Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Dongeng Cinderella dan Sang Pangeran – Sepatu Kaca dan Bidadari

Dongeng Cinderella dan Sang Pangeran – Sepatu Kaca dan Bidadari

Ella adalah seorang gadis berwajah cantik dan berbudi pekerti mulia. Dia sudah yatim piatu, karena ayah dan ibunya sudah meninggal dunia. Ia hidup bersama ibu tirinya dan 2 saudara tirinya. Mereka amat dengki kepada Ella. Hal ini disebabkan wajah Ella jauh lebih cinta daripada wajah mereka.

Mereka berusaha agar penampilan Ella tampak jelek dan buruk, untuk itu setiap hari mereka menyuruh Ella menyapu dan mengepel lantai sepanjang hari, pakaian yang diberikan adalah pakaian bekas yang jelek.

Jika malam tiba, Ella harus tidur di dapur, di pojok dekat cerobong asap. Karena itulah dia tampak selalu kotor dan mereka mengejeknya dengan nama Cinderella. Cinder artinya abu. Jadi, Cinderella artinya gadis abu.

Pada suatu hari, Putra Raja mengadakan pesta besar di istana. Dua saudari tiri Cinderella ikut diundang. Mereka menjadi amat gembira dan sepanjang hari asyik membicarakan hal ini.
Mereka mulai sibuk memilih gaun pesta, perhiasan permata, dan bulu-bulu untuk menghiasi rambutnya. “Ayo kau mesti membantu menyisir rambut kami !” perintah salah seorang saudari tiri pada Cinderella.

Cinderella berusaha sebaik-baiknya, agar mereka nampak cantik. Namun, percuma saja dia selalu nampak jauh lebih elok daripada mereka, meskipun pakaiannya compang-camping. Kecantikan gadis ini membuat mereka gusar dan dengki.

“Mengapa kau tak pergi ke pesta juga, Cinderella ?” tanya lainnya.
Gadis malang itu menunduk untuk mengamati pakaian rombengnya, lalu berbisik, “Betapa inginnya aku pergi ke sana.”

Mereka tertawa berbahak-bahak sambil mengejeknya. “Bayangkanlah, seorang gadis gembel dalam Pesta Pangeran !”

Ketika Malam Pesta tiba, Cinderella menjadi amat sibuk membantu kedua saudari tirinya itu mengenakan pakaian pesta. Sampai akhirnya, keduanya melihat ke cermin sekali lagi dan berangkat. Sedikit pun mereka tak mengacuhkan Cinderella.

Dengan air mata berlinang, Cinderella menunggu sampai mereka pergi dengan keretanya.
“Oh, betapa aku juga ingin pergi ke sana,” bisiknya pada dirinya sendiri. Tiba-tiba, terdengar suara seseorang di belakangnya.
“Kau bisa pergi ke sana, anakku !”
Cinderella berbalik dengan cepat. Di depannya, berdiri seorang bidadari cantik dengan sebuah tiara di atas kepalanya dan sebatang tongkat sakti di tangannya dengan berkata :
“Aku adalah bidadari, aku akan membantumu agar kau bisa pergi ke pesta Sang Pangeran. Sekarang, larilah ke kebun dan ambilkan untukku sebuah labu yang terbesar !”
Cinderella lari dengan gembira ke kebun untuk mengerjakan apa yang diminta oleh Sang Bidadari. Cinderella memetik sebuah labu yang terbaik dan terbesar, lalu membawanya ke hadapan Sang Bidadari.

“Inilah labu yang terbaik di dalam kebun,” ujarnya dengan riang. Sang Bidadari mengayunkan tongkat saktinya di atas labu itu. Dalam sekejap mata, buah itu berubah menjadi sebuah kereta berwarna merah yang amat indah dengan perhiasan emas di sekelilingnya.

“Sekarang kita membutuhkan 6 ekor kuda untuk keretamu ini,” ujar Sang Bidadari. “Cepat ambilkan perangkap tikus !”

Cinderella mengambil perangkap tikus yang berisi 6 ekor tikus kecil. “Buka pintunya dan keluarkan mereka !” ujar Sang Bidadari.

Begitu tikus-tikus itu lari keluar, Sang Bidadari  mengibaskan tongkatnya di atas mereka. Seketika mereka berubah menjadi 6 ekor kuda putih yang perkasa. Bulu surai dan ekornya panjang, lebat dan amat indah. Kepalanya dihiasi dengan pita-pita perak.
“Nah, sekarang kita membutuhkan seorang kusir. Coba ambilkan jebakan tikus !” ujar sang bidadari.
Cinderella mengambil jebakan tikus yang berisi seekor tikus besar. Dia membuka pintunya dan ketika tikus itu lari keluar, Sang Bidadari mengayunkan tongkat saktinya. Seketika tikus itu berubah menjadi tukang kusir yang gagah. Pakaiannya dihiasi dengan kancing perak dan emas. Topinya berjambul kuning, dan kakinya memakai sepatu hitam yang berkilat.

Ia membungkuk sambil memberi hormat, lalu dia melompat naik ke atas kursi depan kereta dan memegang tali kendali dengan kedua tangannya. “Kau harus pergi ke pesta itu dengan anggun,” ujar Sang Bidadari lagi. “Karena itu, kau memerlukan pengawal-pengawal.” Dia berpikir sejenak, lalu berkata, “Coba tangkaplah 6 ekor kadal hijau.”

Cinderella lari lagi ke kebun dan kembali dengan membawa 6 ekor kadal hijau. Sang Bidadari melambaikan tongkatnya. Seketika, mereka berubah menjadi 6 orang pengawal yang gagah berseragam warna ungu dengan dipenuhi perhiasan emas.  

“Nah,” Sang Bidadari mengedipkan matanya pada Cinderella. “Kau sudah memiliki perlengkapan seorang ratu. Senangkah kau ?” Cinderella menunduk sambil memandang pakaiannya yang compang-camping. “Bagaimana aku bisa pergi ke Pesta Sang Pangeran dengan pakaian seperti ini ?” keluhnya.

Sang Bidadari tertawa ramah dan mengubah pakaian Cinderella dengan tongkatnya. Seketika, pakaian jelek itu berganti menjadi gaun pesta yang amat indah dengan perhiasan emas dan bunga-bunga mawar berwarna merah jambu.

Tangannya terselubung sarung tangan putih dan rambutnya dihiasi dengan perhiasan intan. Sepasang kakinya mengenakan sepasang selop kaca yang amat indah. Tentu saja, Cinderella menjadi amat sangat cantik.

“Nah, sekarang pergilah ke pesta !” ujar Sang Bidadari. “Namun ingatlah, bahwa kekuatan sihir ini akan habis tepat pada tengah malam. Bila pada saat itu, kau masih belum pulang ke rumah, maka kau akan kehilangan kereta serta para pengawalmu dan kau akan berpakaian rombeng kembali !”

Cinderella berjanji, bahwa ia akan pulang ke rumahnya sebelum Jam 12 tengah malam. Lalu, ia naik ke dalam kereta yang indah itu dan pergi menuju ke pesta. Wajahnya terlihat sangat berseri-seri dan bahagia sekali. 
 
Ketika Cinderella tiba di pesta, semua orang tercengang melihatnya. “Wah, betapa cantiknya dia,” bisik seseorang. “Aku heran, siapakah dia ?” bisik yang lain.

Setiap orang mengira, bahwa dia adalah seorang putri raja yang datang dari negeri jauh. Tiada seorang pun yang tahu, bahwa dia adalah seorang gadis yatim piatu yang amat melarat. Begitu pula, dua orang saudari tiri mereka sampai tak mengenalinya. Mereka iri hati melihatnya.
“Pangeran tak mau berdansa dengan siapapun, kecuali hanya dia saja,” bisik mereka dengan cemburu.
Memang Cinderella dan Sang Pangeran adalah pasangan yang amat serasi dalam pesta itu. Ketika mereka berdansa, permata dan selop Cinderella tampak berkilauan tertimpa sinar ribuan lilin. Sang Pangeran terpikat dengan keelokan gadis yang belum pernah dilihatnya ini dan ia tak mau sedikitpun beranjak dari sisinya.

Ketika hidangan telah tersedia, Sang Pangeran sendiri yang memilihkan kue-kue yang lezat dan buah-buahan terbaik yang dikhususkan untuk Cinderella. Lalu, ia membimbing lengannya dan membawanya ke hadapan Raja dan Ratu. Pangeran mengatakan kepada mereka, bahwa ia mencintai gadis ini.

Cinderella menjadi amat berbahagia, hingga dia lupa akan waktu.

Jam terakhir telah tiba. Bila tengah malam telah lewat, Cinderella akan berubah menjadi biasa kembali. Sedangkan sekarang, keliatannya ia telah lupa akan janjinya.

Tiba-tiba terdengar lonceng istana berdentang. Ternyata, waktunya sudah memasuki tengah malam. Pada dentang lonceng yang pertama, Cinderella tersadar dan ingat kembali akan pesan Sang Bidadari.

Bergegas ia meninggalkan Sang Pangeran dan lari ke luar dari Aula Pesta. Di luar istana, sebuah selopnya terlepas dan tertinggal di anak tangga pintu gerbang istana. Dalam keadaan tergesa-gesa, Cinderella tak sempat mengambilnya lagi.

Lonceng masih terus berdentang 12 kali. Si Kusir sedang menunggu di dalam keretanya yang berada di luar pintu gerbang istana. Namun begitu, Cinderella naik, dentang lonceng yang terakhir bergema. Dalam sekejap mata, segalanya kembali ke asalnya.

Kereta kembali menjadi buah labu, sang kusir dan 6 ekor kuda putihnya kembali menjadi tikus besar dan 6 curut-curut. Sang pengawal kembali menjadi kadal. Mereka semua berlarian masuk ke semak-semak, dan Cinderella sendiri kembali juga mengenakan pakaian rombengnya yang jelek.  Hanya tersisa selop kanannya saja yang masih utuh.

Perlahan-lahan, dia berjalan kaki pulang ke rumahnya sambil mengenang pesta yang menyenangkan itu. Dia telah berada kembali di dapur, di sudut cerobong asap sebelum kedua saudari tirinya pulang. Diam-diam, Cinderella menyimpan selop kacanya yang indah itu dalam sakunya, agar tak diketahui oleh mereka.

Esok paginya, orang-orang dibangunkan oleh suara keras. Ketika mereka melihat dari jendela dan pintunya, nampaklah seorang pembawa pesan dari istana di atas kudanya.

Ia mengumumkan, bahwa Sang Pangeran sedang mencari gadis cantik yang semalam tadi berdansa dengannya dalam pesta. Sang Pangeran telah menemukan sebelah selopnya dan ia akan mengunjungi setiap rumah dalam kerajaan ini, untuk menemukan gadis yang bisa memakai selop itu. Dalam pengumumannya disebutkan, barang siapa yang cocok kakinya akan dijadikan mempelainya.

Tentu saja, semua gadis dalam kerajaan itu menjadi amat tertarik. Mereka bergegas mengenakan pakaiannya yang terindah agar nampak cantik bila Sang Pangeran datang berkunjung. Dua saudari tiri, Cinderella juga tak mau ketinggalan. Namun, Cinderella saja yang tak punya pakaian lain selain daripada pakaian rombengnya ini.

Sang Pangeran mengunjungi setiap rumah. Sampai akhirnya, ia tiba di rumah Cinderella. Dua saudari tiri Cinderella bergegas menyambutnya.

“Selop itu pasti cocok pada kakiku !” seru gadis yang tertua. Namun, ia tak bisa memasukkan jari-jari kakinya ke dalam selop yang mungil itu. Begitu juga dengan adiknya, tapi dia tetap sama saja tidak bisa mengenakan selop itu pada kakinya.  
   
Cinderella duduk saja di pojok, ketika mereka tengah mencoba selop itu. Tak disangkanya, Sang Pangeran memperhatikannya sedari tadi. Sang Pangeran merasa, bahwa ia sudah pernah melihat wajah yang cantik itu sebelumnya.

“Maukah kau mencoba memakai selop ini ?” pintanya.

“Ya, aku mau mencobanya,” jawab Cinderella malu-malu. “Kau !” seru saudara tirinya sambil menghardik murka. “Ayo, kembalilah ke tempatmu di dapur !”

Namun, Sang Pangeran mencegahnya. “Biarkan ia mencobanya !” perintahnya.

Cinderella memasukkan kakinya dengan mudah ke dalam selop gelas itu. Sesaat semua orang tercengang. Lalu, semua orang dibuat tercengang sekali lagi, karena ia mengeluarkan selop gelas yang lain dari dalam sakunya dan mengenakannya ke dalam kaki kanannya.

Tepat pada saat itu, Sang Bidadari muncul kembali. Dia menyentuh Cinderella dengan tongkatnya. Dalam sekejap, semua pakaian rombengnya lenyap dan berganti dengan pakaian pesta yang indah dan kilau bergemilang.

Kedua saudari tirinya begitu tercengang, hingga mereka tak bisa berkata sepatah kata pun. Tetapi, Sang Pangeran bukan main gembiranya. Ia memandang Cinderella dengan penuh suka-cita, lalu membungkuk di depannya.  

“Inilah sang mempelai yang sejati !” ujarnya sambil mencium tangan kanan si gadis.

Seluruh kerajaan bergembira-ria. Pesta perkawinan mereka dilaksanakan dengan amat meriah selama 3 hari 3 malam. Cinderella memaafkan semua kesalahan kedua saudari tirinya. Padahal apa yang sudah dilakukan saudari-saudarinya jauh sangat menyakitkan hati.

Namun begitulah jika seorang berjiwa besar, ia mampu memaafkan kesalahan orang lain justru di saat dia mampu membalas kejahatan musuh-musuhnya. Bahkan, Cinderella mengajak mereka hidup bersama dalam istana. Kemudian, mereka menikah juga dengan 2 orang bangsawan istana.  
Pelajaran yang bisa kamu petik dari Dongeng Cinderella dan Sang Pangeran – Sepatu Kaca dan Bidadari, yaitu memiliki jiwa yang besar dan pemaaf, tidak terlalu terbuai dengan kenikmatan, tepat waktu dan harus menepati janji, jangan menganiaya orang lain, serta bersabar dalam menghadapi ujian dan cobaan.
Semoga kisah dongeng di atas bisa membantu kamu terkait pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.

Sumber : Buku "Kumpulan Dongeng Anak Sedunia" karangan MB. Rahimsyah AR.