Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Putri Niwer Gading dan Amat Mude – Legenda Aceh


Kisah Putri Niwer Gading dan Amat Mude – Legenda Aceh

Ada sebuah Kerajaan bernama Negeri Alas. Negeri tersebut diperintahkan oleh seorang raja yang adil dan bijaksana sehingga rakyatnya patuh dan setia kepadanya. Maka, Negeri Alas aman dan sentausa.

Hanya sayang Raja belum mempunyai anak sama sekali, Raja mempunyai seorang adik yang sudah berkeluarga. Mereka mempunyai seorang anak. Sementara dia sendiri tetap juga belum mendapatkan karunia seorang anak. Tentu saja hal ini, membuat Sang Permaisuri bersedih hati.

Raja meminta Permaisuri agar selalu bersabar. Ia akan tetap berusaha, namun Permaisuri tidak dapat menahan dan menyembunyikan kesedihannya itu. Sesungguhnya Raja juga sangat sedih, karena anak adalah generasi yang akan meneruskan kerajaannya.

Mereka sebenarnya sudah berusaha keras, semua tabib dan dukun di wilayah kerajaan sudah didatangkan, segala obat ramuan sudah dicoba namun belum membuahkan hasil.

Pada suatu hari di puncak kesedihan, Raja berusaha menghibur Permaisuri namun permaisuri diam saja, akhirnya raja berkata dengan nada setengah putus asa, "Sebenarnya masih ada satu jalan, tetapi belum saya tempuh."

"Apa itu Kanda. Katakanlah kepada Adinda," tanya Permaisuri.
"Aku berniat (bernadzar) untuk memperoleh anak laki-laki. Asal dia ada, biarlah aku meninggal sebelum sempat menikmati sebagai Ayah," tutur raja.
"Hanya niat ini sajalah yang belum saya ucapkan. Namun demikian, untuk melangsungkan keturunan biarlah niat itu hari ini juga saya ucapkan," sambung Raja.

Demikianlah dengan khusyuk, Raja mengucapkan niatnya. Sekitar satu bulan setelah raja mengucapkan niatnya, permaisuri pun mengandung. Berita tentang permaisuri hamil segera tersebar ke lingkungan istana. Bahkan, beritanya sudah diketahui oleh seluruh rakyat di negeri itu.

Rakyat sangat gembira karena raja akan mempunyai pewaris kelak. Setelah mencapai batas usia kandungan, beliau pun akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki yang badannya sehat, wajahnya pun tampan. Permaisuri beserta sang raja nampak sangat bahagia melihat kedatangan sosok anaknya itu.

Permaisuri selalu tersenyum menimang-nimang putranya yang kelihatan lucu. Raja demikian juga dengan penuh rasa syukur dan suka cita.

Sayangnya setelah genap setahun usia Amat Mude, ayahnya telah meninggal terlebih dahulu sesuai nadzar yang pernah diucapkannya dulu. Karena putra mahkota itu masih bayi, maka adik sang raja yang sementara menggantikan posisi beliau menjadi raja.

Setelah penobatannya, ia berbuat lalim terhadap istri kakaknya dan Amat Mude, ia memerintahkan untuk mengasingkan keduanya ke sebuah hutan terpencil. Raja Muda kelihatannya sangat bernafsu untuk menguasai harta dan seluruh kerajaan yang sebenarnya menjadi hak milik Amat Mude.

Seperti kebanyakan hutan, di mana pun dipenuhi dengan beragam binatang buas dan berbahaya. Di situ permaisuri tinggal bersama anaknya yang masih kecil. Walaupun dia bersama anaknya dibuang jauh dari istana, dia tetap bersabar dan tidak mengeluh.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun pun berganti pula, Amat Mude telah berusia 8 tahun.
Pada suatu hari ketika ia sedang bermain-main, Amat Mude melihat cucuk sanggul permaisuri. Cucuk sanggul itu diambilnya, lalu dipukul-pukulnya dengan kayu keras. Dibengkok-bengkoknya cucuk sanggul itu, sehingga lama-lama terbentuk sebuah mata pancing.

Suatu pagi, Amat Mude membawa pancingnya ke Sungai Alas. Di sana, ia mulai memancing. Tak berapa lama kemudian, terdapat ikan besar yang terkena pancingnya. Ia mengumpankan pancing lagi dan kena lagi ikan yang sama besar. Ia umpankan pancing sekali lagi dan kena lagi. Setelah memperoleh lima ekor ikan hasil pancingannya, Amat Mude pun pulang ke rumah.

Tiba di rumah, Amat memberikan ikan kepada ibunya. Tentu saja, ibunya sangat gembira karena anaknya yang masih kecil sudah dapat memancing ikan. Lima ikan besar tentu tak habis dimakan ibu dan anaknya. Maka, timbullah pikiran permaisuri untuk mencoba menjual sebagian ikan itu.

Kemudian dibawanya beberapa ekor, lalu ia pergi ke desa dan segera menjual ikannya kepada penduduk sekitar di situ. Menurutnya, rasanya boleh juga ikan ditukar dengan beras atau keperluan lainnya.

Rupanya nasib permaisuri sedang mujur. Ketika membawa ikan itu, ia bertemu dengan bekas sahabat suaminya dahulu. Seorang saudagar yang kaya, baik hati dan pemurah. Mengetahui keadaan permaisuri, saudagar itu mengajaknya singgah ke rumahnya.

Ikan-ikan yang akan dijual oleh permaisuri itu pun semua dibawa. Setelah tiba di rumah, saudagar itu meminta kepada istrinya supaya meladeni dan melayani permaisuri dengan baik. Istri saudagar memberikan pakaian yang bagus-bagus dan menyediakan makanan jamuan yang enak.

Sembari menyiapkan makanan, istri saudagar bercakap-cakap dengan permaisuri. Sehingga diketahuilah apa yang sudah menimpa diri permaisuri dan anaknya.  Ketika memotong ikan di dapur, istri saudagar merasa heran karena pisau tak dapat membelah perut ikannya.

Mata pisaunya tertumbuk pada benda keras. Ketika perut ikan dapat dibuka, istri saudagar itu terkejut. Apa yang dilihatnya ternyata telur ikan berwarna kuning emas tapi keras. Lalu, dipanggil suaminya untuk menyaksikan benda aneh itu. Ketika diperhatikan sungguh-sungguh, saudagar itu yakin bahwa benda itu adalah emas murni yang berbentuk telor ikan.

Kepada istrinya, saudagar menyuruh untuk memberikan bekal yang lengkap bagi permaisuri dan anaknya. Sebuah rumah yang baik akan dibuatkan oleh pasangan saudagar kaya raya itu untuk tempat kediaman mereka berdua.

Lalu, saudagar meminta kepada tukang yang ahli membangun rumah untuk membuatkan tempat tinggal bagi permaisuri dan anaknya itu. Menjelang petang, permaisuri minta diri untuk pulang. Ia mengucapkan terima kasih atas perhatian suami-istri saudagar yang baik hati itu.

Beberapa hari kemudian, rumah permaisuri pun selesai. Kini, permaisuri dan anaknya Amat Mude dapat menempati dan menikmati rumah yang baru dan bersih. Seperti hari-hari sebelumnya, Amat Mude pergi ke Sungai Alas untuk memancing.

Ikan-ikan yang diperolehnya dijadikan gulai dan dipanggang. Di antara ikan-ikan itu, ada yang bertelor emas. Telur emas ini sedikit demi sedikit disimpan ibu Amat Mude, sehingga semakin hari semakin banyak. Sementara itu, hubungan dengan keluarga saudagar semakin bertambah erat. Kedua keluarga itu sudah sering saling berkunjung.

Berita nasib bahwa Amat Mude dan ibunya masih hidup, terdengar juga oleh pakcik (paman)-nya. Bahkan, Raja Muda mendengar bahwa Amat Mude dan ibunya kini menjadi kaya raya dan hidup bahagia.

Suatu hari, Raja Muda meminta Amat Mude menghadap kepadanya. Setiba di istana, Raja Muda memerintahkan Amat Mude pergi ke tengah laut untuk memetik sebuah kelapa gading. Buah kelapa gading itu diperlukan untuk obat istri Raja Muda yang sedang sakit parah.

"Bila kamu tidak sanggup mendapatkannya, maka kamu akan dihukum mati," kata Raja Muda kepada keponakannya Amat Mude.
"Titah Baginda akan hamba junjung," kata Amat Mude.

Setelah sekian hari ia berjalan, tibalah di pinggir pantai dan Amat Mude langsung termenung memikirkan bagaimana cara mendapatkannya. Tiba-tiba muncul di hadapannya seekor ikan besar bernama Silenggang Raye.

Ikan itu didampingi oleh Raja Buaya dan seekor Naga besar. Hewan-hewan itulah yang akan mengantar Amat Mude pergi ke pulau tempat kelapa gading itu berada. Rupanya, hewan-hewan itu turut diundang pada pesta besar saat pemberian nama Amat Mude dulu.

Sebelum naik ke darat, naga besar itu memberikan sebuah cincin ajaib. Khasiatnya dapat meminta segala yang diinginkan langsung terkabul. Sampai di pulau itu, Amat Mude memetik buah kelapa gading yang ada satu-satunya di sana. Ketika tangan Amat Mude sedang memetik, terdengar suara lembut menegur. Suara itu adalah suara Putri Niwer Gading.

Putri itu mengatakan, siapa yang berhasil memetik buah kelapa gading itu, ia akan menjadi suaminya. Pada hari yang sudah ditentukan, diadakan pesta pernikahan antara Amat Mude dan Putri Niwer Gading.

Kemudian, Amat Mude menunaikan tugasnya untuk pulang membawa buah kelapa gading kepada Raja Muda. Tiba di istana, ia serahkan buah kelapa gading kepada Raja Muda. Lalu, ia meminta diri untuk tugas selanjutnya yang harus dilaksanakan demi kesembuhan bibinya itu.

Raja Muda tertegun, tak disangka keponakannya itu begitu tulus menolongnya dalam mencari obat bagi istrinya. Hati Raja Muda menjadi tersentuh atas kebaikan Amat Mude.

Melihat perilaku Amat Mude yang demikian, sadarlah Raja Muda akan kecurangan dan tingkah lakunya yang curang. Tapi masih ada waktu untuk menebus semua kesalahannya. Maka, ia segera datang menghampiri ke rumah Amat Muda dan berunding dengan Permaisuri Ibu Amat Muda.

Akhirnya atas permintaan Raja Muda, kemudian Amat Mude dinobatkan menjadi raja yang kedudukan itu memang menjadi haknya. Demikianlah kecurangan dan keburukan, kadangkala akan kalah dan luluh dengan kebaikan hati yang tulus.

 Pelajaran yang bisa kamu petik dari Kisah Putri Niwer Gading dan Amat Mude – Legenda Aceh, yaitu kerja keras mencapai harapan, rela mengorbankan diri sendiri demi maslahat keluarga, menjaga amanah, jangan bersikap semena-mena ke orang lain, percaya dan menggantungkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, mendidik anak dengan baik, penuh kasih sayang, dan perhatian, banyak relasi banyak rezeki, rela menolong orang lain dan menganggapnya seperti keluarga.
Semoga cerita rakyat di atas bisa membantu kamu terkait hikmah pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.


Berlangganan via Email