Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Sukses Hermes Thamrin, Sales Pembalut Yang Jadi Raja Ponsel Indonesia

Kisah Sukses Hermes Thamrin, Sales Pembalut Yang Jadi Raja Ponsel Indonesia

Nama Lengkap

Hermes Thamrin

Tempat, Tanggal Lahir

Tanjungbalai, Sumatera Utara, 30 Januari 1948

Total Harta Kekayaan

Mencapai kurang 65 Juta USD (Tahun 2010) atau setara Rp 910 Miliar

Jenjang Pendidikan

Belum Diketahui

Karir Perusahaan

·       Pendiri PT. Progisa Utama, PT. Sindo Prima Diwisesa, PT. Komiku Mediatama, PT. Dwidaya Adisakti, PT. Cipta Multi Usaha Perkasa, PT. Bimasakti Usindo Persada

·       Pendiri Global Teleshop Center (Global Group)

·       Pemilik Hermes Palace Mall dan Hermes Hotel

·       Pemilik Cambridge Mall dan Condominium


Hermes Thamrin sudah menjadi tidak asing lagi karena masuk jajaran kisah-kisah orang sukses yang patut didengarkan orang banyak. Selain itu, namanya melambung naik ketika ada beberapa majalah bisnis yang memberitakan data kekayaannya.

Jauh sebelum itu, ia dilahirkan di Tanjung Balai, Asahan, Sumatra Utara tepat pada tanggal 30 Januari 1948. Dia sudah terbiasa membantu ayahnya berdagang semenjak usianya 7 tahun. Saat menginjak usia 12 tahun, Hermes melihat ampas-ampas kelapa yang menumpuk banyak di pasar.

Baca Juga :

Melihat barang-barang itu tidak dimanfaatkan, tiba-tiba terbesit di pikiran Hermes untuk menjualnya sebagai pakan ternak. Selepas itu, bisnisnya itu mulai ditinggalkannya karena dia harus merantau ke Medan untuk bersekolah (SMA).

Kemudian saat dia mulai berkuliah, ia merasa tidak betah menghafal diktat-diktat materinya dan memutuskan untuk fokus bekerja. Kala itu, ia pernah bekerja sebagai Sales Komestik bermerk Max FaChairulor.

Setelah 2 tahun kemudian, ia pindah bekerja lagi ke Perusahaan Farmasi Multinasional asal Inggris. Karir Hermes bisa dikatakan cemerlang kurang dari 3 bulan, ia sudah naik jabatan sebagai penyedia Welcome se-Sumatera. Di sana, ia punya triks yang cukup unik, ia menggunakan SPG (Sales Promotion Girl) untuk produk Hazeline Snow.

Mengetahui kecemerlangan ide Hermes, bosnya segera mengajaknya ke Jakarta dan dijadikan sebagai Kepala Divisi Pemasaran Welcome selama 10 tahun, dengan jabatan terakhir Manajer Pemasaran. Karena haus akan tantangan, dia merasa karirnya sudah mencapai batas dan tidak ada tantangan yang dihadapi lagi.

Akhirnya, ketika dirinya berusia 34 tahun, dia bersama rekan-rekannya segera mendirikan usaha yang diberi nama PT. Progisa Utama, sebuah perusahaan distribusi pembalut wanita merk Cillcot. Setahun kemudian tepat pada Tahun 1983, ia mendirikan lagi PT. Sindo Prima Diwisesa yang bergerak sebagai distributor Cat Sygma Paint untuk keperluan industri.

Saat berusia 43 tahun, Hermes mendirikan PT. Komiku Mediatama yang menjadi pemegang Master Licence dan Merchandise aneka film kartun. Empat tahun kemudian, ia melihat peluang dari perkembangan ponsel yang begitu pesat.

Akhirnya, Hermes menjadi distributor ponsel Ericsson lewat perantara PT. Dwidaya Adisakti. Pada Bulan April 1997, Hermes mendirikan PT. Cipta Multi Usaha Perkasa dan menggandeng operator GSM Satelindo untuk mendistribusikan kartu telepon.

Seakan tiada henti melihat peluang, setelah 7 bulan kemudian, Hermes melalui PT. Bimasakti Usindo Persada, mendirikan Graha Nokia, Outlet Nokia Professional Center (NPC) pertama kalinya di Asia. Pada Tahun 2000, ia mendirikan Global Teleshop Center dan perusahaannya sudah berhasil melebarkan sayapnya hingga memiliki 372 gerai outlet di 28 provinsi dan lebih dari 110 kota setelah 10 tahun kemudian.

Hermes memasang target pencapaian omzet Global pada Tahun 2010 setidaknya harus mencapai Rp 1 Triliun, akibat adanya ini akhirnya omzetnya naik 20 %, sehingga omzet Global pada Tahun 2009 sudah berhasil menyentuh angka Rp 800 Miliar. Selain itu, ia juga membuat majalah yang ternyata laris juga, yaitu Majalah Seluler, sehingga berhasil mencetak sebanyak 30.000 eksemplar dalam sekali terbit.

Sejak Tahun 1996, Hermes menjajal untuk membeli properti yang ada di Australia. Pertama-tama, ia membeli sebuah rumah yang berlokasi di Kesingtown, Sydney dan memang sengaja diperuntukkan bagi anak-anaknya yang sedang berkuliah di Australia.

Pada Tahun 2010, ia berhasil membeli langsung dari pengembangnya langsung sebanyak 100 unit apartemen yang berada di Sydney. Setelah itu, ia akan menjualnya kembali dengan perantara agen properti atau dari mulut ke mulut.

Alhasil, keuntungan yang didapat dari hasil penjualan properti Australia berkisar 15-20 % dari tiap jenis apartemennya. Uang muka yang diberikan setiap pembelian apartemen di Australia tergolong ringan dan bisa mencapai 10 % dari harga rumah pada umumnya.

Jika dibandingkan, bunga hanya bertumbuh sekitar 5 persen per tahun, dan nilai properti tumbuh berkisar 10 % per tahun, sedangkan di Indonesia, uang muka yang wajib disetor bisa mencapai 20 % dan bunganya bisa 15 % per tahun.

Hermes Thamrin tidak ada hentinya untuk menangkap banyak peluang, ia adalah tipikal pengusaha cerdas yang melihat apa yang tidak dilihat banyak orang lain.

Saat Indonesia mengalami Booming Demam Smartphone, Hermes segera meresponnya dengan menggaet Choki Sitohang sebagai Brand Ambassador sekaligus juga menggaet Telkomsel dan Bank papan atas dengan bunga 0 %.

Tak hanya berhenti di situ saja, Hermes juga menjadi distributor Ponsel Low End dari Cina, G-Mobile. Nampaknya Hermes, ingin meniru sukses Sarindo yang menjadi distributor D-One Mobile.

Setelah menjadi raja distributor telepon seluler, Hermes membangunkan sebuah hotel di Banda Aceh. Alasannya sangat sederhana, saat itu ia mengikuti rapat pertemuan di Banda Aceh dan di sana, tidak ada Hotel Bintang Empat yang bisa dipakai untuk kegiatan rapat dan menginap.

Tanpa banyak bicara, Hermes segera cepat-cepat menggelontorkan dana Rp 60 Miliar dari rekening pribadinya untuk berinvestasi di sektor Hotel Bintang Empat Plus. Hotel yang bermula dinamai dengan Hotel Swiss-Belhotel Banda Aceh, kemudian diganti menjadi Hermes Hotel.

Hotel yang menjadi hak penuh pemilikan Hermes ini dipenuhi desain bangunan bernuansa Timur Tengah, dengan kapasitas 159 kamar (129 Deluxe Room, 20 Junior Suites Room, 8 Suite Room, dan 2 President Suite Room).

Hermes Thamrin juga memiliki Hermes Palace Mall yaitu Mall pertama di Aceh yang dibangun di atas lahan 2.000 meter persegi. Fasilitas yang disediakan meliputi wahana bermain anak, seperti Wahana Simulator 4 Dimensi MaxRider, Wahana Permainan 1.000 bola, serta 32 Game Zones, sekaligus akan dijadikan sebagai Pusat Pertokoan, Food-Mall, Supermarket Buah Segar, Restaurant, dan masih banyak fasilitas lainnya.

Di Medan, Hermes memiliki usaha yang menelan dana yang cukup besar, tetapi di sini ia berkongsi dengan 2 temannya dan total investasinya sebesar Rp 150 Miliar. Cambridge Mall dan Condominium yang berlokasi di Jl. S. Parman, Medan ini dibangun di atas lahan 1 Hektar dan memiliki 4 menara dan 28 lantai (24 Upper Ground dan 4 Basement). 

Baca Juga :

Hermes ingin menjadikan Mall ini sebagai ikon Kota Medan dan akan menjadi gedung tertinggi di Pulau Sumatera. Diperkirakan, pembangunan Mall ini akan rampung dalam jangka waktu 3 tahun.

Di Aceh Tengah, Hermes juga memiliki Bisnis Agrikultura, namun akhir-akhir ini bisnisnya stagnan alias jalan di tempat, karena orang kepercayaannya yang mengurusi bisnisnya tersebut meninggal dunia, sementara untuk menggantikan orang tersebut, belum ada yang bisa menyanggupinya. Dia pernah mengatakan bahwa, ia sangat siap untuk bermitra dengan Mitra Lokal.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar di bawah ini.