Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Sukses Li Ka Shing, Konglomerat Terkaya di Asia Timur

Kisah Sukses Li Ka Shing, Konglomerat Terkaya di Asia Timur

Nama Lengkap

Li Ka-shing

Tempat, Tanggal Lahir

Chao'an, Chaozhou, Guangdong, China, 13 Juni 1928

Total Harta Kekayaan

Mencapai 24,7 Miliar USD atau setara Rp 345,8 Triliun

Jenjang Pendidikan

Drop-Out SMA

Karir Perusahaan

·       CEO Cheung Kong Holdings dan Telepon Genggam Hutchinson Whampoa

·       Investor Perusahaan Telekomunikasi Vodafone

·       Pendiri Li Ka Shing Foundation


Li Ka Shing adalah orang terkaya di Hongkong sekaligus pemangku jabatan CEO Cheung Kong Holdings dan Telepon Genggam Hutchinson Whampoa. Li juga pernah menyuntikkan dana segar senilai 11 Miliar USD ke Perusahaan Telekomunikasi Vodafone.

Cheung Kong Limited merupakan Gerbong Utama Cheung Kong Group yang memiliki operasi bisnis di 55 negara di dunia dan mempekerjakan sekitar 260.000 karyawan staf personalia. Di Hong Kong, grup tersebut mempunyai 8 perusahaan yang terdaftar dengan kapitalisasi pasar gabungan.

Berdasarkan perhitungan Forbes pada Tahun 2014, Li Ka Shing dimasukkan sebagai orang terkaya di Asia dengan kekayaan 31 Miliar USD. Dalam sebuah Konferensi Pers, Li Ka Shing mengatakan bahwa harta kekayaannya lebih banyak dari perkiraan Forbes, diperkirakan berkisar 2 kali lipat dari apa yang diperoleh Majalah terkenal itu.

 

Punya Impian Besar

Li Ka Shing dilahirkan pada tanggal 29 Juli 1928 di Chiu Chow, sebuah kota pantai di sebelah tenggara China. Pada Tahun 1940, dia menyeberang ke HongKong bersama seluruh keluarganya untuk menjauhi risiko dampak perang yang terjadi. Sayangnya, ayahnya menderita penyakit TBC dan meninggal dunia di HongKong akibat komplikasi penyakitnya tersebut.

Keadaan hidupnya sangat berat dan miskin, anggota keluarganya bersepakat untuk tinggal bersama di rumah kerabat yang berada di HongKong. Namun, Li merasa tidak betah dengan sikap kerabatnya itu yang dinilai congkak kepadanya. Sehingga, ia memutuskan untuk mengontrak dibandingkan merasa terhina tinggal dengan kerabatnya.

Setelah kematian ayahnya, Li berganti peran untuk menjadi tulang punggung keluarga. Saat berusia 15 tahun, ia tidak tahan lagi dengan kemiskinan yang dialaminya. Setelah dipikir-pikir, ia berkeyakinan penuh untuk meninggalkan bangku sekolah dan memilih bekerja di pabrik pembuatan bunga plastik.

Berbeda dengan pekerja pada umumnya, ia sendiri lebih suka menghabiskan masa kerjanya selama 18 jam sehari karena dia tidak mau membuang waktunya sia-sia. Terkesan gila, namun inilah prinsip hidup yang dipegang Li, walaupun sudah kaya raya sampai sekarang dia masih saja bekerja karena tidak betah menganggur.

Setelah beberapa tahun kemudian, ia merasa hidupnya tidak akan berubah dan sulit menjadi orang kaya selama dirinya terus bekerja di pabrik. Saat berusia 22 tahun, Li segera memberanikan diri untuk mendirikan perusahaan sendiri di bawah Bendera Cheung Kong Industries tepat pada Tahun 1950. Modal yang didapatkannya pun berasal dari hasil tabungan pribadinya dan hutang yang didapatkan dari teman-temannya.

Setelah mendapatkan modal yang cukup, Li segera mengembangkan usahanya ke sektor investasi Real Estate. 22 Tahun kemudian, perusahaannya berhasil terjun melantai di Bursa Saham Hongkong pada Tahun 1972. Seiring berkibarnya Bisnis Cheung Kong, membuat Li  semakin lebih percaya diri dalam mengakuisisi Hutchison Whampoa pada Tahun 1975 dan Hongkong Electric Holdings Limited pada Tahun 1985.

Sekarang ini, bisnis Cheung Kong Group telah merambah berbagai area, di antaranya ialah sektor pengembangan properti dan investasi, agen dan manajemen real estate, perhotelan, telekomunikasi dan E-Commerce, keuangan, ritel, kegiatan pelabuhan, energi, proyek infrastruktur dan bahan bangunan, media, serta bioteknologi.

Pada Tahun 2002, Li Ka Shing telah menyalurkan sebagian keuntungan perusahaannya ke Universitas Manajemen Singapura sebesar 11,5 Juta USD untuk pengembangan pendidikan tinggi. Pada 9 Maret 2007 silam, Li langsung menyisihkan uangnya sebesar 100 Juta Dollar Singapura, untuk kemudian diberikan kepada Lee Kuan Yew School of Public Policy di Universitas Nasional Singapura.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.