Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Puti Kesumba Diculik Ular Sawah – Legenda Jambi


Kisah Puti Kesumba Diculik Ular Sawah – Legenda Jambi

Ini dongeng lama yang tersebar luas melalui lisan masyarakat Jambi tentang sepasang suami istri yang belum dikaruniai anak, padahal mereka sudah lama menikah. Mereka juga sudah berusaha kesana kemari agar mempunyai anak sendiri namun keinginan itu belum terkabul.

Tiap hari, mereka selalu berdo'a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Pada suatu malam, mereka bermimpi melihat seorang kakek tua dan dia berkata kepada mereka,
"Jika kalian ingin mempunyai anak, carilah rebung yang dililit ular sawah. Rebus dan makanlah rebung itu.” 
Rebung adalah tunas bambu yang masih muda, bila dimasak dengan bumbu yang cocok rasanya memang lezat. Esok harinya, suami istri itu mencari rebung yang dililit ular sawah. Setelah mencari di sekitar hutan bambu, mereka mendapatkan rebung yang dililit ular sawah.

Sang suami segera menceritakan mimpinya semalam kepada ular sawah. Namanya dongeng binatang tentu pun dapat berbicara, demikian juga si ular sawah. Ia segera angkat bicara setelah mendengar penuturan si suami.

"Baiklah, akan kuberikan rebung ini tetapi Tuan harus berjanji kepada saya,"
"Hai ular sawah, apa yang harus kujanjikan ?"
"Jika anak yang lahir laki-laki, ia menjadi milik Tuan. Jika anak yang lahir perempuan, ia akan menjadi milikku. Anak itu harus diserahkan kepadaku pada saat berusia 7 tahun." kata ular sawah.

Karena demikian besarnya keinginan memiliki anak, tanpa pikir panjang lagi suami-istri itu segera menyetujui perjanjian yang diajukan si ular sawah. Rebung ditebas lalu dibawa pulang, dimasak dengan lezat lalu dimakan.

Ajaib beberapa hari kemudian, perut si istri mulai membesar. Sang istri benar-benar telah mengandung alias bunting. Setelah genap 9 bulan, sang istri pun melahirkan anak.

Sejenak, mereka gembira namun kegembiraan itu segera sirna ketika mengetahui, anak yang lahir ternyata adalah anak perempuan. Namun nasi sudah menjadi bubur, janji sudah terlanjur mereka ucapkan di depan si ular sawah, meski kecewa mereka memelihara anak itu dengan penuh kasih sayang dan anak itu diberi nama Puti Kesumba.

Puti Kesumba tumbuh semakin besar. Ketika ia berumur 7 tahun, tiba saatnya untuk diserahkan kepada ular sawah. Akan tetapi, rasa sayang suami istri itu tidak dapat dikatakan lagi. Betapa berat hati, seorang ayah dan ibu menyerahkan anak mereka kepada seekor ular.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk tidak menepati janji. Puti Kesumba pun dilarang bermain di luar rumah. Semua keperluan Puti Kesumba mereka sediakan dan dilakukan di dalam rumah.

Pada suatu hari, sang suami hendak pergi berlayar selama 3 bulan. Sang suami berpesan kepada sang istri agar menjaga Puti Kesumba dengan baik-baik. Sepeninggal sang suami, sang istri membawa Puti Kesumba mandi di sungai. Ketika sedang asyik bermain, Puti Kesumba ditangkap oleh ular sawah.

Ia berteriak, "Tolong. Bu Tolong...!"

Ibunya terkejut dengan rasa menyesal dan meratap sejadi-jadinya. Akan tetapi, apa hendak dikata kelengahannya membuat ia berpisah dengan anak kesayangannya. Ular sawah itu membawa Puti Kesumba ke tebing yang menjorok ke tengah sungai. Tidak ada seorang pun yang berani dapat menjangkaunya.

Pada suatu hari, bertanyalah ular sawah kepada Puti Kesumba,
"Sudah seberapa besarkah hatimu, Puti ?"
"Masih kecil. Baru sebesar pinang," jawab Puti.

Tebing tempat Puti Kesumba berada itu selalu dilewati orang yang pulang berlayar. Puti Kesumba selalu bertanya kepada mereka,
"Hai Bapak yang baru pulang berlayar, apakah Bapak bertemu dengan ayah saya ?"
"Ya, Ayahmu masih jauh," jawab bapak itu.

Seminggu kemudian, ular sawah bertanya lagi kepada Puti Kesumba,
"Sudah seberapa besarkah hatimu, Puti ?"
"Baru sebesar mangga," jawab Puti Kesumba.

Begitulah berturut-turut, dari sebesar mangga menjadi sebesar bola, kemudian sebesar kelapa. Ketika bulan ketiga hampir habis, bertanyalah ular sawah, "Sudah seberapa besarkah hatimu, Puti?"

"Sudah sebesar nyiru," jawab Puti Kesumba.

Setelah mendengar hal itu, ular sawah segera pergi memanggil teman-temannya dengan mengundang 10 ekor ular sawah. Mereka akan makan besar nanti malam, yaitu menyantap Puti Kesumba.

Ketika pesta akan dimulai, ayah Puti Kesumba pulang dari berlayar. Perahunya penuh dengan pakaian dan kebetulan pun lewat di dekat tebing itu. Puti Kesumba langsung berteriak ketika ayahnya lewat,

"Ayah, ambillah saya, Ayah !" teriak anaknya.

Setelah mendengar teriakan keras itu, Ayah Puti Kesumba lantas terkejut. Ia mendekatkan perahunya ke tempat Puti Kesumba berada. Dengan cepat, ia menyambar Puti Kesumba dan diangkatnya masuk ke dalam perahu. Dengan cepat pula, perahu dikayuhnya menjauh dari tempat itu.

Tepat pada saat itu, ular sawah dan teman-temannya datang. Ular sawah melihat Puti Kesumba jauh di hulu sungai.

Dia berteriak, "Wah, ayamku lepas...!"
Ular sawah undangan pun menjawab, "Kunang ! Kunang ! Aku makan kepalanya !"
"Ayamku lepas…"
"Kunang ! Kunang ! Aku makan perutnya !"
"Ayamku lepas."
"Kunang ! Kunang ! Aku makan ekornya !”

Kesepuluh ekor ular sawah yang diundang itu pun menyerbu ular sawah yang mengundang. Bagi dunia ular, pesta itu tak boleh gagal dan barang siapa yang mengundang itulah yang bertanggung jawab terhadap hidangan. Jika tak sanggup menyediakan, maka si pengundang itulah yang disantap beramai-ramai.

Dalam tempo yang tidak terlalu lama, ular sawah yang mengundang telah tiada. Seluruh badannya habis dimakan 10 ekor ular sawah temannya. Sementara itu, Puti Kesumba dan ayahnya tiba di rumah kembali. Puti Kesumba mendapati ibunya sedang bergelung di tempat tidur. Badan ibunya kurus kering karena tidak makan sedikit pun.

Telah 3 bulan lamanya, ibunya menangis tiada henti. Puti pun berlari ke dekat ibunya sambil menangis, "Ibu, Puti pulang, Bu !"

Ibu Puti Kesumba menangis meraba Puti Kesumba. Ia mendekap Puti Kesumba sepuas hati, sambil menangis tersedu-sedu mengenang saat ia kehilangan si anak di tepi sungai. Sejak saat itu, keluarga itu hidup bahagia dan ular sawah yang mereka takuti sudah tiada lagi.

Pelajaran yang bisa kamu petik dari Kisah Puti Kesumba Diculik Ular Sawah – Legenda Jambi, yaitu bersikap hati-hati dan waspada dalam menjaga anak, cerdik, kasih sayang orang tua terhadap anaknya tidak ada batasnya, hukum adat dimana saja pun harus dipatuhi.
Semoga cerita rakyat di atas bisa membantu kamu terkait hikmah pelajaran yang bisa kamu petik, dan dapat menambah wawasan pengetahuan yang memenuhi asupanmu. Jika ada pertanyaan, silahkan ditulis pada kolom komentar dibawah ini.