Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Asal Mula Batu Menangis – Mak Dasah dan Si Jelita (Kalimantan Barat)


Kisah Asal Mula Batu Menangis – Mak Dasah dan Si Jelita (Kalimantan Barat)

Dahulu kala di sebuah bukit yang jauh dari desa di daerah Kalimantan Barat, hiduplah seorang janda miskin dan seorang anak gadisnya yang cantik. Janda itu bernama Mak Dasah dan anak gadisnya bernama Jelita. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil yang sangat sederhana.

Rumah itu adalah peninggalan suami Mak Dasah yang meninggal dunia sejak Jelita berumur satu tahun. Ia mendapatkan julukan Jelita karena memang wajahnya cantik sekali. Jelita menjadi satu-satunya anak kesayangan ibunya. Demi cinta kasihnya pada sang anak, Mak Dasah walaupun sudah agak tua tetapi rela bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pekerjaan Mak Dasah mencari kayu bakar di hutan, kemudian dijual kembali ke perkampungan. Jelita tak mau membantu ibunya, karena memang amat pemalas. Ia tak pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah sama sekali dan kerjanya hanya bersolek setiap hari.

Selain pemalas, anak gadis itu sikapnya sangat manja sekali, sehingga segala permintaannya harus dituruti. Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya harus dikabulkan, tanpa memperdulikan keadaan ibunya yang miskin karena setiap hari harus membanting tulang mencari sesuap nasi.

Pada suatu hari, Jelita minta dibelikan baju oleh ibunya. Mereka akan berjalan ke pasar yang letaknya cukup jauh. Anak gadis itu berjalan melenggang dengan memakai pakaian yang bagus. Sementara, ibunya berjalan di belakang sambil membawa keranjang dengan pakaian yang sangat dekil.

Ketika mereka mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Mereka begitu terpesona melihat kecantikan anak gadis itu, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu. Namun ketika melihat orang yang berjalan di belakang anak gadis itu, sungguh kontras keadaannya. Hal itu membuat orang saling bertanya-tanya.

Di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mendekati dan bertanya kepada gadis itu, "Hai, gadis cantik. Apakah yang berjalan di belakang itu ibumu ?"

"Bukan," kata Jelita dengan angkuh. "Ia adalah pembantuku !"

Betapa kecewa hati sang ibu mendengar jawaban anaknya itu, namun hal itu ditahannya juga. Sang ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan. Tak seberapa jauh, mendekat lagi seorang pemuda dan bertanya kepada anak gadis itu.

"Hai gadis cantik dan manis, apakah yang berjalan di belakangmu itu ibumu ?”
"Bukan, bukan," jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya. "Ia adalah budakku !”

Begitulah 3 kali ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya. Sakit hati sang ibu tak bisa ditahan lagi dan dia langsung berdo'a mengadukan kepada Tuhan atas perkataan anaknya itu.
"Ya Tuhan. Anakku sudah sangat keterlaluan, hukumlah ia sesuai dengan kedurhakaannya."
Do'a ibu yang teraniaya ini dikabulkan, seketika tubuh Jelita berubah menjadi batu. Ia menyesal dan menangis minta ampun pada ibunya tetapi semua itu sudah terlambat karena terlanjur menjadi batu. Sekarang batu itu dikenal dengan sebutan Batu Menangis.

Demikianlah cerita yang berbentuk legenda ini yang dipercayai oleh masyarakat setempat bahwa kisah itu benar-benar pernah terjadi.

Pelajaran yang bisa kamu petik dari Kisah Asal Mula Batu Menangis – Mak Dasah dan Si Jelita (Kalimantan Barat), yaitu jangan sekali-kali mendurhakai orang tua, harus menghargai jerih payah orang lain, jangan malas-malasan dan mementingkan kehidupan sendiri tanpa memerhatikan kesusahan orang lain. 
Semoga cerita rakyat di atas bisa membantu kamu terkait hikmah pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.

Berlangganan via Email