Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Sukses Arifin Panigoro, Penjaga Toko Yang Jadi Bos Minyak Indonesia

Kisah Sukses Arifin Panigoro, Penjaga Toko Yang Jadi Bos Minyak Indonesia

Nama Lengkap

Arifin Panigoro

Tempat, Tanggal Lahir

Bandung, Jawa Barat, 14 Maret 1945

Total Harta Kekayaan

Mencapai Rp 9,3 Triliun

Jenjang Pendidikan

·       Jurusan Elektro, Institut Teknologi Bandung

·       Senior Executive Programme Institute of Business Administration, Fountainebleau, Prancis

Karir Perusahaan

Pendiri dan Pemilik Perusahaan Medco Energi


Arifin Panigoro adalah salah satu pengusaha Indonesia yang berhasil menjadi konglomerat, karena terbukti sukses membawa PT. Medco menjadi Perusahaan Besar. Kini, Arifin Panigoro memiliki lebih dari 14.000 karyawan yang tersebar di seluruh jaringan usahanya.

Dalam jajaran orang terkaya di Indonesia, Arifin selalu masuk ke dalam urutan 10 besar pengusaha terkaya. Dia benar-benar memulai bisnisnya betul-betul dari nol dan bawah, namun perjalanannya tidak semulus dari apa yang dibayangkan banyak orang.

Arifin Panigoro dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 14 Maret 1945 dan merupakan anak sulung dari 11 orang bersaudara. Ia adalah putra dari Jusuf Panigoro yang bekerja sebagai seorang pedagang gula, kebutuhan dapur, dan kopiah atau peci. 

Baca Juga :

Di tengah perjalananan usaha ayahnya, pemerintah pusat tiba-tiba mengeluarkan sebuah kebijakan sanering yang membuat sumber penghidupan keluarganya rontok seketika. Kebijakan Sanering adalah upaya pemangkasan nilai mata uang tanpa diiringi dengan penurunan harga barang. Ayah Panigoro mengalami kerugian besar-besaran dan utang yang menumpuk tajam.

Keluarga Jusuf Panigoro terpaksa harus meninggalkan rumahnya karena harus dijual untuk melunasi sisa hutangnya dan bertahan hidup ke depannya. Kebetulan, peristiwa itu terjadi pada Tahun 1965. Untuk melanjutkan hidupnya, Jusuf Panigoro membangun usaha lain, yakni menjadi agen radio dan TV merk Philips.

Alhasil, barang dagangan Jusuf laku keras karena pada masa itu, Stasiun TVRI di daerah Tangkuban Perahu sudah beroperasi. Saking terlalu asyik dengan bisnis elektroniknya, Jusuf malah mengabaikan bisnis tekstilnya. Ia telah kalah bersaing dengan pedagang lain, karena saat pedagang lain sudah mengganti produknya dengan barang jadi, Jusuf masih menjual tekstil.

Saat masih remaja, Arifin sudah dididik dengan tegas dan disiplin oleh kedua orang tuanya. Di luar jam sekolah, Arifin muda juga kerap diminta menjadi tukang kasir dan sebab itulah bermula Arifin mengenal dunia perdagangan.

Arifin Panigoro adalah lulusan jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung pada Tahun 1973. Setelah lulus, Arifin memutuskan berfokus menjadi pengusaha dengan mendirikan CV. Corona Electric yang bergerak di bidang instalasi listrik dengan menawarkan jasanya secara pintu ke pintu (Door to Door).

 

Punya Impian Besar

Arifin sadar bahwa bekerja mencari uang itu tidaklah mudah, namun ia berpikir layaknya pengusaha besar. Ia menjajal proyek pemasangan pipa kecil-kecilan, namun anehnya, setiap ada proyek pemasangan pipa berdiameter besar, selalu saja tidak pernah mendapat jatah porsi. Pada waktu itu, pengusaha kecil selalu kalah dengan pengusaha asing.

Akhirnya, dia berusaha mencari jawaban mengenai sebab para pengusaha asing selalu mendapat keuntungan dari setiap proyek besar. Setelah mengetahui, ternyata untuk pipeline membutuhkan peralatan besar dan berat untuk menyelesaikan proyek ini hanya dimiliki oleh perusahaan asing.

Namun, Arifin tidak punya modal untuk membeli peralatan berat. Pada Tahun 1979-1980, terjadi Era Oil Boom dan pemerintah pusat bersepakat, akan mengucurkan anggaran untuk pembangunan kilang minyak baru. Kala itu, pemerintah juga bermaksud meningkatkan daya saing pengusaha lokal supaya dapat ikut andil dalam pembangunan proyek tersebut sekaligus bertujuan untuk pembinaan.

Perusahaan Medco yang didirikan Arifin sudah didaftarkan dengan menggandeng salah satu perusahaan Amerika Serikat. Seiring waktu, Pihak Medco mulai paham terhadap proses pemasangan pipa dan akhirnya, perusahaan Medco resmi mendapatkan jatah komisi dalam bentuk alat-alat berat. Dengan penggunaan alat-alat berat itu, Medco memanfaatkan kesempatan itu untuk mencari proyek-proyek baru.

Merasa tidak puas, Arifin berupaya untuk mengangkat perusahaannya bertaraf kelas internasional. Namun di sisi lain, ia paham atas banyak keterbatasan yang dimiliki perusahaannya, baik itu dari segi modal maupun pengalaman.

Ia juga sadar, bahwa melobi kepada orang-orang penting di negeri ini dapat menyelamatkannya dari arus persaingan yang tidak sehat, begitu juga ganasnya kekuatan perusahaan asing yang bermodal kuat dan berpengalaman selama puluhan tahun di Bisnis Migas.

 

Pantang Menyerah

Menurut Arifin, Tahun 1981 adalah titik awal Perusahaan Medco yang mulai membesar. Pada waktu itu, ia memiliki kedekatan dengan Dirjen Migas, Wiharso yang menginginkan, adanya pengusaha lokal dalam proyek jasa pengeboran pemerintah lewat Pertamina agar mau melakukan pengeboran gas di Sumatera Selatan.

Wiharso mendorong Arifin untuk mengikuti tender proyek tersebut. Padahal waktu itu, Medco belum punya alat pengeboran sedangkan pemerintah ingin menggandengkan Medco dengan perusahaan asing lagi. Setelah dilakukan penjajakan dengan perusahaan asing, ternyata Wiharso mendapat jawaban yang tidak mengenakkan.

Pihak Perusahaan Asing meresponnya dengan remeh dan terlalu menganggap rendah terhadap pengusaha lokal. Tersinggung dengan respon tersebut, Wiharso segera mengambil keputusan untuk mengambil alih proyek tersebut sendiri. Arifin lantas kaget bercampur senang mendengar keputusan Wiharso itu, tetapi pasalnya Medco masih belum punya alat pengeboran.

Merasa kelabakan setelah mengetahui hasil tender proyek Tahun 1979 sudah harus mulai dikerjakan pada Tahun 1980, Arifin segera menguatkan mentalnya dan menerima tantangan itu, padahal waktu dan kemampuannya masih minim.

Rencana pertamanya, ia mengirimkan karyawan yang fasih berbahasa inggris untuk terbang ke Amerika Serikat dan menjajaki pusat penjualan peralatan pengeboran. Setelah mengetahui harganya, dia segera melakukan upaya negosiasi harga.

Arifin bersama karyawan yang jago berbahasa inggris itu segera bergegas berangkat ke Kota Houston, Amerika Serikat, tentunya itu perjalanan pertama kalinya ke Amerika Serikat dengan kemampuan bahasa inggris yang pas-pasan.

Sesampainya di sana, pihak penjual bersepakat menjualkan alat pengeborannya seharga 4 Juta USD dengan setoran uang muka yang sudah diterima olehnya sebesar 300 Ribu USD dalam jangka waktu  2 minggu pembayaran harus dilunasi.

Mental Arifin benar-benar kian diuji dan tertantang, ia pulang ke Jakarta dengan menggunakan pesawat kelas ekonomi. Saking kelelahannya, ia jatuh sakit dan sempat-sempatnya bertemu Gubernur Bank Indonesia dan Bos Pertamina.

Untungnya, sahabatnya, Piet Haryono dan Wiharso bersedia memberikan rekomendasi, bahwa Medco berhak mendapat bantuan walhasil dananya dapat cair sesuai ambang batas perjanjian.

Selepas itu, proyeknya dapat berjalan sesuai dengan waktu yang ditentukan pemerintah dan pembayaran bisa dilunasi sebelum jatuh tempo. Dari keuntungan yang didapat, Medco mulai mempersiapkan dirinya untuk mandiri. Arifin bercita-cita mengangkat perusahaannya seperti Exxon, dia yakin, mimpi besarnya dapat menuntun orang itu untuk bergerak mewujudkannya menjadi kenyataan.

Pada Tahun 1990, Perusahaan Medco pertama kalinya berhasil membeli sumur minyak di Tarakan, Kalimantan Timur, seharga 13 Juta USD yang bisa menghasilkan 4.000 barrel per hari (bph). 5 tahun kemudian, Medco kembali membeli sumur milik ExxonMobil, yang mampu menghasilkan 80.000 bph.

Pada Tahun 1994, Medco bersepakat terjun IPO (Initial Public Offering) di Bursa Saham dengan melepas 21,7 % sahamnya ke masyarakat publik. Hal ini dilakukan agar Perusahaan Medco bisa transparan dan terjaga akuntabilitasnya.

Pada Tahun 1997, Medco dilanda ujian baru dan memasuki masa-masa sulitnya. Ambang krisis moneter datang menerjang ekonomi Indonesia, nilai Rupiah tiba-tiba jatuh anjlok sangat dalam, sehingga perusahaan milik Arifin terlilit hutang sebesar 700 Juta USD, yang di antaranya berasal dari PT. Rekasaran Utama, Perusahaan afiliasi PT Jasa Asuransi Indonesia (Jasindo).

Kemudian, ia mendapat tuduhan korupsi dalam penerbitan Surat Utang Jasindo dan pembelian Dragon Oil, Perusahaan Minyak Turkmenistan yang telah berekspansi ladang minyak di Kazakhstan, negara pecahan Rusia.

 

Berani Memegang Tanggung Jawab

"Utang ya tetap utang. Siapa pun yang menyokong, tidak menjadi alasan bagi saya untuk berkelit atau melarikan diri dari kewajiban. Sejak awal berbisnis, saya berprinsip semua keputusan bisnis mesti ada pertanggungjawabannya," ucap Arifin yang membuktikan sifat orang yang pantang menyerah.

Walaupun berada di tengah-tengah posisi yang sulit, Perusahaan Medco berupaya melakukan pembenahan dan bergerak maju agar dapat mencapai progress. Seakan tiada hentinya, Medco terus berekspansi dari sumur ke sumur lainnya untuk merangsek maju ke depan. Perusahaan milik Arifin tidak hanya beroperasi di Indonesia saja, melainkan juga telah merambah ke luar negeri seperti Kamboja, Yaman, Oman, Libya, dan Amerika Serikat.

Pada Tahun 2004, salah satu anak Perusahaan Medco di Australia yaitu Medco Energi Pte. Ltd. secara resmi menguasai 83,36 % saham Novus Petroleum Ltd. asal Australia yang mempunyai ladang minyak di aliran Sungai Kakap dan Brantas di Jawa Timur, Filipina, Australia, Oman, Uni Emirat Arab, hingga Amerika Serikat.

Ternyata Medco tidak hanya bergerak di sektor migas, tetapi juga di sektor perbankan, di bawah Bendera Bank Saudara. Namun pada Tahun 2014, Arifin melepaskan saham mayoritasnya yang ada di Bank Saudara kepada salah satu Bank Korea Selatan, Woori Bank Korea.

Beberapa tahun terakhir ini, Arifin kerap muncul sebagai pembicara di forum-forum, dia mengingatkan tentang bahaya laten akan kurangnya pendidikan bermutu, kepadatan penduduk, serta krisis energi dan pangan.

Pada tanggal 23 Januari 2010, ITB memberikan Gelar Doktor Kehormatan (DR. HC) kepada Arifin Panigoro. Penyematan gelar ini dikenal sangat langka, karena pihak ITB sendiri sangat pelit dalam menyerahkan gelar kehormatan tersebut, sampai sejauh ini, baru 6 orang saja yang mendapatkannya dan salah satunya adalah Bung Karno, Presiden Pertama RI sekaligus alumni ITB (angkatan 1920).

Berikut ini, ringkasan dari ceramah Arifin Panigoro di Aula Barat ITB di hadapan para mahasiswa :

"Kalau diperhatikan pertumbuhan mobil di Indonesia lebih besar daripada negara sekitar, mungkin memang kebutuhannya begitu. Tetapi bila dilihat dari kondisi perkembangan infrastruktur dan sebagainya, justru Indonesia masih tertinggal. Nah, kalau terus begini bagaimana nantinya ?"

"Faktanya, kita setiap bulan harus impor minyak kurang lebih 350 ribu barrel dan itu menghabiskan sekitar 1 MILIAR USD tiap BULAN. Bayangkan kalau kita bisa menghemat itu dengan adanya etanol atau bahan bakar lainnya. Maka kita bisa save SATU MILIAR DOLAR tiap BULAN."

"Tapi kok orang lain bilang, ngapain pak kita pakai Metanol atau Etanol, Amerika saja belum berhasil, ntar aja kalo Amerika berhasil, kita ikutin ! Lha, saya justru bingung, Amerika ya Amerika, Indonesia ya Indonesia, ngapain kita nunggu-nunggu dari negara lain ? Kita kalau mau berkembang kan harus mandiri."

"Nah, ini saya ketemu sama daerah di Papua Selatan, luasnya tuh hampir lebih besar dari pulau Jawa, tapi yang ninggalin di sana cuma sekitar 3 kabupaten dengan jumlah orang setara dengan 3 kecamatan di Jawa. Ini tanahnya flat, ada sungai dengan debit air terbesar di Indonesia yang murni tawar yang tiap harinya cuma dibuang ke laut. Ini bisa jadi jalan kita untuk bisa menghasilkan etanol yang 350 ribu barrel tadi. Memang banyak tantangan, tapi di situlah butuh kreativitas dan inovasi."

Pada 27 Juli 2010, Arifin juga pernah berpidato di IPB, dengan  menyampaikan bahwa ia beserta timnya telah menyiapkan pembangkit listrik sampah daun. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan ini diharapkan bisa segera dinikmati oleh seluruh warga Indonesia.

Agar proyeknya berhasil, Arifin harus merogoh kocek dana yang sangat besar sekali. Kabar isu yang beredar, Medco akan menjualkan sahamnya kepada Pertamina dengan harga yang cukup bersahabat.

Baca Juga :

 

Tips-Tips Bisnis Arifin Panigoro

1. Bermimpi Besar

Arifin adalah model pebisnis yang bermimpi besar. Ia tidak mau menganggap, kekurangan yang ada menjadi penghalang bagi kesuksesannya.

2. Pantang Menyerah

Dengan modal yang minim, Arifin bernekad tetap maju dan mengambil langkah untuk membeli alat pengobor. Sebenarnya, dia sendiri tidak tahu akankah nanti bisa sukses atau tidak, setidaknya dirinya sudah berusaha mencoba dan bersiap-siap akan bangkit lagi bila gagal.

3. Perkuat Networking

Arifin sangat suka dan luwes sekali dalam pergaulan. Ia berusaha menjaga hubungan baik dengan lapisan orang-orang yang berpengaruh di sektor pemerintah maupun di swasta. Menurutnya, dia punya prinsip yaitu sejuta kawan masih kurang, satu musuh jangan.

4. Gemar Bersedekah

Arifin Panigoro dikenal gemar sekali berderma, biasanya ia menggelontorkan dana ratusan juta rupiah untuk disumbangkan ke organisasi sosial maupun non sosial.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.