Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Legenda Pulau Sikantan – Sang Anak Durhaka (Sumatera Utara)

Legenda Pulau Sikantan – Sang Anak Durhaka (Sumatera Utara)

Dahulu kala di sebuah kampung terpencil lebih tepatnya ada di daerah Labuhan Batu, Sumatera Utara hiduplah sebuah keluarga miskin. Keluarga itu memiliki seorang anak bernama Sikantan. 

Pekerjaan ayah Sikantan hanya mencari kayu di hutan dan kayu itu dijual ke pasar. Uang penjualan kayu itu digunakan untuk membeli keperluan sehari-hari.

Pada suatu malam, ayah Sikantan bermimpi bahwa dalam mimpinya ia didatangi seorang tua. Orang tua itu menunjukkan di hulu sungai, ada serumpun bambu besar dan di tengah-tengah rumpun bambu itu ada tongkat intan.

"Carilah karena itulah anugerah untukmu," ujar orang tua itu.

Keesokan harinya, ayah Sikantan mengajak anaknya pergi ke hulu sungai, Sikintan bertanya kepada ayahnya tentang ada apa di hulu sungai.

Namun, ayahnya mengatakan hanya jalan-jalan saja. Mereka berjalan ke hulu menyusuri sungai. Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di serumpun bambu. Ayah Sikantan mendekat ke rumpun bambu itu.

“Ayah sedang mencari apa ?” tanya anak itu.

Ayahnya tak menjawab, malah sibuk mencari-cari sesuatu. Tak berapa lama wajahnya berbinar, ia melihat tongkat intan. Cepat-cepat dia mengambil tongkat berharga itu dan segera membawanya pulang.

Kemudian, ayah Sikantan menceritakan mimpi tentang tongkat itu. Ketika tiba di rumah, ibu Sikantan heran melihat suaminya memiliki tongkat intan. Mereka bertiga langsung mufakat akan menjual tongkat intan tetapi hendak kemana barang itu akan dijual. 

Bila di daerah itu dijual, orang-orang sekitar tentu bisa menduga barang itu dicuri karena nasib keluarga itu sebenarnya miskin.

Akhirnya, orang tua Sikantan meminta Sikantan menjual tongkat intan itu ke negeri lain. Sikantan pergi dengan perahu. Sesaat sebelum berangkat, ayah Sikantan berpesan,

"Kalau kamu sudah menjual tongkat intan ini dan mendapat uang banyak. Jangan lupa pada kami, ingat hidup ayah dan ibumu miskin.”

"Percayalah ayah, ananda akan selalu ingat ayah dan ibu,” ujar Sikantan.

Dalam perjalanan, Sikantan selalu membantu pemilik perahu ketika sampai di tujuan, Sikintan dibebaskan dari ongkos, bahkan pemilik perahu memberikan sedikit uang. Hati Sikantan merasa senang.

Tiba di negeri itu, ia mencoba mencari induk semang. Beberapa hari ia tinggal di rumah induk semangnya. Suatu hari, ia pergi ke pasar menjual tongkat intan yang dibawanya. Beberapa toko yang ditawari tak mampu membeli tongkat intan yang mahal itu. 

Untunglah ada yang menunjukkan sebuah toko yang paling besar di negeri itu, "Mungkin toko itu mau membeli barangmu ini,” sahut pelayan toko.

Sikantan membawa tongkat intan ke toko besar itu. Lalu, dia menawarkan kepada saudagar pemilik toko, Sikintan menceritakan bahwa ia sudah menawarkan kepada beberapa toko, tetapi tak ada yang sanggup membelinya. 

Rupanya saudagar itu merasa malu dan tongkat intan itu akhirnya dibeli olehnya walaupun dengan harga yang sangat mahal.

Setelah mendapat uang banyak, Sikantan mulai berdagang untuk mengawali karirnya. Ia membuka toko karena mempunyai modal besar, usaha Sikantan tampak cepat berkembang. Ia menjadi orang kaya raya di negeri itu dan mampu membeli kapal pribadi. 

Sebagai seorang saudagar kaya, Sikantan mempersunting istri yang cantik jelita dan hidup dalam kemewahan hingga ia lupa keadaan ayah dan ibunya yang masih miskin.

Suatu malam, Sikantan bermimpi bahwa ayah dan ibunya datang menemuinya dan berkata, 

"Sikantan sudah kaya raya. Mengapa lupa kepada ayah dan ibumu ? Datanglah, kami menunggumu.”

Setelah bermimpi itu, Sikantan sadar akan keadaan ayah dan ibunya yang hidup miskin. Lalu diceritakannya kepada istrinya, akhirnya mereka mufakat akan menjenguk ayah dan ibu Sikantan di kampung halamannya.

Dengan menggunakan kapal sendiri, Sikantan bersama istri serta rombongannya menuju kampung ayah dan ibunya. Ketika tiba di pelabuhan, Sikantan mengutus seseorang untuk memberi tahu kedatangannya kepada ayah dan ibunya, agar orang tuanya datang ke kapal. Orang itu segera memberi kabar dan mengatakan bahwa Sikantan sudah kaya raya.

Mendengar berita itu, ayah Sikantan segera menuju ke kapal karena ingin bertemu dengan anak buah hatinya. Di tepi kapal, ia bertanya di mana anaknya Sikantan dan pembantu itu memberi tahu kepada Sikantan bahwa ayahnya sudah datang. 

Ketika melihat ayahnya sudah tua dengan pakaian kumal dan compang-camping pula, ia merasa malu kepada istri dan rombongannya. Sikantan tidak mengakui bahwa orang tua yang ada di hadapannya adalah ayahnya sendiri.

"Bukan, dia bukan ayahku suruh orang tua itu untuk pergi !” perintah Sikintan.

Dengan hati yang sedih, ayah Sikintan pulang dan menangis saat tiba di rumahnya. Istrinya heran melihat suaminya tiba-tiba menangis.

"Mengapa abang menangis ?" tanya istrinya.

"Sikantan tak mengakui aku sebagai ayahnya. Coba kau ke sana, barangkali kau diakui sebagai ibunya."

Ibu Sikantan berangkat ke kapal karena ingin menemui anaknya sebagaimana yang dilakukan ayahnya itu sebelumnya sekaligus melihat respon anaknya itu secara langsung. Setelah tiba di tepi kapal, ia bertemu ke orang dan memberi tahu ingin menemui dengan anaknya Sikantan. 

Ketika Sikantan melihat ibunya tua bangka dengan pakaian kumal pula seperti ayahnya, ia malu mengakui orang tua itu sebagai ibunya dan mengusirnya dengan tega. Lalu, ibu Sikantan dengan hati sedih. Tiba di rumah, ia bertangis-tangisan dengan suaminya.

Sikantan, istri dan rombongannya pun bersama kapalnya berangkat meninggalkan tepi pantai. Tak beberapa jauh meninggalkan pelabuhan, datanglah hujan badai tiba-tiba. Kapal Sikantan tak dapat berlayar dengan baik. 

Menurut kapten kapal seraya berkata kepada Sikantan, ia telah durhaka kepada ayah dan ibunya karena tidak sudi mengakuinya.

"Kembali ke pelabuhan, di sana nanti saya akan mengaku kedua orang tua itu adalah ayah dan ibuku," kata Sikantan kepada kapten kapal.

Tiba di pelabuhan, seseorang diutus menjemput kedua orang tua Sikintan sebagaimana sebelumnya. Sikantan akan meminta ampun dan menerima keadaan orang tuanya. 

Ketika melihat kedua orang tuanya yang sangat miskin itu datang kembali di hadapannya, Sikantan masih juga merasa malu untuk mengakui kedua orang tua itu sebagai ayah dan ibunya. 

Kedua orang tua yang datang dengan gembira karena menyangka anaknya bakal minta ampun dan mengakuinya malah merasa sedih kembali. Sikantan masih saja belum mengakui mereka adalah ayah dan ibunya.

"Kalau Sikantan belum juga mengakui kami sebagai kedua orang tuanya, ya sudahlah,” ujar mereka berdua dan kedua orang tua itu pulang dengan hati yang pedih.

Tak berapa lama kemudian, kapal Sikantan berangkat kembali karena Sikantan masih juga tidak mengakui ayah ibunya. Kedua orang tua itu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sambil berkata, 

"Ya Allah ! Kami tidak diakui sebagai kedua orang tua oleh anak kami. Berilah ia hukuman yang Engkau kehendaki."

Usai kedua orang tua itu berdoa, datanglah angin kencang dan badai topan yang menenggelamkan kapal besar Sikantan. Beberapa minggu setelah kejadian, kapal itu tampak menjadi pulau kecil yang dihuni oleh seekor monyet putih. 

Orang berkata, monyet itulah Sikantan yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Beberapa bulan kemudian, monyet putih tak tampak lagi, mungkin meninggal dunia dengan seribu penyesalan. Sampai sekarang, pulau itu dinamakan Pulau Sikantan.


Pelajaran yang bisa kamu petik dari Legenda Pulau Sikantan – Sang Anak Durhaka (Sumatera Utara), yaitu jangan sekali-kali melupakan keadaan orang tua setelah sukses, jangan durhaka kepada orang tua, doa orang yang teraniaya biasanya terkabul, jangan menyakiti hati kedua orang tua, harus memegang amanah dengan baik dan jangan sampai melupakannya. 
Semoga cerita rakyat di atas bisa membantu kamu terkait hikmah pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.

Berlangganan via Email