Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Nabi Muhammad SAW. - Nabi Akhir Zaman dan Penutup Para Nabi


Kisah Nabi Muhammad SAW. - Nabi Akhir Zaman dan Penutup Para Nabi


Kata Pengantar

Dalam cerita artikel yang terbatas ini tidaklah mungkin menyajikan Kisah Nabi Muhammad SAW. secara lengkap dan menyeluruh. Maka dengan terpaksa dan berat hati, hanya menuliskan bagian-bagian yang terpenting saja secara ringkas.

Kisah Sejarah Nabi Muhammad selengkapnya dapat dibaca pada buku khusus tentang beliau, misalnya Hayat Muhammad (Riwayat Hidup Nabi Muhammad yang dikarang oleh Husain Haikal).

Seperti yang diketahui, bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul terakhir, sesudah beliau tidak ada Nabi dan Rasul lagi. Jika Nabi-Nabi yang lain hanya diutus untuk satu kaum-nya saja, maka Nabi Muhammad diutus untuk seluruh manusia.

Nabi Muhammad diutus ke tengah-tengah manusia di saat manusia berada dalam kesesatan dan memuncaknya kerusakan akhlak manusia, dan tujuannya diutus supaya dapat menyempurnakan akhlak yang mulia.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Di kala umat manusia dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidupnya, lahirlah ke dunia dari keluarga yang sederhana di kota Mekah, seorang bayi yang kelak membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia.

Bayi itu yatim, bapaknya yang bernama Abdullah telah meninggal kurang lebih 7 bulan sebelum dia lahir. Kehadiran bayi itu disambut oleh kakeknya Abdul Muththalib dengan penuh kasih sayang, kemudian bayi itu dibawanya ke bawah kaki Kakbah.

Di tempat suci inilah, bayi itu diberi nama Muhammad, suatu nama yang belum pernah ada sebelumnya.

Menurut penanggalan para ahli, kelahiran Muhammad itu tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah atau tanggal 20 April tahun 674 Masehi.

Adapun, sebab dinamakan Tahun Kelahiran Nabi itu dengan Tahun Gajah, karena pada tahun itu kota Mekah diserang oleh suatu pasukan tentara Nasrani yang kuat di bawah pimpinan Abrahah, Gubernur dari Kerajaan Abessinia (Ethiopia), yang memerintah di Yaman dan bermaksud untuk menghancurkan Ka'bah.

Pada waktu itu, Abrahah berkendaraan gajah. Belum lagi maksud mereka tercapai, mereka sudah dihancurkan oleh Allah SWT. dengan mengirimkan burung ababil. Oleh karena pasukan itu mempergunakan gajah, maka orang Arab menamakannya sebagai pasukan bergajah, sedangkan tahun terjadinya peristiwa ini disebut Tahun Gajah.

Nabi Muhammad SAW. adalah keturunan dari Qushay pahlawan Suku Quraisy yang telah berhasil menggulingkan kekuasaan Khuza'ah atas Kota Mekah, ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah dari Golongan Arab Bani Ismail. 

Sedangkan, ibunya bemarna Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah.

Sudah menjadi kebiasaan pada orang-orang Arab Kota Mekkah, terutama pada orang-orang yang tergolong bangsawan menyusukan dan menitipkan bayi-bayi mereka kepada wanita badiyah (dusun di padang pasir) agar bayi-bayi itu dapat menghirup hawa yang bersih, terhindar dari berbagai penyakit kota dan supaya bayi-bayi itu dapat berbicara dengan bahasa yang murni dan fasih.

Demikian halnya Nabi Muhammad SAW, beliau diserahkan ibunya kepada seorang perempuan yang baik yaitu Halimah Sa'diyah dari Bani Sa'ad Kabilah Hawazin, tempatnya tidak jauh dari Kota Makkah. Di Perkampungan Bani Sa'ad inilah, Nabi Muhammad SAW. diasuh dan dibesarkan sampai berusia lima tahun lamanya.

Kematian Ibu dan Kakek

Sesudah berusia 5 tahun, Nabi Muhammad SAW. diantarkannya ke Mekah kembali kepada ibunya, Siti Aminah. Setahun kemudian yaitu sesudah ia berusia kira-kira 6 tahun, beliau dibawa oleh ibunya ke Madinah, bersama-sama dengan Ummu Aiman, hamba sahaya peninggalan ayahnya.

Maksud membawa Nabi ke Madinah, pertama untuk memperkenalkan ia kepada keluarga neneknya Bani Najjar den kedua untuk menziarahi makam ayahnya. Mereka tinggal di situ kira-kira selama satu bulan, kemudian pulang kembali ke Mekah.

Dalam perjalanan mereka pulang, tiba di suatu tempat yang bernama Abwa', tiba-tiba Aminah jatuh sakit sehingga meninggal dunia dan dimakamkan di situ juga (Abwa' ialah nama sebuah desa yang terletak antara Madinah dan Juhfah, kira-kira sejauh 23 mil di sebelah selatan Kota Madinah).

Betapa sedih hati Muhammad, dari kecil tak mengenal ayahnya kini harus pula berpisah dengan ibunya. Setelah selesai pemakaman ibundanya, Nabi Muhammad SAW. segera meninggalkan kampung Abwa' itu kembali ke Mekkah dan tinggal bersama-sama dengan kakeknya Abdul Muththalib.

Di sinilah Nabi Muhammad SAW. diasuh sendiri oleh kakeknya dengan penuh kecintaan. Usia Abdul Muththalib pada waktu itu mendekati 80 tahun. Disebabkan kasih sayang kakeknya Abdul Muththalib, Muhammad SAW. selalu mendapat hiburan sehingga mampu melupakan kemalangan nasibnya karena kematian ibunya.

Tetapi, keadaan ini tidak lama berjalan, sebab baru saja berselang 2 tahun ia merasa terhibur di bawah asuhan kakeknya, orang tua yang baik hati itu meninggal pula, dalam usia 80 tahun. Muhammad SAW. ketika itu baru telah berusia 8 tahun.

Sesuai dengan wasiat Abdul Muththalib, maka Nabi Muhammad SAW. diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Kesungguhan dia mengasuh Nabi serta kasih sayang yang dicurahkan kepada keponakannya ini tidaklah kurang dari apa yang diberikannya kepada anaknya sendiri.

Selama dalam asuhan nenek dan pamannya, Nabi Muhammad menunjukkan sikap yang terpuji dan selalu membantu meringankan kehidupan mereka.

Pengalaman Penting Nabi Muhammad SAW.

Ketika berumur 12 tahun, Nabi Muhammad SAW. mengikuti pamannya Abu Thalib membawa barang dagangan ke Syam. Sebelum mencapai Kota Syam, baru sampai ke Bushra, bertemulah kafilah Abu Thalib dengan seorang pendeta Nasrani yang alim yang bernama Buhaira. Pendeta itu melihat ada tanda-tanda kenabian pada diri Nabi Muhammad SAW.

Maka, dinasihatilah Abu Thalib agar segera membawa keponakannya itu pulang ke Mekah, sebab dia khawatir kalau-kalau Muhammad SAW. ditemukan oleh orang Yahudi yang pasti akan menganiayanya (dalạm riwayat lain Kaum Yahudi akan membunuhnya). Abu Thalib segera menyelesaikan dagangannya dan kembali ke Mekah.

Nabi Muhammad SAW. sebagaimana biasanya pada masa kanak-kanak itu ; dia kembali ke pekerjaannya menggembala kambing, kambing keluarga dan kambing penduduk Mekah yang lain yang dipercayakan kepadanya.

Pekerjaan menggembala kambing ini membuahkan didikan yang amat baik pada diri Nabi, karena hal ini memerlukan keuletan, kesabaran dan ketenangan serta keterampilan dalam tindakan.

Di waktu Nabi Muhammad SAW. berumur 15 tahun, terjadilah peristiwa yang bersejarah bagi penduduk Mekah, yaitu kejadian peperangan antara Suku Quraisy dan Kinanah di satu pihak, dengan suku Qais 'Ailan di lain pihak. Nabi Muhammad SAW. ikut aktif dalam peperangan ini memberikan bantuan kepada paman-pamannya dengan menyediakan keperluan peperangan.

Peperangan ini terjadi di daerah suci pada bulan-bulan suci pula yaitu pada bulan Zulqaedah. Menurut pandangan Bangsa Arab, peristiwa itu adalah pelanggaran terhadap kesucian. Karena pelanggaran kesucian Bulan Zulqaedah, sebenarnya dilarang berkelahi dan berperang satu sama lain menumpahkan darah. Oleh karena demikian, perang tersebut dinamakan Harbul Fijar yang artinya perang yang memecahkan kesucian.

Meningkatnya masa dewasa, Nabi Muhammad SAW. mulai berusaha sendiri dalam penghidupannya. Karena dia terkenal sebagai orang yang jujur, maka seorang janda kaya raya yang bernama Siti Khadijah segera mempercayai beliau untuk membawa barang dagangannya ke Syam.

Dalam perjalanan ke Syam ini, beliau ditemani oleh seorang Pembantu Siti Khadijah yang bernama Maisarah. Setelah selesai menjual-belikan barang dagangan di Syam, dengan memperoleh laba yang tidak sedikit, mereka pun kembali ke Mekah.

Sesudah Nabi Muhammad SAW. pulang dari perjalanan ke Syam itu, datanglah lamaran dari pihak Siti Khadijah kepada beliau, lalu beliau menyampaikan hal itu kepada pamannya. Setelah tercapai kata sepakat, pernikahan pun dilangsungkan pada waktu itu umur Nabi kurang lebih 25 tahun sedangkan Siti Khadijah berusia 40 tahun.

Nama Nabi Muhammad SAW. semakin bertambah populer di kalangan Penduduk Mekah, sesudah beliau mendamaikan pemuka-pemuka Quraisy dalam sengketa dan mereka berhasil memperbaharui bentuk bangunan Kakbah. Pada permulaannya, mereka nampak bersatu dan bergotong-royong mengerjakan pembaharuan Ka'bah itu.

Tetapi, ketika sampai pada peletakan Batu Hitam (Al-Hajarul Aswad) ke tempat asalnya, terjadilah perselisihah sengit antara para pemuka Quraisy. Mereka masing-masing merasa berhak untuk mengembalikan batu suci itu ke tempat asalnya semula.

Akhirnya, mereka bersepakat yang akan menjadi hakim adalah orang yang pertama kali datang ke Masjidil Haram di waktu Shubuh dan pada saat yang kritis ini, datanglah Muhammad SAW. yang disambut penuh hormat dan segera disetujui oleh mereka, maka mereka diminta untuk menyediakan  sehelai kain, lalu dihamparkannya di atas tanah dan Batu Hajarul Aswad diletakkannya di tengah-tengah kain itu.

Kemudian, mereka disuruhnya untuk tiap-tiap pemuka golongan Quraisy supaya bersama-sama mengangkat tepi kain ke tempat asal Hajarul Aswad itu berada. Ketika sampai ke tempatnya, maka batu suci itu diletakkan dengan tangannya sendiri ke tempatnya.

Dengan demikian, selesailah persengketaan itu dengan membawa kepuasan pada masing-masing golongan. Pada waktu kejadian ini usia Nabi telah menginjak 35 tahun dan dikenal julukannya dengan gelar "Al - Amin" artinya orang yang dapat dipercaya.

Akhlak Nabi Muhammad SAW.

Dalam perjalanan hidupnya sejak masih kanak-kanak hingga dewasa dan sampai diangkat sebagai Rasul Allah, beliau terkenal sebagai seorang yang jujur, berbudi luhur, dan mempunyai kepribadian yang tinggi. Tidak ada sesuatu apapun baik dari perbuatan maupun tingkah lakunya tercela yang dapat dituduhkan kepadanya.

Dia sangat berlainan sekali dengan tingkah laku dan perbuatan kebanyakan pemuda-pemuda dan penduduk Kota Mekkah pada umumnya yang gemar berfoya-foya dan bermabuk-mabukan.
Karena demikian jujurnya dalam perkataan dan perbuatan, maka beliau pantas diberi julukan Al-Amin seperti yang diceritakan sebelumnya.

Ahli sejarah menuturkan, bahwa Muhammad SAW. sejak kecil hingga dewasa tidak pernah menyembah berhala sekalipun, dan tidak pula memakan daging hewan yang disembelih untuk korban berhala-berhala seperti lazimnya Orang Arab Jahiliyah pada waktu itu.

Ia sangat membenci pada berhala itu dan suka menjauhkan diri dari keramaian upacara-upacara pemujaan kepada berhala itu.

Untuk menutupi keperluan hidupnya sehari-hari, dia berusaha sendiri mencari nafkah, karena orang tuanya tidak meninggalkan harta warisan yang cukup. Sesudah dia menikah dengan Siti Khadijah, dia berdagang dengan istrinya dan kadang-kadang berserikat pula dengan orang lain.

Sebagai seorang manusia yang bakal menjadi pembimbing umat manusia, Muhammad SAW. memiliki bakat-bakat dan kemampuan jiwa besar kecerdasan pikirannya, ketajaman otaknya, kehalusan perasaannya, kekuatan ingatannya, kecepatan tanggapannya, kekerasan kemauannya.

Segala pengalaman hidupnya, mendapatkan hasil pengolahan yang sempurna dalam jiwanya. Dia mengetahui babak-babak sejarah negerinya, kesedihan masyarakat dan keruntuhan agama bangsanya. Pemandangan itu tidak dapat menghilang sirna dari pikirannya.

Ia mulai menyiapkan dirinya (bertahannuts) untuk mendapatkan pemusatan jiwa yang lebih sempurna. Untuk bertahannuts ini, dipilihnya tempat di sebuah gua kecil yang bernama Hira yang terdapat pada sebuah bukit yang bernama Jabal Nur (Bukit Cahaya) yang terletak kira-kira 2 atau 3 mil sebelah utara Kota Mekah.

Muhammad Diangkat Menjadi Nabi dan Rasul

Ketika menginjak usia 40 tahun, Muhammad SAW. lebih banyak mengerjakan tahannuts daripada waktu-waktu sebelumnya. Pada Bulan Ramadhan, dia dibawanya perbekalan lebih banyak dari biasanya karena akan bertahannuts lebih lama daripada waktu-waktu sebelumnya. Dalam melakukan tahannuts kadang-kadang beliau bermimpi, Mimpi yang benar (Arru'yaash Shaadiqah).

Pada malam 17 Ramadhan bertepatan dengan 6 Agustus, dia bertahannuts di Gua Hira lagi, namun datanglah Malaikat Jibril AS. sambil membawa tulisan dan menyuruhnya untuk membaca tulisan itu, dia berkata : "Bacalah."

Dengan terperanjat, Muhammad SAW. menjawab : "Aku tidak dapat membaca." Lalu, beliau direngkuh beberapa kali oleh Malaikat Jibril AS., sehingga nafasnya merasa sesak, lalu dilepaskan kembali olehnya seraya disuruhnya membaca sekali lagi : "Bacalah," 

tetapi Muhammad SAW. masih tetap menjawab : "Aku tidak dapat membaca.” Begitulah keadaan berulang sampai 3 kali, dan akhirnya Nabi Muhammad SAW. berkata : "Apa yang kubaca ?" 
Malaikat Jibril berkata yang artinya :
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang Menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu teramat Mulia. Yang Mengajarkan-nya (manusia) dengan pena (tulis baca). Yang Mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Surat Al-'Alaq Ayat 1-5)
Inilah wahyu pertama kali yang diturunkan oleh Allah SWT. kepada Nabi Muhammad SAW. dan inilah pula saat pengangkatan beliaų sebagai Rasulullah, atau utusan Allah kepada seluruh umat manusia, untuk menyampaikan risalah-Nya.

Tugas Nabi Muhammad SAW.

Menurut riwayat, selama lebih kurang dua setengah tahun lamanya sesudah menerima wahyu yang pertama, barulah Rasulullah menerima wahyu yang kedua. Di kala menunggu-nunggu kedatangan wahyu kedua itu, Rasulullah diliputi perasaan cemas dan khawatir kalau-kalau wahyu itu terputus malahan hampir saja beliau berputus asa, akan tetapi ditetapkannya hatinya dan beliau terus bertahannuts sebagaimana biasanya di Gua Hira.

Tiba-tiba terdengarlah suara dari langit, beliau menengadah dan ternyata tampaklah Malaikat Jibril AS., sehingga beliau menggigil ketakutan dan segera pulang ke rumah, kemudian meminta kepada Siti Khadijah supaya menyelimutinya. Dalam keadaan berselimut itu, datanglah Jibril AS. menyampaikan wahyu Allah yang kedua kepada beliau berbunyi (yang artinya) :
"Hai orang yang berselimut. Bangun dan berilah peringatan! Besarkanlah (nama) Tuhanmu, bersihkanlah pakaianmu jauhilah perbuatan maksiat, janganlah kamu memberi karena hendak memperoleh yang lebih banyak. Dan hendaklah kamu bersabar untuk memenuhi perintah Tuhanmu." (Surah Al-Muddatstsir ayat 1-7) 

Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi

Sesudah Rasullah SAW. menerima wahyu yang kedua ini yang menjelaskan tugas atas dirinya, mulailah beliau secara sembunyi-sembunyi menyerukan dakwahnya kepada keļuarganya yang tinggal dalam satu rumah, dari sahabat-sahabat beliau yang terdekat, seorang demi seorang agar mereka meninggalkan agama berhala dan hanya menyembah Allah Yang Maha Esa.

Maka, yang mula-mula iman kepadanya ialah istri beliau sendiri Siti Khadijah, disusul oleh putra pamannya yang masih amat muda Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Haritsah, budak beliau yang kemudian menjadi anak angkat beliau.

Setelah itu, lalu beliau menyeru Abu Bakar As-Shiddiq, seorang sahabat karib yang telah lama bergaul dan Abu Bakar pun segera beriman dan memeluk agama Islam tanpa keraguan sedikitpun.

Dengan perantaraan Abu Bakar, banyak orang-orang yang memeluk agama Islam, di antara lain ialah : Utsman bin 'Affan, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin 'Auf, Thalhah bin 'Ubaidillah, Abu 'Ubaidillah bin Jarrah, Arqam bin Abil Arqam, Fatimah binti Khaththab adik kandung Umar bin Khaththab RA. beserta suaminya Said bin Zaid Al 'Adawi dan beberapa orang penduduk Mekah lainnya dari kabilah Quraisy.

Mereka itu diberi gelar "Ass-Saabiquunal awwaluun" yang artinya : Orang-orang terdahulu yang pertama-tama masuk Agama Islam. Mereka ini mendapat pelajaran tentang Agama Islam oleh Rasul sendiri di tempat yang tersembunyi, yaitu rumah Arqam bin Abil Arqam dalam Kota Mekkah.

Menyiarkan Agama Islam secara Terang-Terangan

Tiga tahun lamanya, Rasulullah SAW. melakukan da'watul afrad (dakwah sembunyi-sembunyi) ini yaitu ajakan masuk Islam seorang demi seorang secara diam-diam atau secara sembunyi-sembunyi dari satu rumah ke rumah yang lain.

Kemudian sesudah ini, turunlah firman Allah dalam bentuk kutipan Surat Al-Hijr ayat 94 yang artinya :
Maka, jalankanlah apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.
Ayat ini memerintahkan kepada Rasul agar menyiarkan Islam dengan terang-terangan dan meninggalkan cara sembunyi-sembunyi itu. Maka, mulailah Nabi Muhammad SAW. menyerukan kaumnya secara umum di tempat-tempat terbuka untuk menyembah Allah dan mengesakan-Nya.

Pertama kali, seruan (da'wah) yang bersifat umum ini beliau tujukan kepada kerabatnya sendiri, lalu kepada penduduk Mekah pada umumnya yang terdiri dari bermacam-macam lapisan masyarakat, baik golongan bangsawan, hartawan maupun hamba sahaya, kemudian kepada kabilah-kabilah Arab dari berbagai penjuru daerah yang datang ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji.

Reaksi Orang-Orang Quraisy

Ketika orang-orang Quraisy melihat gerakan Islam serta mendengar, bahwa mereka dengan nenek moyang mereka dibodoh-bodohkan dan berhala-berhala mereka dihina-hina, bangkitlah kemarahan mereka dan mereka mulai melancarkan permusuhan terhadap Nabi dan para pengikutnya.

Banyak sekali di antara para pengikut Nabi yang terkena siksa di luar perikemanusiaan, terutama sekali bagi para pengikut dari kelas masyarakat rendah. Terhadap Nabi sendiri, mereka tidak berani melakukan gangguan badan, karena beliau masih dilindungi oleh paman beliau Abu Thalib dan di samping itu, beliau adalah keturunan Bani Hasyim yang mempunyai kedudukan dan martabat yang tinggi dalam pandangan masyarakat Quraisy, sehingga kedudukan beliau sangat disegani.

Pada suatu ketika, datanglah beberapa pemuka-pemuka Quraisy menemui Abu Thalib meminta agar dia menghentikan segala kegiatan Nabi Muhammad SAW. dalam menyiarkan Islam, dan jangan mengecam agama mereka serta menghina kebiasaan nenek moyang mereka.

Tuntutan mereka ini ditolak secara baik oleh Abu Thalib. Setelah mereka melihat perutusan itu tidak memberikan hasil, maka mereka datanglah kembali kesekian kalinya kepada Abu Thalib untuk menyatakan, bahwa mereka tidak dapat membiarkan tingkah laku Nabi Muhammad SAW. itu dan mereka mengajukan pilihan kepadanya untuk menghentikan ucapan-ucapan Nabi Muhammad SAW. atau mereka sendiri yang melakukannya.

Setelah Abu Thalib mendengar ketegasan perutusan itu, timbullah rasa kekhawatiran yang akan terjadinya perpecahan dan permusuhan antar kaumnya, namun tak sampai hati juga ia melarang keponakannya itu.

Akhirnya, dia memanggil Nabi Muhammad SAW. seraya berkata :
"Wahai anakku ! Sesungguhnya aku dijumpai oleh pemimpin-pemimpin kaummu. Mereka mengatakan kepadaku supaya aku mencegah kamu melakukan penyiaran Islam dan tidak mencela agama serta nenek moyang mereka, maka jagalah diriku dan dirimu. Janganlah aku dibebani dengan sesuatu perkara di luar kesanggupanku."
Mendengar ucapan itu, Nabi Muhammad SAW. telah mengira pamannya sudah tidak bersedia lagi untuk  melindunginya. Beliau berkata dengan tegas kepada pamannya :
"Demi Allah Wahai Paman ! Sekiranya mereka letakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, dengan maksud agar aku tinggalkan pekerjaan ini (menyeru mereka kepada agama Allah), sehingga ia tersiar (di muka bumi ini) atau aku akan binasa karenanya, namun aku tidak akan menghentikan pekerjaan ini."
Sesudah mengucapkan kata-kata itu, Nabi Muhammad SAW. berpaling seraya menangis. Ketika berpaling hendak pergi itu, Abu Thalib memanggil : "Menghadaplah kemari hai anakku !"

Nabi pun kembali menghadap, pamannya berkata : "Pergilah dan katakanlah apa yang kamu kehendaki, demi Allah aku tidak akan menyerahkan kamu karena suatu alasan apapun selama-lamanya."

Hijrah ke Habsyah (Ethiopia)

Setelah orang-orang Quraisy merasa bahwa usaha-usana mereka untuk melunakkan Abu Thalib nihil, maka mereka melancarkan bermacam-macam gangguan dan penghinaan kepada Nabi sekaligus memperberat siksaan-siksaan yang mereka lakukan di luar peri-kemanusiaan terhadap para pengikut beliau.

Akhirnya, Nabi tak tahan melihat penderitaan para sahahat dan pengikut setianya itu, lalu dia menganjurkan agar mereka hijrah ke Habsyah (Abessinia) yang rakyatnya menganut agama Kristen yang dipimpin oleh Raja Najasyi yang terkenal adil dan bijaksana itu.

Maka, rombongan pertama diperintahkan untuk berangkat terlebih dahulu yang terdiri dari sepuluh orang laki-laki dan empat orang perempuan.

Kemudian, selanjutnya disusul oleh rombongan-rombongan yang lain hingga mencapai hampir seratus orang. Di antaranya ialah Utsman bin Affan beserta istri beliau Ruqayyah (putri Nabi), Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Ja'far bin Abu Thalib dan lain-lain.

Peristiwa ini terjadi pada tahun kelima sesudah Masa Kenabian (Nabi Muhammad menjadi Rasul)  tepatnya tahun 615 M.

Setibanya di Negeri Habsyah, mereka mendapat penerimaan dan perlindungan yang baik dari rajanya. Sikap baik yang ditunjukkan Raja Najasyi membawa kegelisahan orang-orang Quraisy, karenanya mereka mengutus Amr bin ‘Ash dan Abdullah bin Rabi’ah supaya mereka berdua membujuknya untuk  mengembalikan orang-orang Mekah yang hijrah itu, namun permintaannya ditolak oleh raja.

Sementara itu, Rasulullah masih menetap tinggal di Mekah sambil menyeru kaumnya ke dalam ajaran Islam walaupun gangguan terhadapnya bertambah sengit. Seorang demi seorang pengikut beliau seiring bertambah.

Berkat Rahmat Allah, dua orang pemimpin Quraisy yang sangat perkasa masuk memeluk ajaran Islam yakni : Pamannya sendiri Hamzah bin Abdul Muththalib dan Umar bin Khaththab.

Kedua orang ini pada mulanya penentang Islam yang amat keras dan paling terdepan. Kehadiran mereka dalam Barisan Islam menghidupkan semangat Kaum Muslimin, karena akhirnya mereka berdua dapat menambahkan kekuatan benteng Islam semakin kokoh. Keislaman Umar bin Khaththab pun malah menimbulkan kejengkelan dan reaksi keras yang kuat dari Pihak Quraisy.

Oleh sebab itu, mereka melancarkan usaha-usaha mereka semakin hebat dan luar biasa untuk melumpuhkan gerakan Nabi Muhammad SAW.

Pemboikotan terhadap Bani Hasyim dan Bani Muthalib

Sesudah orang Quraisy melihat, bahwa segala jalan yang mereka tempuh untuk memadamkan Dakwah (seruan) Nabi Muhammad SAW. tidak membuahkan hasil sepersen pun, karena Bani Hasyim dan Bani Muththalib merupakan dua keluarga besar Nabi Muhammad, baik yang sudah Islam ataupun yang belum memeluknya masih tetap melindungi beliau, maka mereka mencari taktik baru untuk melumpuhkan kekuatan Islam itu.

Mereka mengadakan pertemuan dan mengambil keputusan untuk melakukan pemboikotan terhadap Bani Hasyim dan Bani Muthhalib ialah dengan jalan memutuskan segala perhubungan baik dalam bentuk hubungan perkawinan, jual beli, ziarah-menziarahi dan lain-lain.

Keputusan mereka itu ditulis di atas kertas dan digantungkan di dinding Kakbah. Dengan adanya pemboikotan umum ini, maka Nabi Muhammad SAW. dan orang-orang Islam serta anggota keluarga besar Bani Hasyim dan Bani Muththalib terpaksa menyingkir dan menyelamatkan diri ke luar kota Mekah selama tiga tahun lamanya hingga mereka menderita kemiskinan dan kesengsaraan.

Banyak juga di antara kaum Quraisy yang merasa sedih terhadap nasib yang dialami keluarga besar Nabi itu. Dengan sembunyi-sembunyi pada waktu malam, mereka sering mengirim makanan dan keperluan lainnya kepada kaum kerabat mereka yang terasing di luar kota, sebagaimana yang dilakukan oleh Hisyam bin Amr.

Akhirnya, mereka merasa tidak kuat melihat kesedihan dan kepedihan yang dirasakan kedua keluarga besar Nabi tersebut akhirnya bangkitlah beberapa pemuka-pemuka Quraisy untuk menghentikan pemboikotan itu dan merobek-robek kertas pengumuman di atas Ka'bah itu.

Dengan itu, pulihlah kembali hubungan Bani Hasyim dan Bani Muththalib dengan orang-orang Quraisy akan tetapi nasib para pengikut Nabi Muhammad bukanlah menjadi lebih baik malah sebaliknya, bahkan orang-orang Quraisy lebih meningkatkan sikap permusuhan mereka.

Nabi Mengalami Tahun Kesedihan

Belum usai kepedihan yang dirasakan Nabi Muhammad akibat pemboikotan umum itu, tibalah pula musibah yang besar menimpa dirinya, yaitu wafatnya paman kesayangan beliau Abu Thalib dalam usia 87 tahun. Tidak berapa lama kemudian, disusul oleh istrinya Siti Khadijah. Kedua macam musibah terjadi pada tahun ke-10 dari Masa Kenabian.

Tahun ini dalam sejarah dijuluki sebagai "Aamul Huzni" (Tahun Kesedihan). Di saat-saat permusuhan Quraisy terhadap beliau sedang meruncing dan menjadi-jadi. Mereka sudah mulai berani menyakiti badan Nabi dengan leluasa, akan tetapi segala macam musibah dan penganiayaan itu tidaklah mengendorkan semangat perjuangan Rasulullah untuk menegakkan ajaran Islam.

Sesudah beliau melihat bahwa Mekkah tidak lagi sesuai menjadi pusat dakwah Islam, maka beliau mencoba berdakwah keluar Kota Mekah. Negeri yang akan dituju ialah Thaif, daerah Kabilah Tsaqif. Beliau menjumpai pemuka-pemuka kabilah itu dan diajaknya mereka kepada Agama Islam.

Ajakan Nabi Muhammad itu ditolak mentah-mentah oleh mereka secara kasar. Nabi diusir, disorak-soraki dan dikejar-kejar sambil dilempari dengan batu sampai berlindung di bawah kebun anggur milik Urba dan Syaiba (anak Rabi'a).

Nabi terpaksa kembali ke Mekah menuju Baitullah. Di situ, beliau thawaf dan bersujud seraya berdoa agar semoga Allah Ta’ala mengampuni kaumnya dan memberikan kekuatan kepadanya untuk melanjutkah risalah Tuhannya, sesudah itu barulah beliau pulang ke rumah.

Nabi Muhammad SAW, menjalani Isra' dan Miraj

Di saat-saat menghadapi ujian yang maha berat dan tolak ukur perjuangan sudah pada puncaknya ini, gangguan dan hinaan, aniaya serta siksaan yang dialami beliau dengan para pengikutnya semakin hebat dan melampaui batas, maka Nabi Muhammad SAW. diperintahkan oleh Allah SWT. menjalani Isra' dan Mi'raj dari Mekah ke Baitul Maqdis di Palestina, setelah itu naik hingga ke langit ketujuh dan Sidratul Muntaha.

Di situlah, beliau menerima perintah langsung dari Allah tentang shalat lima waktu. Hikmah Allah memerintahkan Isra' dan Mi'raj kepada Nabi dalam perjalanan satu malam itu, adalah untuk lebih menambah kekuatan iman dan keyakinan beliau sebagai Rasul yang diutus Allah ke tengah-tengah umat manusia, dalam membawa risalah-Nya.

Dengan demikian, dia akan bertambah kekuatan batinnya sewaktu menerima cobaan dan musibah serta siksaan yang bagaimanapun juga besarnya dalam memperjuangkan cita-cita luhur ajaran tauhid, mengajak seluruh umat manusia kepada Agama Islam.

Peristiwa Isra' Mi'raj ini terjadí pada malam 27 Rajab tahun ke-11 sesudah Masa Kenabiannya.

Kejadian Isra' Miraj ini, di samping memberikan kekuatan batin kepada Nabi Muhammad SAW. dalam perjuangan menegaskan Agama Allah, juga menjadi ujian bagi Kaum Muslimin sendiri, apakah mereka beriman dan percaya kepada kejadian menakjubkan dan di luar akal manusia itu, yaitu perjalanan yang beratus-ratus mil serta menembus 7 lapis langit dan hanya ditempuh dalam satu malam.


Orang Yatsrib Masuk Islam

Pada waktu musim haji tiba, datanglah ke Mekah karena kabilah Arab dari segala penjuru tanah Arab. Di antara mereka menembus 7 lapis langit dan hanya ditempuh dalam satu malan haji, Nabi Muhammad menyampaikan, seruan Islam kepada kabilah-kabilah yang sedang mengerjakan ibadah haji.

Kali ini, beliau menjumpai orang-orang Khazraj yang datang dari Yatsrib. Mereka sudah mempunyai sedikit pengertian tentang agama tauhid, dan kerap kali mendengar dari orang Yahudi asal negeri mereka tentang datangnya kelahiran seorang Nabi dalam waktu yang dekat.

Tanpa pikir panjang lagi, mereka mencurahkan perhatiannya kepada dakwah yang disampaikan oleh Nabi. Pada waktu itu juga, mereka langsung beriman setelah mereka yakin bahwa Muhammad SAW itu seorang Nabi yang dinanti-nantikan.

Peristiwa ini merupakan titik terang bagi perjalanan risalah Muhammad SAW. Orang Khazraj yang masuk Islam ini tidak lebih dari 6 orang tetapi merekalah yang membuka lembaran baru sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Setibanya mereka pulang haji di Yatsrib, mereka mulai menyiarkan kepada kaum kerabat mereka, tentang keberadaan Nabi Akhir Zaman, Muhammad SAW. yang berada di Mekah. Berkat kegiatan mereka, orang-orang setiap rumah di Madinah yang hampir pernah mendengar berita yang besar itu mulai ikut membicarakan tentang Nabi Muhammad SAW.

Pada tahun ke-12 sesudah Masa Kenabian, rombongan mereka datang ke Mekah pada Musim Haji yang terdiri dari 12 orang laki-laki dan seorang wanita penduduk Yatsrib. Mereka menemui Rasulullah secara rahasia di Bukit Aqabah.

Tempat inilah, mereka mengadakan bai'at (perjanjian/sumpah setia) atas dasar Islam dengan Nabi secara langsung. Bai’at yang mereka patuhi berupa perintah supaya mereka tidak akan mempersekutukan Allah, tidak akan mencuri, berzina, membunuh anak-anak, memfitnah dan tidak akan mendurhakai Muhammad SAW.

Perjanjian ini dalam sejarah Islam dinamakan sebagai Bai'aitul Aqabatil Ulfa (Perjanjian Aqabah yang pertama), karena dilangsungkan di Bukit ‘Aqabah untuk pertama kalinya.

Adapula yang menamakannya pula Bai’atun Nisaa' (Perjanjian wanita), karena dalam bai'at itu diikuti seorang wanita bernama 'Afra binti Abid bin Tsa'labah. Sesudah selesai pembai'atan ini, Rasulullah mengirim Mush'ab bin Umair bersama mereka ke Yatsrib untuk mengajarkan Al-Qur'an dan Agama Islam.

Maka, ajaran Islam pun lambat laun tersebar masuk ke setiap rumah dan keluarga penduduk Yatsrib, kecuali beberapa keluarga kecil suku Aus.

Pada tahun ke-13 dari Masa Kenabian, berangkatlah serombongan Kaum Muslimin asal Yatsrib ke Mekkah untuk mengerjakan ibadah haji. Orang-orang Islam itu mengundang Rasul agar mengadakan pertemuan dengan mereka di Bukit 'Aqabah pada hari Tasyriq.

Seusai Ibadah Haji, orang-orang Islam keluar dari perkemahan mereka menuju Bukit 'Aqabah secara sembunyi-sembunyi pada waktu tengah malam.

Di tempat itulah, mereka berkumpul menunggu kedatangan Nabi dengan jumlah mereka sebanyak 73 orang laki-laki dan 2 orang wanita, Rasulullah pun datang didampingi oleh Abbas, paman beliau sendiri yang di masa itu masih belum menganut Agama Islam.

Hijrah ke Yatsrib

Tatkala, Nabi Muhammad SAW. melihat tanda-tanda baik pada perkembangan Islam di Yatsrib itu, akhirnya Baginda Rasulullah memutuskan untuk menyuruh para sahabat-sahabatnya berpindah ke sana agar memperoleh tempat yang lebih baik daripada sebelumnya terutama untuk perkembangan syi’ar Islam.

 Baginda Rasul bersabda kepada para sahabatnya itu :
"Sesungguhnya Allah Azza Wajalla telah menjadikan orang-orang Yatsrib sebagai saudara-saudara bagimu dan negeri itu sebagai tempat yang aman bagimu."
Orang-orang Quraisy sontak kaget setelah mengetahui perkembangan Islam di Yatşrab itu semakin pesat. Mereka merasa khawatir jika Nabi Muhammad SAW. berkuasa di Yatsrib itu, dia akan memerangi mereka.

Maka, pemuka-pemuka Quraisy mengadakan sidang di Daarun Nadwah untuk merencanakan tindakan yang akan diambil untuk perlakuan pantas terhadap Nabi Muhammad.

Akhirnya, mereka memutuskan bahwa Nabi Muhammad harus dibunuh, demi keselamatan masa depan mereka dan agama nenek moyang mereka. Untuk melaksanakan pembunuhan ini, setiap Suku Quraisy harus mengirimkan seorang pemuda pilihan yang gagah, kuat dan tangkas.

Dengan demikian, bilamana Nabi Muhammad SAW. berhasil dibunuh, keluarganya tidak akan mampu menuntut bela kepada seluruh suku.

Rencana keji Kaum Quraisy ini telah diketahui oleh Nabi Muhammad SAW. Muhammad SAW. dan beliau diperintahkan oleh Allah SWT. agar segera pindah ke Yatsrib, tentu saja beliau memberitahukan kepada sahabat karibnya, Abu Bakar.

Sahabat Abu Bakar pun minta kepada Nabi untuk diizinkan menemani beliau dalam perjalanan yang bersejarah itu dan Nabi pun setuju, lalu Abu Bakar menyediakan persiapan untuk perjalanan ini.

Pada malam hari, waktu pemuda-pemuda Quraisy sedang mengepung rumah Nabi dan bersiap akan membunuh beliau. Rasulullah segera berkemas-kemas untuk meninggalkan rumah. Ali bin Abi Thalib, disuruh menempati tempat tidurnya beliau supaya orang-orang Quraisy mengira bahwa beliau masih tidur.

Ali pun diperintahkan juga, supaya mengembalikan barang-barang yang dititipkan beliau kepada pemiliknya masing-masing. Kemudian dengan diam-diam, beliau keluar dari rumah dan dia melihat para pemuda pembunuh itu sedang lelap tertidur dan tak sadarkan diri.

"Alangkah kejinya mukamu," kata Rasulullah SAW. seraya meletakkan pasir di atas kepala mereka. Dengan sembunyi-sembunyi, beliau pergi menuju rumah Abu Bakar. Kemudian, mereka berdua keluar dari pintu kecil di belakang rumah, dengan menaiki unta yang sudah disiapkan oleh Abu Bakar, menuju sebuah gua di Bukit Tsur sebelah selatan Kota Mekah, lalu mereka bersembunyi ke dalam gua itu.

Setelah para algojo itu mengelahui, bahwa Nabi tidak ada di rumah dan terlepas dari kepungan mereka, maka mereka menjelajahi seluruh kota untuk mencari Nabi, tetapi hasilnya tetap nihil sama sekali. Akhirnya, mereka sampai juga di Gua Tsur, tempat Nabi dan Abu Bakar bersembunyi.

Atas perlindungan Allah, muka gua itu terdapat sarang laba-laba berlapis-lapis, seolah-olah terjadinya sudah lama sekali dan rasanya tidak mungkin kalau Nabi dan Abu Bakar sudah masuk ke dalamnya tanpa meninggalkan bekas sedikitpun. Melihat keadaan yang demikian, para pemuda Quraisy sedikit pun tidak menaruh curiga.

Setelah 3 hari lamanya, mereka bersembunyi dalam gua itu dan keadaan sudah dirasakan aman dari pengejaran. Maka, Nabi Muhammad dan Abu Bakar (dengan bantuan petunjuk jalan Abdullah bin Uraiqit) barulah meneruskan perjalanan menyusuri pantai Laut Merah, dan Ali bin Abi Thalib menyusul kemudian.

Yatsrib menjadi Madinatun Nabi

Setelah mengarungi padang pasir yang sangat luas dan amat panas, akhirnya tepat pada hari Senin 8 Rabi'ul Awal Tahun 1 Hijriyah, tibalah Nabi Muhammad SAW. di Quba, sebuah tempat kira- kira 10 KM jauhnya dari Yatsrib.

Selama 4 hari beristirahat, Nabi Muhammad segera mendirikan sebuah Masjid pertama kali dalam Dunia Islam, yaitu Masjid Quba'.

Pada hari Jum'at tanggal 12 Rabi'ul Awal tahun 1 Hijriyah, bertepatan dengan tanggal 24 September tahun 622 M, Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib telah memasuki kota Yatsrib, dengan mendapat sambutan yang hangat, penuh kerinduan dan rasa hormat dari para penduduknya.

Pada hari itu juga, Nabi Muhammad mengadakan shalat Jum'at yang pertama kali dalam sejarah Islam, dan beliau pun berkhutbah di hadapan kaum muslimin (Muhajirin dan Anshar). Sejak itu, Yatsrib mengubah namanya menjadi Madinatun Nabiy yang artinya : "Kota Nabi," dan selanjutnya orang-orang menyebutnya Kota Suci Madinah.

Setelah menetap di Madinah, barulah Nabi memulai rencana mengatur siasat dan membentuk tatanan masyarakat Islam yang bebas dari ancaman dan tekanan, mempertalikan hubungan kekeluargaan antara Anshar dan Muhajirin, mengadakan perjanjian saling membantu antara kaum Muslimin dengan orang-orang yang bukan Islam, dan menyusun siasat, ekonomi, sosial serta dasar-dasar Daulah Islamiyah.

Dalam usaha membentuk Masyarakat Islam di Madinah ini, sekaligus beliau berjuang pula memelihara dan mempertahankan masyarakat Islami yang dibina itu dari rongrongan musuh, baik dari dalam maupun dari luar.

Dengan demikian, gerakan perjuangan Nabi di Madinah ini bersifat dua segi yakni yang pertama, membina masyarakat Islam terlebih dahulu sedangkan yang kedua, memelihara dan mempertahankan masyarakat Islam itu.

Terbukti kemudian dari Madinah inilah, Islam memperoleh kemenangan di seluruh Jazirah Arab.

Tugas Nabi Muhammad SAW. Selesai

Ketika para utusan kabilah-kabilah Arab datang menghadap Nabi untuk menjadi pemeluk agama Islam, kemudian disusul dengan turunnya wahyu Allah berupa Surat An-Nashr yang menggambarkan kedatangan para utusan itu untuk menyatakan keislamannya secara berbondong-bondong serta menyuruh Nabi senantiasa memohonkan ampun untuk mereka, maka terasalah oleh beliau bahwa tugasnya hampir selesai.

Merasa tugasnya telah selesai, beliau berniat untuk melakukan Haji Wada' (Haji Perpisahan) ke Mekkah. Pada tanggal 2 Dzulqaedah Tahun 10 H, Rasulullah meninggalkan Madinah menuju Mekah dengan kaum Muslimin yang ikut mengerjakan haji kira-kira 100.000 orang.

Sebelum menyelesaikan ibadah haji, Rasulullah SAW. mengucapkan sebuah pidato amanat yang bernilai harganya di hadapan kaum Muslimin di Bukit 'Arafah pada tanggal 8 Dzulhijjah Tahun 10 H, bersamaan dengan 7 Maret 632 Masehi. Setelah selesai mengerjakan ibadah haji, Nabi pun kembali ke Madinah.

Kira-kira 3 bulan sesudah mengerjakan Haji Wada' itu, Nabi menderita demam panas selama beberapa hari, sehingga tak ada yang dapat mengimami shalat jamaah, maka disuruhnyalah Abu Bakar untuk menggantikan beliau menjadi imam.

Pada tanggal 12 Rabi'ul Awal Tahun 11 Hijriyah bertepatan dengan 9 Juni 632 Masehi. Nabi Muhammad SAW. kembali ke hadirat Allah SWT. dalam usia 63 tahun. Inna lillahi wainna ilaihi raaj'un. 23 tahun lamanya, sejak diangkat menjadi utusan Allah, berjuang tak mengenal lelah dan derita untuk menegakkan Agama Islam.

Nabi Muhammad SAW. telah wafat dan meninggalkan Umat-nya. Tak ada harta benda yang berarti yang akan diwariskan kepada anak istrinya, tetapi beliau meninggalkan 2 buah pusaka yang diwariskannya kepada seluruh umatnya. Dia pernah bersabda :
"Kutinggalkan untuk kamu 2 perkara (pusaka), taklah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya."
Demikianlah, selintas kisah manusia pilihan yang termasuk tokoh nomor satu di antara 100 tokoh dunia yang paling berpengaruh. Kharismanya hingga detik ini tetap berkibar, jutaan dan milyaran orang setiap hari dengan takzim bershalawat kepada beliau dalam setiap do'a dan shalat mereka.

Allahumma Shalli ‘Ala Muhammad wa ‘Ala Ali Sayyidina Muhammad

Berlangganan via Email