Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Sukses Lakshmi Mittal, Raja Baja Asal India Yang Mendunia

Kisah Sukses Lakshmi Mittal, Raja Baja Asal India Yang Mendunia

Nama Lengkap

Lakshmi Narayan Mittal

Tempat, Tanggal Lahir

Sadalpur, India, 15 Juni 1950

Total Harta Kekayaan

Mencapai 10,8 Miliar USD atau setara Rp 151,2 Triliun

Jenjang Pendidikan

Universitas St. Xavier's College

Karir Perusahaan

Pendiri Industri Baja, Perusahaan Mittal Steel Company NV


Lakshmi Narayan Mittal
(juga dikenal dengan Lakshmi Niwas Mittal) dilahirkan di Sadalpur, India pada tanggal 15 Juni 1950. Tidak ada yang menyangka, perjalanannya menjadi konglomerat India ternyata pernah mengawali usahanya dari Desa Kedungturi, Sidoarjo, Surabaya. Selain itu, Majalah Forbes juga pernah melambungkan namanya pada Tahun 2014 dengan perkiraan harta kekayaan sebesar 16,7 Miliar USD, sehingga dia menjadi orang yang sangat berpengaruh.

Selepas lulus SMA, Mittal disekolahkan ayahnya di Universitas St. Xavier's College, sebuah universitas paling berprestasi di Kolkata (dahulu bernama Calcutta) pada waktu itu. Mittal bukanlah tipe pemuda yang suka bermalas-malas. 

Baca Juga :

Selepas jam kuliah (06.30 - 09.30), ia sudah bekerja untuk membantu bisnis kecil-kecilan ayahnya yang semenjak berpindah dari Sadulpur, Rajasthan ke Kolkata atau Calcutta pada tahun 1955 mengalami perbaikan ekonomi walaupun tidak begitu jauh.

Pada tahun 1969, setelah lulus kuliah, Mittal sepenuhnya membantu ayahnya dan setahun kemudian, Mittal ikut menyukseskan usaha ayahnya ketika mendapat pesanan 20 ton baja per tahun. Tiba-tiba permasalahan kemudian muncul, ketika Pemerintah India membebankan pajak perusahaan sebesar 97 % dari jumlah sebelumnya.

Saat berusia 26 tahun, ia pun mencari akal agar usaha keluarganya tetap eksis. Akhirnya, dia memutuskan berpindah memboyong keluarganya dan relokasi usahanya ke Desa Kedungturi, Waru, daerah pinggiran Surabaya dan di sanalah, ia mulai mendirikan pabrik bajanya di atas tanah 16,5 Hektar dengan dinamai PT. Ispat Indo.

Selama 14 tahun, dia memegang sendiri pabrik bajanya di Surabaya dan bermula saat mendirikan pabrik bajanya di Desa Kedungturi, Mittal merekrut warga lokal, Nur Saidah yang bersedia membantunya dan menjadi pimpinan PT. Ispat Indo.

Waktu itu juga, ia masih belum fasih berbahasa Indonesia dan Inggris namun dikarenakan tekad untuk berekspansi ke luar negeri semakin kuat. Kemudian, dia berusaha melebarkan sayapnya ke luar negeri dan mengakuisisi perusahaan yang hampir bangkrut untuk diubah menjadi perusahaan yang menguntungkan.

Saat ini, perusahaan induknya bernama Arcelor Mittal, memiliki kapasitas produksinya mencapai 14 juta ton per tahun, setara dengan 52 kali kapasitas produksi Krakatau Steel sekarang ini. Pada Tahun 1994, Mittal terbang ke daerah Trinidad dan Tobago untuk mengakuisisi perusahaan baja pemerintah setempat yang harganya anjlok akibat dampak likuiditas dari kesalahan manajemen.

Jurus biasa yang dikeluarkan oleh Mittal, yaitu pengurangan pegawai, pembenahan dan perombakan manajemen, dan peningkatan produksi. Alhasil, perusahaan yang hampir bangkrut tersebut berhasil mendatangkan keuntungan karena diserahkan oleh Tim Khusus yang didatangkan dari India langsung.

Selanjutnya, dia berusaha berekspansi ke Meksiko. Mittal segera mengakuisisi Sicartsa, perusahaan baja milik pemerintah, yang tengah dirundung banyak masalah dan akhirnya dia berhasil menguatkan pondasi-pondasi bisnisnya lewat perusahaan barunya tersebut.

Padahal, Perusahaan Sicartsa ini pernah diguyur dana investasi sebesar 2,2 Miliar USD dan sudah dilengkapi fasilitas penunjang berteknologi tinggi. Namun, dikarenakan kondisi perekonomian Meksiko sedang kolaps sebab Era Booming Minyak sudah berakhir pada Masa Tahun 1990-an. Melihat kesempatan itu, Mittal segera memanfaatkan situasi dengan membeli perusahaan tersebut seharga 220 Juta USD saja.

Pemerintah Meksiko terkesan terburu-buru sekali karena sangat membutuhkan dana cepat, sehingga mereka rela melepaskan BUMN Baja itu. Setelah resmi dipegang oleh Mittal, ia segera mengganti namanya menjadi Perusahaan Mittal Steel Lazaro Cardenas, yang kelak cikal bakal tulang punggung produksi baja Kelompok Mittal Steel di seluruh dunia yang total produksinya mencapai 6,7 Ton per tahun.

Selain itu, ternyata deretan perusahaan baja yang berhasil diakuisisinya terus bertambah banyak hingga menyebar ke 17 Negara, seperti Meksiko, Kanada, Jerman, Irlandia, Inggris, Amerika Serikat, Kazakhstan, dan Polandia.

Hingga sekarang, Mittal beserta keluarganya menetap di London dan dari sinilah, ia bisa memberikan komando ke mana arah perusahaan akan bergerak. Arcelor Mittal adalah nama baru Holding Company Keluarga Mittal, yang semula bernama Ispat International dan Mittal Steel.

Di holding barunya itu, Lakshmi Mittal duduk sebagai Chief Executive Officer. Nama Arcelor Mittal bermula didapat setelah Mittal mengakuisisi pabrik baja terbesar di Eropa, Arcelor, berlokasi di Luksemburg yang sebelumnya pernah dimiliki bersama antara Pemerintah Perancis, Belgia, dan Spanyol.

Bisnis baja Keluarga Mittal terbagi dua, wilayah India dan di luar India. Untuk wilayah India, dikelola dua adik laki-lakinya, Pramod Kumara Mittal dan Vinod K. Mittal, di bawah naungan Global Steel Holdings yang kini telah menancapkan kukunya di Benua Afrika dan Eropa.

Pada Tahun 2006, Mittal mendapat penghargaan Business Person of 2006 dari The Sunday Times, International Newsmaker of the Year 2006 dari Majalah Time, dan Person of The Year 2006 dari Koran Financial Times. Dari kalangan sektor industri baja, ia mendapat penghargaan bergengsi, berupa Willy Korf Steel Vision Award (1998) dan American Metal Market and Paine Weber's World Steel Dynamics.

Di sisi lain, Mittal dikenal sebagai ahli melobi dan sangat licin. Demi menguasai perusahaan yang akan dicaploknya, dia biasanya menggunakan modus yang sama, yaitu membelinya saat harga sedang jatuh, diobok-obok agar mitranya yang masih ada di perusahaan itu panik dan hengkang dari situ, kemudian baru diambil alih penuh dan disehatkan kembali. Skema modusnya ini biasanya didahului dengan strategi lobi tingkat tinggi.

Banyak pemerintah negara lain yang menghadapi masalah, tersandung banyak kasus dan putus hubungan dengan Mittal namun sisi lain di Indonesia, SBY tampaknya sangat senang jika Mittal mau berbisnis di Indonesia.

Dalam pertemuan dengan Presiden SBY, Mittal menginginkan terjaminnya pasokan bijih besi, nikel, dan mangan dari Indonesia. Pihak Arcellor Mittal akan bekerja sama dengan PT. Aneka Tambang (Tbk) serta Krakatau Steel untuk meningkatkan kapasitas produksi PT. Ispat Indo.

Saat memulai bisnisnya di Desa Kedungturi Sidoarjo, Mittal pernah merasakan hidup sederhana, tetapi kini ia tinggal di Kawasan Elite Kensington Palace Garden London, yang dibelinya dari Bos Formula 1 Bernie Ecclestone seharga 128 Juta USD (setara dengan Rp 1,2 Triliun) yang merupakan salah satu rumah termahal di dunia. Dan untuk bepergian jarak jauh, Mittal lebih senang menggunakan pesawat pribadinya Gulfstream 550 yang harganya ditaksir sekitar hampir Rp 500 Miliar.

Di PT. Ispat Indo, sebenarnya masih ada sebuah ruangan dibiarkan kosong yang sengaja dipertahankan sesuai dengan bentuk awalnya, itulah ruangan Lakshmi Mittal dulu bekerja dan sekarang perusahaan tersebut memiliki lebih dari 800 orang karyawan dengan luas bangunan 15 Hektar di Indonesia.

Baca Juga :

 

Prinsip-Prinsip Dalam Berbisnis

Setelah membaca perjalanan bisnisnya Laksmi Mittal, kita dapat menyimpulkan karakter yang dipegang Mittal selama berbisnis, di antara lain :

  • Berani, Mittal berani memutuskan untuk berpindah dari kampung halamannya di India ke Indonesia, yang dimana sebuah tempat baru dan asing yang belum pernah dijamahnya, padahal dia sendiri saja masih belum fasih berbahasa Indonesia dan Inggris pada waktu itu.
  • Fokus, Mittal mengetahui bahwa baja adalah sektor bisnis di masa depan. Karena itu, ia terus berfokus pada bisnis yang akan menghasilkan banyak keuntungan itu.
  • Berjiwa Nasionalis dan Cinta Tanah Air, meskipun pernah merasakan susahnya hidup di India, Mittal tidak pernah dendam sama sekali dengan negaranya itu. Bahkan, ia banyak berderma dan terus membuka keran investasi di India, karena untuk membuka lapangan pekerjaan semakin luas dan memenuhi jumlah pasokan baja yang sangat besar.
  • Bermimpi besar, Mittal terus merangsek maju untuk membeli perusahaan baja negara-negara lainnya. Tanpa ada kata ampun, Mittal terus mengejar mimpinya menjadi raja baja dunia.
  • Dermawan, Mittal merupakan seorang dermawan yang banyak memberi kepada orang-orang yang membutuhkan.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.