Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dongeng Tikus dan Gajah – Terbebas Perangkap Pemburu

Dongeng Tikus dan Gajah – Terbebas Perangkap Pemburu

Ada sebuah kota di tepi sebuah danau yang suatu ketika kota itu dilanda oleh wabah penyakit yang mematikan, sehingga membuat para penduduknya mengungsi ke tempat lain. Kota itu tak berpenghuni oleh satu orang pun dan yang tinggal tersisa hanyalah para tikus yang lambat-laun bertambah semakin banyak. 

Ribuan tikus dapat disaksikan berlarian dan berlompatan di mana-mana. Tikus itu berbagai macam-macam jenis dan warnanya, ada yang coklat, abu-abu, gemuk, kurus, tua, dan muda. Jauh dari kota itu ada sebuah hutan yang lebat. Yang ditinggali oleh sekawanan gajah. 

Gajah terbesar di antara mereka dijadikan sebagai rajanya. Ia sangat baik hati dan dicintai oleh semua gajah lainnya. Gajah-gajah itu hidup dengan riang penuh kedamaian selama beberapa tahun. Kemudian tiba masa sulit, di mana tak ada hujan turun selama beberapa tahun. 

Danau-danau, kolam dan aliran sungai kering semua. Raja gajah menyuruh anak buahnya untuk pergi ke tempat jauh guna mencari air. Setelah beberapa hari, mereka kembali dengan wajahnya tampak senang dan gembira. Mereka melaporkan,

"Tuanku, ada sebuah danau luas di sebelah kota tua ini, yang penuh dengan air.”

"Mari kita ke sana segera," kata sang raja dengan senangnya.

Gerombolan gajah itu kemudian beriringan menuju danau dipimpin langsung oleh rajanya yang berada di depan. Karena mereka sangat haus, mereka berjalan sangat cepat. Mereka segera mendekati kota yang di mana para tikus itu tinggal.

"Kita harus lewat kota ini untuk cepat sampai di danau itu," kata si raja gajah.

Lalu, mereka beriringan melewatinya tergesa-gesa untuk mendapat minum air dan tanpa sengaja menginjak ratusan tikus di tengah jalan namun tetap saja gajah-gajah itu tidak menyadarinya. Hal itu membuat kota itu berserakan dengan bangkai tikus. Tikus-tikus itu merasa berada dalam kesulitan dan ketakutan yang sangat besar. 

"Kita harus berbuat sesuatu dengan cepat atau kita semua akan mati," kata tikus coklat besar.

Dua ekor tikus pemberani dikirim ke dalam hutan. Di hadapan raja gajah, mereka berkata, 

"Wahai Maharaja, setiap hari anda dan anak buah anda melewati kota kami. Ribuan tikus mati terinjak-injak. Bila ini terus berlangsung, tak seekor tikus pun yang nantinya tersisa."

Sang raja tampak sedih. "Maafkan kami, kami tak tahu kejadiannya demikian. Apa yang dapat kami lakukan ?"

Tikus itu berkata, "Tuan, tolong jangan lewat kota kami. Mohon cari jalan lain menuju danau itu." Raja gajah itu setuju dengan sarannya itu.

"Baiklah, jangan khawatir. Kami tak akan lewat kotamu lagi."

“Terima kasih banyak, semoga kami tetap mengetahui manakala anda membutuhkan bantuan kami," kata mereka berdua.

Setelah beberapa tahun, sekelompok pemburu tiba dalam hutan itu. Mereka menggali lubang untuk memasang perangkap. Hari berikutnya, banyak gajah yang terperosok jatuh ke dalam lubang dan mereka segera tak dapat naik lagi. 

Para pemburu itu bergegas kembali, menarik gajah itu dengan tali besar dan mengikat binatang itu pada sebuah pohon. Setelah mengikat gajah, para pemburu itu pulang untuk bersiap-siap kembali membawa hasil buruannya keesokan hari. 

Gajah-gajah yang terperangkap itu sangat khawatir, "Apa akal kita sekarang ? Bagaimana kita dapat melepaskan diri ?" pikirnya.

Tiba-tiba raja mereka berkata, "Kaum tikus telah berjanji untuk menolong kita. Cobalah segera panggil mereka."

Ia segera menyuruh seekor gajah untuk pergi ke kota tua itu dan melaporkan nasib teman-temannya yang terperangkap oleh para pemburu. Para tikus sangat menyanggupinya dan mulai berlarian masuk ke dalam hutan untuk menolong mereka yang terjebak itu. 

Mereka menggerogoti tali besar itu dengan giginya yang tajam, dan akhirnya gajah-gajah itu bebas dari tali perangkap yang diikat oleh para pemburu itu.

"Terima kasih atas bantuannya menyelamatkan kami," kata raja dengan senangnya.

"Kalian juga pernah menyelamatkan kami," jawab tikus-tikus itu. Akhirnya, gajah dan tikus tetap bersahabat selama beberapa tahun ke depan.


Pelajaran yang bisa kamu petik dari Dongeng Tikus dan Gajah – Terbebas Perangkap Pemburu, yaitu barang siapa yang berbuat kebajikan pasti mendapat balasan kebaikan yang serupa, saling tolong-menolong, bersikap bijaksana, berusaha menjadi lebih baik lagi.
Semoga cerita rakyat di atas bisa membantu kamu terkait hikmah pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.

Berlangganan via Email