Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Khulafa'ur Rasyidin | Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq (11-13 H/632-634 M)

Masa Pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq (11-13 H/632-634 M)

Biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang berasal dari kalangan As-Sabiquunal Awwaluun (orang-orang yang pertama masuk Islam). Abu Bakar dilahirkan di Kota Mekah pada Tahun 572 M, dengan nama lengkap ialah 'Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka'ab yang berasal dari keturunan Bani Tamim (At-Tamimi), Suku Bangsa Quraisy.

Untuk ayahnya bernama Abu Quhafah bin Amir, dan ibunya bernama Salamah Ummul-Khair. Teruntuk panggilan Abu Bakar sebenarnya hanya pemberian gelar saja, yang artinya Bapak Yang Memulai (mengawali, mendahului atau pertama kali).

Hal ini demikian, dikarenakan dia salah satu orang yang pertama kali masuk Islam dan mendapat julukan di akhir namanya yaitu Ash-Shiddiq, yang artinya selalu membenarkan karena pernah membenarkan tanpa pikir panjang saat Nabi Muhammad SAW. menceritakan perjalanan Isra’ Mi’raj.

Setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar menjadi khalifah yang pertama dinobatkan pada Tahun 632 M. Dalam perjalanan hidupnya, ia berprofesi sebagai saudagar, pernah menjabat sebagai hakim agung, selain itu dia juga termasuk kalangan orang terpelajar dan punya kemampuan menafsirkan mimpi.

 

Penobatan Abu Bakar Diangkat Sebagai Khalifah

Selepas kewafatan Rasulullah SAW., beliau tidak mewasiatkan apa-apa kepada para sahabatnya mengenai sosok pengganti atau penerusnya. Tentu saja, hal ini bisa diartikan bahwa beliau menyerahkan semua urusan itu kepada Musyawarah Umat Islam.

Akhirnya, Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar segera berkumpul dan bermusyawarah guna untuk menentukan siapa selanjutnya yang menjadi penerus Rasulullah SAW. Beberapa saat kemudian, muncullah perdebatan besar yang hampir-hampir bisa menimbulkan fitnah atau perpecahan karena kubu satu sama lain tidak menerima orang yang dipilih masing-masing untuk diangkat sebagai Khalifah.

Melihat kejadian ini, Abu Bakar segera berdiri dan berpidato, bahwa sosok yang tepat dan kuat untuk menduduki jabatan Khalifah terletak di tangan Kaum Muhajirin dan orang yang tepat dipilih yaitu orang yang berasal dari Suku Quraisy, karena Nabi Muhammad SAW. juga berasal dari suku tersebut.

 Khutbah yang dilakukan oleh Abu Bakar pada saat itu dinamakan Khutbah Hari Tsaqifah. Setelah khutbahnya selesai, mereka semua bersepakat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai Khalifah pertama karena dia sahabat karib Rasul yang punya pengalaman penuh dan matang menemani perjalanan dakwah Rasulullah SAW. pertama kalinya hingga akhir hayat.

 

Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar Shiddiq adalah sahabat tertua sekaligus terdekat Nabi Muhammad SAW. yang amat luas pengalamannya, dan amat besar ghirahnya kepada Syi’ar Islam. Dia juga pernah diangkat sebagai bangsawan Quraisy yang menduduki jabatan tinggi, saudagar kaya raya dan dermawan, ahli hukum yang jujur.

Sedangkan selepas dirinya masuk Islam, ia selalu setia menemani Sang Nabi sewaktu akan berhijrah dari Kota Mekkah ke Madinah. Kemudian, dia juga sering merasakan pahit getirnya hidup bersama Rasulullah SAW. hingga menjelang kewafatannya. Ia juga pernah diserahi sebagai imam shalat pengganti Rasulullah SAW. yang kala itu sedang sakit.

Oleh karena itu, Umat Islam yang membai’atnya sama-sama tidak merasa keberatan karena Abu Bakar dipandang lebih berhak dan lebih utama untuk menduduki jabatan Khalifah daripada yang lainnya.

 

Tantangan dan Kebijakan Pemerintahan Khalifah Abu Bakar

Selepas pengangkatan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, muncullah beberapa cobaan dan tantangan yang menggerogoti tubuh Umat Islam, terutama orang-orang yang baru masuk Islam. Mereka di antaranya memandang, bahwa dirinya masuk Islam disebabkan oleh perjanjian Nabi Muhammad SAW. dan selepas kewafatannya, dianggap telah berakhirlah masa perjanjiannya itu.

Hingga akhirnya, ia mulai terang-terangan untuk enggan mengeluarkan zakat, yang di mana sudah menjadi bagian Rukun Islam sampai orang-orang yang berani murtad atau keluar dari Islam. Di samping itu, Nabi-Nabi Palsu mulai datang bermunculan dan tentunya menjadi ganjalan terberat yang harus dituntaskan oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq kala itu.

 

1. Memberantas Orang-Orang Yang Enggan Mengeluarkan Zakat

Selepas pelantikan Khalifah Abu Bakar, muncullah beberapa golongan yang mengaku terang-terangan untuk menolak membayar zakat. Mereka mengira, bahwa setelah kewafatan Nabi Muhammad SAW. sudah tidak berlaku lagi kewajiban membayar zakat.

Selain itu, niat mereka yang buruk itu juga dilatarbelakangi di antara lain, rasa sayang melepaskan harta bendanya dan menganggap pembayaran zakat sama halnya dengan pembayaran pajak. Melihat aksi pemberontakan dengan syariat Islam, Abu Bakar segera bersiaga untuk memerangi mereka. Namun, ada beberapa orang sahabat Nabi yang menasehatinya supaya tidak perlu mengambil kebijakan seperti itu.

Akan tetapi, Abu Bakar Ash-Shiddiq bersikukuh dalam pendiriannya untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat sampai mereka tunduk kembali untuk menjalankan salah satu Rukun Islam yang wajib itu, sebagaimana dia pernah berkata :

"Demi Allah, seandainya mereka tetap menolak untuk membayar zakat walaupun seutas tali. Aku akan bertekad memerangi mereka.”


2. Menghadapi Nabi Palsu

Cobaan mulai datang silih berganti, Khalifah Abu Bakar harus segera mengambil tindakan tegas kepada para nabi palsu dan orang-orang pengikutnya yang sangat nyata menyesatkan Aqidah Islam dan menggoyahkan sendi-sendi Khilafah Islam yang masih muda itu. Adapun nabi-nabi palsu yang menyesatkan di Masa Pemerintahan Khalifah Pertama itu, di antaranya adalah :

  • Musailamah Al-Kadzdzab
  • Sajjah Tamimiyah
  • Al-Aswad Al-Ansi
  • Tulaihah bin Khuwailid

Di antara sekian para nabi palsu, orang paling berbahaya di antaranya ialah Musailamah Al-Kadzdzab (Sang Pendusta). Ternyata, ia selama ini sudah menyatakan dirinya sebagai nabi semenjak Rasulullah SAW. masih hidup dan menyebarkan aliran sesatnya diam-diam.

Selepas Rasulullah telah wafat, dia mulai melancarkan misinya untuk menyebarkan pengaruh seluas-luasnya. Selain itu, dia juga mempersunting Sajjah At-Tamimiyah sebagai istrinya yang juga mengaku sebagai Nabi Palsu untuk menambah jumlah para pengikutnya.

Tentu saja Abu Bakar tidak tinggal diam, beliau segera memerintahkan pasukan tentaranya untuk menumpas gerakan para Nabi Palsu tersebut. Dalam pertempuran, Wahsyi berhasil membunuh Musailamah, yang konon dulunya juga pernah membunuh Paman Sang Nabi, Hamzah di saat perang Badar. Pada saat itu, ia merasa berhasil menebus kesalahannya di masa lalunya ketika ia masih kafir dengan berkata :

"Aku telah membunuh manusia yang paling jahat (Musailamah) dan orang yang paling baik sesudah Rasulullah (Hamzah).”

Selain itu, gerakan Al-Aswad yang mengaku dirinya sebagai nabi juga berhasil ditumpas dan akhirnya terbunuh. Sedangkan, Thulaihah bin Khuwailid lolos melarikan diri dan menyatakan dirinya masuk Islam kembali pada Zaman Khalifah Umar bin Khattab.

Begitu juga yang terjadi pada Sajjah At-Tamimiyyah yang dikatakan dalam riwayat sejarah menurut Ibnu Hajar, bahwa dia menghabiskan sisa umurnya sebagai Muslimah yang sudah bertaubat dan menyatakan dirinya masuk Islam kembali di Masa Kekhalifahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Semua nabi palsu tersebut berhasil ditumpas Khalifah Abu Bakar selama satu tahun, meskipun harus dengan jalan peperangan yang sengit dan memakan banyak nyawa. 

 

3. Memerangi Orang-Orang Murtad (Perang Riddah)

Setelah berhembus kabar kewafatan Rasulullah SAW., orang-orang mulai berani menyatakan dirinya secara terang-terangan untuk keluar dari Agama Islam. Melihat situasi itu, Khalifah Abu Bakar segera menanggapinya dengan mengirimkan surat ajakan terlebih dahulu sebagai tanda peringatan, dengan harapan agar mereka mau kembali ke dalam pangkuan Islam dan bertaubat sungguh-sungguh.

Namun, ada orang yang meresponnya dengan positif, tetapi juga ada orang yang tetap membangkang dan tenggelam dalam kesesatannya. Melihat respon pembangkangan tersebut, Khalifah Abu Bakar segera memutuskan untuk memeranginya dan berhasil menaklukkan mereka.

 

4. Pengumpulan Al-Qur'an

Seiring banyak kemenangan yang diperoleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq, tiba-tiba Umar bin Khattab merasa cemas akan kehilangan beberapa ayat-ayat Al-Qur’an, karena saking banyaknya para Hafizh Qur’an yang mati syahid dalam pertempuran, terutama dalam peperangan menghadapi pasukan Musailamah Al-Kadzdzab.

Kemudian, dia segera menyarankan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq agar mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam suatu mushaf. Sang Khalifah setuju dengan hal itu, ia lantas segera memerintahkan para sahabatnya untuk mengumpulkan lembaran-lembaran Al-Qur’an yang semula ditulis di atas batu, kulit hewan, tulang-belulang, dan pelepah kurma dibuat menjadi satu mushaf. Saat itu, ada 4 penulis Al-Qur’an yang terkenal ialah :

  • Zaid bin Tsabit
  • Abdullah bin Zubair
  • Sa’id bin Ash
  • Abdurrahman bin Harits bin Hisyam

Setelah menjadi satu mushaf, mushaf Al-Qur’an ini semula disimpan di kediaman Abu Bakar, kemudian diberikan kepada Umar bin Khattab, dan setelah itu diserahkan kepada Hafshah, isteri Rasulullah SAW.

 

5. Pembebasan Wilayah Syam dan Palestina (Perluasan Wilayah atau Futuhat)

Khalifah Abu Bakar mempersiapkan seluruh pasukan untuk membebaskan beberapa negeri dari cengkeraman negeri adidaya Romawi, dengan bertujuan memperluas syiar Islam. Kebijakan itu juga sengaja diambil untuk menghindari pemikiran Umat Islam dari perselisihan antar sesama mereka.

Waktu itu, para pembesar Kekaisaran Romawi suka berlaku sewenang-wenang, berbuat dzalim, melakukan kekerasan dan penindasan atas penduduk negeri jajahannya. Ditambah lagi, mereka dibebani uang pajak yang sangat berat, sehingga masyarakat negeri jajahan itu merasa muak dan jengkel atas tindakan penguasa Romawi.

Selain itu juga, kondisi masyarakat dan negeri jajahan Romawi juga ikut terpecah-belah karena perselisihan aliran agama, dan tindakan para penguasa yang tenggelam dalam kemewahan. Keadaan inilah memberikan peluang besar bagi Bangsa Arab yang perkasa dan pemberani untuk menaklukkan Bumi Syam dan Palestina, serta negeri-negeri jajahan lainnya di bawah cengkeraman Kekaisaran Byzantium.

Sebenarnya Nabi Muhammad SAW. semasa hidupnya pernah mengirimkan para pasukannya untuk menaklukkan daerah perbatasan Palestina. Setelah Nabi wafat, akhirnya peperangan itu dilanjutkan oleh Khalifah Abu Bakar selama 40 hari itu dan akhirnya berhasil dimenangkan oleh Pasukan Islam dengan perolehan harta rampasan yang banyak dan diboyong ke Madinah.

Peristiwa itu sangat menyakitkan hati orang-orang Romawi, sehingga Kaisar Heraklius naik pitam dan berusaha balas dendam dengan mengirimkan angkatan perang besarnya menuju perbatasan Bumi Palestina dan Syam untuk menghadapi serbuan tentara Islam.

Mendengar ajakan perang besar itu, Khalifah Abu Bakar menyerukan jihad fi sabilillah ke seluruh Bangsa Arab, sehingga terkumpullah barisan angkatan perang besar di Madinah, yang terbagi menjadi 4 pasukan dengan 4 panglima masing-masing, yaitu :

  • Abu Ubaidah bin Jarrah, dengan tujuan Homs.
  • Amru bin Ash, dengan tujuan Palestina.
  • Yazid bin Abi Sufyan, dengan tujuan Damaskus.
  • Syurahbil bin Hasanah, dengan tujuan Yordania.

Khalifah Abu Bakar segera mengintruksikan kepada 4 panglima itu untuk saling membantu dalam penyerangan pasukan tentara Romawi, dengan menetapkan Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai panglima besar, sedangkan Amru bin Ash diperbolehkan membebaskan Palestina, namun harus membantu pasukan yang lain bila diperlukan.

Ketika Laskar Islam tengah berusaha membebaskan Bumi Syam dan Palestina dari cengkeraman Romawi Timur, Khalifah Abu Bakar juga segera mengerahkan sebuah pasukan lagi di bawah pimpinan Khalid bin Walid, dibantu oleh Mutsanna bin Harisah, untuk membebaskan Bumi Irak.

Selepas laskar pasukan Khalid bin Walid mendapat kemenangan di Irak, tiba-tiba ia menerima berita dari Syam bahwa pasukan Abu Ubaidah meminta bantuan karena sudah tidak kuasa mematahkan pertahanan angkatan perang Romawi.

Setelah mendapat restu Khalifah Abu Bakar, pasukan Khalid bin Walid segera berangkat dengan kecepatan luar biasa dan kekuatan 1.500 orang pasukan menuju Negeri Syam dengan melewati padang pasir Badi'atussamawat.

Mengetahui kedatangan laskar pasukan pimpinan Khalid bin Walid, ternyata mendorong semangat baru dan amat besar bagi para laskar Islam lainnya yang sedang menunggu. Tanpa terlalu banyak memakan waktu, mereka berhasil menduduki Kota Basrah atas pertolongan Gubernurnya, Romanus.

Dia berjasa menunjukkan jalan-jalan utama memasuki kota dari lubang-lubang yang berada di bawah benteng-bentengnya. Hingga akhirnya, wilayah Syam dan Palestina berhasil dimenangkan dan dikuasai oleh Laskar Islam atas komando Khalid bin Walid.

 

6. Mendirikan Baitul Mal

Khalifah Abu Bakar segera mendirikan Baitul Mal, guna dapat mengontrol dan mengatur pemasukan uang negara dari zakat, pajak, dan ghanimah (harta rampasan perang) supaya dapat digunakan dengan baik sesuai syariat Islam. Dia juga mengerahkan salah satu sahabat Nabi, Abu Ubaidah yang diangkat sebagai Kepala Perbendaharaan Baitul Mal untuk mengurusi hal-hal yang menyangkut keuangan negara dengan gelar Aaminul ‘Ummah, yang artinya kepercayaan umat.

 

7. Mendirikan Lembaga Pengadilan

Demi menegakkan keadilan untuk masyarakat umum dan Umat Islam, Khalifah Abu Bakar segera mendirikan lembaga pengadilan yang dipegang oleh Umar bin Khattab.

 

Kewafatan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Ketika api peperangan Arab dan Romawi sedang berkecamuk sehebat-hebatnya, datanglah berita duka dari Madinah bahwa Khalifah Abu Bakar telah wafat.

Beliau wafat pada tanggal 23 Agustus 634 Masehi di Madinah, karena sakit kepala yang dideritanya selama 16 hari tepat pada usia 63 tahun. Beliau dimakamkan di rumah putrinya Aisyah, istri Rasulullah SAW. di dekat Masjid Nabawi, di samping makam Baginda Nabi. Dia sudah memerintah dalam Pemerintahan Khilafah Islam kurang lebih selama 2 tahun 3 bulan 10 hari dan dimasukkan dalam Golongan Khulafa'ur Rasyidin (Khalifah-Khalifah yang mendapat petunjuk).


Hikmah Teladan dari Kepribadian Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Walaupun masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar hanya berlangsung dengan singkat, namun banyak sekali yang bisa diambil pelajaran di antaranya ialah :

  • Sebagai seorang pemimpin haruslah memiliki latar belakang kepribadian yang baik, antara lain seperti mempunyai watak tegas, kasih sayang, penyabar, dermawan dan amanah. 
  • Abu Bakar Ash-Shiddiq senantiasa membiasakan untuk menempuh jalan musyawarah dalam memecahkan suatu persoalan hingga semua pihak merasa tidak ada yang dirugikan.
  • Abu Bakar Ash-Shiddiq memegang prinsip bahwa jabatan adalah suatu amanah. Oleh karena itu, Abu Bakar menegaskan tidak akan pernah memberikan jabatan kepada orang yang meminta jabatan tersebut. Selain itu, beliau juga memiliki prinsip bahwa seorang pemimpin hendaklah bermanfaat bagi umatnya, baik pada waktu memimpin maupun sesudahnya.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.