Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

20 Dosa Besar yang Menjerumuskan Manusia Ke Jurang Neraka

20 Dosa Besar yang Menjerumuskan Manusia Ke Jurang Neraka

Berdasarkan keterangan Al-Qur'an dan Hadits Nabi, amal perbuatan dosa yang menyebabkan orang-orang masuk neraka itu banyak sekali, antara lain :

1. Syirik

Syirik menurut bahasa adalah menyekutukan dan syirik menurut istilah ialah menyekutukan Allah Ta’ala dengan sesuatu makhluk yang lain, baik itu dalam bentuk pengakuan, perkataan maupun dalam bentuk perbuatan, serta adapun bagi pelaku yang berbuat hal itu disebut Musyrik. 

Ketika zaman jahiliyah, orang-orang Arab bila ditanya Siapa Tuhan yang menciptakan langit dan bumi ?  Mereka pasti menjawab yaitu Allah, tetapi kenyataannya mereka juga menyembah patung berhala Latta, Manna, dan Uzza, maka dari itu Kaum Quraisy juga disebut Kaum Musyrikin. 

Dalam Al Qur'an maupun Al Hadits telah banyak dijelaskan mengenai perihal syirik, yaitu :

Di dalam Surat An-Nisa' ayat 36 yang artinya :

"Dan sembahlah Allah, janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”

Di dalam surat Al Kahfi ayat 110 yang berbunyi :

"Maka barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan-Nya hendaklah dia melakukan amal shalih dan janganlah dia menyekutukan seseorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya."

Di dalam Surat An-Nahl ayat 74 yang artinya :

"Maka janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah Mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.”

Dalam Surat Al-Hajj ayat 26 yang artinya :

"Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan) : "Janganlah kalian mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang Thawaf, orang-orang yang beribadah, orang-orang yang ruku' dan orang-orang sujud."

Di dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim yang artinya :

"Jauhilah 7 macam dosa besar, yaitu menyekutukan Allah, melakukan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar, memakan harta anak yatim, memakan riba, melarikan diri pada hari peperangan dan menuduh zina kepada wanita yang terhormat dan beriman."

Baca Juga :

 

2. Riya

Riya' artinya pamer atau berpura-pura berbuat baik. Adapun menurut istilah ialah memamerkan dirinya kepada orang lain sebagai orang yang ahli ibadah, orang yang berpengetahuan luas, orang yang amal shadaqahnya banyak dan lain-lainnya. 

Kesemuanya itu dilakukan supaya mendapat pujian dari orang yang melihatnya dan sedikitpun dia tidak ingin mendapat pahala dari Allah sebagaimana Al-Qur'an maupun hadits telah menegaskan yaitu :

Surat Al Baqarah ayat 264 yang artinya :

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), sebagaimana orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir.”

Surat Al-Maa'un ayat 4-7 yang artinya :

"Maka celakalah bagi orang-orang yang mengerjakan shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong dengan barang berguna."

Surat An-Nisaa' ayat 38 yang artinya :

"Dan orang-orang yang menginfakkan harta benda mereka karena riya' (ingin dilihat dan dipuji orang) kepada manusia, dan orang-orang tidak beriman kepada Allah dan kepada Hari Akhir.”

Surat An-Nisaa' ayat 142 yang artinya :

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan (keadaan) malas.” 

Mereka bermaksud riya' (mencari pujian dari popularitas di masyarakat) di hadapan manusia, dan mereka sedikit sekali menyebut Allah (dalam shalat).

Dalam Hadits Nabi SAW. dalam Riwayat Ibnu Bawaih yang berisi :

"Pelaku riya' itu mempunyai tiga tanda : Rajin ketika bersama manusia, malas ketika sendirian dan senang dipuji dalam semua urusannya.”

Hadits Riwayat Hakim yang berbunyi : "Berjalan karena riya' itu syirik."

Hadits Riwayat Ahmad dan Hakim : "Sesungguh riya' itu syirik kecil."

Hadits Riwayat Imam Empat: "Riya' itu dapat melebur nilai amal, sebagaimana terleburnya amal karena perbuat syirik.”

Hadits Riwayat Muslim dari Abu Hurairah RA. yang artinya :

"Sesungguhnya manusia yang pertama diadili pada Hari Kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah, maka dia didatangkan dan ditunjukkan beberapa nikmat yang akan diterima lalu dia melihatnya, sambil ditanyakan kepadanya : "Apa yang engkau lakukan hingga mendapatkan beberapa nikmat itu ?" Dia menjawab : "Aku berperang karena Engkau hingga aku mati syahid." 

Allah berfirman : "Engkau berdusta, tetapi engkau lakukan yang demikian itu agar dikatakan orang lain  sebagai pahlawan." Kemudian, diperintahkan kepada malaikat untuk menyeret mukanya dan dilemparkan ke dalam neraka. 

(Lalu) seorang yang telah diberi Allah dengan bermacam-macam harta benda, maka dia didatangkan dan ditunjukkan beberapa nikmat yang akan diterima lalu dia melihatnya, sambil ditanyakan kepadanya : "Apa yang engkau lakukan, hingga mendapatkan beberapa nikmat itu ?" 

Dia menjawab : "Aku tidak pernah meninggalkan infaq di jalan yang Engkau sukai melainkan aku berinfaq di dalamnya karena Engkau." Allah berfirman : "Engkau berdusta, tetapi engkau lakukan yang demikian itu supaya dikatakan orang sebagai dermawan dan dia mengakuinya.” Kemudian diperintahkan kepada malaikat untuk menyeret mukanya dan dilemparkan ke dalam neraka.

 (Lalu) seorang yang mencari ilmu dan mengajarkan ilmunya atau orang yang membaca Al Qur'an, maka dia didatangkan dan ditunjukkan beberapa nikmat yang akan diterima, lalu dia melihatnya sambil ditanyakan : "Apa yang engkau lakukan hingga mendapatkan beberapa nikmat itu." Lalu dia menjawab : "Aku mencari ilmu dan mengajarkannya dan aku membaca Al Qur'an karena Engkau." 

Allah berfirman : "Engkau berdusta, tetapi engkau mengajarkan ilmu itu agar dikatakan orang sebagai orang alim dan engkau membaca Al Qur'an itu agar dikatakan sebagai ahli membaca, kemudian diperintahkan kepada malaikat untuk menyeret mukanya dan dilemparkannya ke dalam neraka.”

Dan Hadits Riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah RA. yang artinya :

"Barang siapa yang mencari ilmu pengetahuan yang semestinya hanya ingin mendapat Ridha Allah 'Azza wa Jalla tetapi dia tidak mencarinya kecuali karena ingin mendapatkan kedudukan di dunia, maka dia tidak akan mendapat harumnya surga nanti pada Hari Kiamat.”


3. Membunuh Manusia

Membuat manusia adalah melepaskan nyawa seseorang dari jasadnya dengan sengaja, baik itu karena dendam, iri hati, fitnah maupun karena hal lain yang tidak dibenarkan oleh Agama Islam, yaitu tiada dasar dari Al Qur'an dan Hadits. 

Apapun cara membunuh itu baik menggunakan dengan benda tajam, bom, atau dengan cara-cara lainnya, dan benda lainnya. Ingatlah, bahwa perbuatan seperti ini amat sangat dilarang agama dan mendapat laknat Allah Ta’ala bagi si pelakunya dan bakal masuk ke neraka. 

Terhadap siapapun baik dia sebagai pelaku langsung atau dalang (otak) pembunuhan. Karena itu, perbuatan membunuh manusia dengan disengaja adalah termasuk divonis dosa besar.

Pada zaman sekarang, betapa mudahnya seseorang melakukan pembunuhan hanya karena urusan sepele, ada maling ayam yang dibakar beramai-ramai sementara para maling uang rakyat yang bermilyar-milyar hanya dihukum ringan, dipotong masa tahanan bahkan dibebaskan.

Ada orang yang hanya karena kedudukannya dalam suatu jabatan tak ingin digeser, dia rela membunuh temannya sendiri. Pembunuhan adalah dosa besar yang pelakunya diancam masuk neraka. Hal ini berdasarkan penegasan Allah Ta’ala dalam Al Qur'an maupun Hadits Nabi SAW. yaitu sebagai berikut :

Dalam Surat An-Nisa’ ayat 93 yang artinya :

"Dan barang siapa yang membunuh seseorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Neraka Jahannam. Dia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyiapkan baginya siksa yang besar."

Dalam Surat Al-An'aam ayat 151 yang artinya :

"Dan, janganlah kalian membunuh manusia yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan sesuatu (sebab) yang benar."

Dalam Surat Al Maa’idah ayat 32 yang berbunyi :

“Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Isra'il, bahwa barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya."

Dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi :

"Apabila ada 2 Orang Islam saling berkelahi dengan menggunakan pedangnya, maka yang membunuh maupun yang terbunuh (sama-sama) masuk dalam neraka. Lalu ditanyakan kepada Rasulullah, benar bagi yang membunuh, tetapi mengapa yang terbunuh juga masuk neraka ?, Rasulullah menjawab : karena kedua-duanya saling ingin membunuh (satu sama lain) kepada temannya.”

Dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim serta Ahmad yang berisi :

"Yang termasuk dosa besar adalah menyekutukan Allah, membunuh manusia dan bersumpah palsu.”

Dalam Hadits Riwayat Bukhari, Muslim dan Ahmad yang artinya :

"Janganlah kalian kembali kafir sesudah meninggalku nanti, dengan sebagian dari kalian memenggal sebagian leher yang lain."


4. Menyuap Hakim

Menyuap hakim adalah memberikan sejumlah barang, uang, atau jasa dan berupa lain-lainnya kepada orang yang berhak menentukan hukum atau kepada hakim atau kepada atasan yang tertinggi dengan tujuan dan harapan supaya mau memberi kebebasan hukum yang telah dibebankan atau mau melepaskan dan membekukan suatu perkara yang telah dituduhkan kepadanya.

Karena itu, menyuap hakim merupakan salah satu dari perbuatan yang mengandung dosa besar dan akan mendapat laknat dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Perbuatan ini bakal memporak-porandakan dasar-dasar hukum dan membinasakan keadilan hukum serta akibatnya bakal terjadi kedholiman di mana-mana.

Menyuap itu tidak terbatas hanya pada masalah hukum semata, yang berdosa dan mendapat kutukan dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Namun, juga berlaku pada tindakan penyuapan lainnya seperti pendidikan, pekerjaan, dan bisa juga di bidang pembangunan dan lain-lainnya.

Adapun dasar bahwa menyuap hakim itu divonis termasuk dosa besar yaitu sebagaimana penegasan Allah Ta’ala dalam Al Qur'an dan Hadits sebagaimana di bawah ini :

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 188 yang berbunyi :

"Dan, janganlah sebagian kalian makan harta sebagian yang lain di antara kalian dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kalian membawa (perkara) haram itu kepada hakim, supaya kalian dapat makan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kalian mengetahui."

Dalam Hadits Riwayat Thabrani dari Ibnu Mas'ud RA. yang berbunyi :

"Suapan dalam hukum itu kafir dan suapan di antara manusia adalah barang haram."

Dalam Hadits Riwayat Ibnu Hibban dari Abu Hurairah RA. yang artinya :

"Allah telah melaknat orang yang menyuap dan orang yang disuap dalam masalah hukum."

Dalam Hadits Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Hibban dari Abdullah bin 'Amar RA.  yang berbunyi :

"Rasulullah SAW. telah melaknat orang yang menyuap dan orang yang disuap.”


5. Melakukan Sihir

Sihir ialah suatu perkara magis yang biasanya dilakukan oleh orang tertentu dengan cara tertentu dengan meminta bantuan kepada setan dalam rangka untuk tujuan merusak hubungan suami-istri, untuk membuat manusia melarat dan menderita, mendatangkan bahaya bagi orang lain, membuat orang lain merasa cinta kepadanya, seperti menggunakan guna-guna dan juga berupa jampi-jampian atau santet. 

Karena itu, hal ini adalah dilarang keras oleh agama dan bagi yang melakukannya divonis sebagai golongan kafir begitu juga bagi si pelakunya termasuk dosa besar. Hal ini berdasarkan penegasan Allah Ta’ala dalam Al Qur'an dan Hadits Nabi SAW. sebagaimana berikut di bawah ini.

Surat Al Baqarah ayat 102 yang artinya :

"Dan mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan pada masa Kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman itu tidak kafir (tidak mengenakan sihir). Hanya setan-setan itulah yang kafir (melakukan sihir), mereka (telah) mengajarkan sihir kepada para manusia.”

Dalam Hadits Riwayat Ahmad dan Hakim yang berisi :

"Ada 3 golongan yang mereka tidak bakal masuk surga (yaitu), peminum khamr, memutuskan tali persaudaraan dan orang yang membenarkan sihir."

Dalam Hadits Riwayat Bazzar RA. dengan sanad yang baik :

"Bukan termasuk golongan kami, orang yang beranggapan malang karena suatu tanda atau meminta tebak atas kemalangannya atau menenung atau minta ditenungkan atau melakukan sihir atau minta disihirkan."

Jadi jangan dikira hanya para dukun sihir saja yang bakal dilaknat oleh Allah, melainkan orang yang datang pada para dukun sihir untuk menyantet atau menyihirkan lawannya juga ikut menanggung dosa besar tersebut.

Baca Juga :


6. Durhaka Kepada Orang Tua

Durhaka kepada orang tua adalah tidak berbuat baik kepadanya, tidak taat kepada perintahnya, tidak mau menolong kepadanya, tidak mau memuliakan dan menghormatinya, tidak mau menyampaikan amanatnya berlaku, kasar, baik dalam bentuk ucapannya ataupun perbuatannya yang membuat orang tua itu sakit hati.

Karena ucapan, sikap atau perbuatan itulah yang menjadikan sakit hati pada orang tua, maka perbuatan ini divonis durhaka kepada kedua orang tua dan termasuk dosa besar. Berdasarkan penegasan Allah Ta’ala dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi SAW. yaitu :

Dalam Surat An-Nisaa' ayat 36 yang artinya :

"Dan beribadahlah kalian kepada Allah serta janganlah kalian menyekutukannya dengan sesuatu apapun dan berbuatlah baik kepada kedua orang tua."

Berdasarkan Surat Al An'am ayat 151 yang artinya :

"Katakanlah : Mari kubacakan sesuatu yang telah diharamkan oleh Tuhan kalian terhadap kalian (yaitu), janganlah kalian menyekutukan sesuatu dengan Dia, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua."

Berdasarkan Surat Al-Ahqaf ayat 15 yang artinya :

"Dan Kami mewasiatkan kepada manusia dengan berbuat baik kepada orang tua (ibu dan bapak)."

Berdasarkan Surat Luqman ayat 14 yang artinya :

“Dan, Kami mewajibkan kepada manusia berbuat baik kepada kedua orang tua.”

Surat Al Ankabuut ayat 8 yang artinya :

“Dan, Kami mewasiatkan kepada manusia dengan berbuat baik kepada kedua orang tua."

Kutipan Perintah Allah untuk berbuat baik terhadap orang tua juga dicantumkan pada Surat Al-Isra' ayat 23 yang artinya :

"Dan, Tuhanmu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah kecuali hanya kepada-Nya dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, apabila salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu maka janganlah berkata kepada keduanya dengan perkataan ‘Ah’ dan janganlah membentak kepada keduanya serta berkatalah kepada keduanya dengan perkataan yang mulia.”

Berdasarkan Hadits Nabi SAW. Riwayat Al Hakim yang artinya :

"Setiap dosa bakal ditangguhkan Allah sampai nanti pada Hari Kiamat apa saja yang Dia kehendaki kecuali durhaka kepada kedua orang tua. Maka sesungguhnya Allah bakal menyegerakan kepada pelakunya dalam hidupnya (di dunia) sebelum mati."

Hadits Riwayat An-Nasa'i, Bazzar dan Al Hakim yang artinya :

"Ada 3 golongan yang tidak bakal masuk surga (yaitu) : Orang yang durhaka kepada kedua orang tua, laki-laki yang tidak punya perasaan cemburu pada keluarganya dan seorang perempuan yang menyerupai seorang laki-laki."

Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim yang pernah menyebutkan :

"Maukah kalian aku tunjukkan sebesar-besarnya dosa besar, diulang sebanyak 3 kali dan mereka menjawab : “Baiklah, Wahai Rasulullah.” Beliau bersabda : “Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.”

Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim yang menuturkan :

"Ada seorang laki-laki datang untuk bertanya kepada Nabi SAW., ‘siapakah manusia yang lebih berhak aku temani dengan baik ?’ Maka beliau bersabda : "Ibumu.” Dia bertanya lagi : "Kemudian siapa ?” Beliau bersabda : "Ibumu,” dia bertanya lagi, "Kemudian siapa ?" Beliau bersabda : "Ibumu", dia bertanya lagi : "Kemudian siapa ?" beliau bersabda : "Bapakmu.”


7. Berzina

Zina adalah melakukan hubungan kelamin seorang laki-laki dengan seorang wanita tanpa adanya akad nikah yang sah. Perbuatan ini dilarang keras oleh agama, karena itu zina adalah merupakan dosa besar.

Dalam Al Qur'an ataupun Hadits telah diterangkan, yaitu :

Surat Al Furqaan ayat 68-69 yang artinya :

"Dan, orang-orang tidak menyembah Tuhan lain kecuali Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya kecuali dengan alasan) yang benar, dan tidak berzina. Dan barang siapa yang mengerjakan demikian itu pastilah dia mendapat balasan dosanya, (yaitu) bakal dilipatgandakan siksa untuknya pada Hari Kiamat dan dia bakal kekal dalam siksaan itu dalam keadaan terhina.”

Surat An-Nur ayat 2 yang artinya :

"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya 100 kali dera.”

Surat Al Isra’ ayat 32 yang artinya :

"Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

Hadits Riwayat Al-Baihaqi yang artinya :

"Wahai Kaum Muslimin, takutlah kalian akan berbuat zina karena sesungguhnya didalamnya ada 6 perkara di dunia dan 3 perkara di akhirat, maka adapun yang ada di dunia adalah hilangnya sinar di muka, pendek umurnya dan terus-menerus dalam kefakiran, dan adapun yang ada di akhirat, adalah mendapat murka Allah Tabaraka wa Ta'aala, sejelek-jelek penghisaban dari siksa neraka."

Hadits Riwayat Muslim yang artinya :

"Ada 3 golongan yang Allah tidak bakal berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat dan tidak pula memperhatikan mereka serta tidak mau mensucikan mereka, bahkan bagi mereka siksa yang pedih (yaitu), orang tua yang berzina, raja yang pendusta dan orang melarat yang sombong.”

Hadits Riwayat Muslim dari Abu Hurairah RA. yang artinya :

“Wahai Rasulullah, dosa apakah yang lebih besar di Sisi Allah Ta'ala ?" Beliau bersabda : "Jika kamu menjadikan sesuatu yang menyamakan (dengan) Allah padahal Allah itu telah menciptakan kamu.” Maka aku berkata : “Jika yang demikian itu lebih besar, lalu apa lagi ?” Beliau bersabda : "Jika kamu membunuh anakmu karena takut untuk memberi makan bersamamu.” Aku bertanya lagi : "Kemudian apa lagi ?" Beliau bersabda : "Jika kamu berzina dengan istri tetanggamu." Lalu, Allah Azza Wa Jalla menurunkan ayat 68 dari Surat Al Furqaan (untuk membenarkan Sabda Rasulullah SAW. tersebut)."

Demikianlah penjelasan Firman Allah dan Sabda Nabi SAW. mengenai dosa dari perbuatan zina yang termasuk perbuatan dosa besar. Cara menjauhi zina ialah tidak dekat-dekat dengan tempat maksiat atau segala sarana dan sesuatu yang mengundang nafsu birahi, seperti menjauhi video porno, goyang dan tarian dalam pesta musik yang sangat keterlaluan mengumbar syahwat dan lain-lain.


8. Riba

Riba adalah nilai tambah atau bunga uang atau nilai lebih terhadap penukaran barang, pinjam-meminjam dan hutang-piutang yaitu akad yang dilakukan, baik dalam akad hutang-piutang, pinjam-meminjam maupun dalam akad penukaran barang yang tidak diketahui sama tidaknya, besar kecilnya tidak diketahui dalam timbangan maupun takarannya atau penerimaan diakhirkan pada barang sesudah akad telah berlangsung. 

Perbuatan demikian termasuk dosa besar sebagaimana Al Qur'an maupun Hadits telah menegaskan di bawah ini yakni.

Surat Al-Baqarah ayat 275-276 yang artinya :

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) : “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. 

Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba). Maka, baginya (terhadap) apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba) adalah para penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa."

Surat Al-Baqarah ayat 278 yang artinya :

"Hai orang-orang yang beriman, bertawakallah kepada Allah dan maka orang tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian orang-orang yang beriman."

Surat Ali 'Imran ayat 130 yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian makan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kalian kepada Allah agar kalian beruntung.”

Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim :

"Jauhilah perkara 7 yang dapat merusak. Mereka (para sahabat) bertanya : "Wahai Rasulullah, Apa perkara tujuh itu ?" Rasulullah SAW. bersabda, "Menyekutukan Allah, melakukan sihir, membunuh manusia yang diharamkan Allah kecuali dengan cara yang hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan dan menuduh perempuan yang baik yang terjaga lagi beriman.”

Hadits Riwayat Thabrani, Hakim dan Abu Ya'la dari Abdur Rahman bin Abdullah bin Mas'ud dari ayahnya  yang berbunyi :

"Apabila telah merajalela suatu zina dan riba di suatu desa maka Allah mengizinkan dengan kehancurannya."


9. Pemimpin yang Tidak Adil

Yang dimaksud tidak adil adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempat yang sebenarnya atau berat sebelah atau pilih kasih di dalam menentukan kebijaksanaan. 

Sedangkan yang dimaksud pemimpin yang tidak adil yaitu pemimpin yang punya sikap memihak atau tidak netral dalam menetapkan hukum yang berlaku pada seseorang atau berat sebelah dalam menentukan hukum atau juga pemimpin yang menjalankan Hukum Allah dengan tidak sepenuhnya atau separuh-separuh dan bersikap memberikan suatu pekerjaan kepada seseorang yang tidak pada ahlinya. dengan memakai suatu pertimbangan yang tidak dibenarkan oleh agama. 

Karena itu, pemimpin yang tidak adil itu senantiasa dhalim kepada rakyat dan disebut juga pemimpin dhalim dan baginya sudah pasti berdosa besar. Yang pada gilirannya di akhirat nanti mendapatkan siksa yang amat pedih. Mengenai pemimpin yang tidak adil ini telah dijelaskan dalam Al Qur'an dan Hadits Rasulullah SAW., yaitu :

Surat Asy-Syura ayat 42 :

"Bahwasanya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dholim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat siksa yang pedih.”

Surat Al-Maa’idah ayat 8 :

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian menjadi orang orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan, janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum, mendorong kalian untuk berbuat tidak adil. Bersikap adil-lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan."

Hadits Riwayat Ath-Thabrani :

"Manusia yang terberat siksaannya di Hari Kiamat adalah siksaan bagi pemimpin yang dholim.”

Hadits Riwayat Bukhari :

"Barang siapa yang Allah menjadikannya sebagai pemimpin, kemudian dia tidak jujur kepada yang dipimpinnya, maka Allah mengharamkan atasnya masuk ke dalam surga."


10. Hakim yang Tidak Adil

Hakim adalah orang yang diberi tugas untuk memberi keputusan pada suatu perkara hukum yang berdasarkan Undang-Undang yang ada, demi untuk menegakkan keadilan dalam kehidupan manusia di tengah-tengah masyarakat. 

Adapun yang dimaksud Undang-Undang di sini menurut Islam ialah Al Qur'an dan Hadits Nabi SAW. dengan memutuskan yang benar dan diberi kebebasan. Dan yang benar-benar terbukti bersalah, maka divonis salah dan diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya itu. Hakim inilah yang dinamakan hakim yang adil.

Adapun yang disebut hakim yang tidak adil ialah hakim yang dalam memberikan keputusan pada perkara hukum tidak berdasarkan Al Qur'an dan Hadits Nabi SAW. begitu juga tidak meletakkan suatu perkara, yaitu yang benar dikatakan salah dan yang salah dikatakan benar. 

Sang hakim sedemikian inilah berdosa besar dan oleh Allah Ta’ala disebut kafir, fasiq dan orang dholim. Karena itu, bagi para hakim agar senantiasa waspada dalam memutuskan suatu perkara. Hal ini berdasarkan penegasan Al-Qur'an dan ditegaskan juga dalam Hadits Nabi SAW. yaitu :

Surat Al-Maa’idah ayat 44-45 :

"Barang siapa yang tidak memutuskan hukum dengan berdasarkan apa yang telah diturunkan Allah, maka mereka itu termasuk orang-orang kafir. Dan barang siapa yang tidak memutuskan hukum dengan berdasarkan apa yang telah diturunkan Allah, maka mereka itu termasuk orang-orang dholim."

Surat Al-Maa’idah ayat 47 :

"Dan barang siapa yang tidak memutuskan hukum dengan berdasarkan apa yang telah diturunkan Allah, maka mereka itu termasuk orang-orang fasik."

Hadits Riwayat Hakim :

"Allah tidak bakal menerima shalat seorang pemimpin yang memutuskan hukum dengan tidak berdasarkan apa yang telah diturunkan Allah."

Hadits Riwayat Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah :

"Ada 3 macam hakim, satu hakim masuk ke dalam surga dan dua macam hakim masuk ke dalam neraka, yaitu : hakim yang mengerti yang benar, lalu dia memutuskan dengan benar, maka dia di dalam surga, hakim yang mengerti yang benar, lalu dia curang dengan disengaja, maka dia dalam neraka. Dan, hakim yang tidak berdasarkan ilmu pengetahuan, maka dia di dalam neraka."


11. Bunuh Diri

Bunuh diri adalah menghilangkan nyawa dari tubuhnya sendiri dengan disengaja dan dalam keadaan sadar. Memang caranya yang dia lakukan itu berbeda-beda, ada yang dengan jatuh dari bangunan tinggi (hotel), menjatuhkan diri ke jurang, jatuh ke dalam sumur, minum obat melebihi batas (over dosis), menjerat lehernya dengan tali, dengan pisau dan lain sebagainya.

Perbuatan ini diharamkan Allah dan termasuk dosa besar sebagaimana telah ditegaskan Allah dalam Al Qur'an di dalam Hadits Nabi SAW., yaitu :

Surat An Nisa' ayat 29-30 yang artinya :

"Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kalian. Barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi :

"Terkutuknya orang mukmin itu seperti membunuhnya dan barang siapa yang menuduh orang mukmin dengan tuduhan kafir, maka dia seperti membunuhnya. Dan barang siapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu maka dia disiksa dengan sesuatu itu nanti pada Hari Kiamat.”

Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim :

"Barang siapa yang menjatuhkan diri dari atas gunung untuk bunuh diri, maka dia berada di dalam Neraka Jahannam, (sambil) dia akan menjatuhkan diri di dalamnya untuk selama-lamanya. Barang siapa yang minum racun untuk bunuh diri, maka racun itu berada di tangannya maka dia meminumnya di Neraka Jahannam untuk selama-lamanya. Dan barang siapa yang bunuh diri dengan benda tajam, maka benda tajam itu berada di tangannya akan menusukkannya di Neraka Jahannam untuk selamanya.”


12. Minum Minuman Keras

Minum minuman keras atau khamr disini ialah minum sesuatu yang dapat memabukkan dan bisa menghilangkan kesadaran, sehingga peminumnya tidak bisa membedakan antara yang haram dan halal atau yang benar dan salah dan lain-lainnya. 

Karena itu minum sedemikian ini adalah haram diminum, meski hanya minum sedikit saja dan tidak sampai mabuk. Sebab itu, minum khamr termasuk perbuatan yang mengandung dosa besar.

Termasuk juga ke dalam larangan ini berupa golongan narkoba dan sebagainya, yakni pil ekstasi, pil koplo, morfin, ganja, heroin dan obat-obatan terlarang lainnya yang menghilangkan kesadaran dan akal sehat. 

Sebagaimana Kitab Al Qur'an dan Hadits Nabi SAW. telah memperingatkan yaitu : 

Surat Al Baqarah ayat 219 yang artinya :

"Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah : "Pada keduanya, ada dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya."

Hadits Riwayat Thabrani :

"Jauhilah kalian akan minuman khamr, karena sesungguhnya minuman khamr itu induk segala kejahatan. Barang siapa yang tidak menjauhinya, maka sungguh dia telah berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya dan bakal berhak menerima siksa karena maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya."

Baca Juga :


13. Mencuri

Mencuri atau mengambil barang/harta benda orang lain yang telah disimpan pada tempat yang selayaknya dengan tidak meminta izin terlebih dahulu atau secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi dengan tujuan untuk dimilikinya. 

Karena perbuatan mencuri inilah dapat dikategorikan termasuk perbuatan yang bisa merugikan orang lain dan perbuatan yang dapat merugikan orang lain itu sudah jelas pasti dilarang agama dan termasuk dosa besar.

Sebagaimana tersebut dalam Surat Al-Maidah ayat 38-39 yang artinya :

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka telah kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Maka, barang siapa yang bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”


14. Mencari Nafkah dengan Cara Batil

Adapun maksud dari istilah mencari nafkah dengan bathil adalah mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan dirinya maupun kebutuhan keluarganya dengan cara dilarang agama. Contohnya, dengan cara korupsi, merampok, menyuap, berjudi, sumpah palsu, mencuri, menggelapkan uang dan riba serta cara lainnya yang tidak dibenarkan oleh agama. 

Dan hasilnya untuk dimakan, dibelikan untuk pakaian atau sandang, dibelanjakan untuk pembangunan rumah/aset maupun untuk pembangunan tempat ibadah sekalipun dan apapun alasannya, perbuatan ini termasuk dosa besar.

Tersebut dalam Al-Qur'an Surat Al Baqarah ayat 188 yang artinya :

"Dan, janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui).”


15. Laki-Laki Mengenakan Emas dan Kain Sutera

Maksud daripada memakai emas dan sutera adalah menggunakan emas dan sutra untuk berhias/hiasan. Dalam memakai emas dan sutra ini telah diharamkan untuk berhias dan hiasan bagi orang laki-laki tetapi tidak diharamkan pemakaiannya untuk para wanita. 

Karena itu, bagi para laki-laki yang memakai emas dan sutra untuk berhias dan keindahan, maka hukumnya haram karena telah dilarang pemakaiannya untuk para lelaki bagi agama. Dan, juga berarti dia telah mengerjakan dosa.

Tersebut dalam Hadits Nabi SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Nasa'I, Ibnu Hibban dan Ibnu Majjah dari Ali bin Abi Thalib yang artinya :

"Rasulullah telah mengambil sutera, lalu diletakkan di tangan kanannya dan mengambil emas lalu diletakkan di tangan kirinya, kemudian beliau bersabda : sesungguhnya kedua benda ini (emas dan sutra) haram buat umatku yang laki-laki."


16. Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan

Hal ini sudah ditegaskan Allah Ta’ala dalam Al Qur'an dan Hadits Nabi SAW. sebagaimana berikut :

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 183-184 yang artinya :

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam bepergian (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”

Dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim :

"Islam itu didirikan atas 5 perkara, yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah dan sesungguhnya Nabi Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji ke Baitullah dan berpuasa di Bulan Ramadhan."

Puasa merupakan suatu amal perbuatan yang diwajibkan untuk dikerjakan dan puasa juga merupakan salah satu rukun islam sekaligus ciri-ciri dan tiangnya Agama Islam. 

Karena itu, orang yang meninggalkannya (tidak mau mengerjakan), maka dia digolongkan orang kafir dan dia tidak membayarnya dengan puasa setahun penuh, meski dia mampu menjalankannya. Karena itulah, orang yang tidak mau menjalankan berpuasa termasuk berdosa besar.


17. Mengadu Domba

Mengadu domba adalah menyebarkan berita bohong atau berita yang dibuat-buat kepada seseorang, agar orang tersebut mengadakan permusuhan kepada orang lain satu sama lain. 

Mengadu domba juga bisa dikategorikan sebagai fitnah dalam artian bahwa menyebarluaskan berita bohong yang menjatuhkan martabat seseorang supaya orang tersebut tidak disenangi dan menjadi dimusuhi, oleh orang banyak atau masyarakat. 

Mengadu domba adalah termasuk perbuatan yang dilarang agama dan tentunya haram apabila dikerjakan. Karena itu, perbuatan mengadu domba adalah termasuk dosa besar yang harus dijauhi.


18. Membiarkan Anak Yatim Terlantar

Adapun maksud daripada membiarkan anak yatim terlantar adalah tidak memperhatikan hak dan harta anak yatim, baik tentang hak dalam mendapat pemeliharaan asuhan maupun hak di dalam mendapatkan pendidikan dan lain sebagainya juga baik mengenai harta itu berasal dari warisan ataupun harta dari pembagian orang lain dan sebagainya. 

Jadi, tidak menempatkan anak yatim dalam batas-batas sewajarnya adalah termasuk membiarkan anak yatim terlantar. Di samping itu agar tidak menahan pemberian-pemberian yang lain di dalam kehidupannya masyarakat, maka sangat dianjurkan oleh Allah Ta’ala agar senantiasa memperhatikan anak yatim. 

Dalam Al-Qur'an dan Hadits telah ditegaskan pada Surat An-Nisa' ayat 127 yang artinya :

"Dan, mereka meminta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah : Allah memberikan fatwa kepadanya tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepada kalian di dalam Kitab Al-Qur'an (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kalian tidak memberikan kepada mereka apa yang telah ditetapkan untuk mereka, sedangkan kalian ingin menikahi mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh) agar kalian mengurus anak-anak yatim secara adil dan kebaikan apa saja yang kalian kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui."

Dalam Hadits Riwayat Thabrani :

“Demi Dzat yang telah mengutusku dengan hak, Allah tidak bakal menyiksa nanti pada Hari Kiamat terhadap orang yang bersikap belas kasihan kepada anak yatim dan lemah lembut dalam ucapannya, dan bersikap belas kasihan kepada (orang) yang dipeliharanya dan yang lemah serta tidak sombong kepada tetangganya dengan keutamaan apa yang telah diberikan Allah kepadanya."

Dalam Hadits Riwayat Ibnu Majah :

"Rumah orang-orang Islam yang paling baik adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang disantuni dengan baik, dan rumah orang-orang Islam yang paling jelek adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan buruk."

Baca Juga :


19. Berbuat Dzalim

Maksud daripada dzalim di sini adalah sikap atau perbuatan yang senantiasa menentang dan menolak atau memusuhi kebenaran ajaran Islam meski telah diperingatkan berulang kali dengan cara yang baik.

Adapun yang termasuk perbuatan dholim adalah menganiaya diri sendiri dan orang lain, sikap yang tidak menempati sesuatu pada tempatnya atau menentukan sesuatu tidak berdasar pada ketentuan yang adil, tindakan yang melanggar hak-hak asasi Tuhan dan manusia dan seluruh tingkah laku yang tidak sesuai dengan peraturan undang-undang yang sah. 

Sebabnya, perbuatan dholim termasuk perbuatan yang mengandung dosa besar sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an dan Hadits Nabi SAW. yakni :

Dalam Surat Ibrahim ayat 27 yang artinya :

"Dan Allah menyesatkan orang-orang yang dholim serta memperbuat apa yang Dia kehendaki."

Surat Al Mu'minun ayat 52 yang artinya :

"Pada hari yang tidak berguna bagi orang-orang dholim permintaan maafnya dan bagi mereka-lah laknat dan bagi mereka pula tempat tinggal yang buruk."

Surat Al-An'aam ayat 45 :

"Maka, orang-orang dholim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya, segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam."

Dalam Surat Thaha ayat 111 :

“Dan, tunduklah semua muka (tanda berendah diri) dengan Tuhan yang hidup kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan, sesungguhnya telah merugilah orang-orang yang berbuat kedzaliman.”

Dan dalam Hadits Riwayat Muslim dan Abu Dzar menyebutkan :

"Rasulullah SAW. telah bersabda dari Tuhannya Tabaaraka Wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan berbuat dholim kepada-Ku dan sesama kalian, karena itu maka janganlah berbuat saling dzalim-mendzalimi (satu sama lain) di antara kalian.”


20. Meninggalkan Kewajiban Sholat 5 Waktu

Sholat 5 Waktu merupakan sebuah kewajiban atas Perintah Allah Ta’ala yang langsung diberikan kepada sang kekasih-Nya Rasulullah SAW. saat melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj. Ada sebuah hadits yang pernah menyebutkan bahwa sholat itu adalah tiang agama. 

Berarti bisa diartikan barang siapa yang melaksanakan sholat sama dengan orang itu telah mendirikan agamanya, sedangkan barang siapa yang meninggalkannya sama saja telah meruntuhkan agamanya sendiri.

Dari beberapa Riwayat Hadits juga sudah beberapa kali menegaskan betapa pentingnya mendirikan sholat. 

Dari Jabir bin Abdullah RA. berkata, Rasulullah SAW. pernah bersabda : “Yang membedakan antara orang muslim dengan orang kafir adalah meninggalkan shalat.” (HR Ahmad, Muslim dan Ashabus Sunan, kecuali An-Nasai)

Dari Buraidah berkata, Rasulullah SAW. bersabda, 

“Janji setia (pembatas) di antara kami dengan mereka adalah shalat. Barang siapa yang (sengaja) meninggalkan shalat maka dia adalah kafir.” (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan)

Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah, orang-orang muslim yang berani meninggalkan Shalat 5 Waktu dengan sengaja itu merupakan dosa besar yang paling terbesar dan bahkan hampir menyamai dosa membunuh, merampas harta milik orang lain, mencuri, berzina dan meminum khamr. 

Mereka juga kelak akan mendapatkan kemurkaan, kehinaan dan hukuman dari Allah Ta’ala sewaktu di dunia maupun di akhirat.

Sewaktu Isra’ Mi’raj, Rasulullah SAW. pernah diperlihatkan terhadap suatu kaum yang suka membenturkan kepala mereka dengan batu, setiap kali dibenturkan kepalanya hingga pecah dan tumbuh kembali dalam keadaan semula, kemudian mengulangi perbuatannya kembali tanpa henti. 

Rasulullah lantas bertanya kepada Malaikat Jibril mengenai siapa golongan orang-orang ini. Jibril menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang selalu berat kepalanya (suka meninggalkan) untuk mendirikan sholat fardhu. Cuplikan kisah ini bersumber dari Riwayat Hadits Tabrani.

Semoga artikel di atas bisa membantu kamu terkait informasi yang sedang kamu cari, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.


Berlangganan via Email