Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

6 Ciri-Ciri Khas Agama (Dinul) Islam : Karakteristik Paling Lengkap

 

6 Ciri-Ciri Khas Agama (Dinul) Islam : Karakteristik Paling Lengkap

Sebagai agama, Islam mempunyai karakteristik tersendiri, di antaranya seperti sebagai agama yang paling benar, agama penyempurna dari agama-agama Allah sebelumnya, menjadi pedoman hidup umatnya, bahkan umat non islam, sekaligus faktor pendorong kemajuan di segala bidang, dan sekian banyak ciri-ciri sebagaimana diterangkan sebagai berikut.

1. Melanjutkan Tradisi Tauhid

Ajaran Islam sebenarnya telah ada sejak Nabi Adam, dilanjutkan oleh Nabi Nuh, Ibrahim, Daud, Musa, Isa dan terakhir yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. sampai sekarang ini. Rangkaian tersebut merupakan mata rantai sejarah yang membuktikan kesempurnaan agama Islam yang diturunkan Allah untuk menguatkan tradisi tauhid, yaitu perintah untuk hanya mengakui dan menyembah kepada-Nya.

Hal ini sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Anbiyaa' ayat 25 sebagai berikut :

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِىٓ إِلَيْهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدُونِ

Artinya : "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya : "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku."

Dengan ajaran tauhid, manusia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, karena tauhid merupakan tujuan utama dari Dinul Islam, sebagaimana do'a yang selalu kita lantunkan setiap saat terutama setelah shalat, yaitu :

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Artinya : "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia maupun kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Al Baqarah : 201)

 

2. Menyempurnakan Agama yang Terdahulu

Dalam sejarah jauh sebelum Islam datang, di bumi ini sudah terdapat beragam agama dengan macam-macam kitab sucinya, yang pada dasarnya terbagi menjadi 2 jenis agama, yaitu Agama Samawi (Agama Langit) yang datangnya dari suatu kekuatan ghaib, dan Agama Ardhi (Agama Bumi) yang datangnya dari suatu benda yang nampak, yang dipercayai mempunyai kekuatan.

Dalam Pengantar Buku Agama Islam, Ibrahim Lubis mengatakan bahwa, sebelum Islam telah ada agama di Mesir, Hindu dan Budha di India, Majusi di Iran, Kong Hu Chu di Tiongkok, Shinto di Jepang, Yahudi di Israel dan Nasrani di Palestina.

Akan tetapi dalam perkembangannya, agama-agama tersebut mempunyai kelemahan dan keterbatasan masing-masing, yaitu di antara lain agama tersebut hanya diperuntukkan bagi umat tertentu, sebagaimana tersebut di atas, agama yang berkembang di Iran misalnya, tidak dapat diterima di India dan Israel, begitu sebaliknya.

Sedangkan Agama Islam, mempunyai ajaran dan misi yang dapat diterima oleh berbagai suku dan bangsa di dunia ini, hal ini sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Furqan ayat 1, sebagai berikut :

تَبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِۦ لِيَكُونَ لِلْعَٰلَمِينَ نَذِيرًا

Artinya : "Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam."

Hukum-hukum yang terdapat dalam agama-agama tersebut berbeda-beda. Hal itu disebabkan, kitab-kitab mereka selalu dirubah sesuai dengan kehendak pemimpin mereka, dan yang sedang berkuasa saat itu, apabila pemimpinnya berganti, maka kitab mereka bisa akan berubah lagi sewaktu-waktu, begitu seterusnya.

Taurat, telah diganti oleh para pengikut Nabi Musa sesuai dengan hawa nafsu mereka, sehingga sampai periode berikutnya, keaslian Taurat tidak pernah ditemukan.

Begitu juga Injil oleh pengikut Nabi Isa, ajaran- ajaran yang suci banyak dirubah sesuai dengan kehendak mereka, sehingga sudah tidak ada lagi Ahli Kitab (orang yang mengikuti injil yang asli) yang berarti, injil yang sekarang ada adalah hasil dari campuran rekayasa Umat Kristiani.

Berbeda dengan Al-Qur'an, sejak Zaman Nabi Muhammad SAW. sampai sekarang, tidak ada perubahan sedikit pun, baik isi maupun kandungannya, baik kuantitas maupun kualitasnya, hal ini sudah dijamin keasliannya oleh Allah SWT., sebagaimana Firman-Nya dalam Al-Qur'an, Surat Al-Hijr ayat 9 sebagai berikut :

 إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ

Artinya : "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya."

 

3. Agama Fitrah

Apabila seseorang mengamalkan ajaran Islam, dengan penuh keikhlasan hanya mengharap Ridla Allah SWT. Maka, orang tersebut akan mendapatkan kedamaian, kebahagiaan dan kemuliaan di dalam hatinya dan kehidupannya.

Sedangkan yang dimaksud agama fitrah yaitu, syariat Islam yang diamalkan oleh manusia, dapat menopang fitrah manusia dan kebutuhan dasarnya, yaitu menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga keturunan, menjaga harta, dan menjaga akal.

Dalam ajaran Islam, penjagaan tersebut dinamakan Maqashid Al-Khamsah. Dengan mengamalkan dan menjaga kelima hal tersebut, diharapkan manusia mencapai kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.


4. Pendorong Kemajuan

Manusia harus mencurahkan segenap potensinya, untuk memikirkan hikmah penciptaan langit, bumi beserta isinya, dengan seluruh keteraturan dan ketelitiannya. Dengan memaksimalkan akal dan pikiran, manusia dapat menemukan sesuatu yang luar biasa, dan penemuan tersebut semata-mata adalah untuk menuju hidup yang sesuai dengan misi tauhid, yaitu membebaskan manusia dari makhluk yang hina dan rendah martabatnya.

Dalam Al-Qur'an, Allah menantang manusia untuk memperhatikan dan merenungkan segala hasil ciptaan-Nya, sebagaimana dalam Surat Yunus ayat 101 yang berbunyi ;

قُلِ انْظُرُوۡا مَاذَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ ‌ؕ وَمَا تُغۡنِى الۡاٰيٰتُ وَالنُّذُرُ عَنۡ قَوۡمٍ لَّا يُؤۡمِنُوۡنَ

Artinya : “Katakanlah, "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Para Rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman."

Perintah yang di atas tersebut, karena Allah menciptakan semua ini, bukanlah sesuatu yang sia-sia, sebagaimana Firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 191 yang berbunyi ;

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Artinya: "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."

Dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluk merdeka dan bebas memilih dalam kehidupannya, karena Allah memberikan potensi yang sama kepada seluruh manusia, yaitu potensi positif dan negatif, kebaikan dan kejelekan.

Walaupun pilihan tersebut, akan mengakibatkan dia harus siap mempertanggungjawabkan apa yang menjadi pilihannya.

Yang diharapkan dalam Islam adalah justru dengan kebebasan tersebut, manusia dapat lebih kreatif dalam mengelola dan memakmurkan bumi, sebab tanpa kreatifitas, manusia akan stagnan dan tidak berkembang maupun berubah nasibnya, sebagaimana dalam Al-Qur'an Surat Ar-Ra'du ayat 11 yang berbunyi ;

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِهِمۡ‌ؕ

Artinya : "Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

Dorongan untuk meningkatkan kreatifitas tersebut, dikarenakan ajaran dan syariat Islam, tidak mengatur secara rinci dan detail hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan dunia, termasuk perkembangan budaya dan peradabannya.

Dalam Al-Qur'an, hanya memberikan garis besarnya saja, manusia-lah yang diberikan kebebasan dan wewenang untuk menjabarkannya secara mendetail, sejauh tidak menyimpang dari apa yang ada dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi.

 

5. Mengintegrasikan Iman, Ilmu dan Amal

Iman merupakan dasar, ilmu adalah apa yang diketahui serta cara melakukan dan amal merupakan implementasi atau pelaksanaan dari apa yang diyakini (iman) dan dari apa yang diketahuinya (ilmu).

Jadi, ketiga unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan untuk beramal dan beribadah, seseorang harus mempunyai iman yang kuat serta mengetahui ilmu dari apa yang diamalkannya.

Allah SWT. berjanji untuk meninggikan derajat di sisi-Nya, sebagaimana Firman-Nya dalam Surat Al-Mujadilah ayat 11 yang berbunyi ;

يَرۡفَعِ اللّٰهُ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡكُمۡ ۙ وَالَّذِيۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ دَرَجٰتٍ ‌ؕ

Artinya : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."

Dalam usaha memperkuat dan memperdalam keyakinan, diperlukan ilmu pengetahuan yang luas. Karena tanpa ilmu, seseorang akan terjerumus kepada hal-hal yang justru merusak iman, dan secara otomatis, amal yang dikerjakan juga tidak bermakna ibadah, hal tersebut dikarenakan seseorang tidak menguasai ilmunya.

Untuk itu, memperdalam ilmu adalah sesuatu yang harus dilakukan, baik ilmu agama, maupun ilmu-ilmu umum yang dapat mengantarkan manusia menjadi paham dan mengerti atas apa yang diyakini kebenarannya dan apa yang dilakukan.

Sehingga dapat tercapailah kebahagiaan dan keselamatan hidup, dari dunia sampai akhirat kelak. Perintah memperdalam ilmu, sebagaimana Firman Allah dalam Surat Ar-Rahman ayat 33, sebagaimana berikut :

يَٰمَعْشَرَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ إِنِ ٱسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا۟ مِنْ أَقْطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ فَٱنفُذُوا۟ ۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَٰنٍ

Artinya : "Hai Jama'ah Jin dan Manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, (niscaya) kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan."

Dengan dikuasainya ilmu pengetahuan, manusia akan mempunyai peradaban, maju dan mundurnya peradaban manusia, ditentukan secara signifikan oleh ilmu pengetahuan yang berkembang pada suatu zaman dan era manusia saat itu.

Dalam sejarah, Islam menunjukkan betapa ilmu pengetahuan sangat penting, hal ini terbukti dari para sahabat dan tabi'in yang banyak menciptakan dan menemukan ilmu pengetahuan, seperti ilmu matematika oleh Al-Khwarizmi, ilmu kedokteran oleh Ibnu Shina, ilmu sosiologi oleh Ibnu Khaldun, dan lain-lain.

Ilmu pengetahuan yang bersumber dari wahyu Allah yang berupa qauliyah (Firman Allah dalam ayat-ayat Al-Qur'an) maupun kauniyah (Tanda Kebesaran Allah yang berupa alam semesta), kedudukannya sejajar dengan ajaran agama, apalagi dalam menghadapi zaman akhir ini, agama dan ilmu pengetahuan sangat penting untuk dikuasai.

Ricard Gregory dalam Bukunya, Religion in Science and Civilization mengatakan, bahwa agama dan ilmu pengetahuan adalah dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan insani di seluruh tahap-tahap peradaban.

Rasulullah SAW. sendiri pernah bersabda : "Mencari ilmu adalah kewajiban bagi orang Islam laki-laki maupun perempuan." (HR. Bukhari dan Muslim).

 

6. Memberikan Pedoman Hidup bagi Manusia

Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya (Hablum Minallah), yang menyangkut masalah pengabdian (ibadah) makhluk pada Sang Khalik-nya, akan tetapi Islam juga mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain (Hablum Minannas), yang artinya Dinul Islam juga merupakan jalan hidup (way of life) yang dapat dijadikan sumber aturan sebagai pedoman oleh umat manusia.

Pedoman dan petunjuk yang digunakan untuk memecahkan dan mencari jalan keluar dari masalah- masalah yang dihadapinya. Selain itu, hubungan manusia dengan manusia (mu'amalah) meliputi pada banyak sektor kehidupan dari agama, politik, sosial, budaya, ekonomi, pertahanan dan keamanan.

Dengan ajaran Islam, diharapkan semua aspek tersebut menjadi terarah dan dilakukan hanya mencari Ridha Allah SWT., sebaliknya manusia yang menggunakan ajaran selain Islam, bahkan tidak bertuhan, maka kehidupannya akan kering dan tak jelas arah tujuannya.

Jadi, Islam dengan ajaran sucinya memberikan pedoman bagi semua manusia, dalam segala aspek kehidupannya, dan dengan mengamalkan ajaran Islam, tujuan hidupnya akan tercapai yaitu kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.