Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Khulafa'ur Rasyidin | Khalifah Ali Bin Abi Thalib (35-40 H/656-661 M)

Masa Pemerintahan Khalifah Ali Bin Abi Thalib (35-40 H/656-661 M)

Biografi Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib merupakan khalifah pertama yang diangkat dari keluarga Bani Hasyim. Konon, ia mempunyai panggilan kecil, Haidarah dengan nama lengkap Ali bin Abi Thalib yang berasal dari ayahnya yang bernama Abu Thalib bin Abdul-Muthalib bin Hisyam bin Abdul Manaf sedangkan ibunya Fatimah binti As'ad bin Hisyam bin Abdul-Manaf

Ia dilahirkan pada Tahun 603 Masehi atau tepatnya pada Tahun ke-8 Kenabian semenjak Nabi Muhammad diangkat sebagai Rasul (menerima wahyu). Beliau digolongkan termasuk kelompok As-Sabiquunal Awwalun (orang-orang pertama masuk Islam) karena orang kedua yang menyatakan masuk Islam setelah Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW. sangat memuliakan saudara sepupunya tersebut, karena luasnya wawasan pengetahuan dan ketangguhan ilmu perangnya, bahkan ia diangkat sebagai menantunya sendiri sebagai suaminya Fatimah Az-Zahrah dan mewarisinya dengan pedang terbaik yaitu Dzul-Faqar.

Dalam ilmu pengetahuan, kemampuan Ali bin Abi Thalib tidak diragukan lagi. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda : "Aku kota ilmu pengetahuan, sedang Ali pintu gerbangnya." 

Tidak heran, beliau mendapat gelar Babul-Ilmu dan juga pernah membuat sebuah buku yang diberi judul Nahjul-Balaghah. Kebijakan dan kearifan dalam berfikirnya selalu menjadi tempat bertukar pikir dengan para khalifah pendahulunya.

Selain itu, ia juga dianugerahi gelar Karamallahu Wajhahu yang artinya Allah Ta'ala senantiasa memuliakan dirinya. Semasa kecilnya, ia mendapat asuhan didikan langsung dari Rasulullah SAW. hingga akhirnya tumbuh menjadi seorang pemuda yang cerdas, berbudi luhur, dan kaya akan ilmu pengetahuan. 


Proses Pengangkatan Ali sebagai Khalifah

Pasca terjadinya pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan, suasana kota Madinah menjadi tidak kondusif dan berada di luar kendali karena ketidakjelasan sosok pengganti khalifah selanjutnya. 

Akhirnya, barisan para pemberontak segera mendatangi rumah kediaman Ali bin Abi Thalib. Waktu itu, di antara mereka terdapat Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah yang sudah didesak untuk ikut-serta mendorong Ali bin Abi Thalib supaya mau dibai'at menjadi Khalifah, seraya berkata :

"Sesungguhnya daulah ini tidak akan bertahan tanpa adanya seorang pemimpin."

Setelah didesak beberapa kali, akhirnya ia terpaksa mau menuruti kemauan mereka dengan berdalih akan kekhawatirannya tampuk khilafah jatuh ke tangan orang yang tidak amanah. 

Setelah resmi diangkat sebagai khalifah, Ali menyampaikan pidato pertamanya di hadapan kaum muslimin. Adapun isi pidatonya adalah sebagai berikut :

"Wahai umat manusia semuanya, kamu sekalian telah memba'iat saya (sebagai khalifah), sebagaimana yang telah kamu sekalian lakukan terhadap khalifah-khalifah terdahulu. Saya hanya boleh menolak sebelum jatuh pilihan. Apabila pilihan telah jatuh, maka menolak tidak boleh lagi. Imam harus teguh dan rakyat harus patuh. Baiat terhadap diri saya ini adalah baiat yang umum (meliputi dari semua pihak), maka barang siapa yang memungkiri daripadanya, terpisahlah dia dari Agama Islam."

Namun, keadaan Daulah Islamiyah sepenuhnya masih belum stabil karena masih banyaknya para pemberontak Utsman yang berkeliaran, baik di daerah Mesir, Kufah, Basrah, maupun di sekitar Kota Madinah.

Kala itu, Umat Islam mengalami perpecahan politik hingga menjadi 3 golongan di antara lain ialah : 

  • Golongan pemberontak yang memba'iat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, menggantikan Utsman bin Affan dan beberapa sahabat yang ikut membai'atnya, karena takut kepada pemberontak seperti Thalhah dan Zubair.
  • Golongan yang menuntut balas kematian Utsman bin Affan, yaitu keluarga besar Bani Umayyah yang dipimpin oleh Gubernur Syam, Mu'awiyah bin Abi Sufyan.
  • Golongan yang menentang pengangkatan Ali sebagai khalifah, karena tidak disetujui oleh Umat Islam secara utuh dengan dipimpin oleh Aisyah, istri Rasulullah SAW. sekaligus dibantu beberapa sahabat lainnya seperti Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam.


Kebijakan-Kebijakan di Masa Pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib

Menurut siasat pandang Ali, ia memutuskan lebih baik berfokus untuk menyelesaikan masalah internal/ dalam negeri dibandingkan melakukan perluasan wilayah Islam (Futuhat).  Dalam masa 5 tahun pemerintahannya, ia berusaha semaksimal mungkin untuk menertibkan tatanan politik (stabilitas negara) yang ada sampai keadaannya menjadi tenang dan kondusif kembali.

Banyak sekali goncangan dan tantangan dihadapi Khalifah Ali bin Abi Thalib, mengingat akibat dari kebijakan Utsman bin Affan itu sendiri yang cenderung nepotis, sehingga dirasanya para pejabat keluarga Bani Umayyah yang mulai terancam kepentingannya. 

Akhirnya, beliau segera mengambil beberapa kebijakan yang tegas namun penuh akan resiko, di antaranya ialah :

1. Mengganti seluruh pejabat dan para gubernur yang telah diangkat oleh Khalifah Utsman. Menurutnya, munculnya berbagai pemberontakan dalam masyarakat akibat dari kesalahan sikap dan kebijaksanaan gubernur tersebut karena dipandang kurang cakap dan amanah kepada rakyat.

Adapun para pengganti gubernur yang ditunjuk oleh Ali bin Abi Thalib adalah :

  • Sahl bin Hunaif ke Syam
  • Utsman bin Hunaif ke Basrah
  • Qais bin Sa'ad ke Mesir
  • Umarah bin Syihab ke Kufah
  • Ubaidah bin Abbas ke Yaman

Sayangnya, kebijakan Khalifah Ali bin Abi Thalib berjalan kurang mulus karena dianggap mengancam kedudukan para pejabat yang kebanyakan dipegang oleh Keluarga Bani Umayyah tersebut. Tentunya, para pejabat yang diangkat oleh Utsman bin Affan merasa tidak senang, bahkan ada yang berani melakukan pembangkangan, yaitu Muawiyah bin Abi Sufyan yang menjabat sebagai Gubernur Syam.

2. Menarik kembali tanah yang telah dibagikan kepada masyarakat pada Masa Khalifah Utsman bin Affan dari sanak kerabat-kerabatnya tanpa jalan yang sah, dengan menyerahkan pendapatannya kepada negara.

3. Menghidupkan kembali sistem perpajakan Daulah Islamiyah, seperti yang telah ditetapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab dahulu.

4. Memadamkan Gerakan Pemberontakan yang dilakukan oleh Golongan Aisyah, Thalhah, Zubair dan Golongan Mu'awiyah bin Abi Sufyan.


Perang Jamal (36 H/357 M)

Pasca pengumuman pergantian pejabat oleh Khalifah Ali, Gubernur Mu'awiyah mulai terang-terangan menunjukkan pembangkangan dan permusuhan kepada adik sepupu Rasulullah SAW. tersebut. Mengetahui hal ini, ia segera menyiapkan bala tentaranya untuk berangkat ke Syam.

Namun di tengah perjalanan (di daerah Dzi Qar dekat perbatasan Basrah), ia mendapat berita bahwa pasukan Aisyah, Zubair dan Thalhah sudah bersiap-siap di Basrah. Mereka berkumpul karena mendengar sebuah isu adanya keluarga pembunuh Utsman yang bermukim di sana, sehingga terjadinya pertikaian berdarah antara pasukan mereka terhadap keluarga besar dugaan pelaku pembunuh Utsman itu.

Melihat hal itu, Ali langsung mengirim utusan ke Kufah untuk minta bantuan supaya ikut mencegah pertumpahan darah di Basrah. Sebenarnya, penduduk Kufah sama halnya dengan Basrah, mereka juga ikut terlibat dalam pembunuhan Utsman bin Affan yang tentu saja mereka merasa mendapat kesempatan untuk menyerang pasukan Aisyah yang berusaha menuntut balas atas kematian Utsman bin Affan.

Kemudian, beliau mengirimkan seorang utusan Qa'qa bin Amr, mengenai maksud tujuan Aisyah menghimpun kekuatan dan meminta kepada Aisyah agar mau membaiat Ali sebagai seorang khalifah. Setelah melalui perundingan, maka dicapailah kesepakatan bahwa Aisyah mau berdamai dan membai'at Ali dengan syarat Ali bin Abi Thalib mau datang kepadanya. 

Tentu saja, persyaratan ini diterima oleh Ali bin Abi Thalib yang menginginkan perdamaian. Namun di luar sepengetahuan Ali bin Abi Thalib, sekitar 2000 orang pasukan dari Kufah yang sebenarnya menginginkan hancurnya pasukan Aisyah, menyerang di pagi buta sebelum Shubuh, di saat masih tertidur.

Khalifah Ali sangat terkejut, karena pada siang harinya akan diadakan perjanjian perdamaian. Namun, ternyata pagi yang tenang itu menjadi ajang pembantaian terhadap pasukan Aisyah. Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam yang ikut berperang setelah bertemu dengan Ali bin Abi Thalib dan sadar akan kesalahan, mereka pun akhirnya keluar dari arena pertempuran. 

Namun nahas bagi keduanya, Thalhah yang sudah keluar dari peperangan dipanah oleh Marwan bin Hakam, sedangkan Zubair bin Awwam dibunuh oleh Amr bin Jurmuz, salah seorang prajurit Ali bin Abi Thalib, ketika sedang shalat. Khalifah Ali sangat bersedih mendengar dua sahabatnya telah meninggal dunia.

Untuk menyudahi peperangan tersebut, Khalifah Ali membidik unta yang dikendarai oleh Aisyah. Oleh Ali, Aisyah dikembalikan ke Makkah dengan penuh penghormatan sebagai seorang istri Rasulullah SAW. dan ibu mertuanya sekaligus dinasehati agar tidak ikut mencampuri urusan politik negara.

Walaupun dalam peperangan ini, pasukan Ali bisa dikatakan telah memperoleh kemenangan, namun Ali tidak mau menganggapnya, bahkan ia menyesal karena sesama muslim saling membunuh. Inilah perang saudara pertama di dalam tubuh Umat Islam yang memakan korban dari kedua belah pihak sebanyak 10.000 orang. 

Sebenarnya, ada beberapa faktor yang mendorong Perang Jamal (Unta) ini terjadi, yaitu :

  1. Tidak setujunya Aisyah, Thalhah dan Zubair terhadap pengangkatan Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah walaupun Thalhah dan Zubair sendiri ikut membaiatnya (karena mendapat tekanan para pendukung garis keras Ali bin Abi Thalib).
  2. Tidak setuju terhadap pergantian beberapa gubernur oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib.
  3. Ali bin Abi Thalib dianggap terlalu lamban dalam menangani kasus pembunuhan Utsman bin Affan dan menuntut pelaku pembunuhan agar dijatuhi hukuman sesuai syari'at Islam.


Perang Shiffin

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab timbulnya perang Siffin, di antara lain ialah :

  1. Muawiyah menuduh Ali bin Abi Thalib ikut berperan dalam pembunuhan Utsman bin Affan.
  2. Tidak terima terhadap pemecatannya sebagai Gubernur di Syam.
  3. Muawiyah tidak mau mengakui pengangkatan Ali sebagai khalifah.

Dalam perang tersebut, pimpinan pasukan Ali bin Abi Thalib dipercayakan kepada Asy'ats bin Qais dan Asytar. Pada hari pertama, pasukan Ali berhasil menceraiberaikan pasukan Muawiyah. Pada hari berikutnya, sebenarnya Khalifah Ali bisa saja menyerang Muawiyah yang sudah dalam kondisi lemah. Namun, beliau bukanlah orang yang curang, ia segera mengutus Martsad bin Harits untuk memberitahukan kepada Gubernur Muawiyah untuk berdamai atau melanjutkan berperang.

Tatkala Muawiyah memilih perang, maka supaya tidak jatuh korban yang lebih banyak, Ali bin Abi Thalib menantang Muawiyah untuk perang duel tanding, siapa yang menang berhak sebagai khalifah. Tentu saja, Muawiyah merasa takut dan berusaha sekuat tenaga supaya tidak terjadi perang tanding. 

Amru bin Ash yang berada di pihak Muawiyah menawarkan diri untuk menghadapi Ali bin Abi Thalib. Namun, Amru bin Ash menyerah kalah dalam pertandingan tersebut, sehingga Khalifah Ali bin Abi Thalib segera membebaskannya. 

Sayangnya, dikarenakan ambisi Amru bin 'Ash yang haus kekayaan dan kedudukan membuat dia buta akan segalanya. Ia langsung bergabung kembali dengan pasukan Mu'awiyah dan melanjutkan perang yang sebenarnya antara kedua belah pihak.

Ketika pihak Ali berhasil memukul mundur dan hampir memenangkannya, Amru bin Ash memerintahkan dengan licik supaya menancapkan ujung pedangnya pada Mushaf Al-Qur'an sebagai tanda damai atas hukum Kitabullah dan berharap pasukan Ali akan terpecah.

Akhirnya, siasat jitu Amru bin Ash berhasil, pasukan Ali pun menjadi terpecah-belah. Khalifah Ali yang tahu akan kelicikan Amru bin Ash, tetap bersikukuh melanjutkan berperang. Namun, sebagian besar pasukannya menghendaki perdamaian, begitu juga sebagian besar lainnya ingin terus berperang.

Dengan terpaksa, Khalifah Ali menghentikan pertempuran. Panglima Asy'ats beserta para pasukannya yang hampir memukul mundur mereka sehingga membuat Mu'awiyah nyaris melarikan diri, namun diminta oleh Khalifah Ali sendiri untuk mundur dan setuju menghendaki tahkim.


Perjanjian Perdamaian (Tahkim)

Usai perang berhenti, kedua belah pihak sepakat mengadakan perjanjian damai di Dumatul-Jandal, sebuah kota terpencil di Jazirah Arab. Dengan dihadiri masing-masing 100 orang dari kedua belah pihak, pihak Mu'awiyah menunjuk Amru bin Ash sebagai perwakilan mereka. 

Sedangkan pihak Ali awalnya menunjuk Abdullah bin Abbas yang dianggap mampu menandingi kelicikan Amru bin Ash, tetapi Panglima Asy'ats dan beberapa orang yang lainnya menghendaki Abu Musa al-Asy'ari. 

Untuk menghindari terjadinya perpecahan di tubuh pasukannya, Ali pun menyetujui Abu Musa Al-Asy'ari ditunjuk sebagai wakilnya dalam perundingan tersebut. Pada awalnya diputuskan, bahwa dalam perundingan tersebut masing-masing pihak, Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan, supaya meletakkan jabatannya dan akan dipilih melalui musyawarah kaum muslimin. 

Setelah dicapai kesepakatan tersebut, Amru bin Ash menyuruh Abu Musa al-Asy'ari untuk mengumumkan terlebih dahulu sebagai bentuk hormat kepada orang yang lebih tua. Setelah Abu Musa Al-Asy'ari mengumumkan, bahwa Ali bin Abi Thalib bersedia turun dari jabatannya sebagai khalifah, pada awalnya dia mengira Amru bin Ash akan mengumumkan bahwa Mu'awiyah bin Abi Sufyan turun dari gubernur di Syam.

Namun kenyataannya, begitu Abu Musa al Asy'ari mengumumkan bahwa Ali turun dari jabatannya, kemudian Amru bin Ash mengatakan bahwa Muawiyah akan menggantikan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Tentu saja, Abu Musa al Asy'ari sangat marah karena secara terang-terangan merasa ditipu oleh akal licik Amru bin Ash. 

Walhasil, hasil perundingan tersebut mengalami kegagalan. Namun, Ali bin Abi Thalib sudah terlambat tidak bisa lagi melanjutkan perangnya kembali, karena banyak pasukannya yang telah keluar karena tidak setuju dengan adanya tahkim tersebut dan mereka ini dinamakan sebagai Golongan Khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali).


Pembunuhan Khalifah Ali bin Abi Thalib oleh Kaum Khawarij

Setelah gagalnya perjanjian tersebut, Mu'awiyah merasa dirinya sudah di atas angin dan berhasil berkuasa untuk merebut wilayah kekuasaan Ali bin Abi Thalib. 

Sebenarnya, Khalifah Ali berencana akan menyerang kembali ke Syam, namun hal itu diurungkan karena Kaum Khawarij (pasukan Ali yang keluar karena tidak setuju adanya tahkim) sudah terlanjur membuat huru-hara dan membunuh siapa saja yang setuju dengan adanya tahkim tersebut, begitu juga penduduk Irak yang sudah tidak percaya dan tidak menghiraukan lagi dengan apa yang dikatakan Khalifah Ali tersebut. 

Di sisi lain, Kaum Khawarij bersepakat melakukan pembunuhan kepada 3 orang ini, karena dianggap sebagai penyebab dan orang paling bertanggung jawab atas perpecahan Umat Islam kala itu. 

Sehingga, Khalifah Ali bin Abi Thalib telah tewas terbunuh karena ditikam pisau belati beracun oleh Abdurrahman bin Muljam tepat pada tanggal 17 Ramadlan 40 H atau bertepatan pada Tahun 661 M menjelang waktu Shalat Shubuh setelah memerintah selama 4 tahun 9 bulan lamanya.

Dalam rencana pembunuhan tersebut, mereka mengirim 3 orang yaitu :

  • Abdur-Rahman bin Muljam untuk membunuh Ali bin Abi Thalib.
  • Barak bin Abdullah untuk membunuh Mu'awiyah bin Abi Sufyan.
  • Amir bin Bakri Al-Tamimi untuk membunuh Amru bin Ash.

Dalam peristiwa tersebut, hanya Abdur-Rahman bin Muljam atau Ibnu Muljam yang berhasil membunuh Khalifah Ali di Masjid Kufah, sedangkan Barak bin Abdullah menikamnya hanya mengenai bagian pinggul Mu'awiyah, namun tidak sampai mati. Sementara, Amir bin Bakri tidak bisa membunuh 'Amr bin Ash, karena perutnya sakit sehingga dia tidak shalat subuh di masjid.


Kesepakatan Damai 'Amul-Jama'ah (41 H/662 M)

Sepeninggal Khalifah Ali bin Abi Thalib, jabatan khalifah diserahkan alternatif kepada puteranya, Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Namun, dia sebenarnya tidak menghendaki jabatan tersebut begitu pula di sisi lain, banyak pihak yang mendesak agar jabatan itu segera diserahkan Mu'awiyah.

Selepas 3 bulan memegang jabatan, akhirnya ia mau melepaskan jabatannya tersebut dan rela menyerahkannya kepada Mu'awiyah bin Abi Sufyan asalkan memenuhi persyaratan, di antara lain : 

  1. Muawiyah harus menjamin keselamatan Hasan dan keluarganya (Ahlul Bait).
  2. Muawiyah harus menghentikan cacian kepada Ali bin Abi Thalib beserta keluarganya, terutama dalam setiap khutbah di atas mimbar.
  3. Sepeninggal Muawiyah, jabatan khalifah harus diserahkan kepada Umat Islam untuk memilihnya.
  4. Penduduk Iraq yang merupakan pendukung Ali bin Abi Thalib juga harus dijamin keamanannya.

Setelah Muawiyah mau menerima syarat tersebut, sejak saat itulah khalifah sepakat dipegang oleh Mu'awiyah bin Abi Sufyan. Akhirnya, peristiwa ini dinamakan 'Aamul Jama'ah yang artinya Tahun Persatuan Umat Islam karena sudah berada di bawah naungan satu khalifah saja.


Hikmah Pelajaran dari Kepribadian Khalifah Ali bin Abi Thalib

Selama 4 tahun masa kepemimpinannya, banyak kebijakan dan langkah-langkah Khalifah yang patut dijadikan teladan sebagai pemimpin penerusnya apalagi di saat sedang menghadapi pejabat-pejabat yang kurang cakap dan amanah, di antaranya ialah : 

  • Seorang pemimpin harus mempunyai prinsip kebenaran.
  • Dalam menjalankan pemerintahan harus tegas.
  • Sistem pemerintahan akan berjalan baik, jika berdasarkan kepada Hukum Al-Qur'an dan As-Sunnah.
  • Seorang pemimpin haruslah mengutamakan kemaslahatan umat daripada kepentingan pribadi.
  • Melaksanakan amar ma'ruf nahi mungkar walaupun harus berkorban segalanya.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.