi, memiliki daya tampung sebanyak 5.000 jamaah, dan juga diperkirakan tinggi menaranya mencapai 64 meter serta luas kubahnya berkisar 28 meter persegi.

 

Qarn Al-Manazil

Merupakan miqatnya penduduk Najd, yang berasal dari kawasan sekitar Teluk, dan mereka yang datang melalui jalur Riyadh-Thaif. Namun dikarenakan ada 2 jalan utama menuju Makkah, maka batas Miqat ditentukan dengan berdirinya 2 Masjid sebagai tanda untuk setiap jalan, yang dinamai dengan Miqat As-Saili Al-Kabir dan Miqât Wadi Mahram.

Masjid Miqat As-Saili Al-Kabir berada jauh sepanjang 80 Km dari sebelah timur Masjidil Haram, atau diperkirakan jaraknya sejauh 40 Km dari sebelah utara Kota Thaif. Masjid ini telah dibangun pada Tahun 1402 Hijriyah di daerah sebelah utara perkampungan As-Saili Al-Kabir dengan luas keseluruhan mencapai 2600 meter persegi, daya tampungnya mencapai 3000 orang, serta menelan biaya pembangunan sebanyak 76 Juta Riyal.

Selain itu, Masjid ini juga mendapat banyak fasilitas yang biasanya dibutuhkan oleh setiap jamaah Haji atau para pengurus takmir di daerah Miqat.

Sedangkan, Masjid Wadi Mahram atau disebut juga sebagai Miqat Qarn Manazil terletak di daerah sebelah selatan Masjid As-Saili Al-Kabir. Jarak antara kedua masjid tersebut mencapai 33 Km, atau 76 Km dari Masjidil Haram, yaitu pada jalur antara Mekkah-Thaif yang melalui Jalan Huda sedangkan jaraknya dari Kota Thaif hanya 10 Km.

Tidak heran, ternyata ukuran Masjid tersebut seluas 1000 meter persegi, namun di atas pintu utama masuk terdapat ruangan sholat bagi wanita, sehingga luas keseluruhan ruangan sholat pada masjid tersebut mencapai 1.375 meter persegi.

Dari sebelah Barat Daya, terdapat menara persegi empat dengan ketinggian sekitar 30 meter. Untuk dana pembangunan masjid ini, tidak tanggung-tanggung menelan biaya mencapai 55 Juta Riyal yang dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas keperluan untuk jamaah umrah dan haji di Miqat.

Ada secungkil kisah menarik di daerah Qarn Al-Manazil, yakni Kisah Pertemuan Nabi SAW. dengan Malaikat Jibril Alaihissalam pada Tahun ke-10 dari Masa Kenabian (619 Masehi). Suatu hari, beliau pulang dari Kota Thaif dalam keadaan sedih atas sikap dan perlakuan penduduknya terhadap beliau.

Imam Bukhari meriwayatkan, tatkala Nabi tiba di Qarn Al-Manazil, Malaikat Jibril datang dan mengatakan kepada beliau :

"Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan dan penolakan kaummu itu atasmu. Dan, Allah telah mengutus kepadamu Malaikat Penjaga Gunung agar kamu dapat memerintahnya sesuai dengan keinginanmu untuk membalas mereka."

Malaikat Penjaga Gunung itu lalu memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku, lalu berkata :

"Hai Muhammad, apa yang engkau inginkan. Jika engkau ingin aku menimpakan atas mereka dua gunung ini (yaitu Gunung Qubais dan Gunung Qaiqu'an, keduanya disebut Al-Akhsyaban), maka akan aku lakukan.”

Kemudian Nabi menjawab : "Aku malah mengharap agar Allah menjadikan anak-cucu mereka orang yang menyembah-Nya, meng-Esakan-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu."

 

Dzât 'Irq

Kini dikenal sebagai Dhoribah, yaitu miqat bagi para penduduk Iraq dan orang-orang yang melewati arahnya. Tatkala Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu sedang membuka akses jalan Kufah menuju Basrah, orang-orang sekitar bertanya kepadanya :

"Wahai Pemimpin Kaum Muslimin, Rasulullah telah menetapkan Qarn Al-Manazil untuk penduduk Najd, yang letaknya di samping jalan kami ini. Andaikata kita harus mengambilnya (untuk miqat), maka hal itu terasa berat bagi kami."

Kemudian, Ibnu Umar menjawab :

"Coba perhatikan arahnya dari jalan kalian ini." Setelah itu, Ibnu Umar menentukan Dzat 'Irq sebagai batas (miqat) bagi mereka.

Sedangkan, riwayat hadits lain dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu menyebutkan bahwa Rasulullah-lah yang telah menetapkan Dzat 'Irq bagi para penduduk Iraq.

Dzât 'Irq terletak berada dari sebelah timur laut Masjidil Haram dengan jarak sejauh 90 Km, dan jarak sejauh 35 Km sebelah selatan Masjid As-Saili Al-Kabir (Qarn Manazil).

Dulu, juga pernah terdapat sebuah masjid yang dijadikan sebagai tanda miqat, tetapi kemudian dibongkar karena tidak ada akses jalan menuju ke sana. Oleh karena itu, Raja Fahd telah memerintahkan untuk mendirikan masjid baru sebagai tanda miqat di kawasan Dzat 'Irq, serta menghubungkan jalan ke Ibukota Riyadh yang melewati daerah Dzât 'Irq dan As-Saili Al-Kabir.

 

Yalamlam

Dikenal dengan sebutan As-Sa'diyyah, yaitu miqatnya para penduduk asal Yaman dan orang-orang yang berasal dari negara lain sebelah selatannya yang datang melewati arahnya.

Jarak antara Kota Mekkah menuju daerah Yaman kurang lebih 100 Km dan di sana, terdapat ada sebuah masjid kuno namun sayangnya agak susah ditempuh dikarenakan adanya jalan aspal yang menghubungkan antara Kota Mekkah dengan daerah Jazan melalui Al-Laits.

Oleh karena itu, guna memudahkan para rombongan haji dan pengurus takmir, dibangunlah sebuah masjid baru di depan arah miqat sebelah barat, kira-kira sejauh 21 Km sebelah barat daya dari masjid yang lama, sehingga jaraknya dari Masjidil Haram sekitar 130 Km.

Luas masjid yang baru dibangun tersebut diperkirakan mencapai 625 meter persegi dengan kekuatan daya tampung mencapai 1.500 jamaah, dan menelan dana biaya pembangunan kurang lebih sebesar 11 Juta Riyal.

 

Juhfah

Yaitu miqatnya para penduduk Mesir, Syria (Syam) dan orang-orang yang datang dari arahnya. Miqat Juhfah terletak di bagian sebelah barat laut Masjidil Haram yang berjarak sejauh 187 Km, atau 17 Km sebelah tenggara Kota Râbigh, atau 15 Km sebelah timur Laut Merah.

Di sana, terdapat sebuah masjid baru seluas 900 meter persegi, yang dapat menampung kurang lebih 2.200 orang dan menelan biaya sekitar 10 Juta Riyal. Selain itu, orang-orang yang berhaji juga diperbolehkan berihram dari Kota Rabigh karena searah dengan tempat miqat Juhfah dan jaraknya pun dekat.

Perlu diingatkan juga di sini, bahwa Abbâs bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu berjumpa dengan Rasulullah SAW. di Juhfah, yaitu ketika Rasulullah SAW. dalam perjalanan ke Mekkah (untuk membebaskan kota itu) pada Tahun 8 H. Ketika itu juga, Paman Rasulullah Abbas Radhiyallahu ‘Anhu dan keluarganya baru saja keluar dari Kota Mekah untuk berhijrah ke Madinah.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.