Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Nabi Zakaria – Pengasuh Ibu Suci Maryam


Kisah Nabi Zakaria – Pengasuh Ibu Suci Maryam

Nabi Zakaria merupakan Nabi Bani Israel yang diutus di kawasan Palestina dan sekitarnya pada Masa Kekaisaran Romawi dan lebih tepatnya di bawah wilayah kekuasaan Raja Herodus (Putra Raja Herodes Yang Agung).

Dia ternyata mempunyai tali nasab yang berasal dari keturunan Nabi Sulaiman Alahis Salam dengan rincian sebagai berikut, Zakaria bin Dan bin Muslim bin Shaduq bin Hasyban bin Daud bin Sulaiman bin Muslim bin Shiddiqah bin Barkhiya bin Bal’athah bin Nahur bin Syalum bin Yahfayath bin Aynaman bin Rahab’am (Rahabeam) bin Sulaiman bin Daud Alahis Salam.

Zakaria Mendambakan Seorang Anak 

Umur Nabi Zakaria dan istrinya sudah tua dan mandul. Padahal sejak usia muda, mereka sangat  mendambakan seorang putra yang dapat melanjutkan dakwah untuk membimbing kaumnya supaya tidak tersesat dan kembali menuju jalan kebenaran (agama Allah).

Pekerjaannya sehari-hari adalah sebagai tukang kayu, tetapi dakwah yang dilakukan untuk membimbing kaumnya lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi.

Pada suatu hari, ia menemukan putri asuhannya mendapatkan buah-buahan segar di Mihrab (Baitul Maqdis) padahal waktu itu belum musimnya, Nabi Zakaria menanyakan sumber darimana dia bisa mendapatkan buah-buahan tersebut, lantas Maryam menjawab bahwa dia mendapatkannya atas anugerah (pemberian) Allah.

Mendengar hal itu, akhirnya dia senantiasa berdo'a bersama istrinya siang malam tiap hari tanpa hentinya, supaya dia dikaruniai anak laki-laki shaleh yang mereka damba-dambakan selama ini.
Akhirnya, Allah mengabarkan berita gembira kepada Nabi Zakaria seraya berfirman,
“Wahai Zakaria ! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.” (Q.S Maryam ayat 7)
Nabi Zakaria merasa terkejut dan spontan terheran-heran tentang kabar berita yang menurutnya mustahil tersebut, Allah Ta’ala segera menenangkan dia dan menjelaskan bahwa segala sesuatu yang tidak mungkin bisa terjadi dan itu adalah hal yang mudah bagi-Nya.

Nabi Zakaria langsung meminta mengenai tanda-tanda kelahirannya, Allah menjawab bahwa dia akan berpuasa bicara (tidak dapat berbicara sama sekali kepada orang lain) selama 3 hari 3 malam padahal (kondisi) dia sedang sehat dan kelak akan berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat kepada orang lain.

Setelah penantian yang lama Nabi Zakaria, akhirnya benar istrinya dinyatakan mengandung dan beberapa bulan kemudian dia melahirkan bayi Yahya dalam keadaan sehat walafiat.

Kelahiran Bunda Suci Maryam

Nabi Zakaria mempunya istri yang bernama Isya binti Faqud bin Miyal. Isya mempunyai saudara perempuan yang bernama Hanah, dan dia ini diperisteri oleh Imran. Dari pasangan mereka berdua inilah, kelak akan melahirkan Maryam Ibu Nabi lsa.

Alkisah, pasangan suami-istri yang shaleh yaitu Hanah dan Imran sebenarnya sudah beruşia lanjut, namun sayangnya juga mereka belum dikaruniai anak sekalipun. Mereka berdo'a dan bermunajat kepada Allah dengan bernazar bahwa anaknya kelak akan diserahkan sebagai pelayan dan pengabdi Rumah Suci Baitul Maqdis hingga akhirnya Allah mengabulkan do'anya.

Hanah telah mengandung, namun sayangnya di saat momen yang membahagiakan itu Imran telah meninggal dunia tanpa menyaksikan kelahiran anaknya. Setelah Hanah melahirkan, ia membawa bayinya untuk diserahkan kepada orang yang berhak mengasuhnya agar dapat dibesarkan menjadi pelayan Baitul Maqdis sesuai nazarnya tersebut.

Banyak para ahli ibadah, pemuka agama (para imam) dan pengurus Baitul Maqdis dari kalangan Bani Israel yang memperebutkan hak asuh anak perempuan itu. Karena di antara mereka tidak ada yang saling mengalah, mereka bersepakat untuk mengadakan undian untuk menentukan siapa yang berhak mengasuh Maryam.

Setelah undian itu jatuh dimenangkan oleh Nabi Zakaria, akhirnya dia lah yang berhak mengasuh Maryam dan mendidiknya hingga menjadi perempuan yang taat beribadah.

Nabi Zakaria dan Nabi Yahya dikenal sebagai Nabi yang gigih memperjuangkan agama Allah. Yahya dikenal sebagai seorang pembabtis, yaitu memandikan orang-orang berdosa yang bertaubat di tepi Sungai Yordan. Ritual Pemandian itu bukan berarti mencuci dosa-dosa hingga (amalannya) bersih suci, melainkan sebagai bentuk tanda orang tersebut sudah bertaubat.

Berlangganan via Email