Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

8 Hal Pembatal Kalimat Syahadat Yang Patut Kamu Waspadai

8 Hal Pembatal Kalimat Syahadat Yang Patut Kamu Waspadai

Walaupun manfaat dari memahami dan mengamalkan kalimah syahadat sangat besar, akan tetapi ternyata ada hal-hal yang dapat membatalkan kemuliaan kalimah ini. 

Banyak orang yang keliru mengira, bahwa kalau sudah mengucapkan 2 kalimat syahadah atau sudah memiliki nama yang Islami, maka tidak ada satu pun sikap atau perbuatan yang bisa membatalkan keislaman atau membatalkan 2 kalimah syahadatnya.

Menurut Sa'id Hawwa dalam Bukunya Al-Islam, sebenarnya banyak sikap atau perbuatan seorang muslim yang bisa membatalkan kalimah syahadat ini, di antaranya sebagai berikut :


1. Bertawakkal kepada selain Allah SWT.

Seseorang dilarang keras bertawakkal kepada selain Allah SWT karena Dia-lah yang memerintahkan kepada kita untuk berusaha dan berikhtiar, namun kita harus diiringi dengan bertawakal kepada Allah Ta’ala semata sebagaimana Surah Al-Maidah ayat 23 yang berbunyi :

وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Artinya : “Dan, hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman." 

Dalam bertawakkal di antara seorang kafir dengan seorang mukmin sangatlah berbeda, seorang kafir berusaha semaksimal mungkin dan menggantungkan harapan sepenuhnya kepada usaha itu, sedangkan seorang mukmin juga berusaha maksimal tetapi senantiasa menggantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah SWT. atas segala hasil akhir usahanya tersebut.


2. Mengingkari Semua Kenikmatan Lahir Batin adalah Karunia Allah Ta’ala

أَلَمْ تَرَوْا۟ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ

Artinya : "Tidakkah kamu perhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)-mu apa yang di langit dan yang di bumi serta menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin." (Q.S. Luqman ayat 20)

Manusia tidak boleh mengaku dan mempercayai bahwa nikmat yang dia peroleh itu hanyalah semata-mata karena usahanya, sebab bagaimana pun dia berusaha kalau Allah tidak berkenan, dia tidak akan mendapatkannya.

Sejarah menyebutkan, Allah SWT. pernah membinasakan Qarun yang mengingkari karunia Allah kepadanya dengan menyombongkan usahanya (ilmunya), bahwa semua yang dimilikinya sekarang adalah atas usahanya sendiri bukan karena Allah SWT. sebagaimana dalam Firman-Nya pada Surah Al-Qashash ayat 78 yang berbunyi :

قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِىٓ ۚ

Artinya : "Qarun berkata : "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku."

Sebagai akibat dari perkataan Qarun tersebut, maka Allah langsung memberikan azab kepadanya sebagaimana diterangkan pada ayat berikutnya,

فَخَسَفْنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُۥ مِن فِئَةٍ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُنتَصِرِينَ

Artinya : "Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka, tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap Azab Allah. Dan, tidaklah ia termasuk orang-orang yang dapat membela dirinya." (QS. Al-Qashash ayat 81)


3. Beribadah dan Beramal dengan Tujuan selain Allah

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Artinya: "Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalatah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-An'am ayat 162)

Dengan demikian, seorang muslim tidak boleh berbuat karena sesuatu yang lain. Beribadah harus ditujukan hanya kepada Allah Ta’ala. Ibadah yang dimaksud di sini tidak terbatas pada shalat, puasa, zakat dan haji saja, namun mencakup semua amalan yang dikerjakan atas dasar Lillahi Ta’ala.


4. Taat Mutlak kepada Selain Allah dan Rasul-Nya

Kita harus dapat membedakan antara taat kepada Allah Ta’ala dengan taat kepada manusia. Seorang muslim hanya dibenarkan taat secara mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya (karena taat kepada Rasul-Nya berarti taat kepada-Nya).

Ketaatan kita kepada Allah SWT. adalah mutlak, sedangkan ketaatan kepada manusia bersifat terbatas dan tidak boleh berlebihan, di antaranya seperti taat kepada Ulil Amri selama masih dalam ruang lingkup taat kepada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana tertera pada Surah Asy-Syu’ara ayat 151-152 yang berbunyi :

ٱلَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ o وَلَا تُطِيعُوٓا۟ أَمْرَ ٱلْمُسْرِفِينَ

Artinya : "Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan." 


5. Membenci Islam, Seluruhnya atau Sebagian

Siapapun yang di dalam hatinya, ada kebencian terhadap Islam dan ajaran-ajarannya apalagi dibuktikan dengan sikap memusuhi Islam, maka syahadatnya telah pudar dan terhapus amal baiknya sebagaimana pada Surah Muhammad ayat 8-9 yang berbunyi : 

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا۟ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَٰلَهُمْ o وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَتَعْسًا لَّهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَٰلَهُمْ

Artinya : "Dan, orang-orang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah, lalu Allah menghapuskan (pahala) amal-amal mereka." 

Membenci Islam dalam hal ini juga termasuk membenci salah satu hukum Islam, baik yang menyangkut ekonomi, politik, sosial maupun aspek-aspek lainnya.


6. Menghalalkan Apa yang Diharamkan oleh Allah, dan Mengharamkan Apa yang Dihalalkan-Nya

Sikap menghalalkan apa yang diharamkan dan mengharamkan apa yang dihalalkan termasuk sebuah kebohongan yang besar di hadapan Allah SWT. sebagaimana Firman-Nya dalam Surah An-Nahl ayat 116 yang berbunyi :

وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ ٱلْكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

Artinya : "Dan, janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ini halal dan ini haram untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung." 

Begitu juga, terhadap golongan orang yang munafik yang senantiasa berdusta kepada Allah SWT. dipastikan tidak termasuk ke dalam ciri-ciri orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat-Nya, sebagaimana termaktub dalam Surah An-Nahl ayat 105 yang berbunyi :

إِنَّمَا يَفْتَرِى ٱلْكَذِبَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَٰذِبُونَ

Artinya : "Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.”


7. Menyatakan bahwa Suatu Ayat Maknanya Bertentangan dengan Kenyataan yang Ada

Al-Quran diturunkan oleh Allah Ta’ala dalam Bahasa Arab yang bisa dimengerti maknanya. Oleh sebab itu, penafsiran suatu ayat tidak boleh lari dari makna dan pengertian dari bahasa Arab itu sendiri sebagaimana termaktub dalam Surah Yusuf ayat 2 yang berbunyi :

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ قُرْءَٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Artinya : "Sesungguhnya Kami turunkan Al-Qur'an dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya." 

وَكَذَٰلِكَ أَنزَلْنَٰهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا ۚ وَلَئِنِ ٱتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُم بَعْدَمَا جَآءَكَ مِنَ ٱلْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّ وَلَا وَاقٍ

Artinya : "Dan Demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Qur'an itu sebagai peraturan dalam Bahasa Arab, dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada perlindungan terhadap (siksa) Allah." (QS. Ar Ra’d ayat 37)

Karena apabila Al-Qur'an ditafsirkan keluar dari tatanan bahasa atau tidak mengikuti kaidah-kaidah bahasa Arab maka akan terjadilah penyelewengan penyelewengan penafsiran yang sangat berbahaya bagi kemurnian Islam.


8. Beribadah Bukan Kepada Allah SWT.

Beribadah bukan kepada Allah SWT. yaitu meminta atau berdo'a kepada selain Allah dan bentuk-bentuk ibadah lainnya yang dipersembahkan bukan kepada Allah SWT. 

Sebagai contohnya, seperti menyembelih binatang untuk dipersembahkan kepada selain Allah, thawaf tidak ditujukan di Baitullah, dan shalat diniatkan kepada para wali bukan atas dasar Lillahi Ta’ala, dan sebagainya. Sebagaimana tercantum dalam Surah Ar-Ra’d ayat 14 yang berbunyi :

لَهُۥ دَعْوَةُ ٱلْحَقِّ ۖ وَٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُم بِشَىْءٍ إِلَّا كَبَٰسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى ٱلْمَآءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَٰلِغِهِۦ ۚ وَمَا دُعَآءُ ٱلْكَٰفِرِينَ إِلَّا فِى ضَلَٰلٍ

Artinya : "Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) do'a yang benar. Dan, berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan, do'a (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka." 

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.