Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Nabi Ismail – Kota Mekkah, Ibadah Qurban dan Haji

Kisah Nabi Ismail – Kota Mekkah, Ibadah Qurban dan Haji

Nabi Ibrahim mempunyai dua istri, yaitu istri pertama bernama Sarah, dan istrinya yang kedua bernama Hajar. Sarah melahirkan seorang anak laki-laki dinamakan Ishak, sedangkan Hajar melahirkan Ismail. Sarah merasa kurang senang hidup bersama Hajar. Berkali-kali, ia meminta kepada suaminya agar Hajar dan anaknya dipindahkan saja ke tempat lain.

Nabi Ibrahim tidak segera menuruti permintaannya. Barulah setelah menerima perintah Allah, Ibrahim mengajak Hajar dan Ismail pindah ke Mekkah. Ismail pada waktu itu masih menyusu, ia terpaksa harus ikut kedua orang tuanya menempuh perjalanan jauh.

Perjalanan yang penuh melelahkan, namun Hajar dan Ismail harus mau tidak mau diletakkan di daerah yang tandus, padang pasir yang sunyi dan terik matahari yang menyengat kulit atas dasar perintah Allah. Tak ada seorang pun yang tinggal disitu kecuali mereka berdua.

Asal Usul Telaga Zam-Zam

Karena di sekitar tempat itu tak ada mata air, sedang perbekalan sudah habis. Ismail pun merasa kehausan. la menangis karena tak kuat menahan rasa haus.

"Sabarlah anakku, Ibu akan mencarikan air untukmu." Demikian kata Hajar sambil berlari-lari mencari air.

"Ya Tuhan, tolonglah hamba-Mu ini, yang sedang dalam bahaya kematian. Sesungguhnya kami bertambah payah, lemah dan kehausan."

Hajar berlari ke Gunung Shafa tetapi tidak terdapat air. Kemudian, turun dan naik lagi ke Gunung Marwa, tapi tetap saja tak ditemukan ada setetes air pun. Dengan berlinang air mata, ia berkata : "Oh, sabarlah anakku sabar."

Tiba-tiba, tak jauh dari Ismail nampak seorang lelaki datang menghampiri. Lelaki itu menjejakkan kakinya ke tanah, maka keluarlah air yang berlimpah-limpah dan memancar ke segenap penjuru. Lelaki tersebut tak lain adalah malaikat yang diutus Allah.

Hajar segerá berlari ke tempat itu untuk mengambil air. Dengan demikian, terhindarlah Ismail dari kematian karena rasa haus. Lelaki yang tak lain itu adalah Malaikat Jibril, kemudian berkata : Zam-Zam ! Zam-Zam !" yang artinya berkumpullah.

Maka, air pun berkumpul menjadi mata air yang sejak saat itu disebut TELAGA ZAM-ZAM.

Sebelum Jibril pergi, ia berpesan kepada Hajar : "Hai Hajar ! Jangan engkau merasa khawatir akan kehabisan air. Jangan takut. Telaga ini bukan hanya diperuntukkan orang-orang di sini saja. Melainkan juga untuk tamu-tamu Tuhan. Dan, Bapak anak ini nanti akan datang untuk membangun Rumah Allah di tempat ini."

Yang dimaksud tamu-tamu TUHAN adalah orang-orang yang mengerjakan ibadah haji. Yang dimaksud rumah Allah adalah Ka'bah.

Memang, bekas perjalanan Hajar, Ibrahim dan Ismail sampai zaman sekarang ini dijadikan amalan ibadah haji.

Dengan adanya sumur zam-zam inilah, maka banyak berdatangan burung-burung padang pasir. Mereka berkerumun di sekitar sumur, sehingga menarik perhatian para kafilah yang melewati tempat itu. Semakin lama semakin banyak, orang yang berdatangan dan menetap di tempat itu bersama Hajar dan Ismail.

Hajar dan Ismail dianggap sebagai pemilik tempat itu, sehingga para pendatang yang berasal dari Suku Jurhum itu sangat menghormatinya. Mereka meminta izin terlebih dahulu sebelum mengambil air zam-zam dan mendirikan tempat tinggal di sekitar sumur zam-zam.

Ujian Berat bagi Ibrahim dan Ismail

Setelah beberapa tahun kemudian, Ibrahim meninggalkan anak dan isterinya di padang pasir yang tandus, ia pun merasa rindu. Setiap kali, ia mengirimkan utusan untuk melihat keadaan anak dan isterinya, setiap itu pula ia merasa lega.

Ternyata dari para utusan itu, ia dapat keterangan bahwa Hajar dan Ismail dalam keadaan baik-baik saja. Anak dan istrinya dianggap pemilik dan pemimpin di Kota Mekkah. Karena istri dan anaknya itulah yang pertama kali menetap dan bertempat tinggal di sana.

Demikianlah, Ibrahim akhirnya tak dapat menahan kerinduannya yang selama ini terpendam. la berangkat ke Makkah dan bertemu dengan Hajar dan Ismail di Padang Arafah. Anak dan istrinya sedang menggembalakan ternak yang cukup banyak. Ia merasa lega bercampur haru, ternyata kehidupan istri den anaknya tidak kurang suatu apapun, tampaknya malah serba kecukupan.

Dalam perjalanan pulang ke Makkah, ketiga manusia mulia itu beristirahat di Muzdalifah karena kelelahan. Perjalanan antara Palestina dan Mekkah bukanlah jarak yang dekat. Maka, ia tertidur saking lelahnya. Dalam tidurnya yang hanya sebentar itu, ia mendapat wahyu melalui mimpi bahwa ia diperintah oleh Allah supaya menyembelih Ismail.

Pastinya, Ismail harus dikorbankan sebagai bukti tunduk patuhnya Ibrahim kepada Tuhannya. Begitu terbangun, ia berdebar-debar hatinya. Ujian kali ini benar-benar berat. la begitu menyayangi Ismail, tapi Tuhan menghendaki anak yang sangat dicintainya itu untuk dijadikan korban.

Betapa berat cobaan ini, begitu lama ia mendambakan anak sebagai penerus generasinya. Ismail adalah anaknya yang pertama, sebelumnya dari perkawinannya dengan Sarah ia masih saja belum dikaruniai seorang anak.

Walau usianya kini sudah sangat lanjut, tapi setelah mendapat anak itu kenapa harus dikorbankan ?. Agak ragu, namun akhirnya ia menguatkan hati demi rasa cintanya yang lebih besar kepada Tuhan. la beritahukan mimpi itu kepada Ismail,

"Wahai Ismail, aku tadi malam diperintah oleh Allah untuk menyerahkanmu sebagai korban. Aku harus menyembelihmu. Sekarang, bagaimanakah pendapatmu, nak ?" kata Ibrahim.

"Wahai ayah, sekiranya itu perintah Allah maka laksanakanlah apa yang diperintahkan itu, dan aku akan tetap sabar dan ikhlas." jawab Ismail.

Dikisahkan betapa Iblis berusaha merintangi perintah Allah kepada Ibrahim. Ibrahim, Hajar dan Ismail berkali-kali dibujuk agar tidak mau melaksanakan perintah itu. Namun, ketiganya tetap melaksanakan perintah Allah. Godaan Iblis yang demikian dahsyat tak mampu meruntuhkan mereka.

Ismail dibawa ke atas bukit. Wajahnya ditutup kain putih. Pedang sudah disiapkan, ketika pedang itu berada di atas leher Ismail. Hampir menempel, tiba-tiba tubuh Ismail diganti dengan seekor kambing yang gemuk. Malaikat Jibril yang telah melakukannya.

Dengan demikian selamatlah Ismail dari penyembelihan. Allah berfirman kepada Ibrahim : "Hai Ibrahim, kau sudah melaksanakan perintah-Ku dengan ikhlas. Dan, sekarang sebagai gantinya Aku berikan binatang ternak untuk disembelih, Ini adalah cobaan yang sangat besar bagimu."

Peristiwa itu terjadi pada tanggal 10 Dzulhijjah di Mina. Hingga sekarang, hari itu dirayakan Umat Islam sebagai Hari Raya Korban. Umat Islam yang melaksanakan ibadah haji juga melakukan Qurban di Mina sebagai penghormatan atas Nabi Ibrahim.

Petunjuk Ibrahim Kepada Putranya Dalam Memilih Istri

Semakin hari semakin banyak orang yang menetap di sekitar Sumur Zam-Zam. Umur Ismail semakin bertambah. Sesudah tiba saatnya, ia dikawinkan dengan wanita Jurhum.

Pada suatu hari, Ibrahim mengunjungi rumah Ismail. Pada waktu itu, Ismail sedang tidak berada di rumah hanya isterinya yang ada di rumah.

"Dimana Ismail ?” tanya Nabi Ibrahim.
"Ismail sedang keluar untuk berburu," jawab istri Ismail dengan singkat.
“Bagaimana keadaan rumah ini ?" tanya Ibrahim lagi.
"Acuh," keluh wanita itu. "Rumah ini dalam keadaan kesulitan dan kesempitan.”

Wanita itu kemudian menceritakan keburukan dan kekurangan Ismail, "Apakah kamu mempunyai jamuan ?" tanya Ibrahim.

"Aku tidak punya makanan dan minuman, aku tidak punya apa-apa.” ketus wanita itu.

Betapa kecewa Ibrahim melihat penampilan istri anaknya itu, seorang wanita yang tidak menghormati suaminya dengan menceritakan kekurangan suaminya sendiri tanpa tersisa.

Sebelum pamit Ibrahim berpesan kepada wanita itu : "Katakan kepada suamimu bahwa ambang pintu sebelah ini cepat diganti."

Ketika Ismail datang, istrinya menceritakan semua yang telah terjadi kepada suaminya, juga wasiat ayahnya. Ismail mengangguk, kemudian berkata pada istrinya : "Maksud ayahku, aku harus menceraikanmu. Kamu harus pulang ke rumah keluargamu."

Sesudah bercerai dengan wanita itu, Ismail kawin lagi dengan wanita lain. Kali ini, istrinya berbudi mulia, mukanya selalu manis dan ramah.

Ketika Ibrahim berkunjung disambutnya dengan ramah-tamah dan tidak menceritakan kejelekan serta kekurangan Ismail. Sebelum pergi, Ibrahim berpesan kepada menantunya itu : "Katakan kepada suamimu, ambang pintu ini jangan diganti.”

Bahasa isyarat itu cepat dimengerti oleh Ismail. Kali ini ayahnya menyetujui perkawinannya, istrinya kali ini adalah pilihan yang tepat. Ismail hidup berbahagia dengan istrinya itu. la mempunyai beberapa keturunan. Dari keturunannya inilah akan lahir seorang Nabi Penutup yaitu Nabi Muhammad SAW.

Mendirikan Ka'bah

Pada suatu hari, Ibrahim mendapat perintah untuk mendirikan Kakbah di dekat Telaga Zam-Zam. Diberitahukan hal itu kepada Ismail, maka keduanya sepakat untuk membangun Rumah Allah yang akan dipergunakan untuk beribadah.

Mereka membangun Ka'bah tersebut dengan tangan-tangan mereka sendiri. Diangkutnya batu dan pasir serta bahan-bahan lainnya dengan tenaga yang ada padanya. Setiap usai bekerja, mereka berdo'a kepada Allah :

"Ya Allah ! Terimalah parsembahan kami ini. Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk dan patuh kepada Engkau, begitu pula anak dan keturunan kami semua menjadi umat yang tunduk dan patuh, tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah bagi kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Pada saat membangun rumah suci itu, Ibrahim dan Ismail meletakkan sebuah batu besar berwarna hitam mengkilat. Dan, sebelum meletakkannya batu itu diciuminya sambil mengelilingi bangunan Kakbah. Batu tersebut sampai sekarang masih ada dan dinamakan Hajar Aswad.

Setelah bangunan itu selesai, Allah mengajarkan kepada Ibrahim dan Ismail mengenai tata cara beribadah menyembah Allah, tata cara ibadah yang diajarkan kepada Ibrahim dan Ismail inilah yang juga akan diajarkan kepada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul yang akan datang hingga Nabi Muhammad SAW.

Perintah Khitan

Ketika Nabi Ibrahim berumur 90 tahun dan Ismail berumur 13 tahun, ia mendapat perintah Allah untuk melakukan khitan atau sunat.

Khitan ini terus dilakukan oleh Nabi-Nabi sesudahnya, termasuk ajaran Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW. Dengan khitan ini, sangat bermanfaat supaya terhindar dari penyakit kelamin dan menambah nikmatnya hubungan suami-istri.

Konon, karena usianya sudah lanjut maka khitannya Nabi Ibrahim dilakukan dengan kampak.