Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Masa Pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab (13-23 H/634-644 M)

Masa Pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab (13-23 H/634-644 M)

Salah satu sahabat Nabi, Umar bin Khattab dilahirkan pada Tahun 581 Masehi dengan nama lengkapnya ialah Umar bin Khaththab bin Nufail bin Abdi Uzza yang berasal dari golongan bangsawan Bani Adiyyah dari tali ayahnya yang bernama Khaththab bin Nufail Al-Mahzumi Al-Quraisyi, sedangkan nasab ibunya yang bernama Hamtamah binti Hasyim.

Ia berprofesi sebagai saudagar besar, punya keahlian dalam berperang dan kepandaiannya dalam memutuskan suatu hukum, sehinggga tidak heran dia banyak disegani oleh kalangan kaum Quraisy. Sebelum dia masuk Islam, ia menaruh kebenciannya pada Umat Islam, bahkan pernah berniat untuk membunuh Rasulullah SAW.

Namun, Allah Ta’ala berkata lain dengan mengabulkan do’a Rasulullah SAW. yang mengucapkan :

"Ya Allah, kuatkan Islam dengan salah seorang dari dua Umar."

Kedua nama Umar yang dimaksud ialah Umar bin Khattab dan Umar atau ‘Amr bin Hasyim alias Abu Jahal itu sendiri. Ternyata, Allah Ta’ala berkehendak memberikan hidayah kepada salah satu putra Bani ‘Adi, sehingga dia telah menyatakan dirinya masuk Islam pada Tahun ke-6 Kenabian dan merupakan sahabat Nabi ke-40 yang mengucapkan kalimat Syahadat.

Di sisi lain, ia berperan penting dalam peristiwa Khutbah Hari Tsaqifah yang mendorong Abu Bakar As Siddiq terpilih menjadi Khalifah pertama pengganti Rasulullah SAW. yang telah wafat. Semasa Rasulullah hidup, ia juga sangat berperan menyumbangsihkan segala pemikirannya terhadap ajaran Islam, di antaranya ialah larangan menyalatkan orang munafik, larangan minum khamr, shalat di dekat Maqam Ibrahim, dan masih banyak lagi usulan beliau yang diajukan ke hadapan Nabi.

Sehingga, Rasulullah SAW. sangat kagum dan menyematkan gelar kepadanya dengan sebutan Al-Faruq, yang berarti pembeda antara haq dan bathil. Di antara beberapa sifat yang menonjol pada diri Umar bin Khattab selama menjabat sebagai Khalifah, adalah sifat kesederhanaan.

Pada umumnya, para pejabat atau pemimpin selalu berusaha memanfaatkan kedudukannya untuk meraup banyak harta dan memanfaatkan segala fasilitasnya demi kepentingan pribadi, namun beliau sendiri berusaha menghindar dari harta duniawi dan fasilitas-fasilitas negara yang sudah disediakan baginya.

 

Cara Pengangkatan Sebagai Khalifah

Umar bin Khatthab diangkat menjadi khalifah berbeda dengan pengangkatan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sebenarnya, dia sudah ditunjuk terlebih dahulu dari Abu Bakar yang sebelumnya sudah dimusyawarahkan dengan para sahabat lainnya, supaya Umat Islam tidak terpecah belah ke depannya.

Dengan penuh kesadaran dan keikhlasan Kaum Muslimin, khususnya Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar, akhirnya mereka bersepakat untuk membai’at Umar bin Khattab sebagai khalifah.

Beliau sebenarnya sangat keberatan atas penunjukannya oleh Abu Bakar, seandainya hal ini bisa ditolak tentunya Umar bisa dianggap lari dari pertanggungjawaban dan pastinya akan sangat berat perhitungan di Yaumul Qiyamah. Ia pernah berpidato sebelum pengangkatannya sebagai Khalifah dengan mengatakan :

"Sungguh berat bagi Umar, menunggu datangnya saat perhitungan."

Setelah Umar bin Khaththab diangkat menjadi khalifah, beliau menyebut dirinya sebagai Amirul Mukminin (Pemimpin Orang-orang Beriman).

 

Kebijakan dan Jasa Khalifah dalam Penyiaran Islam

Setelah dinobatkan sebagai Khalifah, Umar bin Khatthab melanjutkan kebijakan Abu Bakar dalam melakukan futuhat. Banyak sekali peperangan dan penaklukan yang terjadi di masa pemerintahannya demi meluasnya perkembangan syi’ar dan daulah Islam.

Peperangan yang dilakukan terhadap negeri-negeri di bawah jajahan Kekaisaran Imperium Romawi dan Persia, yang di antaranya ialah pertempuran di lembah sungai Yarmuk, Ajnadain, Qadisiyah, Nahawand, Irak, Persia, Mesir, dan pembebasan Baitul Maqdis.

 

1. Melanjutkan Pembebasan Bumi Syam/Syria

Semasa pengangkatan Umar bin Khattab sebagai Khalifah, Laskar Islam di Syria sedang melakukan pertempuran dengan tentara Romawi di bawah pimpinan Panglima Theodore supaya mereka mau tunduk di bawah Daulah Islam.

Di masa Khalifah Umar bin Khattab, ia memutuskan panglima perang laskar Islam yang dipegang Khalid bin Walid digantikan oleh Abu Ubaidah bin Jarrah. Menurut Umar, hal ini perlu dilakukan karena sikap Khalid yang terlalu keras dalam menyikapi musuhnya, terutama musuh yang sudah menyerah dan terlebih lagi demi menghindari pengkultusan yang berlebihan terhadap Khalid bin Walid sendiri.

Setelah mendengar kabar tersebut, Khalid tersontak kaget dan menyembunyikan berita itu sampai kemenangan diperoleh oleh Laskar Islam. Ia merasa khawatir, kalau saja pasukan Islam dapat terpecah-belah karena keputusan yang kontroversial itu.

Setelah kemenangan berhasil diperoleh, akhirnya Khalid bin Walid mengumumkan segera di hadapan para pasukannya dan terima legowo menyerahkan jabatannya kepada Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai panglima besarnya.


2. Jatuhnya Kota Al-Quds, Baitul-Maqdis (18 H/639 M)

Pasca pertempuran Yarmuk, banyak pasukan Romawi lari tunggang-langgang menuju ke daerah Kota Al-Quds (Kawasan Baitul Maqdis). Panglima perang, Patriak Aretion segera mengerahkan para pasukannya untuk mempertahankan kawasan suci Baitul Maqdis dengan benteng-benteng yang kuat demi menahan serbuan Laskar Islam.

Namun, tentara Islam segera mengepung kota tersebut selama 4 bulan lamanya, sehingga orang-orang Romawi termasuk tentara-tentara yang berjaga mulai letih dan kelaparan karena bantuan pasokan pangan tidak kunjung datang dari Kaisar Heraklius.

Melihat situasi ini, mereka memutuskan untuk menyerah dengan syarat-syarat sebagai berikut :

  • Kota akan diserahkan langsung kepada Khalifah Umar bin Khaththab
  • Kebebasan beragama harus dijamin
  • Harta dan gereja tidak boleh dirusak

Sebagai pemimpin yang bijak, orang-orang Islam dilarang dan tidak berhak memaksakan orang lain untuk memeluk agama Islam dan Khalifah Umar pun menyetujui akan persyaratannya itu. Namun, beliau juga memberikan kewajiban bagi orang-orang Romawi yang tinggal di sana untuk tunduk membayar jizyah atau pajak, dan tidak boleh bergaul dengan orang-orang Yahudi.

Dengan fenomena kejatuhan Baitul Maqdis di tangan Islam, maka seluruh wilayah Syam sudah bulat penuh jatuh ke dalam Kekuasaan Daulah Islam, setelah berperang kurang lebih 6 tahun lamanya.

 

3. Penaklukan Kekaisaran Imperium Persia (Iran)

Perluasan menuju Kekaisaran Persia sebenarnya sudah dilakukan terlebih dahulu di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar, namun sayangnya selalu gagal dikarenakan jumlah pasukan yang dikerahkan terlalu sedikit dan cenderung memfokuskan pada penaklukan Bumi Syam.

Namun di Masa Khalifah Umar bin Khattab, setelah Bumi Syam telah jatuh di tangan Laskar Islam, akhirnya pasukan Islam bisa ditarik untuk lebih memusatkan untuk menguasai Kekaisaran Persia yang terkenal adidaya kala itu.

Dalam peperangan ini, Khalifah Abu Bakar menunjuk Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai pemimpin Laskar Islam sedangkan pasukan Persia dipegang oleh Panglima Rustam yang di kala itu Raja yang berkuasa ialah Kisra Yazdagird III.

Laga perang itu terjadi di Kota Qadisiyyah, dekat daerah Kufah yang menjadi pintu gerbang masuk ke Kerajaan Persia. Dalam penyerangan ini, laskar Islam berjumlah kurang lebih 7.000-8.000 orang dan hanya bersenjatakan pelontar batu, sedangkan pasukan Persia berkekuatan 30.000 orang dengan difasilitasi persenjataan yang lengkap.

Sebelum dimulai, Panglima Sa’ad bin Abi Waqqash mengajukan 3 pilihan kepada orang-orang Persia, yaitu memeluk Islam, membayar upeti (jizyah), atau berperang. Namun, mereka memilih berperang sehingga akhirnya serangan mereka mampu dipatahkan oleh Laskar Islam dan menewaskan Panglima Rustam.

Sisa tentara Persia yang masih hidup segera melarikan diri ke daerah Madain (Ibukota Persia) dan sepakat menambahkan kekuatan jumlah pasukan sebanyak 150.000 orang. Saat itu, pimpinan Laskar Islam yang awalnya dipegang oleh Sa’ad bin Abi Waqqash diserahkan kepada Khalid bin Walid dengan mendatangkan rombongan tentara berjumlah 30.000 orang untuk melakukan pengejaran hingga menuju Ibu Kota Persia. Pertempurang sengit nan dahsyat yang bersejarah ini dikenal sebagai Mauqi'ah Dzatis-Salasil atau Pertempuran Laskar Berantai.

Dinamakan demikian, kala itu Pasukan Persia diperintahkan kakinya untuk dirantai satu sama lain dengan tujuan tidak bisa melarikan diri. Namun, cara aneh dan konyol itu tentunya menjadi hambatan dan ganjalan bagi pasukan Persia sendiri karena mereka tidak bisa leluasa bergerak hingga akhirnya dapat dikalahkan dengan mudah.

Setelah Laskar Islam berhasil menguasai Istana Putih, Taq Isra dan Ibu Kota Persia, Kisra Yazdagird III langsung melarikan diri ke Nahawand bersama sisa para pasukannya yang masih setia kepadanya. Pengejaran terhadap Kisra Persia tersebut selanjutnya ditugaskan kepada Nu’man bin Muqrin dan pertempuran ini berhasil dimenangkan oleh Laskar Islam, sehingga dikenal sebagai peristiwa Fathul Futuh.

Sayangnya, Kisra Persia berhasil meloloskan diri dari pertempuran ini dan kabur ke wilayah timur. Namun, ada saksi yang mengatakan bahwa dia sudah tewas terbunuh oleh orang tak dikenal sebelum sampai ke kota tujuan, tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin ‘Affan.

Akhir cerita, Kekaisaran Persia telah habis terkoyak tanpa ada satupun tersisa sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah SAW. bahwa Kerajaan Persia akan terkoyak-koyak seperti halnya mereka menyobek-nyobek surat dari Rasulullah SAW.

 

4. Pembebasan Negeri Mesir

Mendengar kemenangan penuh gemilang dari Laskar Islam dalam pembebasan Bumi Syam, para penduduk Mesir menaruh harapan kepada mereka akan kedatangannya yang ingin membebaskan cengkeraman Kekaisaran Imperium Romawi yang kejam dan bengis ini. 

Kala itu, ajaran Kristen pun sedang terpecah menjadi 2 aliran, yaitu aliran Mulkaniyyah yang dianut bangsa Romawi dan aliran Ya'qubiyah yang dianut orang Mesir. Banyak orang-orang di antara mereka yang ditindas hanya karena berbeda aliran dan dipaksa mengikuti aliran Bangsa Romawi yang dianut.

Sebab inilah, penduduk Mesir mengharap kedatangan Laskar Islam, supaya mereka mendapat kebebasan dari segala penindasan, memperoleh jaminan kebebasan agama, dan dapat menyesuaikan diri dengan orang lain.

Melihat peluang ini, ‘Amr bin Ash segera membujuk Khalifah Umar bin Khattab agar diizinkan untuk membebaskan Negeri Mesir itu bersama laskar pasukannya. Namun, awalnya Khalifah menolak dengan alasan menertibkan wilayah-wilayah yang baru ditaklukkan terlebih dahulu.

Namun, ‘Amr bin Ash tetap mendesak Khalifah dan berusaha meyakinkannya untuk Pembebasan Negeri Mesir dengan mengajukan beberapa alasan, di antara lain ialah :

  • Mesir lemah karena penduduknya berpecah belah
  • Letaknya strategis, baik dari segi ekonomi maupun pertahanan
  • Tanahnya subur karena dialiri Sungai Nil

Mendengar penjelasan panjang lebar tersebut, akhirnya Khalifah Umar bin Khattab luluh dan setuju untuk mengirimkan bala tentara Islam untuk membebaskan Negeri Mesir dengan kekuatan jumlah tentara 4.000 orang pasukan.

 

5. Penaklukan Kota-kota di Sekitar Mesir (19 H/640 M)

Untuk menembus Negeri Mesir, dia harus melewati Gurun Sinai dan menguasai Kota Aris. Di kota tersebut, tidak ada perlawanan sama sekali yang terjadi. Di saat selanjutnya tiba di Kota Farma yang merupakan pintu gerbang negeri Mesir, mereka laskar Islam mendapat perlawanan.

Kemudian, Amr bin ‘Ash mengatur siasat untuk mengepung kota tersebut selama sebulan dan akhirnya, mereka berhasil menguasainya serta melanjutkan perjalanannya tersebut untuk menaklukkan kota-kota kecil yang berada di Negeri Mesir, yang di antaranya ialah Kota Bilbis, Tendonius atau Ummu Dunain, dan ‘Ainusy Syam.

 

6. Pengepungan Benteng Babil (20 H/641 M)

Setelah kota kecil terakhir, ‘Ainusy-Syam dapat ditaklukkan, Panglima ‘Amr bin Ash segera melakukan perbaikan dan penertiban di daerah-daerah yang baru ditaklukkan dengan menstabilkan roda pemerintahan dan mengatur persiapan untuk menyerang Benteng Babil.

Mengetahui kekuatan Benteng Babil, Panglima ‘Amr meminta tambahan pasukan ke Kota Madinah, dan akhirnya Khalifah Umar menuruti permintaannya dengan mengirimkan bala tentara sebanyak 8.000 orang. Namun dipikir-pikir, bangunan Benteng Babil sangatlah kuat dan dikelilingi oleh parit yang sewaktu-waktu bisa dialiri oleh Sungai Nil.

Merasa sulit untuk menembusnya, Panglima ‘Amr segera mengatur siasat untuk mengepung Benteng Babil selama 7 bulan dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Akhirnya, usaha keras ini membuahkan hasil dan orang-orang Romawi mengangkat bendera putih karena tidak tahan akan perbekalan makanan dan minuman yang kian menipis.

Melihat hal itu, Gubernus Mukaukis segera mengirim utusan untuk menemui Panglima ‘Amr bin Ash di Pulau Raudah, sebagai tempat ‘Amr bin Ash untuk menyusun strategi. Dalam pertemuan tersebut, ‘Amr bin Ash memberikan 3 pilihan yaitu masuk Islam, membayar pajak atau melanjutkan perang.

Setelah mengetahui pilihan tersebut, Gubernur Mukaukis mengajukan perundingan damai yang menghasilkan berbagai keputusannya, di antara lain :

  • Orang-orang Koptik harus membayar pajak sebanyak 2 dinar setiap tahun, kecuali orang tua, wanita dan anak- anak.
  • Orang-orang Koptik harus memperbaiki jembatan antara Kota Kairo dengan Iskandariyah yang dirusak oleh Pasukan Romawi.
  • Orang-orang Koptik harus memberi tumpangan orang Islam yang membutuhkannya.

Orang-orang Mesir menyetujui isi perjanjian tersebut, namun Kaisar Heraclius segera membatalkan perjanjiannya sekaligus memenjarakan Gubernur Mukaukis karena dianggapnya berkhianat. Melihat hal tersebut tepat pada bulan Maret 641 M, pasukan Islam menyerang Benteng Babil dan sebulan kemudian, benteng tersebut dapat direbut, sehingga membuat orang-orang Romawi melarikan diri ke Kota Iskandariyah.

 

7. Penaklukan Kota Iskandariyah (22 H/642 M)

Kota Iskandariyah merupakan satu-satunya benteng terakhir yang membuktikan Kekuasaan Bangsa Romawi masih bercokol di Negeri Mesir sekaligus Kota Pelabuhan yang menghubungkan antara Mesir dan Konstantinopel. Mendengar Benteng Babil berhasil ditaklukkan, Kaisar Heraklius merasa gusar dan langsung turun gunung untuk memimpin bala tentara pasukan Romawi demi mempertahankan Kota Iskandariyah.

Kemudian, pertempuran yang sangat sengit itu tidak dapat dielakkan di antara kedua belah pihak, dan berakhir dengan kemenangan yang jatuh di tangan Laskar Islam. Kaisar Heraklius merasa takjub dan mau tidak mau telah mengakui akan ketangguhan militer yang dimiliki oleh Pasukan Islam.

Akhirnya, Kaisar Heraklius segera meninggalkan Kota Iskandariyah dengan berat hati bersama sisa-sisa pasukannya dan kembali berpulang menuju Konstantinopel. Itulah menjadi detik-detik terakhir Kekaisaran Romawi lepas cengkaraman dari tanah seluruh Jazirah Arab dan Mesir.

Sehingga, ‘Amru bin Ash mendapat julukan Sang Pembebas Kota Mesir. Beberapa saat kemudian, Gubernur Mukaukis dinyatakan bebas dan bisa kembali ke tempat asalnya, Mesir. Setelah mengetahui ternyata Mesir sudah dikuasai oleh Laskar Islam, sehingga Mukaukis harus mau mematuhi perjanjian yang isinya, yaitu :

  • Orang-orang Romawi tidak akan merebut wilayah Mesir lagi dan orang Islam memberi jaminan tidak merusak gereja-gereja di Mesir.
  • Orang-orang Non Islam wajib membayar pajak.
  • Orang-orang Romawi diberi kesempatan meninggalkan dari Kota Iskandariah dengan membawa harta bendanya selama 11 bulan.
  • Orang-orang Romawi harus menyerahkan 150 prajurit dan 50 perwiranya sebagai jaminan pelaksanaan perjanjian tersebut.
  • Orang Islam memperbolehkan orang Yahudi tinggal dan menetap di Kota Iskandariah.



Jasa-Jasa dan Kebijakan Yang Mengatur Pemerintahan Dalam Negeri

Setelah menaklukkan wilayah Islam yang begitu luas, Khalifah Umar bin Khattab segera mengatur dan mengakomodir sistem pemerintahannya dengan tertata baik, di antaranya ialah membentuk beberapa staff, yaitu :

1. Staff Pemerintahan, yang terdiri dari :

  • Katib (Sekretaris)
  • Katibud-Diwan (Sekretaris Dewan)
  • Sahibul-Kharraj (Pejabat Pajak)
  • Sahibul-Ahdas (Pejabat Kepolisian)
  • Sahib Baitul-Mal (Pejabat Keuangan)
  • Qadli (Hakim) 

2. Majelis Permusyawaratan.

3. Membagi Daulah Islamiyah ke dalam 8 propinsi atau wilayah besar, yaitu Makkah, Madinah, Syria, Jazirah Hijaz, Kufah, Basrah, Mesir dan Palestina dengan dipimpin oleh Wali Gubernur sebagai kepala pemerintahan daerah.

4. Memisahkan lembaga peradilan dengan pemerintahan.

5. Merumuskan sejumlah ketentuan hukum acara yang dikenal dengan sebutan Risalah Qadha Umar bin Khaththab.

6. Memperbaiki sistem perjalanan pos

7. Membentuk Badan Pengawasan Pasar (Lembaga Hisbah)

8. Menentukan Kalender Hijriyah

9. Memperluas Masjidil-Haram

10. Membentuk pasukan teritorial untuk menjaga perbatasan


Kewafatan Khalifah Umar bin Khattab

Menginjak tahun pemerintahannya yang kesepuluh, beliau sedang berusaha sekuat tenaga untuk mengatur, mengontrol, dan menjaga segala urusan dalam Daulah Islamiyah. Namun Allah Ta’ala berkehendak lain, ada sebuah bencana yang menimpa pada dirinya, sehingga menyebabkan beliau menemui ajalnya.

Ada seorang hamba sahaya Persia yang berasal dari para tawanan perang di Nahawand, kemudian diboyong oleh Mughirah bin Syu’bah ke Madinah agar dapat dijadikan sebagai pembantu, yang bernama Abu Lulu’ah Fairuz.

Lantaran sakit hati, kampung halamannya Dinasti Persia runtuh dan ditaklukkan oleh Umat Islam, ia tak segan-segan segera membunuh Umar bin Khattab karena dianggap bertanggung jawab atas itu dengan menggunakan pisau belati sewaktu beliau mengimami Shalat Shubuh.

Kemudian, ia melarikan diri dan menusuk beberapa orang yang mau mencegatnya. Saat dia merasa sedang terdesak atau terkepung, dia segera memutuskan untuk bunuh diri di tempat. Kemudian, badan Umar bin Khattab yang terkulai lemas akibat habis ditikam tersebut segera dibawa ke rumah kediamannya.

Beliau sadar akan ajalnya datang sebentar lagi, ia menunjuk 6 sahabat pilihannya yang menjabat sebagai Dewan Syura’ di zamannya, di antaranya ialah :

  1. Ali bin Abi Thalib
  2. Utsman bin Affan
  3. Zubair bin Awwam
  4. Sa’ad bin Abi Waqqash
  5. Abdurrahman bin ‘Auf
  6. Thalhah bin Ubaidillah.

Khalifah Umar berwasiat, barang siapa yang mendapat suara terbanyak maka dia berhak diangkat sebagai Khalifah, sedangkan apabila jumlah suara itu sama banyak maka orang yang harus dipilih harus berdasarkan persetujuan Abdullah bin Umar (sebagai perwakilan Keluarga Umar bin Khattab). Dan akhirnya, masa pemilihannya itu jatuh berada di tangan Utsman bin Affan yang maju menjadi Khalifah selanjutnya pengganti Umar.

Umar bin Khattab dinyatakan meninggal dunia tepat pada tanggal 25 Dzulhijjah 23 H (644 M), dalam berusia 63 tahun setelah menjabat sebagai Khalifah yang memerintah selama 10 tahun 6 bulan lamanya. Jenazah Umar bin Khattab disemayamkan di samping pemakaman Nabi Muhammad SAW. dan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Masjid Nabawi di Kota Madinah.

 

Misteri Dalang Pembunuhan Khalifah Umar bin Khattab Yang Berhasil Terbongkar

Hampir saja peristiwa pembunuhan Khalifah Umar bin Khattab menjadi misteri yang tidak akan terungkap, namun Allah Ta’ala tidak membiarkan hal itu terjadi. Pada suatu hari sehari sebelum terjadinya pembunuhan Amirul Mukminin, sahabat Abdurrahman bin Abu Bakar (putra Abu Bakar Ash-Shiddiq) melihat 3 orang yang saling berbisik seakan-akan sedang merencanakan sesuatu.

Saat Abdurrahman menghampirinya, mereka bertiga sontak kaget dan gugup sehingga terjatuhlah sebuah pisau belati yang akan digunakan untuk membunuh Khalifah Umar bin Khattab. Mereka itu ialah Hurmuzan, mantan pembesar Persia yang kini berubah nasib menjadi rakyat biasa, dan Jufainah, yang dulunya pemeluk agama Nasrani dan bekerja sebagai pengajar baca-tulis di Kota Madinah.

Selanjutnya, orang terakhir ialah Abu Lulu’ah yang tentunya sedang diserahi untuk membunuh Khalifah Umar bin Khattab. Setelah peristiwa itu terjadi, kuat dugaan dalang pembunuhan dimotori oleh mereka berdua selain Abu Lulu’ah.

Akhirnya, Ubaidillah bin Umar (anak Khalifah Umar bin Khattab) tak segan-segan membunuh Hurmuzan dan Jufainah atas motif balas dendam kematian ayahnya, walaupun selanjutnya ia akan dijatuhi hukuman Qishash akibat perbuatannya di Masa Pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan.

 

Hikmah Teladan dari Kepribadian Khalifah Umar bin Khattab

  • Seorang pemimpin harus memiliki sifat tegas dan berpegang teguh terhadap prinsip kebenaran.
  • Dalam mengambil setiap keputusaan, Khalifah Umar bin Khattab banyak mendasarkan kepada kepentingan umat.
  • Pemimpin yang baik harus bisa dijadikan contoh teladan oleh rakyatnya dan meninggalkan nama yang baik.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.