Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Asal Mula Reog Ponorogo - Putri Sanggalangit dan Raja Kelanaswandana (Jawa Timur)


Kisah Asal Mula Reog Ponorogo - Putri Sanggalangit dan Raja Kelanaswandana (Jawa Timur)

Dahulu kala, ada seorang putri yang cantik jelita bernama Dewi Sanggalangit. Ia puteri seorang yang terkenal di Kediri. Karena wajahnya yang cantik jelita dan sikapnya yang lemah lembut, banyak para pangeran dan raja-raja yang ingin meminangnya untuk dijadikan sebagai seorang istri.

Namun, sayang Dewi Sanggalangit nampaknya belum berminat untuk berumah tangga. Sehingga membuat pusing kedua orang tuanya, padahal kedua orang tuanya sudah sangat mendambakan hadirnya seorang cucu.

"Anakku sampai kapan kau menolak setiap pangeran yang datang melamarmu ?" tanya Raja pada suatu hari. Dewi Sanggalangit terdiam, ini adalah untuk yang kesekian kali ayahnya bertanya tentang lamaran orang.

"Sebenarnya apa maumu, anakku ?" tanya sang Raja dengan bijak.
"Ayahanda, sebenarnya hamba belum berhasrat untuk bersuami. Namun jika ayahanda sangat mengharapkan, baiklah. Hanya saja hamba minta syarat, calon suami hamba harus bisa memenuhi keinginan hamba."
"Lalu, apa keinginanmu itu ?"
"Hamba belum tahu.”
"Lho ? Kok aneh...?" sahut Baginda.
"Hamba minta disediakan tempat khusus untuk bersemedi. Hamba akan memohon petunjuk Dewa. Setelah itu hamba akan menghadap ayahanda untuk menyampaikan keinginan hamba."
Demikianlah, Baginda segera memerintahkan para pegawai istana untuk mengatur keperluan anaknya untuk menyepi dari keramaian dan bersemedi, memohon petunjuk Dewata.

Tiga hari tiga malam, Dewi Sanggalangit bersemedi tanpa makan dan minum. Tempatnya bersemedi dijaga ketat oleh prajurit dan para dayang istana. Tidak seorang pun boleh masuk atau mengganggu sang putri.

Pada hari keempat, sang putri nampak keluar dari ruang semedi dengan wajah pucat dan langkahnya terhuyung-huyung. Biyung Emban, kepala para dayang segera memapahnya.

"Bagaimana Tuan Putri ? Sudah dapat petunjuk !" tanya Biyung Emban.
"Sudah biyung tapi badanku terasa lesu dan lelah,” sang putri dengan lemah.
"Yah, tentu saja Tuan Putri, lha wong tiga hari tiga malam tidak makan dan tidur,” sahut Biyung Emban.

"Lalu bagaimana ? Seperti apa calon suami Tuan Putri ? Apakah dia bertubuh tinggi besar dan berwajah tampan ? Atau dia bertubuh kurus namun tampan dan ototnya kuat ?”
“Ah kau ini apa-apaan ?”
"Lho Tuan Putri ini bagaimana sih. Apakah calon suami Tuan Putri bertubuh gendut ? Tidak mengapa gendut yang penting wajahnya cakep !"

Sang Putri dengan gemas mencubit pinggang Biyung Emban,
"Biyung sekarang antarkan saya menghadap ayahanda."
"Siap Tuan Putri...,”

Dewi Sanggalangit segera menghadap ayahandanya di Balairung Istana.
"Bagaimana anakku ? Sudah kau dapatkan persyaratan bagi calon suamimu ?" tanya sang Raja.
Dewi Sanggalangit membungkuk hormat lalu berkata,
"Ayahanda, calon suami hamba harus mampu menghadirkan suatu tontonan yang menarik. Tontonan atau keramaian yang belum ada sebelumnya, semacam tarian yang diiringi tabuhan dan gamelan. Dilengkapi dengan barisan kuda kembar sebanyak 140 ekor. Nantinya akan dijadikan iringan pengantin. Terakhir harus dapat menghadirkan binatang berkepala dua."
"Wah berat sekali syaratmu ini !" sahut Baginda. "Tapi, baiklah tidak mengapa. Kita coba umumkan kepada masyarakat siapa tahu ada yang sanggup memenuhinya."

Meski berat syarat itu tetap diumumkan kepada segenap khayalak ramai, siapa saja boleh mengikuti sayembara itu. Tidak peduli para pangeran, putra bangsawan atau rakyat jelata. Para pelamar yang tadinya menggebu-gebu untuk memperistri Dewi Sanggalangit sekarang jadi ciut nyalinya.

Banyak dari mereka yang mengundurkan diri karena merasa tak sanggup memenuhi permintaan Sang Dewi.

Akhirnya, tinggal 2 orang yang menyatakan sanggup memenuhi permintaan Dewi Sanggalangit itu. Mereka adalah Raja Singabarong dari Kerajaan Lodaya dan Raja Kelanaswandana dari Kerajaan Bandarangin.

Baginda raja sangat terkejut mendengar kesanggupan kedua raja itu. Sebab Raja Singabarong adalah manusia yang aneh. Ia seorang manusia yang berkepala harimau, wataknya buas dan kejam.

Sedangkan, Raja Kelanaswandana adalah seorang raja yang berwajah tampan dan gagah, namun punya kebiasaan aneh, suka pada anak-anak laki-laki. Anak laki-laki itu dianggapnya sebagai gadis-gadis cantik.

Namun semua sudah terlanjur, Dewi Sanggalangit tidak bisa menggagalkan persyaratannya yang telah diumumkan. Raja Singabarong dari Kerajaan Lodaya memerintah dengan bengis dan kejam. Semua kehendaknya harus dituruti, siapa saja dari rakyatnya yang membangkang tentu akan dibunuh.

Raja Singabarong bertubuh tinggi besar. Dari bagian leher ke atas berwujud harimau yang mengerikan. Berbulu lebat dan penuh dengan kutu-kutu. Itulah sebabnya ia suka memelihara seekor burung merak yang rajin mematuk kutu-kutunya.

Ia sudah mempunyai selir yang jumlahnya banyak sekali, namun belum mempunyai permaisuri satu pun di istananya. Menurutnya sampai detik ini, belum ada wanita yang pantas menjadi permaisurinya, kecuali Dewi Sanggalangit dari Kediri. Karena itu, ia sangat berharap dapat memenuhi syarat yang diajukan oleh Dewi Sanggalangit.

Raja Singabarong telah memerintahkan kepada para abdinya untuk mencarikan kuda-kuda kembar, mengerahkan para seniman dan seniwatinya menciptakan tontonan yang menarik, dan mendapatkan seekor binatang berkepala dua.

Namun, pekerjaan itu ternyata tidak mudah. Kuda kembar sudah dapat dikumpulkan namun tontonan dengan kreasi baru belum tercipta, demikian pula binatang berkepala dua belum didapatkan.
Maka pada suatu hari, ia memanggil patihnya yang bernama Iderkala.
"Hai Patih ! Coba kau selidiki sampai di mana Si Kelanaswandana mempersiapkan permintaan Dewi Sanggalangit. Kita jangan sampai kalah cepat oleh Kelanaswandana.”
Patih Iderkala dengan beberapa prajurit pilihan segera berangkat menuju Kerajaan Bandarangin dengan menyamar sebagai seorang pedagang. Mereka menyelidiki berbagai upaya yang dilakukan oleh Raja Kelanaswandana. Setelah melakukan penyelidikan dengan seksama selama lima hari, mereka kembali ke Lodaya.
“Ampun Baginda. Kiranya Si Kelanaswandana hampir berhasil mewujudkan permintaan Dewi Sanggalangit. Hamba lihat lebih dari 100 ekor kuda kembar telah dikumpulkan. Mereka juga telah menyiapkan tontonan yang menarik, dan sangat menakjubkan," Patih Iderkala melaporkan.
"Wah Celaka ! Kalau begitu sebentar lagi dia dapat merebut Dewi Sanggalangit sebagai istrinya," kata Raja Singabarong.

"Lalu Bagaimana dengan binatang berkepala dua, apa juga sudah mereka siapkan ?"

"Hanya binatang itulah yang belum mereka siapkan tetapi nampaknya sebentar lagi mereka akan dapat menemukannya," sambung Patih Iderkala.

Raja Singabarong menjadi gusar sekali, ia bangkit berdiri dari kursinya dan berkata keras.
"Patih Iderkala ! Mulai hari ini siapkan prajurit pilihan dengan senjata yang lengkap. Setiap saat mereka harus siap diperintah menyerbu ke Bandarangin."

Demikianlah, Raja Singabarong bermaksud merebut hasil usaha keras Raja Kelanaswandana. Setelah mengadakan persiapan yang matang, Raja Singabarong memerintahkan prajurit mata-mata untuk menyelidiki perjalanan yang akan ditempuh Raja Kelanaswandana dari Wengker menuju Kediri.

Rencananya Raja Singabarong akan menyerbu mereka di perjalanan dan merampas hasil usaha Raja Kelanaswandana untuk diserahkan sendiri kepada Dewi Sanggalangit. Raja Kelanaswandana yang memerintah Kerajaan Wengker berwajah tampan dan bertubuh gagah. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana.

Namun ada wataknya yang tidak baik, ia suka mencumbui anak-anak laki-laki. Ia menganggap anak laki-laki yang berwajah tampan dan bertubuh molek itu seperti gadis-gadis remaja. Hal ini sangat mencemaskan pejabat kerajaan dan para pendeta sekaligus menimbulkan kesedihan bagi para rakyat yang harus kehilangan anak laki-lakinya sebagai pemuas nafsu Raja.

Patih Pujanggeleng dan pendeta istana sudah berusaha menasihati Raja agar meninggalkan kebiasaan buruknya itu, namun saran mereka tiada gunanya. Raja tetap saja mengumpulkan puluhan anak laki-laki yang berwajah tampan.

Pada suata hari, Raja Kelanaswandana memanggil semua pejabat kerajaan dan para pendeta dan ia berkata, bahwa ia akan menghentikan kebiasaan buruknya jika dapat memperistri Dewi Sanggalangit dari Kediri. Sebab, semalam ia bermimpi bertemu dengan gadis cantik jelita itu dalam tidurnya.

Menurut Para Dewa, gadis itulah yang akan menghentikan kebiasaan buruknya mencumbui anak laki-laki. Seluruh pejabat dan pendeta menyetujui kehendak Raja yang ingin memperistri Dewi Sanggalangit.

Maka ketika mereka mendengar persyaratan yang diajukan Dewi Sanggalangit, mereka tiada gentar, seluruh kawula kerajaan, baik para pejabat, seniman, dan rakyat biasa rela bekerja keras guna memenuhi permintaan Dewi Sanggalangit itu.

Karena mendapat dukungan seluruh rakyatnya, maka dalam tempo yang tidak begitu lama Raja Kelanaswandana dapat menyiapkan sebagian besar permintaan Dewi Sanggalangit itu. Hanya binatang berkepala dua-lah yang belum berhasil didapatnya.

Patih Pujanggaleng yang bekerja mati-matian mencarikan binatang itu ke hutan, akhirnya angkat tangan juga dan menyatakan ketidaksanggupannya kepada Raja itu.
"Tidak Mengapa ! Soal binatang berkepala dua itu aku sendiri yang akan mencarinya. Sekarang tingkatkan kewaspadaan, aku mencium gelagat kurang baik dari Kerajaan Tetangga,” kata Raja Kelanaswandana.
"Maksud Baginda ?" tanya Patih Pujanggaleng penasaran,
"Coba kau menyamar jadi rakyat biasa, berbaurlah dengan penduduk di pasar dan keramaian lainnya."
Perintah itu dijalankan, maka Patih Pujanggeleng mengerti maksud Raja. Ternyata memang benar, ada penyusup dari Kerajaan Lodaya.

Mereka adalah para prajurit pilihan yang menyamar sebagai pedagang keliling. Patih Pujanggeleng yang juga mengadakan penyamaran serupa, akhirnya dapat mengorek keterangan secara halus apa maksud prajurit Lodaya itu datang ke Bandarangin.

Prajurit Lodaya merasa girang setelah mendapatkan keterangan yang diperlukan. Ia bermaksud kembali ke Lodaya. Namun sebelum melewati perbatasan, anak buah Patih Pujanggeleng sudah mengepungnya, karena prajurit itu melawan maka terpaksa para prajurit Bandarangin membunuhnya.
Patih Pujanggeleng menghadap Raja Kelanaswandana,

"Apa yang kau dapatkan ?" tanya Raja Kelanaswandana.
"Ada penyusup dari Kerajaan Lodaya yang ingin mengorek keterangan tentang usaha Baginda memenuhi persyaratan Dewi Sanggalangit. Raja Singabarong hendak merampas usaha Baginda dalam perjalanan menuju Kediri.”
"Kurang ajar ! Jadi Raja Singabarong akan menggunakan cara licik untuk memperoleh Dewi Sanggalangit. Kalau begitu kita hancurkan Kerajaan Lodaya sesegera mungkin. Siapkan bala tentara kita.”

Sementara itu, Raja Singabarong yang menunggu laporan dari prajurit mata-mata yang dikirim ke Bandarangin nampak gelisah. Ia segera memerintahkan Patih lderkala menyusul ke perbatasan. Sementara, dia sendiri segera pergi ke taman sari untuk menemui si burung merak, karena pada saat itu kepalanya terasa gatal sekali.

"Hai Burung Merak ! Cepat patukilah kutu-kutu di kepalaku !" teriak Raja Singabarong dengan gemetaran menahan gatal.

Burung merak yang biasa melakukan tugasnya segera hingga di bahu Raja Singabarong, lalu mematuki kutu-kutu di kepala Raja Singabarong. Patukan-patukan si burung merak terasa nikmat dan asyik, bagaikan buaian sehingga Raja Singabarong sangat terlena sampai akhirnya dia tertidur, ia sama sekali tak mengetahui keadaan di luar istana.

Karena tak ada prajurit yang berani melapor kepadanya. Memang sudah diperintahkan kepada para prajurit bahwa jika ia sedang berada di taman sari siapapun tidak boleh menemui dan mengganggunya, jika perintah itu dilanggar maka pelakunya akan dihukum mati.

Karena tertidur, ia sama sekali tak mengetahui jika di luar istana Pasukan Bandarangin sudah datang menyerbu dan mengalahkan Prajurit Lodaya. Bahkan Patih Iderkala yang dikirim ke perbatasan telah binasa lebih dahulu karena berpapasan dengan Pasukan Bandarangin.

Ketika peperangan itu sudah merembet ke dalam istana dekat taman sari, barulah Raja Singabarong terbangun karena mendengar suara ribut-ribut di luar. Sementara, Si Burung Merak masih terus bertengger mematuki kutu-kutu di kepalanya, jika dilihat sepintas dari depan Raja Singabarong seperti binatang berkepala dua yaitu berkepala harimau dan burung merak.

"Hai, mengapa kalian ribut-ribut ?" teriak Raja Singabarong.
Tak ada satu pun jawaban, kecuali berkelebatnya bayangan seseorang. Yang tak lain adalah Raja Kelanaswandana.

Raja Bandarangin itu tahu-tahu sudah berada di hadapan Raja Singabarong, Raja Singabarong lantas terkejut sekali, "Hai Raja Kelanaswandana, mau apa kau datang kemari ?"

"Jangan pura-pura bodoh ! Bukankah kau hendak merampas usahaku dalam memenuhi persyaratan Dewi Sanggalangit," sahut Raja Kelanaswandana.

"Hem, jadi kau sudah tahu !" sahut Raja Singabarong dengan penuh rasa malu.

"Ya, maka untuk itu aku datang menghukummu !" berkata demikian Raja Kelanaswandana mengeluarkan kesaktiannya diarahkan ke bagian kepala Raja Singabarong.

Seketika kepala Singabarong berubah, burung merak yang bertengger di bahunya tiba-tiba melekat jadi satu di atas kepalanya sehingga Raja Singabarong laksana berkepala dua.

Raja Singabarong marah bukan kepalang, ia mencabut kerisnya dan meloncat menyerang Raja Kelanaswandana. Begitu cepatnya gerakan Raja Singabarong, sehingga Raja Kelanaswandana tidak sempat mengelak, bahu sebelah kirinya tergores keris.

Raja Kelanaswandana mengerang lirih, keris Raja Singabarong ternyata bukan sembarang keris. Bahu sebelah kirinya melepuh hitam dan berasap akibat goresan keris itu. Dan belum lagi, ia bersiap sedia Raja Singabarong sudah menerjang lagi dengan tendangan kaki ke arah pinggangnya.

"Plak !" kali ini Raja Kelanaswandana mampu menangkis tendangan kaki Raja Singabarong.

Bukan sembarang sang telapak tangan kanan Raja Kelanaswandana mampu membuat Raja Singabarong terhuyung ke belakang beberapa langkah. Raja Kelanaswandana tak mau ketinggalan lagi, kini ia yang ganti menyerang.

Ia meloncat dan berputarbalik badannya di udara itu bagaikan Burung Srigunting, ia menukik ke arah Raja Singabarong. Raja Singabarong mengacungkan kerisnya tepat ke arah kepala Raja Kelanaswandana, namun dengan gerakan cepat Raja Kelanaswandana membalik tubuh dan kaki kirinya menendang pergelangan tangan Raja Singabarong.

“Plak !" Keris di tangan Raja Singabarong akhirnya terlempar jauh ke tanah, sementara tangan Raja Singabarong terasa sengkleh (hampir patah).

Raja Singabarong menggerang marah, bangkit berdiri lalu mengaum seperti singa, kini ia mengerahkan jurus ilmu singa menerkam mangsa. Ia merangsak maju, hanya dalam hitungan menit Raja Kelanaswandana menjadi bulan-bulanan, tubuhnya terkena sambaran cakar Raja Singabarong.

Raja Kelanaswandana hampir saja kalah hingga suatu ketika sebuah tendangan keras dari Raja Singabarong membuat tubuh Raja Kelanaswandana terlempar jauh. Namun, Raja Kelanaswandana segera bangkit berdiri dan lepas sabuk yang melingkar di pinggangnya, itulah cambuk sakti yang diberi nama Samandiran. 

Dengan cepat, ia mengayunkan itu. Begitu diayunkan cambuk itu mengeluarkan hawa ganas dan suaranya seperti halilintar.

“Jledhaaaarrrrrr….!”

"Ampuuuunnn...!" Begitu terkena cambuk Samandiman, tubuh Raja Singabarong langsung terpental, menggelepar-gelepar di atas tanah dan kemudian seketika tubuhnya terasa lemah.

Dengan tertatih-tatih, Raja Singabarong berusaha bangkit berdiri dan berusaha mencoba melawan Raja Kelanaswandana sekali lagi. Namun, ia hanya mampu berdiri saja dan baru sadar sudah tidak lagi punya kekuatan untuk menyerang.

Raja Kelanaswandana datang mendekat, ia bersedekap membaca mantra lalu tangannya diacungkan ke arah Raja Singabarong.

"Jadilah binatang berkepala dua !” demikian sabda Raja Kelanaswandana dengan suara keras.

Ajaib, tiba-tiba tubuh Raja Singabarong berubah menjadi binatang aneh dan berkepala dua yaitu kepala harimau dan merak. Ia sudah tidak dapat berbicara lagi dan keadaan akalnya telah hilang.

Raja Kelanaswandana segera memerintahkan prajurit Bandarangin untuk menangkap Singabarong dan membawanya ke Negeri Bandarangin. Beberapa hari kemudian, Raja Kelanaswandana mengirim utusan yang memberitahukan Raja Kediri bahwa ia segera datang membawa persyaratan Dewi Sanggalangit.

Raja Kediri langsung memanggil Dewi Sanggalangit,
"Anakku, apa kau benar-benar bersedia menjadi istri Raja Kelanaswandana ?"

“Ayahanda, apakah Raja Kelanaswandana sanggup memenuhi persyaratan hamba ?” tanya balik putri kesayangannya.

“Tentu saja, dia akan datang dengan semua persyaratan yang kau ajukan. Masalahnya sekarang, tidakkah kau menyesal jadi istri Raja Kelanaswandana ?"

“Jika hal itu sudah jodoh hamba, saya akan menerimanya. Siapa tahu kehadiran hamba di sisinya akan merubah kebiasaan buruknya itu," tutur Dewi Sanggalangit.

Demikianlah pada hari yang ditentukan, datanglah rombongan Raja Kelanaswandana dengan kesenian Reog sebagai pengiring. Raja Kelanaswandana datang dengan iringan 140 ekor kuda kembar, dengan suara gamelan, gendang dan terompet yang menimbulkan perpaduan suara aneh, merdu mendayu-dayu.

Ditambah lagi, dengan hadirnya seekor binatang berkepala dua yang menari-nari liar namun indah dan menarik hati. Semua orang yang menonton bersorak kegirangan, tanpa terasa mereka ikut menari dan berjingkrak-jingkrak kegirangan mengikuti suara musik.

Demikianlah, pada akhirnya Dewi Sanggalangit menjadi permaisuri Raja Kelanaswandana dan diboyong ke Negeri Bandarangin di daerah Wengker. Wengker adalah nama lain dari Ponorogo, sehingga di kemudian hari kesenian Reog itu disebut Reog Ponorogo.

Pelajaran yang bisa kamu petik dari Kisah Asal Mula Reog Ponorogo - Putri Sanggalangit dan Raja Kelanaswandana (Jawa Timur), yaitu jangan berbuat curang, jangan berlaku kejam dan bengis kepada rakyatnya, memimpin sesuatu dengan adil bijaksana, jangan membiarkan orang lain menginjak-injak harga dirimu, berusaha menghentikan kebiasaan buruk dan menahan hawa nafsunya sendiri.
Semoga cerita rakyat di atas bisa membantu kamu terkait hikmah pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.