Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dongeng Negeri Semut dan Kancil

Dongeng Negeri Semut dan Kancil

Si Kancil yang cerdik walau tak bisa memanjat pohon pisang, ia bisa makan pisang matang sepuasnya setelah mengibuli si kera. Setelah makan buah pisang yang cukup banyak, Kancil merasa kekenyangan dan mencari tempat berteduh untuk istirahat.

Sambil beristirahat, ia memandangi barisan semut yang jumlahnya sangat banyak,
“Apa yang mereka bawa itu, seperti butiran parutan kelapa..." gumam Kancil.
Kancil tertarik melihat barisan semut yang rapi itu, sepertinya dunia semut memiliki kedisiplinan yang ketat dalam berlalu lintas. Bila bertemu mereka saling menyapa dan bersalaman, nampaknya rukun sekali.

Kancil terus memperhatikan barisan semut itu dengan seksama,
"Dunia semut nampaknya aman, rukun, dan damai. Kenapa dunia binatang lainnya tidak seperti mereka, saling bunuh-membunuh dan saling mengalahkan satu sama lain." pikir Kancil.
Tiba-tiba Kancil merasa dirinya mengerut, tubuhnya berubah menjadi sebesar semut. Kancil terasa bingung melihat semut-semut berseliweran di sampingnya. Kemudian, kancil mengikuti barisan semut itu masuk ke sebuah lorong yang panjang,

"Permisi, bolehkah aku mengetahui rahasia kerukunan kalian ?" tanya Kancil.
“Boleh saja Cil," kata seekor semut.
"Kami memang selalu rukun dan damai, sebab tanpa itu kami tak bisa hidup dengan tenang dan makmur. Kami bekerja sama dengan riang gembira. Mengumpulkan makanan di musim kemarau untuk persediaan di musim hujan. Lihat dinding di kanan-kiri lorong ini, semua penuh dengan persediaan makanan. Siapa saja semut yang lapar boleh mengambil dan memakannya. Persediaan makanan ini menjadi milik bersama.”
“Wah, aku sungguh iri dengan dunia kalian yang rukun damai saling membantu satu sama lain. Tidak ada yang usil misalnya menjegal temannya yang sedang bergegas ke sana ke mari," kata Kancil.
"Cil, kau juga bisa berbuat yang sama. Sejak kecil, kami sudah diajarkan untuk hidup rukun, tolong-menolong, bekerja keras, tidak serakah. Semua semut dewasa sampai yang tua juga memberi contoh dengan perbuatan yang nyata.” 
“Apakah di dunia semut, tidak ada yang dengki satu sama lain ?" tanya Kancil.

"Tidak ada Cil, sejak kecil kami tidak diajari berhati iri dan dengki, ataupun bersikap malas. Kami semua rajin bekerja." jawab semut.

"Apakah tidak ada di antara kalian yang sengaja menimbun makanan untuk kepentingan sendiri ?" tanya Kancil.

"Tidak ada Cil, tetapi kita semua wajib bekerja mengumpulkan bahan makanan untuk kepentingan bersama."

Setelah cukup berwawancara dengan tokoh masyarakat semut, Kancil minta diri untuk pulang kembali. Dalam perjalanan, ia termenung betapa jauh bedanya dunia semut dengan dunia yang digelutinya.

Tiba-tiba tubuh kancil terantuk batu, ia merasa pusing sesaat namun kemudian tersadar kembali. Tubuhnya kini menjadi besar lagi, ia tidak tahu apakah tadi benar-benar mengecil atau hanya tertidur dan mimpi menjadi kecil dan berkelana di dunia semut.

Kancil tersenyum simpul ketika memandangi semut-semut itu terus berbaris rapi yang sibuk memanggul makanan mereka untuk dibawa ke dalam lorong.

"Wah dunia hewan dan manusia mestinya meniru semut-semut ini," kata Kancil.

Pelajaran yang bisa kamu petik dari Dongeng Negeri Semut dan Kancil, yaitu bekerja keras, berdisiplin yang tinggi, jangan berhati iri dan dengki, jauhi sifat malas, rukun, tolong-menolong, tidak serakah, harus menjadi panutan yang baik bagi orang lain.
Semoga kisah dongeng di atas bisa membantu kamu terkait pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.

Berlangganan via Email