Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Sukses Sandiaga Uno, Konglomerat Muda Terkaya Di Indonesia

Kisah Sukses Sandiaga Uno, Konglomerat Muda Terkaya Di Indonesia

Nama Lengkap

Sandiaga Salahuddin Uno

Tempat, Tanggal Lahir

Rumbai, Pekan Baru, Riau, 28 Juni 1969

Total Harta Kekayaan

Mencapai Rp 5 Triliun

Jenjang Pendidikan

Jurusan Administrasi Bisnis (S1), Wichita State University (1990)

Jurusan Administrasi Bisnis (S2), George Washington University (1992)

Jurusan Manajemen (S3), Universitas Pelita Harapan (2020)

Karir Perusahaan

·       Pendiri PT. Recapital Advisors

·       Pendiri PT. Saratoga Investama Sedaya

·       Direktur PT. Adaro Indonesia, PT. Indonesia Bulk Terminal, PT. Mitra Global Telekomunikasi Indonesia, Interra Resources Limited, PT. iFORTE SOLUSI INFOTEK


Sandiaga Uno ternyata konglomerat muda yang berhasil masuk jajaran 50 orang terkaya di Indonesia dengan total aset triliunan rupiah, membawahi lebih dari 100.000 karyawan, mempunyai pesawat jet pribadi serta berpengalaman menjadi penasehat presiden.

Jika dipikir-pikir, keberhasilan Sandiaga Uno ini dalam membangun kekayaannya ternyata bukan berasal dari harta warisan dan hibah kedua orang tuanya. Perjalanan bisnisnya bisa dikatakan penuh lika-liku dan tidak semulus dari apa yang dibayangkan orang-orang, ia juga mengaku kalau dirinya pernah menunggu lama sampai 2 jam hanya demi bertemu kliennya dan selain itu, ia juga pernah ditolak bank sebanyak 25 kali dalam waktu seminggu untuk pengajuan kredit hutang.  

Sandiaga Salahuddin Uno lahir di Rumbai, 28 Juni 1969. Sandi lulus kuliah dari The Wichita State University, Kansas, Amerika Serikat, pada Tahun 1990 dengan predikat Summa Cumlaude. Setelah itu, anak dari Mien Uno ini bekerja di Bank Summa, milik William Soeryadjaya (Bos Astra).

Baca Juga :

Pada Tahun 1991, Sandi pernah mendapatkan beasiswa dari William untuk melanjutkan pendidikan di George Washington University, Amerika Serikat dan berhasil lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif 4,00. Namun saat itulah, Bank Summa harus ditutup, karena bank tersebut terkena dampak perang di Timur Tengah.

Sehingga Bank Summa kala itu yang pernah mengelola Yayasan Soeharto dan uang tersebut telah diinvestasikan di Kawasan Timur Tengah namun dikarenakan efek dari perang tersebut, mengakibatkan uang tidak bisa diambil.

Pada Tahun 1994, Sandi mulai bergabung dengan MP Holding Limited Group sebagai Investment Manager. Pada Tahun 1995, ia pindah ke NTI Resources Ltd. di Kanada dan menduduki jabatan Executive Vice President NTI Resources Ltd. dengan penghasilan 8.000 Dolar AS per bulan.

Sayangnya, karirnya itu tidak berlangsung lama karena terjadinya krisis moneter sejak akhir Tahun 1997 yang menyebabkan perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Semua tabungan hasil jerih payahnya yang diinvestasikan ke Pasar Modal juga turut kandas akibat ambruknya Bursa Saham Global.

"Sebagai karyawan perusahaan, banyak hal dapat terjadi di luar kontrol kita. Apabila keadaan ekonomi memburuk, ada kemungkinan kita di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) meskipun kita memiliki prestasi di perusahaan itu," tutur anak bungsu dari dua bersaudara itu.

Inilah masa-masa berat bagi Sandi,

"Biasanya saya dapat gaji setiap bulan, tapi sekarang berpikir bagaimana bisa survive," Sandi memutuskan untuk membangun usaha dengan teman SMA-nya dengan nama PT. Recapital Advisors.

Dengan modal berkecukupan, ia menyewa tempat kecil yang kemudian disulap menjadi kantor dengan karyawannya yang hanya ada 4 orang. Tempat ini dulunya adalah Studio Foto dengan warna cat pink, sehingga jika setiap ada klien yang ingin datang, Sandiaga tidak mau bertemu di kantornya melainkan mengajaknya ke hotel karena ia malu.

Untuk mengembangkan usahanya, Sandiaga pernah mengajukan kredit kepada bank. Dalam seminggu, Sandiaga pernah ditolak oleh bank tidak kurang dari 25 kali sekaligus penolakan dan penghinaan kerap kali dicicipinya. Ketidakpercayaan klien juga menjadi makanan sehari-hari karena penampilan Sandiaga waktu itu masih terlihat sangat muda.

 

Semakin Ditolak, Sandi Semakin Bersemangat

Hubungan dekat Sandi dengan Keluarga Soeryadjaja membawa Sandi mendirikan Perusahaan Investasi PT. Saratoga Investama Sedaya bersama anaknya, Edwin Soeryadjaja yang merupakan Perusahaan Private Equity. Perusahaan Saratoga juga pemegang saham besar di PT Adaro Energy Tbk., Perusahaan Batu Bara terbesar kedua di Indonesia yang punya cadangan 928 juta ton batu bara.

Cara kerja Perusahaan Private Equity adalah dengan membeli perusahaan-perusahaan yang sudah hampir mati dan berada dalam perawatan BPPN, sekarang berganti nama menjadi PPA. Kemudian, perusahaan ini lantas disuntikkan dana, lalu diperbaiki kualitas managemennya, setelah menghasilkan keuntungan, perusahaan ini dapat dijual kembali.

Sandi sendiri terlibat dalam banyak sekali pembelian maupun refinancing perusahaan-perusahaan, misalnya mengakuisisi Adaro, BTPN, hingga Hotel Grand Kemang.

Private Equity Fund adalah Perusahaan Pengelola Investasi yang mendapat sponsor dari berbagai pihak, baik dari individual maupun institusi yang tugasnya mencari perusahaan-perusahaan yang bermasalah yang layak dikucurkan investasi, lalu diperbaiki peningkatan kinerjanya dan kemudian dijual kembali.

Teruntuk prosentase bagi hasilnya bisa beragam, Private Equity bisa mendapat Fee Management sebesar 2 % dan 20 % untuk Carry Interest (semacam Success Fee).

Kesuksesan Perusahaan Private Equity dalam menyembuhkan perusahaan sakit terletak pada penempatan para SDM berkualitas, pembenahan sistem manajemen yang transparan, dan sistem kompensasi pegawai dengan kinerja.

Bisnis yang dijalankan Sandiaga pada waktu itu tergolong sedikit pemainnya dan prospeknya bisa dikatakan bagus, maka tidak berapa lama kemudian, dengan berkat doa dan kerja keras, Sandiga terus berusaha mencari peluang baru.

Ia banyak sekali menemui orang-orang kaya dan berpotensial, sekarang ia menjadi orang yang sangat berhasil dalam usia yang sangat muda. Ada lebih dari 16 perusahaan yang sudah diambil alih, beberapa perusahaan telah dijual, di antara lain PT. Dipasena Citra Darmaja, PT. Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), dan PT. Astra Microtronics.

Hal yang paling berat adalah memberikan keyakinan kepada para investor untuk menanamkan uangnya ke Private Equity, "Itu yang paling sulit, bagaimana meyakinkan bahwa Indonesia masih punya prospek."


Tips-Tips Bisnis Sandiaga Uno

1. Kerja Keras

Dalam menjalankan atau mengerjakan sesuatu, walaupun kita sudah bekerja sekeras apapun, apabila tidak fokus, maka hasilnya tidak akan bisa mencapai titik maksimal.

2. Pantang Menyerah

Jangan pernah takut akan kegagalan, karena sejatinya kita tidak akan bisa mencapai puncak kesuksesan sebelum mengalami kegagalan. Berikutnya adalah kerja keras, pantang menyerah, disiplin, dan fokus dalam menjalankan setiap usaha.

Jangan pula takut memulai usaha yang berbeda dari yang lain, teruslah berinovasi dan satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan, perluaslah jaringan atau network,

"Dunia usaha seperti naik sepeda, yakni kerap jatuh dan bangun. Hanya keberanian serta optimisme dalam memandang masa depan yang membuka jalan untuk mendulang kesuksesan.”

3. Networking

"Jejaring relasi hanya menyumbang 30 persen dari kesuksesan. Unsur kesuksesan selebihnya bersumber dari kerja keras dan menjaga kepercayaan."

4. Target

"Hidup harus punya target. Tanpa target, pencapaian akan sulit."

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.