Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Khulafa'ur Rasyidin | Khalifah Utsman bin Affan (23-35 H/644-656 M)

Masa Pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan (23-35 H/644-656 M)

Biografi Utsman bin Affan

Utsman bin Affan termasuk salah seorang yang pertama masuk Islam (Golongan Assabiqunal Awwalun). Beliau pernah ditunjuk menjadi sekretaris Rasulullah SAW. untuk menuliskan wahyu yang turun ketika itu. Di Masa Pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, beliau menjadi penasehat Khalifah.

Ia dilahirkan 5 tahun lebih muda daripada Sang Baginda Nabi atau sekitar Tahun 576 Masehi. Nama lengkapnya ialah Utsman bin Affan bin Abul-'Ashi bin Umayyah bin Abdusy-Syams bin Abdul Manaf. Keluarganya berasal dari golongan orang-orang terpandang dan sangat disegani oleh orang-orang Quraisy. 

Utsman bin Affan juga dikenal dengan keshalihan dan kejujuran, serta kedermawanannya karena ia sering menafkahkan sebagian besar hartanya untuk memajukan kepentingan Islam. Tidak heran, Rasulullah SAW. sangat menyayangi salah sahabat ini, sehingga mengangkatnya sebagai menantu kedua putri.

Sayangnya, Ruqayyah wafat terlebih dahulu di kala Perang Badar, selanjutnya ia dinikahkan dengan putrinya, Ummu Kultsum namun usianya tidak begitu lama kemudian karena telah menghadap ke Sang Khalik tanpa meninggalkan seorang anak pun. 

Oleh karena itu, Utsman bin Affan diberi gelar Dzunnuraini Wal Hijrataini (pemilik 2 cahaya dan melakukan hijrah 2 kali), karena pernah menikahi kedua putri Rasulullah SAW. sekaligus pernah ikut hijrah menuju 2 tempat atas intruksi Baginda Nabi, yaitu Habasyah dan Yatsrib (Madinah).

Sifat-sifat kepribadiannya yang turut mewarnai diri Utsman bin Affan, dikenal sebagai orang dermawan, diplomat ulung, penuh, ramah dan sabar, kecerdasan, murah hati, toleransi, pemaaf, rendah hati, pemalu, tegas, penuh perhatian dan kasih sayang terutama terhadap kerabat keluarganya.

Namun sayangnya, salah satu sifat terakhir ini tanpa disadari mendorong terjadinya peristiwa-peristiwa mengenaskan yang akan menimpa diri Utsman. 


Proses Pengangkatan Sebagai Khalifah

Sewaktu menjelang akhir hayatnya, Khalifah Umar bin Khaththab mengumpulkan para sahabat yang berjumlah enam orang, dan terkenal sebagai anggota majelis syura', di antara lain ialah Ali bin Abi Thalib, Utsman Bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqash dan Abdurrahman bin Auf.

Setelah para sahabat itu berkumpul, beliau berpesan agar mereka memilih satu di antara mereka sebagai penerus jabatan khalifah. Beliau memerintahkan supaya pemilihan khalifah tidak lebih dari 3 hari. 

Kemudian menjelang masa pemilihannya tersebut, anaknya, Abdullah bin Umar hanya sebatas penasehat, pemberi hak suara, dan pengamat saja, tetapi ia dilarang mendapatkan hak dipilih atas kekuasaan Khalifah sedikit pun (intinya tidak boleh termasuk nominasi orang-orang yang akan ditunjuk sebagai Khalifah).

Setelah beliau wafat, mereka segera berkumpul dan berselisih pendapat mengenai siapa penerus khalifah selanjutnya. Setelah melewati beberapa usulan, beberapa di antara 6 orang tersebut segera mengundurkan diri seperti Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dan Sa'ad bin Abi Waqqash sedangkan Thalhah bin Ubaidillah sedang tidak berada di tempat.

Akhirnya, yang tersisa ialah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Kedua orang ini yang menjadi tonggak persaingan antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah, mengingat kedua keluarga besar itu sama-sama disegani oleh Kaum Quraisy dan saling adu rebut pengaruh kembali seperti zaman Jahiliyyah dahulu.

Akhirnya, guna untuk menghindari fitnah dan perpecahan antar sesama Umat Islam, Abdurrahman bin Auf dipercaya menjadi penengah antara 2 kubu pendukung calon khalifah di tengah ajang pertarungan yang cukup sengit di kala itu.

Setelah melewati tahapan proses yang begitu alot, akhirnya keputusan pemilihan Khalifah jatuh di tangan Utsman bin Affan. Begitu nama Utsman disebutkan, maka Ali bin Abi Thalib yang berada di samping Utsman bin Affan langsung memba'iatnya pertama kali sebagai khalifah sambil diikuti dengan para sahabat lainnya. Sejak itulah, Utsman bin Affan diangkat sebagai khalifah ketiga.


Jasa dan Kebijakan di Masa Pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan

Pada awal masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, banyak sekali kebijakan dan jasa berharga yang disumbangsihkan kepada Umat Islam sehingga membuat keadaan masyarakat begitu tenang dan sejahtera. 

Namun saat memasuki separuh akhir masa pemerintahannya, ada sebagian kebijakan Khalifah Utsman bin Affan begitu kontroversial yang mengguncang persatuan Umat Islam itu sendiri karena merajalelanya fitnah, hasutan dan ujaran kebencian yang menuding ke sahabat nabi tersebut, di antara lainnya ialah. 

a. Menertibkan Pemerintahan

Di awal masa pemerintahannya, ia membagi wilayah-wilayah yang bergabung dalam Daulah Islamiyah dengan mengangkat 10 Gubernur, di antara lain ialah :

  1. Mekah dipimpin oleh Nafi bin Abdul-Maris.
  2. Thaif dipimpin oleh Sufyan bin Abdullah.
  3. Al-Jund dipimpin oleh Abdullah bin Abi Rabi'ah.
  4. Bahrain dipimpin oleh Utsman bin Abil-Ash.
  5. Kuwait dipimpin oleh Mughirah bin Syu'bah.
  6. Basra dipimpin oleh Abu Musa Al-Asy'ari.
  7. Damasykus dipimpin oleh Muawiyah bin Abu Sufyan.
  8. Shan'a dipimpin oleh Ja'la bin Munabbih.
  9. Homs dipimpin oleh Umar bin Sa'ad.
  10. Mesir dipimpin oleh Amru bin Ash.

Menurut sejarah, Khalifah Utsman bin Affan dipenuhi jiwa semangat dan membiayai roda pemerintahan dengan harta kekayaannya sendiri. Sayangnya di sisi lain, kelemahan beliau adalah suka mengangkat para pejabat dari kalangan keluarga dekat dan sanak familinya sendiri, bukan karena kemampuannya masing-masing. Tentu saja, perlahan-lahan akan menyulut kobaran api fitnah dan permusuhan antar Umat Islam yang akan mencelakai Khalifah Utsman itu sendiri.

Dikatakan, kondisi masyarakat yang hidup di Masa Pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan sangat sejahtera dan paling makmur dibandingkan sebelum-sebelumnya. Bahkan, masyarakat kala itu bisa bepergian haji berkali-kali. Ia juga orang yang mencetuskan untuk perluasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, tentunya supaya dapat menampung jama'ah Umat Islam yang kian semakin banyak. 


b. Menumpas Pemberontakan

Pasca pengangkatan Khalifah Utsman bin Affan, beberapa orang beranggapan kalau dia seorang pemimpin yang lemah dan lanjut usia, dikarenakan namanya kurang dikenal bila dibandingkan nama-nama sahabat Nabi lainnya yang berhasil menaklukkan wilayah lain seperti Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, ataupun Khalid bin Walid. 

Melihat kesempatan itu, mereka berusaha melakukan pemberontakan, supaya dapat menentang kebijakan-kebijakan Khalifah yang dapat menggoyangkan sendi-sendi pemerintahan, bahkan berusaha memisahkan diri dari Daulah Islam itu sendiri.

Namun dugaannya mereka salah, dibalik sifat Khalifah Utsman bin Affan yang penuh kelembutan dan ramah tamah, ternyata dia memiliki sangat tegas dan cekatan dalam menghadapi musuh-musuh Islam. Pemberontakan tersebut terjadi di beberapa wilayah, di antaranya ialah :

  • Di Wilayah Kufah, sebagian besar penduduk Azerbaijan dan Rayyi terang-terangan enggan membayar pajak kepada Daulah Islamiyah. Tentunya, Khalifah Utsman bin Affan mengirimkan 10 orang pasukan di bawah komando Abu Musa Al-Asy'ari untuk membantu bala tentara Walid bin 'Uqbah yang sedang berusaha memadamkan pemberontakan tersebut.
  • Di Mesir, orang-orang Romawi yang masih bermukim di Kota Iskandariah segera meminta bantuan untuk mendatangkan Pasukan Kerajaan Romawi dengan anggapan sudah waktunya yang tepat untuk merebut kembali Negeri Mesir. Seranga para tentara Romawi tidak tanggung-tanggung langsung dilancarkan sebanyak 2 kali, tetapi kedua serangan besar tersebut berhasil dipatahkan oleh bala tentara Amru bin Ash (Gubernur pertama) dan bala tentara Abdullah bin Sa'ad (Gubernur selanjutnya).
  • Di Persia, muncullah sebuah pemberontakan yang dipimpin oleh Kisra Yazdagird III setelah berhasil menggalang banyak pengikut yang mendukungnya. Namun, pemberontakan itu berhasil dipadamkan dan Kisra Persia itu sendiri sudah tewas terbunuh oleh orang tak dikenal.


c. Perluasan Daulah Islam (Futuhat)

Setelah masalah pemberontakan dapat dipadamkan, maka seperti halnya para pendahulunya, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khatthab, Khalifah Utsman bin Affan memperluas futuhat demi menyebarkan dakwah Islam, di antaranya yaitu :

  • Penaklukan Khurasan (sebelah timur Persia), diserahkan kepada laskar Islam yang dikomandoi oleh Sa'ad bin Ash, dan akhirnya kemenangan peperangan jatuh di tangan Islam.
  • Penaklukan Armenia, diserahkan kepercayaan tersebut pada Panglima Perang Salman bin Rabi'ah yang akan memimpin bala tentara demi menyelesaikan misi tugas itu dengan baik.
  • Untuk menaklukkan daerah Tunisia (Afrika Utara), Khalifah Utsman bin Affan menyerahkan mandatnya ini kepada Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarah dengan didampingi oleh Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Zubair, dengan kekuatan bala tentara sebanyak 200.000 orang. Sehingga, akhirnya orang-orang Romawi yang menjajah daerah ini dapat diusirnya.
  • Untuk menaklukkan Pulau Cyprus dan Amuriyah, Khalifah Utsman bin Affan segera membangun Pangkalan Armada Angkatan Laut atas usulan Mu'awiyah bin Abi Sufyan supaya dapat menahan serangan tentara Romawi yang sewaktu-waktu bisa menyerang Negeri Mesir dan di sekitarnya. Dengan dibantu oleh Panglima Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarah, mereka berdua segera berangkat dengan kapal perang dan menghadapi Peperangan Dzatus Sawaari di kawasan Laut Tengah hingga akhirnya, dimenangkan oleh Laskar Islam.


d. Pembukuan Mushaf Al-Qur'an

Pada Tahun 26 H/638 M, Khalifah Utsman bin Affan memutuskan untuk membentuk Tim Dewan Penyusunan Al-Qur'an mengingat bertambahnya pemeluk Islam yang kian banyak. Mereka ditugaskan agar segera membukukan atau menulis ulang Kitab Al-Qur'an sekaligus menyempurnakan susunan Mushaf sebelumnya di Masa Pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Sebelumnya, Mushaf Al-Qur'an dituliskan pada daun/pelepah kurma dan tulang unta, kemudian dikumpulkan dan disimpan baik-baik di rumah kediaman Hafshah binti Umar bin Khattab, istri mendiang Rasulullah SAW. atas perintah Khalifah Abu Bakar kala itu.

Kini, kebijakan Khalifah Utsman bin Affan patut diacungi jempol, karena dia-lah yang berjasa dalam menyusunkan Al-Qur'an berdasarkan tertib ayatnya masing-masing, sedangkan susunan surat-suratnya disesuaikan menurut urutan turunnya wahyu Al-Qur'an.

Oleh karena itu, beliau segera membentuk tim (dewan) yang susunan keanggotaannya sebagai berikut :

  • Zaid bin Tsabit (ketua merangkap anggota)
  • Abdullah bin Zubair (anggota)
  • Sa'id bin 'Ash (anggota)
  • Abdur-Rahman bin Harits (anggota).

Kepada dewan panitia, khalifah berpesan agar :

  1. Mengambil pedoman kepada para sahabat yang hafal (Huffazh Qur'an).
  2. Jika terdapat perselisihan dalam dialek bahasa, maka dikembalikan kepada bahasa atau dialek Quraisy, sebab Al-Qur'an diturunkan menurut dialek itu sedangkan Nabi Muhammad SAW. berasal dari kalangan Kaum Quraisy. Al-Qur'an yang telah ditulis disebut Al-Mushaf.

Selain menulis dan menyusun Al-Qur'an, mereka ditugaskan untuk menyalin Mushaf Al-Qur'an sampai sebanyak 5 buah supaya dapat disebarkan ke wilayah-wilayah penaklukan Islam, seperti Mekkah, Basrah, Syam (Syria/Suriah), Kufah, dan terakhir dijadikan sebagai arsip Khalifah itu sendiri dengan dinamakan Mushaf Al-Imam atau Mushaf Utsmani. 

Sampai sekarang, susunan Al-Qur'an yang dipakai saat ini masih sama aslinya alias sudah berdasarkan dengan Mushaf Utsmani zaman dahulu.


e. Kebijakan Lain-Lainnya

Selain kebijakan yang diambil di atas, beliau juga memperhatikan terhadap pembangunan sektor pertanian, ilmu pengetahuan, dan kemakmuran, contohnya seperti beliau membangun bendungan, memperhalus jalan dan memperbanyak buku ilmu pengetahuan dari luar yang diterjemahkannya ke dalam Bahasa Arab.

Selain itu, beliau juga memerintahkan kepada setiap pengelola masjdi, agar menyediakan makanan bagi para musafir dan orang yang sedang beriktikaf, serta disediakan penginapan bagi mereka. 

Kemudian, Khalifah Utsman bin Affan juga yang mempelopori pertama kalinya untuk membangun Pangkalan Armada Angkatan Laut untuk laskar Islam, terbentuknya kepolisian sebagai  aparat penjaga keamanan masyarakat, membangun bangunan khusus untuk mahkamah pengadilan.

Tentunya, semua ide-ide dan kebijakan ini tidak pernah dipikirkan sama sekali dan belum pernah dilakukan oleh kedua khalifah sebelumnya, karena biasanya segala urusan atau perkara selalu diselesaikan di masjid.


Kebijakan-Kebijakan Khalifah Yang Menuai Kontroversi

Pada paruh kedua dari masa pemerintahannya, Khalifah Utsman bin Affan mulai tercoreng oleh berbagai fitnah yang kemudian mengubah segalanya. Salah satu sikap baik beliau adalah sifat kasih sayangnya terhadap keluarga dan kerabat besar, yang kenyataannya dimanfaatkan oleh keluarga besarnya yang haus akan kekuasaan jabatan dan harta.

Dalam menjalankan roda pemerintahannya, beliau mengganti pejabat bukan karena kecakapannya, tetapi karena masih ada hubungan sanak famili atau kerabat, di antaranya adalah :

  • Marwan bin Hakam, yang masih saudara sepupunya dari pihak bapak, menjadi sekretaris negara.
  • Abdulah bin Sa'ad bin Sarah, yang masih saudara sesusuan menggantikan Amru bin Ash sebagai gubernur di Mesir.
  • Abdullah bin Amir, yang masih saudara ibunya menggantikan Abu Musa Al-Asy'ari di Basra.
  • Muawiyah bin Abi Sufyan yang masih kerabat, diangkat sebagai gubernur di Syam secara penuh (termasuk mencakup wilayah Homs dan Palestina).

Sebenarnya, Khalifah Utsman bin Affan cepat tanggap dalam menghadapi persolan. Sayangnya, beliau sendiri seakan-akan tidak dianggap apa-apa atau tidak ada kekuasaan sama sekali karena usianya yang semakin uzur dan kebanyakan para pejabat yang ditunjuknya tidak amanah.

Kebijakan sang khalifah yang kontroversial dan tidak kalah pentingnya dari sorotan Umat Islam adalah dia memberikan hak seperlima hasil harta ghanimah atau rampasan perang kepada Gubernur Mesir, Abdullah bin Sa'ad, sehingga mengakibatkan timbullah rasa kecemburuan sosial dan fitnah antar sesama Umat Islam itu sendiri.

Ia juga memberikan hak istimewa kepada orang-orang Quraisy untuk menguasai tanah yang subur di Irak dan Syam, ditambah lagi ia membangunkan 7 rumah mewah nan indah yang diperuntukkan istrinya, Nailah. 

Kemudian, beliau membiarkan sekretarisnya, Marwan bin Hakam mendirikan istana-istana yang indah di Dzil-Khasyab dan mendapatkan jatah seperlima hasil pajak dari wilayah Afrika Utara. Sebagian besar masyarakat yang berada di beberapa daerah atau wilayah bagian juga mengeluh atas kenaikan pajak yang terkadang selalu memberatkan akibat kebijakan pejabat yang zhalim. 

Langkah yang dilakukan oleh khalifah inilah perlahan-lahan menjadikan bumerang bagi dirinya dan menimbulkan perpecahan fitnah antar Umat Islam itu sendiri.


Surat Misterius, Sang Pembawa Fitnah Kehancuran

Pengangkatan para pejabat dari kaum kerabatnya sendiri dan pemborosan uang negara yang sangat kontroversi menjadi bahan fitnah untuk menjatuhkan kedudukan Khalifah Utsman bin Affan. Di saat itu orang-orang Madinah kebingungan menghadapi persoalan politik yang ada, karena sistem yang diterapkan sangat berbeda dengan Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khaththab.

Di saat itulah, ada seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam asal Yaman, Abdullah bin Saba' segera memanfaatkan situasi ini untuk menghancurkan persatuan Umat Islam dengan menebarkan fitnah dan ujaran kebencian kepada Khalifah Utsman bin Affan.

Ia berusaha mengumpulkan para pengikut sebanyak-banyaknya guna melakukan pemberontakan berdarah dan menggulingkan pemerintahan Khalifah yang sah, Utsman bin Affan. Karena kepandaian dalam bersilat lidah, banyak kaum muslimin yang baru masuk Islam atau kurang kuat imannya terhasut dan menjadi para pengikutnya. 

Ia juga mencalonkan para sahabat Nabi di antaranya ialah Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam menjadi kandidat Khalifah yang akan terpilih nanti. Tentunya, pencalonan kandidat khalifah inilah yang menjadi bahan sarat yang penuh adu domba dan ujaran kebencian. Para sahabat Nabi yang sudah mencium gelagat niat busuk ini pastinya tidak akan terpengaruh.

Kemudian, Abdullah bin Saba' beserta para pengikutnya segera menyebarkan fitnahnya ini ke kota-kota besar, yaitu Mesir, Basrah, dan Kuffah. Sebenarnya, golongan oposisi masih menghormati dan menjaga tali silaturahmi dengan Khalifah Utsman bin Affan itu sendiri.

Namun sayangnya, golongan demonstran sudah terlanjur banyak yang termakan hasutan adu domba yang dilakukan oleh Abdullah bin Saba'. Mereka terkadang suka demonstrasi besar-besaran dan bertindak anarkis satu sama lain.

Suatu hari, rombongan orang-orang Mesir datang menemui Khalifah Utsman bin Affan untuk mengadukan sikap Gubernur Abdullah bin Sa'ad yang suka sewenang-wenang dan berlaku zhalim kepada rakyat Mesir. Akhirnya, Khalifah Utsman bin Affan memenuhi tuntutan mereka dengan mengangkat Muhammad bin Abu Bakar sebagai penggantinya.

Sewaktu perjalanan pulang ke Mesir, salah satu di antara rombongan Mesir mendapati seseorang yang mencurigakan. Setelah mereka berhasil menangkap dan menginterogasinya, ia mengakui bahwa dirinya utusan Marwan bin Hakam, sekretaris Khalifah Utsman itu sendiri yang sedang membawa sepucuk surat kepada Gubernur Mesir, Abdullah bin Sa'ad yang berisi :

  1. Supaya Gubernur Mesir segera menangkap dan membunuh kaum demonstran yang sedang dalam perjalanan pulang
  2. Membatalkan pengangkatan Muhammad bin Abu Bakar sebagai Gubernur Mesir
  3. Gubernur Mesir tetap dijabat oleh Abdullah bin Sa'ad

Di akhir surat tersebut, terdapat cap stempel cincin Khalifah Utsman bin Affan. Setelah membaca isi surat tersebut, rombongan Mesir termasuk Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung naik pitam dan kembali pulang menuju Madinah untuk menuntut pertanggungjawaban pada Khalifah.


Para Pemberontak Mengepung Rumah

Kaum rombongan Mesir segera menghampiri kediaman Khalifah Utsman dan menanyakan perihal isi surat tersebut. Khalifah Utsman bin Affan mengaku tidak tahu-menahu tentang penulisan surat itu dan dia mengatakan, dirinya bukan penulis tersebut.

Setelah diselidiki, gaya tulisan Marwan bin Hakam hampir mirip dengan gaya penulisan isi surat tersebut. Lalu, mereka meminta kepada Khalifah agar menyerahkan Marwan bin Hakam untuk dimintai pertanggungjawaban.

Khalifah Utsman tahu jika Marwan diserahkan kepada mereka, tentu akan membahayakan jiwa Marwan apalagi ada terdapat tali kekeluargaan dengannya, akhirnya sang khalifah tidak mau menyerahkannya. 

Para pemberontak yang mendengar keputusan khalifah, semakin bertindak anarkis, mereka memberi dua pilihan kapada khalifah, yaitu mundur atau dibunuh. Tetapi dengan ketabahan hati yang luar biasa, beliau tidak mau mengundurkan diri.

Menurutnya, ia tidak mau mundur dari jabatan khalifahnya karena ia masih berpegang teguh dengan wasiat Rasulullah yang pernah disampaikan, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada Utsman : 

”Jika mereka memintamu untuk melepas pakaian (kekhalifahan) yang Allah berikan kepadamu, maka jangan engkau lakukan”. (HR Tirmidzi)

Beberapa perawi hadits berpendapat, bahwa sebenarnya kejadian ini sudah Rasullullah SAW. wanti-wanti sejak dulu dan beliau sudah memberikan tanda-tandanya kepada Utsman bin Affan sendiri mengenai akan terjadinya fitnah dan huru-hara antara Umat Islam, sehingga membuatnya mati syahid.

Melihat sikap khalifah yang tidak mau mundur dan enggan menyerahkan Marwan bin Hakam untuk diadili membuat para pemberontak semakin geram atas keputusannya tersebut. 

Akhirnya, mereka berencana rapat-rapat untuk mengepung rumah Khalifah sampai memblokade area kediamannya tersebut supaya pasokan makanan dan air tidak masuk ke dalam rumahnya.


Pembunuhan Utsman bin Affan Akibat Pemberontakan

Pada Rabu Malam sehari sebelum kematiannya, Khalifah Utsman sedang melakukan shalat Tahajud dan membaca Al-Qur'an sebanyak mungkin, sebagaimana rutinitas sunnah yang diamalkan para sahabat Nabi lainnya. Saat beliau tertidur, ia bermimpi bahwa dirinya sedang melihat Rasulullah SAW. dan berkata kepadanya : "Datanglah berbuka bersama kami besok, wahai Utsman !"

Keesokan harinya, Utsman segera menunaikan Puasa Kamis (Ibadah Puasa Senin-Kamis) seperti biasanya, namun emosi para demonstran tampaknya sudah tidak terbendung lagi dengan tindakan brutal dan anarkisnya. Saat itu, rumah Utsman bin Affan sedang dijaga oleh kedua cucu Rasulullah SAW., Hasan dan Husain, Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Zubair.

Namun tanpa sepengetahuan mereka, ada beberapa orang yang berhasil menerobos masuk lewat pintu belakang dan jendela rumah. Saat itu, salah satu putra Abu Bakar Ash-Shiddiq, Muhammad bin Abu Bakar turut bergabung dengan para demonstran dan ikut menyelinap masuk lewat pintu belakang rumah khalifah tersebut.

Setelah dia berhasil menemukan Khalifah Utsman, ia segera menarik jenggotnya ke belakang sambil digoncang-goncangkan dengan penuh ancaman. Dengan sikap tenang, Sang Khalifah meresponnya dengan berkata :

"Hai anak saudaraku! Lepaskanlah jenggotku ini, karena demi Allah, bapakmu memuliakannya...! Seandainya, ia melihatmu di tempatku sekarang ini, tentulah la akan merasa malu karena perbuatanmu itu..!"

Sehabis mendengar perkataan seperti itu, tubuh putra Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq lantas gemeteran dan berbalik menghalau para demonstran yang sudah terlanjur menerobos di kediaman Sang Khalifah itu.

Sayangnya, suasana itu sudah terlanjut lepas di luar kendali. Mereka sudah tidak menghiraukan ucapan putra Abu Bakar Ash-Shiddiq itu dan segera menebaskan pedangnya ke jari-jari Utsman bin Affan yang sedang membaca Al-Qur'an, kemudian dia menarik jenggot ke belakang sambil menggorok leher Sang Khalifah dengan penuh kejam. Lalu, ia menusukkan pedangnya ke dada khalifah yang syuhada' itu.  

Tragedi mengerikan itu terjadi tepat saat dilantunkannya suara adzan Maghrib dan Sang Khalifah segera menghadap ke hadirat Allah Ta'ala untuk memenuhi undangan berbuka puasa bersama Rasulullah SAW. 

Sedangkan, sidang pengadilan yang berlaku pada Marwan bin Hakam karena kasus dugaan surat perintah pembunuhan divonis bebas dari segala tuntutan karena tidak cukupnya bukti kuat yang menjerat terdakwa.

Khalifah Utsman bin Affan telah mati syahid tepat menjelang waktu Maghrib pada tanggal 17 Juni 656 Masehi atau 18 Dzulhijjah 35 H setelah pengepungan rumahnya selama 40 hari dan berakhir dengan tragedi yang menyedihkan dan membuat hati Umat Islam sangat terpukul. Ia dimakamkan di Kompleks Pemakaman Jannatul Baqi, Madinah. 


Hikmah Yang Diambil dari Kepribadian Khalifah Utsman bin Affan

Banyak peristiwa kelam dan fitnah yang mengiringi kewafatan Khalifah Utsman bin Affan, namun banyak hal yang dapat diambil pelajaran darinya di antaranya ialah :
  • Mempertahankan aqidah adalah suatu kewajiban setiap Umat Islam.
  • Dalam menjalankan pemerintahan, diperlukan pemimpin yang adil, jujur, dan amanah.
  • Prestasi seseorang bukan dilihat dari usia maupun bentuk fisiknya.
  • Diperlukan satu manajemen pemerintahan yang baik guna mengatur wilayah yang luas
  • Sikap yang kurang tegas dan memilih pejabat karena hubungan dekat atau keluarga akan mengakibatkan situasi pemerintahan yang Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme yang tentunya jauh dari tuntunan ajaran Islam.
  • Jika suatu urusan tidak diberikan kepada ahlinya, maka akan membawa kehancuran.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.