Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Siuk Bambam dan Siuk Bimbim – Cerita Rakyat Kalimantan Tengah


Kisah Siuk Bambam dan Siuk Bimbim – Cerita Rakyat Kalimantan Tengah

Pada jaman dahulu, ada 2 anak laki-laki kakak beradik. Yang tua bernama Siuk Bambam, sedangkan adiknya bernama Siuk Bimbim. Kedua anak laki-laki ini adalah anak-anak yang yatim piatu. Ayah mereka meninggal dunia pada saat Siuk Bambam berusia 6 tahun.

Saat itu, adiknya masih berada dalam kandungan ibunya. Sementara, ibunya meninggal dunia pada saat Siuk Bimbim berusia 3 tahun. Kini, Siuk Bambam yang masih berusia 10 tahun itu harus bertanggung jawab atas kelangsungan adiknya yang masih kecil.

Ia bekerja sambil momong adiknya yang masih kecil itu. Kemana pun ia pergi, adiknya selalu dibawanya serta. Sungguh beban yang berat bagi anak sekecil itu. Ia harus berperan sebagai ayah, kakak sekaligus ibu bagi adiknya. Kalau ia ke ladang adiknya diajaknya serta dibuatkan pondok kecil beserta ayunan untuk menidurkan adiknya.

Hal ini dijalaninya hingga bertahun-tahun. Beban hidupnya agak berkurang setelah adiknya berusia 6 tahun, sudah bisa berjalan dan bermain sendiri. Walau demikian, Siuk Bambam semakin sayang pada adiknya, sesekali ia masih menggendong adiknya, ia tidak berani gegabah meninggalkan adiknya, seorang diri.

Ia masih tetap mengajaknya kemana pun ia pergi. Ia mulai mengajari adiknya untuk mempergunakan senjata guna berburu binatang. Siuk Bambam sangat senang dan gembira, ternyata adiknya cepat menangkap semua pelajaran yang diberikan kepadanya. Terutama dalam hal menyumpit, adiknya sangat pandai mempergunakan alat itu.

Karenanya, ia sering mengajak adiknya berburu di hutan dan hasil buruan adiknya selalu lebih banyak ketimbang yang diperoleh Siuk Bambam sendiri. Pada suatu hari, pagi-pagi sekali mereka berdua pergi berburu ke hutan. Lewat tengah hari, keduanya baru sampai di rumah kembali. "Kak, Siuk ! Aku lelah dan lapar, sekali."

"Kau istirahatlah lebih dulu, adikku." kata Siuk Bambam.

Adiknya langsung merebahkan diri di tempat tidur. Rupanya selain merasa lelah dan lapar benar. Dengan cekatan, Siuk Bambam menyiapkan beras untuk dimasak. Tetapi begitu, ia mau menyalakan api, ternyata api di dapur sudah padam.

Biasanya setiap selesai memasak, bara api itu ditimbunnya dengan abu sehingga baranya selalu menyala. Melihat hal itu, Siuk Bambam merasa bingung.

Batu pemantik api yang biasa dipergunakan untuk menyalakan api yang telah hilang. Lama, ia mencari ke mana-mana tidak juga ditemukan.
"Sekarang, satu-satunya jalan, ia harus pergi ke kampung. Akan tetapi, ia memikirkan keadaan adiknya. Mau dibawa, Siuk Bimbim sudah terlalu lelah dan lapar. Kalau ditinggalkan juga, akan memakan waktu 2 atau 3 jam pulang pergi.”
Ia pun membangunkan Siuk Bimbim. Mereka berunding. Akhirnya, Siuk Bimbim bersedia tinggal sendiri selama Siuk Bambam pergi ke kampung. Sebelum pergi, ia berpesan agar adiknya tidak keluar rumah sampai ia kembali nanti. Siuk Bambam pun berjanji untuk kembali secepatnya.
Sepeninggal Siuk Bambam, adiknya tertidur. Ia terbangun, setelah perutnya terasa melilit karena lapar. Ia pun menangis sambil memanggil kakaknya.

 “Ooo…., kakakku Siuk Bambam. Maram burung dia tara tinu, kembang behas diatara rapi."
Artinya : Dia memanggil kakaknya Siuk Bambam,

Ia mengatakan bahwa burung perolehannya sudah busuk dan tidak dapat dibakar. Beras yang direndamnya untuk dimasak sudah hancur dan tidak bisa lagi dimasak. Berulang-ulang memanggil kakaknya dengan mengucapkan kata-kata yang sama.

Pada waktu itu, kebetulan seekor anak raksasa sedang lewat. "Nah," katanya.
"Kedengarannya ada suara orang. Sekali ini aku beruntung. Sudah hampir seminggu aku tidak makan apa-apa. Perutku lapar sekali," ucapnya seraya menuju arah suara itu. 
Tidak lama berselang, suara panggilan itu terdengar lagi. Anak raksasa itu pun menyahut, "Bakmmm.." Maksudnya agar orang yang memanggil itu mengira bahwa suaranya tadi adalah sahutan orang yang dipanggilnya. Adik Siuk Bambam yang mengira kakaknyalah yang menjawab panggilannya, ia segera membukakan pintu.

Langsung saja anak jin itu menerkam dan memakan habis adik Siuk Bambam tanpa tersisa apapun. Setelah memperoleh api, Siuk Bambam langsung pulang. Perjalanan pulang itu, ia mempercepat langkahnya. Ia membayangkan adiknya tertidur pulas, karena menahan lapar. Dari jauh, Siuk Bambam memanggil adiknya akan tetapi tidak didengarnya suara sahutan.

Setelah berkali-kali memanggil namun tiada jawaban, Siuk Bambam segera naik ke rumah dan mengatakan bahwa burung perolehannya sudah busuk.

Tetapi, adiknya tidak ditemuinya. Kerongkongannya serasa kering karena memanggil adiknya. Namun, hanya gemanya sendiri yang terdengar. Ia mengamati keadaan di rumahnya, matanya tak berkedip ketika menatap lantai.

Ada setitik darah segar di situ. Darah itu diamatinya kembali dengan cermat. Tidak jauh dari situ dilihatnya segumpal rambut.

"Jangan-jangan…,, ini darah dan rambut adikku." gumam Siuk Bambam ragu.
"Adikku...! Siuk Bimbim…!" Siuk Bambam berteriak keras-keras.

Namun, adiknya tentu saja tidak menyahut karena sudah dibunuh anak raksasa. Lama-lama, serak dan hampir habis suara Siuk Bambam. Ia akhirnya sadar mungkin adiknya telah mati.

"Benar, darah dan rambut ini pastilah milik adikku," katanya kemudian.
"Siapa yang telah membunuh adikku.”

Ia teringat cerita almarhum ayahnya bahwa di Bukit Kaminting, di jajaran Bukit Raya, ada sebuah telaga. Di sana ada air kehidupan, air ajaib yang dinamakan Danum Kaharing Belom. Telaga itu terletak di hulu Sungai Kahayan dan Sungai Barito. Konon, air kehidupan itu mampu menghidupkan bangkai atau bahkan sisa bangkai sekali pun.

"Aku akan mencari air ajaib itu untukmu, adikku." Anak muda ini berkata pada dirinya sendiri. Lalu, ia bangkit berdiri.

Siuk Bambam berlari menuju Bukit Raya. Ia berlari dan berlari siang malam tanpa henti, tak memperdulikan perutnya yang lapar dan tenggorokannya yang haus. Jiwa adiknya lebih penting dari segala-galanya.

Pada suatu hari setelah betul-betul kelelahan, ia roboh di dekat sebuah telaga. Di dekat telaga itu, nampak ada sebatang pohon beringin yang berdiri dengan kokoh dan rindang.

Air telaga itu demikian jernih seperti kaca, sepasang mata Siuk Bambam silau saat menatap air telaga yang memantulkan sinar matahari. Lelah, lapar dan kehausan membuatnya terus berjuang, ia tak mampu berdiri, terpaksa hanya dengan merangkak dan merambat ia berusaha mencapai pinggir telaga. Sungguh berat perjuangan ini.

Hampir-hampir, ia tak mampu menggerakkan tubuhnya lagi, namun dengan seluruh sisa tenaganya yang terakhir ia dapat menggapai pinggir telaga itu dan mencelupkan tangannya ke dalam air. Aneh, begitu tangannya menyentuh air seketika tenaganya menjadi pulih kembali.

Ia langsung dapat bangkit berdiri dan berjalan. Segera saja, ia minum air telaga itu sepuas-puasnya. Kini rasa haus dan lapar telah hilang lenyap.

"Pastilah ini Danum Kaheringan Belom...," ujar Siuk Bambam dengan perasaan lega.
Ia berpikir keras, "Bagaimana cara membawa air ini ke rumah ?"

Akhirnya, ia menemukan cara dilepaskan ikat kepalanya. Lalu dicelupkan ke dalam air telaga. Setelah air meresap, ikat kepala itu digulung. Kemudian, ia berlari bagaikan kerbau gila meninggalkan tempat itu. Perjalanan yang mestinya ditempuh selama beberapa hari, sekarang dapat dicapainya hanya dalam tempo setengah hari.

Ia telah sampai di rumah. Segera dicarinya darah, rambut dan tempurung kepala adiknya. Lalu, ditetesi dengan air kehidupan.

"Dewa tolonglah hambamu...," gumam Siuk Bambam berkali-kali.

Perlahan-lahan tetapi pasti, darah dan rambut itu membentuk tubuh manusia. Siuk Bambam tercengang dan hampir tak berkedip menyaksikan keajaiban itu. Beberapa menit kemudian, berdirilah Siuk Bimbim di hadapan kakaknya Siuk Bambam. Siuk Bambam langsung merangkul adiknya dengan penuh haru.

Lama-lama, keduanya bertangis-tangisan.

"Adikku... Apa sebenarnya yang telah terjadi ?" tanya Siuk Bambam setelah keduanya puas melepas keharuan.

Siuk Bimbim kemudian menceritakan kejadian yang menewaskan dirinya itu dengan cermat tanpa terlewatkan sedikitpun juga.

"Kasihan kau adikku, sekarang mari kita masak, kau tentu merasa lapar.”

Adiknya mengangguk. Setelah masak dan makan sampai kenyang keduanya menyusun rencana untuk menghadapi anak raksasa kejam itu.

"Mulai besok pagi, kau berpura-pura kelaparan dan memanggil-manggilku seperti hari kemarin."
"Bagaimana jika anak raksasa itu datang ?" tanya Siuk Bimbim.
"Jangan khawatir, aku akan bersembunyi di atas loteng dengan membawa sumpitan dan mandau.”

Begitulah malam itu, mereka beristirahat dengan tenang. Esok paginya, rencana itu dijalankan. Siuk Bimbim berbaring di atas tikar sembari memanggil-manggil kakaknya.

"Oo..., kakakku Siuk Bambam. Maram burung dia tara tinu, kembang behas dia tara rapi."
Setelah diulang beberapa kali, datanglah anak raksasa itu. Ia juga menyahut seperti kemarin.
"Bak....mmm."

Semakin lama semakin dekat suara jawaban anak raksasa itu, Siuk Bambam menyiapkan sumpitannya untuk dibidik tepat di daun pintu. Begitu pintu terbuka dan nampak tubuh anak raksasa, maka secepat kilat Siuk Bambam meniupkan sumpitnya.

Anak raksasa itu menjerit keras. Ia mencoba berbalik ke arah halaman runah, namun racun anak sumpit telah membuatnya terjatuh. Siuk Bambam segera turun dan menikamkan mandau ke arah leher anak raksasa itu.

Seketika anak raksasa itu tewas menemui ajalnya. Siuk Bambam berpelukan dengan adiknya karena telah selamat dari marabahaya. Selanjutnya mereka menguburkan mayat anak raksasa itu di halaman rumah. Kini tak ada lagi orang yang mengganggu ketentraman mereka.

Pelajaran yang bisa kamu petik dari Kisah Siuk Bambam dan Siuk Bimbim – Cerita Rakyat Kalimantan Tengah, yaitu menjaga tanggung jawab dan berani menanggung beban dalam penghidupan keluarga, saling menyayangi dalam persaudaraan, pandai menangkap ilmu dengan cepat dan langsung terlatih, berusaha keras untuk menyelamatkan nyawa orang lain.
Semoga cerita rakyat di atas bisa membantu kamu terkait hikmah pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.

Berlangganan via Email