Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dongeng Si Anak Kucing dan Keluarga Musang

Dongeng Si Anak Kucing dan Keluarga Musang

Seekor kucing betina memiliki sebuah rumah dekat hutan, di sebelah hutan itu terdapat ladang semangka, mentimun, melon, dan labu. Di hutan itu terdapat sebuah desa yang banyak sekali anjingnya.

Pada suatu hari, kucing betina itu melahirkan 2 ekor kucing. Satu kucing berwarna hitam dan satu kucing berwarna abu-abu. Kucing abu-abu ini semenjak lahirnya nakal sekali dan tidak pernah mentaati semua yang dikatakan ibunya. Ibunya menamakannya Petith, ibunya berkata padanya,
"Hai Petith ! Jangan keluar ke hutan sendirian. Kamu masih kecil dan hutan ini banyak sekali anjingnya. Anjing-anjing itu membenci kita, anjing-anjing itu adalah musuh-musuh kita. Bisa saja anjing-anjing itu memakan kita." 
Namun, Petith ini tidak menggubris sedikit pun apa yang dikatakan ibunya. Pada suatu sore, ibunya keluar dari rumah dan meninggalkan kedua anaknya itu, ibunya berpesan pada mereka untuk menunggu sampai ibunya itu pulang kembali.

Petith abu-abu ini ingin keluar dan pergi ke sawah. Lalu, ia keluar rumah dan melihat-lihat di sekelilingnya untuk meyakinkan ibunya telah pergi jauh.

Lalu, ia pun berjalan menuju ke sawah dan berjalan terus entah ke mana yang akan dituju. Di sana, ia menemukan banyak batu. Di antara batu-batuan itu terdapat banyak sekali tikus. Petith ini pun mulai menyerang tikus-tikus itu dan terus mengejarnya dari satu batu ke batu yang lain hingga malam pun tiba.

Petith abu-abu ini memikirkan ibu dan saudaranya, ibunya pastilah telah pulang ke rumah dan ibunya tidak menemukannya. Petith lalu segera pulang ke rumah namun pada saat ia berjalan di jalanan, tepat di kepalanya jatuh setitik air titik kedua, titik ketiga.

Ia lalu melihat ke atas dan ia tidak mengetahui darimana datangnya air itu. Akhirnya, hujan itu turun deras sekali seperti banjir. Ini kali pertama Petith abu-abu itu menyaksikan hujan, mendengar petir, dan melihat kilat secara langsung.

Anginnya juga semakin berhembus kencang, ia pun ketakutan dan mulai mengeong, "meong... meong..." Ia merasa kedinginan dan bulunya pun basah kuyup.

Kucing abu – abu itu lalu berlari untuk melindungi dirinya dari hujan dan bernaung di bawah pohon. Namun, hujan tak henti – hentinya turun. Ia lalu melihat di sekelilingnya dan menemukan tengkorak besar yang memiliki sisi yang terbuka.

Lubang tengkorak ini hanya cukup untuk kucing itu memasukinya. Di dalam tengkorak itu, ia menemukan bagian dalamnya halus dan hangat seakan-akan tengkorak itu adalah rumah ibunya. Petith abu-abu ini pun merasa capek lantaran terlalu lama berlari dan hujan yang terlalu deras.

Ia pun tertidur. Pada akhir malam, hujan baru reda. Di hutan ini terdapat seekor musang yang sedang keluar mencari makanan untuk anak-anaknya yang masih kecil, ia pergi ke kebun semangka. Di ladang itu, musang ini melihat tengkorak besar. Ia pun senang sekali melihatnya dan langsung memotong-motongnya.

Ia pun lalu mengikat tengkorak itu di ekornya dan menariknya ke rumahnya untuk dijadikan sebagai makanan anak-anaknya. Sesampainya di rumah, musang itu memecah-mecah tengkorak itu dan berkata pada anak-anaknya.
"Ini adalah makanan kalian. Makanlah, aku akan keluar lagi untuk mencari makanan lainnya untukku sebelum matahari terbit," 
Lalu, musang itu keluar dan meninggalkan anak-anaknya. Pada saat anak-anak musang itu mulai memakan tengkorak itu, Petith abu-abu ini terbangun dari tidurnya. Kemudian, ia melihat di sekelilingnya dan ia menemukan anak-anak musang yang masih kecil-kecil, ia menduga anak-anak musang itu adalah saudaranya.

Ia lalu mulai bermain-main bersama anak-anak musang itu tetapi anak-anak musang ini ketika menemui Petith ini di antara mereka, mereka itu merasa keheranan. Akhirnya, mereka tidak mau menerima Petith karena mereka tahu kalau kucing itu bukanlah golongan mereka.

Mereka pun mulai memukulinya dan menggigitnya dengan taring. Setelah mengetahui itu, ia pun mulai membela diri dan memukul mereka juga demi membalasnya. Tapi karena mereka lebih banyak dan lebih kuat, mereka berhasil melukai telinga dan ekor kucing itu.

Pada saat induk musang-musang itu pulang, ia mendengar beberapa suara anak-anaknya dan teriakan mereka di dalam rumah. Ia lalu melihat dan menemukan Petith abu-abu, ibu musang ini lalu menerkam kucing bandel ini dengan taringnya dan mengeluarkannya dari rumah.

Musang ini memukul Petith dari sekitar kepalanya hingga Petith ini merasa pusing. Lalu, musang itu melemparkannya dengan segala kekuatannya jauh dari rumahnya. Petith ini tersangkut di atas pelepah pohon dan jatuh ke tanah. Ia terus berada di sana hingga ibunya melewati tempat itu di pagi harinya.

Ibunya telah mencarinya semenjak semalam lalu membawanya dengan mulutnya dan menariknya pulang ke rumah. Petith lalu jatuh sakit dalam beberapa hari, setelah sembuh ia lalu menceritakan mengenai apa yang sudah terjadi kepada ibunya dan saudaranya.

Saudaranya, Si Kucing Hitam mencela apa yang telah dilakukannya itu.

"Kamu sih tidak mau patuh pada nasihat ibu !" hujat saudaranya.
"Ya, lain kali aku takkan mengulanginya lagi," kata Petith.

Kaki Petith ini patah dan ia pun menjadi pincang setiap kali berjalan. Ia pun digelari saudaranya dengan panggilan, Petith Abu-abu yang Pincang.

Semoga kisah dongeng di atas bisa membantu kamu terkait pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.

Berlangganan via Email