Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Si Lundu Nipahu – Penolong Yang Baik Hati (Sumatera Utara)


Kisah Si Lundu Nipahu – Penolong Yang Baik Hati (Sumatera Utara)

Dahulu kala, ada seorang putra raja bernama Si Lundu Nipahu. Ia seharusnya hidup berbahagia sebagai seorang pangeran bersama keluarga istana. Namun, bencana datang melanda satu keluarga kerajaan.

Pamannya mengadakan kudeta dengan membunuh Raja, ayah Si Lundu Nipahu terbunuh sedangkan Si Lundu Nipahu juga dikejar-kejar pamannya untuk dibunuh karena pemuda ini mewarisi cincin kerajaan pewaris tahta.

Maka, pemuda ini melarikan diri ke hutan-hutan. Pada suatu hari, karena sudah amat lelah berjalan melintasi hutan rimba, Si Lundu Nipahu duduk beristirahat di bawah pohon kayu besar yang rindang daunnya. Tiba-tiba di hadapannya melintas seekor ular dengan membawa seekor katak di mulutnya.

Katak itu menjerit-jerit kesakitan dengan suaranya sangat memilukan hati. Si Lundu Nipahu bangkit segera mengejar ular itu. Dengan sepotong kayu, Si Lundu Nipahu menekan kepala ular itu sehingga katak yang ada di mulutnya terlepas dan cepat-cepat melompat melarikan diri.
"Terima kasih anak muda, aku tak akan melupakan budi baikmu tadi," kata si katak dari kejauhan.
Si Lundu Nipahu tersenyum mendengar ucapan katak ajaib yang bisa bicara itu. Kemudian, Si Lundu Nipahu duduk kembali ke tempat semula di bawah pohon kayu besar itu. Baru beberapa saat ia duduk, ular yang tadinya dijepitnya dengan kayu tiba-tiba muncul di hadapannya.

Sebelum sempat berbuat sesuatu, Si Lundu Nipahu mendengar ular itu berkata, "Hai anak muda, mengapa engkau lepaskan katak mangsaku tadi ?"

Melihat ular itu pandai berbicara, Si Lundu Nipahu jadi terkejut dan mulai ketakutan,
"Hai anak muda ! Jawab pertanyaanku. Kalau tidak, kau akan kubunuh,” berkata ular itu lagi.
Dengan gemetar karena takut, Si Lundu Nipahu berkata,
"Maaf, aku mesti melepaskan katak itu karena ayahku menasihatkan bahwa aku wajib menolong siapa saja yang sedang dalam keadaan terjepit. Kalau aku tidak melepaskan katak ini, berarti aku tidak mematuhi nasihat ayahku dan melanggar kewajibanku.”
"Kalau begitu, kau juga wajib menolongku karena aku juga sedang dalam keadaan terjepit. Aku akan mati kelaparan kalau katak mangsaku itu tidak segera kau ganti," kata ular itu.

"Apa yang harus kuberikan untuk penggantinya ?" tanya Si Lundu Nipahu dengan ketakutan.

"Potonglah daging pahamu sebesar katak itu, dan berikan kepadaku," jawab ular itu tegas.

Karena tidak diberi pilihan lain, Si Lundu Nipahu terpaksa memenuhi permintaan ular itu.

Si Lundu Nipahu merasa kesakitan sekali pada saat ia memotong sebagian daging pahanya dan darah deras bercucuran dari lukanya.

Setelah mengambil potongan daging paha Si Lundu Nipahu, ular berbisa itu pun cepat-cepat menjalar masuk ke dalam semak-semak, sedangkan Si Lundu Nipahu tergeletak kesakitan. Luka di pahanya semakin banyak mengucurkan darah.

"Aduh sakitnya, siapa kini yang menolongku ?" desah Si Lundu Nipahu.

Beberapa saat kemudian masih dalam keadaan kesakitan, Si Lundu Nipahu melihat ular itu datang kembali mendekati Si Lundu Nipahu dengan membawa selembar daun kayu di mulutnya. Si Lundu Nipahu menjerit karena disangka ular itu akan mematuknya.

Tetapi tiba-tiba ia mendengar ular itu berkata, "Hai anak muda, ambil daun kayu di mulutku ini, dan tempelkan ke luka di pahamu itu."

Si Lundu Nipahu segera melakukan apa yang dikatakan ular itu. Begitu daun kayu itu menyentuh luka di pahanya, luka itu pun sembuh dan tak berbekas sama sekali. Si Lundu Nipahu benar-benar kaget melihat keajaiban ini.

Si Lundu Nipahu mendengar pula ular itu berkata,
"Karena kau seorang pemuda yang menaati nasihat orang tua, dan senantiasa pula menjalankan kewajibanmu tanpa ragu, kau berhak memiliki daun penyembuh itu. Simpanlah baik-baik. Daun itu dapat menyembuhkan penyakit apa saja.”
Selesai berkata demikian, ular itu pun segera menghilang ke dalam semak-semak.

Setelah beberapa minggu meneruskan pengembaraannya, Si Lunda Nipahu tiba di sebuah kerajaan besar. Ia menumpang di rumah seorang perempuan tua yang tak punya suami dan anak. Perempuan tua itu amat sayang kepada Si Lundu Nipahu karena budi pekertinya baik.

Pada suatu malam, perempuan tua itu menceritakan kepada Si Lundu Nipahu bahwa putri tunggal raja di Negeri itu sudah lama sakit parah.

"Sakit apa, Nek ?" tanya Si Lundu Nipahu penasaran.
Si nenek menjawab,
“Tidak ada yang tahu, apa nama penyakit sang putri. Yang pasti sang putri hanya bisa berbaring di atas tempat tidur saja. Makin hari tubuhnya bertambah kurus."
"Apakah tidak ada tabib sakti di negeri ini ?"

Si nenek menerangkan, "Puluhan tabib dan dukun termahsyur sudah mengobatinya, bahkan Baginda Raja sudah mendatangkan tabib dari luar negeri, tetapi penyakit putri raja itu tak juga sembuh."

Keesokan harinya, Si Lundu Nipahu diam-diam pergi ke istana. Melihat penampilannya yang halus dan sopan, ia dipercaya memasuki istana raja dan Baginda Raja juga langsung menyukai Si Lundu Nipahu yang dianggap punya tata krama adat istiadat istana kerajaan itu.
"Aku yakin pemuda ini bukan pemuda sembarangan. Tidak mungkin ia rakyat biasa, sinar wajahnya menunjukkan bahwa ia putra seorang bangsawan. Semoga dia bisa menolong putriku," demikian pikir raja.
Atas izin raja, ia mencoba mengobati penyakit tuan putri. Begitu daun penyembuh pemberian ular itu disapukan oleh Si Lundu Nipahu ke kening sang putri, gadis yang amat cantik rupawan itu pun segera sembuh. Sang raja amat takjub melihatnya.

"Sudah kuduga kau bukanlah orang sembarangan," kata Baginda Raja. "Anak muda ini siapakah sebenarnya ?"

Si Lundu Nipahu segera menceritakan siapa sebenarnya dirinya, bahwa ia sebenarnya juga putra seorang raja. Mengetahui hal ini, Raja merasa sangat gembira. Untuk membalas jasanya, Baginda Raja mengawinkan putrinya dengan Si Lundu Nipahu.

Setahun kemudian, Si Lundu Nipahu dan istrinya berlayar dengan perahu melintasi sungai menuju negeri asalnya. Mereka diiringi oleh puluhan perahu besar yang penuh berisi laskar bersenjata lengkap karena Si Lundu Nipahu hendak menuntut keadilan dari pamannya yang kini menduduki tahta setelah membunuh ayahnya.

Ketika sedang melayari sungai menuju negeri asalnya itu, cincin pusaka pemberian ayahnya terlepas dari jari manis Si Lundu Nipahu dan masuk ke sungai yang dalam. Rombongan Si Lundu Nipahu berhenti untuk mencari cincin itu tetapi tak dapat ditemukan.

Si Lundu Nipahu merasa sedih sekali, karena cincin itu merupakan pertanda bahwa Si Lundu Nipahu adalah putra mahkota yang berhak menduduki tahta kerajaan untuk menggantikan ayahnya. Dengan hilangnya cincin itu, berarti Si Lundu Nipahu kehilangan haknya untuk menduduki tahta.

Ketika Si Lundu Nipahu dan istrinya termenung sedih di atas perahu, tiba-tiba meloncat seekor katak dari dalam sungai dan jatuh di hadapan mereka. Katak itu tiba-tiba memuntahkan dari mulutnya sebuah cincin Si Lundu Nipahu yang tadinya terjatuh ke dalam sungai.

Tanpa menunggu lama, katak itu meloncat kembali ke dalam sungai. Katak itu adalah katak yang dahulu pernah ditolong Si Lundu Nipahu.

Si Lundu Nipahu teringat akan ucapan katak sesaat setelah dia menolongnya dari terkaman si ular besar. Pelayaran mereka akhirnya dilanjutkan kembali. Setelah tiba di negeri asalnya, Si Lundu Nipahu memerintahkan laskar pengawalnya untuk bersiap-siap menunggu serangan laskar pamannya karena ia yakin kedatangannya pasti disambut pamannya dengan serangan.

Lama menunggu tetapi yang muncul bukan pasukan besar dari pamannya, melainkan seorang lelaki tua penjaga kebun istana.

"Paman Napu ?" sapa Si Lundu Nipahu, ia memang mengenal orang tua itu.
"Pangeran Lundu.....?"
"Benar paman, akulah Si Lundu Nipahu yang dulu sering paman ajak bermain.”
"Pangeran Lundu, syukurlah engkau kembali dengan selamat. Kedatangan Pangeran benar-benar pada saat yang tepat.”
"Memangnya kenapa paman ?"
"Ketahuilah, tiga hari yang lalu paman Pangeran yang kejam itu sudah meninggal dunia. Ia mati dipatuk ular ketika sedang berburu rusa di hutan.”
"Benarkah ?"
"Benar Pangeran, rakyat sudah lama menunggu kedatangan Pangeran”
"Ah, mungkin paman mati dipatuk ular yang telah memberiku daun penyembuh itu," pikir Si Lundu Nipahu.

Kedatangan putra mahkota Si Lundu Nipahu di negeri asalnya disambut gembira oleh seluruh rakyat. Sudah lama mereka mengharapkan kedatangannya, mereka sudah bosan diperintah oleh Paman Si Lundu Nipahu yang bengis dan kejam.

Demikianlah, atas permintaan rakyatnya Si Lundu Nipahu akhirnya dinobatkan menjadi raja yang sah menggantikan kedudukan ayahnya yang dibunuh oleh pamannya itu.

Pelajaran yang bisa kamu petik dari Kisah Si Lundu Nipahu – Penolong Yang Baik Hati (Sumatera Utara), yaitu orang yang ikhlas menolong orang lain akan mendapat balasan yang menyenangkan. Begitu juga, sebaliknya orang yang penuh rekayasa berbuat jahat kepada orang lain juga akan menuai benih kejahatannya itu dengan nasib yang tragis.
Semoga cerita rakyat di atas bisa membantu kamu terkait hikmah pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.

Berlangganan via Email