Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Asal Mula Danau Toba dan Pulau Samosir – Legenda Sumatera Utara


Kisah Asal Mula Danau Toba dan Pulau Samosir – Legenda Sumatera Utara

Pada zaman dahulu, ada seorang petani yang bernama Toba, ia hidup menyendiri di sebuah lembah yang landai dan subur. Petani itu mengerjakan sawah dan ladang untuk keperluan hidupnya. Selain mengolah tanah di ladangnya, kadang-kadang lelaki itu pergi memancing ikan ke sungai yang berada tak jauh dari rumahnya.

Setiap kali dia memancing, ikan didapatnya dengan mudah karena di sungai yang jernih itu memang banyak sekali ditemukan berbagai ikan. Ikan hasil pancingannya pun dia masak untuk dimakan.

Pada suatu sore, setelah pulang dari ladang lelaki itu langsung pergi ke sungai untuk memancing tetapi sudah cukup lama dia memancing tak seekor ikan pun didapatnya. Kejadian yang begitu belum pernah dia alami sebelumnya, biasanya ikan di sungai itu mudah sekali untuk didapatkan.

Karena sudah terlalu lama, tak ada juga ikan yang memakan umpan pancingnya sama sekali, dia menjadi kesal dan memutuskan untuk berhenti saja memancing.

"Ke mana saja ikan-ikan di sungai ini,” gumam lelaki itu. "Sejak tadi, aku belum mendapat satu ekor yang kecil sekalipun.”

Ia mencoba bersabar dan menunggu beberapa saat, namun tetap saja nihil.

"Ah, mendingan pulang saja !" Pak Toba itu kelihatannya sudah putus asa.

“Tetapi, kalau pulang rugi juga, sudah sekian lama aku tak dapat ikan. Biarlah kutunggu beberapa saat,” gumamnya sambil menghibur diri.

Namun, lama-lama karena umpannya sama sekali tidak disentuh oleh ikan sungai dan akhirnya ia merasa putus asa.

"Baiklah aku pulang saja," kata dia dengan tekadnya bulat.

Tetapi, ketika dia hendak menarik pancingnya, tiba-tiba pancing itu disambar ikan dan dia langsung saja menarik pancing itu jauh-jauh ke tengah sungai.

"Nah, ini dia."

Hatinya yang tadi sudah kesal berubah menjadi gembira, karena dia tahu bahwa ikan yang menyambar kail pancingnya itu adalah ikan yang besar.

"Baiklah ikan, silahkan kau bawa umpanku ke mana kau bisa." gumam lelaki itu dengan wajah berseri.

Setelah beberapa lama, dia membiarkan pancingnya ditarik ikan itu ke sana kemari, barulah pancing itu ditariknya perlahan-lahan. Ketika pancing itu disentakkannya, tampaklah seekor ikan besar tergantung dan menggelepar-gelepar di ujung tali pancingnya.

"Wah…? Benarkah penglihatanku ini ?" serunya hampir tak percaya.

Dengan cepat, ikan itu ditariknya ke darat supaya tidak lepas. Sambil tersenyum gembira, mata pancingnya dia lepas dari mulut ikan itu.

Pada saat dia sedang melepaskan mata pancing itu, ikan tersebur memandangnya dengan penuh arti. Kemudian, setelah ikanku diletakkannya ke satu tempat yang aman, dia pun masuk ke dalam sungai untuk mandi.

Ketika dia meninggalkan sungai untuk pulang ke rumahnya, hari sudah mulai senja. Setibanya di rumah, lelaki itu langsung membawa ikan besar hasil pancingannya itu ke dapur.

"Nah, itu dia persediaan minyak kelapa masih ada. Tapi... Wah ? Kayu bakarnya habis."

Pada saat dia hendak menyalakan api untuk memanggang ikan itu, ternyata kayu bakar di dapur rumahnya sudah habis dan segera keluar untuk mengambil kayu bakar dari bawah kolong rumahnya. Kemudian sambil membawa beberapa potong kayu bakar, dia naik kembali ke atas rumah dan langsung menuju dapur.

Ketika lelaki itu tiba di dapur, dia terkejut sekali karena ikan besar itu sudah tidak ada lagi. Tetapi di tempat ikan itu tadi diletakkan, tampak terhampar beberapa keping uang emas.

"Apa ini...? Wah uang emas ?" teriak lelaki itu kaget. "Mengapa bisa terjadi begini. Ke mana ikan besar itu ?”

Lelaki itu tak habis pikir atas kejadian aneh itu.

"Mengapa ikan itu lenyap dan berganti jadi uang emas ?" tanyanya penasaran dalam hati.
Dengan emas itu, dia akan dapat memperbaiki rumah dan membeli perabotan yang cukup bagus.
"Tapi siapa yang meletakkan emas itu di dapur ?" tanya dalam hati penuh penasaran.

Karena terkejut dan heran mengalami keadaan yang aneh itu, sambil membawa keping uang emas dia meninggalkan dapur dan masuk ke kamar. Ketika lelaki itu membuka pintu kamar, tiba-tiba darahnya tersirap karena di dalam kamar itu berdiri seorang perempuan dengan rambut yang panjang terurai.

Perempuan itu sedang menyisir rambutnya sambil berdiri menghadap cermin yang tergantung pada dinding kamar. Sesaat, perempuan itu tiba-tiba membalikkan badannya dan memandang lelaki itu yang tegak kebingungan di mulut pintu kamar.

Lelaki itu menjadi sangat terpesona karena wajah perempuan yang berdiri di hadapannya luar biasa cantiknya. Dia belum pernah melihat perempuan secantik itu meskipun dahulu dia sudah jauh mengembara ke berbagai negeri.

“Kau… kau ini siapa ?” tanya lelaki itu dengan gemetar.
“Apakah kau benar-benar ingin tahu siapa aku ?" tanya perempuan itu.
“Benar, sejak kapan kau berada di dalam kamarku ?"
"Baru saja. Kau yang tadi telah membawaku dari sungai."
"Hah ? Dari sungai ? Memangnya kau ini….," lelaki itu tidak meneruskan ucapannya.
"Ya…. Aku….. aku adalah jelmaan ikan yang kau tangkap di sungai," kata perempuan itu dengan suara renyah dan merdu.

"Kau… kau jelmaan ikan ? Ah jangan bercanda !"
"Betul, aku telah mengatakan hal yang sebenarnya."
"Benarkah ?"
"Benar Bang !" desah perempuan itu dengan mesra.

Pandangannya mulai sayu merayu ke Pak Toba dan sontak saja hati lelaki itu berdesir seketika. Selama ini, dia hidup sendiri tanpa pendamping. Kini sekarang, di dalam kamarnya ada seorang perempuan cantik yang sepertinya menaruh hati kepadanya.

"Ah, masak akan kusia-siakan. Ia begitu cantik." pikir lelaki itu dengan pandangan masih terpana.
"Tak peduli dari mana asalnya, aku akan mengawini perempuan ini tetapi aku tidak terburu-buru, akan kuamati dulu selama beberapa hari. Jangan-jangan, ia akan berubah menjadi ikan lagi."

Karena hari sudah malam, perempuan itu minta agar lampu dinyalakan. Setelah lelaki itu menyalakan lampu, dia diajak perempuan itu menemaninya ke dapur karena dia hendak memasak nasi untuk mereka berdua.

Sambil menunggu nasi masak, diceritakan oleh perempuan itu bahwa dia adalah penjelmaan dari ikan besar yang tadi didapat lelaki itu ketika memancing di sungai. Kemudian dijelaskannya pula bahwa beberapa keping uang emas yang terletak di dapur itu adalah penjelmaan dari sisiknya.

Setelah beberapa minggu, perempuan cantik itu tinggal serumah bersamanya dan akhirnya pada suatu hari lelaki itu segera melamar perempuan tersebut untuk menjadi istrinya.

"Adik manis, tidak pantas jika sepasang lelaki dan perempuan tinggal serumah tanpa adanya suatu ikatan." kata lelaki itu memulai pinangannya.
"Maukah kau menemaniku hidup selamanya di rumah ini ?"
"Apa maksud Abang ?"
"Aku melamarmu, aku ingin kau bersedia menjadi istriku." tanya lelaki itu dengan penuh harap.

Perempuan itu menunduk sejenak. Sepasang matanya mengeluarkan tetes air, dan itu bukan tangis kesedihan melainkan tangis bahagia.

"Aku senang mendengar ucapan Abang tetapi apakah Abang bersedia pula berjanji ?"
"Berjanji bagaimana ?"
"Berjanji tidak akan menyebut asal-asalku lagi. Karena apapun yang terjadi, kita adalah sepasang suami-istri. Jadi, tidak boleh kita menghina satu dengan lainnya.”
"Oh, kalau cuma itu aku tidak keberatan."
"Abang mau bersumpah ?"

Lelaki itu mengacungkan jarinya ke atas dan berkata dengan suara mantap.
"Aku Toba, berjanji akan mencintai dan mengasihi istriku selama-lamanya dan tidak akan mengungkit-ungkit atau menyebut asal-usul istriku."
"Terima kasih Abang," kata perempuan itu sambil memeluk calon suaminya.

Demikianlah, perempuan itu kemudian menyatakan bersedia menerima lamarannya dengan syarat lelaki itu harus bersumpah bahwa seumur hidupnya dia tidak akan pernah mengungkit asal-usul istrinya yang berasal dari ikan.

Selanjutnya mereka menikah, mengundang beberapa tetangga dan para tetua desa untuk menjadi saksi. Mereka hidup berbahagia. Namun setelah berumah tangga sekian lama, mereka belum dikaruniai seorang putra.

Pak Toba dan istrinya mulai gelisah dan segera mendatangi kepada sesepuh atau tetua deșa setempat untuk meminta petunjuk. Tetua desa menyarankan agar mereka berdua berhenti makan daging ikan dan hanya memakan nasi dan sayur-mayur selama beberapa bulan.

Tidak berapa lama kemudian, sang istri menunjukkan tanda-tanda adanya kehamilan.
"Puji syukur kepada Tuhan. Kita bakal dikaruniai seorang anak !" kata Pak Toba.
Setelah 9 bulan kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan.
"Bang, berilah nama anak kita ini..." kata sang istri.
"Istriku sebaiknya kau saja yang memberi nama."
"Abang saja !"
"Nanti kalau dia sudah punya adik perempuan, aku giliran yang akan beri nama. Sekarang, kau yang beri nama terlebih dahulu." bujuk Pak Toba.
"Baiklah, Bang. Anak ini kuberi nama Samosir....! Setujukah kau ?"
"Samosir..!" ulang Pak Toba sambil merenung.
"Benar Bang, kita beri nama anak itu Samosir !"
"Nama yang bagus dan kedengarannya cukup indah."

Begitulah, mereka setuju menamakannya anak itu Samosir. Karena sang ibu sudah menunggu sekian lama dan baru kali ini mendapatkannya, maka ia sangat menyayangi anaknya itu begitu juga dengan Pak Toba. Ia tampak bahagia melihat istrinya menimang-nimang si anak di halaman rumah.

Demikian sayangnya sang ibu pada anaknya, tanpa terasa rasa sayangnya berubah menjadi memanjakan si anak. Hal ini yang mengakibatkan anak itu bertabiat kurang baik dan pemalas. Setiap hari, pekerjaannya hanya bermain-main saja.

Setelah cukup besar, anak itu diajari oleh ibunya untuk mengantarkan nasi setiap hari kepada ayahnya yang bekerja di ladang. Namun, sering dia menolak mengerjakan tugas itu sehingga terpaksalah ibunya yang mengantarkan nasi ke ladang.

Suatu hari, anak itu disuruh ibunya lagi mengantarkan nasi ke ladang untuk ayahnya.

"Samosir ! Kemarilah nak, kau antarkan nasi ini kepada ayahmu yang telah bekerja keras di ladang." kata ibunya.
"Ah, saya kan masih kecil. Kenapa tidak ibu saja yang mengantarkan nasi itu ?"
"Samosir, kau harus belajar menyayangi dan menghormati orang tuamu." sahut ibunya dengan nada tidak senang atas bantahan anaknya.
"Apa maksud ibu ?"
"Ayahmu telah bekerja keras sejak pagi tadi. Dia bekerja untuk kita, untuk makan kita sehari-hari. Sudah selayaknya kau membantu, toh kau tidak ikut mencangkul. Cuma mengantarkan nasi dan lauknya saja."
"Ah ibuuuu !"
"Samosir…!"
"Baiklah..., baiklah Bu…!"

Mulanya, dia menolak akan tetapi karena terus dipaksa ibunya, dengan kesal pergilah dia mengantarkan nasi itu. Esok paginya, ia juga diminta mengantarkan nasi dan lauk kepada ayahnya yang tengah berada di ladang.

Seperti yang kemarin, ia juga merasa keberatan melaksanakan tugas dari ibunya. Pada hari ketiga, sang ibu masih tetap menyuruhnya lagi. Kali ini, dia menolaknya mentah-mentah.

“Tidak Bu…! Mengapa saya yang masih kecil diharuskan ikut-ikutan bekerja seperti orang dewasa !" kata Samosir.
"Saya lebih suka bermain-main saja di rumah.”
"Samosir justru kau masih kecil harus belajar bekerja keras. Nanti kalau sudah besar akan jadi terbiasa.” tukas ibunya.
"Tidak, ibu hanya sengaja memanfaatkan aku, karena ibu sendiri malas mengantarkan makanan itu kepada ayah.”
"Jangan salah sangka nak. Kalau kau keberatan juga tidak mengapa, aku akan mengantarkannya sendiri." kata ibunya dengan nada tidak senang. Ada nada ancaman dibalik suara ibunya kali ini.
"Ba...baiklah Bu...sini, aku antar nasinya !"
"Nah, gitu dong anak pintar !"

Samosir membawakan makanan untuk ayahnya dengan hati dongkol. Sepanjang jalan, ia selalu mengomel berkali-kali. Tiba-tiba, terbersit dalam pikirannya untuk berbuat sesuatu agar besoknya dia tidak lagi disuruh mengantarkan makanan untuk ayahnya. Di tengah perjalanan, di bawah pohon besar yang rindang, dia mulai membuka bungkusan untuk ayahnya.

"Nah ! Ini dia !" serunya girang setelah melihat isi bungkusan untuk ayahnya.

Nasi dan lauk untuk ayahnya dimakan. Mula-mula hanya sedikit, namun karena terasa lezat dia tidak sadar hampir menghabiskannya, sehingga sebagian besar nasi dan lauk-pauknya dimakannya. Setibanya di ladang, sisa nasi itu yang hanya tinggal sedikit lauknya bahkan sudah habis dan dia berikan kepada ayahnya.

"Ayah… ini, ini kiriman untuk ayah." gentar juga Samosir menyerahkan sisa nasi yang baru dimakannya.
"Terima kasih Samosir, sini... Ayah sudah sangat lapar nih. Sedari pagi belum sarapan." sahut ayahnya sambil menerima bungkusan.
"Samosir…!" teriak ayahnya begitu melihat isi bungkusan yang hanya berupa sedikit nasi tanpa lauk pauk.
"Ya Ayah....!"
"Kau kemanakan nasi dan lauknya ?" bentak ayahnya dengan wajah merah padam.
"Maaf Ayah… tadi perut Samosir terasa lapar. Jadi, aku makan nasi dan lauknya itu !"
"Kau...!" ayahnya hampir tak bisa menahan diri.

Bukan main marahnya lelaki ini, Samosir mundur beberapa langkah saat melihat wajah ayahnya merah padam.

“Tidak... tidak mengapa nak. Kali ini, kau kumaafkan ! Tapi, coba kau bayangkan seandainya kau sendiri sejak pagi tidak sarapan harus mencangkul tanah sekian luasnya. Tentu, kau merasa kelaparan bukan demikian juga ayah. Maka, lain kali jangan kau ulangi lagi perbuatanmu itu.”
"Ba... Baik ayah...!"
"Sekarang pulanglah lebih dahulu,"
"Ba… baik ayah...!" kata anak itu dengan gemetar.

Dengan cepat anak itu melangkahkan kakinya, sampai di rumah ia mengadu pada ibunya.

"Bu… Ayah marah-marah di ladang, aku takut. Besok aku tak mau mengantarkan nasi untuknya."
"Lho ? Mengapa ayahmu marah ?"
"Samosir tidak tahu Bu."
"Kau tidak berbuat salah ?"
"Tidak Bu...!"
"Ya sudah... nanti kalau pulang aku akan menegur ayahmu."

Demikianlah, ketika si ayah pulang tiba-tiba ia malah ditegur oleh istrinya.
"Mengapa Abang memarahi Samosir ? Bukankah ia anak yang baik, sudah bersedia membantu mengantarkan nasi dan lauk untuk Abang di ladang ?"

Pak Toba kaget mendengar teguran istrinya tetapi ia masih bisa menahan diri. Ia duduk lalu berkata lembut kepada istrinya,
"Sebenarnya aku yang pantas menegurmu, istriku. Kau terlalu memanjakan anak itu hingga membuatnya keterlaluan nakal tetapi sudahlah dia toh masih kecil dan hanya dia anak kita satu-satunya," kata Pak Toba dengan sabar.
"Abang...., sebenarnya apa yang telah terjadi ?"
"Sekarang di mana Samosir ?" Pak Toba balik bertanya.
"Samosir sedang bermain di halaman depan rumah."

Pak Toba melongok keluar rumah dan melihat anak itu sedang bermain kuda-kudaan dari pelepah daun kelapa.

"Anak itu agak nakal !" celutuk Pak Toba.
"lya, tetapi Abang harus jelaskan alasan Abang memarahinya ?"
Pak Toba menghela nafas panjang,
"Nasi dan lauk yang kau suruh antarkan untukku telah dimakannya di tengah jalan."
"Hah ?”
“Tapi aku tidak memarahinya, hanya sekedar mengingatkannya bahwa bekerja sejak pagi tanpa sarapan perut menjadi sangat lapar. Pada saat perut lapar inilah aku sangat membutuhkan nasi yang dikirim,"

“Jadi dia telah berani memakan nasi kiriman untuk Abang ?"
"Benar ! Tapi sudahlah, aku masih bisa memakluminya. Katanya, perutnya juga sedang lapar maka terpaksa dia makan bekalku itu.”
"Ah, sebenarnya dia sudah makan sebelum kusuruh ke ladang,”
"Istriku... sudahlah, bagaimanapun dia anak kita. Kita maklumi saja, dia toh masih kecil."
"Terima kasih Abang.... kau sungguh ayah yang bijak."

Esoknya, Samosir merasa senang karena ibunya tidak menyuruh lagi mengantarkan nasi dan lauk ke ladang. Wanita cantik jelmaan ikan itu sendiri yang mengantarkan bekal makanan untuk suaminya ke ladang.

Tiga hari kemudian, barulah si ibu meminta bantuan ke anaknya lagi. Hari itu sudah agak siang,

"Samosir ! Cepat-cepat ya ! Kasihan ayahmu sejak tadi belum makan," pesan ibunya.
"Ya, ibu saya kan masih kecil, mana mungkin bisa berjalan cepat. Kalau mau cepat-cepat ya ibu sendiri saja yang mengantarkannya," sahut Samosir.
"Ibu masih harus mencuci pakaianmu...," kata ibunya.

Terpaksa anak itu menerima tugas dari ibunya dengan rasa dongkol, memang sejak semula ia tak mau mengantarkan makanan untuk ayahnya. Dalam perjalanan, persis di bawah pohon rindang yang dulu ia membuka bungkusan dan dimakannya nasi dan lauk untuk ayahnya.

"Hem, lezat juga.... paling-paling ayah cuma mengingatkanku !" gumam anak ini sambil terus memikat makanan ayahnya.

Setelah tersisa sedikit, hanya sisa-sisa nasi yang telah bercampur kuah dan sedikit lauk yang dibungkusnya lagi kiriman bekal itu untuk ayahnya.

"Wah aku agak terlambat. Harus cepat-cepat sampai di ladang," gumam anak itu dengan rasa was-was.

Benar saja, matahari bahkan hampir condong ke arah barat. Si ayah nampak terduduk lemas di pinggir pematang ladang.

"Maaf ayah, saya agak terlambat !" kata Samosir setelah mendekati ayahnya.

Perut Pak Toba yang sejak tadi sudah melilit-lilit tak bisa diajak berbasa-basi lagi. Ia segera meraih bungkusan di tangan Samosir. Belum lagi ia membuka isi bungkusan itu, tiba-tiba wajahnya berubah merah padam. Sepasang matanya nampak berkilat-kilat karena ia merasa betapa ringannya isi bungkusan itu.

"Kau makan lagi isi bungkusan ini ?" tanya ayahnya.
"Beb.. !" Samosir tidak melanjutkan ucapannya.

Pak Toba segera membuka bekalnya dengan sepasang mata terbelalak demi melihat sisa-sisa nasi yang tinggal sedikit bercampur kuah dan lauk.

"Kurang ajarrrr," bentaknya dengan geram.
Samosir menggigil melihat kemarahan ayahnya,
"Kau yang memakannya lagi ?" bentak ayahnya.

Samosir hanya bisa mengangguk kecil,
"Kemarin-kemarin, aku sudah mengingatkanmu. Kau ternyata masih bandel !"
“Ampun Ayah, Samosir takkan mengulanginya lagi !"

Pak Toba mencekal baju anaknya dengan amarah yang meluap hingga anak itu benar-benar ketakutan.

"Plak ! Plak !" tangan Pak Toba menampar kedua pipi anak itu.
Sebenarnya tidak terlalu keras tamparan itu, namun karena dilakukan dengan penuh amarah, maka bagi si anak menjadi terasa sakit sekali.
"Anak yang tak bisa diajar. Tidak tahu diuntung, dasar anak ikan !"

Anak itu berontak setelah berhasil terlepas dari cekalan ayahnya, ia berlari pulang ke rumahnya. Sambil menangis, anak itu berlari pulang menemui ibunya di rumah kepada ibunya dan mengadu bahwa dia telah dipukuli ayahnya.

"Ibu…, mengapa ayah mengatakan aku ini anak ikan ?"
"Apa ?" sontak kaget sang ibu bagaikan disambar petir di sore hari setelah mendengar pertanyaan anaknya.
"Benarkah dia berkata seperti itu ?"
"Benar bu..., apakah ibu berasal dari ikan ?"

Wanita itu tertunduk malu. Ada gurat kesedihan yang ada pada wajahnya, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan membongkar asal-usulnya di depan anak mereka sendiri.

“Samosir.......," kata wanita itu.
"Sekarang segera pergilah mendaki bukit yang tinggi sana, panjatlah pohon kayu tertinggi yang terdapat di puncak bukit itu."
"Kenapa Bu...? Ada apakah gerangan ?"
"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Kalau kau ingin selamat, cepatlah lakukan perintah ibu."

Tanpa bertanya lagi, si anak segera melakukan perintah ibunya itu. Dia berlari-lari menuju ke bukit tersebut dan mendakinya. Ketika tampak oleh si ibu, anaknya sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya di atas bukit, dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh letaknya dari rumah mereka itu.

Begitu tiba di tepi sungai, ia berhenti sejenak sambil berkata penuh derai air mata,
"Hai suamiku, karena kau telah melanggar sumpahmu, maka aku akan kembali kepada asal mulaku,"
Pada saat tetes air matanya jatuh ke pinggir sungai, tiba-tiba kilat menyambar disertai bunyi guruh yang menggelegar. Sesaat kemudian, dia melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar.

Pada saat yang sama, sungai itu pun seketika menjadi banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Beberapa waktu kemudian, sungai itu sudah meluap ke mana-mana dan tergenanglah lembah yang menjadi tempat sungai itu mengalir.

Pak Toba yang sedang berjalan ke rumah terkejut sekali melihat alam yang berubah menjadi ganas.

Ia mencoba berlari ke arah bukit yang di mana anaknya Samosir telah memanjat pohon yang tinggi.
Namun, usahanya sia-sia belaka. Air hujan bagaikan dijatuhkan tumpah dari arah atas langit ditambahkan luapan air sungai yang mengerikan, maka Pak Toba tak bisa menyelamatkan dirinya.

Ia mati tenggelam oleh genangan air. Samosir berteriak-teriak ketakutan melihat ganasnya peristiwa alam, namun ia tetap berada di puncak pohon kelapa yang berada di atas bukit.

"Ibu.... tolonggggg..... toloooooongggggg.....,"

Hampir 2 hari, Samosir tak berani turun dari puncak pohon kelapa. Sementara, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar. Sebagian bukit yang dipijaki oleh Samosir juga terikut terendam.

Beberapa saat kemudian, luapan air dan hujan telah berhenti dan sepertiga dari puncak bukit itu masih terendam genangan air tersebut hingga akhirnya membentuk pulau kecil di tengah-tengah danau yang sangat luas. Melihat airnya telah nampak surut, Samosir turun dari puncak pohon kelapa dengan tubuh lemas karena kelaparan.

Demikianlah, Samosir selamat dari banjir dan hujan badai. Namun terpaksa, ia harus berjuang hidup di pulau kecil di tengah danau itu yang kelak akan diberi nama Pulau Samosir sedangkan danau yang mengelilingi Pulau Samosir itu dinamakan dengan sesuai nama ayahnya, Danau Toba.

Samosir hidup dengan makan seadanya. Kini anak itu tidak bisa bermalas-malas lagi, karena ia harus bekerja keras untuk bisa bertahan hidup. Sekarang, ia sadar betapa pedihnya kehidupan sehingga paham rasanya seorang ayah begitu marah ketika bekal makanannya ia habiskan.

Pelajaran yang bisa kamu petik dari Kisah Asal Mula Danau Toba dan Pulau Samosir – Legenda Sumatera Utara, yaitu jangan memakan hak yang bukan menjadi milik kita, harus menjalankan amanat dengan baik apabila dipercaya, patuh dan taat mengikuti perintah orang lain, jangan melanggar sumpah yang dipenggang, belajar menahan amarah dan jangan melakukan kekerasan kepada orang lain.
Semoga cerita rakyat di atas bisa membantu kamu terkait hikmah pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.

Berlangganan via Email