Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Sukses Howard Schultz, Founder Starbuck Yang Ditolak Lebih Dari 217 Orang

Kisah Sukses Howard Schultz, Founder Starbuck Yang Ditolak Lebih Dari 217 Orang

Nama Lengkap

Howard Mark Schultz

Tempat, Tanggal Lahir

Brooklyn, New York, Amerika Serikat, 19 Juli 1953

Total Harta Kekayaan

 4,1 Miliar USD atau sekitar Rp 57,4 Triliun

Jenjang Pendidikan

  • Canarsie High School
  • Northern Michigan University

Karir Perusahaan

Founder of Starbucks


"Secangkir kopi satu setengah dolar ? Gila ! Siapa yang mau ? Ya Ampun, apakah Anda kira ini akan berhasil ? Orang-orang Amerika tidak akan pernah mengeluarkan satu setengah dolar untuk kopi,"
itulah salah satu sindiran dan penolakan yang diterima Howard, saat menelurkan ide untuk mengubah konsep penjualan Starbucks. Ide Howard pernah dianggap gila dan ditolak mentah-mentah oleh 217 orang.

Ia dilahirkan pada tanggal 19 Juli 1953, dibesarkan di Perumahan Bay View yang terkenal keras di New York. Ibunya bekerja sebagai resepsionis sedangkan ayahnya bekerja serabutan. Di kala usianya 7 tahun, ayahnya telah kehilangan pekerjaannya sebagai Sopir Pengantar Layanan Popok dikarenakan pergelangan kakinya patah dan diperparah lagi, ia tidak mendapatkan uang/jaminan asuransi kecelakaan untuk berobat.

Melihat cobaan yang menimpa orang tuanya, Howard muda bertekad menjadi orang besar. Ia berusaha keras untuk menjadi seorang atlet di SMA-nya, hingga akhirnya dinyatakan lolos mendapat beasiswa atletik di Universitas Northern Michigan. Selepas lulus mendapatkan gelar Sarjana Bisnis pada Tahun 1975, Howard memutuskan untuk bekerja di Divisi Penjualan dan Marketing Xerox Corp.

Perusahaan Xerox terkenal dengan karyawannya yang memiliki keahlian menjual dan pelatihan penjualan terbaik dan profesional. Pada usia 26 tahun, Howard kemudian keluar dari Perusahaan Xerox dan bekerja di Perusahaan Perabotan Rumah, Pestorp AB, asal Swedia agar bisa dipromosikan menjadi Wakil Presiden dan Manajer di Cabang Amerika, Hammerplast, Amerika Serikat.

Selama di sana, ia mengetahui ada sebuah perusahaan kecil di Kota Seattle yang bernama Starbucks yang telah banyak membeli banyak Mesin Kopi Ekspresso Hammerplast. Konon, awal mula nama Starbucks itu berasal dari kutipan pengarang buku, Herman Melville di Novel Klasik Moby Dick.  

Kedai Kopi Starbucks sebenarnya telah berdiri pada Tahun 1971 dalam sebuah toko yang berada dekat kawasan Pike Street Market yang terkenal di Kota Seattle. Kedai itu sendiri menjajakan biji kopi panggang yang segar dan siap untuk digiling juga dengan teh, bumbu-bumbu, dan aksesoris pembuatan kopi yang beragam.

Semakin penasaran, Howard langsung pergi mengamati Starbucks. Ketika dia mulai dikenali oleh kedua pemilik Starbucks, mereka berdua merasa kagum dan terpesona dengan sinergi (semangat) dan keahlian marketing yang dimiliki Howard.

Gerald Baldwin dan Gordon Bowker yang memang mempunyai pengetahuan bisnis yang minim sekali, mereka berdua sepakat untuk mengajak Howard untuk bergabung ke dalam kedainya. Setelah mendapatkan sebagian jatah saham kedai tersebut, ia akhirnya diangkat menjadi Kepala Marketing dan Operasi Ritel pada Tahun 1982. 

Setahun kemudian, ia mencoba untuk berliburan ke Italia dan tiba-tiba merasa terpesona dengan Bar Ekspresso yang bertebaran banyak di Kota Milan, akhirnya dia mendapatkan sebuah ide pencerahan.

"Mengapa tidak membuka sebuah bar kopi di Seattle ?" ungkap Howard dalam sebuah wawancara di Koran The New York Times.

Sepulangnya ke Seattle, Howard bercerita kepada bosnya tentang Bar Ekspresso di Italia namun sayangnya dia tidak tertarik. Howard meninggalkan Starbucks pada Tahun 1986 untuk membuka Bar Ekspressonya sendiri yang bernama II Giornale. Howard sadar bahwa dirinya tak punya cukup uang untuk mengembangkan kedai kopi miliknya, ia pun mengumpulkan investor-investor dari area Seattle. 

Saat itu, Starbucks sedang mengalami kesulitan keuangan dari pemodalan investor, Howard yang melihat kesempatan emas itu akhirnya membeli Starbucks dan menggabungkan kedai kopi miliknya. Starbucks menawarkan minuman-minuman kopi eksotik seperti Espresso, Cappucino, Caffe Latte, Ice Coffee, dan CafĂ© Mocha. 

Ia juga mencoba untuk menyiapkan sebuah atmosfer tokonya agar bisa lebih menarik bagi para customernya dengan nuansa tempat bersih dan terang yang pas.

Teringat masa lalunya yang dipenuhi perjuangan keras bersama orang tuanya, ia yakin bahwa pelayanan yang bersahabat dan efisien dapat meningkatkan penjualan, pengadaan training, memberikan stimulus para karyawan dengan Jaminan Kesehatan yang lengkap, baik bagi pekerja penuh dan juga paruh waktu, begitu juga dengan opsi pembagian saham. Tentu saja, hal ini merupakan sebuah praktik yang jarang terdengar di Perusahaan Amerika.

Berkat Visi Horward, Starbucks mengalami pertumbuhan pesat yang belum pernah terjadi sebelumnya di Tahun 1990-an, mulai berkembang dari 425 toko pada Tahun 1994 hingga lebih dari 2200 pada Tahun 1998. Pada Tahun 2000, Perusahaan miliknya akhirnya mampu memenuhi target dengan pencapaian 2 Miliar USD dari hasil penjualan.

Pada Tahun 1992, Starbucks sudah berani untuk Go Public dan menjual 2,1 Juta lembar saham seharga 17 USD per lembar, kala itu juga kedainya sudah membuka cabang sebanyak 125 gerai dan 2.000 karyawan. Pada Tahun 2002, jumlah gerainya berhasil mencapai 5.700 buah dan tersebar di 28 Negara.

Hingga kini, Starbucks sudah mempekerjakan hampir sekitar 60.000 pegawai dengan meraup penghasilan sebesar 2,6 Miliar USD, dan bertumbuh hingga 20 % setiap tahunnya. 

Menurut Howard, tidak ada rahasia terselubung di balik kesuksesan Starbucks itu sendiri, bahkan dia berani tidak mempatenkan produknya agar bisa ditiru oleh banyak orang tetapi ada satu hal menurutnya yang tidak bisa ditiru oleh orang lain, yaitu jiwa dalam sebuah bisnis.

Pada tahun 2002, dia menyatakan dirinya untuk pensiun dan dalam kurun waktu 15 tahun (sejak Go Public), perusahaannya berhasil mengembangkan sayap-sayap jumlah gerainya hingga 100 kali lipat merambah ke penjuru dunia. Sejak tahun 2007, Starbucks sudah memiliki lebih dari 13.000 kedai yang beroperasi di 39 Negara dan mempekerjakan sekitar 139.000 karyawan.

Sebenarnya, Starbucks sudah banyak tersebar di kota-kota besar Indonesia, namun terkadang perlu memakan waktu bertahun-tahun untuk menggandeng Starbucks dengan melobi.


Tips Berbisnis Howard Schultz

1. Asuransi Karyawan

Howard Schultz berasal dari kalangan keluarga yang miskin, ia pernah menyaksikan ayahnya tergeletak sakit begitu saja tanpa adanya asuransi kesehatan untuk berobat semasa dirinya kecil. Hal itulah yang dapat menginspirasi Howard untuk memberikan jaminan kesehatan kepada para karyawannya dan ternyata ini jauh lebih terjangkau dibandingkan biaya pelatihan karyawan baru. Dengan strategi inilah, Starbucks berhasil memenangkan loyalitas hati karyawan.

2. Mengutamakan Kualitas Terbaik

Jika dibandingkan gerai Starbucks di Indonesia dengan luar negeri, orang-orang akan merasakan kualitas terbaik sama-sama baiknya dengan ada yang di New York dan Tokyo.

3. Lokasi Premium

Gerai Starbuck akan memfokuskan kedainya pada lalu lintas pejalan kaki terpadat dan akan menambah gerainya hanya beberapa kilometer dari lokasi sebelumnya hingga suatu kawasan tertentu menjadi pelanggannya. Hal ini disebut yang namanya Strategi Selimut.

4. Promosi Mulut ke Mulut

Starbucks menginvestasikan kurang dari 1 % pendapatannya untuk iklan, sangat jarang Starbuck muncul di televisi, koran, ataupun radio karena mereka memiliki prinsip menumbuhkan lingkungan yang akan menjadi iklan efektif dari mulut ke mulut oleh pelanggannya.

5. Jualan bukan hanya sekedar Kopi

Starbucks telah menemukan bahwa konsumen menyukai sesuatu yang manis. Tidak hanya menawarkan kopi hitam, Starbucks menawarkan beragam minuman manis seperti minuman Java Chip Frappuccino disajikan dengan potongan cokelat, krim kocok, dan cokelat gerimis di atas, atau Toffee Nut Latte dengan sirup kacang toffee, krim kocok, dan renyah toffee. 

Minuman Caramel Macchiato dengan lengket, lezat dengan olesan saus karamel dan drizzled di atasnya. Produk mereka mungkin kelihatan tidak sehat, tetapi Starbucks telah membuktikkan bahwa konsumen Desserts mencintai mereka, bahkan dalam kedai kopi sekalipun. 

Bahkan, para konsumen juga dapat membeli CD tua biasa di Starbucks, bahkan pihak mereka sudah memiliki label rekaman dari Legenda Musik Paul Mc Cartney dan juga tidak lupa menyediakan akses internet gratis.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.



Berlangganan via Email